DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
aku akan selalu mencintaimu


__ADS_3

Hujan deras tak ingin untuk berhenti, ke tujuan anak manusia tetap harus pulang walau menerobos guyuran hujan ini, karena hari esok mereka ada OSCE (Objective Structured Clinical Examination). Dan mereka harus berangkat pagi ke rumah sakit yang sudah di tentukan oleh dosen mereka.


OSCE (Objective Structured Clinical Examination) adalah ujian untuk menguji skill kita tentang pemeriksaan atau penanganan seperti hecting (menjahit luka), memasang infus, komunikasi dokter pasien (anamnesis) dan lain lain. ini ujian yang paling bikin jantung mau copot karena kita harus melakukan tindakan di satu ruangan yang diisi oleh satu pengawas (dokter), dan kita harus selalu ngomong apa yang kita lakukan step by step gaboleh ada yang terlewat, kalo ada yang terlewat maka nilai akan berkurang, dan waktunya biasanya 10 menit per statiton, ada juga yang 15 menit. tergantung kasusnya. 


Hujan yang sangat awet bak diberi formalin, tak memberi luang barang sedetik pun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap jalan walau dengan perlahan.


Entah berapa jam mereka mengarungi guyuran hujan ini, jika tak hujan menuju villa ini hanya memakan waktu kurang lebih 3jam, ini mereka mulai berangkat jam 3 baru sampai kosan Mimi sudah jam 8malam.


"Huh capek nya." ucap Irma.


"Iya. Dimas sih baw mobilnya pelan banget." sungut Selfia.


"Kalau ngebut yang ada kita koit Fi." sahut Muthia.


"Iya sih jalanan licin gitu." ucap Selfia lagi.


"Emm kalian nanti aja pulangnya, kita makan aja dulu tapi tunggu Mimi masak ya hehee." ucap Mimi kepada mereka.


"Hmm kelamaan Mi, delive aja." seru Riko.


"Emang ada yang mau ngantar, hujan deras gini." ucap Mimi dan Riko pun menjadi ragu.


"Udah tunggu bentar kita masak instan aja.'' ucap Mimi dan langsung melesat ke dapur.


Mimi langsung mengambil beras langsung mencucinya dan langsung mencolok magiccom nya.


Mimi lihat masih ada stok sayur brokoli, wortel dan kentang. Mimi berencana masak SOP. Mimi segera meracik bumbunya, Muthia dan Selfia mengupas wortel dan kentang serta membersihkan brokoli. Irma kebagian buat sambal.


"Mi lauknya apa?" tanya Muthia.


"Dadar telur aja Mi." seru Selfia.


"Hmm boleh juga, ini ayamnya juga sudah Mimi rendam biar cepet cair.


Mimi menggoreng kentang yang sudah dibersihkan separuh untuk campuran sambal, satu lauk sudah matang yaitu sambal kentang. Tinggal SOP yang menunggu ayam nya cair dan nasi yang belum masak.


Mimi melihat ayam sudah mencair Mimk segera memberi asam garam sebagian buat di goreng dan sebagian buat di SOP. Mimi memasaknya secara bersamaan. tiga puluh menit kemudian masakan pun siap. Mimi dan yang lain segera menyiapkan nya.


Para cowok yang tidak diperhatikannya sedari sampe tertidur pulas di depan TV. Selgia membangunkan mereka semua untuk menyuruhnmereka makan, jadilah mereka makan malam di jam setengah sepuluh malam.


Keesokan pagi Mimi sudah siap lebih awal, Mimi telah menyiapkan segala sesuatu yang harus di bawanya ke rumah sakit, hari ini mereka OSCE hingga sore hari, setelah melakukan OSCE mereka juga membuat sebuah rangkuman berupa laporan.


Ada keasikan tersendiri disaat OSCE, beragam macam diagnosa yang mereka dapatkan, tak hanya diagnosa, beragam karakter pasien pun mereka temukan.


"Huh capeknya." keluh Muthia saat sudah berada di kosan Mimi.


"Iya capek, mana tadi dapet pasien bapak-bapak genit lagi." sungut Selfia.


"Kamu gimana Mi,Ir?" tanya Muthia.


"Sama aja Muth" jawab Mimi dan Irma.


"Udah ah, Mimi mau mandi biar seger nih badan dan hilang penatnya." ucap Mimi dan beranjak berlalu ke kamar mandi.


Selesai semua rutinitas menghadap sang illahi dan makan malam dengan menu dadakan karena stok di dalam kulkas yang sudah menipis.


Mimi mengambil laptopnya, dihidupkan laptopnya dan langsung terpampang walpaper dirinya dan Syahril yang sedang ketawa saling berpandangan.


Mimi mengusapnya perlahan dengan menarik nafas nya panjang. "Aku akan selalu mencintaimu kak." gumam Mimi dan !mencondongkan dirinya ke arah laptopnya, dikevupnya layar laptop yang ada gambar dirinya dan Syahril.


Orang bisa tiba-tiba gila bila rasa rindu membuncah namun yang dirindukan tak dapat di lihat, sehingga apa yang bisa dilihatnya walau itu berupa gambar di kertas maupun di benda mati maka otomatis rasa rindu yang telah membuncah itu akan terlupakan walau dengan kecupan secaa tak langsung itu.


Mimi mengetik semua apa yang di tulisnya saat ujian OSCE nya beberapa hari ini di rumah sakit dengan kasus penyakit yang berbeda-beda dengan diagnosis yang berbeda pula.


Tak tau hingga jam berapa dia selesai hingga rasa kantuk pun menerpanya. Karena rasa kantuk yang tak bisa dielakkan lagi Mimi pun menyudahi kerjaannya.


Mimi keluar kamar untuk ke kamar mandi. Mimi membuang air kecil dan setelah itu menggosok gigi serta mencuci muka dengan sabun khusus pencuci muka dan gaknluoa Mimi berwudhu yang sudah menjadi rutinitas nya sebelum tidur.


Sebelum masuk kamar, Mimi melihat kamar yang ditempati oleh ketiga sahabatnya. Saat buka pintu kamar, Mimi melihat mereka semuaa telah tidur cantik. Mimi tersenyum melihat ketiga sahabatnya dan akhirnya Mimi kembali menutup pintu kamar tersebut dan kembali ke kamar sebelah.


Mimi merebahkan tubuhnya di kasur lipat Syahril tak lupa dia membaca ayat 2qul, ayat kursi dan doa sebelum tidurnya. Tiap malam yang Mimi harapkan adalah selain kesehatan dirinya dan orangtua nya serta orang-orang yang disayanginya, dia berharap mimpi-mimpi itu terus hadir dan mengusik tidurnya.


Harapan hanya sebuah harapan, mimpi itu selalu hadir di setiap tidurnya akhir-akhir Ini, namun malam ini mimpi itu bertambah mimpi baru.


Mimi tiba di sebuah lorong yang sepi, lorong yang tampak panjang. Mimi tak tau harus kemana dia tuju, dia terus berjalan hingga lorong panjang tersebut memiliki tiga Simpang.


Lurus ada seberkas cahaya di ujungnya walau di awal terlihat kelam namun tak tampak ujungnya, sebelah kiri dan kanan Mimi melihat disana masih ada kelokan nya karena terlihat oleh cahaya namun stelah itu cahaya menjadi gelap.

__ADS_1


Mimi tidak tau harus memilih yang mana, memilih arah kiri atau kanan yang awalnya terlihat Teran berakhir dengan gelap, atau terus melangkah walau gelap namun berakhir dengan terang benderang.


Disaat Mimi ragu memilih, bagai lorong waktu tiba-tiba Mimi sudah berada di dalam sebuah ruangan bernuansa hijau tosca. Mimi melihat sekeliling ruangan tersebut, Mimi merasa tak asing dengan ruangan ini tapi dimana Mimi melihatnya Mimi lupa.


"Ya Allah, dimana ini.. Apa yang akan kau tunjukkan kepada hamba." Mimi terus berucap di kala dia seolah berputar di dalam ruangan itu mencari sesuatu, tak ada satu pun yang dapat Mimi lihat, bahkan Mimi tak menemukan pintu untuk keluar.


"Ya Allah dimana diriku berada, apa aku tersesat?" ucap Mimi.


Mimi terus berjalan berharap menemukan pintu, Mimi ingin keluar. Disaat Mimi melihat pintu, Mimi segera berlari untuk keluar dan disaat keluar terdengar suara seperti tirai yang di buka "Sreeett" Mimi menoleh kebelakang, Mimi ingin kembali kebelakang untuk melihat ada siapa di balik tirai tersebut namun lagi-lagi Mimi terdengar suara dan suara itu adalah suara adzan.


"Allahuakbar Allahuakbar ( Allah !maha besar Allah !maha besar )" takbir pertama Mimi abaikan, Mimi maaih ingin melangkahkan kakinya mendekati dibalik tirai tersebut.


"Allahuakbar Allahuakbar ( Allah !maha besar Allah maha besar )." takbir kedua Mimi berhenti dari langakh kakinya.


"Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ( Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah)" Mimi berhenti melangkah namun mata nya masih menghadap ke arah tirai.


"Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ( Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah)" Mimi me


lihat antara tidak dan pintu, melanjutkan untuk melihat atau segera pergi keluar.


"Hayya ‘alash shalaah ( Mari kita menunaikan sholat)" Mimi masih bimbang untuk menentukan pilihannya.


"Hayya ‘alash shalaah ( Mari kita menunaikan sholat)" Mimi tersadar jika itu adalah seruan buat dirinya agar segera menunaikan sholat nya, Mimi pun melihat sekilas ke arah tidak dan segera Mimi berbalik arah menuju pintu dan keluar.


Sebelum menutup pintu itu, Mimi melihat ke arah dalam sekilas Mimi melihat ranjang yang penuh dengan selang-selang. Dengan seketika Mimi beristighfar dan bangun dari tidurnya.


"Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah hal'adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih." Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya." Mimi beristighfar berkali-kali.


Mimi duduk di atas kasurnya dan mengingat akan semua mimpi barunya ini.


"Ya Allah, ada apa ini. Ranjang penuh selang, ruangan berwarna tosca, tidak juga berwarna tosca, ruangan apa itu ya Allah." ucap Mimi sambil mengingat ruangan itu.


Adzan masih berkumandang dengan merdunya sehingga Mimi tersentak kaget dan beristighfar.


"Ya Allah, ampuni hamba luoa bila ini sudah subuh." ucap Mimi seraya langsung bergegas keluar menuju kamar mandi.


Mimi segera mandi dan setelah itu segera lupa berwudhu dan segera menunaikan perintah sang pencipta nya.


Sehabis sholat, Mimi langsung bersiap-siap karena ini ujian OSCE nya yang terakhir di rumah sakit yang berbeda pula yaitu kali ini Mimi ujian dirumah sakit polisi kota ini.


Setelah bersiap Mimi keluar kamarnya dilihatnya ketiga sahabatnya juga telah bersiap.


"Udah, Muth." jawab Mimi.


"Sini Mi, kita sarapan dulu." ajak Selfia yang telah menyiaoakna arapn mereka. Mimi melihat sarapan mereka kali ini berbeda.


"Tadi Fia beli nasi uduk dipekat Simpang hehee." ucap Selfia dengan cengengesan.


"Ayoo makan mi, mau nasi uduk atau lontong pecal?" tanya Irma.


"Emm Mimi lontong pecal aja." jawab Mimi.


"Pas sesuai ekspektasi." ujar Selfia dan Mimi menautkan alisnya.


"Tadi bingung mau beliin Mimk yang mana, jadi karena Fia sering lihat Mimi kalau makan dinkangin selain mie ayam bakso adalah gado-gado atau lontong pecal ya Fia beli aja lontong pecal hehe" terang Fia dengan kenaikan sebelah alisnya.


"Oh ya Mi, Mimi nanti dimana?" tanya Irma.


"Dirumah sakit polisi sama dengan Muthia dan Dimas." ucap Mimi.


"Irma dan Fia dimana?" tanya Muthia.


"Kami berdua di rumah sakit kota." jawab mereka berdua.


"Emm yaudah, tuh Dimas dah jemput." ucap Mimi yang akan beranjak karena dia telah menyelesaikan sarapannya dan mengantar piringnkotornya ke belakang.


"Ayo, sekalian." ajak Mimi kepada Fia dan Irma karena menuju rimah sakit polisi melewati rumah sakit kota terlebih dahulu.


"Yaudah ayoo." seru mereka berdua dan akhirnya mereka pun berangkat bersama.


Mimi, Muthia dan Dimas telah sampai di rumah sakit polisi, mereka bertiga menyerahkan surat dari pihak kampus kepada pihak rumah sakit dan akhirnya mereka bertiga pun mulai ikut dokter-dokter yang akan visit ke ruangan-ruangan pasien.


Mimi berpisah dengan sahabatnya karena Mimi menuju ke ruangan pasien penyakit dalam, dan Mimi pun mulai aktifitasnya dari bertanya keluhan pasien dan memeriksa pasien dan yang lain, dokter yang memvisit menyimak tata cara kerja Mimi yang dianggap sang dokter sangat teliti.


Pasien di rumah sakit ini berasal dari masyarakat umum dan berasal dari anggota keluarga kepolisian juga.


Sehabis memvisit pasien di pagi hari, Mimi bersama dokter yang bertugas membahas tentang diagnosa dari setiap pasien yang mereka temuin pagi Ini.

__ADS_1


Saat jam istirahat Mimi dan kedua sahabatnya dan tamannya yang lain pergi untuk makan siang, setelah jam istirahatnya selesai Mimi kembali keruangan dokter yang lain dan disini mereka bergantian memvisit hingga sore hari.


"Emm Mi, kita makan malam dulu ya sebelum pulang." ajak Dimas.


"Emm boleh." jawab Mimi yang sedang berjalan berdua dengan Dimas.


"Ajak Muthia juga ya Dim?" ucap Mimi.


"Ya iyalah, kalau si tinggal habis aku di omelin nya." jawab Dimas.


Mimi terus berjalan bersama dengan Dimas, Muthia sudah menunggu di ruang UGD. Setelah bertemu dengan Muthia, mereka bertiga laporan terlebih dahulu dengan pihak rumah sakit.


Saat setelah laporan, mereka bertiga keluar dan di sepanjang jalan mereka saling bercerita pengalaman saat menangani pasien yang beranekaragam penyakit dan karakter.


"Apes Tia hari ini." ujar Muthia, Mimi dan Dimas melihatnya dengan seksama.


"Kenapa?" tany a Mimi.


"Hmmm akhirnya Tia juga mendapatkan pasien bapak-bapak tua yang genit." ujarnya dengan cemberut.


"Hahhaaaa" Mimi dan Dimas ketawa.


"Isss kalian berdua malah ketawa, !mending kalau ganteng ini udah aki-aki peot lagi " ujar Muthia.


"Lah kan udah tua Muth, pasti aki-aki lah." ucap Mimi.


"Hmmm, iya sih Mi. Tapi kan kalau dia ganteng rupawan walau aki-aki enak di pandang mata." ujar Muthia dan lagi-lagi Mimi dan Dimas ketawa.


"Nah kalau kamu Dim, gimana?" tanya Muthia.


"Hari ini mah aku mendapatkan pemandangan yang menyerahkan mata lah." ucap Dimas dengan akuhnya.


"Emang kamu dapat pasien yang gimana?" tanya Mimi.


"Emm dapat Pasien yang bening-bening walau dah emak-emak dan istri orang hehee." ujar Dimas.


"Helehhh kamu Dim, dijaga tuh mata. Jangan jadi pebinor apalagi pebinor dari anggota kepolisian bakal buntut panjang kamu." ucap Mimi dengan mengeplak lengan Dimas.


"Ye nggak apa lah Mi sesekali biar fresh otak lihat yang bening-bening." ucap Dimas dengan mengedipkan matanya.


"Mau jadi playboy kamu Dim?" tanya Muthia.


"Hehee nggakmlah Muth, akuntipe setia kok walau orang tersebut belum tersentuh hehee." jawab Dimas.


Mimi dan Muthia terdiam, Mimi fau kemana arah omongan Dimas begitupula Muthia dia juga berasumsi kalau orang yang dimaksud Dimas adalah Mimi.


"Sabar Dim, cobaan." ujar Muthia.


"Emm tapinlebih fresh lgi nih ya melihat baby, tap kasian jika melihat maaih baby dipasangin infuse di tangan mungilnya." ucap Dimas lirih bila mengingat bayi yang dia lihat tadi sudah dipasang infuse bahkan selang disekujur tubuh nya karena si anak mengalami kelainan jantung.


"Yah begitu lah Dim namanya hidup dan penyakit nggak pandang bulu." ucap Mimi.


"Hemm, gali kasian. Ya Allah semoga tuh anak segera sembuh. ngomong-ngomong jadi kepingin punya baby aku." ucap Dimas dengan senyum manisnya, terlihat lesung pipi menghiasi senyumnya seperti Afgan.


"Woyy kalau pengen banget, kawin dulu." ucap Muthia.


"Bukan kawin Muth, nikah Muth nikah dulu." ucap Mimi menimpali.


"Eh iya nikah dulu barunkawin yak hehee." ucap Muthia meralat omongannya


"Hahaaa." mereka ketawa bersama.


Di sisi lain ada seorang pemuda berseragam lengkap melihat ke arah mereka yang sedang ketawa. Dia terus memandanginya untuk !e!pastikan apakah yang dipandangnya itu orangnyang sama.


Pemuda berseragam lengkap itu tak berkedip melihat senyum itu, senyum yang selalu dirindukan nya. Yah dia melihat ke Mimi dan yang lain na!un pandangannya fokus ke Mimi.


"Apakah itu kamu dek?" Gumamnya dengan mata yang terus tertuju pada Mimk yang tertawa dan tersenyum.


"Senyum MU takmlernah berubah, kau semakin cantik dengan !menggunakan hijab. Apa itu kami?" Gumamnya lagi dengan terus memandangi punggung Mimi hingga Mimi dan yang lain tak terlihat lagi.


"Entah mengapa sampai saat ini perasaan Abang tetap sama, rasa yang selalu bahkan akan selalu mencintaimu." Gumamnya dalam hati.


Sang pemuda pun ke!Bali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dimana ruangan rekannya berada.


Hmm siapakah dia? tebak aja ya karena dia belum di dominasi kan.


Ayang beb Syahril juga belum di muncul kan ya... kalau segera di munculkan alurnya akan keluar jalur hehehee.

__ADS_1


tbc


__ADS_2