
Sore hari satu jam sebelum Maghrib, mereka telah sampai di rumah sederhana dusun Bungin.
Sebelum memasuki rumah itu, Mimi melihat rumah itu dengan sedih. Rumah sederhana yang penuh dengan kenangan.
Mimi menarik nafasnya dalam, rumah sederhana ini mengingatkan nya pada rumah masa kecilnya dulu.
Rumah yang berdiri di tengah rumah-rumah yang lain, kekentalan kekeluargaan yang masih terjaga satu sama lain.
Walau Mimi terkesan cuek, namun dia cepat berbaur dengan masyarakat setempat.
"Dek, ayo masuk." panggil Syahril dan mengajak Mimi masuk.
Mimi tersenyum mengangguk pada Syahril, tapi di balik senyumnya ada kesedihan tiada Tara kala mengingat ucapan Syahril tempo hari.
"Kenapa kau masih baik pada ku kak, padahal kau menerima gadis lain sebagai istri mu." ucap Mimi dalam hati.
Mimi bertekad akan kembali menjaga hatinya dan mempersiapkan mental serta hatinya. Dia tidak ingin terpuruk kembali, bila Syahril benar-benar menikahi gadis pilihan kakek dan keluarganya.
Semua orang di rumah ini telah mandi, tinggal lah Mimi seorangbyanh belum mandi karena Mimi memilih untuk memasak, ya walau sebelumnya mereka telah membeli lauk pauk di rumah makan tadi.
Setelah nasi telah di masak, sayur kangkung telah di tumis nya, barulah Mimi beranjak mandi.
Semua orang di rumah ini memilih sholat berjamaah di musholah, hanya Mimi yang sholat seorang diri di rumah.
Seperti biasa sehabis sholat Mimi akan mengadu lada sang penciptanya dan setelah itu dia menyempatkan diri untuk mengaji sejenak.
Berulang kali Mimi menarik nafasnya, di lihatnya temlat tidur yang beberapa hari dia disini menempatinya bersama Syahril.
Mimi beranjak membereskan alat sholatnya, Mimi duduk di tas kasur itu seraya mengusap kasur itu pelan.
"Kelak bukan aku lagi yang tidur disini. Tinggal beberapa hari lagi aku meniduri mu" ucap Mimi pada sang kasur.
"Kelak wanita lain yang meniduri mu, wanita lain yang menemani hari-hari nya." ucap Mimi parau menahan tangisnya.
"Ya Allah," ucap Mimi memanggil nama Rabb nya, Mimi menghapus air mata yang lolos dari kedua matanya.
Mimi berusaha tegar di hadapan semua, Mimi masih bersikap seperti biasanya, seperti tidak ada masalah di antara mereka.
Kebaikan, perhatian Syahril sama dirinya pun tak berubah sama sekali.
"Kau bilang hanya aku kak, tapi kenapa kau akhirnya menerima nya juga."
"Jika aku harus mengalah lagi, aku akan ikhlas melepas mu lagi."
"Setelah ini, aku tidak tau harus melangkah kemana hidupku."
"Mungkin aku tak akan percaya lagi sama lelaki atau pun cinta."
"Aku akan mengubur perasaan ini, aku harus bisa." ucap Mimi menyemangati dirinya sendiri.
Percakapan mereka tempo hari yang terus terngiang-ngiang membuat Mimi menguatkan dirinya dari sekarang.
Puas dia mencurahkan hatinya seorang diri di dalam kamar ini. Kamar yang akan menjadi sebuah kenangannya, kenangan yang indah dan kenangan yang mungkin akan menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya.
Mimi beranjak dari kasur itu dan pergi keluar kamar. Mimi tidak tau harus kemana untuk menenangkan hatinya.
Mimi beranjak menuju dapur, saat Mimi akan mengambil air hangat di dispenser, Mimi melihat karung di Samling dispenser itu.
Mimi membuka karung itu, mata Mimi terbelalak ketika melihat isi dari karung itu.
"Astaghfirullah, jengkol." ucap Mimi. Ya itu jengkol yang di beri orang tua Sofyan tempo hari.
"Aduh masih bagus ndak ya." ucap Mimi dengan mengangkat karung itu.
Mimi mengeluarkan jengkol itu, Mimi gelar tikar plastik dan Mimi keluarkan Jengkol di atas tikar tersebut.
Mimi duduk dengan memegang pisau, satu persatu Mimi kupas Jengkol itu dan Mimi ketakkan ke dalam baskom yang telah berisi air, Mimi rendam jengkol itu semalaman.
Orang rumah sudah pulang dari musholla, mereka melihat rumah sepi. Bahkan salam mereka dari luar tidak ada yang menjawabnya.
"Apa Mimi tertidur Riil?" tanya Ryan.
"Mungkin." jawab Syahril dan beranjak langsung menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Syahril tidak menemukan keberadaan Mimi.
"Kemana lagi kamu dek, hobi nian hilang-hilang." ucap Syahril dengan meletakkan peralatan sholat nya di atas meja yang berada di dalam kamarnya.
Syahril keluar dari kamar, begitu pula Di'ah dan Ryan.
"Ada?" tanya Ryan ketika melihat Syahril keluar seorang diri, Syahril menggeleng.
"Hah, emang dia kemana malam-malam?" ucap Ryan, Syahril hanya mengangkat kedua bahunya.
Semua orang sedang berpikir kemana Mimi pergi atau dimana Mimi berada saat ini.
"Tidak mungkinkan dia di pondok." ucap Ryan tiba-tiba.
"Gila kamu." jawab Syahril, yang dipikirannya juga tertuju disana namun itu mustahil karena ini malam hari bukan siang hari.
"Basing bae kakak nih, ini malam mana mungkin Mimi disana." ucap Di'ah.
"Ya terus dimana? biasanya kalau ngilang gitu, kalau tidak tidur, dia ya disana." ucap Ryan.
Saat semua orang sibuk dengan pemikiran masing-masing mencari dimana keberadaan Mimi, orang yang mereka cari asik dengan kegiatannya bersama si jengkol.
Mimi tidak mendengar karena telinganya di pasang earset, Mimi mengupas para jengkol sambil mendengarkan musik.
Mereka bertiga akhirnya mengambil keputusan untuk mencari Mimi di luar rumah, yaitu di pondok karena pemikiran mereka mentok di pondok itu walau hati mereka berkata tidak dan mustahil namun logika yang pernah mereka dapati sebelumnya kalau Mimi selaku berada disana mereka Kun lebih memilih pemikiran konyol itu.
Saat mereka berjalan hendak menuju pintu, Syahril yang lebih dulu dari mereka berhenti sej.
enak Kaka melihat seonggok manusia duduk di lantai dengan santainya.
"Kenapa Riil?" tanya Ryan pelan, Syahril menggeleng dan menunjuk ke bawah di samping mereka.
"Astaghfirullah." ucap Ryan, Mimi yang merasa ada orang lain di dapur membalikkan tubuhnya dan melihat siapa orang itu. Mimi melihat tiga orang berkacak pinggang dengan tatapan horor kepadanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Kenapa? ada apa?" tanya Mimi pada mereka tanpa melepaskan earset yang masih terpasang, lagu India remix masih terputar.
__ADS_1
"Kita itu nyariin kamu Mi." ucap Di'ah, Mimi menautkan kedua alisnya.
"Ndak bakal dengar dek, tuh lihat kupingnya." ucap Ryan.
"Hah!" jawab Mimi, Syahril mendekat ke Mimi dan berjongkok di hadapan Mimi. Syahril membuka penutup di kedua telinga Mimi.
"Kalian kenapa?" tanya Mimi lagi saat penyumbat telinga nya sudah terlepas.
"Menurut kamu!!" ucap Ryan, Mimi hanya cuek dengan mengangkat kedua bahunya.
Ryan, Di'ah dan Syahril menghelakan nafas mereka.
"Dah dek ayo kita makan laparrrrr." ucap Ryan mengajak Di'ah untuk makan, Di'ah langsung menyiapkan dan menyajikan makanan untuk Ryan.
Syahril masih menelisik Mimi yang belum juga beranjak dari duduknya.
"Kakak ndak makan? tanya Mimi.
"Kamu sendiri?" tanya Syahril.
"Mimi sudah tadi." jawab Mimi berbohong.
"Mana buktinya?," tanya Syahril.
"Buktinya disini." jawab Mimi dengan memegang perutnya.
"Yaudah, ayo kakak makan dulu." ucap Mimi yang langsung beranjak. Mimi langsung mengambil piring dan menyiapkan makanan buat Syahril. Setelah Mimi menyajikan nasi serta lauk laut di dalam piring ke hadapan Syahril, Mimi kembali melanjutkan perkerjaan nya.
Ryan semakin merasa kalau ada perubahan di diri Mimi. Syahril menghelakan nafas melihat Mimi tak seperti biasanya.
Tak lama anak-anak pun datang, Mimi yang tak makan langsung beranjak taknluoa dia mengambil jilbabnya di kamar terlebih dahulu.
"Assalamualaikum." ucap mereka semua.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dengan hidung mengendus aroma yang menggiurkan.
"Bu dokter, tadi Ado Mak samo bapak kesini. ini Dio bawak an buat Bu dokter." ucap Soni adiknya Raka yang memegang kantong plastik dan Riki serta Sofyan membawa karung berdua.
(Bu dokter, tadi ada Mak sama bapak kesini. Ini mereka membawakan ini buat Bu dokter )
"Emm duren ya?" Mimi menebak isi karung yang dibawa Sofyan.
"Iya Bu dokter, tadi Mak sama bapak kesini tali Bu dokter belum pulang." jawab Sofyan.
"Yaudah kalian masuk." jawab Mimi dan mereka Kun masuk bersama. Riki dan Sofyan serta Soni membawa bawaan mereka hingga ke dapur.
"Dah makan kalian?" tanya Syahril ketika melihat ketiga anak itu kedapur.
"Sudah oak dokter." jawab mereka bertiga.
"Itu apa?" tanya Di'ah.
"Oo ini tadi ada Mak sama bapak kesini Bu, terus mereka membawakan pesanan ini semua buat bu dokter Mimi." jawab Sofyan. Diah tersenyum mengangguk.
"Letak kan disana Ki." Ucap Syahril, mereka bertiga lun mengangguk dan meletakkan semua barang bawaan mereka sesuai arahan Syahril.
Tiga jam berlalu mereka pun pulang, sebelum pulang Mimi memberikan buku yang dia beli sewaktu di kota.
"Oh ya, kalian jangan pulang dulu. Bentar ya." ucap Mimi dan beranjak menuju ke kamar.
Mimi mengambil buku-buku yang dia beli untuk mereka.
"Nah ini buat kalian." ucap Mimi dengan memberikan buku sesuai tingkatannya.
"Nah ini buku untuk membantu kalian belajar. Mungkin ibu tinggal beberapa hari lagi disini, jadi ibu harap kalian tetap belajar ya, jangan sampe nggak belajar." ucap Mimi.
"Ibu mau pulang ke LA ya?" tanya Soni, Mimi menganggukkan.
"Kalian jika ingin sukses harus kerja keras, belajar dengan sungguh-sungguh ya. Jangan lalai dan malas karena itu tidak akan membawa kalian menuju kesuksesan." ucap Mimi memberikan nasehat nya.
Soni, Raka, Sofyan dan Riki menunduk. Mereka akan merasa kehilangan jika tidak ada Mimi lagi. Merak berempat sangat dekat dengan Mimi.
"Ibu kapan balek kesini lagi?" Tanya Soni, Mimi tersenyum sendu.
"Mimi tidak tau." jawab Mimi dengan senyum sendunya. Ya Mimi akan merasa kehilangan mereka juga nantinya.
Apa lagi, kelak bukan dia yang akan mendampingi Syahril jadi otomatis Mimi pun tak akan pernah kembali lagi di dusun ini.
"Ibu harap kalian saling membantu satu sama lain ya." ucap Mimi, mereka mengangguk.
"Yaudah Bu, kalau gitu kami pulang dulu." ucap Fika dan teman-teman nya.
"Iya hati-hati." Jawab Mimi, setelah bersalaman mereka pun pulang.
Tinggal lah Riki beserta adik dan sepupu nya yang masih duduk di tempatnya.
"Bu" panggil Riki.
"Ya Riki." jawab Mimi.
"Ibu kapan pulang nya?" tanya Riki
"Mungkin dua atau tiga hari lag." jawab Mimi, Syahril dan yang lain hanya menyimak.
"Emm baik lah." jawab Riki.
"Kalau begitu kami pulang dulu." imbuhnya dengan menyalami Mimi dan yang lain.
"Tunggu bentar." ucap Mimi lagi dan berjalan menuju kamar. Mimi mengambil pakaian yang dia beli untuk mereka berempat.
"Nih buat kalian." ucap Mimi dengan memberikan masing-masing satu kantong plastik.
"Terimakasih bu." ucap mereka.
"Sama-sama" jawab Mimi dengan mengelus kepala Raka dan Soni.
Sepulangnya mereka Mimi beranjak ke dapur, tanpa menghiraukan tiga manusia di rumah ini. Mimi menuju karung yang mereka bawa tadi.
Sebelumnya Mimi membuka kantong plastik serta karung kecil satunya.
__ADS_1
"Pete, jengkol." ucap Mimi.
"Jambu." ucap Mimi lagi dan mengeluarkan seluruh barang dari karung serta kantong plastik.
Mata berbinar kala melihat isi satu karung yang lumayan besar itu. Tanpa berucap Mimi mengambil buah kesukaannya itu.
Syahril, Ryan dan Di'ah pergi ke dapur. Mereka sedari tadi menahan ingin membuka karung yang beraroma menyengat itu.
Saat mereka bertiga, mereka melongo melihat Mimi sudah nongkrong di depan isi karung-karung itu.
"Woy Mi," ucap Ryan dengan berteriak ketika melihat Mimi asik sendiri memakan buat berkulit duri itu.
"Hmm" ucap Mimi dengan melihat mereka dengan mulut masih ada sebiji buah durian.
"Ckk kalau lah makanan favorit lupa sama orang." ucap Syahril, Mimi tersenyum sembari mengeluarkan biji durian dari dalam mulutnya.
"Hehe, kirain kalian ndak doyan." ucap Mimi dengan mengambil satu lagi dan dimasukkan kedalam mulutnya.
Syahril mengambil satu bini buah durian Mimi, dan juga menyantapnya, yang kain juga mengikuti jejak Syahril.
"Ais kalian ini, buka sendiri sana. Jangan punya Mimi yang di ambil." ucap Mimi dengan melarikan sisa beberapa biji buah duriannya.
"Kalau ada yang sudah di buka, buat apa repot-repot buka lagi Mi." ucap Ryan yang hendak mengambil lagi namun tangannya di tepis sama Mimi.
"Enak saja, itu namanya pemalas. Buka sendiri sana, masih banyak itu." jawab Mimi.
Syahril dan yang lain pun mengulas buah durian sendiri-sendiri, malam ini mereka makan durian dengan sepuasnya.
"Awas nanti panas gek mabuk pula, minum air dalam tampuk nyo." ucap Di'ah dengan memasukkan air kedalam tampuk durian dan meminumnya.
(tampuk\=kulit durian bagian lekukannya)
"Ais itu mitos." jawab Mimi.
"Itu kan kato-kato orang tuo mi, apo salah nyo di ikuti dan di cubo." jawab Di'ah.
(Itu kata-kata orang tua Ami, apa salah nya di ikuti dan di coba)
"Hmm." jawab Mimi.
Setelah puas makan durian barulah mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Sebelum masuk kamar Mimi mencuci mukanya terlebih dahulu, tak lupa Mimi berwudhu.
Sampai dalam kamar, Mimi duduk di depan meja rias yang ada di dalam kamar itu. Mimi memakai serum serta night creamnya.
Syahril duduk di atas kasur dengan kaki di selonjorkan dan kepala berada di sandaran ranjang. Syahril melihat Mimi yang sedang asik dengan rutinitas nya.
"Dek." panggil Syahril, Mimi menoleh tanpa menjawab.
"Ada apa?" tanya Syahril ketika melihat miminmelihat ke arah nya, Mimi diam tak menjawab dan melanjutkan rutinitasnya.
"Dek," panggil Syahril lagi ketika melihat Mimi tak menggubrisnya.
"Hmm" jawab Mimi
"Ada apa?" Syahril mengulangi pertanyaannya.
"Ada apa apa nya." jawab Mimi.
"Sini dulu." ucap Syahril dengan menepuk kasur meminta Mimi untuk mendekati nya. Mimi masih diam tak menuruti nya.
"Dek," panggilnya.
"Sini dulu, ada yang mau kakak omongi." ucapnya. Hati Mimi merasa tak enak. Mimi takut jika yang akan di omongi Syahril tentang pernikahannya.
Mimi bekum siap, walau sedari kemarin dia berupaya mempersiapkan mentalnya.
"Dek.." panggilnya dengan tatapan penuh harapan, Mimi mengangguk dan mendekati Syahril, Mimi duduk di sampingnya.
"Duduk sini." ucapnya dengan menilik pahanya, Mimi menggeleng.
"Disini saja, apa yang mau kakak omongi?" ucap Mimi.
"Duduk sini, kakak kangen." ucapnya dengan menarik tangan Mimi, akhirnya Mimi pun duduk di pangkuannya.
"Kakak mau ngomong serius" ucapnya dengan dagu di taruh di atas pundak Mimi, dada Mimi semakin berdetak kencang.
"Emm" ucap Mimi.
"Tadi pagi umma menelpon lagi." ucap Syahril, dada Mimi semakin sesak.
"Mereka semua meminta kakak untuk segera menikahi gadis pilihan mereka itu, Minggu depan." Mimi berusaha tegar walau air mata jatuh di dalam.
"Menurut adek gimana?" tanya Syahril.
"Emm apa gadis itu sudah menyetujui? orang tua si gadis apa juga sudah menyetujui." ucap Mimi tanpa melihat wajah Syahril. Syahril semakin mengeratkan pelukannya.
"Emm kakak yakin gadis itu pasti menerimanya, orang tuanya juga sudah sangat setuju bahkan kedua keluarga juga sangat setuju."
"Mereka ingin pernikahan nya dipercepat, yaitu Minggu dekan pas kita pulang ke Jambi." sesak itu yang Mimi rasakan, takut dan belum siap itu pula yang Mimi rasakan.
"Menurut adek gimana? apa adek mau berkorban?'' ucap Syahril dan bertanya lada Mimi.
"Ya Allah,haruskah ku berkorban kembali. Jika iya kuatkan hamba.'' ucap Mimi dalam hati.
"Bukankah selama ini Mimi selaku berkorban? jika itu membuat kakak beserta keluarga besar kakak bahagia, Mimi akan berkorban kembali." ucap Mimi.
"Benaran? adek ikhlas mengorbankan diri adek?" ucap Syahril dan semakin membuat sesak di dada Mimi.
"Hmm" jawab Mimi.
"Makasih ya dek, kakak semakin sayang dan cinta sama adek." ucap Syahril dengan terus menciumi Mimi.
"Sebahagia inikah dirimu kak, mendengar aku mengikhlaskan mu.."
"Baiklah aku ikhlas kan kau kak, semoga kau hidup bahagia." ucap Mimi dalam hati dengan melihat wajah Syahril yang penuh kebahagiaan.
"Oke sekarang kita tidur ya, besok kakak mau ke bukit dan memberitahu semuanya." ucap Syahril dengan mengecup kening Mimi, Mimi mengangguk, mereka pun merebahkan tubuh mereka dengan perasan masingmasing.
tbc
__ADS_1