DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
168


__ADS_3

"Eh kamu, tunggu bentar." ucap Bryan memberhentikan langkah Mimi, Mimi pun berhenti dan kembali melihat ke arah rombongan Dillah.


"Emm iya kak, ada apa?" tanya Mimi.


"Emm boleh kenalan nggak?" ucap Bryan dengan memainkan matanya.


"Eh emm emm bo boleh kak." jawab Mimi dengan tersenyum. berusaha untuk ramah.


"Ckk Lo Bry bikin anak orang takut aja." ucap Satria.


"Kenalin aku Satria." ucap Satria dengan !menjulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.


"Heleh nih bocah." sungut Bryan.


"Say Mimi kak." jawab Mimi.


"Mimi? Panjangnya apa?" tanya Satria.


"Heleh Lo, gantian." ucap Bryan.


"Hy gue Bryan panggil aja Bry." ucap Bryan dengan menjulurkan tangan nya.


"Saya Mimi kak." jawab Mimi.


"Aku Yogi." ucapmyogi memperkenalkan diri.


"Aku Reno." ucap Reno.


"Saya Mimi kak." jawab Mimi.


Dillah hanya berdiam diri melihat teman-temannya berkenalan dengan gadis dihadapannya.


"Dil." panggil Reno sambil menyenggol tangan Dillah.


"Hemm." jawab Dillah.


"Ckk dasar pelit suara." ucap Bryan dengan !mengambil tangan kanan Dillah depan menjulurkan tangan Dillah ke hadapan Mimi.


"Nah Mi, kenalin ini si kutub es Dillah namanya." ucap Bryan mewakili suara Dillah.


Mimipun hanya tersenyum dan menerima uluran tangan yang dipaksakan itu.


"Salam kenal kak, saya Mimi." jawab Mimi dengan senyum.


"Haduh meleleh hatiku dek melihat senyummu." gombal Bryan.


"Halah Lo Bry, ngegombal aja." Sahut Satria.


"Hahahaha." mereka ketawa kecuali Mimi dan Dillah.


"Em maaf kak, kalau gitu Mimi duluan ya, Assalamualaikum." ucap Mimi dan berpamitan kepada mereka semua.


"Waalaikum salam." ucap mereka semua, Mimi pun berlalu berjalan menuju gerbang samping, karena Mimi akan pulang ke kosannya lewat pintu samping yang merupakan jalan pintas bagi Mimi.


Yah jika Mimi pulang melewati pintu gerbang depan kampus makaa Mimi akan berjalan keliling dan memakan waktu yang lama.


"Dil, sumpah senyum tuh anak emm manisnya." ucap Bryan dengan kelebaian.


"Lebay Lo playboy cap kampak." ucap Reno dengan mengusap wajah Bryan.


"Ah Lo Ren nggak boleh liat aku senang dikit. Tali jujur emang manis tau senyuman tuh anak. andai aja aku mendapatkan hatinya." ucap Bryan dengan khayalan tingkat tingginya.


"Ngimpi." ucap Dillah dan berlalu pergi meninggalkan sahabatnya.


Entah mengapa hati Dillah panas bila gadis berhijab itu di puji sama atau di rayu gombal sama sahabatnya. Hati nya merasa marah, cemburu danntaknrela jika gadis berhijab itu berjabat tangan dan tersenyum kepada sahabatnya.


"Aisss kenapa dengan diriku ini, kenapa aku merasa kesal sa!a mereka kalau mereka begitu intens melihat cewek itu. Tidak Dillah tidak kau masih ada pr untuk gadis Sumatra itu. jangan pandangan, jaga hati kamu buat dia. Huh.." Gumamnya dalam hati dan menghembuskan nafas nya kasar.


Malam hari nya Dillah pulang ke apartemennya sudah jam sepuluh malam karena dia sepulang dari kampus langsung ke cafe & restonya.


Lelah itu yang dirasaknnya saat ini, Dillah langsung masuk kedalam kamar mandinya dan dia membersihkan diri dengan mengguyur seluruh tubuhnya di baqah shower dengan air hangat.


Sehabis mandi Dillah menghempaskan tubuh lelahnya dan dia pun langsung memejamkan matanya. Berharap bisa tidur dengan nyenyak karena rasa lelah telah merenggut tubuhnya seharian ini, namun itu hanya sebuah harapan saja.


Saat memejamkan mata terlintas bayangan senyuman manis itu, di bukanya matanya dan dia langsung duduk dari rebahannya.


"Ya Rabb, kenapa senyuman itu selalu melintasi di nata dan otakku." ucapnya.


Direbahkannya badan lelahnya, dipandangnya langit-langit kamarnya. Disaat di pandangnya langit-langit yerlintaslah senyuman itu.


"Kenapa senyumanmu semakin menggangguku. Ahhh." Gumamnya.


"Tapi kenapa senyumanmu sama dengan senyuman Mimi? apakah kalian itu satu atau... Ach bikin pusing aja." Gumamnya semakin frustasi.


Dillah berkecamuk antara hati dan pikirannya sehingga lama kelamaan matanya pun bisa terpejam, ebtahnjam berapa dia bisa tertidur sehingga belum lama terdengar suara adzan.


Mimi terbangun di seperempat malam nya dan diapun langsung mengerjakan sholat malam dan dia juga tak lupa untuk membaca Alquran hingga waktu subuh tiba.


Hari ini Mimi tidak ada jadwal datangnke kampus karena semua urusannya telah selesai, Mimi akan tiba lagi saat hari Senin nanti.


Mimi berencana akan berbelanja kepasar tradisional di kota ini. Sehabis sarapan Mimi keluar rumah dan Mimi berjalan menelusuri gang-gang, Mimi berjalan menuju Simpang depan dekat kampusnya.


Dari kos menuju persimpangan depan memakan waktu setengah jam, sesampainya di Simpang Mimi menunggu angkot. Ya sebelumnya Mimi pernah bertanya sama mbok Parni, kalau kepasar tradisional naik apa, pakai angkot apa dan mbok Parni pun memberitahukan nya.


Disaat menunggu angkot jurusan pasar, dari kejauhan ada sebuah mobil sport yang sedang melaju dengan santai. Dari kejauhan sang pengemudi melihat gadis yang celingak-celinguk menunggu angkot jurusan pasar tradisional.


Saat telah mendekat pengemudi melihat kearah sang gadis, dan tanpa sengaja mereka bersitatap namun dihalangi oleh kaca mobil.

__ADS_1


Sang pengemudi yang telah melewatinya pun akhirnya berbalik arah dan menghentikan kendaraanya tepat di depan halte lebih tepatnya tepat di depan sang gadis yang kebetulan telah berdiri hendak melangkahkan kaki menuju angkot.


Sang pemuda yang melihat sang gadis akan menaiki angkot pun segera memanggil sang gadis.


"Mimi.." panggilnya hah sang gadis adalah Mimi, Mimi yang merasa namanya dipanggil sontak melihat kearah suara, terlihat sang pemuda tampan turun dari mobilnya dan menghampiri Mimi.


Mimi menunggu sang pemuda tersebut, begitu pula sangnsupir angkot juga menunggu si penumpang yang tak kunjung menaiki angkotnya.


"Mbak, mbak jadi naik nggak?" tanya sang supir.


"Eh iya pak tunggu bentar, teman saya sedang kemari." jawab Mimi.


"Emm maaf kak, ada apa?" tanya Mimi setelah sang pemuda te


ah sampai dihadapannya.


"Mau kemana?" tanya nya.


"Emm Mimi mau kepasar kak." jawab Mimi.


"Mbak, jadi nggak? buruan ntar kesiangan." ucap sang supir angkot.


"Eh iya pak." jawab Mimi.


"Maaf kak, Mimi mau kepasar dulu. Kasian supirnya nunggu lama." ucap Mimi kepada sang pemuda.


"Eh tunggu." ucap sang pemuda dengan menarik tangan Mimi, Mimi yang merasa tangannya di tarik pun berhenti masuk ke angkot.


"Ada apa kak?" tanya Mimi.


"Ayo mbak buruan, kalau masih mau pacaran yaudah nggak usah naik." ucap sang supir angkot.


"Eh jangan pak, tunggu bentar." jawab Mimi memohon kepada sang supir angkot.


"Maaf kak, Mimi harus segera naik angkotnya keburu siang." ucap Mimi kepada sang pemuda,Mimi kembali akan masuk kedalam angkot dan sang pemuda sontak menarik tangan Mimi keluar dari angkot.


"Eh mas, kalau ceweknya nggak mau jangan di paksa." ucap salah satu penumpang dalam angkot.


"Iya mas, mbaknya itu nggak mau ya jangan di paksa toh." ucap penumpang lain.


"Gimana mbak, kasian penumpang lain nungguin mbak aja." ucap sang supir yang sedikit sewot karena Mimi belum juga menaiki angkotnya.


"Emm." Mimi akan menjawab tali di potong oleh sang pe!uda.


"Nggak jadi pak maaf, ini ongkosnya." ucap sang pemuda dan memberikan uang merah selembar kepada sang supir angkot.


"Loh kok gitu mas, kalau mbaknya nggak jadi yaudah nggak perlu bayar. " ucap sang supir


"Nggak pak, ambil aja buat bapak sebagai tanda maaf saya." ucap sang pemuda.


"Wah kalau begitu makasih banyak mas, semoga masnya dilancarkan rezekinya." ucap sang supir dengan mendoakan sang pemuda.


"Ehh.. Ya kok pergi sih angkotnya. Kakak ini mau apa sih? Mimi jadi ditinggal angkotnya." ucap Mimi cemberut kesal. Gimana nggakmkesal la!a Mimi menunggu angkot sekali dapat di tahan-tahan oleh sang pemuda dan setelah itu sang pemuda berbicara sa!a sang supir namun Mimi tidak mendengar karena setelah Mimi ditarik keluar Mimi di ajak ke tepi dekat halte.


"Emang Mimi main kemana?" tanya sang pemuda.


"Huh, kan udah Mimi bilang. Mimi mau kepasar kak." jawab Mimi sewot.


"Mau ngapain ke pasar?" tanyanya lagi.


"Mau main kak, emang menurut kakak mau ngapain kalau kepasar. Nyebelin banget sih." ucap Mimi yang kesal dan langsung duduk di halte.


"Lah ngapain duduk lagi disana?" tanya sang pemuda.


"Capek berdiri nunggu angkot." jawab Mimi dengan kesalnya


Entah mengapa, hatinya sangat hangat menggodanya Mimi.


"Ya tuhan kenapa dengan diriku ini." gumam Dillah dalam hati, ya pemuda tersebut adalah Dillah.


Mimi masih kesal dengan Dillah yang menghambat dirinya untuk pergi ke pasar.


"Huh kenal juga baru dah semena-mena." sungut Mimi.


"Iss mana lagi angkot ni," ucap Mimi dengan wajah yang kesal.


"Yaudah ayo biar Kakak antar." ajak Dillah.


"Nggak usah makasih." jawab Mimi.


"Hmmm ayo. " ucap dengan menarik Mimi dan menyuruh Mimi masuk kedalam mobilnya.


"Isss kakak ni apa-apa in sih, pemaksa banget jadi orang." ucap Mimi yang enggan untuk !masuk kedalam mobil.


"Udah ayo buruan, ntar keburu tutup pasarnya." jawab Dillah dan Mimi pun terpaksa percaya dan masuk kedalam mobilnya setelah menutup pintu penumpang Dillah memeutar arah menuju ke samping dan dia pun masuk kedalam mobilnya.


Mimi masih diam enggan untuk bicara karena hatinya masih merasa kesal. Dillah yang melihat Mimi diam dia pun ikut terdiam, Dillah diam bukan karena wajah kesal Mimi melainkan dia diam menunggu Mimi memasang seat belt.


Lama Dillah menunggu, begitu pula dengan Mimi lama menunggu Dillah melajukan mobilnya.


"Kak, kakak ni niat ndak sih mau ngantar." ucap Mimi sewot.


"Hmm." jawab Dillah.


"Yaudah kalau niat segera hidupin mobilnya." ucap Mimi.


Dillah yang melihat wajah Mimi kesal semakin suka dia melihatnya, ada kesenangan tersendiri baginya tepatnya Dillah merasa bahagia.

__ADS_1


"Kakak." panggil Mimi.


"Kalau nggak niat, nggak usah sok mah ngantar." ucap Mi!k dan hendak keluar.


"Eh mah kemana?" tanya Dillah menahan tangan Mimi. Mimi melihat lagi-lagi tangannya dintahan oleh Dillah.


"Udah deh kalah nggak niat mending Mimi turun, tuh angkot sudah ada." ucap Mimi dan hendak membuka pintu mobil.


Belum juga pintu kebuka Dillah mendekatkan dirinya ke arah Mimi, dekat semakin dekat hingga mereka berdua bersitatap.


"Ka kak mau ngapain." ucap Mimi bergetar ketakutan. Dillah tak menjawab Mimi, Dillah hanya terus menatap wajah Mimi secara intens hingga terdengarlah suara klik di balik bangku Mimi.


Yah Dillah membantu memasang seat belt Mimi, setelah terpasang Dillah pun menjauhkan wajahnya dari wajah Mimi. Sedangkan Mimi merasa lega karna ternyata Dillah hanya membantunya memasangkan seat belt. Kemudian Dillah pun menghidupkan mesin mobilnya dan melakukan mobilnya secara perlahan menuju pasar tradisional.


Sepanjang jalan Mimi hanya diam begitu pula dengan Dillah. Mereka berdua berkecamuk!JK dengan hatinya masing-masing.


"Ya tuhan, kenapa melihat wajahnya darahku bedesir hebat, dan kenapa jantungku berdegup dengan kencang. Apa aku terkena serangan jantung dini." gumam Dillah dalam hati.


"Ingat Dillah, ingat gadis Sumatra mu," ucap Dillah dalam hatinya.


Sedangkan Mimi pun merasa aneh dengan hatinya.


"Ya Rab kenapa jantungku berdegup dengan kencang, seperti sewaktu aku pertama kali dekat dengan kak Syahril. Ah tidak, Ingan Mi.. Jaga pandangan mu, jaga hatimu buat Syahril." gumam Mimi dalam hati.


Sepanjang jalan Mimi diam dan melihat keluar jendela untuk menetralkan perasaan hatinya. Dillah sekali-kali melirik kearah Mimi.


"Kenapa wajah itu, kenapa sepertinya aku pernah melihatnya, ah tidak mungkin." gu!am Dillah sambil melihat ke arah Mimi dan akhirnya dia kembali fokus ke jalanan.


Sesampainya di pasar Dillah menyadarkan lamuann Mimi, yah Mimi melamun sehingga tidak terasa mereka telah sampai di pasar.


"Mi.." panggil Dillah.


"Hmmm.." jawab Mimi.


"Kita sudah sampai." ucapnya.


"Hah.. Oh ya em dah sampai ya." jawab Mimi celingukan melihat sekeliling rame oleh para pedagang dan pembeli.


"Iya." ucap Dillah dengan senyuman tipis


Mimi yang tak sengaja melihat Dillah senyum seolah terhipnotis.


"Manis, tapi kenapa di kampus kaku amat bawaannya.'' gumam Mimi dalam hati dan menaikkan alisnya acuh.


"Eh emm makasih kak, dah nganterin. kallau gitu Mimi turun dulu." ucap Mimi dan langsung membuka pintu serta keluar dari mobil.


Dillah tercengang melihat Mimi langsung turun tanpa mendengar jawaban yang akan diberikannya. Dillah melihat kelakuan Mimi hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.


"Gemesin kamu Mi kalau gini, ahhh aduh kenapa aku jadi gini sih. Sadar Id tujuan utama mu, gadis yang ada di Sumatra. Dillah terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Dillah masih berada di dalam mobil melihat Mimi berjalan menelusuri jalanan pasar. Disaat dia sedang asik dengan pandangannya, sang sahabat menelponnya dan menanyakan keberadaan nya kini.


Yah sedari pagi sang sahabat menelponnya, Dillah kesiangan bangunnya karena sehabis subuh dia kembali merebahkan tubuhnya, dan setelah itu setiap sahabatnya nelpon dia mengatakan sedang dijalan. Namun hingga sudah satu jam lebih Dillah tak kunjung sampe.


Mimi terus menelusuri jalanan pasar tradisional di kota ini, Mimi melihat-lihat setiap lapak pedagang. Mimi terus berjalan hingga dia berhenti ke sebuah lapak ibu-ibu yang sudah renta menjual aneka jajanan.


"Mbah, mau getuk nya. Berapa satu?" ucap Mimi dan bertanya harga nya.


"Murah wae ndok, limangatusan." ucapnya. Mimi nggak percaya kalau jajanan disini masih dihargain lima ratusan.


Mimi melihat dagangannya masih banyak, dan Mimi menyangka kalau dagangan si Mbah belum ada yang terjual.


"Mbah sendirian?" tanya Mimi kepada si Mbah sambil mengambil beberapa getuk dan jajanan lain.


"Iyo ndok, nduwe anak wes rabi kabeh dan wes melu bojo ne merantau." ucap si Mbah.


Ada rasa sedih di hati Mimi melihat orang tua yang sudah renta di usia senjanya, yang seharusnya sudah waktunya menikmati hidup mereka tanpa harus berkerja namun ini mereka masih berdagang di pasar.


"Mbah, tinggal sendirian?" ucap Mimi hati-hati.


"Ora ndok, si Mbah tinggal Karo Mbah Lanang, noh mbahnlanang juga lagi jualan." ucap si Mbah dengan menunjuk ke arah berlawanan. Terlihat seorang laki-laki tua yang sudah ringkih menjajakan dagangannya di luar.


"Mbah Lanang jualan apa Mbah?" tanya Mimi.


"Mbah lanang jualan telo." ucapnya.


"Rumah mbah dimana?" tanya Mi!k hati-hati.


"Rumah Mbah tiga jam dari sini ndok di desa sebelah sana." jawab si Mbah.


"Oo jauh juga ya Mbah, Mbah pakek apa sama Mbah Lanang." ucap Mimi.


"Yo kanggo sepeda ontel ndok." jawab si mbah.


"Apa nggak capek Mbah? dan dari jam berapa Mbah dipasar pagi ini.'' tanya Mimi lagi.


"Dari rumah sebelum subuh, ya nanti subuhannya di jalan pas ketemu musholla, ya gini lah ndok nggilej rezeki buat hidup." ucap si Mbah.


"Lah emang anak mbah nggak ngirimi buat si Mbah." tanya Mimi.


Si Mbah terdiam lama seolah menahan rasa sakit hatinya. "Usahkan ngirim ndok, semenjak merantau mereka wea Ra ingat Karo bapak ibu ne." ucap si Mbah sendu dan menghapus air mata yang jatuh di pipi keriputnya.


"Ya Allah," Mimi tak sanggup berkata-kata lagi. Mimi dekati si Mbah, Mimi menghapus air mata si Mbah dan memelik si Mbah.


Mimi terkenang akan Nyai nya, ada rasa sakit di hati Mimi jika ada seorang anak tak menghiraukan kedua orang tuanya disat mereka di perantauan apakah mereka berhasil atau tidak setidaknya jangan sampe melupakan kedua orangtuanya.


Dillah terus fokus memandang Mimi sambil menerima telpon namun disaat dia lengah matanya tak lagi melihat keberadaan Mimi.

__ADS_1


Apa yang akan Dillah lakukan lanjut kenbab selanjutnya ya.


----Tbc----


__ADS_2