
Berkutat dengan tumpukan berkas, mengecek dengan teliti setiap laporan dari bawahannya, setelah dicek Mimi pun membubuhi tanda tangannya.
Perut mulai terasa lapar, Mimi beranjak dari kursinya menuju mini bar yang ada.
Di ruangannya sangat lengkap selain ada mini bar di dalam ruangan ini juga tersedia mini kitchen.
Mimi menerka jika semua ini di buat karena mungkin dulunya Abidzar lebih suka nginap di ruangannya.
Mimi membuka lemari pendingin nya, masih ada beberapa butir telur.
Mimi mengambil sebungkus mie goreng lalu Mimi memasak mi goreng tersebut sedikit berkuah dengan telur ceplok setengah matang. Tak lupa cabe rawit selalu menghiasi di setiap buliran mie.
Mimi menyantap sarapan nya dengan lahap, setelah selesai tak lupa dia membereskan dan mencuci piring serta peralatan masaknya tadi.
Dan setelah itu dia kembali berkutat dengan berkas-berkas.
Surti dan Jonathan telah berada di ruangan mereka, mereka pun mengerjakan pekerjaan mereka.
Surti yang tengah hamil itu terkadang merasa jenuh dan capek bila duduk terlalu lama.
Perkerjaannya telah di selesaikan nya, Surti beranjak dari duduknya.
Jonathan masih fokus menghadap laptop nya.
"Hon," panggil Surti, Jonathan berhenti sejenak dan melihat ke arah Surti.
Surti berjalan ke arah Jonathan. Setelah dekat dengan Jonathan, surti duduk di paha Jonathan. Jonathan pun memegang pinggang Surti.
"Ya honey, what happened? Apa ada yang sakit?" Tanya Jonathan. Surti menggeleng.
"Aku keluar dulu ya," ucapnya.
"Mau kemana?" Tanya Jonathan.
"Biasa, mau ke kamar twins." Jawabnya dengan senyum.
"Hemm, yaudah hati-hati" ucap Jonathan.
"Oke honey. Cup" jawab Surti dengan mengecup bibir Jonathan.
Jonathan tak menginginkan sekedar kecupan, dia pun menarik tengkuk Surti dan dia pun memperdalam kecupan itu menjadi ciuman yang sangat dalam.
Setelah puas mencium Surti, Jonathan melepaskan nya.
"Kau selalu begitu" ucap Surti ngos ngosan karena kekurangan oksigen.
"Habis bibirmu ini manis dan membuat ku candu." Jawab Jonathan dengan mengusap bibir Surti lembur.
"Hmm yaudah aku keluar dulu, lama-lama nanti menjalar kemana-mana." Ucap Surti yang langsung beranjak dari pangkuan Jonathan. Jonathan hanya tersenyum dan mengangguk.
Surti berjalan menuju kamar twins, Surti semenjak hamil dia sangat ramah. Setiap bertemu rekan kerja maupun pasien yang berpapasan dia selalu tersenyum dan bertanya-tanya.
"Hai ponakannya aunty. Assalamu' alaikum" ucapnya ketika telah berada di kamar twins.
"Wah lagi ***** ya sayang." Ucapnya ketika melihat si twins sedang menyusu lewat botol.
"Apa dokter Mimi tidak kemari?" Tanya Surti pada kedua perawat yang bertugas.
"Belum, Miss." Jawab mereka. Yah mereka tidak tahu bila Mimi tidur bersama si twins semalam.
"Oo gitu, kemari si Abang" ucap Surti dengan mengambil si Abang yang telah selesai menyusu.
"Eleh-eleh anaknya ciapa cih ini.." ucap Surti pada si Abang
"Engggg." Ucap si Abang menanggapi ucapan Surti.
"Pintar nya.. ummm" ucap Surti dengan mencium gemes pipi gembul si Abang.
Si Abang menatap Surti dengan tatapan tajam tak senang ketika Surti menciumnya gemes begitu dengan bibir mengkrucut.
"Eleh-eleh mulutnya muuach." Ucap Surti merasa lucu dengan bibir si Abang, lagi-lagi Surti mencium bibir si Abang dan itu membuat si Abang merengek hendak menangis.
Hek hek hek
"Cup cup cup kok malah nangis sih sayang cup cup cup jangan nangis ya.." ucap Surti dengan menimang si Abang.
Setelah puas bermain dengan si twins, Surti jalan-jalan melihat sekitar rumah sakit ini. Surti menuju kantin dan membeli camilan sehat.
Disaat dia sedang menikmati camilan sehatnya dia melihat Di'ah juga berada di kantin.
"Hai dek" sapa Surti.
"Hai mbak Surti, apa kabar?" Jawab Di'ah.
"Kamu apa kabar dek?" Tanya Surti.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik mbak, mbak apa kabar nih.. Wah dah besar aja perutnya." Jawab Di'ah.
"Alhamdulillah mbak sehat nih tambah gembul." Jawab Surti.
"Hahaha bisa aja mbak Surti nih." Ucap Di'ah.
"Kamu lagi free atau gimana nih?" Tanya Surti.
"Di bilang free sih nggak mbak, karena lagi senggang aku ke kantin. Bawaannya lapar." Ucap Di'ah, dia memesan burger dan hotdog halal ya.
"Kamu lagi isi dek?" Tanya Surti.
"Nggak mbak, ini aja lagi datang kok." Ucapnya.
"Emang kenapa mbak?" Tanya Di'ah.
"Nggak cuma mbak liat kamu itu beda aja." Jawab Surti.
"Nggak kok mbak, nih dah dua hari dapet." Jawab Di'ah sambil memakan burgernya.
"Ayok mbak makan, nih." Ucap Di'ah dengan mendorong piring berisi hotdog.
"Nggak makasih, nih mbak dah pesan sandwich hehehe" ucap Surti dengan menunjuk piringnya yang tinggal dua potong sandwich.
"Hehe dah berapa potong tuh mbak?" Tanya Di'ah dengan candaan.
"Emm dah tiga potong." Jawab Surti.
"Wah belum kenyang mbak?" Tanya Surti.
"Emm belum, semenjak hamil bawaan laper dan pengen ngunyah mulu" jawab Surti.
"Oh ya dek, kokbak lihat kamu jarang jalan sama Mimi." Tanya Surti. Di'ah diam dan kemudian tersenyum.
"Emm iya mbak, aku sekarang kan jadwalnya berubah mbak. Jadi ya belum ketemu sama Mimi nya." Jawab Di'ah
"Oh kirain mbak kalian ada masalah sampe jarang keliatan berdua." Ucap Surti.
"Nggak kok mbak, sekarang jadwal ku pagi di rumah sakit siang baru ke kampus. Jadi ya kadang nggak bertepatan dengan jadwal Mimi." Ucapnya.
"O emm iya ya.." ucap Surti.
Setelah sarapan mereka selesai. Surti dan Di'ah pun berpisah kembali. Di'ah kembali menjalani tugasnya.
Entah kenapa saat masuk ruangan operasi Di'ah merasa pusing mencium bau obat-obat.
Di'ah berusaha menguatkan dirinya dengan berulang Ki menarik nafas dalam.
Di'ah tidak ingin lalai dalam tugasnya. Walau keringat terus bercucuran karena menahan rasa pusing dan mual, Di'ah terus menjalankan tugasnya mendampingi dokter hingga beberapa jam operasi pun selesai.
Saat terakhir tindakan dan dokter pun telah selesai, Di'ah yang sudah tidak tahan tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.
Dokter serta rekannya yang ikut dalam tindakan tersebut turut membantu Di'ah.
Di'ah dibawa keruangan observasi, Di'ah pun langsung mendapatkan tindakan.
Tekanan darah yang rendah, mengharuskan Diah untuk di cek secara berkala.
Cek berkala pun telah Di'ah jalankan, dari pemeriksan serta tes darah dan urin.
Dari hasil sementara melalui tes urin, Di'ah dinyatakan sedang mengandung sehingga Di'ah pun diharuskan dirawat inap karena tekanan darah yang rendah.
Di'ah telah berada di dalam ruang rawat inap, hasil cek semua baik-baik saja, hanya saja Di'ah dinyatakan positif tengah mengandung.
Di'ah dibantu sesama rekannya ke ruangan obygyn untuk pemeriksaan lanjutan.
"Hello Miss Ryan, apa kabar?" Tanya sang dokter obygyn.
"Hai dok, Alhamdulillah baik." Jawab Di'ah.
"Oke, kita cek dulu ya. Mari kita naik ke atas bed nya dulu." Ucap dokter seraya meminta Di'ah naik ke atas ranjang.
Dokter di bantu perawat. Perawat menyibak pakaian Di'ah dan menaruh gel di atas perutnya.
Dokter pun menaruh alat transducer ke atas perut Di'ah. Perlahan dokter menggerakkan alat tersebut sampailah dimana terdapat bulatan kecil di dalam perut Di'ah.
"Nah lihat Miss Ryan, ada si buah hati disini." Ucap si dokter dengan menunjuk ke layar monitor kepada Di'ah, Di'ah terharu merasa bahagia karena dia akan segera menjadi seorang ibu.
"Disini belum terlihat jelas ya Miss, ukurannya masih sebesar biji beras ya seperti bentuk kecebong. Ini diperkirakan usianya enam Minggu."
"Walau masih kecil organ-organ seperti mata, hidung, lengan dan kaki janin sudah mulai terbentuk"
"Otak paru serta sumsum tulang belakang dan tulang punggung juga sudah terbentuk dan berkembang. Begitu pula dengan detak jantungnya, apa Miss mau dengar?" Ucap dokter menjelaskan bentuk dan perkembangan janin yang berusia enam Minggu itu, Di'ah mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter pun meletakkan alat nya untuk mendengarkan suara detak janin tersebut.
__ADS_1
Alunan nada dari detak jantung mengalun begitu merdu, semakin mengalir air mata Di'ah.
"Nah ini detak jantungnya, karena usia nya masih belia maka detak jantungnya terdengar sebanyak 160-180kali per menit." Ucap dokter.
"Dah selesai." Ucap dokter dan langsung mengeprint hasil USG nya.
"Mari Miss" ucap dokter seraya kembali ke mejanya. Di'ah pun ikut kembali duduk di kursi nya semula.
"Ini resep vitamin buat Miss, karena kehamilan trimester awal ini rawan maka Miss harus menjaga kesehatan. Atur pola makan serta pola istirahat nya ya. Makanlah makanan bergizi dan lakukan pemeriksaan secara rutin tiap bulannya." Ucap dokter dengan memberikan kertas resep vitamin kepada Di'ah.
"Makasih dok." Jawab Di'ah.
"Sama-sama, semoga ibu dan janin sehat selalu." Ucap dokter.
"Kalau begitu saya permisi dok, makasih sebelumnya. Selamat sore." Ucap Di'ah.
"Sore Miss" jawab dokter.
Di'ah pun keluar dari ruang obygyn di pegang nya hasil USG nya menuju ruang rawat inap ya.
Bahagia terharu serta sedih yang dirasakan Di'ah saat ini, sambil melihat hasil USG Di'ah mengelus perut ratanya itu.
"Selamat datang sayang, sehat selalu ya sayang nya bunda." ucap Di'ah dengan terus mengelus perutnya.
"Kak, keinginan kakak terkabul." ucapnya lagi, yah Di'ah terkenang akan ucapan Ryan saat beberapa minggu lalu saat mereka telponan kalau Ryan menyangka dirinya hamil karena Ryan mengalami pusing mual dan muntah.
Mimi yang telah menyelesaikan pekerjaannya merenggangkan otot-otot nya dengan mengangkat kedua tangannya serta ditarik perlahan sehingga terdengar suara kreek kresek kreek setelah itu dia beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak sambil menunggu waktu Dzuhur.
Lima belas menit waktu istirahat nya, Mimi pun masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri dan mengambil wudhu.
Beberapa belas menit lagi waktu Dzuhur tiba, Mimi pergi ke kamar twins. Yah Mimi akan menggunakan waktu itu untuk mengaji dekat twins.
"Assalamualaikum anak-anak nya mommy." ucap Mimi ketika sudah berada di dalam kamar twins.
"Siang sust" ucap Mimi.
"Siang Dok." jawab mereka.
"Apa kabar nih?" tanya Mimi
"Baik Dok." jawab mereka.
Mimi melihat twins sedang mengayunkan tangan mereka di atas ranjang, Mimi mendekati mereka dan langsung menciumi pipi gembul mereka satu per satu.
"Assalamualaikum sayang." ucap Mimi lagi mengucapkan salam.
Einnggg ucap mereka dengan senyum.
Mimi mengambil mini Al-Qur'an nya, Mimi membaca basmalah dan setelah itu Mimi pun mulai mengaji. Mata-mata jernih itu melihat ke arah Mimi, mereka diam dengan mata terus menghadap ke Mimi.
Mimi mengaji hingga terdengar suara adzan barulah Mimi berhenti. sebelum beranjak dari kasur Mimi mencium si twins dan menyalami serta cium tangan mereka.
setelah adzan selesai Mimi melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat terlebih dahulu barulah Mimi menjalankan sholat wajib setelah nya dan di akhiri dengan sholat Sunnah kembali.
Sehabis sholat Mimi memberikan ASI-nya terlebih dahulu kepada twins sebelum dia kembali berkerja.
Tepat jam setengah dua Mimi telah selesai bermain bersama twins sambil memompa ASI, twins juga telah terlelap barulah Mimi berangkat kerja tak lupa berpamitan dan memberi pesan kepada perawat yang berjaga.
"Titip twins ya sust." ucap Mimi.
"Sudah kewajiban kami Dok untuk menjaga twins." jawab mereka.
Mimi pun segera keluar kamar twins menuju lobi. Mimi memberhentikan taksi dan berangkat menuju rumah sakit D yang berjarak kurang lebih hampir empat puluh lima menit dari rumah sakit Abidzar.
Tak ada rasa lelah atau pun bosan yang Mimi rasakan. Mimi merasa bahagia menjalankan semua ini apa lagi jika tindakan yang dilakukan nya berjalan lancar tanpa hambatan.
Sesampainya di rumah sakit D Mimi beristirahat sejenak di ruangannya sebelum menuju ruang operasi.
Kali ini Mimi melakukan tindakan pencangkokan jantung untuk anak usia sepuluh tahun.
Anak ini mengalami gagal jantung sedari bayi, selama ini anak ini hanya mengkonsumsi obat-obatan dan setelah ada pendonor jantung yang cocok barulah saat ini dilakukan pencangkokan.
Empat jam berlalu, operasi yang dijalani Mimi lancar dan berhasil. Pasien telah di bawa keruang observasi untuk melihat perkembangan beberapa jam kedepannya sebelum di pindahkan ke ruang rawat.
Setelah menangani operasi Mimi melakukan visit ke pasien rawat inap lainnya setelah itu Mimi membuat laporan perkerjaannya. Jam sepuluh malam barulah Mimi pulang, Mimi tidak pulang apartemennya, Mimi kembali pulang ke rumah sakit Abidzar.
Seperti sebelumnya sebelum ke kamar twins Mimi membersihkan diri nya terlebih dahulu. Mimi melihat wajah teduh twins yang terlap. Malam ini tak ada obrolan dengan sang suster karena Mimi sangat merasa mengantuk.
Aktivitas Mimi selalu sama bangun seperti biasa, sholat Sunnah, mengaji bersama twins dan mengobrol sedikit bersama para perawat twins setelah itu sholat Subuh, memberi ASI pada twins dan kembali berkerja dengan berkas-berkas.
Untuk beberapa hari kedepannya Mimi akan banyak luang waktu untuk twins nya karena dia tidur di kamar twins serta berkerja di rumah sakit ini.
Dua hari berlalu, hingga saat ini Mimi tidak mengetahui kondisi Di'ah karena hari-hari Mimi disibukkan dengan berkas, operasi dan twins.
Beberapa hari ini pun Mimi tidak bertemu dengan mbak Surti, entahlah seolah waktu belum memberi izin untuk dirinya bertemu sahabat serta kakak angkatnya.
__ADS_1