DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
195


__ADS_3

Panti yang semula walaunada kesedihan namun selalu ada keceriaan di dalamnya, tetapi saat ini keceriaan itu seakan pudar.


Keceriaan berganti dengan kesedihan yang mendalam, tak hanya anak-anak panti beserta para pengasuh namun kini para sahabat pun ikut bersedih mengiringi kepergian seseorang yang selalu membawa keceriaan di dalam nya.


oek oek oek oek terdengar suara tangis bayi menggema ruangan panti, seorang bayi mungil yang baru berusia dua bulan yang telah di tinggal oleh sang bunda seakan tahu jika penghuni rumahnini sedang bersedih.


"Ya Allah Zian." gumam Mita dan langsung keluar dari kamar Berliana, Mita langsung mencari sumber suara tangis Zian si baby Berliana.


"Ya Allah anaknya aunty, cup cup cup.. Oh sayang aunty jangan nangis ya nak.." ucap Mita yang telah mengambil alih baby Zian dari tangan Diah yang sedari tadi menggendong menenangkan kan baby Zian.


"Hey, anak aunty yang cakep, yang ganteng, pujaan hati aunty dan bunda jangan nangis ya sayang.. ummuah" Mita berupaya menenangkan si baby Zian berusaha tersenyum kepada baby Zian agar baby Zian tenang kembali walau air mata terus mengalir kedua pipinya.


"Anak manis, anak ganteng, harus kuat ya sayang. Kelak Zian harus bisa jadi orang yang sukses ya nak dan harus menjadi anak yang sholeh biar bisa mendoakan bunda Zian hiks hiks." Mita terus mengajak baby Zian berbicara namun hatinya masih tak bisa di pungkiri kalau dirinya saat ini sangat terpuruk atas kepergian Berliana.


"Li, liat anak Lo Li.. mata nya mirip Lo banget..hiks hiks." Mita bergumam sembari menyebut nama sang sahabat yang sudah dianggapnya saudara.


"Gue janji sama Lo sedari awal gue akan menjaga kalian berdua dan sekarang gue akan menjaga Zian, gue gak akan menyerahkan dia Li." ucap Mita sembari menangis dan memeluk baby Zian erat kedalam dekapannya.


"Gue akan kasih dia pelajaran Li, gak semudah itu dia maupun keluarganya mengambil baby Zian, nggak akaan semudah itu." ucap Mita dengan sorotan mata yang tajam, gigi yang dirapatkan serta rahang yang mengeras menahan amarahnya.


Ya isi surat dari Berliana untuk Mita, meminta Mita untuk memaafkan Bryan.


Isi surat buat Mita.


Semarang 12-08-00


To my friend Mita Wijaya Perez


Assalamualaikum sayang kuh Mita,


Sayang kuh Mita, terimakasih ya sudah baik sama Lian selama ini. Terimakasih selalu menjaga Lian, selalu membela Lian, selalu dan selalu pokoknya Mita selalu terdepan buat Lian.


Sayang kuh Mita, makasih oleh-oleh nya ya hehheee.. Lian selalu suka oleh-oleh dari Mita apa lagi oleh-olehnya dari luar negeri.


Sayang kuh Mita, maaf kan atas kesalahan Lian selama ini sama Mita dan yang lain ya.. Lian saaangat sayang kalian, kalian sahabat terbaik the best buat Mita.


Sayang kuh Mita, mungkin sewaktu dirimu menerima ini Lian sudah pulang kerumah Allah, waktu Lian sudah nggak banyak untuk menanti kalian pulang liburan.


Mit, bolehkah Lian meminta sesuatu sebagai oengganti oleh-oleh dari Mita.. Lian hanya ingin Mita memaafkan Bryan.


Percayalah setelah ini dia akan berubah ya walau secara perlahan.


Mita sayang, maafkan Lian jika nanti Mita tau dari bunda atau dari Diah dan yang lain kalau Lian menyembunyikan penyakit Lian. Maafkan Lian hiks hiks..😭😭


Mita, jika Bryan telah sadar dan dirinya beserta keluarganya menginginkan Zian tolong izinkan mereka membawanya ya.. Lian tau Mita sangat menyayangi Zian seperti anak Mita sendiri tetapi Zian masih punya keluarga.


Lian hanya ingin Zian mendapatkan kasih sayang dari Bryan dan keluarganya. 😭😭😭.


Sekali lagi maafkan Lian, Lian sayang sama Mita. Eh udah siang sekian aja dari Lian buat Mita, Lian mau ke rumah sakit dulu.


Bye Mita kesayangnya Lian, jangan lupa kirimi do'a buat Lian ya dan satu lagi jangan pernah lupakan Lian disetiap sujudmu..


i love you..


"Gue gak akan pernah menyerah lainnya Li, maafkan gue.. gue akan pertahankan Zian." ucapnya lirih namun di dengar oleh bunda Ainun.


Bunda Ainun mendekat ke arah Mita dan menepuk pundak Mita seraya menggeleng dengan deraian air mata.


"Sabar nak... Ikhlaskan Lian, maafkan dia.." ucap Bunda Ainun.


"Bundaa.. Mita tak akan menyerahkan ziannpada mereka, tidak akan bunda.. Izinkan Mita membawa Zian pulang bersama Mita.. huhuhu.." Mita langsung memeluk bunda ainun bersama dengan Babay Zian yang berada dalam gendongannya.


Bunda Ainun pun sejujurnya tak rela berpisah dari baby Zian, apa lagi menyerahkan nya kepada orang yang tak bertanggungjawab. Tetapi bunda Ainun juga memikirkan masa depan baby Zian kelak.


"Buun, Mita mohon jangan serahkan baby Zian kepada mereka bantu Mita bun, sampai kapanpun Mita nggak akan rela baby Zian bersama baj*ngan itu." ucxp Mita penuh dengan emosi dan amarah bila mengingat Bryan dan mengingat bagaiman Bryan menolak bahkan mencampakkan Lian.


"I iya nak, bunda juga tidak rela sayang.." ucap Bunda Ainun.


Tak berselang lama, panti kedatangan beberapa orang berstelan jas berwana hitam dan sepasang manusia padu baya.


"Assalamualaikum." ucap orang tersebut.


"Waalaikum salam." ucap semua orang yang berada di dalam ruang keluarga panti.


Diah dan Romi pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang, setelah sampai depan Diah dan Romi terperangah akan kedatangan orang yang tak mereka kenal di pagi hari.


Diah dan Romi menyangka orag tersebut adalah pihak ahli waris yang akan merebut rumah mereka.


"Rom, apa sudah saatnya kita pergi Rom." ucap Diah sendu.


"Sepertinya begitu Di." jawab Romi sambil menghela kan nafas.


Mereka berdua berpikir kalau mereka harus segera angkat kaki dari rumah yang mereka tempati sedari kecil.


"Rom, kok nggak ada datang ya Om dan Tante." ucap Diah.


"Hmm mereka sama aja Di, ya udahlah berarti usaha kita semalam sia-sia." ucap Romi.


"Ma maaf pak, mau ketemu siapa ya?" tanya Romi..

__ADS_1


"Saya mau ketemu.." belum selesai orang tersebut menjawab sudah terpotong oleh suara bunda dari dalam.


"Diah, Romi, siapa nak?" tanya bunda sembari berjalan menuju pintu diikuti Mita yang sedang menggendong baby Zian beserta yang lain.


Anak-anak panti saat telah sampai depan dan melihat banyak orang yang tak dikenalnya juga berpikiran yang sama kalau waktu mereka tak lama lagi tinggal di rumah ini. begitu pula dengan bunda.


"Ya Allah, apa secepat ini. Dan mana janji orangtua Bryan." gumam bunda Ainun dalam hati kecewa dengan kedua orangtua Bryan yang tak kunjung tiba.


"Daddy, momy.." seru Mita. Iya orang itu adalah kedua orangtua Mita.


"Dad, mom, kenalin ini bunda ainun." ucap Mita memperkenalkan kedua orangtuanya pada bunda Ainun.


"Bunda ini momoy dan daddy nya Mita." ucap Mita dengan senyum.


Mommy Mita melihat ke arah bunda Ainun dengan seksama, dia terus melihat wajah bunda Ainun dengan teliti sambil mengingat-ingat..


"Ainun Khumairah.." ucap Bunda dengan terus melihat ke arah bunda Ainun.


Bunda Ainun yang dipanggil nama lengkapnya pun terperangah dan mencoba mengingat siapa wanita yang ada didepannya.


"Nun, ini namun Khumairah kan?" tanya mommy Mita.


"I iya, siapa kamu?" tanya bunda kembali.


"Kamu nggakmingat aku Nun, Nunun." ucap mommy Mita memanggil bunda ainun dengan Nunun.


"Emmm" bunda ainun !mencoba mengingat nya dan hanya ada satu orang yang biasa memanggilnya dengan sebutan Nunun.


"Mi Mira." ucap Bunda Ainun seketika mengingat siapa orang yang selalu memanggil dirinya Nunun.


"Iya Nun, ini aku.. Ya Allah Nun." ucap mommy dan langsung memeluk bunda Ainun dengan erat.


Bunda Ainun pun membalas pelukan mommy dengan erat.


"Ya Allah Mir, kamu kemana saja." ucap Bunda Ainun.


"Kamu yang kemana, kami mencari mu selama ini." ucap mommy.


Jangan tanya yang lain melihat interaksi mereka berdua, seolah dunia hanya milik mereka berdua dan yangbkini hanya patung bahkan tembok sehingga yang ada disana melongo melihat interaksi kedua insan tersebut tanpa menghiraukan mereka.


"Moom." panggil Mita dan tak di gubris oleh sang mommy.


"Dad " panggil Mita dan si Daddy hanya menggeleng, yah mereka tau siapa si mommy mereka kalau sudah ketemu orang yang dekat dengan dirinya akan melupakan orang disekitarnya.


Mita mengerucutkan bibirnya kalau sang Daddy sudah menggelengkan kepala tandanya Daddy pun tak mampu melerai pelukan dua insan tersebut.


"Moom" panggil Mita lagi..


"Isss mommy, kebiasaan deh." ucap Mita dengan kesal.


"Eh iya hehe." ucap mommy ketika melihat sekitarnya melihat ke arah dirinya.


"Jadi Mita anakmu Mir." tanya bunda.


"Iya Nun." jawab mommy.


"Eh iya ayok masuk, jadi lupa." ucap Bunda Ainun dan mempersilakan semua masuk.


"Emm Nun apa benar yang diceritakan Mita?" tanya mommy.


"Ini kenapa semua koper ada disini." ucap mommy lagi ketika melihat koper-koper beserta tas serta kardus berada di ruang tamu.


"Yah begini lah Mir, tanah ini akan di a!BIL oleh warisnya." ucap Bunda Ainun.


"Tidak perlu kalian pergi dari rumah ini." ucap si Daddy.


"Maksudnya emm." bunda Ainun.


"Oh ya Nun ini suamiku Daddy nya Mita, Ronald." ucap mommy memperkenalkan suaminya.


"Oh maaf saya nggak tau." ucap Bunda Ainun.


"Its ok." jawab Daddy.


"Yah kalian tidak perlu keluar dari rumah ini, rumah ini sudah sah buat kalian." ucap Daddy Mita.


"Iya Nun, Mita sudah menceritakan semua kepada kami dan Daddy nya Mita sudah membereskan semua." ucap mommy Mita.


Bunda melihat ke arah Mita meminta penjelasan dan Mita hanya tersenyum.


"Emm iya bun, maaf sebenarnya Mita sudah pulang dari tiga hari lalu dan Mita sudah kesini tetapi Mita mendengar ada keributan didalam jadi Mita urungkan untuk masuk." ucap Mita menceritakan yang sebenarnya.


flasback on


Sudah tiga hari Mita pulang dari liburannya dan dia sudah bersemangat untuk pergi ke panti untuk menemui sahabatnya Berliana tapi lebih tepatnya si baby Zian yang selalu membuatnya rindu.


Dengan langkah riang dia menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan amat bahagia menuju panti.


Namun saat dia sampai, Mita melihat banyak orang di panti dan terdengar suara orang yang marah-marah, Mita mengendap-endap menuju pintu panti.

__ADS_1


"Saat ini juga kalian harus mengosongkan rumah ini." ucap seseorang.


"Kalian nggak bisa seenaknya begini, pikirkan anak-anak." ucap Bunda Ainun.


"Hey lakukan sudah kalah di pengadilan, dan saya yang berhak atas rumah sertabtanah ini." ucap seseorang tersebut.


"Kamu tak bisa begitu, Bu Aji sudah menghibahkan yang beserta rumah ini untuk panti." ucap Bunda Ainun.


"Hahahaha dia itu hanya orang luar, ini tanah punya ayah saya." ucapnya.


"Tidak bisa begitu, kau sudah lihat bukan kalau sertifikat tanah ini milik Bu Aji." ucap Bu Ainun bersitegang.


"Pokonya saya tidak mau tau kalian harus meninggalkan rumahnini secepatnya." ucap lelaki itu dengan suara yang meninggi.


"Beri saya dan anak-anak waktu." ucap Bunda Ainun yang tak bisa lagi mengelak. Yah di pengadilan bunda Ainun kalah untuk mempertahankan rumah yang sudah di hibakn menjadi panti ini.


"Baik lah, saya beri kamu dan anak-anak ini waktu tiga hari lagi, atau kamu dan anak-anak bisa tinggal disini dengan membayarnya 5Milyar." ucapnya.


Deg


"Lima milyar darimana aku !mendapatkan sebanyak itu, ya Allah." gumam bunda Ainun.


"Ingat tiga hari ke depan kalian harus angkat kaki." ucap orang tersebut seraya melangkahkan kakinya keluar.


Mita yang masih bersembunyi di balik dinding panti melihatnorang tersebut keluar dan hendak menaiki mobil mengejarnya.


"Tunggu." ucap Mita dan mereka pun berhenti.


"Apa maksud kalian tadi?" tanya Mita kepada orang yang telah berada di depan pintu mobil.


"Bagaimana cara nya supaya panti ini tidak kalian ambil." tanya Mita dengan pertanyaan mungkin pertanyaan bodoh.


Lelaki itu pun membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Mita.


"Apa kamu salah satu anak panti ini?" tanya si lelaki itu.


"Iya." jawab Mita tanpa ragu.


"Hmm kamu cantik.. Bagaimana kalau kamu jadi istriku." ucap si lelaki dengan mengelilingi mitanseraya menatap mkta dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari depan hingga belakang.


"Tubuhmu juga se xy, rambutmu wangi." ucapnya lagi seraya !encium rambut Mita.


"Maaf saya tidak tertarik dengan Anda." ucap Mita.


"Kalau kau mau jadi istriku, ku buat tanah ini atas namamu dan takkan ku usir mereka." ucapnya lagi dengan sorot mata yang tak bisa di artikan penuh dengan kemesuman.


"Saya sudah katakan saya tidak tertarik dengan Anda." ucap Mita dengan tegas.


"Oo gitu, terus kamu mau apa menahanku." ucap si lelaki.


"Katakan bagaiman cara agar aku bisa memiliki pangi ini dari kalian." ucap Mita.


"Bukankah aku sudha bilang cantik, jadilah istriku atau.." ucapnya menggantung.


"Atau apa!" ucap Mita.


"Atau kau membayarnya dengan 10 milyar." ucapnya lagi yang berbeda dengan ucapan sewaktu di dalam.


"Hahhaaaa sungguh luar biasa, tadi Anda bilang lima milyar dan sekarang Anda bilang sepuluh milyar, Anda mau memeras kami." ucap Mita penuh geram.


"Terserah, kau mau pilih mana cantik." ucapnya.


"Oo atau kau mu bayar lima milyar emm boleh tapi harus dengan tubuhmu juga." ucapnya dengan senyum mesumnya.


"Kemana saya akan menemui Anda." ucap !KTA dengan tangan yang sudah di kepal.


"Waaww kau nenyetujuinya, fantastic. Aku suka perempuan seperti mu." ucapnya dengan memegang pipi Mita.


"Katakan, nanti akan ku bawa uang yang kau minta beserta surat-suratnya." ucap Mita.


"Oo baik lah, aku berharap kau memiilih yang pertama atau yang ketiga, ini kartu namaku. Aku menunggumu sayang." ucapnya dengan godaan mesumnya dan memberikan secarik kertas berupa kartu namanya.


"Ayo kita pergi " ucap si lelaki dan mereka pun pergi meninggalkan panti.


Sepertinya mereka, Mita pun juga pergi meninggalkan panti menuju kantor Daddy nya dan menceritakan semua kepada sang Daddy.


Sang Daddy amat marah ketika ada lelaki hidung belang menghina anaknya dengan sigap sang Daddy pun menyuruh asisten beserta anak buahnya untuk menemui orang tersebut dan selanjutnya sang Daddy pun mendapatkan tanda tangan serta peralihan nama sertifikat panti tersebut ke namanya secara hukum yang berlaku.


flasback off.


"Ya Allah nak, makasih banyak ya. Makasih Mir, anakmu sama aja seperti dirimu." ucap Bunda Ainun.


"Ya siapa dulu dong.. Anaknya Mira gitu Loch." jawab mommy dengan alaynya.


"Heleh." ucap Mita dan si Daddy.


"Hahahaha" mereka pun ketawa bersama.


Nah bagaimana dengan orang tua Bryan, kita lanjut di Next bab

__ADS_1


TBC thanks you..


__ADS_2