DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
167


__ADS_3

Hari Kamis pun tiba, seperti hari sebelumnya tiap pagi Mimi selalu memasak sarapan buat dirinya lebih tepatnya memasak sekalian buat makan siang maupun malam, Mimi memasak ditemani oleh Syahril via video call.


Setelah habis memasak, Mimi langsung sarapan dan masih atau dengan video call nya.


"Kak, kakak dah sarapan?" tanya Mimi.


"Nih," ucap Syahril dengan menunjukkan sarapannya. Maka jadilah mereka sarapan berdua ditempat yang berbeda namun dekat di hati dan mata mereka.


"Dek, jangan lupa kelengkapannya di cek lagi." ucap kak Syahril yang masih setia menemani pagi hari Mimi.


"Iya kak, udah Mimi cek kok tanpa terlewati." jawab Mimi dengan terus berjalan menuju kamarnya untuk !mengambil handuk.


"Hidih baru mau mandi." ucap kak Syahril yang melihat Mimi mengambil handuk.


"Hehhee biarin." jawab Mimi dengan mencibiri sang kekasih.


"Yaudah ya kak Mimi mau mandi dulu." ucap Mi!i yang telah sampai di depan kamar mandinya.


"Hmm ikutan dong." ucap kak Syahril menggodanya Mimi.


"Nggak boleh, belum halal." jawab Mimi.


"Cieee ngode nih, Ahok atuh neng abangbhalallin segera." goda Syahril dengan memainkan kedua matanya.


"Hemm boleh boleh boleh, tapi nanti setelah lulus." jawab Mimi ketawa kecil.


"Ck lama dek, besok aja yuk kita halalin nya." Syahril terus memancing Mimi.


"Sabar ya sayang kuh, kalau besok halalinnya bakal terpisah sesudahnya. Udah ah Mimi mandi dulu assalamualaikum." uc Mimi dengan langsung mematikan sambungan video call nya.


"Waalaikum salam, kebiasaan selalu menggantungkan harapan." ucap Syahril sambil berbicara sendiri dengan ponselnya.


"Kakak akan selalu menunggu adek, kakakmharapmadeknpun begitu." Gumamnya dan langsung beranjak keluar menuju mobilnya untuk berangkat ke kampus.


Di sebuah apartemen di kota semarang, seorang pemuda maaih berkutat dengan laptopnya dengan ditemani secangkir teh hangat dan roti isi selai coklat sebagai sarapannya. Ya dialah Sa'id Abdillah.


Sa'id Abdillah sedang sibuk mengecek laporan cafe dan resto nya. Dia mengecek email-email yang masuk dan dia juga langsung memasukkan laporan tersebut kedalam excel word di laptopnya.


Waktu terus berjalan, akhirnya semua pekerjaan Sa'id pun selesai dan diapun segera bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya.


Dengan gaya cool nya Sa'id berjalan memasuki tiap koridor di kampusnya. Hari ini kampus ramai akan calon mahasiswa baru yang akan mendaftar ulang.


Disaat dia sedang menyapa para sahabat nya, telatnya di persimpangan koridor lagi-lagi accident sebelumnya terjadi kembali.


"Auw.." ucap seorang gadis yang tak sengaja menabrak punggung sang pemuda sembari menunduk mengambil map yang terjatuh


Sang pemuda pun berbalik badan dan melihat siapa gerangan yang telah menabrak nya kali ini. Setelah mengambil map Mimi segera berdiri dan melihat siapa yang ditabraknya kali ini. Yah gadis itu adalah Mimi yang maanna Mimi sedang mengambil map dalam tas nya sambil jalan.


"Eh kak, maaf saya nggak sengaja." ucap Mimi ketika telah melihat siapa yang ditabrak nya kali ini.


Diseberang mereka para sahabat pemuda melihat interaksi sahabatnya.


"Wah lagi-lagi mereka bertabrakan." ucap Yogi.


"Iya, apa mereka bakal jodoh ya?" ucap Satria.


"Mungkin." ucap Reno.


"Yah, kalau mereka bersatu gagal dong aku deketin adik maba berhijab itu." Sahut Bryan.


"Otak Lo Bry, nggak boleh liat manis cantik dikit." ucap yoginsa!bip menoyor kepala Bryan.


"Hahahaha, usaha bro, kalau gue bisa dapetin tuncewek gue janji nakal buang nih keplayboyan gue." ucap Bryan dengan menepuk dada yang di busungkannya.


"Gaya Lo, asbun aja Lo." ucap Satria.


"Yee nggak percayaan amat Lo ama teman." ucap Bryan.


"Udah-udah, ayokmkita samperin Dilla." ucap Reno melerai teman-teman nya yang berdebat tak tentu arah dan mengajak mereka menuju ke Dillah.


**


"Maaf ya kak." ucap Mimi kepada Dillah. Pemuda yang ditabrak Mimi adalah Sa'id Abdillah.


"Hemm." jawab Dillah, dan terjadilah kecanggungan di antara mereka.


"Emm kalau gitu saya duluan kak." ucap Mimi dan mimipun berlalu meninggalkan Dillah yang masih berdiri ditempat dan matanya terus memandangi Mimi yang semakin menjauh.


"Woy bro." ucap Bryan sambil menepuk pundak Dillah.


"Siapa bro?" tanya Yogi yang juga ikut melihat kemana mata Dillah memandang.


"Nggak tau." jawab Dillah dan berlalu pergi !meninggalkan para sahabat nya.


"Hah." ucap mereka serentak, mereka tau siapa Sa'id Abdillah manusia super dingin dan cuek kalah itu !menyangkut yang namanya manusia paling sexy yaitu cewek.


Mereka mengejar Dillah yang telah melangkah sangat lebar meninggalkan mereka.


"Hey bro, masak Lo nggak ajak kenalan sih?" ucap Bryan yang telah menyeimbangi langkah Dillah.

__ADS_1


"Iya bro, kenapa nggak berkenalan tadi." ucap Satria.


"Sayang banget, pas waktunya nggak kenalan." ucap Yogi yang acuh.


"Mending dekatin dia aja deh Dil, anaknya juga manis." sahut Dita.


Dillah tak menanggapi segala macam omongan dari teman-temannya, dia terus berjalan menuju salah satu ruangan.


Teman-teman Dillah hanya diam melihat Dillah yang acuh. Mereka hanya berusaha membantu Dillah untuk keluar dari zona kehaluan, yah itu adalah pemikiran mereka karena Dillah masih tetap kekeuh dengan gadis yang mencuri hatinya walau dengan tatapan dan senyuman sedetik.


Dillah duduk di bangku kebesarannya, ya Dillah salah satu anak BEM tepatnya dia adalah ketua BEM. Dia langsung membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda.


"Oh ya Dil, buat anak maba nantinkita akan adakan acara seperti apa?" tanya salah satu anggota BEM.


"Hem, menurut kalian gimana?" ucap Dillah dengan masih fokus mengetik di laptop nya.


Akhirnya mereka sejenak melupakan gadis pujaan hati yang masih dalam angan-angan, masih dalam bayangan di mata Dillah. Para anggota BEM sedang membahas tentang anak maba.


Mimi masih menunggu antrian di depan ruangan administrasi untuk menyerahkan berkas-berkas nya.


Disaat Mimi mengantri, Mimi di dekati seorang cowok namun Mimi masih cuek dan terus menatap ponselnya.


"Emm Mimi kan?" ucap sang cowok ketika sudah dekat dengan Mimi, Mimi pun menoleh dan melihat sang cowok.


"Iya bener ini Mimi, wah kamu sudah berhijab Mi." ucap sang cowok dan Mimi masih cuek.


"SKSD nih cowok." gumam Mimi dalam hati. SKSD ( sok kenal sok dekat ).


"Hmm masih Mimi yang sama, cuek bebek." ucap si cowok dan akhirnya Mimi melihat laginke arahnya sambil mengingat siapa ini cowok.


"Kok, pernah liat ya wajahnya." Gumam Mimi dalam hati seraya mengingat-ingat.


"Mimi ndak kenal aku?" ucapnya dan Mimi menggeleng.


"Tapi kamu Mimi Akifah kan? anak smanju Jambi." ucapmsi cowok dan Mimi mengangguk.


"Ckk, hilangin cueknya napa Mi." ucap sang cowok.


"Emang kamu siapa!." ucap Mimi cuek.


"Huh, gini nih. Aku Rangga Mi. Rangga Hadinata." jawab sang cowok.


"Rangga." ucap Mimi mencoba mengingat.


"Iya Rangga, Angga Mi. Duku kita satu kelas di kelas satu." ucap Rangga mengingatkan Mimi.


"Iya...Tapi tengilnya jangan disebut kenapa." ucapnya.


"Hehehe, wah Angga tampak berbeda ya?" ucap Mimi.


"Nggak Angga biasa aja kok, masih seperti yang dulu." jawab Rangga.


"Mimi, daftar kuliah disini?" tanya Rangga.


"Iya Ngga, Angga juga? ambil jurusan apa?" jawab Mimi dan kembali bertanya pada Rangga.


"Iya Mi, Angga daftar kuliah disini juga. Angga ambil jurusan kedokteran. Mimi sendiri, ambil jurusan apa?" ucap Angga dan kembali bertanya.


"Sama Ngga, Mimi juga ambil kedokteran, Angga kelak ambil dokter apa?" tanya Mimi.


"Angga punya cita-cita mau jadi dokter jantung Mi. Mimi sendiri?" tanya Angga pula.


"Sama Ngga." jawab Mimi.


"Wah samaan ya kita, kayaknya kita jodoh nih." ucap Angga dengan canda.


"Hahaa ada-ada aja kamu Ngga." ucap Mimi.


"Mi, kenapa sih kamu selalu nggak percaya?" tanya Angga.


"Hmm!" jawab Mimi nggak ngerti.


"Mi, Mimi masih sama kak Syahril ya?" tanya Angga hati-hati.


"Iya Ngga, Mimi masih kok sama dia." jawab Mimi jujur.


"Hemm Mimi nggak ada niatan nikung nih!" ucap Angga


"Maksudnya Ngga?" tanya Mimi.


"Ah udah lah." Angga tak ingin meneruskan obrolan tentang Mimi dan kak Syahril.


"Kenapa kamu nggak bisa liat sedikit aja ke Angga Mi." ucap Rangga dalam hati dan terus menatap wajah Mimi, sedangkan Mimi masih acuh dan tak lama giliran no antrian Mimi dipanggil.


"Ngga, Mimi duluan ya. Udahngiliran Mimi." ucap Mimi dan pamit kepada Angga.


"Iya Mi, silahkan." jawab Angga, Mimi pun berlalu menuju ruang administrasi dan Mimi segera menyerahkan berkas-berkas nya.


"Angga senang bisa bertemu Mimi lagi, tapi sayang Mimi masih sama dia hingga saat ini." aucap Angga lirih.

__ADS_1


Disaat Mimi dan Rangga mengobrol, ada sepasang mata melihat kedekatan mereka berdua. Yah dia adalah Sa'id Abdillah yang kebetulan dia keluar dari ruangannya untuk pergi ke tolilet tanpa di duga dia melihat interaksi antara Mimi dan Rangga.


"Kenapa aku nggak suka kedekatan mereka ya?" ucap Dillah disaat melihat Mimi dan Rangga ketawa bersama.


Dillah diam berdiri yang berada tidak jauh dari mereka berdua, Dillah melihat interaksi dan kedekatan mereka berdua. Dillah mendengar seksama obrolan mereka berdua walau samar-samar karena hiruk pikuk calon maba.


"Apa, dia bilang tuh cewek anak smanju? Smanju smanju smanju seperti pernah dengar SMA itu." gumam Dillah dengan jari yang berada di bibirnya.


"Smanju jambi!! hmmm smanju." ucapnya dan ikut berlalu setelah Mimi juga berlalu.


Dillah kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet untuk melaksanakan hajatnya yang tertunda.


Disaat di westafle kamar mandi Dillah mencuci mukanya dan disaat pandangannya menatap cermin dia kembali mengingat akan kata smanju.


"Ya Tuhan, dimana aku mendengar kata SMA itu." ucapnya dengan kedua tangan menarik rambutnya.


"Ahhh kenapa apdengan diriku ini. Siapa gadis itu? dan siapa pula gadis berhijab ini. Kenapa mereka berdua tak bisa jauh dari otak ku." ucap Dillah frustasi


Iya semenjak pertama dia di tabrak sang cewek berkali-kali, entah mengapa hati dan pikirannya tertuju ke cewek berhijab tersebut.


Ini merupakan teka teki bahkan menjadi pr bagi diri Sa'id Abdillah. Di tambah momen tabrakan itu seperti merupakan flasback baginya.


"Senyuman gadis berhijab." ucap Dillah seketika mengingat senyuman itu.


"Ya Allah apakah senyuman itu milik anak maba ini." gumam Dillah gusar yang mana dia kembali mengingat akan senyuman yang datang pada dirinya dalam mimpi.


"Huh, siapa dia!" ucap Dillah dan kembali mencuci wajahnya.


Merasa lama dia berada di toilet, Dillah pun kembali menuju ruangannya dan kembali membahas perihal prosedur ospek untuk anak maba Senin esok.


Tak di pungkiri Dillah berusaha profesional, mengutamakan tugasnya sebagai ketua BEM namun hati dan otaknya seolah mengajak dirinya untuk membahas sang gadis pujaan hatinya.


Berulang kali Dillah berusaha membuang jauh pikirannya. Reno melihat Dillah seakan kurang fokus dia pun menghampiri Dillah.


"Kamu kenapa bro?" tanya Reno.


"Hemm ngak apa-apa." jawab Dillah.


"Ngak apa-apa, tapi aku lihat dirimu sedang gusar gitu." ucap Reno.


"Ngak apa-apa Ren, udah kita fokus ke pembahasan ini aja." jawab Dillah dengan mengalihkan pembicaraan.


"Gimana Lo mau fokus bro, badannlo disini tapi pikiran Lo sedang nggak disini." ucap Reno.


"Entahlah." jawab Dillah dengan mengusap wajahnya.


"Yaudah kalau Lo belum mau cerita, tapi gue yakin hati Lo lagi gusar." ucap Reno sambil menepuk pundak Dillah dan manjauhi Dillah menuju anggota lainnya.


"Ya Allah." ucap Dillah. Tak lama adzan Dzuhur pun berkumandang dan Dillah serta yang lainnya segera memberhentikan pekerjaan mereka dan langsung menuju masjid yang berada di area kampus.


Karena telah adzan Mimi pun beranjak menuju masjid kampus terlebih dahulu sebelum dirinya pulang ke kosan."


Disaat akan masuk ke pintu masjid lagi-lagi dan lagi-lagi dua insan ini saling bertabrakan karena mereka buru-buru mengejar agar bisa berjamaah.


"Awwww." ucap Mimi yang merasa sakit bahunya yang terbentur badan tegap seorang pemuda.


"Ckk kalian ini tiap ketemu apa nggak bisa tanpa beradu fisik gitu." ucap Reno yang melihat dua insan ini yang selalu bertabrakan.


"Eh emm maaf kak, saya nggak sengaja." ucap Mimi. Dillah hanya diam menatap Mimi dan pikirannya mulai kembali berkecamuk.


"Emm maaf, maaf." ucap Mimi dan kembali keluar dan berlalu menuju tempat wudhu untuk kembali berwudhu dan tak lama Dillah pun melakukan hal yang sama.


Setelah berwudhu mereka berdua bertemu kembali di pintu masuk namun kali ini mereka tidak beradu fisik, Dillah mempersilahkan Mimi dahulu untuk masuk dengan mengangguk kepala tanda bahwa dia mempersilahkan Mimi terlebih dahulu.


Mimi pun mengangguk menyetujuinya dan menampilkan senyuman manisnya dan berlalu masuk menuju shaft bagian cewek. Mereka sholat berjamaah bersama.


Setelah sholat Mimi tak langsung beranjak, Mimi menyempatkan diri untuk membaca ayat suci Al-Quran walau hanya se'ain. Begitu pula dengan Dillah dan para sahabat yang juga masih berada di dalam masjid.


Mimi membaca ayat demi ayat dengan suara yang pelan karena Mimi tidak ingin mengganggu orang lain yang masih berada di masjid.


Setelah merasa cukup, Mimi pun mengakhiri membaca ayat suci Al-Quran.


"Shodaqallahul adzim " ucap Mimi mengakhiri membaca ayat suci Al-Quran nya. Setelah itu Mimi membuka mukenanya dan merapikan hijabnya.


Disaat Mimi akaan keluar, lagi-lagi akan bertabrakan namun tak jadi.


"Wah ada kemajuan nggak tabrakan." ucap Bryan, Mimi hanya diam malu.


"Sikahkan duluan aja." ucap Dillah sambil merentangkan tangannya ke depan.


"Makasih kak." jawab Mimi dengan senyum dan melanjutkan langkah kakinya namun belum sampai keluar Mimi kembali di panggil.


"Eh kamu, tunggu bentar." ucap Bryan memberhentikan langkah Mimi, Mimi pun berhenti dan kembali melihat ke arah rombongan Dillah.


"Emm iya kak, ada apa?" tanya Mimi.


Nah kira-kira Bryan mau ngapain ya? tunggu di next bab ya


----tbc----

__ADS_1


__ADS_2