DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
liburan kerumah simbah


__ADS_3

Hari terus berlalu, tiga bulan sudah pasca tragedi maut itu. Selama tiga bulan ini Mimi menjalankan segala aktifitas nya seperti biasa.


Aktifitas Mimi pun bertambah dengan setiap hari Sabtu atau libur dia beserta sahabat akan pergi ke rumah Simbah. Simbah tidak merasa keberatan dengan kedatangan kami di rumahnya walau hanya semalam.


Simbah sanagt senang bila kami datang kerumahnya, karena suasana rumah menjadi ramai dengan canda tawa. Simbah Lanang pun sangat senang ala lagi Dimas, Riko, Saridi dan Irsyad selalu membantu Simbah di kebun.


Yah Simbah jika Mimi dan sahabat menginap dirumah nya maka keesokan harinya mereka libur untuk jualan demi bisa bersama Mimi dan yang lain lebih lama.


Seperti saat ini Mimi dan yang lain pergi ke rumah Simbah. bahkan mbak Aish beserta Ummi Fatmah dan abi Fatimah juga ikut karena ada tanggal merah yang mana tiga hari ke depan mereka free.


Ummi Fatimah dan Abi Risyad sebenarnya juga ingin ikut, namun mereka akan pulang ke kampung Abi Risyad dan mereka akan liburan di kampung Abi Risyad.


Sebelum kami berangkat ke rumah Simbah, kami singgah ke pasar terlebih dahulu sekalian menjemput Simbah dan berbelanja buat kebutuhan kami tiga hari ke depan.


"Assalamualaikum, Mbah." ucap Mimi ketika telah sampai lapak Simbah.


"Waalaikum salam, eh ndok kam u kok ada disini jam segini?" ucap Simbah dengan menerima uluran tangan Mimi dan yang lain.


"Iya Mbah, tadi hanya ada dua mata pelajaran jadi kami sebentar di kampus." jawab Mimi.


"Simbah dah selesai?" tanya Mimi kepada Simbah yang sedang sibuk me!bereskan tempat dagangannya.


"Iya ndok, alhamdulillah hari ini cepat habis." jawab simbah.


"Yaudah Mimi bantuin ya?" ucap Mimi yang langsung membantu Simbah membereskan lapaknya.


Setelah selesai seperti biasa Simbah akan berbelanja membeli bahan-bahan untuk kue nya.


Kali ini Mimi tak kebgaian belanja lauk dan lain sebaginya, karena semua ummi Fatmah yang belanja. Mimi menemani simbah berbelanja bahan kue ketoko bahan kue.


"Mbah, beli yang banyak biar nggak beli-beli lagi besok." ucap Mimi.


"Secukupnya aja ndok, nanti bawa nya susah.'' jawab simbah.


"Masalah bawa gampang Mbah, besok kan kami libur Mbah. Jadi tiga hari ke depan kami nginap di rumah Simbah."ucap Mimi dengan mengambil semua bahan yang Simbah butuhkan karena Mimi sudah hafal bahan apa yang di beli Simbah.


"Jangan banyak-banyak ndok nyar uang nya nggak cukup." ucap Simbah yang melihat Mimi begitu antusias membeli bahan-bahan kue untuknya.


"Nggak apa Mbah biar miminyanh bayarin, kebetulan beberapa hari lalu Mimi banyak dapat orderan." jawab Mimi.


"Lah ya to ndok, emang tiga hari ke depan kamu nggak ada orderan? biasanya kalau libur gini kan kamu banyak terima pesanan." ucap Simbah.


"Sebenarnya ada sih Mbah, cuma demi Simbah Mimi batalkan dulu Minggu ini. Kebetulan Ummi dan Abi juga kepingin main kerumah Simbah.'' ucap Mimi.


"Woala ndok, Simbah seneng dengernya tapi... Emm rumah simbah jelek ndok dan tempat tidurnya juga nggak empuk." jawab simbah.


"Tenang aja Mbah mereka nggak mempermasalahkan semua itu." ucap Mimi.


Setelah semua bahan telah di hitung sama pedagang, Mimi oun membayar semuanya. Mimi juga meminta tolong sama pegawai toko untuk membantunya membawa bahan-bahan yang sudah di packing kedalam kardus menuju mobil.


Abi Arsyad telah mencatar mobil pickup, Abi Arsyad juga membelikan Simbah TV lengkap dengan parabola nya. Tak hanya Abi, Saridi dan kawan-kawan juga membeli beberapa kasur lipat bantal serta guling.


"Makasih mas." ucap Mimi setelah sampai di mobil Abi.


Semua dah pada siap, barang-barang simbah juga sudah dinaikkan kedalam mobil pickup termasuk dua sepeda Simbah.


Yah dua bulan lalu Saridi, Riko dan Dimas patungan membeli dua sepeda buat Simbah. Dimas melihat seorang Simbah lanang yang sudah tua dan kata Simbah juga dah sering bocor bannya. Maka dari itu Dimas berinisiatif membelikan Simbah sepeda, awalnya Dimas akan membelikan nya motor tapinsimbah menolaknya.


"Gimana udah siap semua?" tanya Abi.


"Udah Bi, emm Ummi sama mbaknaosh dan yang lain kemana Bi?" tanya Mimi tidak melihat Ummi, mbak Aish dan ketiga sahabatnya.


"Emm nggak tau tuh, perasaan dah selesai deh belanja nya." sahut Irsyad.


"Nah itu mereka" ucap Abi melihat kelima cewek berjalan ke arah mereka.


"Kalian dari mana?" tanya Mimi kepada ketiga sahabatnya.


"Kita beli ini tadi." ucap Muthia dengan menunjukkan es dalam cup.


"Kalian beli supir di beli juga nggak?" tanya Mimi.


"Iya Mi, pasti dibeli lah." sahut Selfia yang sudah melainkan beberapa bungkus buat supir.


"Loh kok banyak Fi?" tanya Mimi.


"Iya kata Ummi, ada tiga supir dan ada dua orang lagi." jawab Selfia.


"Oo" Mimi hanya ber o ria.


"Ummi nggak dintanya Mi?" tanya Ummi.


"Nggak hehee" jawab Mimi.


"Yah padahal Ummi dah mempersiapkan jawaban apa yang akan Ummi berikan padamu." ucap si Ummi.


"Helle" cibir Irsyad.


"Idih kenapa nih anak bujang Ummi." ucap Ummi.


"Nggak papa Mi. Yok buruan." ucap Irsyad.


"Yaudah yok." jawab Ummi.

__ADS_1


"Oh ya Mi, Bi, ini Simbah yang sering Mimi ceritakan." ucap Mimi memperkenalkan simbahnpada mereka berdua.


"Bu, saya Fatmah." ucap Ummi Fatmah memperkenalkan diri.


"O ya bu ini suami saya Arsyad." ucap Ummi lagi. Abi dan ummi pun menyalami Simbah.


"Iya saya Sumarni, dan ini Simbah Lanang namanya Subrata. Mimi juga banyak menceritakan tentang kalian.'' jawab simbah.


"Yaudah kalau gitu ayok kita naik dan segera jalan." ajak Abi dan kami pun semua naik ke dalam mobil.


Simbah naik mobil bersama Abi dan ummi, Mimi naik mobil bersama mbak Aish dan Irsyad serta Selfia. Sedangkan Irma bersama Muthia di mobil Dimas.


Selama perjalanan mereka saling bercerita apa aja yang mereka lakukan tadi di pasar.


"Oh ya Fi, Mimi perhatiin kok kamu sepertinya beberapa bukan ini selalu menghindari Saridi, kenapa?" tanya Mimi yang baru berani bertanya pada Selfia.


"Hmm nggak apa-apa Mi" jawab Selfia.


"Nggak apa nya, kalian seperti menjaga jarak gitu?" tanya Mimi penasaran.


"Hmmm buat apa juga Mi kota terus mengejarnya tapi nggak bisa kegapai." ucap Selfia dengan menarik nafas panjang.


"Lah mana nih Fia yang Mimi kenal, kok cepet bener menyerahnya." ledek Mimi tapi Selfia hanya mendegus.


aAku nyerah Mi, aku pikir-pikir aku keg murahan aja ngejar orang yang nyatanya dia nggak peduli sama kita."


"Aku juga punya hati Mi, ada rasanya aku ingin juga di perhatikan, ada kalanya aku juga ingin dipedulikan."


"Aku nyerah, aku baru mengerti kalau selama ini hanya aku saja yang terus mengejarnya. Keg wanita murahan aja aku di buatnya." ucap Selfia dengan senyum miris.


"Tapi selama ini mimi perhatiin dia peduli kok sama Fia." ucap Mimi.


"Hmmm itu perasaan Mimi aja, udah ah nggakmusah bahas dia lagi. Fia mau move on, emang dia aja cowok di dunia ini." ucap Selfia.


"Lah itu tau, kenapa kamu kenapa dia selama ini." ledek Irsyad.


"Hmm ya ya Syad kenapa Selfia gitu ya?? ah udahlah anggap aja itu Fia kesambet setan pubertas." sahut Selfia.


"Atau Irsyad aja ma Fia aja, gimana hmm" canda Selfia dengan menaikan alisnya bergantian menghadap spion.


"Oh tidak bisa Esmeralda, hati ku sudah ada yang naungi." ucap Irsyad.


"Siapa?? Setau Fia nih ya.. Irsyad itu jomblo akut." ledek Selfia.


"Yee, sotoy lu" ucap Irsyad.


"Terus siapa? Mimi? tidak mungkin, ngimpi kamu Ferguso." ucap Selfia yang terus meledek Irsyad dengan menggoyangkan telunjuknya.


"Hmm " Mimi hanya berdehem.


"Wueeek Mimk aja nggak nanggepin tuh." ucap Selfia.


"Udah-udah kalian masih mau debat ataun mau turun." ucap mbak Aish melerai.


"Lah emang dah nyampe mbak?" tanya Mimi.


"Iya emang udah nyampe mbak? tanya Selfia.


"Udah, udah nyampe di rumah makan." ucap mbak Aish.


"Oo" jawab Mimi dan Selfia yang segera !membuka pintu dan turun dari mobil.


"Mimi melihat adabtiga mobil pickup yang juga berhenti, hanya satu yang Mimi kenal yaitu mobil yang membawa barang-barang Simbah, yang dua Mimi tidak mengenalinya.


Satu mobil berisi satu unit motor dan satu lagi berisi televisi lengkap parabola dan asa mesin cucinya juga. Mimi memperhatikan mereka juga masuk bahkan dipersilahkan oleh Abi.


"Mbak." panggil Mimi dan berlari mengejar mbak Aish.


"Ada apa dek?" tanya mbak Aish.


"Itu dua mobil lagi mau kerumah Simbah juga ya?" tanya Mimi.


"Hmm iya, Abi membeli itu semua buat Simbah." jawab mbak Aish.


"Apa!! Beneran mbak?" ucap Mimi dengan manik mata yang berkaca-kaca bahagia.


"Iya" jawab mbak Aish.


"Iya, udah ayo kita masuk." ucap mbak Aish dan merangkul Mimi, mereka pun masuk kedalam rumah makan.


"Abii" panggil Mimi.


"Aya ada apa nak?" tanya Abi yang sedang minum es teh nya.


"Makasih ya Bi." ucap Mimi.


"Iya nak sama-sama." jawab Abi.


Mimk sangat senang dan merasa bahagia orang yang bukan sedarahnya juga ikut peduli terhadap bersama. Apa lagi yang dibeli Abi merupakan cita-cita Mimi untuk Simbah.


Yah Mimi ingin sekali membelikan Simbah motor walau bekas, Mimi juga kepingin membelikan Simbah TV untuk sekedar hiburan bhat mereka, Mimi juga kepingin membelikan mesin cuci agar Simbah nggak kecapekan untuk mencuci pakaian.


Mimi sangat yakin kalau Simbah belum mengetahui semua hal ini, jika Simbah mengetahui nya pasti Simbah akan menolaknya.

__ADS_1


Ummi memesankan Simbah ikan bakar, kepiting saus asam manis dan banyak lagi.


Mereka semua makan siang bersama dengan hatinyang bahagia. Ummi meminta pegawai rumah makan untuk memfoto semua nya.


Terlihat Simbah selalu ketawa bahagia, mungkin momen ini adalah momen yang diharapkannya pada anak-anak nya.


"Semoga kelak anak-anak Simbah bisa pulang semua Mbah." doa Mimi dalam hati.


Mimi memeluk Simbah Marni, Mbah Marni mengelus lengan Mimi yang memeluknya.


Sehabis makan mereka pergi ke masjid yang tak jauh dari rumah makan untuk menjalankan sholat Dzuhur.


Fia selalu jalan bersama Mimi, dia terus menghindari Saridi. Saridi yang merasa Selfia selalu menghindari nya hanya menarik nafas panjangnya.


Sehabis sholat mereka kembali melanjutkan perjalan merka, Satu kamar lagi mereka baru sampai di desa Simbah.


Di mobil Dimas, Muthia yang juga heran kenapa Selfia seolah selalu menghindari Saridi pun bertanya.


"Bang, ada masalah apa abang sama Fia?" tanya Muthia.


"Ndak ada.'' jawab Saridi.


"Kalau nggak ada apa-apa kenapanfia selalu menghindari Abang?" tanya Muthia.


"Emm ndak tau juga kenapa" jawab Saridi.


"Ada kalanya cewek itu merasa lelah terus mengejar bang, apa lagi waktu itu abang ketus sama dia." sahut Irma.


"Kapan!!" tanya Saridi


"Perasaan biasa aja." ucapnya lagi.


"Hmm itulah cowok yang tidak peka dengan hati cewek." ucap Irma.


"Oo jadi maksud kamu waktu itunya Ir?" tanya Muthia yang mulai ingat dan paham swjakmkalan Selfia mulai acuh dengan Saridi.


"Iya" jawab Irma.


"Emang ada apa yank? sejak kapan?" tanya Riko penasaran.


"Sejak awal kita masuk kampus." jawab Irma. Saridi hanya diam !mencerna ucapan-ucapan sahabat nya.


"Lah emang Saridi buat apa sama Fia?" tanya Riko.


"Tanya aja sama orangnya" jawab Irma dengan menunjuk Saridi yang duduk di samping Dimas dengan dagunya.


"Emang ada apa Sar?" tanya Riko.


"Aku nggak juga gak tau." jawab Saridi.


"Huh" Irma dan Muthia mendengar mendengar jawaban Saridi.


"Lah kok gitu?" tanya Riko.


"Sekarang itu ada dikamu Sar, gimana perasaan kamu saat Fia nyuekin kamu?" sahut Dimas dengan mata fokus pada jalanan.


"Betul tuh Dim, gimana bang? gimana perasaan abang di cuekin Selfia bahkan di acuhin ma Fia." sahut Muthia.


"Emm entahlah, merasa aneh aja." jawab Saridi.


"Aneh atau sepi bang?" ledek Irma.


"Semuanya." jawab Saridi.


"Fix sebenarnya Abang juganadanjati sama dia cuma Abang tinggi egonya. Coba Abang buka pintu hati buat dia, tutup rapat buat Mimi, Mimi tidak mudah menerima orang lain di hatinya bang, apa lagi pada sahabatnya." ucap Muthia.


"Kita tau kok Abang dan Dimas menyukai Mimi." ucap Muthia.


Uhuk uhuk Dimas terbatuk-batuk kala namanya dikaitkan.


"Fia juga tau Abang menyukai Abang bahkan Fia juga tau kalau abang mencintai Mimi dalam diam." imbuh Muthia, Saridi hanya diam begitu pula dengan Dimas.


"Percaya deh omongan Tia, walau dia sudah nggak bersama kak Syahril bukan berarti dia akan menerima salah satu dari kalian." ucap Muthia menyakinkan mereka.


"Nggak perlu jauh-jauh, kalau Mimi mau nih ya dia pasti memilih Irsyad dari kalian berdua. Tapi Mimi tidak akan melakukan semua itu. Kenapa begitu lastinkalain tau jawabannya." ucap Muthia.


"Kok kamu tau Muth? kami paranormal?" tanya Riko.


"Hmm keliatan kali Ko dari pandangan mereka terhadap Mimi, pandangan penuh sayang dan cinta." jawab Muthia.


"Ingat Lo bang, Fia itu banyak yang suka." ucap Muthia lagi.


'Betul tuh bang, selama ini dia nggak nanggepin cowok lain karena dia ingin setia sama Abang, tapi mungkin setelah ini mereka akan menerima mereka. Terutama Saiful yang selalu mendekayinya." sahut Irma dan memprovokasi Saridi.


"Hmm betul tuh, kemarin aja mereka berdua udah jalan berdua." imbuh Muthia, Saridi hanya diam tanpa menjawab omongan kedua sahabat perempuan nya.


"Kita sebagai sahabat cuma mengingat kan aja, jangan mengharap hal yang tak pasti dengan mengabaikan orang di samping kita yang ada kejenuhan menghampiri dan perlahan dia akan menjauhi kita dan penyesalanlah yang akan datang kemudian." ucap Muthia.


Saridi hanya dia dan mencerna semua ucapan daeinkedua sahabatnya, dirinya juga bingung akan dirinya. Ada Fia dia juga merasa risih bila selalu di ikuti nya, tidak ada dirinya merasa hampa.


Jangan mengejar berlian yang bekilau jauh dan mengabaikan bahkan secara perlahan mencampakkan berlian yang berada di genggaman, lama kelamaan berlian itu akan retak dan pecah Bika di genggam terus tetapi tidak di harapkan dan diabaikan begitu saja.


tbc

__ADS_1


__ADS_2