
Semenjak tragedi dia piring serta dia gelas kotor, Syahril selalu mengajak Mimi untuk ikut dia dinas ke kampung sebelah.
Mimi tidak bisa menolak nya karena Mimi ingin menjaga perasaan Ryan maupun Di'ah. Miki tidak mau sampai Syahril berucap yang akan menyinggung atau pun menyakiti hati orang.
Mimi yang biasanya masak di pagi hari untuk makan siang kali ini tidak di izinkan Syahril dengan alasan makan di rumah makan saja nanti.
Saat Syahril berucap Mimi hanya bisa mengucapkan iya, apa lagi jika dia berucap di depan Ryan maupun Di'ah, seperti pagi ini.
Seperi biasa Mimi yang bangun pagi langsung mencuci pakaiannya, untuk mencuci pakaian pun di cek sama Syahril pakaian siapa yang sedang Mimi cuci.
Sambil menunggu cuciannya, Mimi menyapu serta mengepel, setah itu baru dia masak untuk sarapan mereka.
Mimi memasak sambal udang pakai petai pemberian orang tua Riki, ya sewaktu mengantar Riki Mimi sangat terpukau kala melihat halaman rumah Riki banyak tanaman buah serta sayur mayur terutama petai.
Flashback on
Mimi, Syahril dan Sofyan serta adiknya mulai melakukan perjalanan ke kampung sebelah yang mana rumah mereka juga berada di kampung itu.
Sebelum menuju puskemas pembantu nya, Syahril dan Mimi mengantar mereka terlebih dahulu karena arah jalan yang berbeda.
Saat sampai di depan rumah mereka, mereka pun turun dan berterima kasih pada Mimi dan Syahril yang mau mengantar mereka sampai rumah.
Namun mata Mimi tertuju di pohon yang rindang dan tidak terlalu tinggi itu.
"Waww Sofyan itu pete!' tanya Mimi dengan mata berkilau melihat buah satu itu, buah penambah nafsu makan.
"Iya Bu dokter, Bu dokter mau?" ucapnya.
"Wah mau lah, nanti pulang kita jemput kalian lagi ya, emm bilang sama ibu kamu Bu dokter mau numpang beli nah nanti kamu petik ya." ucap Mimi.
"Baik Bu, jengkol juga ada Bu." seru adik nya Sofyan.
"Wah benaran.. Jengkol tua atau muda?" ucap Mimi.
"Biasanya ada yang tua buat gulai sama buat sambal Bu dokter." sahut Sofyan.
"Emm jengkol tua saja ya, minta 5kg. Ingat yabg tua." ucap Mimi.
"Banyak amat yank." ucap Syahril.
"Hehehe, iya nanti Mimi mau buat emping nya." jawab Mimi pada Syahril.
"Yaudah Sofyan, Arif ibu sama pak dokter kerja dulu ya." ucap Mimi berpamitan.
"Iya Bu dokter, pak dokter hati-hati. Sekali lagi terimakasih." ucapnya.
"Assalamualaikum." ucap Mimi dan Syahril.
"Waalaikum salam." jawab mereka berdua. Mimi dan Syahril pun berangkat ke puskesmas pembantu di dusun ini.
"Yank lapar Ndak?' tanya Mimi.
"Emm." jawab nya. Mimi pun membuka bekal yang dia bawa tadi, sepanjang jalan menuju puskesmas pembantu Mimi menyuapi Syahril dan bergantian menyuapi dirinya sendiri.
Flasback off
Di rumah Sofyan, orang tuanya heran melihat anak mereka turun dari mobil.
"Yan, kenapa kamu balek mobil, Mano sepeda kamu beduo " tanya emak Sofyan.
(Yan, kenapa kamu pulang pakai mobil, mana Selasa kalian)
"Sepeda dirumah pakcik Mak, kami balek samo ibu samo pak dokter." jawab adik Sofyan.
( sepeda di rumah pakcik/paman, kami pulang sama ibu dan pak dokter )
"Mak, Bu dokter pesan Pete Samo jengkol tuo ado dak?' tanya Sofyan.
( Mak, Bu dokter pesan petai sama jengkol tua ada tidak )
"Ado, tuh bapak kau baru habis ngambek nyo, gek siangan baru nak di antar ke pasar." jawab emak Sofyan.
(Ada, tuh bapakmu baru habis mengambilnya, siangan nanti baru mau di antar ke pasar.)
Sofyan dan adiknya menceritakan bagaimana Mimi dan Syahril serta bagaimana kebaikan dua orang dokter itu pada mereka.
Mak Sofyan mendengar kan dengan baik, ala lagi dokter Syahril sangat di kenal di kalangan ibu-ibu, yah Syahril sangat di kenal di kalangan ibu-ibu di semua dusun sini.
Dibalik kedinginan Syahril, ibu-ibu disana khususnya ibu hamil sangat senang dengan pelayanan yang diberikannya.
Sepulang dari dusun itu Mimi dan Syahril mampir di rumah Sofyan, tanpa di sangka Mimi dan Syahril di suguhi makan sama mereka.
Mereka memasak gulai ayam kampung di campur jengkol dan sambal petai serta rebusan pucuk ubi.
Mimi dan Syahril tanpa sungkan-sungkan mereka pun makan dengan lahap.
Sepulang dari sana Mimi dan Syahril di kasih bekal ayam kampung sepasang, petai satu rumpun besar dan jengkol tua satu karung.
"Wah Bu, ini banyak sekali. Oh ya berapa semua." ucap Mimi.
"Ndak usah, Bu. Ini semua buat ibu dan bapak dokter." jawabnya.
__ADS_1
"Ya Ndak bisa gitu Bu, ini pastikan mau di jual. Mimi mengeluarkan uang merah 3 lembar dan memberikan pada orang tua Sofyan.
"Ndak usah Bu dokter, kami ikhlas. Bu dokter mau mengajari anak kami belajar kami sangat bersyukur Bu dokter." jawab nya.
"Iya Bu dokter, bagi kami ini tidak seberapa. Kalau untuk jual sudah kami lainkan di sana. Ini memang khusus buat bu dokter dan pak dokter." ucap ayah Sofyan.
"Tidak bisa, tolong terima juga ini." Ucap Mimi dengan paksa memberikan uang yang dia gulung ke tangan ibunya Sofyan.
"Jangan menolak rezeki." jawab Mimi
"Tapi Bu dokter kami ikhlas," ucap ibu Sofyan.
"Saya juga ikhlas." jawab Mimi.
"Tolong di terima, kalau tidak saya tidak jadi membawa semua barang ini." ucap Mimi, akhirnya mereka pun menerimanya.
Mimi melihat halaman rumah Sofyan yang penuh dengan batang petai, durian, serta buah-buahan yang lain.
"Wah, pohon duriannya juga banyak ya Sofyan." ucap Mimi.
"Buah nya juga banyak, kira-kira kapan tuh pak duriannya panen?" ucap Mimi.
"Ya sekarang sebenarnya dah mulai jatuh satu dua bu. Mungkin dua atau tiga hari lagi sudah mulai banyak jatuhnya." jawab bapak Sofyan.
"Ok gitu, nanti kalau banyak jatuh bisa sisain buat saya pak. Emm kalau bisa nanti tolong antar ke rumah." ucap Mimi.
"Oh bisa Bu dokter, nanti biar kami antar." jawab nya.
Mimi melihat ada jambu biji besar.
"Ini Jambi biji bangkok ya?" tanya Mimi.
"Iya Bu dokter." jawab bapak Sofyan.
"Yan." panggil emak Sofyan dan Sofyan pun mengerti mengambil kantong plastik dan memetik jambu yang besar terbungkus plastik di batangnya.
Tak hanya jambu biji, jambu air dan jambu *** pun Sofyan petik kan buat Mimi.
Sebenarnya Sofyan juga sudah memetik untuk dia bawa ke rumah pakcik nya.
Setelah semua terangkut ke dalam mobil mereka pun pulang.
Orang tua Sofyan juga menumpang nitip petai dan jengkol buat pak amat jual. Mimi tidak masalah akan hal itu, karena dia pun mendapatkan banyak dua jenis buah itu.
Mimi sangat senang mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Emm yank, enak nih di buat sambal tanak." ucap Mimi.
"Iyaa masih." jawab Mimi.
"Kenapa?" tanya Mimi.
"Buat sambal udang Pete juga enak dek." ucapnya, Mimi mengerti jika orang yang di cintai ini menginginkan sambal udang petai.
"Emm yaudah nanti di buatkan." jawab Mimi.
Satu jam perjalanan mereka pun sampai di kampung Bungin. Mimi dan Syahril mengantar Sofyan dan adiknyabye lebih dahulu ke rumah pak Amat setelah itu baru mereka pulang.
Acara belajar mengajar nya akan di lakukan malam hari nya.
Saat pulang terlihat rumah sepi dan jam baru menunjukkan jam tiga sore yang mana memang kara pegawai belum pulang
Syahril membuka pintu rumah dan Syahril serta Mimi bahu membahu mengeluarkan barang-barang mereka.
"Kak, buatin kandang ayam ya." ucap Mimi ketika membawa dua ekor ayam itu.
"Bukannya itu mau di potong dek." ucap Syahril.
"Sayang kak, kita te nak saja ya." jawab Mimi.
"Emm nanti kakak bilang sama Tamso atau pak Amat." jawabnya. Mimi ye senyum merekah.
Mimi mengikat ayamnya di belakang dan Mimi beri ayam-ayam itu makan.
"Dek jengkol sebanyak ini mau adek apain.'' ucap Syahril melihat jengkol satu karung itu.
"Emm mau Mimi buat emping atau kerupuknya kak." jawab Mimi.
Mimi mulai memetilin atau memisahkan buah Pete dari tangkai nya, dan Mimi ikat-ikat agar mudah di simpan.
Mimi juga mengulas kulit petai dan di ambil biji petai nya di bantu oleh Syahril.
Mimi juga mengeluarkan udang dari kulkas dan mencairkannya.
"Emm lihat dek, akhirnya kan Di'ah masak." ucap Syahril melihat gulai ikan Toman di dalam wajan di atas Samling kompor.
"Ya." jawab Mimi singkat.
"Dia itu harus di gituin, jangan kemanjaan. Sudah punya suami juga. Nggak mampu masak ya cari art jangan kamu yang dijadikan art dia.'' ucap Syahril, Mimi hanya diam.
Untung piring dan gelas dia makan langsung di cuci, kalau ndak juga kelewatan memang." gerutu Syahril.
__ADS_1
"Kalau sampai kita pulang kakak lihat masih ada itu piring kotor mereka dari lagi sampe siang. Kakak buang tuh piring." ucapnya lagi, Mimi hanya diam mendengar gerutuan Syahril.
Syahril sambil menggerutu mulutnya namun tangannya terus berkerja sehingga entah berapa banyak petai terkupas.
"Kak dah cukup, dah kebanyakan itu." ucap Mimi ketika melihat petai yang dikupas hampir setengah rumpun. (Satu rumpun petai satu ikat besar yang belum di pisahkan)
"Hah," ucap Syahril dan melihat biji-biji petai itu sudah memenuhi mangkok stainless yang lumayan besar itu.
"Yah ndak apa lah dek, kan bisa di simpan di dalam kulkas." ucapnya dengan membersihkan kulit-kulit petai itu.
"Kak, kita kerumah pak amat lagi yok." ajak Mimi.
"Ngapain?" tanya Syahril.
"Tuh beli kurungan buat ayam. Nanti ayamnya kelas lagi. Tadi Mimi ada lihat dirumahnya ada jual." jawab Mimi.
"Emm yaudah, biar kakak saja sekalian mau bilang untuk buat kandang ayam." ucap Syahril.
"Tapu buat dimana dek?" tanya Syahril.
"Diatas atau di bawah.." ucap Syahril.
"Emm dimana ya kak, kalau di atas nanti bau, kalau di bawah emm..'' jawab Mimi.
"Yaudah ntar tanya pak amat saja.'' ucap Syahril yang langsung beranjak mengambil kunci mobil dan pergi kerumah pak amat.
Mimi melanjutkan perkerjaan nya, Syahril meminta tolong sama pak amat sore itu untuk membuat kandang ayam. Pak Amat dan pak Tamso adalah orang yang selaku Syahril percayakan dan mereka berdua dengan senang hati membantu dengan segera.
flasback off.
Pagi-pagi Mimi setelah mengepel dan menyapu pun memasak sambal udang serta tumis kacang panjang buat sarapan dan sekalian buat lauk makan siang.
Mimi sengaja masak banyak, agar Di'ah tidak capek masak saat pulang dari puskesmas. Syahril melihat masakan banyak hanya menatap Mimi tajam.
"Kenapa banyak sekali." ucap Syahril.
"Udah kah kak, kan sekalian." jawab Mimi pelan takut jika di dengar Ryan maupun Di'ah.
"Kamu ini selalu ada cara buat manjain mereka." ucap Syahril geram.
Bukannya Syahril ingin perhitungan, Syahril hanya ingin Di'ah memiliki tanggungjawab sebagai seorang istri yang melayani kebutuhan suaminya.
Bukan hanya melayani di atas ranjang, namun juga harus melayani dalam segala hal termasuk memasak buat makan suami.
Syahril menjadi geram kala calon istrinya selalu berkerja membereskan serta memasak di rumah ini, bahkan piring kotor bekas mereka pun harus Mimi yang mencucinya.
Syahril dan Mimi sehabis sarapan mereka pun bersiap-siap. Mimi membawa bekal untuk makan siang mereka apa lagi ini adalah lauk request dari Syahril.
Sehabis sarapan Syahril mengambil piring kotornya dan Mimi dan kali ini Syahril yang mencucinya.
"Kak biar Mimi saja." ucap Mimi yang merasa tidak enak akan sikap Syahril.
"Sudah kamu bungkusin buat bekal kita nanti saja, ini biar kakak." ucap Syahril dengan menyinggung Ryan dan Di'ah yang masih menyantap sarapan dengan lahap.
Mimi melihat ke arah Di'ah dan Ryan yang cuek dan masih terus menyantap sarapan mereka. Mimi pun memasukkan sambal udang serta sayur kedalam Tupperware dan tak lupa juga nasi Mimi masukkan kedalam khusus temlat nasi yang mana tempat itu tetap membuat a si panas atau hangat.
Setelah semua dimasukkan kedalam tas khusus nya, Mimi dan Syahril pun berangkat terlebih dulu dari Ryan dan Di'ah.
"Yan, aku duluan ya. Soalnya mau kedusun balik bukit." ucap Syahril pamit.
"Emm iya, hati-hati." jawab Ryan.
Sepergian Mimi dan Syahril, Ryan dan Di'ah yang sudah selesai sarapan beranjak dari kursinya.
Ryan menyangka Di'ah akan mengambil piring kotor itu dan langsung mencucinya, namun Ryan salah. Di'ah malah mengambil tas nya.
Ryan melihat itu hanya menarik nafas dalam dan akhirnya dia sendiri yang mencuci piring kotor mereka.
"Kak, ayo kita berangkat." ajak Di'ah.
"Bentar." jawab Ryan yang kembali menuju dapur. Di'ah mengikutinya.
"Kak, katanya mau ke dusun sebelah nanti terlambat lo." ucap Di'ah.
"Lebih baik terlambat daripada membuat orang tidak menyukai kita." ucap Ryan dengan terus mencuci piring.
"Kan bisa pulang nanti kak." ucap Di'ah.
"Kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa tidak dari pada menumpuk." jawab Ryan dan dia pun selesai mencuci piringannya dan Ryan pun mengelap tangannya baru mereka berangkat kerja dengan jalan kaki.
"Kak" Panggil Di'ah.
"Emm" jawab Ryan.
"Kakak marah?" tanya Di'ah.
"Menurut kamu?" tanya Ryan tanpa melihat Di'ah.
Di'ah terdiam dan sepanjang jalan menuju puskesmas Ryan dan Di'ah tak lagi seharmonis seperti biasa nya.
Ryan sadar apa yang dilakukan nya salah, tapi dia ingin istrinya bisa berpikir secara jernih dan bisa mengerti atau setidaknya tersinggung sedikit saja atas perlakuan yang dilakukan Syahril pagi ini dan itu bisa membuat dia mengerti jika mereka tinggal bersama maka perkerjaan dilakukan bersama pula.
__ADS_1
tbc