
Mereka semua pergi ke mall menuruti kemauan dua gadis kecil keponakannya Ryan.
Karena malam ini adalah malam takbi, rata-rata jalanan padat di penuhi anak-anak muda setempat untuk menyuarakan takbir.
"Yah macet Om." ucap Dina kala baru keluar dari perumahan Mimi jalanan terlihat macet.
"Ya namanya malam takbiran Din." jawab Ryan.
"Kita lewat lurus aja ya Yan." ucap Syahril denagn fokus pada jalanan.
"Iya Riil, lewat buluran pasti tambah macet." jawab Ryan. perlahan namun pasti akhirnya mereka bisa melewati kerumunan anak-anak muda itu.
Sagu jam perjalanan mereka lalui, akhirnya mereka lun sampai di mall, ya walau mereka tidak jadi ke mall yang diinginkan kedua gadis kecil itu.
Jika menuju mall itu tentu pastinya mereka akan terjebak macet lebih panjang lagi.
"Kita disini saja ya." ucap Syahril kepada kedua keponakannya.
"Emang kenpa tidak di matahari saja Om?" tanya Tiara.
"Untuk kesana pasti tambah macet Ra, yang ada samalais ana mall tutup." jawab Syahril.
"Yaudah lah." jawab Tiara lesu.
Mereka semua lun turun dari mobil, dengan semangat empat lima dua gadis kecil itu langsung melesat menuju lantai atas.
Tak hanya dua gadis itu saja yang langsung melesat, Baiq pun begitu adanya, Baiq langsung menggandeng tangan Ay.
Ryan mengikuti kedua keponakannya itu, apalagi keadaan mall ini lumayan rame oleh pembeli.
Mimi berjalan beriringan dengan Syahril, Syahril melihat tangan Mimi yang terayun mengikuti langkah kaki terkadang tangan Mimi juga sibuk dengan ponselnya.
Perlahan Syahril !mendekatkan tangannya dan tak butuh lama tangan nya sudah bertautan dengan tangan Mimi.
Mimi yang merasa tangannya di genggam terdiam adar rasa yang aneh lada dirinya. Mimi terdiam melihat genggaman tangan itu, cetakan jantung Mimi berdetak tak beraturan.
Tak hanya Mimi, Syahril pun sama halnya dengan Mimi. Jantungnya berdetak tak beraturan, genggaman itu mereka rasakan lebih dari sebuah genggaman.
"Ya Allah, kenapa rasa genggaman ini seperti uang ada di dalam mimpiku." ucap Syahril dalam hatinya, Syahril semakin mempererat genggaman itu.
"Ya Allah, apa tangan yang diberikan lelakinitu adalah tangan orang yang selama ini menaungi hatiku." ucal Syahril seekaaki dia melihat ke arah Mimi.
Terlihat di wajah Mimi seperti merasakan sesuatu yang sama dengan Syahril.
"Ya Allah, genggaman ini.."
"Mass, apa Mimi telah salah pilih." ucap Mimi dalam hati, seketika dia mengingat akan ucapan Abizar.
"Ya allah jika Mimi salah pilih, Mimi mohon berikan petinjukmu, berikan jalan kebenaran untukku." ucap Mimi, terasa sesak di dadanya, jika mengingat akan genggaman serta ucapan Abizar yang kembali terngiang-ngiang ditelinga nya.
Sepanjang menelusuri mall itu, Mimi hanya diam. Mimi berusaha menenangkan hatinya. Hingga kedua gadis telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka lun memutuskan untuk kembali.
Namun karena jalanan masih macet karena adanya takbir keliling, mereka pun memutuskan berhenti di taman car free day.
Lagi-lagi kedua gadis kecil itu menikmati malam ini, mereka mulai menjelajahi kuliner yang dijajakan pedagang di taman ini.
Mimi dan Syahril duduk di sebuah kursi sambil menikmati bandrek hangat. Tak hanya bandrek mereka lun menyangka mie ayam bakso.
Saat Mimi meracik mie yam baksonya, Syahril menatap tangan Mimi yang terus mengaduk-aduk mie ayam baksonya. Saat Mimi selsai meraciknya, tanla sengaja manik Mimi melihat ke arah Syahril.
Seketika momen kebersamaan mereka dahulu pun hadir dalam ingatan mereka.
Mimk melihat Syahril menelan ludahnya saat Mimk mengaduk mie ayamnya. Mimi memberikan mie ayam nya yang sudah di racik sesuai seleranya kelada Syahril dan Mimk menarik mangkok Syahril jadilah mereka tukaran mie ayam.
"Ini, makanlah " ucap Mimi dengan memberikan mangkkk mie ayamnya pada Syahril. Syahril tersenyum dan mengangguk namun Syahril taknlangsung menyantapnya.
Syahril menatap kembali Mimi yang sedang meracik mie ayam milik nya tadi. Ingin rasanya dia mendengar mukut Mimi menawarkan diri untuk menyuapinya.
Mimi tau Syahril menatapnya dan mimj juga gau jika Syahril laagi sedang mengenang kebersamaan mereka dahulu. Pelan-pelan Mimi menyuqokan sendok yang berisi mie ayam ke dalam mulutnya.
Syahril lagi-lagi hanya bisa menaln air ludahnya, ingin Syahril menarik tangan Mimi yang memegang sendok itu dan ditujukan ke mulutnya.
Mimi yang sedang menyantap mie ayam merasa canggung karena Mimk tau kalau Syahril sedang melihat ke arahnya.
"Makanlah kak, tidak enak kalau sudah dingin." ucap Mimi gqnka melihat ke arah Syahril.
"Kakak sudah merasa kenyang melihat adik makan." ucapnya, Mimi menghelakan nafasnya. Mimi memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan perasannya.
Mimk terus menyantap mie ayamnya tanla memperdulikan Syahril.
"Dek" panggil Syahril.
__ADS_1
"Hmm nggak ada gitu niatan nyualin kakak." ucapnya. Mimi diam ada rasa tergelitik d dadanya mendengar Syahril berucap seperti itu.
"Tadi katanya kenyang " sindir Mimi denagn terus menyantap mie ayamnya.
"Kenyang sih, cuma kan mubazir dek mie ayam baksonya." ucap Syahril.
"Kalau mubazir ya dimakan lah " jawab Mimi.
"Emm tali entah mengapa tangan kakak serasa kram dek." ucapnya beralasan. Mimi menghentikan suapannya dan menarik nafas dalam.
Miminoun menyendokkan mie ayamnya kembali namun kali ini Mimi mengulurkan suapan itu pada Syahril, Syahril melihat itu merasa senang, diapun tersenyum.
"Makasih sayang." ucap Syahril.
Momen yang mereka berdua lakukan terulang kembali maka ini, yahnmqlqm ini bisa dikatakan sekarang mungkin berulang. Dina yang melihat Om nya disuapi oleh dokter Mimi nya, dengan cepat Dina memvideokan kanya.
Setelah selesai menyantap mie ayam bakso, mereka kembali duduk diam. Suara takbir terus bergema, mereak mengelilingi kota menyuarakan takbir dengan atribut khas takbir.
Mereka juga menghiasi mobil dengan hiasan khas hari raya. Syahril kembali menautkan tangannya di tangan Mimi. Mimi diam dan menoleh ke arah Syahril.
Syahril terus menggenggam erat tangan Mimi, Syahril ingin genggaman itu tidak akan pernah terlepaskan kembali. Mimi melihat genggaan itu.
"Mas tangan ini uangbkau berikan pada Mimi. Namun Mimk sudah salah mengambil tangan."
"Mas apa yang harus Mimi lakukan sekarang?"
"Mas pernah katakan, jika Mimi audah terlanjur akan memilih maka mas akan berdoa agar Allah memberikan jalan kebenaranya buat Mimi."
"Apa saat ini mas telah mendoakan Mimi?" ucap Mimi dalam hatinya.
"Ya allah, sungguh aku tidak mengetahui lelaki dalam mimpi ku itu."
"Lelaki yang memberikan sebuah tangan padaku, dan bila tangan yangbaku genggam ini yang dimaksud oleh lelaki itu. Aku mohon berikanlah kamimjakan untuk bersatu kembali.
Syahril melihat ke arah Mimi, Syahril melihat Mimi meneteskan air matanya.
"Dek" panggil syahril dan tangan satunya mengelus punggung tangan Mimi yang berada dalam genggamannya, Mimi yang mendengar Syahril memanggilnya, dengan cepat Mimi menghalus air mata yang telah jatuh di pipinya.
"Adek kenapa?" tanya Syahril, Mimi hanya menggeleng.
"Maafkan kakak kalau kakak salah." ucap Syahril lirih. Mimk hanya bisa mengeluarkan air matanya. Syahril yang melihat Mimi kembali mengeluarkan air mata kembali dengan sabar Syahril menghapus air mata itu dengan kedua tangan nya.
"Maafkan kakak bila kakak telah membjat air mata itu turun lagi." ucapnya.
"Kamu tau dek, genggaman tangan ini duku aejnga kakak lakukan. Namun genggam dukunyerasa beda dengan genggaman saat ini."
"Genggaman saat ini, kakak merasa menggengam sebuah amanah yang diberikan kepada kakak dari seseorang." ucap Syahril dan menjedah ceritanya. Syahril menatap Mimi begitupula Mimi menatap Syahril.
"Jujur kakak juga tidak tau siapa orang itu, yang jelas dia hadir dalam mimpi kakak berulang kali."
"Kamu tau dek, setiap sujud kakak, setiap istikharah kakak. Kakak selalu menyebut namamu." ucap Syahril dan tersenyum melihat ke arah Mimi.
"Kakak harap kamu tidak mengeluarkan air mata lagi seperti ini." ucap Syahril, Mimi menggeleng.
"Mimi tidak apa-apa." jawab Mimi dengan serak.
"Jika adek tidak kenapa-kenapa, kenapa adek menangis?" tanya Ryan.
"Mimi hanya merindukan maa Abizar." ucap Mimi dengan menyebutkan almh calon suaminya. Syahril tersenyum dan mengusap kepala Mimi.
"Kakak tidak tau siapa dia, tapi kakka merasa dekat dengannya." ucap Syahril, Mimi memandang Syahril dengan deraian air matanya.
"Jika kamu merindukannya, kirimkan lah dia do'a. Kakak yakin Allah akan mengijabah nya."
"Kakak tau, sebagian hatimu sudah terisi olehnya. Kirimkan lah dia do'a disetiap sujudmu dek." ucap syahril dengan bijak.
"Mimi selalu mendoakannya, setiap sujud Mimi, Mimk selalu menyebut namanya. Dia orang baik, dia selalu melindungi Mimi." ucap Mimi, Syahril hanya tersenyum sambil menggenggam erat tangan Mimi.
"Kakak tau." jawab Syahril.
"Adek tau, genggaman ini genggaman yang diberikan oleh seorang lelaki dalam mimpi kakak. Kakak tidak tau siapa Lelaki itu."
Deg jantung Mimi berdetak saat Syahril mengatakan jika genggaman itu adalah pemberian dari seorang laki-laki.
"Terlahir kakak berdoa sama Allah, kakka mohon untuk dipertemukan sama lelaki itu."
"Allah pun mengabulkannya dua malam lalu."
"Lelaki yang sangat tampan berlesung pipi seta hidungnya mancung, dia hanya tersenyum dan si berucap" ucap Syahril dan. melihat ekspresi Mimi.
"Lelaki itu berucap kuserahkan yang seharusnya menjadi hakmu, genggamlah dia namun bersabarlah." ucap Syahril.
__ADS_1
"Ya Allah jika genggaman ini adalah milikku maka berikanlah aku jalan kebenaranya." ucap Mimi dalam hati.
"Mas bangun Mimi." ucaonya Mimi lagi.
"Jika genggaman ini akan terputus kembali, kakak akan sabar untuk menunggunya kembali."
"Jika memang asek memilih dia sebagai pasangan hidup adek, kakak akan berusaha menerimanya."
"Kalau adek bahagia, mungkin itu susah Allah atur buat adek."
"Namun jika adek merasa tersakiti dan tidak bahagia, kembalilah.. Kakak disini tetap menunggu adek." ucap Syahril.
"Kakak akan menerima adek apa adanya, karena cinta kakak, hidup kakak hanya untuk adek " Syahril terus berucap dengan senyum yang tak pernah pudar di bibirnya.
"Seperti yang pernah kakak ucapkan dalam sumpah kakak. Hidup mati kakak hanya dek seorang." ucap Syahril.
"Jangan mengucapkan sumpah sembarangan" ucap Mimi.
"Kakak tidak mengucapkan sembarangan, kakak serius mengucapkan nya." jawab Syahril.
"Tidak baik, bagaimana kalau Mimi yang tiada duluan di dunia ini." ucap Mimi.
"Kakak akan berdoa sama Allah, agar dia juga mengirimkan malaikat untuk mencabut nyawa kakak." jawab Syahril.
"Tanpa melihat kamu, sebagian hidup kakak tiada artinya." imbuh Syahril.
"Kakak serius dengan segala ucapan kakak tadi."
"Bagaimana pun kedepannya nanti, apapun keadaan adek, kakak tegap mencintai adek."
"Kembalilah jika adek merasa tersakiti atau disakiti olehnya nanti."
"Kakak hanyabbjaa berdoa dan berharap, jika kita tidak dipersatukan di dunia ini, kakak harap Allah mempersatukan dan mempertemukan kita di Jannah nya." ucap Syahril.
Tanpa Mimi menyadari, Mimi memeluk erat tubuh Syahril. Mimi memejamkan matanya merasakan kenyamanan dan ketenteraman di dalam dekapan Syahril.
Syahril pum memeluk erat tubuh Mimi, dia juga menciumi puncak kepala Mimi.
"Ya Allah, jia dia jodohku persatukanlah kami" ucap dalam hati Syahril dan Mimi.
"Sudah malam, kkta pulang yuk " ucap Syahril, Mimi pun mengangguk.
Mereka berdua pun mencari keberadaan pasukan mereka tadi. Setelah menemukannya, mereka lun pulang. Syahril tak pernah melepaskan genggaman itu.
Baik Syahril maupun Mimi berharap genggaman tangan itu akan abadi selamanya untuk mereka berdua.
Satu jam perjalanan telah jam 12 malam, Mimi samlai dirumah nya. Syahril dan yang lain tak mampir lagi, karena hari semakin larut mereka lun langsung pamit pulang.
Sebelum Mimi tidur, Mimi membersihkan dirinya dan tqknluoa untuk berwudhu.
Seperti sebelumnya Mimi selalu terbangun di sepertiga malamnya, di sepertiga malam ini Mimi sholat tahajud serta istikharah meminta petunjuk dari Allah SWT.
Keesokan harinya, susqhbmenajdi tradisi setiap lagi sebelum pergi k masjid untuk sholat Ied, setiap orang mengantar makanan ke tetangganya. Di sini tetangga hanya adas sagu yang dekat.
Yah wilayah rumah Mimi kebanyakan rumah hanya di jadikan investasi dan dijadikan kos-kosan.
Sehingga di bahianlorknga rumah Mimi lebaran ini rumah yang terisi hanya rumah Mimi dan rumah tetangga yang akan masuk ke lorongnya.
Sehabis sholat Ied, Mimi dan Ay bersalaman memohon ampun maaf kepada kedua orang tua mereka. Setelah itu mereka juga bertandang ke rumah tetangga untuk bersilaturahmi.
Swluakmgbdaei rumah tetangga, rumah Mimi pun penuh di datangi oleh tamu dari teman kerja bapak, setakh tidak ada tamu lagi, Mimi dan keluarganya bersiap akan perginke lapas untuk bertemu dengan adiknya, takbluoa menu hari raya telah di bungkus oleh emak.
Sejujurnya Mimi tidak ingin pergi ke lapas ini, bukan Mimi membenci adiknya namun Mimi sedih melihat keluarganya di hari raya tidak bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi.
Sehabis jenguk adiknya, Mimi dan keluarga langsung pergi ke rumah Nyai nya. Di rumha Nyai semua sudah berkumpul dari anak cucu hingga keponakan Nyai pun ada di rumahnya.
Semua keluarga Mimi sudah mengetahui jika Syahril telah kembali. Mereka juga berharap agar Mimi bisa kembali bersatu dengan Syahril namun mereka semua tidak bisa memaksakan kehendak mereka.
Mimk selalu melihat layar ponselnya, seminggu sudah dia tidak menghubungi Dillah, begitupun Dillah tidak pernah berinisiatif untuk menghubungi Mimi terlebih dulu.
Terkadang dengan melihat Dillah seperti itu, Mimi terpaksa berbohong kepada keluarganya. Sering kali Mimi mengatakan kepada mereka kalau Dillah mengirim salam buat mereka, walau nyatanya Dillah tidak pernah mengucapkan hal itu.
Mimi ingin Dillah dipandang baik dimata keluarganya, namun semakin kesini Dillah seolah menjauhkan dirinya
"Ya Allah kang, sebenarnya kau serius dptidak dengan ucapanmu."
"Ya Allah jika dia jodohku, maka bukanlah mata hatinya agar dia melihat bagaimana keluargaku, jika bukan maka berikanlah kebenarannya agar kelak tidak ada yang merasa tersakiti." ucap Mimi dalam hati.
Mimk sangat berharap Dillah mengubungi nya dinharinnan Fitri ini, namun harapan tinggallah sebuah harapan semata.
tbc
__ADS_1