
keesokan paginya, Mimi tidak pergi kerumah sakit nurani bunda karena Mimi akan langsung pergi ke rumah sakit kota dan rumah sakit jantung di kota ini.
Hari ini Mimi akan menuntaskan pekerjaan nya di dua rumah sakit ini, hari ini ada operasi terakhir Mimi di dua rumah sakit ini.
Setelah operasi selesai Mimi lun berpamitan kepada semua, terutama kepada pimpinan rumah sakit, asistennya dan para dokter yang membantunya selama ini.
Mimi juga telah melakukan serah terima kasih yang dia tangani kepada dokter yang dipercayai nya.
Banyak orang ya g tidak mengetahui jika Mimi benaran berhenti di rumah sakit itu, tangis haru pun menghantar kepergian Mimi dari rumah sakit itu.
Saat berjalan keluar hanya helaan nafas berat yang bisa Mimi keluar kan, Mimi berpelukan erat dengan sahabat-sahabatnya sesama dokter.
Sepulang dari dua rumah sakit itu Mimi kembali ke konyrakannya. Sebagian pakaiannya sudah di packingnya, bahkan ranjangnya juga sudah Mimi lepasin satu persatu dan sudah Mimk bereskan semua.
Rencana barang pentingnya itu akan dia kirim via ekspedisi malam ini. Maryam sudah mengetahui semalam saat ini Mimi membereskan pakaiannya.
Sedih tentu sedih yang dirasakan Maryam, selama dia berkerja di rumah sakit itu dan selama dia mendampingi dokter dia belum pernah merasakan perlakuan dokter lain seperti dokter Mimi terhadap dirinya.
Kompor gas dan peralatan dapur yang ada, mesin cuci, kulkas mini, TV dan kasur santai yang ada di kamarnya Maryam Mimi tinggal dan Mimi berikan untuk Maryam.
Mimi hanya membawa barang-barang pemberian Syahril dan motor nya. Maryam awalnya heran kenapa tidak semua di bawa Mimi setelah Mimi menjelaskan dia paham dan awalnya dia juga menolak menerima itu semua namun kerana desaakn Mimi akhirnya Maryam pun menerimanya.
Sebenarnya Mimi juga ingin meninggalkan motornya namun kata Ay motor bapak sering mogok maka motornya Mimi kirim juga ke Jambi.
Malam ini semua brang itu sudah berada dalam mobil box dan akan segera di kirim ke Jambi. Mimi hanya meninggalkan baju beberapa helai untuk dua hari ke depan, dia lun akan tidur di atas kasur santai nya.
"Dok." panggil Maryam.
"Ya Mar." ucap Mimi yang sedang rebahan di atas kasur santai nya.
"Dokter beneran ya mau berhenti?" tanya Maryam yang masih tidak percaya
"Iya Mar, nanti tolong sampekan salam dan maaf saya sama amak ya." ucap Mimi lada Mar agar menyampaikan salamnya pada ibunya Maryam.
"Insya Allah Mar sampekan." jawab Maryam.
"Kamu yang rajin kerjanya, nanti kalau Hana mau kuliah, kamu kuliahkan saja adik kamu itu. Nanti kamu hubungi saya biar saya minta bantuan bos Kevin untuk kasih beasiswa sama adik kamu." ucap Mimi.
"Iya dok makasih sebelumnya." ucap Maryam.
Malam ini Mimi dan Maryam tidur berdua menjelang Mimi pulang ke daerahnya dan pergi ke negara orang lain.
Keesokan harinya Mimi masih berkerja seperti biasanya di rumah sakit nurani bunda, belum ada yag tau jika Mimi tinggal hitungan hari bahkan jam berkerja di rumah sakit ini.
Untuk terakhir kalinya Mimi masuk ke ruangan istri bos besarnya dan melihat baby boy calon penguasa MTL group itu. Saat melihat bayi itu Mimi merasa sesak bila mengingat jika sang bagi takmhanya seorang diri melainkan ada adik yang dilahirkan bersama nya.
Mimi hanya bisa memberinya kado berisi pakaian bayi, dan kado itu pun entah mengapa Mimi memilih pakaian yang ada inisal A begitu pula dengan anak yang ada di dokter Rayhan.
Hari ini Mimi masih menjalani tindakan operasi hingga esok hari lun Mimi masih ada jadwal operasi.
Keesoakan hari setelah selesai operasi, Mimi kembali ke ruangan VVIP dimana bos besarnya ada disana.
"Assalamualaikum," ucap Mimi.
"Waalaikum salam." jawab penghuni kamar itu. Terlihat sangat ramai disana, ada Bintang dengan sang istri, Rudi dan Diva.
"Eh dokter Mimi, ayo masuk dok." sapa Safira dan istri Bintang.
"Makasih. Emm kebetulan nih pada ngumpul, emm saya kesini mau pamit pada semua." ucap Mimk dengan bibir bergetar merasa sedih.
"Ya elah mimot mau pulang kerja aja tumbenan pakek pamkt sama kita" ucap Rudi Mimk hanya tersenyum.
"Emm buat pak Rudi, Lak Bintang makasih ya atas bantuan tempo hari, buat pak bos dan ibu bos makasih atas kebaikannya selama ini sama saya."
"Maafkan saya jika ada berbuat kesalahan selama saya bekerja disini." ucal Mimi.
"Bentar, emang kamu mau kemana Mi? kenapa terkesan kamu akan pergi dari sini ya?" tanya Bintang.
"Emm iya pak Bintang benar, hari ini hari terakhir saya disini dan insya Allah malam ini saya langsung pulang ke Jambi." jawab Mimi dengan senyum yang dipaksakan.
Kevin hanya diam tanpa ekspresi, sebenarnya dia tidak menyetujui kalau dokter terbaik nya berhenti, jika bisa si ganti dengan uang tentu dia akan membayar berapa pun namun Mimi masih kukuh dengan alasan akan melanjutkan pendidikannya.
"Yah sepi dong." celetuk Rudi.
"Makanya Rud, jangan kakaunkeyemunkeg tom and Jery nggak ada yang ada mulutmu gatal." sahut Reyhan yang baru masuk kedalam ruangan itu.
Mimk dan yang lain berbincang-bincang dan Mimi juga akhirnya diberi izin untuk mengendong sang pangeran MTL group. Mimi juga berselfi ria dengan bayi mungil itu samaa halnya ke!aeen Mimi juga berselfi ria bersama!a bayi yang berada di dokter Rayhan.
Tak hanya bersama sang bayi, Mimi juga berpose kepada kedua orang tuanya.
"Rud, nanti kasih dia bonus kirim ke rekeningnya." ucap Kevin tiba-tiba kepada sekretarisnya.
"Nggak usah bos, uang dari rumah sakit juga sudah banyak Mimi terima." ucap. ini menolak.
"Jangan sok menolaknya, nanti kamu di LA juga membutuhkan biaya. Kalau ada apa-apa kedepannya kami bisa hubungi Rudi atau Rayhan jangan lagi kalau ada masalah diam." ucaonya dengan sorot mata tajam.
"Makasih bos, semoga diberkahi rezeki melimpah, anak Sholeh dan tampan seperti ibunya dan. " ucap Mimk yang langsung disela Kevin.
"Yang ada itu talan seperti bapaknya bukan ibunya." protes Kevin.
"Iya, tapi wajahnya lebih banyak ke ibunya." ucap Mimi yang mulai menabung genderang.
"Kamu itu ya, ya mirip aku lah aku kan bapaknya." ucap Kevin tidak terima.
"Yah mulai " bisik istri Bintang pada Bintang.
"Manna ada mirip pak bos, tuh lihat. Wajahnya mirip Bu bos, matanya nya, bentuk wajahnya, rambutnya dan semoga akhlaknya juga mirip ibunya. Bapak itu cuma kebagian hidungnya saja " ucap Mimi dengan me!beritahu detail wajah sang bayi.
"Mana ada, mata kamu itu rabun." ucapnya dengan menelisik wajah anaknya.
__ADS_1
"Iya juga ya, kenapa aku kebagian hidungnya doang." ucapnya Kevin dalam hati membenarkan ucapan Mimi.
"Kenapa? pasti dalam hatinya membenarkan omongan saya iya kan??" ucap Mimi, Kevin tidak menjawab namun dia menatap Mimk dengan tajam.
"Anak mu ya gbbeesama dokter Rayhan yang mirip dengan mu bos." ucap Mimi Dalma hati dan cengengesan ketika melihat mata bosnya menusuk bak samurai.
Puas berbincang Mimi pun pamit, barang-barang Mimi di dalam ruangannya juga sudah dirapikan sama asisten nya. Sehingga Mimi tinggal bawa saja.
Tidak ada acara perpisahan karena Mimi tidak menginginkan semua itu karena akan membuat Mimi semakin bersedih.
Tqknluoa Mimi ounnmaauk kedalam ruangan dokter lainnya dan berpamitan kepada mereka,tangis haru lun terdenagr kala mereka mengetahui jika Mimi berhenti dari rumah sakit ini.
Tak hanya dokter, perawat yang sering berkerja sama dengan Mimi pun ikut menangis.
Saat keluar dari lobi rumah sakit nurani bunda mimi kembali memutar tubuhnya dan melihat ke belakang diamana rumah sakit ini adalah rumah sakit yang banyak membjat Mimi menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Banyak perawat melihat ke arah Mimi dengan deraian air matanya, Mimi mengangguk ke arah mereka tanda bahwa dia akan segera pergi dan setelah itu Mimi pun pergi bersama Maryam sang asisten.
Maryam sudah taknbia lagi membendung air matanya sedari semalam sehingga matanya terlihat bengkak akibat mennagis.
Sehabis sholat asar yang terlewatkan Mimi langsung di antar Maryam dengan motornya ke loket Patra. Mimk sengaja naik bis karena Mimk ingin menikmati perjalanan malam menuju Jambi.
Sebelum berangkat Mimi berpelukan erat sama Maryam dan setelah itu Mimi pun pergi meninggalkan tanah Minang ini.
"Selamat tinggal ranah Minang, semoga kelak kau izinkak aku kembali memijakmu." ucap Mimi dalam hati ketika bis mulai berjalan.
Jam 5.15 subuh Mimi telah sampai rumahnya, Mimi langsung turun di pinggir jalan karena bus ini melewati perumahan nya jadi Mimi tidak turun di loket/pull nya.
Emak merasa bahagia bisa berkumpul kembali dengan anak gadisnya lagi ya walau hanya beberapa hari karena Mimi akan berangkat ke Papua untuk menghadiri pesta pernikahan Selfia.
Sebelum berangkat ke Papua. Mimi, Sila, dan Di'ah mencari kado untuk Selfia. Sila tidak ikut karena dia seorang guru dan baru diangkat pegawai negeri sipil tidak bisa libur lama.
Saat Ay pergi ke sekolah Mimi pun ikut serta kesebrang temkat Nyai nya, Mimk janjian
"Mi, nanti aku titip aja ya." ucap Sila.
"Iya tenang saja." jawab Mimi.
"Kita cari kado apa ya?" tanya Di'ah.
"Emm kalaunmimi sihnrenvana mau cari bahan pakaian aja. Batik Jambi buat dia ma suaminya." ucap Mimi.
"Kalau bahan batik, beli disanggar aja lah Mi." jawab Sila.
"Yaudah kita lihat di sanggar aja." jawab Mimi dan mereka pun akhirnya tidak jadi ke pasar melainkan pergi ke sanggar Selaea pinang masak.
Mereka memilih-milih motif dan warna, karena kedua sahabtnya membeli kain batik bahan pakaian, Mimi mengajak mereka berdua untuk mencari kain songket Jambi yah Mimi akhirnya menjatuhkan pilihan ke kain songket buat kado Selfia.
Dinjalan Ay bertemu dengan Baiq, Baiq heran melihat Ay dari arah rumah Nyai nya.
"Ay" Seru Baiq yang sudah berada di samping Mimi.
"Tumben pagi-pagi kerumah Nyai." ucap Baiq dengan menebak.
"Iya tadi ngantar Ayuk Mimi Sulu ke rumah Nyai." jawab Ay.
"Hah jadi onty ku ada di jambi?" Tanya Baiq.
"Onty mu? Emang siapa onty mu?" ta ya Ay dengan mata fokus ke jalanan.
"Iya onty Mimi lah siapa lagi." teriak Baiq.
"Hahaaa ngarep." ucap Ay dengan langsung melakukan motornya di ikuti Baiq
"Ay, beneran Ayuk Mimi ada di jambi?" tanya Baiq ketika mereka telah sampai di sekolah.
"Iya." jawab Ay sembari berjalan menuju kelasnya.
"Kok nggak cerita, kapan Ayuk Mimi pulang?" ucap baik dan bertanya pada Ay.
"Buat apa juga aku cerita Iq, dia dah dua hari di Jambi " jawab Ay.
"Ya kan bisa jadi ada alasan buat kerumah Ay." ucap Baiq.
"Bukannya kami sering kerumah Iq?" tanya Ay.
"Iya,maksud aku Om Syahril." jawab Baiq.
"Hahaa modus aja kamu, bilang aja biar bisa ngajak Ay keluar." ucap Ay.
"Salah satunya hahhaha " jawab Baiq, mereka lun bersenda gurau hingga sampai kelas.
Sepulang sekolah Baiq yang mulutnya tidak yaha. lagi langsung menelpon omnya Syahril, namun berulangkali di telpon tidak juga nyambung.
"Ckk ni bujang lapuk susah amat dihubungi." ucap Baiq.
"Siapa bujang lapuk Iq." tanya mami nya ( nenek Baiq ibu Ryan )
"Ya siapa lagi Mi, ok Syahril " jawab Baiq.
"Kamu ini, nggak baik bilang gitu." tegur amminya.
"Habis sedari tadi di hubungi, tidak di angkat-angkat." gerutu Baiq.
"Emang kamu mau ngapain sama oom mu Iq?" tanya Ammi nya.
"Baiq itu mau kasih info Mi sama Om Syahril, info penting." jawab Baiq.
"Emang sepenting apa sehingga kamu pulang-pulang langsung menggerutu gitu " tanya Ammi.
__ADS_1
"Pokoknya penting, yang penting bisa nambah uang saku Baiq hehee." ucap Baiq aa!bio mengambil te!ke goreng.
"Ckk kamu ini, cuvinyangan sama dulu, tunggu Datuk baru makan bersama." jawab Ammi.
"Siap Ammi." ucap Baiq dengan memberi hormat.
Mimi dan yang lain masih makan sebuah cafe salah satu mall di Jambi. Tnp merek bertiga adari ada yang memperhatikan mereka bertiga yaitu Arfan dan Sinta.
"Yank, bukanya itu Mimi ya?" tanya Siska pada Arfan.
"Mana?" tanya Arfan.
"Itu, disana dia sama Di'ah dan Sila." ucap Siska.
"Iya, makin cantik aja Mimi." ucap Arfan dan memuji Mimi.
"Makadu kamu?" ucap Siska ada rasa cemburu sang suami memuji gadis lain.
"Yaelah yank, nggak usah cemburu sama adik sendiri. cekrek." ucap Arfan dan memfoto Mimi dan langsung send ke Syahril namun maaih centang satu.
"Kamu kirim ke Syahril yank?" tanya Siska.
"Iya cuma masih centang satu." jawab Arfan.
"Ya iyalah centang satu, dia kan lagi di ruang operasi tadi." jawab Siska.
"Hmm, ngomong-ngomong mereka bakal bersatu nggak ya yank?" tanya Arfan.
"Kalau menurut ku sih iya mereka akan kembali bersatu secara mereka itu saling mencintai." jawab Siska.
"Aku rasa juga gitu, huuum huh entah kapan mereka akan bersatu." ucap Arfan dengan helaan nafas.
Mimi melihat sekelilingnya tanoa sengaja melihat Siska dan Arfan yang sedang makan, Mimi tersenyum dan akhirnya mendekati mereka.
"Mau kemana Mi?" tanya Sila.
"Ada kak Arfan sama kak Siska disana." jawab Mimi dan menunjuk orang yang disebutnya dengan dagu.
"Yaudah kita kesana aja yuk " Ajak Di'ah, mereka bertiga pun menghampiri Arfan dan Siska.
"Assalamualaikum kak." ucap Mi i dan kedua sahabtnya.
"Waalaikum alam eh Mimi apa kabr dek?" jawab Siska dan bertanya kabar Mimi.
"Alhamdulillah baik kak, kakak apa kabar? mana si kecil?" tanya Mimi.
"Mereka di rumah Mi, kakak cuma makan siang aja sama kakak mu ini. Di'ah, Sila apa kabar?" jawab Siska dan kembali bertanya kabar Di'ah dan Sila.
"Alhamdulillah baik kak, kakak apa kabr?" jawab mereka berdua.
"Seperti yang kalian lihat. Emm Di'ah, kenapa masih belum mau?" ucap Siska. Di'ah hanya diam, Mimi melihat ke arah Di'ah dan kak Siska secara bergantian.
Terlihat kak Siska hanya menghelakan nafasnya, kalian itu kalau masih saling cinta jangan memendamnya sendiri, kasian hati kalian." ucap Siska, Di'ah diam dan menunduk. Mimk mengenalkan nafasnya, Mimi mengerti apa yang dikatakan Siska.
Mereka pun berbincang-bincang hingga waktu istirahat aiska dan Arfan selesai. Mimk dan kedua sahabatnya pun pulang karena apa yang mereka cari juga sudah mereka dapatkan.
Keesokan harinya di siang hari, Mimi dan Di'ah berangkat dari Jambi, Emma akan berangkat dari Jakarta dan mereka akan bertemu di bandara Papua. Setelah itu nanti mereka akan pergi bersama menuju rumah selgia yang berada tidak jauh dari bandara karena orangtua Selfia tinggal di kota Sentani.
Beberapa jam perjalanan udara Mimi dan Di'ah lun smalai di bandara Papua, Mimk dan Di'ah sengaja menunggu Emma dan tak lama Emma pun sampai. Mereka langsung naik taksi dan langsung menuju rumah Selfia.
"Mimiiii" teriak Selfia ketika melihat Mimi turin dari taksi.
"Fia." jawab Mimi mereka lun berpelukan.
"Emma, Di'ah, Sila mana?" ucal Selfia dan !menanyakan keberadaan Sila.
"Sila nggak bisa ikut maklum PNS." jawab Mimi.
"Hmm iya juga, Irma mungkin malam baru nyampe. Ayo masuk." ucap Selfia dan mengajak Mimi masuk.
"Assalamualaikum." u AP Mimk dan kedua sahabatnya.
"Waalaikum salam." jawab semua orang yang ada di rumah Selfia.
"Mamah apa kabar?" tanya Mimi kepada mamahnya Selfia dan menyalami nya.
"Alhamdulillah baik, kenapa tidak ajak mamak mu Mi?" ucap mamah.
"Mamak ndak bisa mah, Ay sekolah." jawab Mimi.
"Ya padahal mamah rindu dengan mamak mu." jawabnya.
"Mainlah mah ke jambi." ucap Mimi.
"Iya insya Allah kalau nikahan kamu baru mamah ke Jambi." ucap mamah.
"Ihh mamah ni, masih lama mah." jawab Mimi.
"Jangan lama-lama, usia mu sudah 26 belum juga nikah." ucap mamah.
"Masih tua an Selfia mah, tuh Fia baru nikah hehee." ucap Mimi.
"Ckk kalian ini kalau di bilangin sama saja." jawab mamah. Mimi hanya ketawa dan mereka pun berbincang-bincang.
Lusanya pesta Selfia pun dilaksanakan dengan meriah, banyak tamu undangan dari kedua belah pihak. Selfia terlihat sangat cantik dan anggun begitu pula dengan sang suami terlihat tampan dan elegan.
Acara mereka dilaksanakan di sebuah hotel ternama di kota itu, sangking banyaknya undangan, acara pun dilaksanakan hingga malam hari.
Happy weding Selfia.
__ADS_1
tbc