DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
214


__ADS_3

Menghadapi hari-hari yang sangat melelahkan seharusnya membuat mereka terlelap cantik, namun walau mereka mengantuk mereka tidak tega untuk meninggalkan Mimi seorang diri.


Ya mereka sehabis Isya, sudah merasa berat pada kedua kelopak mata mereka dan ingin tidur cantik segera, namun mereka urungkan dikala salah satu sahabat belum ingin untuk tidur.


"Hoaaam" Muthia menguap dengan mata yang berair menahan ngantuk.


"Hoamm,emm ngantuknyaaa." ucap Irma dengan menguap serta mengucek matanya.


"Hoammm, emmmp capek bener plus ngantuk bener dah mata Fia." ucap Fia dengan merenggangkan otot lengan serta pinggangnya dengan menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan serta merentangkan kedua tangannya lebar, serta takmkala lebarnya dengan nguap nya.


Sedangkan Mimi, matanya sibuk melihat benda pipih yang berada ditangannya, ya Mimi selalu menanti sang pujaan hati nya, bagi Mimi dengan mendengar serta melihat wajahnya adalah obat yang paling mujarab di saat dia sedih, senang maupun di kala Mimi capek dan penat yang sedang dirasakan saat ini.


Namun benda pipih tersebut tidak ada penampakan akan tanda-tanda sang pujaan hati untuk menghubunginya di malam ini.


Sudah satu minggu, mereka tidak berhubungan baik iguntelpon maupun video call.


"Kak, kakak dimana? sedang apa?" gumam Mimi dalam hati dengan sendu menatap benda pipih itu .


"Mi, tidur yukk." ajak Muthia yang matanya tinggal beberapa Watt.


"Iya Mi, ngantuk plus capek nih." sahut Selfia


Mimi tersenyum melihat mereka yang sudah meredup matanya.


"Kalian tidur aja dulu." jawab Mimi.


"Yah nggak enak lah Mi, masa kita yang numpang malah kita molor duluan." ucap Selfia.


"Nggak usah nyebut nggak enak nggak enak, noh mata kondisikan dah mau redup itu." jawab Mimi dengan senyum serta geleng-geleng.


"Tidurlah kalian, pasti kalian sangat capek. Jangan di tahan hanya karena merasa tidak enak, kesehatan kalian itu sangat berarti." ucap Mimi lagi.


"Kalian kan tau, Mimi nggak biasa tidur cepat. Apa lagi baru jam 7,15." ucap Mimi lagi dan mereka pun menoleh ke arah jam di dinding.


"Hmm iya ya, masih sore. Tapi kenapa mata ku ngantuk banget." ucap Selfia.


"Itu karena hari ini kita dapat dosen yang super duper Fi, hoaam." sahut Muthia.


"Betul banget, dosen-dosen hari ini sungguh ruarrrrr biasa, bikin kita binasa." sahut Selfia.


Apa yang dikatakan mereka ada benarnya karena emang dosen hari ini dosen-dosen yang menjunjung tinggi kedisiplinan waktu dan perfeksionis.


Di dalam kelas mereka tidak boleh adanya yang bersuara baik itu suara dari mulut atau pergerakan-pergerakan dari organ tubuh.


Telinga mereka bagaikan kalong atau kelelawar yang memiliki gelombang ultrasonik yang dapat mendengar hingga dengan frekuensi diatas 20.000 Hz atau mungkin bahkan telinga mereka seperti ngengat lilin rakasasa Galleria mellonella) yang memiliki pendengaran ekstrem karena bisa mendengar suara hingga 300 ribu Hz. Sedangkan manusia sendiri hanya bisa mendengar rentang suara 20-20 ribu Hz.


Bagaimana tidak, usahkan suara bisik-bisik suara pergerakan kegelisahan dari area kaki atau bok*ng aja mereka bisa mendengar.


Kata si dosen, mereka-mereka tidak ingin ada mahasiswa yang selengek an dan tidak fokus dengan menteri yang mereka beri apa lagi yang mereka ajari adalah mahasiswa kedokteran yang mana setiap mahasiswa di tuntut untuk selalu fokus karena kelak mahasiswa yang mereka ajari ini adalah seorang dokter yang harus berkompeten, seorang dokter yang harus teliti akan suatu penyakit agar tidak salah me!beri diagnosa, dan mereka ingin kelak para calon dokter ini bisa menjadi dokter-dokter hebat dan ternama.


"Tidur lah.'' ucap Mimi dan beranjak berdiri akan meninggalkan mereka agar mereka bisa tertidur.


"Mi, mau kemana?" tanya Irma.


"Mimi belum ngantuk, jadi Mimi mau buat kue aja. Kalian tidur aja ya." jawab Mimi dengan senyum dan kembali berjalan menuju dapurnya


Sampai di dapur Mimi menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Mimi mengawali aktifitasnya.


Mimi mengambil satu persatu bahan kue nya serta peralatan lainnya. Agar cepat Mimi sebelum mengadon bahan, Mimi mengoles cetakan-cetakan dengan minyak dan margarin dan setelah itu Mimi memulai mengadon satu persatu bahan kue nya.


Irma dan yang lain mendengar suara mixer Mimi, mereka pun beranjak dan mengurungkan niat tidurnya. Jadilah mereka kembali beraktivitas membantu Mimi membuat kue, walau acap kali Mimi melarang mereka namun mereka tetap kekeuh untuk membantu Mimi dan akhirnya Mimi pun pasrah atas keinginan mereka.


Beberapa jenis kue telah siap, Mimi melihat mereka kembali menguap dengan mata yang berair.


"Udah kalian tidur aja sana, ini juga tinggal beberapa kue lagi." ucap Mimi menyurih mereka agar segera kembali ke kamar.

__ADS_1


"Tanggung Mi.." sahut Selfia dengan terus menguap.


"Fi, Muth, Ir.. Plissss, kalian tidur sana, jangan di paksain itu nggak baik. Mimk sanagt berterimakasih kepada kalian karena kalian selalu membantu Mimi, tapi kesehatan kalian juga penting. Gih sana kalian tidur, liat tuh dahnjam berapa." ucap Mimi kepada mereka dan mereka juga melihat ke arah jam yang telah menunjukkan pukul 1145 malam.


"Tapi Mi." ucap Muthia.


"Udah, kalian tidur saja. Ini juga tinggal dua jenis kue nggak makan waktu lama kok." ujar Mimi dengan tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu kota tidur dulu ya Mi, ngantuk bener mata Fia." ucap Selfia.


"Iya Fi, makasih atas bantuannya." ucap Mimi.


"Aku juga ya Mi." sahut Irma dan Muthia.


"Iya, kalian tidur lah." jawab Mimi.


"Mimi juga kalau dah selesai seger tidur, kalau capek dihentikan jangan di porsir gitu, kesehatan Mimi juga penting, liat tuh badan Mimk sudah kerempeng." ucap Fia.


"Iya Fia bawel, ujungnya coab jangan ngehina gitu." jawab Mimi dan mereka pun tertawa di tengah malam.


Sepergian mereka, Mimi hanya bisa tersenyum dan bersyukurnya memiliki sahabat seperti mereka.


"Terimakasih ya allah, atas rezekimu memberikan hamba teman yang selalu setia dan selalu ada kapan dan bagaimana keadaan hamba." ucap Mimi bersyukur Mimi pun kembali fokus pada adonan kuenya.


Tak terasa waktu terus berjalan hingga telah menunjukkan pukul 2.30 dinihari, kue-kue pun telah siap semua. Mimi me


letakkan kue-kue nya dinatas nampan-nampan dan menutupnya dengan kertas roti.


Mimi merenggangkan otot-otot tubuhnya, Mimi mulai membereskan peralatan kue yang di gunakan dan segera Mimi cuci agar besok dia tak kerepotan.. Oven yang masih panas hanya Mimi singkirkan ke pinggir, begitu pula kue-kue yang telah dimasukkan ke dalam wadahnya masing-masing.


Setelah semua beres dan keadaan dapur sedikit rapi, Mimi beranjak ke kamar !mandi untuk mencuci muka dan berwudhu sebelum dirinya tidur.


Mimi berjalan ke arah kamarnya, dilihat para sahabat sudah tertidur pulas, Mimi menyunggingkan senyumnya. "Makasih guys." ucap Mimi dan kembali menutup pintu kamarnya.


Mimi kembali berjalan menuju kamar sebelahnya, Mimi buka kamar itu yang selalu tercium aroma parfum kak Syahril yang selalu awet. Yahnkamae ini adalah kamar khusus buat kak Syahril dan kak Ryan bila mereka ke kota ini selalu menginap disini tentunya juga atas seizin bunda Retno dan mereka juga tak hanya berdua melainkan mbak Aish juga ikut serta.


Mimi berjalan ke arah lemari yang ada disana, terlihat pakaian terakhir yang di pakai kak Syahril terakhir dia ada disini dan sengaja Mimi tidak mencucinya.


Mimi ambil pakaian itu dan Mimi cium berulang kali dan Mimi peluk pakaian itu untuk meluapkan kerinduannya.


"Kak, Mimi rindu." gumam Mimi sambil menciumi pakaian yang masih harum dengan aroma parfum kak Syahril.


"Kakak dimana, apa kakak sudah ndak sayang sama Mimi, apa kakak sudah ndak cinta sama Mimi." Gumamnya lagi sambil merebahkan diri di atas kasur lipat nya Syahril.


Kenapa Mimi tau bahasa itu kasur kak Syahril karena kak Syahril selalu berpesan agar kasurnya jangan dipakai oleh siapapun jika ada yang nginap di kosannya Mimi dan sepertinya pun khusus dia buat dengan gambar mereka berdua


"Mimi rindu kak, kenapa akhir-akhir ini kakak sudah di hubungi." ucap Mimi dan tak terasa kedua pipinya telah basah. Mimi memeluk guling kak Syahril dan bajunkak Syahril.


Mimi melihat ponselnya dan melihat kontak WA kak Syahril tetapi terakhir online adalah dua hari lalu.


Mimi jadi teringat akan kata-kata Muthia beberapa hari lalu.


"Mi, emang ayang beb nggak ada telpon lagi?" tanya Muthia waktu itu.


"Iya Muth, katanya dia sedang sibuk." ucap Mimi, ya walau mereka tidak melakukan telpon atau video call, kak Syahril selalu mengirimnya pesan lewat WA.


"Hmmm, bukannya Tia nakutin ya Mi.Awal dia bilang sibuk untuk menghindari kita, tali setelah itu perlahan dia tidak akan mengirim kabar dan akhirnya kabar yang kita dapat malah menyakitkan " ucap Muthia waktu itu dan Mimi hanya diam.


"Tapi kak Syahril nggak gitu kok Muth, kita kenal bukan setahun dua tahun ini, Mimi yakin kalau dia setia." ucap Mimi.


"Iya Mi, Tia tau. Tapi lihatlah Tia, Mi. Kita di tuntut untuk setia, namun kenyataan nya kini sakit yang dia torehkan Mi, yah semoga aja kak Syahril nggak gitu Mi, dan semoga cinta kalian kelak berakhir bahagia." ucap Muthia dengan sendu kala mengingat kisah cintanya bersama sang kekasih.


Muthia juga menjalin hubungan dengan kekasihnya sangat lama hampir sama dengan Mimi, mereka selalu setia dan selalu berkirim kabar walau jarak memisahkan. Tetapi dua bulan lalu kisah mereka harus berakhir kala Muthia mendengar kabar kalau sang kekasih akan menikah dengan sahabatnya sendiri di aceh.


Mimi yang masih memeluk pakaian kak Syahril pun kembali memeluknya erat. Tak lama Mimi pun terpejam.


Didalam tidurnya, Mimi bermimpi berada di sebuah nya!an yang sangat indah, dan Mimi begitu mengagumi keindahan taman tersebut.

__ADS_1


Dari kejauhan Mimi melihat ada seseorang yang berdiri di pinggir danau dan yang Mimi lihat dari postur tubuh itu serta aroma khas yang tercium oleh hidungnya adalah orang yang sangat dirindukannya.


Mimi berlari mendekati arak danau dan mendekati sosok laki-laki yang dirindukannya.


"Kakaaaak." panggil Mimi dengan teriak dan terus berlari.. Sosok laki-laki itupun membalikkan badannya dan melihat ke arah Mimi dengan senyum yang merekah dan dia juga merentangkan kedua tangannya.


Mimk terus berlari hingga sampai di dekat orang yang sangat sangat sangat dirindukannya. Mimi langsung memeluk Syahril dengan erat begitu pula dengan Syahril memeluk Mimi dengan erat. mereka saling berpelukan erat meluapkan kerinduan yang mereka rasakan.


"Kak, kakak kemana aja.. Kakak tau, Mimk sanagt merindukan kakak." ucap Mimi, Syahril terus memeluk tanpa berucap.


Syahril berulang kali mengecup kepala Mimi dengan tangan yang terus memeluk Mimi.


"Kak, apa kakak sudah tidak menyayangi Mimi, apa kakak sudah tidak mencintai Mimi?" tanya Mimi dengan deraian air mata.


Syahril meleraikan pelukannya dan menangkap wajah Mimi dengan kedua tangannya, di ciumnya seluruh wajah Mimi dari kening, mata, hidung, kedua pipi, hingga bibir Mimi.


Dihapusnya air mata Mimi dengan mengecup matanya berkali-kali.


"Jangan pernah ucapkan kata-kata itu, sampai kapanpun cinta kakak hanya buat adek." ucap nya.


"Tapi kenapa kakak susah Mimi hubungi, apa kakak akan menghindari Mimi?" tanya Mimi lagi dengan masih berserakan air mata.


"Apa kakak tidak merindukan Mimi?" tanya Mimi lagi.


"Cup cup cup" syahril menghujani Mimi ciuman.


"Kakak selalu merindukanmu, maafkan kakak." ucapnya.


Mereka pun saling berpelukan dan mereka juga duduk di atas rumput hijau dipinggiran danau sambil menikmati semilir angin yang sejuk.


"Kak, Mimi sanagt merindukan kakak." ucap Mimi dan terus mengeratkan pelukannya.


"Sama, kakak juga merindukan adek " jawab Syahril dan juga mengeragkan pelukannya.


"Kakak tau, Mimi kirs kakak itu menghindari Mimi karena kakak tidak ada lagi menghubungi Mimi, kakakmkan ta kallau tiap pagi,siang dan sore Mimi selalu ingin melihat wajah kakak untuk mengusir rasa penat Mimi." ucap Mimi.


"Mimi kira kakak sudahmgidah menyayangi dan mencintai Mimi lagi." ucap Mimi lirih.


"Jangan pernah ucapkan kata itu, adek kan tau syang dan cinta kakak hanya buat adek, dan kakak selalu bersumpah pada adek kakak tidak akan pernah memberikan sayang dan cinta kakak ke yang lain kecuali umma," ucapnya.


"Jiwa dan raga kakak hanya buat adek, kakak tidak akan merelakan jiwa dan raga kakak buat orang lain." ucapnya lagi.


"Maafkan kakak dek, maafkan kakak. Kakak sangat menyayangi adek, kakak sangat mencintai adek. Jangan pernah adekmberucao seperti itu lagi " ucap Syahril dengan air mata yang telah membasahi kedua pipi nya, Syahril lagi-lagi !wnciumi wajah Mimi.


Mimi merasa ada yang mengganjal di hatinya, ini bukan sifat orang yang di cintai nya. Kak Syahril jarang mengeluarkan air mata bila itu tidak mengusik perasaannya.


"Kak, kakak baik-baik aja kan?" tanya Mimi dengan melihat kearah kedua mata Syahril.


"Kakak, tidak menyembunyikan sesuatu dari Mimi kan?" tanya Mimi dan Syahril hanya menggelengkan kepala.


"Tidak sayang, kakak sangat merindukan adek, sampai matipun. kakak tetap mencintai adek." jawabnya dan kembali memeluk erat Mimi dengan deraian air mata


"Mi!k, juga sanagt mencintai kakak, kak.." ucap Mimi.


"Kak, kakak, kakak kemana." ucap Mimi yang seketika Syahril menghilang dalam pelukan nya.


"Kaaaaak, kakaaaak, kakak dimana ." ucap Mimk sambil mencari keberadaan Syahril yang tak gaun keberadaanya.


"Kak, kakak,." ucap Mimi dengan seluruh badan bergerak gelisah.


"Kaakkk." ucap Mimi dan Mimi pun tersadar dari tidurnya dengan nafas ngos-ngosan dan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


Diraihnya ponselnya dan diceknya jam ternyata baru jam 3.30 dini hari. Berarti Mimi hanya tertidur kurang lebih 30menit.


"Ya Allah, apa maksud dari mimpiku kali ini. Berikanlah kak Syahril kesehatan, lindungilah dia dimana pun dia berada." Mimi berdoa kepada yang maha kuasa dan fakmluoa pula Mimi !mengucapkan dzikir berulang kali.


Setelah itu Mimk beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi guna mengambil wudhu dan malaksanakan sholat tahajud dan fakmluoa pula Mimi selalu membaca surat Yasin 41kalinya hinbpgga suara adzan subuh berkumandang.

__ADS_1


tbc


__ADS_2