
Keesokan pagi, Mimi di jemput oleh Dillah. Maryam dia pergi lebih dulu menggunakan motor Mimi.
"Assalamualaikum" ucap Dillah yang sudah berada di kontrakan Mimi.
"Waalaikum salam" jawab Maryam yang kebetulan sedang mengeluarkan motor.
"Eh pak Said, mau jemput dokter Mimi ya pak?" tanya Maryam.
"Iya," jawabnya dengan senyum.
"O bentar ya pak, dokter Mimk tadi lagi kebelakang sebentar." ucap Maryam.
"Iya, kamu mau berangkat kerja." tanya Dillah.
"Iya pak, saya duluan ya. Maaf saya nggak ngizinkan baoak masuk, ndak enak di lihat orang." jawab Maryam.
"Iya ndak apa, saya tunggu disini saja." ucap Dillah.
"O yaudah kalau gitu saya duluan ya pak. Assalamualaikum." ucap Maryam.
"O iya silakan hati-hati, waalaikum salam." jawab Dillah, Maryam pun langsung pergi menuju rumah sakit Nurani Bunda.
Tak lama Mimi oun keluar dan tersenyum melihat Dillah menunggu nya diluar.
"Maaf ya kang, lama nunggunya." ucap Mimi.
"Ndak apa, kamu sudah siap?" tanya Dillah. Mimi mengangguk dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
*
Hari berlalu Mimi kembali jalan dengan Dillah, namun perasaan yang Mimi rasakan sama Dillah sudah hambar, hampa.
Mimi selalu mencari alasan agar dia tidak terlalu bertemu dengannya, Mimi membuat jadwal operasinya kembali, mungkin Allah pun akan merestui dirinya untuk menjauh secara perlahan-lahan denagn di berikan pasien yang memang memerlukan tindakan operasi.
"Dek, kamu kok makin hari makin sibuk sih?" Dillah protes dengan kesibukan Mimi dalam panggilan telpon
"Inilah perkerjaan Mimi yang sebenarnya." jawab Mimi dengan senyum.
"Terus kapan ada waktunya untuk aku yank?" Dillah terus protes meminta waktu.
"Huum huh, maaf kang. Ini adalah tugas Mimi jika meluangkan waktu sedikit taruhan nyawa karena pasien-pasien Mimi memang membutuhkan tindakan itu."
"Kenapa akang protes? anggap aja itu ujian akang sebelum menjadi suami seorang dokter dan anggap aja Allah sedang !e!berikan balasan karena akang sebelumnya juga begitu." ucap Mimi
"Tapi kan beda yank, aku melakukan itu karena memang super sibuk dan mengejar target buat masa depan kita nanti." ucapnya membela diri dan membuat Mimi kesal sampe ubun-ubun dengan alasan tak masuk akal menurut Mimi dan membuat Mimi berulang kali menarik nafas dalam
"Apa beda nya dengan Mimi? ini juga perkerjaan Mimi, udah ya kang Mimi mau makan dulu setelah itu mau maaukmlagi keruang operasi. Yang terpenting Mimk selalu mengabari akang. Assalamualaikum" jawab Mimi dan langsung memutiskan panggilan sepihak.
"Yank tungg,,, waalaikum salam." ucap Dillah.
"Kenapa aku merasa kau !menghindari ku yank." ucap Dillah dan dia pun merenungkan ucapan demi ucapan Mimi padanya.
Dua bulan sudah berlalu hubungan Mimi dan Dillah yang terasa hambar, sampai saat ini pula Mimi belum menceritakan perihal riset serta pendidikan nya ke depan pada Dillah.
Entah mengapa hati Mimi enggan untuk menceritakan padanya, lebaran idul adha pun sebentar lagi, Mimi mendapat kabar jika Selfia menikah sehari setelah hari raya itu karena calon suami nya akan pergi untuk menyelesaikan bisnis nya dinluae negeri dan resepsi nya akan mereka gelar di akhir tahun.
"Yah Fi, kalau sehari lebaran mana terkejar Fi, kamu kebiasaan seh kalau ngasih taunya dadakan gitu." sungut Mimi lada Selfia di sambungan telpon.
"Ya mau gimana Mi, pihak keluarga mintanya gitu dan abang juga harus menyelesaikan kerjaannya segera"
"Yah kalau gitu !aafin Mimi ya ndak bisa hadir, emmm soalnya sehari sebelum lebaran itu Mimi masih melakukan tindakan operasi." ucap Mimi.
"Iya ndak apa, tapi resepsi datang ya." ucap Selfia.
"Kapan pula itu resepsi nya Fi?" tanya Mimi sambil memeriksa rekam medis.
"Insya Allah akhir tahun ini Mi." jawab Selfia.
"Ya Tuhan Fi, maaih insya Allah. Nanti berubah lagi dan tunggu akhir tahun ya.. Emm kayaknya emang Mimi tidak bisa hadir ke acara pernikahan Selfia." ucap Mimi dan menghentikan kegiatannya ketika mendengar Selfia menyebutkan akhir tahun.
"Kenapa Mi? itu jaraknya jauh Lo swlfia kasih tau, dari akad aja satu bulan jaraknya atau memang Mimi nggak ada niatan mau datang lagi." ucap Selfia.
"Emm bukan gitu Fi, emm soalnya Mimi sudah terdaftar kenteam riset jantung dan berangkatnya di akhir tahun ini." jawab Mimi.
"Riset jantung? jangan bilang kamu salah satu anggota tim riset yang akaan dikirim ke LA?" ucap Selfia, Mimi mengangguk walau swlfia tak bisa melihat nya.
"Mi" panggil Selfia karena Mimi tak menjawabnya.
"Eh, iya Fi. Mimi salah satunya mewakili negara kita." jawab Mimi.
__ADS_1
"Yah Mi.." ucap Selfia lesu.
"Maafkan Mimi ya." ucap Mimi.
"Emm ya mau gimana lagi, Fia minta mentahannya saja kalau gitu." ucap Selfia.
"Heleeeh dasar matre, istri Sultan minta mentahan dari dokter pencakar rezeki." ucap Mimi dengan candanya.
"Heeeheee yang sultan kan laki Fia Mi, dia mah masih fia yang dulu. Fia kangen masakan Mimi." ucapnya dan ujung-ujungnya selalu makanan.
"Ohnya Mi, kamu dengan kak Dillah gimana? kenapa sih Mi kamu terima dia lagi macam tak ada laki-laki lain aja." ucap Selfia dengan bersungut-sungut.
"Hemm ndak tau juga Fi, ya beginilah rasa nyeri hambar Fi." ucap Mimi.
"Putusin aja lah Mi, kembali ama yang lama aja" ucap Selfia yang terkesan serius di balik telpon.
"Yang lama itu siapa Fi?" tanya Mimi.
"Ya kak Syahril lah, secara dari cerita Mimi itu ya.. Emm Fia bisa menangkap kalau kak Syahril itu masih cinta sama Mimi." ucap Selfia dengan duduk bersila dan seakan mukanya serius !menerawang.
"Sejak kapan Fi suka meramal?" tanya Mimi.
"Ckk Mimi mah, pokonya Selfia akan bantu ya walau hanya bantu dengan do'a ya allah semoga Mimi tak bersatu dengan laki-laki yang plin-plan itu ya Allah." ucap Selfia mendramatisir.
"Kamu ini Fi Fi ada ada aja." jawab Mimi.
"Aminin napa Mi." ucap Selfia.
"Amin, udah dulu ya Fi Mimi mau masuk ke ruang operasi lagi." jawab Mimi.
"Emm yaudah, sukses selalu ya Mi, assalamualaikum." ucap Selfia.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan Mimi pun segera ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengambil wudhu.
Saat selesai berwudhu dan baru keluar kamar mandi, hpnya berdering dan tertera nama Dillah. Mimi tidak mengangkat nya dan langsung keluar dari ruangannya mengejar waktunya.
"Dok, hpnya berbunyi." seru asisten nya.
"Kamu angkat aja Mar dan bilang saya lagi di ruang operasi." jawab Mimi dengan langsung melangkah dengan salah satu suster yang akan ikut dalam ruang operasi.
Hari-hari Mimi menjelang hari raya dan menjelang dia berhenti di tiga rumah sakit ini, dia menyibukkan diri mengabdi kepada ketiga rumah sakit ini.
Mimi hanya ingin menyelesaikan tugas-tugas nya dengan baik menjelang dirinya pergi dari negara tercinta nya, walau keberhentiannya ini sudah ada drama dari bos besar namun tikad Mimi telah bulat akhirnya sang bos lun tak bisa menahannya.
Hari raya kurban, ketiga rumah sakit menyembelih hewan qurban dan begitu pula pihak rumah sakit Nurani Bunda. Beberapa ekor sapi dan kambing mereka qurbankan dan sebagian mengatasnamakan para tim medis nya.
Begitu banyak Mimi kebagian hewan qurban, dari ketiga rumah sakit itu. Mimi hanya mengambil seperempatnya saja da n selebihnya Mimi bagi-bagi ke makwo, Maryam, Andre dan teman-temannya.
Hari raya idul adha Mimi tegap masuk kerja karena ada pasien darurat yang memerlukan tenaga nya sehingga hal itu lagi-lagi membuat Dillah protes pada dirinya.
"Yank, ini lebaran Lo. Masa nggak ada liburnya?" ucal Dillah.
"Maaf kang, akang dengar sendiri kan tadi di telpon. Ini pasien darurat kang, bukan hanya main injeksi tali majn bedah." ucap Mimi yang sambil bersiap-siap
"Terus kalan ada waktunya kamubuntuk istirahat, untuk aku juga." ucapnya.
"Maaf kang, Mimi tau maksud akang baik. Tapi nyawa pasien lebih diutamakan, emm akang mau antar ataunmaaih tetap disini." ucap Mimi dengan menyindir karena Dillah enggan beranjak dari duduknya.
"Yaudah ayok" ucapnya
Sesampainya di rumah sakit, Mimi langsung turun dari mobil Dillah ketika Dillah berhenti tqknluoa Mimi menyalaminya terlebih dahulu dan tanla ba-bi-bu Mimi langsung melesat pergi masuk kedalam ruangan UGD.
"Bagaimana?" tanya Mimi.
"Ini dok." ucap suster dan dokter jaga memberikan rekam medis pasien.
"Emm yaudah siapkan ruang operasinya." ucap Mimi.
"Sudah dipersilakan dokter, ini kami akan membawa pasien langsung keruang operasi.
Para tim medis lainnya juga telah bersiap-siap karena pasien kali ini cukup serius karena mengalami luka tembakan dan peluru telah bersarang dekat jantung pasien.
Mimi selalu heran dengan permainan orang-orang kaya, mainan mereka peluru dan senjata tajam.
Tiap harinya selalu ada saja pasien dengan luka dari senjata tajam dan pasien-pasien yang seperti itu selalu hadir kala Mimi sedang bersua dengan Dillah.
Seakan Allah akan membantu Mimi untuk menjauh dari Dillah, setiap mimi sedangbjakan dengan Dillah Mimi selalu mendapat telpon dari pihak rumah sakit bahasa ada pasien gawat darurat
Terkadang hal itu membuat Dillah tidak percaya, Dillah beranggapan kalau itu hanya lah sebuah taktik Mimi untuk menghindari nya.
__ADS_1
"Kamu jangan bohong deh ya k, masa iya tiap kali kita jalan selalu ada telpon dari rumah sakit. Bilang aja kamu berusaha meghindari aku kan." ucap Dillah.
"Nggak ada waktu untuk debat, mau antar Mimi sekarang dan lihat sendiri disana atau tidak." jawab Mimi yang sduah merasa jengah dengan sikap Dillah yang semakin hari menampakkan keegoisan nya.
"Cepetan" ucap Mimi dengan suara meninggi.
"Yank, bisa nggak sekali aja yank, lepaskan dulu jabatanmu itu disaat kita berdua yank, kasih aku waktu kamu." ucap Dillah.
"Terserah akang mau anggap Mimi apa dan bagaimana, bagi Mimi nyawa pasien utama, jika pasien sampai kolaps maka hancurlah karirk yang mimj bangun swlama ini dengan jerih payah Mimk dan do'a mamak Mimi. Kalau akang masih mau disini silahkan."
"Dan satu ingat lagi, jabatan yang Mimi dapatkan hingga saat ini semua atas berkah doa orang tua Mimi dan Mimk tidak akan menyiakan berkah dari mereka. Assalamualaikum." ucap Mimi dengan langsung mengambil tasnya dan berlari mencari ojek.
"Aachhh" Dillah berteriak dengan menghempaskan Dogan dihadapannya.
" Kapan kamu luangkan waktu untuk aku Mi, kenpa semakin hari aku merasakan kalau kamu hanya menghindari ku."
"Ya Allah." teriaknya di pinggiran pantai.
Akhirnya Dillah mengikuti Mimi kerumah sakit dan disana baru dia lihat bagaimana pasien yang di kabarkan lewat telpon tadi bersimbah darah dan tengah di dorong !enuju ruang operasi.
"Eh pak Said." ucap Maryam yang mendaoat shift malam ini.
"Iya Mar kamun masuk juga?" tanya Dillah.
"Iya pak, saya masuk shift malam." jawabnya.
"Pak Said mau ketemu dokter Mimi? dokter Mimi sudah masuk ruang operasi pak." ucap suster asisten Mimi.
"Oh gitu ya, ala pasien itu yang akan di operasi?" tanya Dillah dengan menunjukkan ke arah brangkar pasien yang didorong.
"Iya pak, pasien luka senjata tajam akibat tawuran." ucal sang asisten Mimi.
"Oo yaudah sana kamu kerja." ucap Dillah.
"Iya pak, mari Pak." ucal asisten Mimi.
"Maafkan aku dek," Gumamnya seraya melangkah ke luar.
Bulan akhir tahun pun telah tiba dan Mimi berada di kota ini, rumah sakit ini tinggal hitungan hari.
Mimi telah menyerahkan surat pengunduran dirinya, namun Mimi masih tetap berkerja hingga akhir tahun.
Mimi sangat bersyukur karena keberangkatan tim riset jantung di undur hingga pertengahan bulan awal tahun depan. Ada rasa bahagia di hati Mimi kala mendengar jika keberangkatan di tunda karena Mimi bisa menghadiri pesta sang sahabat.
Setiap tanggal 22 desember, rumah sakit nurani bunda akan kedatangan bos besar mereka.
"Yank besok mami dan papi akan kesini. Besok kamu ada waktu nggak?" tanya Dillah kala mereka sedang makan siang bersama.
"Emm besok? emm bentar." ucap Mimk dan melihat tanggal dilayar hpnya.
"Besok tanggal 22 ya, emm besok nya sinagbataubmalam kang?" ucap Mimi dan bertanya.
"Yah kalau bisa kita siang bertemu mami papi dan sekalian makan siang bersama kita." ucap nya.
"Emm kalau siang Mimi nggak bisa kang, setiap tanggal itu rumah sakit nurani bunda selalu di kunjungi bks besar dan akan diadakan rapat tahunan tentang kinerja karyawan rumah sakit." ucap Mimi.
"Yah.. Kalau malam kamu free kan?" ucap Dillah, Mimi mengangguk.
Dillah semenjak malam itu dia mulai memawas diri dan dia mulai memahami perkerjaan Mimi dan dia juga merubah sikap nya.
"Yaudah, besok aku jemput ha." ucap Dillah dengan mengusap kepala Mimi hangat, Mimi mengangguk.
Akhir-akhir ini Mimi mempunyai banyak waktu luang sehingga dia bisa memberikan waktu nya pada Dillah, Dillah yang melihat Mimi ada waktu untuknya merasa bahagia, dia berjanji akan dirinya sendiri akan merubah sifat dan kepribadian nya.
Di malam hari Mimi menyiapkan baju yang akan dia bawa esok hari. Saat Mimi sedang menyetrika pakaian-pakaian nya, Mimi teringat akan sebuah dompet yang mana dompet itu ada secarik kertas yang telah lama disimpannya.
Mimi beranjak dari duduknya nya, Mimi bawa pakaian yang telah disetrika menuju lemari pakaiannya, setelah menyusun pakaiannya Mimi membuka laci di dalam lemarinya Mimk ambil dompet itu dan Mimi mengeluarkan selembar kertas yang masih terawat itu.
"Kenpa kau tiba-tiba hadir di ingatan ku?" ucap Mimk dengan selembar kertas yang dia pegang itu.
"Apa saatnya kau keluar dari dompetku ini?" ucap Mimi.
Akhirnya Mimi memasukkan selembar kertas itu kedalam dompetnya itu dan Mimi masukkan kedalam tas yang akan di pakainya esok hari.
Ada yang tau dengan lembaran kertas itu, Next ya ...
Jangan marah-marah dulu..
tbc
__ADS_1