
Isya pun telah lewat, lampu indikator masih menyala hingga jam sepuluh malam barulah lampu tersebut mati. Ada rasa kelegaan di hati orang-orang yang menunggu di luar namun ada rasa takut dan was-was juga bila hasil gak seperti ekspektasi mereka.
Tim dokter pun keluar dari ruangan tersebut, terlihat raut wajah lelah di wajah mereka. Ini adalah operasi terlama baginmereka selama bertugas di rumah sakit ini.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Umma pada salah satu dokter.
"Alhamdulillah, operasi lancar." jawab dokter tersebut dan membuat semuanya lega.
"Pasien akan di observasi terlebih dahulu untuk melihat perkembangan pasca operasi. Ibu berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa setelah ini." ucap si dokter .
"Baik ibu, bapak kami permisi dulu " ucap sang dokter dan mereka barlalu dari hadapan umma.
Umma mendengar ucapan dokter semoga tidak terjadi apa-apa kembali cemas, yah walaupun operasi berjalan lancar belum menentukan pasien 100% baik-baik saja.
Umma kembali terduduk dengan tatapan kosong jantungnya berdetak kencang. Babah yang selalu setia disamping Umma hanya bisa menguatkan sang istri.
Dua jam berlalu dan ternyata Syahril tak menampakkan kemajuan sehingga dia harus, dimasukkan ke alam ruangan ICU.
Umma dan semua nya menjadi khawatir, namun dokter bilang itu hal yang wajar pasca operasi sering terjadi.
Keesokan pagi Syahril di nyatakan koma dan itu membuat Umma menangis tanpa henti dan berulang kali pingsan. Umma akhirnya juga dirawat karena dehidrasi karena sedari kemarin Umma tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman.
Ya Umma tidak merasa lapar maupun haus saat melihat keadaan anak yang disayangi mengalami hal itu.
Disetiap tubuh Syahril telah terpasang selang-selang infuse, tangan, hidung dan dada nya terpasang. Mesin ekg terus berjalan sesuai denyut jantung pasien.
Hingga beberapa hari bahkan sudah hampir dua minggu belum juga ada perubahan, Umma seakan pasrah. Umma ikhlas bila sang anak harus kembali kepada sang pemilik alam semesta dari lada melihat anaknya hanya terbaring lemah di atas ranjang dan tanpa ada perubahan sama sekali.
Di alam sadar nya Syahril terus berjalan lurus menuju cahaya yang terang tapi jalanan tersebut tak ada ujungnya.
Dia sangat bahagia berada disana, walau dia hanyanyrus berjalan namun setapak demi setapak yang dia lalui begitu indah di kiri kanannya.
Diabyerua melangkahkan kaki di atas hamparan hijau dengan bunga-bunga disekelilingnya. Berkali-kali dia menghirup aroma bunga yang begitu harum dan menusuk hidungnya.
Disaat dia terus melangkahkan kakinya, dia mendengar ada suara orang yang sedang mengaji. Syahril terus berjalan mencari dimana suara itu berada, hingga dia berjalan terlalu jauh namun suara itu tidak dia temukan keberadaannya.
Syahril tak pantang menyerah, dia terus mencari sumber suara tersebut. Sayup-sayup Syahril terdengar suara orang yang dia rindukan sedang memanggilnya. Syahril terus berjalan tidak menghiraukan panggilan itu, Syahril terus berjalan mencari suara dimana orang yang sedang mengaji itu.
"Kak Syahril." sayup terdengar oleh Syahril.
"Kakak, hiks hiks huhuhu." " terdengar lagi dengan sayup, namun Syahril tak ingin mencari keberadaannya, dia terus berjalan mencari sumber suara orang yang sedang melantunkan ayat kursi.
"Kaaaaakaaaak huhuhuhu kakak jangan tinggalin Mimi kak." ucap Mimi dan syahril juga !mendengar ada yang membisikkan di telinganya.
"Kejarlah cintamu, Kakek merestui." ujar yang membisikkan nya yaitu sang Kakek.
Setelah mendapatkan bisikan restu, Syahril melihat di kebelakangnya. Terlihat seseorang yang sedang menangis tersedu dengan terus memanggil namanya. Seseorang itu terduduk dan terus menangis dengan menundukkannkepala di antara kedua lututnya.
Syahril perlahan mendekatinya setelah sampai Syahril merangkul bahu Mimi.
"Kakak." panggil Mimi dengan deraian air mata dan Syahril pun tersenyum.
"Kakak huhuhu." ucap Mimk dan memeluk erat Mimi syahril pun membalas pelukan Mimi seraya berkata jangan menangis lagi, kakak disini baik-baik saja sambil mengelus punggung Mimi memberi ketenangan buat Mimi.
Mimi melihat ke arah wajah Syahril dan Syahril pun mengecup kening Mimi.
"Tidurlah lagi, maaih terlalu dini untuk bangun." ucap Syahril dannmimk pun mengangguk.
Syahril merebahkan kepala Mimi di lengannya dan Syahril juga ikut berbaring disampingnya. Setelah itu Syahril sadar dari komanya dengan memanggil nama Mimi.
Flasback off.
Mimi merasa sesak di dadanya saat Ryan menceritakan apa yang terjadi pada Syahril sehingga Syahril tak menghubungi beberapa Minggu itu.
Berkali-kali Mimi menghapus air matanya saat mendengarkan cerita itu.
"Apa Di'ah sudah tau?" tanya Mimi dengan melihat ke Ryan.
Entah mengapa Mimi bertanya hal itu pada Ryan, Ryan pun memgangguk.
"Emm iya doa sudah tau." jawab Ryan lesu. Mimi tak kenal Ryan menjadi lesu begitu. Karena Mimi tau sahabatnya satu itu, sahabat yang selalu setia padanya.
"Darimana dia tau? apa kalian memberitahunya?" tanya Mimi, Ryan menggeleng.
"Dia tau karena dia mendapatkan undangannya mengatasnamakan datuk nya guru Bakar." jawab Ryan, Mimi pun !mengangguk mengerti.
__ADS_1
Mimi melihat ke arah Syahril dengan tersenyum Mimi menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan Mimi. Miminyerua menatap mata Syahril yang sendu.
Mimi menciumi kening, kedua mata Syahril, kedua pipi, hidung serta bibirnya dengan deraian air mata. Setelah itu Mimk menyatukan keningnya dengan kening Syahril, air mata Mimi terus mengalir dan hatinya terasa sakit begitupula dengan dadanya yang terasa sesak.
"Maaf" ucap Mimi dengan belakang nafas.
"Kakak yang minta maaf." ucap Syahril.
"Mari kita nikah dek." ajaknya dan Mimi menggeleng.
"Maafkan Mimi hiks." ucap Mimi lagi.
"Maafkan Mimi." ucap Mimi seraya memeluk Syahril erat. Lama Mimi memeluk Syahril dengan badan yang bergetar menahan tangisnya.
Yah yang terlintas dipikiran Mimk saat ini adalah kepingan-kepingan puzzle dari mimpi-mimpinya. Bahagia, lumpur, barang yang di ambil oleh orang orang.
"Maafkan Mimi, Mimi tidak bisa." Mimi terus berucap Maaf.
"Tidak bisa! maksudnya apa dek?" tanya Syahril dengan melepas pelukan Mimi.
"Maafkan Mimi, maafkan atas keputusan Mimi ini hiks hiks." ucap Mimi
"Maksudnya apa? keputusan apa? emm... Jangan bilang Adel tidak setuju kita menikah." ucap Syahril dengan menatap wajah Mimi tidak percaya.
Mimi juga menatap mata Syahril yang sendu dan kecewa, tali Mimi harus memutuskan demi kebaikan bersama.
"Maafkan Mimi kak." ucap Mimi.
"Hah maaf.. Apa adek sudah melupakan janji kita untuk selalu bersama! apa adek sudah tidak sayang dan mencintai kakak hah!! jawab dek jawab." ucap Syahril dengan kedua tangan nya memegang kedua bahu Mimi dan di pegangnya erat.
Mimi diam dengan mata terus melihat ke wajah Syahril. Berat bagi Mimi untuk mengambil keputusan ini, namun dia harus memberi putusan segera.
Deraian air mata terus membasahi pipi Mimi, getir di bibir sesak di dada. Tak sanggup rasanya dia mengucapkan semua ini.
Dalam diamnya, Mimi menangkupkan kedua tangannya di wajah Syahril.
"Sayang dan cinta tak perlu kakak pertanyakan lagi, kakak sudah mengetahuinya." ucap Mimk dengan terus menatap Syahril.
"Mungkin cinta dimhati Mimi tidak akan bisa di ganti oleh siapapun. Sampai saat ini bahkan sampai Mimk tiada di kehidupan ini, cinta Mimi pada kakak akan selalu abadi di hati Mimi." ucap Mimi dengan suara bergetar.
"Mimi lebih memilih rasa cinta Mimi terhadap kedua keluarga kita, maafkan Mimi." Mimk terus memberi penjelasan kepada Syahril.
"Bukannya mimpi dari istikharah kita sama?" tanya Mimi.
"Mungkin inilah jawabannya." ucap Mimi dengan menghelakan nafas beratnya.
"Ini jawaban dari istikharah itu kak." ucap Mimi.
"Mereka menyetujui dan bahagia kita bersatu, tapi tanpa mereka ketahui mereka mengorbankan reputasi mereka. Terutama Babah, Umma dan Kakek." ucap Mimi.
"Tapi dek, mereka menyetujuinya bahkannkakek juga sudah memberikan restunya." ucap Syahril yang juga dengan deraian air mata.
Ryan serta Irsyad yaknbisa berucap apa lagi karena semua keputusan sedari awal memang berada ditangan Mimi.
"Apa lagi yang adek ragukan? Kakek dan yang lain sudah merestui kita sayang." ucap Syahril lagi.
"Kak... Huuuum huh, Kakek memang merestui kita. Tapi apa Kakek juga mengatakan bahwa undangan yang telah tersebar sudah dia tarik? apakah nama kakak di kau juga sudah di batalkan? nggak kan?" jawab Mimi.
Syahril dan Ryan terdiam apa yang dikatakan Mimk benar adanya. Kakek tidak ada mengatakan undangan yang telah tersebar. Kakek hanya mengatakan "Kakek merstui kalian, Raihlah kebahagian kalian. Biarlah Kakek menanggung semuanya."
"Kakak tau, jika undangan serta nama kakak dan perempuan itu sudah tercatat di KUA bila semua tidak terlaksana hanya malu yang di dapat." ucap Mimi
"Di keluarga kakak, selain malu terhadap orang di kampung mereka juga pasti akan jadi bulanan rekan-rekan mereka. Apa kakak tau? reputasi yang mereka jaga selama ini akan hancur dalam sehari demi kebahagian kita." jelas Mimi.
"Dan begitu pula di keluarga Mimi, di kampung sebagian orang besar pasti !menerima undangan itu. Maka dampaknya pada keluarga Mimi yang di jambi." ucap Mimi yang membayangkan bagaimana orang kampung akan mencela keluarganya.
"Sedangkan orangtua Mimi di desa pastinya juga terkena dampak bila mereka juga mendaftarkan kita di desa namun ternyata kita tidak jadi. Tapi itu lebih baik daripada mereka tambah dicemoohkan orang dikarenakan mereka menikahkan anaknya secara mendadak." ucap Mimi dengan menutup matanya dan menghelakan nafas dalamnya.
"Dan kakak juga tau, tidak semua dikeluarkan Mimi menyukai hubungan kita, kakak juga tahu bagaimana mereka mengatai Mimi hanya memanfaatkan kakak karena kakak orang kaya agar Mimi bisa kuliah dan mungkin mereka juga berpikiran jika Mimi telah memberikan hal yang berharga Mimi kepada kakak." jelas Mimi dengan !mengelus pipi Syahril.
"Dek, tidak usah dengarin omongan orang, seiringnya waktu omongan itu pasti akan pudar dek." ucap Syahril yang masih memohon, Mimk hanya menggeleng.
"Setelah kita menikah, kita pergi dari negara ini dek. Adek masih tetap bisa kuliah di LA bersama kakak, masalah biaya adek tidak usah khawatir, kakak akan berusaha lebih buat lagi." ucapnya.
"Kak, Mimi percaya, Mimi yakin kakak bisa membiayai Mimi. Tapi yang menjadi permasalahan adalah orang tua kita, keluarga kita. Apa mereka juga akan ikut pergi meninggalkan negara ini untuk !menghindari omongan orang? tidak kak. Terutama Umma dan Babah, mereka mempertaruhkan reputasi mereka, bagaimana pandangan rekan kerja mereka terhadap mereka saat bertemu?" Mimi masih berusaha membuat Syahril mengerti.
__ADS_1
"Mimi bisa saja untuk egois kak, tapi Mimi tidak bisa melihat mereka di cemooh, dihina orang. Kalau pacaran tidak jadi masalah bila tak jadi menikah itu hal yang lazim. Tapi jika undangan sudah tersebar bahkan hari nya pun sudah di tentukan dan bila tidak jadi, kehormatan taruhannya. Terutama sang cewek pasti harga dirinya akan merasa terhina." terang Mimi.
"Sayang, Mimi ikhlas. Mimi ikhlas mengorbankan cinta Mimi demi kehormatan keluarga. Mimi ikhlas melakukan ini semua demi kebaikan semua. Mengertilah." ucap Mimi dengan mencium kening Syahril.
"Mungkin Allah hanya memberikan batas waktu buat kita bersama hanya sampai disini. Semoga kelak jika Allah izinkan Allah pula yang akan mempersatukan kita kembali." ucap Mimi.
"Pergilah, pergilah buat kebaikan semua." ucap Mimi yang membuat deraian air matanya sederas aliran sungai.
"Pergilah kak.. Bukan Mimi tidak sayang dan tidak cinta sama kakak. Tapi jika cinta kita perhatikan saat ini, kita mengorbankan kehormatan keluarga kita." ucap Mimi.
"Pergilah, jangan lagi kakak lihat kebelakang. Tatap lah kedepan huuum huh, belajar lah untuk mencintainya, Mimi yakin seiring berjalannya waktu, dengan kalian terus bersama berdua maka cinta itu akan tumbuh. Pergilah, masa depan kakak bersama dirinya." ucap Mimi berusaha tegar walau sakit saat mengucapkannya.
"Pergilah.." ucap Mimi dan melepaskan tangganya dari Syahril.
"Pergilah.. pergilah kak Mimi mohon." ucap Mimi dengan menangkupkan kedua tangannya kepada Syahril, Syahril menggeleng.
"Jangan lakukan ini sama kakak dek." jawabnya.
"Maafkan Mimi, demi kebaikan bersama Mimi mohon pergilah." ucap Mimi.
"Oh ya, ini Mimi kembalikan cincin ini, karena ini tak bisa bersama Mimi lagi." ucap Mimi dengan menyerahkan cincin pemberian nya beberapa hari lalu.
"Tidak dek, tidak." ucap Syahril menolak pengembalian cincin yang diberikan Umma untuk !mereka berdua.
"Ini pemberian Umma dek, pemberian Umma buat kita berdua. Apa adek tega. Apa adek tega melihat Umma kecewa dengan adek mengembalikan pemberiannya." ucap Syahril.
"Kakak mohon jangan adek kembalikan pemberian Umma ini pada kakak, jika adek tetap ingin mengembalikan, kembalikan pada Umma." ucap Syahril
"Tapi Mimi tidak bisa kak, ini tak seharusnya di Mimi lagi." ucap Mimi.
"Tidak dek, kakak tidak ingin menerimanya jika adek tidak menginginkannya silahkan adek buang saja." ucap Syahril.
"Baiklah tapi.. Mimi mohon kak,pergilah..." ucap Mimi dengan memohon.
"Kak Mimi mohon. Pergilah sayang pergi... Mimi mohon, huhuhu." ucap Mimi yang terus menyuruh syahril pergi.
"Syad, kak Ryan, bantu Mimi. Mimi mohon bawa kalmsyaheil pergi sekarang. Mimi mohon pada kalian." ucap Mimi dengan memohon dan mengubah pada mereka berdua namun mereka berdua pun menggeleng tak ingin mereka berpisah.
"Mimi mohon pergilah." ucap Mimi dengan nada tinggi.
"Baik jika itu mau adek. Kakak akan pergi, tapi harus adek ketahui. Sampai kapan pun cinta kakak hanya untuk adek." ucap nya yang tidak tega melihat Mimi yang selalu mengiba padanya.
"Ingatlah, ini sumpah kakak. Sampai kapan pun, sampai kakak mati sekalipun, cinta kakak, jiwa raga kakak hanya untuk adek seorang. Hidup mati kakak, dibagi kakak hanya adek tidak akan ada yang lain sekalipun kalal menikahinya." ucap Syahril dengan sumpahnya.
"Sampai kapanpun itu dek.. Kakaam bersumpah demi langit dan Bu!k, demi Rasulullah cinta kakak hanya buat adek seorang jiwa raga kakak hanya untuk adek seorang camkan itu" ucapnya dengan lantang.
JEDEEERRR langit ikut menyertai sumpahnya dengan !mengeluarkan suara petir
"Kakak ikuti kemauan adek, tapi ingat satu hal itu. Mungkin status kakak suami orang tapi bagi kakak istri kakak hanya satu yaitu adek seorang Mimi Akifah binti Humayun cam kan itu." ucapnya lagi.
"Kakak pergi, jaga kesehatan adek selalu." ucap nya dengan memeluk Mimi erat dan mencium kening Mimi. Mimi terisak di dalam pelukannya Syahril.
"Maafkan Mimi sudah mengecewakan kakak, maafkan Mimi." ucap Mimk dalam pelukan Syahril.
"Terimakasih atas segala kebaikan kakak, Mimi do'akan kakak bahagia bersama dia." ucap Mimk dan melepaskan pelukan Syahril.
"Pergilah." ucap Mimi, Syahril pun pergi walau langkah kakinya berat untuk melangkah.
Perlahan menjauh Syahril melangkahkan kakinya, Mimi mental punggung Syahril dengan hati yang sakit. Sakit akan nasib percintaan nya.
"Semoga Allah memberikan kebahagian padamu kak." ucap Mimi lirih dan Mimi pun menjatuhka dirinya dengan terduduk di hamparan rerumputan di taman ini.
Syahril melihat ke arah belakang, dilihatnya Mimi terduduk seperti di dalam mimpinya.
"Berarti dalam mimpi kakak adek yang meminta kakak pergi meninggalkan adek. maafkan kakak sayang." gumam Syahril lirih dan seketika syahril pun berlari !menghampiri Mimi dan sesampainya dia di depan Mimi, Mimi mengangkat wajahnya terlihat orang yang diikhlaskan nya berada di depannya.
Syahril ikut mendudukkan diri dan memeluk Mimi dengan erat, dii ciumi seluruh wajah Mimi. Setelah dia menciumi seluruh wajah Mimi dia beranjak dan kembali berlari pergi dengan perasaan hancur.
"Ingat dek, sumpah kakak sampai mati pun hanya adek yang berhak atas diri kakak." gumam Syahril dalam hati.
Tak ada lagu air mata yang mengalir, seakan air mata itu sudah kering karena cinta yang tak dapat disatukan.
Tangis dalam diam, kecewa pada keadaan atau takdir. Sekuat apapun itu kita tetap harus memilih, walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri.
tbc.
__ADS_1