DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Mimpi bunga tidur atau sebuah petunjuk


__ADS_3

Mimk yang sedikit basah duduk di dalam kelasnya, begitu pula dengan ketiga sahabatnya.


"Uhh kenapa sampe lupa bawa payung sih," sungut Selfia sambil !mengibaskan tangan nya ke baju.


"Hujan awet banget ya.." ucap Muthia yang juga sedang memperbaiki hijabnya.


"Kata orang tua dulu, hujan di malam Jum'at atau hari Jum'at lertanada hujannya awet seharian.'' ucap Mimi.


"Emm sepertinya gitu." ucap Irma.


"Kenapa tadi kita nggak minta antar Irsyad langsung ke kampus kita aja ya, supaya nggak basah-basahan basah gini." ucap Selfia yang masih bersungut.


"Ya kalau dia ngantar kita sampe sini yang ada dia telat Fi." ucap Muthia.


"Iya juga sih dia ada kelas lagi." ucap Selfia.


"Haaachiii haaachii." Mimk terus bersin-bersin.


"Hmm mulai dehbkumat bersin Mimi kalau udah kena air hujan." ucap Irma.


"Hacchi Hachi" Mimi terus bersin-bersin.


"Kenapa Mi? kalian main hujan." ucap Dimas yang baru sampe.


"Hmmm." ucap Selfia.


"Nih." Dimas mengeluarkan tisu dari tasnya.


"Makasih." ucap Mimi dan mengambil tisu itundan mulai mengeluarkan isi dalam hidungnya.


"Issss Mimi jorok." ucap Selfia.


"Kalau nggak dikeluarin numluk Fi, ha ha hacchiii.." ucap Mimk dan terus bersin-bersin.


"Nih Mi, minum dulu." ucap Saridi yang membawa teh jahe untuk Mimi.


"Makasih Di." jawab Mimi dan menerima teh jahe tersebut dan langsung meminum nya.


Yah tadi Saridi sudah masuk kedalam kelas bersama Dimas dan Riko talinsewaktundia baru nyampe pintu dia melihat Mimi bersin-bersin dia pun berinisiatif langsung keluar dan lari ke Kangin Bu Ruminah, beruntungnya kantin tersbut tempatnya tidak jauh dari kampusnya.


Selfia yang melihat perhatian nya Saridi dan Dimas merasa yakin jika kedua sahabatnya itu ada hati pada Mimi. Dia menatap Saridi pilu, Mimi yang melihat itu merasa tidak enak hati.


Mimintahu kalau Selfia menaruh hati pada Saridi, tetapi Saridi selalu menganggap nya sahabat bahkan dia menganggap Selfia sebagai adiknya sama halnya pada Muthia dan Irma kecuali Mimi dia tidak bisa menganggap Mimi adik, entah mengapa hatinya menolak menganggap Mimi adik.


"Emmm yaudah yok duduk, mungkin bentar lagi dosen masuk." ucap Mimi dan mereka pun pada duduk di kursi masing-masing.


Mimi melihat kearah norma dan Riko, mereka saling pandang. Entah apa yang mereka lakukan dengan saling pandang gitu. Mereka seperti melakukan pembicaraan lewat tatapan alias telepati saja.


"Ehemmm." Mimi yang berdehem sedikit keras dekat Ir!a dan Irma pun menjadi salah tingkah.


"Kalau suka jangan diam-diam gitu, emangnkalian berdua ada ilmu telepati ya?" bisik Mimi kepada Irma. Irma melotot dan menganga !mendengar bisikaan Mimi.


"Emm udah jangan melongok enatr lalat masuk haahhaaa." bisik Mimi lagi.


"Isss Mimi." ucap Irma.


Muthia yang melihat Mimi ketawa sendiri dan bisik-bisik pada Irma pun mengpyikut kaki Mimi.


"Ada apa sih? kenapa ketawa-ketawa sendiri?" tanya Muthia.


"Nggak ada Muth, cuma jahilin orangnyang lagi bertelepati." ucap Mimi.


Tak lama dosen pun masuk dan mereka pun seketika hening dan fokus menghadap dosen serta white board.


Tiga jam sudah di dalam kelas dan akhirnya materi dari dosen ini pun selesai, penat capek dan pegal itulah yang mereka rasakan.


Istirahat sejenak dan oara lelaki berduyun-duyun pergi ke masjid kamlus untuk sholat Jumat sedangkan para cewek duduk manis dinkangin Bu Ruminah.


Hari ini menitip kue karena semalam dia terlalu lama di rumah Ummi Fatmah.


"Mi, besok jadi nggak kita liburan?" tanya irma mengingatkan Mimi.


"Apa Mimi sudahnizin Samma kak Syahril?" tanya Selfia. Mimi hanya menghelakan nafasnya.


"Kaak Syahril belum bisa di hubungi ya Mi?" tanya Muthia yang melihat Mimi menghelakan nafas dan sedih. Mimi memgangguk.


"Jadi gimana dong besok?" tanya Selfia.


"Emm kita berangkat aja." jawab Mimi.


"Beneran Mi? apa nggak apa-apa nanti?" tanya Irma.


"Iya nggak apa-apa Ir, nanti Mimi kirimi kak Syahril WA aja." jawab Mimi.


"Emm baik lah." ucap !mereka bertiga.


Mimi terus termenung mengingat akan permintaan ummi Fatma dan Fatimah, Mimi juga mengingat akan ucapan emaknya waktu menelpon tadi pagi.


Mimi menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak dan mengeluarkannya perlahan.


"Mi," panggil Muthia, Irma dan Selfia pun melihat ke arah Mimi.


"Ada apa Mi?" tanya Selfia.


"Iya Mi, sepertinya Mimi ada masalah. Kalau boleh dan mau bercerita kami siap mendengarkan." ucap Irma.


"Hmmmmm huhhh," Mimi Manarik nafasnya lagi dan menghembusnya perlahan.


"Menurut kalian apa yang harus Mimi jawab." tanya Mimi kepada ketiga sahabatnya.


"Maksud nya Mi?" tanya Selfia.


"Semalam Ummi Fatimah dan ummi Fatmah meminta Mimi agar menikah dengan kak Syahril segera." ucap Mimi.


"Wah bagus dong Mi, jadi Mimi bisa berdua terus." sahut Selfia dengan girang.


"Kalau menurutku, semua tergantung pada Mimi." ucap Muthia.


"Iya Mi, semua tergantung pada Mimi." sahut Irma.


"Istikharah Mi." ucap Muthia.

__ADS_1


"Minta petunjuk kepada Allah SWT." ucapnya lagi.


"Iya Mi, betul apa yang dikatakan Muthia. Mintalah pada Allah yang mana yang terbaiknya." ucap Irma.


"Mimi bingung." jawab Mimi.


"Satu sisi Mimi ingin tapi satu sisi Mimi ragu." imbuh Mimi.


"Maka dari itu, Mimi istikharah." ucap Muthia.


"Semalam, sehabis sholat tasbih Mimi melanjutkan sholat tahajud dan sholat istikharah." ucap Mimi.


"Terus apa yang Mimi temukan?" tanya Muthia.


"Mimk bermimpi, keluarga Mimi dan keluarga kak Syahril berjalan namun jalannya penuh dengan lumpur hitam." jawab Mimi.


"Dan Mimi juga masih bermimpi, Mimi dannkak Syahril hidup bahagia, tetapi disekelilingnya penuh dengan lumpur." imbuh Mimi.


"Mimi tidak tau, apa maksudnya semua itu." ucap Mimi lagi.


"Mi.. Mungkin itu hanya bunga tidur saja." ucap Selfia.


"Hmm mungkin Fi, itu mimpi sebagai bunga tidur saja atau bisa juga sebagai petunjuk. Emmm lebih baik Mimi istikharah lagi hingga beberapa kali jika miminoi nya sama mungkin pilihan nya adalah mundur demi kebahagiaan bersama." ucap Muthia dengan pendapatnya.


"Mimi juga berpikir seperti itu Muth, tapi... Sulit rasanya Muth." ucap Mimi dengan air mata yang menetes tanpa di beri izin.


"Sabar ya Mi.." ucap mereka bertiga dan memeluk Mimi. Bu Ruminah yang tanpa sengaja mendengar menjadi sedih sendiri.


"Semoga Allah memberikan jalan terbaik buat mu nak.'' doa Bu Ruminah dalam hati buat Mimi.


Ketiga sahabat lelaki mereka pun telah tiba di kantin, mereka terdiam melihat Mimi menagis dengan di peluk ketiga sahabat mereka.


"Ehemm." Saridi berdehem dan mereka berempat pun menoleh ke arah deheman.


Mimi dengan cepat !envahaphs air mata yang masih setia mengalir.


"Ada apa?" tanya Dimas.


"Emm nggak apa-apa." jawab Mimi.


"Dah selsai sholatnya bang?" tanya Selfia pada Saridi.


"Iya." jawab Saridi.


Mereka pun akhirnya memesan makanan, mereka makan dengan lahap karena dingin-dingin gini bawaannya lapar.


Mimi memakan makanan dengan pelan, pikirannya terus berkelana ibarat puzzle-puzzle itu sedang menunggu urutan nya untuk di tempatkan pada tempat nya.


Sesekali Mimi menarik nafasnya, kenapa semua seolah ucapan itu sama semua. Baik Ummi Fatma dan Fatimah beserta suami mereka, Irsyad bahkan emak pun tadi pagi juga !mengatakan hal yang sama.


"Ya Allah," guma Mimi pelan dan itu terdengar oleh ke enam sahabatnya.


Keenam sahabatnya !enolehnke Mimi yang sedang mengunyah pelan, mereka bertiga para cowok melihat ke arah para cewek minta jawaban ada apa sebenarnya.


Para cewek pun hanya menggeleng kan kepalanya, tak mungkin mereka bercerita di Kaka ada Mimi di dekat mereka.


Semua nya telah selesai makan, tapintidak dengan Mimi baksonya mungkin baru satu buah yang kemakan.


"Emm yaudah kita masuk kelas yuk." ajak Dimas, Mimi kaget.


"Emang kalian sudah selesai makan?" tanya Mimi.


"Udah setengah jam lalu Mi." ucap Riko. Seketika Mimi melihat jam di tangannya dan Mimi menarik nafas nya lagi.


"Emm yaudah Mimi mau shokat Dzuhur dulu." Jawab Mimi dan beranjak.


"Irma, Muthia ma Fia sholat?" tanya Mimi lagi dan mereka bertiga menggelengkan kepala.


"Yaudah ayo kita ke mushola." ucap Mimi dan mereka pun mengikuti langkah Mimi menuju musholla yang dekat dengan kampus nya.


Setelah selesai sholat, Mimi maaih berdiam diri di sajadahnya.


"Mi.." panggil Muthia.


"Eh iya." Jawab Mimi.


"Sudah?" tanya Muthia.


"Oh iya, yaudah ayok kita ke kelas." Jawab Mimi dan beranjak mendahului mereka bertiga. Mereka bertiga hanya menghelakan nafasnya.


Hari ini walau hati tak menentu akibat mimpi nya, Mimi tetap berusaha fokus ke materi yang diberi oleh para dosen-dosen nya.


Sebelum mereka pulang ke kosan mereka menyempatkan diri untuk sholat ashar terlebih dahulu, hujannya sudah tak sederas tadi tapi masih bisa membasahi pakaian.


Mereka bertiga pulang ke kosan di antar oleh Dimas, Saridi dan Riko pun juga ikut ke kosan Mimi.


"Emm, kita masak apa nih?" tanya Mimi kepada Muthia dan kedua sahabatnya.


"Nggak usah masak, kita makan diluar ja malam ini." ucap Dimas.


"Emm boleh juga, soalnya Mimi lagi malas masak hehee." jawab Mimi dengan candanya namun sorot mata tak bisa membohongi kalau dirinya sedang bersedih.


"Yaudah kaalau gitu sana kalian mandi." ucap Saridi.


Para lelaki sedang menonton TV, para gadis sedang bergantian bhat mandi.sambil !menunggu gilirannya Mimi !evoba menelpon kak Syahril namun masih sama no yang Anda tuju sedang tidak aktif,


"Hmmmm huuh, kamu kemana sih kak?" tanya Mimi sambil memeluk baju Kaka Syahril.


Yah Mimi sedang berada di dalam kamar yang khusus buat kak Syahril dan kak Ryan.


"Mimi rindu kak." ucap Mimi dengan memeluk baju kak Syahril erat.


Mimi kembali melihat ponselnya dan Mimi mencoba menelpon Umma dan kali ini Umma mengangkat panggilan Mimi.


"Assalamualaikum sayang." ucap Umma dengan senyum.


"Waalaikum salam, Umma apa kabar? kenapa nomor Umma akhir-akhir ini susah di hubungi?" mimk menjawab sala! umma dan Mimi bertanah kepada Umma secara beruntun.


"Maaf sayang, kemarin-kemarin HP Umma rusak, miminapa kabar sayang!" ucap Umma.


"Oh, emm Mimi kurang baik Umma." jaqab Mimi dan Umma melorotkan matanya.

__ADS_1


'"Kenapa nak? kamu sakit?, sudah berobat?" tanyanumma yang beruntun.


"Emm, dokter nya nggak bisa dihubungi Umma, Umma... Kaak Syahril kemana ya? kenapa dua minggu ini kak Syahril nggak bisa dihubungi." Mimi menjawab dan ke!Bali bertanya-tanya kepada Umma.


Umma tersenyum ketika mendengar jawabannya kalaundokter nyannggaknbisa di hubungi, Umma tau kemana arah momongan Mimi.


"Sabar ya sayang, Syahril lagi ndak ada di Indonesia nak. Dia sedang mengurus dokumen-dokumem buat beasiswa nya di LA." jawab Umma dan mimi pun percaya.


Dalam hati Umma berkata "maafkan Umma sayang,"


"Emmm gitu ya Umma," ucap Mimi lirih


"Iya sayang, sabar ya sayang. Oh ya nak, emm Umma boleh minta sesuatu nak sebelum Syahril menetap di LA?" tanya Umma.


"Apa Umma?" jawab Mimi.


"Apa mamak Mimi sudah kasih tau Mimi?" tanya Umma.


"Emm iya Umma, tadi pagi mamak cerita." jawab Mimi.


"Terus gimana nak?" tanya Umma.


"Hmmm, Umma kan tahu sebelumnya Umma. Sebelumnya Mimi juga pernah katakan hal itu." jawab Mimi kepada Umma.


Ya sebelum nya sewaktundinacra oernikan kak Andri dan Dewi, Umma dan Babah telah pernah melamar Mimi dan Mimi pun menjawab, kalau Mimi belum siap untuk menikah karena Mimi ingin mengejar cita-cita nya dan Mimi akan membuat bangga kedua orangtuanya terlebih dahulu dan Mimi ingin membuktikan kepada orang yang telah menghina orang tuanya kalau Mimi bisa dan mampu menjadi seorang dokter


"Iya nak, cuma kali ini Umma mohon dengan sangat. Menikahlah kalian berdua kalau bisa secepatnya nak, Umma hanya ingin kalian berdua bahagia tanpa ada yang!menghalangi." ucap Umma.


deg


Jantung Mimi berdetak mendengar kata yang menghalangi.


"Umma.." panggil Mimi.


"Ya nak, apa itu.." ucap Mimi dengan seketika air mata Mimi mengalir ketika Umma mengangguk.


"Umma hanya ingin kalian berdua bahagia nak, mungkin dengan kalian menikah segera, Kakek tidak akan melanjutkan perjodohan itu." jawab Umma dengan deraian air mata.


"Umma mohon nak." ucap Umma dengan Isak tangis.


"Mimi tidak tahu harus jawab apa Umma, Mimi takut buat menjawab saat ini, Mimi takut Mimi salah menjawab dan salah mengambil keputusan." jawab Mimi dengan terisak.


"Umma sangat berharap sama kamu nak, karena Umma tahu kebahagian anak Umma Syahril adalah kamu, begitu pula dengan Mimi kan, masalah kuliah Mimi terserah Mimi nanti mau ikut Syahril ke LA atau masih di Indonesia sementara waktu." ucap Mimi dengan terisak.


"Umma" panggil Babah yang sudah memeluk Umma.


"Mimi.." panggil Babah.


"I iya Bah." jawab Mimi dengan isakan tangis.


"Babah juga berharap nak." ucap Babah yang juga memohon.


"Ya Allah, apa yang harus aku jawab " Mimi ngebatin dengan deraian air mata.


"Mimi belum bisa jawab Bah.Maafkan Mimi hiks hiks." ucap Mimi.


"Kami menunggu jawaban itu nak." ucap Babah.


"Kami sudah melamar Mimi sama kedua orang tua Mimi kemarin, dan orangtuamu tergantung pada Mimi." ucap babbah dan Mimi mengangguk.


"Maafkan Mimi Bah, untuk saat ini Mimk belum bisa jawab nya, kalau masalah lamaran Mimi menerimanya gali kalau menikah secepatnya Mimi belum bisa menjawabnya hiks hiks hiks, maafkan Mimi." jawab Mimi.


"Babah dan Umma mengerti nak, masalah omongan orang jangan di ambil hati, biarlah mereka mau bicara apa, yang terpenting kebahagiaan kalian berdua." ucap Babah.


"Kalian menikah saja dulu, masalah relasi bisa nanti mau sekalin pun tidak masalah, masalah persiapan biarlah Babah dan Umma yang menyiapkan semuanya. Kalian menikah di desa Mimi." ucap Babah lagi.


Semakin terisak Mimi mendengarkan nya, begitu banyak harapan mereka, tali enatahbmengaoa hati Mimk masih ada rasa berat untuk bilang iya, Mimi sebenarnya ingin, ingin sekali menjawab iya, tapi saaybmukuta ingin berucap terasa keluh.


"Beri Mimi waktu Bah." jawab Mimi.


"Emm ya nak, Babah dan Umma menunggunya." Ucap Babah


"Iya Bah," jawab Mimi.


"Sudah dulunya nak, kami sedang di rumah sakit." jawab Babah.


"Rumah sakit? siapa yang sakit Bah." tanya Mimi.


"Eh anu, emm Babah sama Umma lagi jenguk teman Babah yang sedang dirawat." jawab Babah dengan ragu.


"Oh yaudah Bah, jaga kesehatan ya Bah, Umma." ucap Mimi.


"Iya nak, kamu juga ya sayang." jawab Umma.


"Assalamualaikum." Umma mengucapkan salam.


"Waalaikum salam " jawab Mimi dan sambungan telepon


pun terputus.


Mimi merasa kepalanya pusing, tanpa mereka tahu semua sahabatnya sudah ada di depan pintu dan mereka juga endengar ucapan Mimk dan mereka juga melihat Mimi terisak.


Setelah mereka melihat Mimi masih terisak dan sudah tidak berada di sambungan telpon, mereka pun mendekat.


Muthia, Irma serta Selfia memeluk Mimi.


"Sabar Mi." ucap Muthia.


"Mimi pasti bisa." ucap Irma.


Merekalah berempat berpelukan, sedangkan para lelaki hanya melihat sendu.


"Ada ala dengan mu Mi?" gumam Saridi dan di!as dalam hati.


"Ehem" Riko berdehem dan mereka berempat melihat ke arah pintu.


"Apa kita boleh meluk juga?" tanya Riko.


"Nooooo, bukan mahram." ucap Selfia dan mereka pun ketawa.


Kesedihan bila selalu ada orang yang selalu ada disampingnya kita, maaka kesedihan itu bisa kita lupakan walau hanya sejenak.

__ADS_1


tbc


__ADS_2