DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
ujian lagi


__ADS_3

Setahun sduah Mimi menjalani pekerjaan nya di kota ini, selama setahun ini jiga dia masih memegang predikat dokter muda terbaik.


Tak hanya dalam tindakan medis, Mimi juga bisa membantu pasien dalam hal yang lain.


Tiap kehidupan selalu mempunyai ujian tersendiri, kali ini Mimi di uji di keluarga nya.


akibat salah pergaulan atau sebuah ambisi, adik laki-laki ini Mimi membuat ulah. Selama ini baik Mimk maupun orangtuanya percaya saja sama dirinya.


Mereka percaya kalau adiknya ini memang kuliah dan tidak berbuat masalah lain. Namun kenyataan berbalik 360 derajat, kepercayaan itu di ganti dengan kekecewaan yang teramat dalam.


Awal orang tua Mimi tidak ingin menceritakan kepada Mimi, takut akan membebani Mimi. Tapi, Mimi mengetahui karena Mimi mendapatkan SMS dari kepolisian yang menyatakan jika adik laki-lakinya sedang berada di dalam tahanan.


Yah Mimi mengetahui saat sehabis operasi pasien terakhirnya Mimi jadwalkan operasi hari ini.


Saat maaukmker ruangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Mimi yang hendak bersih-bersih terlebih dulu sebelum pulang membuka ponselnya.


Alangkah terkejut dan shocknya Mimi saat itu, Mimi awalnya tidak percaya begitu saja dan akhirnya Mimi menghubungi emaknya dan bertanya.


Awalnya emak maaih tak ingin bercerita namun akhirnya emakpun menceritakan kalau itu benar, karena Pakcik sudah mengeceknya.


Kedua orang tua Mimi pun pergi ke Jambi saat mendapat kabr itu pagi hari. Yah sejak lagi Mimi masuk ruang operasi Mimi tidak memegang ponselnya lagi hingga malam ini.


Saat mendengar cerita emaknya, tubuh Mimi lunglai tak berdaya hingga Mimi terduduk dilantai dengan air mata yang mengalir tanpa henti seksama emak bercerita.


Ingin rasanya Mimi memaki untuk meluapkan segala yang selama ini dia pendam kan. Anak laki-laki yang di banggakan oleh orang tuanya, ank laki-laki yang menjadi keutamaan bagi mereka bahkan terkadang Mimi iri jika setiap keinginan adik laki-laki nya selalu di turuti sedangkan dirinya dinointa untuk memikirkannya.


Setelah habis menghubungi emaknya, Mimi menangis dalam diamnya di ruangannya. Sesak itu lah yang Mimi rasakan, selama dia menempuh pendidikan baik itu SD hingga kuliah, dia selalu dituntut untuk menjadi dewasa, di tuntut untuk selalu mengerti keadaan orangtuanya.


Sedangkan adik laki-laki nya, dengan ucapan apanyang diinginkannya selalu dituruti. Terkadang hati kecil Mimi bertanya apa dia bukan anak dari orang tuanya hingga dirinya selalu di beda-beda kan.


Ingin rasanya Mimk berucap kepada emaknya "Itulah anak kesayangan emak." tapi Mimi masih memiliki hati walau terkadang hatinya tersakiti.


Lama Mimi berada dalam ruangannya untuk meluapkan rasa kekesalan didalam hatinya dengan tangisan.


Mimi orang nya yang tak pernah banyak menuntut bahkan jika dia mampu dia yang akan memberi, namun rasa kekecewaannya kali ini lebih besar terhadap adiknya.


"Ya allaaah, apa tidak ada sedikit ruang untukku bahagia." ucap Mimi dakaam hati yang seakan tak sanggup lagi menerima segala ujian di dalam hidupnya.


"Kenpa selalu aku harus menerima beban dalam hidup ini ya Allah... Apa aku tidak berhak memiliki kebahagian. Apa salah ku ya Allah.."


"Apa pengabdian ku terhadap orangtuaku terutama ibuku masih kurang hiks hikshiks." Mimi terus berbicara pada dirinya sendiri dengan isakan tangis.


Dokter Rayhan yang melewati ruangan Mimi dan melihat ruangan Mimi masih hidup lampunya di jam sepuluh malam dan dokter Rayhan melihat asisten mikinjiga masih berada di luar tak berani masuk pun jadi penasaran.


"Ada apa sus? kenapa belum pulang" tanya dokter Rayhan.


"Emm ini dok, emm saya menunggu dokter Mimi." jawabnya.


"Dokter Mimi belum pulang juga?" tanya dokter Rayhan dan suster menggeleng.


"Ya udah, kamu pulang saja ini sudah jam sebelas lewat." ujar dokter Rayhan.


"Tapi dok, dokter Mimi..." jawab suster yang selalu membantu Mimi


"Biar saya yang samalaikan sama dia nanti." jawab dokter Rayhan.


"Emm itu dok, emm.." ucap suster.


"Itu apa?" tanya dokter Reyhan.


"Sedari tadi saya dengar dokter Mimi menangis sehabis dia menelpon, saya mau masuk tali saya takut mengganggu nya." ucap suster.


Sudah setahun dia mendampingi Mimi walau kadang dia selalu bercanda dengan Mimi, tapi jika dia melihat Mimi dengan privasinya, suster itu tidak berani untuk mengganggunya.


"Biar saya yang lihat, kamu pulang saja." ucap dokter Rayhan mengerti jika asisten Mimi tidak ingin meninggalkan Mimi sendiri apalagi mereka mendengar isakan tangis di dalam.


"Baik dok, kalau gitu saya permisi." ucap suster, dokter Rayhan pun mengangguk.


Setelah mengambil tas nya si suster pun beranjak untuk pulang namun sebelumnya lagi-lagi dia melihat ke arah pintu ruangan Mimi, dengan langkah berat dia lun melangkah untuk pulang.


Sepergian suster itu Rayhan mengetuk pintu namun tidak digubris oleh Mimi, karena tidak ada respon dari dalam, dokter Rayhan pun membuka pintu dan melihat sedikit dari celah pintu.


Dokter Rayhan melihat miminyanh sedang terduduk di samping mejanya dengan memeluk kedua kaki seraya kepala yang ditumpu di atas kedua lututnya.

__ADS_1


Badan Mimi yang bergetar menhan Isak tangis agar tidak lepas walau sesekali terlepas juga. Saat ini Mimi merasa kecewa yang teramat berat.


"Mi" panggil dokter Rayhan yang sudah berjongkok di hadapan. Mimi, Mimi tidak menggubrisnya.


"Kamu kenapa?" tanya dokter Rayhan, Mimi masih diam.


"Jika itu berat, berbagilah agar terasa ringan." ucap dokter Rayhan lagi.


"Apa salah Mimi Da." ucap Mimi dengan sisa isakan tangisnya.


"Emangnya kamu berbuat salah apa?" tanya dokter Rayhan kembali.


"Selama ini Mimi tidak pernah menuntut apa-apa, bahkan kuliah Mimi pun Mimi berjuang sendiri. Mimi selalu di minta dewasa belum waktunya, Mimi di minta untuk selalu mengerti keadaan orang tua, semua Mimi terima dan Mimi jalankan."


"Bahkan selama kukiah Mimi pun tidak pernah meminta dikirim uang sekian, bahkan Mimi dikirimi uang beberpa bulan sekali dengan jumlah yang minim pun Mimi terima. Tapi kenapa sekarang seolah pengorbanan Mimi ini tidak ada artinya."


"Kenapa Mimi masih di pinta pertanggungjawaban buat dia."


"Selama ini, Mimi dibeda-bedakan Mimi tidak mempermasalahkan. Kenapa anak laki-laki selalu dinomor satukan bahkan anak itu sendiri yang menghancurkan harapannya. Tapi kenapa lagi-lagi Mimi yang harus menanggungnya kenapaaaa hiks hiks." Mimi terus mengeluarkan beban dihatinya dengan isakan tangis.


Dokter Reyhan diam mendengar semua keluh kesah Mimi yang dilihatnya seperti beban terberat Mimi.


"Memang nya ada apa?" tanya dokter Rayhan hati-hati.


"Tadi sehabis operasi dan sehabis bersih-bersih diro Mimi melihat ponsel dan Mimi dapat SMS ini." ucap Mimi dengan memberikan ponselnya pada dokter Rayhan, dokter rerahna lun menerimanya dan membaca SMS itu.


"Jangan percaya SMS seperti ini, ini bisa saja penipuan." ujar dokter Rayhan.


"Awalnya Mimi juga berpikiran begitu, tapi setelah menelpon emak, kata emak itu emang benar adanya." Jawab Mimi.


"Emm yaudah besok kamu ajukan cuti saja dan pulang lah biar kamu lebih tenang dan bisa menenangkan ibumu." ucap dokter Rayhan, Mimi menggeleng.


"Kenapa?" tanya dokter Rayhan.


"Mimi tidak bisa Da," jawab Mimi.


"Tidak bisa kenapa? masalah perkerjaan kan bisa ditunda dan ada dokter yang lain." ucap dokter Reyhan walaunsebbenaenya ada rasa ketidak nyamanan di dalam dirinya mempercayakan pasien-pasien yang di tangani mimi dinserahkan pada dokter lain.


Apa lagi dokter Reyhan sering mendengar pasien-pasien jantung uang ditangani Mimi merasa puas atas pelayanan yang diberikan Mimi, bahkan pasien yang pasca operasi pun merasa puas.


"Dan tidak hanya di rumah sakit Nurani Bunda saja, tetapi di rumah sakit kota juga." ujar Mimi.


Dokter Rayhan merasa salut pada Mimi yang selalu menomor satu kan pasiennya, bahkan jauh-jauh hari pun Mimi sudah menjadwalkan pasiennya untuk di tindak.


"Bisa kamu serahkan dengan dokter lain Mi." ujar dokter Rayhan.


"Humm tidak segampang itu Dan menyerahkan tanggung jawab kita sama orang lain sekali pun kkta satu profeesi " jawab Mimi.


"Ya kan sesekali nggak apa, lagi urgent juga." ucap dokter Rayhan.


"Bagi Mimi nggak ada yang urgent selain pasien Da." ucap Mimi.


"Masalah keluarga mu juga urgent Mi, kamu sebagai tertua pasti juga ingin di dengar pendapat nya." ujar dokter Rayhan, Mimi hanya menghelakan nafasnya.


"Masalah dikeluarga mimj itu di buat oleh dirinya sendiri jadi yang bikin urgent ya dia, sebaik-baiknya pendapat mimj ya biarkan saja dia menerima ganjaran dari perbuatannya." ucap Mimi yang terkesan jahat bila di dengar.


"Nggak baik gitu. Sahabatnya saudara lelaki, sekecewanya kamu sama dia, suatu saat dia lah pelindungmu." ucap dokter Rayhan menasehati Mimi.


"Humm entahlah, bagi Mimi yang mimj butuhkan saat ini bukan saat kedepannya. Bagi Mimi, selagi Mimi bisa berdiri sendiri dan tidak merepotkan orang lain maka Mimi akan menjalaninya sebaik mungkin. Toh walau kita akan merepotkan orang ujungnya juga duit yang berkata ." ucap Mimi.


"Tapi setidaknya pulanglah, dengan kehilanganmu mungkin dengan itu hati orang tuamu bisa tegar dan kuat menghadapi kenyataan ini." ucap dokter Rayhan.


"Emm nanti saja setelah semua perkerjaan Mimi selesai." jawab Mimi.


"Pekerjaan tidak akan pernah selesai Mi, jangan sampai nanti kamu menyesal." ucapnya.


"Mimi sudah menyesal Da, menyesal mempercayai dia, menyesal menuruti segala keinginannya dan sekarang yang Mimi tuai kekecewaan." ucap Mimi.


"Udah pokoknya ambillah cui dan pulang lah." ujar dokter Rayhan.


"Isss Uda ini, Mimi pasti pulang tapi setelah semua selesai." jawab Mimi yang kesal.


"Kerjaan Itu nggak akan pernah habis Mimi.. " ucap dokter Rayhan yang juga mulai merasa kesal atas kekeras kepalaan Mimi.

__ADS_1


"Iya emang nggak akan habis, kalau habis ya tutup iini rumah sakit."


"Pokoknya Mimi selesaikan dulu jadwal Mimi hingga dua Minggu ke depan " ucap Mimi yang sudah tidak bisa di ganggu gugat itu.


"Terserah kamulah, keras kepala bana jadi orang." ucap dokter Rayhan mengalah karena jika di teruskan tidak akan pernah habis.


"Yaudah ayo kita pulang." ucap dokter Rayhan dengan melihat ke arlojinya.


"Emng dah jam berapa Da?" tanya Mimi.


"Tuh lihat" ucap dokter Rayhan dengan menunjuk ke arah jam dinding yang berada di dalam ruang Mimi.


"Astaghfirullah, sudah jam dua belas. ini gara-gara Uda nih ngajak Mimi ngobrol, Aisss Mimi harus segera pulang dan istirahat karena pagi-pagi besok jadwal operasi di rumah sakit kota." ucap Mimk yang telah beranjak berdiri dan mengambil semua barangnya dan langsung !mengambil kunci motornya dan melesat keluar tanpa menghiraukan dokter Rayhan yang terbengong dan tercengang atas ulah Mimi pada nya.


"Hei tunggu" panggil dokter Rayhan.


"Ais apa lagi sih Da, ini udah malam besok aja ngobrolnya." ucap Mimi tanpa dosa.


"Siapa juga yang mau ngajak ngobrol." ucap dokter Rayhan.


"Terus apa namanya?" ucap Mimi.


"Biar Uda antar, ini sudah tengah malam. Tidak baik anak gadis pulang sendiri malam-malam." ucapnya dengan menggandeng tangan Mimi.


Terkadang Mimi merasa senang di perhatikan seperti itu, apa lagintprauhan selalu memberikan perhatiannya pada Mimi. Kadangkala terbesit Mimi ingin meminta lebih tapi mimj tau diri dan apanlabindokyer Rayhan sedang bucin-bucinnya dengan kekasihnya yangbtakmlain adalah sahabat dari bos besar rumah sakit ini.


"Mimi bisa sendiri Dan." ucap Mimk berusaha menolaknya karena Mimi tidak mau ada gosip-gosip dikemudian hari.


"Udah jangan banyak protes, buruan." ucapnya dengan garang.


Mimi pun menuruti dengan mengerucutkan bibirnya, Mimi lun pulang di antar Rayhan hingga sampai depan kontrakan nya.


"Makasih Da." ucap Mimi.


"Iya sama-sama, kamu langsung tidur jangan bergadang " jawabnya dan Mimi pun mengangguk.


Setelahnya Mimi boun masuk kedalam kontrakannya, Mimi mencuci mukanya dan langsung masuk kamarnya untuk istirahat karena tubuh dan pikirannya memang sangat lelah.


Subuh hari, Mimi melakukan aktifitas seperti biasanya, saat dia akan bersiap-siap Mimi lupa jika motor nya tinggal di rumah sakit nurani bunda.


"Aduh gimana ini, manna jadwal operasi jam enam ini lagi." ucap Mimi yang kebingungan karena jadwal operasi pagi tapi motornya tidak ada.


Saat Mimi kebingungan, Andre mengeluarkan motornya saat itu dan menghidupkan motornya untuk di lantai mesinnya.


"Ndre" panggil Mimi dengan teriak.


"Iya kak, ada apa?" tanya Andre.


"Ndre, tolong antar kakak dong, motor kakak, kakak tinggal di rumah sakit." ucap Mimi.


"Yaudah, tunggu bentar Andre ambil jaket dulu ya." jawab Andre dan langsung berlari masuk untuk mengambil jaketnya.


"Ayo kak." ajak Andre setelah mengambil jaket dan langsung menaiki motornya.


"Ndre sedikit ngebut ya, kakak ada jadwal operasi." ucap Mimi.


"Siap kakak." jawab Andre.


Setelah sampai taknluoa Mimi memberi uang buat Andre.


"Makasih ya ndre, ini buat bensin dan jajan." ucap Mimk dengan langsung mengantongkan uangnya ke dalam jaket Andre.


"Kaak" teriak Andre ketika melihat jumlah uang yang diberi Mimi namun Mimi tak menghiraukannya, Mimi langsung berlari kecil masuk kedalam rumah sakit.


"Huh, kak mimi selalu begini. mudahkanlah rezeki kak Mimi ya Allah." ucap Andre seraya berdoa untuk Mimi.


Sepuluh menit lagi, jadwal operasi akan dilaksanakan. Mimk sudah mempersiapkan dirinya tak lupa dia terus membaca do'a dalam hatinya agar dipermudahkan segala perkerjaan nya.


Pekerjaan sedang dokter tidaklah mudah, nyawa pasien berada ditangan nya walau sebenarnya nyawa pasien itu ada di tangan illahi rabbi.


Namun namanya manusia, mereka selalu ingin terbaik dan ingin semua berhasil. Taruhan seorang dokter adalah reputasinya, jika gagal dia merasa gagal pula menjadi seorang dokter.


Dua Minggu kedepannya Mimi akan disibukkan dengan tindakan operasi, semua Mimi jadwalkan sesaui yang ringan sampai kenyang sulit nya.

__ADS_1


Untuk sementara waktu Mimi melupakan dahulu masalah keluarganya, biar mereka mau berkata apa, bagi Mimi keselamatan pasien ada dan tergantung pada dirinya.


tbc


__ADS_2