DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
120


__ADS_3

Rudi dengan setia menunggu para cewek memasak dan dia pun berinisiatif hendak mengupasi jengkol-jengkol yang telah di ambilnya tadi dan kak Rudi masuk kedalam ruang untuk mengambil pisau.


"Emm Mi ada pisau nganggur nggak?" tanya kak Rudi ketika telah sampai di dapur.


"Ada kak nih." jawab Mimi dengan menyerahkan pisau ke kak Rudi.


"buat apa yank?" tanya kak Rani.


"Buat ngulas kulit jengkol yank, masa iya bawa sekulit-kulitnya nanti." jawab kak Rudi dan hendak berlalu keluar.


"Oh ya kita masak apa lagi nih?" tanya kak Rani yang telah selesai merebus pucuk ubi dan kecipir.


"Udah Ndak ada kak, nih tinggal nunggu tempoyak nya aja lagi.


"Samabl udangnya sudah masak mi?'' tanya kak Rani.


"Udah kak, nih Mimi lagi mindahin ke tempat." jawab Mimi dengan memindahkan udang sambal ke dalam wadah.


"Nih kak, tapi jangan ditutup dulu." ucap Mimi dengan menyerahkan udang sambal ke kak Rani.


"O oke." jawab kak Rani dan mengambil wadah udang sambal dari Mimi.


"Kalau Ndak ada lagi aku mau bantu Rudi ngupas jengkol ya?" ucap kak Rani kepada kami semua.


"Oke Ran." jawab kak Jenni.


kak Rani pun berlalu keluar dengan membawa baskom dan pisau untuk mengulas serta wadah buat jengkolnya.


"Yank ini di kupas semua?" tanya kak Rani ketika dia mendekat ke arah kak Rudi.


"Iya yank, untung ayank bawa wadah." ucap ka Rudi dan mengambil wadah yang di bawa kak Rani dan dia pun menaruh jengkol hasil kipasnya kedalam Wadah.


Mereka berdua mengulas jengkol bersama sambil ketawa-ketawa enat apa yang mereka bahas sehingga ketawa mereka pun terdengar ke dalam.


Para cewek team memasak telah selesai dengan masakannya dan merek juga telah membersihkan segala peralatan tempur mereka, semua masakan telah berada dalam wadahnya nasi kuning telah dimasukkan kedalam termos kecik khusus buat nasi.


Mereka keluar dan melihat kak Rudi dan kak Rani belum selesai mengupas.


"Ckk gimana mau cepat habis kalian ngupas sambil pacaran." ucap kak Siska.


"Iya nih kak Rudi dan kak Rani masa dari tadi belum selesai juga." celetuk Novi.


"Yang di kupas satu ember ya mana bisa cepat." alasan kak Rani


"Sini biar kita bantu." ucap Novi dan kami pun ikut membantunya.


"Oh ya Manda kok kakak liat Manda sama Andri banyak diam ya?" tanya kak Siska.


"Iya aku juga merasa gitu." ucap kak Rani


"Emang ada apa Nda?" tanya Emma


"Iya Nda ada apa?" tanya Sila.


"Manda sama Andri sudah putus yank." ucap kak Rudi dan membuat yang lain terperangah karena tak percaya kecuali Mimi dan kak jenie.


"Ah yang benar yank, candanya gak lucu." jawab kak Rani.


"Iya nih kak Rudi ngeprank nih." sahut Emma.


"Itu benar kok." ucap kak Jenie dan lagi-lagi membuat yang ada disana terperangah dan tidak percaya.


"Ah udahlah kita ke lahan yuk." ajak Mimi mengalihkan pembicaraan.


"Jangan bilang Mimi juga tahu?" ucap Emma dengan tatapan tajam dan diikuti Di'ah,Sila,dan Novi.


"Hemm, udah yok nanti aja kita bahas dah siang." elak Mimi dan kembali masuk kedalam.


"Mak, Mak jadi ikut atau ndak.?" tanya Mimi kepada mamak.


"Ndak Mi, Ay lagi demam." jawab Emak. Iya Ay adik Mimi lagi demam sedari kemarin.


"Yaudah kau gitu kami ke lahan dulu ya Mak." ucap Mimi.


"Iya hati-hati." jawab mamak.


"Ay mau ikut Mak." ucap Ay yang ingin ikut ke lahan sawit.


"Ay di rumah saja biar cepat sembuh ya." ucap Mimi namu ay tetap rewel ingin ikut.


"Ay kalau masih sakit nanti Ayuk bawa ke klinik biar di infus." ucap Mimi dengan mengancam Ay.


"Iya Ay dak ikut." jawab Ay.


"Obat jangan lupa di minum juga awas kau Ayuk dengar ay dak minum obat nya." ucap Mimi dengan sedikit mengancam.


"Iya Ay minum obatnya nanti." jawabnya dengan cemberut dan merajuk.


Mimi keluar dengan membawa termos berisi nasi serta rantang dan di bantu mamak membawa wadah lauk lainnya.


Setelah semua dimasukkan kedalam bagasi mobil kami pun hendak berangkat segera.


"Lah mmak Ndak ikut?'' tanya Rudi ketika melihat mamak dan ay Ndak masuk mobil.


"Indak kak, Ay lagi demam.'' jawab Mimi.


"Yaudah kalau gitu kita berangkat dulu Mak." ucap kak Rudi dan bersalaman kepada mamak.


Setelah pamit kami pun melaju langsung menuju lahan sawit.


"Ayoo kira-kira taruhan nanti siapa yang menang?" tanya kak Rudi.


"Kita kak yang menang." jawab Mimi.


"Kok gitu Mi?" ucap kak Rani.


"Iya kak lihat aja nanti." ucap Mimi.


Sekitar lima belas menit kami pun sampai di lahan sawit dan ketika kami baru sampai kami melihat wajah kak Rendi dan kak Arfan cemberut.


"Lah Ren Fan kenapa tuh muka?" tanya kak Rudi.


"Gak apa-apa Rud." jawab kak Arfan.


"Ternyata berat juga ya sawitnya." Rendi mengeluhkannya.


"Hahahaha jadi kalian nyerah nih?" ucap kak Rudi.

__ADS_1


"Enak aja belum lah." jawab kak Arfan.


"Heleh bilang aja nyerah nih satu angkong aja isinya gak nyampe 10 janjang sawit." ucap kak Rudi yang melihat isi angkong yang di bawa kak Arfan.


"Ckk tadi kita bagi dua." kak Arfan beralasan.


"Yaudah lah by para cewek mau ikut juga nggak ke belakang." ajak kak Rudi dan kami pun kompak tak ingin ikut karena Emma memaksa Manda untuk menjelaskan.


"Ndak kak, kakak aja yang ke belakang kan sudah rame juga." ucap Emma.


"Jadi kian mau ikut buat apaan?" ucap kak Rudi.


"Buat makan bersama." ucap kak Rani dan kak jenie.


"Betul kak Rani bilang." sahut Novi dan Sila.


"Ckk merepotkan saja." ucap Rudi dan berlalu ke belakang di ikuti Rendi dan Arfan.


Setelah kepergian kak Rudi, kak Arfan dan kak Rendi, Emma segera meminta Manda untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Jadi gimana Nda?" tanya Emma to the poin.


"Emm kalian disini aja ya, Mimi ikut kebelkang ya mau antar minum." ucap Mimi yang mengelak bila nanti di suruh ikut menjelaskan.


"O ok Mi." ucap kak Rani dan Mimi pun membuka mobil untuk mengambil beberapa botol air mineral dan dimasukkan kedalam kantong plastik Seth itu Mimi segera pergi kebelakang untuk menghindari mereka.


Setelah kepergian Mimi mereka menunggu Manda untuk menjelaskan semuanya.


"Nda, ceritakan ada apa?" tanya Emma.


"Emm sebenarnya malam waktu kita di bukit batu malam sebelum aku masuk ke tenda aku pergi ke belakang tenda." jawab Manda.


"Ngapain Manda ke belakang dan tumben Manda berani." ucap Novi bertubi.


"Iya jangan bilang Manda ketemu sama bang Fadli itu." ucap Emma.


"Maksudnya Ma?" tanya Novi dan semua menghadap ke arah Emma.


"Karena aku melihat kalau bang Fadli seperti suka sama Manda sewaktu kita naik." Emma mengutarakan kecurigaan nya.


"Apa betul gitu Nda?" tanya Sila yang tak kercaya bila Manda akan melakukan itu.


"Jelaskan dek?'' ucap kak Jenie.


"Emm sebenarnya.." Manda ku. menceritakannya.


Flashback on


Sewaktu habis berkenalan kami semua naik ke bukit batu dan Fadli sering sekali mencuri pandang ke arah Manda dan itu tak luput dari pandang Mimi dan Emma apalagi ketika tatapan mereka bertemu mereka saling tersenyum.


Ketika akan ambil wudhu Fadli memberanikan diri mengatakan kalau dia suka sama Manda.


"Dek Manda" panggilnya ketika Manda akan menaiki anak tangga dan Manda pun. berhenti dan melihat ke arah sumber suara.


"Eh iya kak, ada apa?" tanya Manda kepada bang Fadli.


"Emm Abang suka sama adek." ucapnya tothe poin.


"Hah, maaf kak." ucap Manda.


karena Manda belum juga meniti anak tangga Emma memnaggil nya dari atas anak tangga.


"Iya tunggu." seru Manda dari bawah dan hendak melangkah ke atas...


"Maaf kak aku naik keatas dulu." ucap Manda ke bangga Fadli dan buru-buru naik ke atas.


...**...


Disaat semua berkumpul dan. meminta popmie Mimi dan Manda oyeergi ke arah belakang tenda yang mana kompor mereka di letakkan di bagian belakang jantuhnya bukan belakang namun samping tenda.


Disaat Mimi dan Manda beranbjank menuju dapur campingnya ternyata Fadli telah memperhatikan dari jauh dan akhirnya dia mengikutinya dengan. beralasan dari tendanya yang mana tenda dia berada di belakang tenda kami para cewek namun posisi membelakangi.


"Hai kalian sedang apa?" tanya bang Fadli ketika mendekati ke arah Mimi dan Manda.


"Eh bang Fadli dari mana bang." tanya Mimi.


"Ini tadi ambil jaket dan melihat kalian disini jadi Abang kesini." jawabnya. ( lihat bab sebelumnya ajja ya authore lupa kata-katanya )


Bang Fadli ikut membantu membuka cup Poo mie dan membuka bungkus bumbu popmie.


Ketika semua telah terbawa dan Mimi sudah duluan ke depan bang Fadli sengaja mendekatkan diri ke Manda dan mengatakan kembali kalau dia menyukai Manda.


"Dek, Abang serius Abang suka sama adek." ucapnya.


"Apa adek sudah punya pacar?" tanya nya lagi.


"Eh Nda buruan." ucap Mimi ketika Manda belum juga sampai.


"nanti sebelum masuk tenda kita ketemuan lagi di sana ya?" ucap bang Fadli dengan menunjuk ke arah belakang tendanya.


"Bang tunggu adek disana." busuknya dan mereka pun menyusul Mimi dan membagikan popmie.


Saat membagi popmie lagi-lagi bang Fadli mengingatkan Manda kalau dia akan menunggu disana.


Sewaktu malam makin larut kak Syahril menyuruh agar para cewek segera masuk tenda dan beristirahat mereka semua telah masuk kecuali Mimi dan Manda.


Mimi yang merasa rasa kantuk menghampiri nya dia pun pamit ke kak Syahril dan mengajak Manda danntaknlama Manda pun mengikutinya.


Karena tenda Mimi dan Manda berbeda Mimi terlebih dulu masuk ke dalam tenda Manda pun melangkah ke arah tenda nya namun tidak langsung masuk melainkan melangkahkan kakinya ke arah dimana di tunjuk oleh bang Fadli ( cerita selanjutnya baca bab sebelumnya ya).


Nah ketika Manda akan masuk ke tenda tiba-tiba kak Andri memanggil dan ternyata kak Andri dari arah tempat mereka janjian.


flashback off


"Kenapa Manda lakukan itu?" tanya Sila dengan menhan emosinya.


"Iya Nda, kenaapaanda begitu Nda kecewa Novi sama Manda." ucap Novi.


"Maaf." jawab Manda dengan memohon kepada teman-teman nya.


"Apa alasan Manda melakukan itu?'' tanya Emma.


"Aku juga ndak tau ma. Aku hanya merasa apa yang dikatakan bang Fadli benar adanya kalau tak lama lagi kita bakal berjauhan." ucap Manda.


"Terus apa salahnya kalau berjauhan?" ucap kak Jenie.


"Aku tak tau kak, aku hanya takut apa aku mampu buat hubungan jarak jauh." jawab Manda yang masih penuh keraguan.

__ADS_1


"Terus dengan Manda putus sama kak Andri apa Manda dan bang Fadli akan jadian tarus kalian juga tidak berjauhan gitu!'' ucap Emma.


"Walau Manda jadian sama bang Fadli tihbkalia. juga berjauhan Nda, dan nanti jika ada yang akan mengajak Manda jadian terus Manda akan terima orang baru lagi dengan alasan yang sama tak sanggup hubungan jarak jauh gitu!" ucap Sila yang sudah tak bisa menahan kekesalannya.


"Begitu cepatnya kau Nda menyimpulkan. Tak pernah berubah sifat kau." ucap Emma.


"Seandainya kalau Manda tak ingin berhubungan jarak jauh lebih baik putus baik-baik daripada harus selingkuh di belakang seperti ini." ucap kak Jenie.


"Asal Manda tau, Andri, Ryan Syahril dan Rudi mereka belum pernah berpacaran sebelumnya, walau ada dekat sama cewek mereka hanya sekedar dekat saja itu pun hanya sekali mereka lakukan karena mereka kecewa sama cewek sebelumnya juga ketahuan menjalin hubungan dengan lelaki lainnya dibelakang mereka. Walauereka tak berpacaran mereka dilakukan seperti itu merasa sakit apa lagi ini Andri dan Manda kan sudah menjalin hubungan sudah 3tahun." jelas kak Rani menyayangi sikap Manda.


"Kakak kecewa sama Manda." ujar kak Rani lagi.


"Tapi itu lebih baik Andri mengetahui lebih awal daripada dia mengetahui dari orang lain. ketika kami sudah berada di kota pedang." ucap kak Rani lagi dengan rasa kecewa terhadapa Manda.


Disaat mereka membahas ini kak Rendi dan kak Andri sudah berada di sana hendak menaruh janjang sawit yang telah mereka angkat. Para cewek emang duduk di tempat biasa yaitu tempat yang berada dekat tak jauh dari ruang buat timbang sawit.


Andri diam-diam mendengarkan ucapan para cewek, para cewek tak mengetahui sebelumnya kalau Rendi dan Andri ada disana karena mereka berdua melalui arah lain karena posisi buah yang dipanen di jalur lain.


Setelah mendengar itu Andri dan Rendi langsung kembali kebelakang untuk mengambil buah-buah sawit yang telah di dodos oleh bapak.


Hari ini karena banyak yang ikut bapak membawa 4 angkong yang dua milik bapak dan dua baoaknlunya di tetangga sebelah yang belum jadwal panen dan pinjam sama pakwo depan rumah.


Karena buah-buah sawit di angkut oleh empat angkong makan pekerjaan pun cepat selesai. Setiap angkong tinggal sekali angkut lagi dan setelah nya mereka pun beristirahat.


"Alhamdulillah pak, panen kali ini banyak lagi " ucap Syahril ketika mereka telah sampai dan menyusun buah sawit ke buah yang sudah tersusun di dekat rumah timbangan.


"Alhamdulillah Riil, terimakasih sudah bantu bapak." jawab bapak.


"Wah panen kaki ini semoga sampai 2 ton lebih ya pak." ujar Ryan.


"aamiin." ucap mereka semua.


"Hai girls dah disiapin belum nih makan siang buat kita." tanya Ryan.


"Belum kak, makanannya masih dalam mobil." jawab Di'ah.


"Yaudah yank diambil." ucap kak Ryan dan berlalu menuju mobil dan membuka bagasinya.


Di'ah dan kak Ryan mengangkut makanan makan siang mereka dari bagasi menuju ke tempat yang tak jauh dari tiang timbangan.


Setalah semua turun dan disajikan kami semua menyantap makan siang kami dengan lahap sampai nasi setermos pun ludes tak tersisah.


"Alhamdulillah nikmatnya." ucap kak Farhan.


"Iya alhamdulillah nikmat makan dilahan begini." sahut kak Rendi.


"Hmm lama-lama kalau kita disini dan makan dengan lahap begini bisa naik timbangan." ucap bang Ridho yang notabene memiliki postur tubuh sedikit kutilang.


"Hahaha betul itu Dho cocok buat kau kalau mau gemuk." sahut bang Idho.Kami pun ketawa terbahak-bahak.


Setalah selesai makan dan beristirahat sejenak sambilenunggu petugas penimbang tiba namun tak kunjung jua tiba.


"Pak, kok lama petugasnya?" tanya Syahril.


"Iya mungkin tempat lain juga banyak hasil panennya." jawab bapak. "Apa lagi kita lebih cepat selesai dari sebelum nya." imbuh bapak lagi.


Terdengar suara adzan dari aplikasi di hp kak Ryan.


"Wah dah Dzuhur aja." ucap kak Rendi


"Yaudah kita pulang aja dulu buat sholat Dzuhur nanti biar bapak kesini sendiri lagi setelah selesai sholat." ujar bapak.


"Tapi apa Ndak apa pak buah sawit ya ditinggal?'' tanya kak Syahril khawatir nanti buah sawit di ambil orang.


"Iya pak, nanti kita tinggal di ambil orang lagi." sahut kak Ryan.


"Atau gini aja kalian pulang saja biar bapak disini dulu." ucap bapak.


"Emm begini saja bapak pulang saja dulu biar Ariil sama Andri disini nungguin nanti bapak nyusul kesini sama Ryan atau Rudi." usul kak Syahril yang awal di tolak sama bapak dan akhirnya bapak pun mengikutinya.


"Yaudah, kalau petugas timbang disini dilihat saja timbangannya ya." ucap bapak


"Dan beritahu kami kalau sudah selesai." ucap kak Ryan.


"Oke Yan ntar di beritahu." ucap kak Andri dan mereka pun pulang bersama kecuali kak Syahril dan Andri.


Tak berapa lama mereka pulang petugas timbang pun tiba.


"Lah ini calon mantunya pak Umay ya?" ucap bapak-bapak yang diketahui Syahril petugas timbangan.


"Iya pak." jawab Syahril.


"Lah pak Umay nya mana?" jawab bapak tersebut


"Bapak barusan pulang pak, mau sholat Dzuhur." jawab kak Syahril.


"Oh jadi pak Umay gantian sama mantunya." ucap si bapak dengan menaruh timbangan di atas tiang yang telah disediakan.


"Yaudah kita timbang ya mas." ucap sibaoak kepada kan Syahril.


"Iya pak." jawab kak Syahril dengan menyaksikan si bapak dan asisten nya baut menimbang buah-buah sawit hingga habis.


"Alhamdulillah panen pak Umay kali ini lebih dari panen sebelumnya." ucap si bapak.


"Alhamdulillah ya pak makasih.'' jawab kak Syahril.


"Yaudah mas kalau gitu kita mau lanjut ke blok sebelah." ucap sibaolpak pamit.


"Eh iya pak, oh ya pak apa ini sudah bisa di tinggal.'' ucap kak Syahril dan membuat ketawa si bapak.


"Iya mas dah boleh di tinggal kok, yaudah kami pamit dulu." ucap si bapak dan berlalu pergi.


sebelum kak Syahril dannmami Andri pulang mereka menelpon kak Ryan kalau buah sawit sudah selesai di timbang dan mereka akan pulang.


...********...


Alhamdulillah dokter Jantungku up lagi disiang hari.


Jangan lupa selalu beri dukungannya ya dan jangan lupa tinggalkan jejak nya.


FAVORIT


RATE


VOTE


LIKE

__ADS_1


KOMEN


TERIMAKASIH


__ADS_2