
Habis mata pelajaran para mahasiswa management bisnis pun keluar dari ruangan. Terlihat Bryan berjalan seorang diri, dia terus berjalan melewati setiap ruangan yang berada di koridor lantai tiga.
Dillah melihat Bryan berjalan seorang diri merasa heran, biasanya Bryan selalu menghampirinya. Tapi kali ini ada yang beda pada diri sahabatnya ini, semenjak Dillah tiba di kampus hanya sahabatnya satu ini yang tak menyapa nya.
Usahkan menyapa, Bryan sama sekali tak ingin melihat bahkan bicara sama Dillah.
"Ada ala dengan dirimu Bry, ala aku asa salah denganmu?" gumam Dillah nanar melihat Bryan.
Bryan patah hati sebelum memulai, di satu sisi adalah sahabat sendiri dan satu sisi keinginan hatinya.
Semenjak bertemu dan melihat Mimi, entah mengapa Bryan seperti terhipnotis yang biasanya jika dia melihat cewek-cewek sexy dan bening jiwa playboy nya memberontak untuk segera beraksi namun setelah melihat Mimi bahkan saat dia berkenalan dia yakin dan memantapkan hatinya untuk pensiun dari keplayboyannya.
Apa yang diucapkan kepada teman-teman nya bukanlah sekedar ucapan belaka melainkan ucapan kemantapan dirinya ingin berubah.
Wajah Mimi dan senyuman Mimi telah menghiasi serta mengisi relung hatinya sehingga ajakan-ajakan dari cewek-cewek yang di kencangnya tak lagi di gubrisnya.
"Huh Mimi, kenapa kamu selalu dimataku." ucap Bryan dalam hati, dia terus berjalan namun hati dan pikirannya hanya tertuju pada Mimi yang di kaguminya.
Dillah mengejar Bryan dan memanggilnya namun Bryan tidak!menggubrisnya lebih tepatnya Bryan tidak mendengar teriakan dari Dillah.
Usahkan teriakan dari Dillah, ucapan seseorang yang kini telah berada di samping saja tak di dengarnya. Bryan seolah berjalan dengan pikiran kosong dan terombang-ambing.
Sang cewek yang awalnya ingin menanyakan perihal semalam yang tak jadi menjadi kesal karena Bryan tak !menanggapi kehadirannya dan sang cewek menampar pipi Bryan dengan kerasnya sehingga membuat Bryan tersadar dari lamunan.
Bryan menatap sang cewek dengan tatapan tajam seolah dia tak ingin diganggu.
"Kenapa hah! mau marah." ucap sang cewek yang sudah kesal.
"Lo yang kenapa!! ngapain Lo nampar gue.. Ala !asalahnlo sa!a gue!!." ucap Bryan dengan amarah.
"Bry elo yang kenapa!! Dari segi!alam gue nungguin elo tali elo nggak juga datang, elo ingkar janji Bry.. Gue dari tadi ngomong ama Lo tapi Lo nggak tanggepin gue." ucap sang cewek yang sudah berapi-api.
"Heh, emang apa urusan Lo!!" ucap Bryan dan !meninggalkan sang cewek.
"Bry, bryaann.. Tunggu." panggil sang cewek danmmengejar Bryan.
"Mau apa lagi hah!!!" ucap Bryan.
"Elo kenapa si sayang, Kenapa Lo berubah." ucap sang cewek.
"Itu bukan urusan Lo, minggir." ucap si Bryan dan !menyingkirkan sang cewek dari hadapannya.
"Oh ya satu lagi, kita End." Bryan berhenti langkah dan berbalik arah ke arah cewek sambil mengibaskan tangannya.
"Bry... apa maksud Lo??" tanya si cewek.
"Apa kurang jelas, kita End, kita pu tus." ucap si Bryan dengan !mengibaskan tangannya lagi dan berlalu pergi.
"Pokonya gue nggak terima Bry, liat aja bakalmgue balas Lo." ucap si cewek dengan berteriak.
Banyak mata yang melihat interaksi dua manusia tersebut dan ada beberapa pasang mata juga melihatnya yaitu tiga orang cewek yang juga merupakan cewek dari Bryan.
Ketiga cewek tersebut merasa senang jika Bryan memutuskan tuh cewek yang terkenal bar-bar.
Dillah melihat itu sangat heran, biasanya Bryan akan lembut pada cewek-cewek yang di inginkan nya namun kali ini terkesan berbeda.
"Ada apa dengan sob." gumamnya dan melanjutkan mengejar Bryan.
"Bry," panggil Dillah setelah dekat dengan merangkul pundak Bryan.
Bryan menoleh dan langsung menyingkirkan tangan Dillah. Dillah yang melihat itu heran dan gak menyangka alam yang dilakukan oleh Bryan terhadapnya. Dilla semakin yakin kalau Bryan lagi marah sama dirinya
"Bry, ada apa sob?" tanya Dillah dan Bryan tak menggubrisnya, dia terus berjalan hingga mereka berdua bertemu dengan sahabatnya yang lain.
Reno dan kawan-kawan heran melihat Dillah dan Bryan seperti lagi bermusuhan.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Reno. Dillah hanya mengangkat kedua pundaknya dan Bryan hanya diam dengan memasang wajah masam nya.
"Bry, Lo ada masalah apa sih?" tanya Yogi, lagi-lagi Bryan tak !menggubrisnya.
Satri yang melihatnya menarik lengan Bryan dan Satria membawa Bryan kedalam ruangan. yang biasa tempat mereka diskusi.
__ADS_1
Walau awalnya ada penolakan dan pemberontakan dari Bryan, Satria tak gentar dia terus menarik Bryan menuju ruangan tersebut. Satria sudah sangat geram akan tingkah Bryan hari ini.
Sesampainya di ruangan tersebut dan kebetulan lagi kosong Satria langsung mendorong Bryan dengan kasarnya.
"Brugh" Bryan tersungkur terkena meja. Bryan marah diperlakukan seperti itu oleh Satria.
Bryan berdiri dan mendekat ke arah Satria dan !menarik kerah baju Satria.
"Apa-apaan Lo hah!!" ucap Bryan dengan menatap Satria tajam.
"Lo, yang apa-apaan, kalau Lo ada masalah bilang." jawab Satria dengan nada kasar dan mendorong Bryan kembali.
"Heh gue nggak ada masalah sama Lo ya!! jadi lo jangan ikut campur." ucap Bryan yang membalas mendorong Satria.
"Kali Lo emang nggak ada masalah, kenapa sikap Lo begini hah!!! Lo sudah nggak anggap kita sahabat lagi hah!! ngomong!!" ucap Satria dengan penuh amarah.
"Ingat ya Sat, gu e ng gak a da urusan dan ber ma sa lah sa ma Lo, ja di Lo ja ngan sok ngatur gu e!!!" ucap Bryan dengan tatapan membunuh dan berbicara dengan !mengerahkan giginya !merasa geram kepada Satria.
Reno, Yogi dan Dillah melihat dua pemuda itu akan adu jotos segera melerainya.
"Bryan, Satria... Kalian berdua ini apa-apaan sih." ucap Reno.
"Bry, Sat bukan gini cara nyelesaiin masalah, dan Lo Bry ada ala?" ucap Dillah dan bertanya kepada Bryan.
"Bry kita udah bersahabat lama, jika ada masalah kota selalu menyelesaikan nya bersama. Sekarang ada apa dengan Lo!!" ucap Yogi dengan memegang kedua pundak Bryan.
Bryan hanya menghela nafasnya kasar dan Bryan !melepaskan tangan Yogi.
"Heh.. Gue nggak ada apa-apa, udah gue mau pulang." ucap Bryan.
"Bry, kalau ada masalah mari kita tuntaskan sekarang. Kalau Lo perlu bantuan kita, kita pasti akan bantu Bry. Kita bersahabat bro." ucap Reno dengan memegang pundak Bryan sebelah.
"Bry, gue tau danngue rasain kalau Lo ada masalah sama gue. Katakan apa kesalahan yang gue perbuat sehingga membuat mood Lo berantakan gini." ucap Dillah dan memandang Bryan dengan tenang namun beda dengan Bryan menatap Dillah dengan tajam dan mengeraskan rahangnya.
"Udah lah gue mau pulang." ucap Bryan dengan menghempaskan tangan Dillah yang berada di pundaknya.
Semua sahabatnya merasa yakin kalau Bryan memiliki masalah kepada Dillah.
"Dil, emang kalian ada apa?" tanya Reno.
Bryan terdiam dan menarik nafasnya dalam sampe menutuo matanya untuk menetralkan perasaan yang berkecamuk di dirinya. Bryan menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Huhhh. menurut Lo apa Dil!! tanya Bryan kepada Dillah dengan sorot ta yang tajam.
"Mana gue tau Bry, karena gue merasa nggak berbuat kesalahan ataupun masalah sama Lo.'' ucap Dillah.
"HH.. Munafik Lo Dil." ucap Bryan sinis semua yang ada disana terheran dan semakin tidak mengerti.
"Maksud Lo apa?" tanya Dillah berusaha masih tenang. Semua sahabat mereka masih terdiam menyimak.
"Huh, sekarang gue tanya Lo!! Lo suka sama Mimi??" tanya Bryan.
Degg semua orang tercengang akan penuturan Bryan.
"Apa maksud Lo sebenarnya Bry?" tanya Dillah.
"Hah, jawab aja Dil. Lo suka kan sama Mimi? jika Lo suka terus kemana komitmen Lo dengan cewek yang Lo cari itu!." Bryan terus memojokkan Dillah dan Dillah !masih berusaha bersikap tenang karena dirinya pun tak tau akan perasaanya.
"Jawab Dil!!" ucap Bryan dengan suara yang tinggi.
Semua sahabat pun mengambil kesimpulan kalau masalah ini adalah masalah hati. Masalah hati yang belum tau harus kemana berlabuh dan siapa pemiliknya.
"Nggak bisa jawab kan Lo. Lo munafik Dil." ucap Bryan.
"Apa Lo menyukai gadis berhijab itu juga Bry?" tanya Yogi.
"Maksud Lo apa nanya gitu Gi?" tanya Satria.
"Yah gue merasa ada saingan nya lah." ucap Yogi nyeblak. Sontak semua mata tertuju ke arah Yogi.
"Lo suka ama Mimi?" tanya Satria.
__ADS_1
"Iya siapa sih nggak suka sama dia. Ceweknya manis, keibuan lagi wajahnya, orangnya lembut dan kalem lagi " ucap Yogi dengan sambil menghayal wajah Mimi.
"Dasar otak ngeres." ucap Satria dengan menoyor kepala Yogi.
"Aduh sadis Lo Sat, ah Lo membuyarkan bayangan wajah nya." ucap Yogi. Semua terdiam akan tingkah laku Yogi.
"Hmm Bry, apa Lo suka sama Mimi?" tangan Dillah dan semua mata memandang mereka berdua kembali.
"Menurut Lo!! bukannya udahngue bilang gue suka sama dia dari awal kita ketemu dia." ucap Bryan, yah Bryan selalu bilang kalau dia menyukai gadis berhijab itu yang takmlain adalah Mimi.
"Hah jadi apa yang lo katakan selama ini itu serius Bry??" tanya Yogi dengan kocaknya.
"Gue kira Lo cuma ngegombal aja Bry, secara Lo kan jagonya." ucap Yogi lagi dan membuat Bryan menatapnya murka.
"Bry, kenapa Lo nyangka Dillah suka sama Mimi?" tanya Reno.
"Yan karena dia nikung Mimi dari gue. Lo Lo pada mau tau kemana dia pergi tadi lagi sampe telat ke kampus!!" ucap Bryan sambil menatap temannya satu-persatu. Sontak semua temannya pun menggeleng dan menunggu kelanjutannya.
"Dia.. Dia pergi sama Mimi berdua." ucap Bryan dengan emosi ditahan.
"Darimana Lo tau??" tanya Satria.
"Karena gue melihatnya dengan mata kepala gue sendiri." ucap Bryan dengan menatap Dillah tajam.
"Apa betul Dil?" tanya Reno. Dillah pun terdiam.
"Diamkan Lo, munafik Lo Dil." ucap Bryan dengan mendorong tubuh Dillah.
Yah Bryan melihat Dillah pergi berdua pagi ini. Bryan yang habis sarapan di cafe depan kampus dan menuju parkiran sekilas dia melihat seorang gadis berhijab berjalan menuju halte.
Awalnya dia tidakntaunsiaoa gadis itu namun membuatnya penasaran dan akhirnya dia pun menajamkan dan memfokuskan pandangannya ke aeah gadis tersebut.
Bryan sangat senang ternyata yang dilihatnya adalah gadis yang disukainya. Senyum telah mengembang dan dia pun buru-buru masuk kedalam mobilnya.
Karena posisinya bersebrangan maka Bryan harus memutarkan mobilnya mengikuti rambu-rambu di saat dia telah memutar arah dan dia sedang mengemudikan mobilnya dengan sangat bahagia itu mendadak redup karena ternyata dirinya terlambat menghampiri gadis pujaan hatinya.
Dilihatnya dari jarak yang tak begitu jauh, Dillah memegang tangan Mimi agar tidak menaiki angkot. Bryan yang melihat itu langsung berdesir darahnya, rasa amarah dan cemburu menguasai dirinya.
Dia ingin mengikuti mobil Dillah namun mobilnya terhalang oleh bus yang berhenti di halte tadi.
Cemburu merupakan perasaan natural yang muncul di setiap diri manusia, bahkan sejak kecil. Meski kebanyakan orang mengaitkannya dengan hubungan percintaan, rasa cemburu sebenarnya bisa terjadi di berbagai latar kehidupan, termasuk pertemanan dan pekerjaan atau ranah profesional.
Cemburu juga merupakan perasaan yang kompleks. Sehingga, orang yang merasakannya terkadang bingung sendiri terhadap emosi yang sedang memenuhi hati dan pikirannya.
Perasaan ini dapat memicu timbulnya berbagai emosi, mulai dari curiga, marah, takut, hingga malu. Perasaan ini bisa dialami siapapun baik itu tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.
Perasaan cemburu biasanya datang saat ada orang ketiga yang datang dan dirasa dapat mengganggu kestabilan hubungan. “Ancaman” yang keluar dari orang ketiga ini pun sebenarnya tidak selalu nyata. Inilah yang dirasakan oleh Bryan.
Rasa cemburu dalam hubungan antar pasangan/ persahabatan sebenarnya adalah reaksi yang wajar dan normal. Hal ini sering diartikan sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pasangan/persahabatan.
Namun tentu saja, cemburu sebaiknya berada dalam batas wajar, sehingga bisa menjadi penguat hubungan. Sebaliknya, terlalu sering merasa cemburu malah bisa membuat hubungan menjadi tidak nyaman bahkan memicu pertengkaran.
Agar tidak memburuk dan hubungan tetap langgeng, kita bisa mengatasi rasa cemburu tersebut, di antaranya:
Identifikasi Perasaan
Saat perasaan cemburu datang, jangan terlalu melawannya. Sangat penting untuk mengidentifikasi perasaan dan pahami bahwa perasaan tersebut bersifat alami dan normal. Setelah itu, tidak ada salahnya untuk mengakui perasaan cemburu dan sampaikan apa penyebabnya pada pasangan setelah emosi reda. Hindari mengambil keputusan atau bertindak nekat saat sedang cemburu, apalagi melampiaskan emosi negatif tersebut pada sembarangan orang.
Cari Tahu Faktanya
Tak jarang, cemburu bisa datang tanpa alasan yang jelas alias cemburu buta. Dalam banyak kasus, cemburu seringnya muncul karena hal-hal sepele yang terlalu dicurigai. Maka dari itu, cobalah ketahui fakta yang ada dengan sebenar-benarnya agar perasaan cemburu tidak berlanjut dan membuat hubungan dengan pasangan menjadi renggang. Hindari curiga berlebihan.
Beri Waktu
Cemburu adalah jenis emosi negatif. Saat kamu atau pasangan atau sahabat kita diselimuti perasaan ini, coba beri waktu dan jarak. Setelah perasaan lebih seimbang dan emosi mereda, coba bicarakan masalah yang terjadi. Hadapi persoalan dengan kepala dingin dan objektif, bicarakan mengenai penyebab rasa cemburu tersebut, dan minta kejujuran dari Si Dia.
Komunikasi yang Baik
Kunci dari menjalani hubungan tanpa rasa cemburu berlebih adalah komunikasi yang baik. Daripada menaruh curiga dan uring-uringan, coba sampai dengan jujur mengenai perasaan atau kecurigaan pada pasangan. Nyatanya, komunikasi yang baik juga akan membuka diskusi tentang keinginan dan bagaimana kelanjutan hubungan yang diinginkan.
Bryan cemburu buta terhadap sahabatnya Dillah, dia langsung menghakimi Dillah tanpa meminta kejelasan pastinya sehingga hal tersebut merugikan dirinya sendiri dan merenggangkan tali persahabatan mereka.
__ADS_1
Apakah Bryan dan Dillah akan kembali seperti semula??? kita lanjut di bab berikutnya ya??🙎🙎
----tbc----