DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
186


__ADS_3

Dillah dan teman-teman nya gurunmke lantai satu untuk makan namun sesampainya mereka di bawah mereka kembali membahas mengenai menu buat tambahan di cafe dan resto nya.


Disaat sedang kembali membahas, entah mengapa lidah Dillah seakan mengecap rasa getuk yang pernah dia makannbersama Mimi dipasarkan waktu itu dan tiba-tiba dia jadi kepingin !enyicip jajanan pasar itu.


"Oh ya bro, masalah menu tambahan getuk, emmm bagaimana kalau kita cek di pasar tradisional dan kita cari penjual yang menjual getuk,." Dillah memberi usul kepada teman-teman nya.


"Terus ngapain kita cari penjual getuk Dil, ada-ada aja koe." ucap Yogi


"Ya kita beli getuk mereka lah, terus kita cobain dari getuk yang kita beli itu dan kita tandai pedagang mana yang menjual getuk enak di makan, baik daeri tekstur serta rasanya." jelas Dillah.


"Terus?" sahut Satria.


"Terus kita buat kerja sama ajaan sama mereka ya sekalian kita membantu ekonomi pedagang kecil gitu." Dillah memberi ide.


"Tumben Lo punya ide seperti itu Dil." ucap Reno


Deg Dillah tiba-tiba juga teringat akaan apanyanhndia ucap kan dengan lancar itu dan sejak kapan juga dia bisa mencetuskan ide tersebut. Entah apa yang memasuki nya sehingga dengan menyebut nama getuk membuat dirinya peduli pedagang kecil.


Dillah termenung, ingatan nya berlalang buana saat bersamaan Mimi di pasar waktu itu. Dia mengagumi sifat Mimi yang peduli akan sebagian pedagang kecil di pasar tradisional khususnya pada si Mbah yang berusia senja itu.


"Dil." panggil Yogi namun Dillah asik akan kenangan sesaat nya itu.


"Hai Dil." Reno memanggil Dillah dan sontak dia pun tersadar akan pikiran yang melalang buana itu.


"Hemm ada apa?" tanya Dillah.


"Ckk, Lo lagi mikirin apa sih?" tanya Reno.


"Nggak ada kok." ucap Dillah masih menutupinya.


"Jadi gimana Dil dengan usul Lo itu? Lo yakin?" tanya Satria.


"Iya gue yakin." ucap Dillah.


"Aku juga suka dengan usul mu itu, kira-kira kamu ada yang kenal atau pernah nyoba jajanan di pasar nggak?" tanya Reno seolah menjebak Dillah.


"Emm ada, aku pernah nyoba getuk dari penjual pasar tradisional dan dia sudah tua." ucap Dillah jujur.


"Kapan? kok nggak ngajak-ngajak kita." Yogi bertanya perihal kapan Dillah mencobanya.


"Emm Minggu lalu lah." jawab Dillah.


"Oh sewaktu kamu kepasar sama Mimi." Satria langsung menebak dengan siapa Dillah pergi.


"Eh emm i iya." jawab Dillah gugup namun akhirnya dia pun jujur pada sahabatnya.


"Yaudah, gimana kalau kita langsung survey pasar aja sekarang mumpung belum siang-siang amat.''ucap Yogi.


"Iya betul juga dengan apa yang di bilang Yogi." sahut Reno dengan melihat ke arah arloji di tangannya.


"Jadi nggak jadi makan nih?" ucap Satria.


"Nggak, kita coba cari makan di pasar aja." sahut Dillah dan mereka pun pergi menggunakan mobil Dillah.


Di sebuah panti asuhan orang tua Bryan bertemu dengan bunda Ainun, kedua orang tua Bryan juga menanyakan perihal Berliana.


"Assalamualaikum." ucap mami dan papi ketika sampe di pagar panti yang tertutup.


"Waalaikum salam." jawab seorang anak laki-laki berusia berkisar lima tahun.


"Bundaa ada tamu." anak laki-laki itu memanggil bunda pengurus panti saat ini.


Dengan tergopoh-gopoh wanita paruh baya menghampiri anak laki-laki dan bertanya.


"Siapa Leo?" tanya si bunda kepada anak laki-laki yang bernama Leo itu.


"Ada tamu bunda." jawab anak laki-laki itu dengan menunjukkan jadinya ke arah pintu pagar. Dengan segera bunda Ainun !membukanya.


"Maaf pak buk, mari masuk." jawab bunda Ainun dan mempersilakan tamunya masuk kedalam panti.


"Di'ah, tolong buatkan minum ya nak." bunda Ainun menyurih salah satu anak asuhnya untuk membuat minuman.


"Iya bunda." jawab si anak.

__ADS_1


"Maaf pak ,buk, ada apa ya?" tanya bunda karena bunda baru pertama kali melihat tamunya ini.


"Emm begini buk, saya mau bertanya apa Berliana salah satu anak disini." jawab Mami dengan bertanya perihal Berliana dan seketika bunda Ainun meneteskan air matanya mengingat anak asuh yang da sayang.


"I iya Bu,Pak, dia salah satu anak asuh saya dan dia kakak dari adik-adiknya di panti ini." jawab bunda Ainun.


"Maaf kalau boleh tau bapak dan ibu tau anak saya darimana? apa dia telah berbuat salah? kalau dia berbuat salah saya meminta maaf atas kesalahan almh anak saya Berliana.'' bunda bertanya dengan deraian air mata.


"Oh iya buk, perkenalkan saya Maya dan ini suami saya Willy, emm kaminorang tua dari Bryan buk." ucap sang mami memperkenalkan diri dan seketika bunda mengingat akan nama Bryan.


"Bryan." gumam bunda Ainun sembari mengingat nama itu.


"Bryan cowoknya kak Lian bun," Di'ah menimpali.


"Mari pak, buk di minum." Diah mempersilahkan mamak dan papi Bryan untuk minum.


"Oh ya buk kenalkan ini Diah, sekarang dialah pengganti Lian yah dia usianya di bawah Lian." bunda Ainun memperkenalkan Diah kepada kedua orangtuanya Bryan.


"Em jadi ibu dan bapak orang tua dari nak Bryan?" tanya bunda kepada orang tua Bryan.


"Iya buk." jawab mami.


"Kami kesini, mau berterimakasih kepada ibu dan almh Lian yang telah sudi memberikan organ hatinya buat anak saya." ucap papi.


"Kami sebagai orang tua Bryan sebaggaainrasa terimakasih kami, kami akan menjadi donatur tetap di panti ini." ucap Papi lagi.


"Alhamdulillah pak saya sangat bersyukur panti ini ada yang mau mendonasikan sebagaian harga nya buat kami, tapi.." bunda Ainun sangat terharu akan kebaikan kedua orang tua Bryan namun dia bersedih karena panti ini akan segera mereka kosongkan.


"Tapi apa buk?" tanya mami.


"Tapi kami tak akan tinggal disini lagi mulai besok pak, buk." jawab bunda dengan deraian air mata.


"Sewaktu buk hajah hidup dengan jelas bahwa tanah panti ini di hibahkan bahkan surat hibahnya pun masih saya simpan.Tapi salah satu ahli waris merasa kalau dia tidak !mengetahui hal itundanndia tegap keukeuh untuk mengambil tanah panti ini, dan dia juga sudah menggugatnya di pengadilan dan pihak mereka menang." terang Bu Ainun.


"Apa ibu tidak naik banding?" tanya mami.


"Segala upaya sudah saya coba buk, tapi pihak mereka nggak mau. Jika kami masih mau panti ini maka kami harus bayar uang dua miliar, dari mana kami dapatkan uang segitu sedangkan buat biaya anak-anak kami mengharap kan dari donatur." jelas Bu Ainun.


"Emang berapa luas tanah panti yang di hibahkan ini buk?" tanya papi.


"Em, ibu tau siapa ahli waris yang menggugah itu?" tanya papi.


"Yang gugat itu anak dari istri pertama nya alm pak harun, jika dari anak-anak pak Harun dan buk hajah mereka sudah tau kallaau tanah ini dihibahkan." jelas Bu ainun.


"Lah kalau mereka tau kenapa mereka nggak ikut bantu ibu untuk menjadi saksinya.?" ucap Mami.


"Karena anak bu hajah perempuan semua buk, dan mereka juga sudah berupaya membantu tapi kami tetap kalah dipersidangan. Padahal setahu saya tanah ini di beli oleh Bu Hajjah pakai uang tabungan Bu Hajjah sendiri." ucap Bunda Ainun mengenang masa dia menemani Bu Hajjah membeli tanah ini saat dia masih seumuran Diah.


"Emm terus ibu tau siapa yang ngugat itu?" tanya mami.


"Saya juga gak kenal bu, karena dia bukan orang sini." jawab bunda.


"Tapi anak yang lain tau nggak Bu?" tanya mami lagi.


"Mereka kurang akur sama dia Bu, kalau anak Bu Hajjah dia ada tinggal di seberang sana rumahnya."Jawab bunda Ainun dengan menunjuk sebuah rumah di seberang panti papi hanya mengangguk mengerti


"Oh ya bu, masalah Berliana. emm." mami akan bertanya masalah Berliana cuma mami bingung mau bertanya apa.


"Berliana anak yang pendiam Bu, dia anaknya yang suka membaca sedari kecil. Dia anak yang cerdas selaalunjuara di sekolahnya, tapi enatah mengapa hanya dia seorang yang tidak diadopsi. Anak seusianya sudah tinggal bersama keluarga baru, namun Berliana gak ada satu pun yang menginginkannya." jelas bunda Ainun mengenang masa kecil Berliana.


Dia sedari SD selalu mendapatkan beasiswa hingga dia lulus dan diterima di undipo dan dia masuk di universitas itu karena dia mendapatkan beasiswa." Bu Ainun terus bercerita, mami dan papi menyimak.


"Lian selalu bercerita sama saya apapun itu tentang dirinya termasuklah bahwa dia di tembak menjadi pacar dari bintang kampus katanya, dia sangat menyukai dan menyayangi Bryan namun setahun belakangan ini dia mengetahui kalau ternyata dia hanya sebagai kekasih taruhan." bunda Ainun bercerita dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.


"Namun bagaimana pun Lian tetap mencintai Bryan sepenuh hatinya dan dia berharap dia bisa mengubah Bryan menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab." ucap Bunda Ainun.


"Beberapa bulan lalu, Lian selalu merasa sakit kepala dan dia menganggap itu sakit kepala biasa akibat banyaknya tugas kampus dan akhirnya setelah ujian semester kemarin dia drob dan sakit kepala nya semakin menjadi bahkan lkan sering mimisan, dan saat Lian pingsan kami membawa nya kerumah sakit dan saat itulah kami baru tahu sakit kepala Lian selama ini bukanlah sakit kepala biasa melainkan ada tumor ganas di kepalanya." bunda Ainun bercerita dengan deraian air mata yang tiada henti-hentinya.


"Dan dua Minggu lalu dia cerita kalau Bryan sakit liver dan memerlukan pendonor, lkan meminta saya untuk mengizinkan nya melakukan donor itu, dia memohon kepada saya karena Lian berkata kalau dia sudah nggak sanggup dengan rasa sakit kepalanya dan dokter juga sudah memvonis kalau usoa Lian hanya tinggal menghitung hari." bunda Ainun terisak kala teringat dokter memvonis anak asuhnya itu.


"Dan dia juga diam-diam sudah memeriksa hatinya dan ternyata hatinya cocok dengan tubuh Bryan. Saat saya memberinya izin, dia juga sebenarnya meminta agar kami tidak menceritakan kepada keluarga Bryan. Maafkan bunda nak." bunda Ainun tergugu menangis dalam dekapan Diah.


Mami dan papi ikut menitikkan air mata nya, mami dan papi juga berjanji akan mempertahankan dan memperebutkan kembali tanah ini.

__ADS_1


"Maafkan anak saya Bu," ucap Mami meminta !Aaf atas kesalahan Bryan dan juga ikut terisak.


"Saya dan Lian sudah memaafkan nya." jawab bunda.


"Saya akan mempertahankan panti ini, kira-kira kapan orang itu akan datang kembali kesini Bu?" tanya papi


"Mungkin besok dia akan datang pak, tapi biarlah pak saya berencana akan membawa anak-anak ke rumah saya di desa saya saja." Ucap bunda Ainun yang berencana akan membawa anak asuhnya kerumahnya di desa.


"Emang ada berapa orang anak-anak pangi Bu?" tanya mami kembali bertanya walau sebelumnya dia sudah mengetahui nya.


"Ada tiga puluh bu," jawab bunda yang sebenarnya juga bingung membawa anak sebanyak ini.


"Tiga puluh? Apa itu tidak merepotkan ibu nantinya di desa, em maaf bukan maksud saya ..em." mami tak habis pikir bagaimana caranya Bu Ainun akan membawa mereka semua.


"Yah mau gimana lagi bu, mereka masih butuh perhatian." jawab. bunda Ainun.


"Walaupun yang SMA dan SMK sekolah sambil berkerja tapi mereka masih dalam pengawasan saya. Mereka yang sudah menginjak kelas tiga seperti Diah mungkin akan ngekos buat menyelesaikan sekolahnya dulu." terang bunda.


"Emm maaf Bu, menurut saya bunda dan anak-anak nggak akan kemana-mana saya janji akan menyelesaikan semua ini." ucap Papi.


"Saya sudah memberitahu perihal ini pada pengacara saya, nanti semua akan di urus sama dia dan anak buah saya juga sedang mencari tahu ahli waris itu." ucap Papi meyakini bunda akan niatnya.


"Terimakasih banyak pak buk." ucap bunda Ainun dengan deraian air mata sembari menyalami Mami dan papi Bryan berkali-kali.


Dillah dan teman-temannya sudah sampai di pasar tradisional, !mereka berempat berjalan sembari mencari para pedagang jajanan pasar yang akan dijadikan target mereka.


Saat mereka akan memasuki pasar, sepasang mata Dillah tanpa sengaja melihat dua sejoli berjalan dengan selalu bergandengan tangan bahkan dua sejoli itu sesekali ketawa ria sambil suap-menyuap ice cream.


Dillah berhenti dan melihat dua sejoli itu untuk meyakinkan kalau yang dilihatnya adalah cewek yang selalu berada di pelupuk mata dan otaknya.


Saat Dillah meyakinkan kalau cewek itu adalah cewek yang mengisi hatinya akhir-akhir ini dia merasa kan sakit dihatinya. Dillah menatap nyalang kearahndua sejoli yang kelihatan sangat bahagia itu.


Reno dan yang lain telah berada didepan Dillah dan Reno menyadari jika Dillah tidak ada disana diapun kembali melihat kebelakang dan melihat kalau Dillah lagi berdiri dengan mata menatap fokus ke arah dua orang.


Reno kembali menuju ke Dillah begitu pula dengan Yogi dan Satria.


"Dil, Lo kenapa?" tanya Reno namun Dillah tak bergeming.


"Dil." panggil Yogi dan Satria, Dillah tetap tak bergeming.


Reno dan yang lain ikut menatapnkemananarahbmata Dillah menatap, Reno dan kedua sahabatnya terkejut melihat ada mimi disana namun dengan cowok yang berbeda.


Yah yang mereka tau kalau dikampus Mimi selalu bersama Irsyad.


"Bukannya itu Mimi ya?" tanya Satria.


"Iya itu Mimi, tapi dengan siapa?" ucap Yogi.


Mereka bertiga kembali melihatne arah Dillah yang menatap Mimi dengan tatapan yang tak bisa di artikan dengan kata-kata. mereka bertiga yakin kalauntemannya Dillah telah menaruh hati pada Mimi. Mereka bertiga serentak menghembuskan nafas kasar.


Sedangkan Dillah terus !menatap mimi nyalang dan kedua tangan nya dikepal.


"Siapa sebenarnya kamu Mi,?" otak Dillah terus bertanya-tanya.


"Siapa dia? kenapa dia beda dengan ynga dikampus." gunanya dalam hati dengan tatapan tajam! ke arah lelaki yang bersama Mimi.


"Kenapa si kampus kau terlihat lugu namun diluar kau tak hanya satu pria." Dillah berpikiran negatif tentang Mimi begitu pula dengan kedua teman nya.


"Gadis berhijab yang terlihat lugu ternyata sama aja." gumam Satria dalam hati.


"Apa ini kelakuan asli Mimi? di kampus lugu kalem diluar.." gumam Yogi.


"Apa dia tunangan Mimi itu ya? pantesan saja Mimi tak tertarik dengan lelaki lain, tunangannya saja cakep gitu." gumam Reno dalam hati.


Yah hanya Reno yang berpikiran positif tentang Mimi karena dia sudah mengetahui siapa Mimi. Reno diam-diam mengancam!BIL foto Mimi bersama cowok itu untuk dikasih tunjuk Samma Dita kekasih nya.


"Ayo Dil, kita lanjut" ajak Reno ketika melihat Mimi sudah masuk kedalam mobil bersama cowoknya.


"Udahlah Dil, lupakan Mimi kalau e!yang hati Lo mulai menyukai dia." ucap Yogi.


"Iya Dil, lupakan dia. Ini tandanya Tuhan sayang sama Lo ditampakkan nya siapa aslinya Mimi." ucap Satria.


"Udah-udah nggak baik menuduh orang tanpa bukti nyata

__ADS_1


lebih baik kita mulai eksperimen kita."ucap Reno dan mengajak teman-temannya untuk melanjutkan tujuan mereka awal.


**Tbc**


__ADS_2