
Empat bulan berlalu, Mimi dan Di'ah melakukan aktifitas mereka seperti biasanya, kuliah dan kerja.
Semenjak mbak Surti menikah, Mimi tinggal seorang diri di apartemen nya. Mimi sudah mengajak Di'ah untuk tinggal bersama, namun Di'ah tidak mau dengan alasan yang tiap malam tertentu Ryan selalu mengubungi nya.Tak hanya Ryan, Syahril pun sama hal nya.
Carol pun bila di ajak hanya sesekali dia menginap di tambah saat ini mbak surti sedang hamil muda jadi dirinya lah yang menjaga mbak Surti.
Syahril dan Ryan juga telah 4bln di sebuah dusun yang terbilang terisolir di daerah ini.
Listrik belum masuk ke dusun ini sehingga jaringan telpon tak ada di dusun ini.
Di dusun ini masih serba tradisional, hanya beberapa orang yang memasak menggunakan kompor gas dan selebihnya mereka menggunakan tungku kayu.
Walau mereka jauh dari keramaian, dari segi bahan pokok mereka tidak berkurangan. Penduduk sini berprofesi sebagai petani dan peternak.
Penerangan disini menggunakan diesel dan itu di alirkan melalui rumah kepala dusun atau orang-orang yang berada saja menggunakan penerangan lampu itu.
Para dokter yang bertugas disini di beri rumah untuk mereka tinggali dan di beri penerangan yang disambungkan melelaui rumah pak Kadus nya.
Mereka sangat bersyukur setidaknya malam hari mereka tidak kegelapan.
Di antara dokter yang bertugas disini hanya Syahril dan Ryan yang tak membawa pasangannya tiga orang rekan mereka membawa ikut serta istri mereka yang nota Bene juga berprofesi di bidang kesehatan.
Tak ayal banyak ibu-ibu disini menjodohkan anak gadis mereka pada Syahril maupun Ryan.
Syahril dan Ryan di dusun ini dikenal sebagai dokter dingin karena mereka jarang tersenyum dan mereka hanya beramah tamah dengan orang yang lebih tua dari mereka saja.
walau mereka di kenal dengan dokter dingin namun banyak pula gadis-gadis di kampung ini menyukai mereka.
Apa lagi saat Syahril dan dokter lain mengadakan pertemuan dengan para ibu-ibu disini dan memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan terutama bagi ibu hamil dan menyusui serta anak-anaknya.
Saat dia memberikan penyuluhan tersebut tak banyak ibu-ibu muda mendekatinya dengan beralasan ngidam dan sebagainya.
Dan banyak pula ibu-ibu dengan terang-terangan membawa anak gadis mereka untuk di kenalkan pada Syahril maupun Ryan.
Rekan Syahril dan Ryan hanya tersenyum bila Syahril dan Ryan selalu di kerubungi ibu-ibu di dusun ini.
"Pak dokter." panggil salah satu ini yang menggandeng tangan anak gadisnya. Syahril maupun Ryan tak menggubrisnya karena yang dia panggil oak dokter dan disini ada beberapa rekan dokter laki-laki juga.
"Pak dokter Syahril, pak dokter Ryan." seru sang ibu lagi. Syahril serta Ryan berhenti ketika nama mereka di panggil.
Tak hanya mereka yang berhenti, rekannya yang lain pun ikut berhenti hanya untuk mengolok Syahril dan Ryan.
"Awas Riil, Yan, kayak nya ada perjodohan lagi." ucap rekan mereka.
"Ingat bini." seru rekan Syahril dan Ryan yang perempuan.
"Aisss heran aku bang apa ndak capek ibu-ibu itu menjodohkan anak-anak nya, padahal dah jelas aku kasih tau kalau aku sudah punya bini.'' ucap Ryan.
"Mereka mana percaya kalau Ndak melihat dengan kepala mereka sendiri." ucap rekan dokter lelaki.
"Makanya Yan, besok kau ajak lah istri kau kesini." seru istri dari rekan Ryan dan Syahril.
"Iya kak kalau libur mau Ryan bawa lah Di'ah kesini." jawab Ryan.
Ibu dan ank itu pun sudah mendekati Ryan maupun Syahril. Ryan dan Syahril hanya bersikap biasa-biasa saja dan cuek.
"Ada apa Bu?" tanya Dokter Rika rekan Syahril dan Ryan.
"Eh dokter Rika, ndak ado apo-apo buk. Sayo hanyo nak kenalkan anak sayo samo dokter Ryan dan dokter Syahril." jawab si ibu.
(Translate ganti aja ya O ke A🤗).
Dokter Rika tersenyum tipis dan melihat ke arah yang menjadi tujuan sang ibu.
"Dokter Syahril, dokter Ryan kenalkan ini anak gadis Sayo namonyo Halimah." ucap si ibu.
"Em" jawab Syahril.
"Maaf ibu, kami berdua sudah punya pasangan." jawab Ryan yang enggan berlama-lama.
"Ah dak cayo Sayo kalu dokter baduo ko punyo bini, anak Sayo ko baru nak masuk kuliah dok." ucap sang ibu.
(Ah ndak percaya saya kalau dokter berdua ini punya istri, anak saya ini baru mau masuk kuliah dok.)
"Kalu ibu ko ndak cayo, ibu buleh tanyo ke rekan Sayo ko. Ko yang Sayo kenak kan di jari tangan Sayo ko cincin nikah Sayo." ucap Ryan.
( Kalau ibu tidak percaya, ibu boleh tanya ke rekan saya ini, ini yang saya kenakan/pakai di jari tangan saya ini adalah cincin nikah saya.)
__ADS_1
"Cincin macam tu banyak jualnyo dok. Dokter jangan nak nyombongi, anak Sayo ko masih Mudo dok, cantek lagi." ucap si ibu ngeyel.
(Cincin macam itu banyak jualnya dok
Dokter jangan mau membohongi, anak saya ini masih muda, cantik lagi.)
Ryan menarik nafas dalam, tiap kali bertemu ibu-ibu yang akan menjodohkan anak gadisnya itu, sekakubtidak percaya jika dirinya telah menikah.
"Buat apo sayo nak nyombongi ibu, nih foto pernikahan Sayo.' ucap Ryan dan akhirnya mengeluarkan foto dalam galeri ponselnya.
(Buat apa saya mau membohongi ibu, nih foto pernikahan saya ).
Sang ibu dan anak nya pun melihat foto-foto yang di kasih unjuk itu.
"Kalu dokter la punyo bini, pasti dokter Syahril belum kan?" ucap si ibu yang masih keukeh akan menjodohkan anaknya."
(Kalau dokter Ryan sudah punya istri, pasti dokter Syahril belum kan?")
"Sayo sudah tunangan, lebih baik anak ibu kuliah dengan baik. Insya Allah nanti di kampusnya dia akan mendapatkan laki-laki yang baik disana.'' ucap Syahril.
"Maaf ibu, sudah waktu ashar kami permisi." ucap Syahril dengan gaya tenangnya tapi hatinya dongkol.
"Assalamualaikum" ucap Syahril dan yang lain.. Mereka lun berlaku meninggalkan si ibu dan anak itu.
"Sudah lah Mak, buat malu Bae." ucap si anak ketika lara dokter itu pergi.
"Ais kau ini Mah, urang macam dua urang yang elok di buat laki. Tenang bae Mah, klegi biak Mak minta tulong Wak timah." ucap si ibu yang memiliki rencana tersendiri.
(Aisss kau ini Mah, orang seperti mereka berdua itu yang bagus untuk di jadikan suami. Tenang saja Mah, nanti biar Mak minta yoloong sama Wak Tonah).
Anak dan ibu itu pun pergi meninggalkan balai kampung. Meraka berdua bukan langsung pulang kerumah mereka namun mereka langsung menuju rumah orang pintar di kampung itu.
Di perjalanan pulang Syahril dan Ryan mendapat nasehat dari para rekan mereka yang telah berkeluarga dari mereka
"Riil, Ryan. Kalian harus banyak dzikir setelah ini." seru salah satu rekan mereka.
"Iya Riil, Yan, kalian tau sendiri daerah sini masih pegang hal ke mistis." sahut yang lain.
"Betul itu, bisa jadi dengan penolakan kalian lada anak-anak mereka yang dijodohkan pada kalian, mereka bertindak lewat jalur lain." seru yang lain.
"Iyo bang, makasih nasihatnya. Kadang aku heran sama mereka kenapa sebegitu nya mereka menjodohkan anak-anak mereka padahal mereka sudah di beritahu kalau kami ini sudah punya pasangan." ucap Syahril.
"Yang penting kau jangan berhenti dzikir, karena kita tidak tau siapa disalah satu mereka yang akan berbuat nekat.'' ucap dokter Farhat dengan menepuk bahu Syahril.
"Dan satu riil, bila mereka mengantar makanan terutama ibu-ibu yang berniat menjodohkan anak mereka sama kalian, lebih baik jangan di makan." seru bidan Hasnah istri dokter Farhat.
"Iya kak, makasih nasehatnya." ucap Syahril.
Keesokan paginya, para dokter seperti biasa mereka akan lari pagi atau sekedar jalan-jalan pagi menuju bukit untuk mencari sinyal.
Begitulah cara yang mereka lakukan jika di hari libur mereka, Mereka akan jalan-jalan pagi menuju bukit atau pergi keluar menuju ke kecamatan untuk berbelanja dan paling utama untuk memberi kabar sanak saudara.
Tiap sabtu akan ada mobil travel masuk ke dusun ini, namun tidak rutin dan tidak menentu. Mereka akan datang bila ada warga dusun sebelumnya telah memesan tiket atau membuat janji kapan warga dusun akan keluar.
Syahril dan Ryan telah berencana pergi ke kota kabupaten nya, yah Meraka akan melakukan hal itu sebulan dua kali dan mereka selalu meminta travel datang di Jumat siang atau sore dan malam mereka akan nerangkat ke kota.
Dari dusun itu menuju kota kabupaten memakan waktu empat hingga lima jam perjalanan.
Selain memberikan laporan pada pusat, tentunya mereka ingin berdebat dan menghilangkan rasa penat Meraka dengan menghubungi kekasih mereka.
Bisa saja Syahril atau Ryan membawa mobil ke dusun ini untuk mempermudah langkah mereka.
Namun Babah dan yang lain melarangnya, Babah maupun umma tidak ingin nanti ada orang yang mengejar mereka karena mereka berkendaraan mobil.
Sedangkan mereka tidak membawa mobil saja mereka selalu dikejar ibu-ibu yang menginginkan mereka sebagai menantu.
Sesampai nya di kota, Syahril dan Ryan yang sudah berada di hotel langsung menghubungi pasangan mereka.
Setiap mereka ke kota, mereka tidak pernah memesan satu kamar melainkan memesan dua kamar. Lebih tepatnya Ryan tidak ingin satu kamar dengan Syahril katanya dia ingin memiliki privasi pada istrinya.
Kadang tingkah Ryan membuat Syahril jengkel, bagaimana tidak jengkel biasanya mereka di dusun juga selalu berdua ya walau beda kamar nya namun satu rumah, sekali ke kota mereka beda kamar.
Ditambah setiap Syahril meminta agar Ryan satu kamar dengannya agar ada teman mengobrol, Ryan menolak dengan mengatakan hal yang lebih intim.
Syahril yang sudah rebahan di atas kasur empuk langsung mengambil ponsel dan menghubungi Mimi.
"Assalamualaikum bidadari ku." ucapnya ketika telah melihat wajah sang kekasih di layar ponselnya.
__ADS_1
"Waalaikum salam calon imamku''. jawab Mimi dengan tersenyum.
"Lagi apa yank, kayaknya capek sangat." ucap Syahril.
"Baru habis tindakan yank, iya capek hari ini ada tiga pasien uang melakukan tindakan." jawab Mimi dengan duduk di bangku kebesarannya.
"Kangen yank." ucap Syahril dengan memandangi wajah Mimi di layar ponselnya.
"Kalau kangen, kakak kesini lah." jawab Mimi.
"Hmm kalau dekat dan kau kakak ada sayap Kakak terbang sekarang yank."
"Kamu udah makan dek?" tanya Syahril dan Mimi menggeleng.
"Jangan telat makan," ucap Syahril.
"Iya, nanti." jawab Mimi sambil membereskan barang-barang nya.
"Mau pulang?" tanya Syahril.
"Iya kak," jawab Mimi dengan menyandang tas nya dan keluar dari ruangannya.
merak pun mengobrol sambil Mimi jalan menuju pulang, begitu juga dengan Di'ah yang pulang sambil telponan dengan Ryan.
Sesampainya di apartemen Mimi menghentikan hubungan telpon dengan Syahril karena dia akan mandi dan sholat Maghrib.
Saat akan mengaji Mimi video call lagi Syahril dan mereka berdua pun mengaji bersama.
Lain Mimi dan Syahril lain pula Di'ah dan Ryan. Mereka yang sudah memiliki status sah maka obrolan mereka lebih ke int"m.
Jika Di'ah telah berada di apartemen dan telah melakukan semua perintah illahi maka selanjutnya dia akan menjalani perintah sang suami.
Yah walau mereka di batasi oleh jarak dan hanya layar ponsel pemisah nya kini. Di'ah selalu menjalani perintah sang suami.
Seperti sebelumnya bila meraleka telah mengobrol dan Di'ah berada dalam kamar apartemen maka Di'ah wajib memakai pakaian yang di pinta Ryan.
Pakaian yang membuat para lelaki mabuk kepayang. Maka dari itu Ryan tidak ingin satu kamar dengan Syahril.
Dia ingin bermesraan dengan leluasa bersama sang istri tanpa ada rasa canggung.
Syahril menceritakan semua apa yang dia lakukan dalam kesehariannya dalam menjalankan tugas nya.
Mimi hanya menjadi pendengar yang baik, Hingga Syahril yang selalu menceritakan kalau ibu-ibu disana selalu ingin menjodohkan anak-anak nya.
"Kak, lain kalau jangan ketus gitu. Kita tidak tau hati orang." ucap Mimi.
"Yah habis kakak kadang kesal juga dek, berulang kali di bilang kalau kami ada pasangan ada istri mereka ndak percaya." jawab Syahril.
"Iya tapi ngomong dengan baik-baik. Em kakak juga jangan lupa terus perbanyak dzikir ya.' ucap Mimi
"Kita tidak tau hati orang, rambut saja sama hitam tali hati belum tentu semua bersih."
"Kakak terus perbanyak dzikir mohon perlindungan Allah, apa lagi kata mamak disana masih kental dengan dukun."
"Miki takut salah satu dari mereka melakukan hal yang tidak kita inginkan."
"Kakak juga harus hati-hati, jangan terlalu mempercayai orang, jangan sembarangan makan, jika ada yang memberi makanan jangan langsung di makan." ucap Mimi merasa khawatir lada orang yang di cintai nya.
"Iya dek, rekan kakak disini juga mengingatkan Kakak juga kemaren."
"Adek bantu doain kakak ya, Kakak hanya percaya sama kebesarannya do'a kalian." ucap Syahril.
"Iya, isinya Allah Mimi akan selalu berdoa buat keselamatan, kesehatan dan kesuksesan kakak. Kakak juga jangan lupa selalu dekat pada Allah." jawab Mimi.
"Iya sayang." jawab Syahril dengan menguap karena rasa kantuk sudah menghampirinya.
"Yaudah kakak tidur, pasti capek." jawab mimi.
"Iya dek, bentar lagi tanggung." ucapnya.
"Bentar lagi subuh, jadi nanti aja kakak tidurnya." ucap Syahril.
"Emm jangan lupa 3Qul, ayat kursi serta doa sebelum tidur nya di baca, istighfar nya juga.'' ucap Mimi.
"Iya sayang." Jawab Syahril, tak lama terdengar suara adzan, Syahril pun mengambil wudhu dan menjalankan sholat subuh.
Sebelum dia tidur dia mengajak Mimi untuk mengaji sebentar. Setelah itu barulah Meraka tidur.
__ADS_1
tbc