DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
225


__ADS_3

Sepulang dari aktifitas yang melelahkan hari ini, Mimi dan kedua sahabatnya makan malam bersama. Dimas mengajak Mimi dan Muthia makan di sebuah pantai yang mana disana adalah tempat favorit Mimi dan Syahril.


"Emm katanya Disni enak loh Mi masakannya." ucap Dimas, Mimi hanya mengangguk.


Tentu saja Mimi tau karena ternyata Dimas mengajak nya dimari. tempat yang telah menjadi favorit Mimi dan Syahril. Bukan hanya pemandangan yang indah dengan deburan ombaknya melainkan disini masakan si empunya warung sangat pas di lidah dan bagi pecinta pedas disinilah tempatnya.


Dimas lagi-lagi mengajak di tempat duduk yang tepat sekali tempat dimana Mimk dan Syahril selalu duduk di tempat itu.


"Hemm nah disini kayaknya pas, makan sambil menikmati deburan ombak nya." ucap Dimas yang tengah menarik bangku untuk Mimi.


Perlakuannya serata ucapannya kepada Mimi, mengingatkan Mimi kepada Syahril disaat pertama kali mereka disini.


"Nah yank kita duduk disini, sini pas yank. Kita bisa menikmati hidangan sambil menikmati deburan ombak nya serta sunset." ucap Syahril kala itu.


"Mi.." panggil Dimas.


"Eh iya" jawab Mimi.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Dimas.


"Iya Dim, Mimi baik kok." jawab Mimi dengan senyum.


Tak lama datang pelayan rumah makan tersebut mengantar pesanan mereka.


Salah satu pelayanan sangat hafal dengan Mimi.


"Eh kak Mimi toh," ucapnya.


"Iya mbak." jawab Mimi tersenyum.


"Yaudah, silahkan di santap kak, mas." ucap si pelayan.


"Makasih mbak Asih." jawab Mimi dengan senyum.


"Injih kak, mari." ucap si pelayan bernama asih itu sembari berjalan kembali ke rumah makan.


Mimi tersenyum, Muthia dan Dimas melihat ke arah Mimi. Mereka berdua heran kenapa pelayan tersebut kenal sama Mimi sedangkan mereka baru pertama kali disini termasuk Dimas yang nota bene lama tinggal di sini.


"Kok kenal Mi?" tanya Muthia, Dimas pun mengangguk, Mimi hanya tersenyum.


"Udah ayok dimakan, keburu dingin." jawab Mimi mengalihkan pertamyaan mereka berdua.


"Mi.." panggil Muthia yang belum luas jika belum di jawab.


"Iya nanti, kita makam dulu mumpung masih panas " Jawab Mimi dengan senyum.


Mereka bertiga pun makan ayam geprek dengan ditemani semilirnya angin dari arah pantai.


Sehabis makan mereka tak langsung pulang melainkan mereka langsung menuju mushollah karena waktu Maghrib telah tiba.


Setelah sholat mereka kembali duduk ditepi pantai tadi.


Dimas dan Muthia kembali menanyakan kenapa Mimi atau mereka bisa kenal dengan Mimi.


"Mi, kok mbaknya tadi bisa kenal dengan Mimi?" tanya Muthia.


"Iya Mi, kok bisa kenal? apa Mimi pernah ketemu atau Mimi yang sering kesini?" tanya dimas.


"Iya Dim, Muth. Mimi sering kesini dulu sama ummi Fatma dan Abi Arsyad dan pertama kali bersama kak Syahril." jawab Mimi dengan senyum namun sorot mata yang sendu.


"Oo." ucap Dimas lesu, Dimas ingin membuat Mimi terkesan dengan di ajak kesini eh malah sudah keduluan Syahril.


"Pulang yok dah mau malam nih." ajak Muthia karena sudah melihat gelagat Dimas yang lesu.


"Hmm iya kasian Irma sama Fia, pasti mereka belum makan." ucap Mimi.


"Mereka udah besar Mi, kalau nggak beli aja makanan dari sini" ucap Dimas dan menawarkan membelikan mereka makanan.


"Bentar aku telpon mereka dulu, udah makan atau belum," jawab Muthia yang langsung menghubungi Irma.


"Haallo assalamualaikum Ir." Muthia sedang menelpon Irma.


"Waalaikum salam Muth, kalian dimana?" tanya Irma diseberang telpon.


"Kita lagi di luar Ir, kalian dah pulang? dah makan belum biar sekalian dibelikan.'' ucap Muthia dan bertanya kepada Irma.


"Iya kita udah pulang tapi kita langsung pulang ke kosan kita karena kalian lambat pulang dan kunci tidak ada kalian tinggalkan, makan kita juga udah. Tadi sebelum pulang kita beli nasi bungkus, buat kalian juga ada nih jadi kalian nggak usah beli lagi ya." sahut Irma.


"Oh yaudah kalau gitu kami segera pulang, assalamualaikum." ucap Muthia dan mengucapkan salam.


"Waalaikum salam." jawab Irma.


"Emm Mi, Dim kita langsung pulang aja, mereka udah pulang dan udah masukkan juga." ucap Muthia.


"Oh ok." jawab Mimi dan Dimas.


Irma dan Selfia pulang ke kosan mereka yang berada satu lorong dengan kosan Mimi, masih satu kos milik bunda Retno.


Dimas mengantar Muthia dan Mimi, mereka pun telah sampai di depan kosan Mimi. Muthia sudah turun dari mobil Dimas karena dia kebelet, Mimk !asih di dalam mobil bersama Dimas.


"Emm makasih ya Dim, mampir dulu nggak?" tanya Mimi kepada Dimas sebelum turun.

__ADS_1


"Nggak usah Mi, aku mau langsung pulang aja." jawab nya dengan senyuman manis.


"Yaudah kalau gitu hati-hati ya." ucap Mimi dan Dimas pun mengangguk. Mimi pun akan membuka pintu mobil namun tangannya di tahan oleh Dimas.


"Ada apa Dim?" tanya Mimi ketika Dimas menghentikannya.


"Em em em nggak apa-apa, yaudah sana langsung mandi, bau." ucap nya dengan canda.


"Enak aja bilang Mimi bau, humm wangi gini kok." ucap Mimi dengan mengendus ketiaknya.


"Yeeeuy." ucap Dimas, Mimi pun ketawa.


"Mau coba nih nih." ucap Mimi dengan menyodorkan ketiaknya.


"Sini." Dimas malah memintanya, Mimi memelototi matanya.


"Enak aja..udah ah Mimi mau masuk. assalamualaikum hati-hati di jalan." ucap Mimi dan segera pergi.


Mimi malu sendiri dengan dirinya bisa-bisa nya dia bercanda seperti itu dan menyerahkan aset yang termasuk berharga itu.


Dimas yang melihat Mimi salah tingkah dan langsung pergi hanya tersenyum seraya menjawab salam Mimi.


"Waalaikum salam sayang," gumam nya dengan senyum dan akhirnya diapun memutar arah mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Di dalam sebuah kamar kepolisian kota Semarang, seorang pemuda berseragam baru pulang dari jenguk rekannya yang istrinya telah melahirkan di rumah sakit polisi hari ini.


Di bukanya seragam kebanggaan nya dan digantung ke gantungan pakaian dan disangkutkan ke paku di balik pintu kamarnya.


Direbahkannya tubuh kekarnya di atas kasur standar nya, dia tersenyum sendiri bila mengingat pertemuannya tadi.


Hampir 4th dia tidak pernah melihat senyuman itu karena setelah dia lulus sarjana hukum nya dia langsung berangkat ke kota ini untuk melanjutkan pendidikannya ke Akpol.


Saat ini dia telah berhasil menempuh pendidikan itu dan saat ini dia juga sedang mengabdi di daerah ini dengan berpangkat IPDA.


"Kamu semakin cantik dek, apa lagi memakai hijab. Apa kamu juga sedang melanjutkan pendidikan mu disini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Apa kalian masih bersama?" ucapnya dengan senyum smirk nya jika mengingat bagaimana Mimi jalan dengan Syahril.


"Semoga saja tidak ya dek hehee." ucapnya lagi dengan penuh harap.


Dibukanya dompet dan di pandangnya foto 5Th lalu saat dia ulang tahun dan makan bakso bersama dan di foto itu Mimi sedang menyuapi bakso ke arahnya.


"Abang rindu dek." ucapnya pada sebuah foto yang dia cetak sebelum masa pendidikan nya dan di selipkannya ke dalam dompetnya.


Karena merasa gerah, dia pun beranjak dari rebahannya, diambilnya handuk dan dia pun segera mandi sambil bersiul bahagia.


Di kosan Mimi, dua anak manusia membawa belanjaannya dari kosannya menuju kosan Mimi.


"Waalaikum salam." Jawab Mimi dan Muthia.


"Kalian bawa apa?" tanya Muthia yang melihat Irma dan Selfia membawa dua kantong kresek di masing-masing tangan mereka


"Ini tadi sebelum pulang kita belanja dulu," jawab Irma dengan menaruh dua kresek ditangannya dan dia pun membuka kulkas Mimi hendak menyusun belanjaannya.


"Oh ya ini, dua bungkus nasi tadi kita beli tapi udah dingin kayaknya. Habis kalian lama banget pulang." seru Selfia.


"Makasih Fi, maaf tadi kita di ajak makan sama Dimas." ucap Mimi yang sedang mengikat rambut panjangnya tinggi model disanggul gitu sambil berjalan mendekati Irma.


"Belanja apa Ir? kok repot-repot, jadi habis berapa nih tadi kalian belanja. Maaf ya Mimi nggak sempat belanja, jadi nggak enak malah kalian yang belanja." ucap Mimi merasa tak enak hati melihat isi kulkasnya diisi oleh Irma dan Selfia.


"Justru kita yang nggak enak Mi, udah numpang dikosan kamu beberapa Minggu ini eh makannya juga gratisan dari kamu, jadi ya gantian kami yang belanja buat dapur." ucap Irma dan di angguki Selfia.


"Makasih ya, jadi berapa nih patungannya?" tanya Mimi lagi.


"Ih Mimi, apa apaan sih, nggak ada kata patungan. Ini belanjaan juga buat kita bersama." ucap Selfia.


"Iya Mi, selama ini kan makan kami dari uang Mimi, jadi giliran kami yang mengeluarkan uang." ucap Irma.


"Ohhh so sweeet, makasih banyak ya Ir, jadi laper Mimi." ucap Mimi dengan candanya.


"Kalau laper tuh masih ada nasi Padang nya. Lauk dendeng batokok." ucap Selfia.


"Emm enak tuh, mana." ucap Mimi dengan mengambil satu bungkus nasi di tangan Muthia dan memakannya.


"H!mm katanya udah makan sama mas Dimas, masih laper buk!!" sindir Selfia.


"Hehee iya laper lagi karena kalian belanjaain isi kulkas Mimi hehee." ucap Mimi dengan mengedipkan sebelah !matanya dan menyantap nasi Padang nya.


Akhirnya mereka pun ikut makan kembali satu bungkus berdua.


"Kenyangnya...Eeeugh" ucap Selfia dengan mengelus perutnya dan bersendawa.


"Isss Fia kalem dikit napa, eeeugh." Irma mengkomentari Selfia yang bersendawa namun dirinya pun ikut bersendawa dengan besar.


"Hahhaaaa" mereka berempat pun ketawa riang.


Sehabis makan dan mencuci piring kotornya mereka berempat duduk didepan TV dengan laptop masing-masing untuk buat laporan serta merangkum semua aktifitas mereka hari ini.


Setelah rasa kantuk melanda mereka berempat masuk ke kamar untuk beristirahat. Ketiga sahabat Mimi tidak lagi bertanya kenapa Mimi tidur di kamar sebelah karena mereka tau dengan begitu Mimi bisa meluapkan rasa rindunya.


Tak terasa satu Minggu ini mereka ujian OSCE dan Minggu depan mereka akan ujian tertulis di kampus mereka.

__ADS_1


Mimi hanya mengenang janji Syahril yang akan datang dan menemaninya belajar untuk menghadapi ujian namun janji tinggallah janji. Mimi sendiri tidak tau kemana dan apa yang sedang terjadi pada kekasih nya itu.


Malam Minggu hujan kembali mengguyur kota Semarang, biasanya dihari Minggu Mimi selalu kepasar untuk berjualan dan bertemu sama simbahnya, namun dua Minggu ini dia tidak kepasar dan tidak berjumpa dengan simbahnya.


Ada rasa kangen dihatinya, jika esok hari tidak hujan dia ingin kepasar hanya sekedar melihat Simbah karena kalau untuk berjualan kue, Mimi tidak ada waktu untuk membuat kue selama seminggu ini.


Bu Ruminah saja sering mengirim pesan kepada Mimi, kenapa tidak menitipkan kue, karena kata Bu Ruminah banyak mahasiswa dan dosen yang menanyakan kue buatan Mimi.


"Emm semoga besok tidak hujan, jadi bisa kepasar buat beli bahan-bahan kue dan ketemu sama Simbah." ucap Mimi.


Sebelum tidur Mimi keluar menuju dapur buat minum dan tak lupa dia buang air kecil dulu serta berwudhu. Setelah itu baru Mimi merebahkan tubuhnya dan gak lupa guling yang dipakekin pakaian Syahril dipeluknya.


Seperti malam-malam sebelumnya Mimi selalu terbangun di jam dua dini hari karena ulah Mimpi yang membuatnya tak tenang. Sampai saat ini pula Mimi belum menjawab atas permintaan kedua Ummi dan Ummanya.


Mimi melaksanakan sholat sunnah tasbih, dan dua sholat sunnah lainnya. Setelah itu Mimi kembali tertidur karena jam baru menunjukkan ke jam 3.15 dini hari.


Setiap selesai sholat sunnah Mimi selalu bermimpi yang sama jalan yang dilaluinya berlumpur, dan kemudian dia pergi kemimpi lain ke sebuah ruangan bernuansa hijau tosca yang belum juga terkuak siapa di balik tirai hijau tosca itu.


Pagi hari yang dingin karena hujan tak kunjung reda, Mimi melihat arah keluar melihat apakah hujan ini akan ada tanda akan reda, namun hanya harapan semata.


"Kenapa Mi?" tanya Muthia yang mendekati Mimi dengan membawa teko dan toples berisi kerupuk goreng


"Emm hujannya awet.'' jawab Mimi.


"Iya bikin pengin balik keselimut hehee " sahut Selfia dengan membawa nampan berisi teh panas.


"Emang mau kemana sih Mi?" tanya Irma dengan kedua tangannya berisi 4 piring. Irma membawa piring ala-ala uda-uda di rumah makan.


"Yee awak tambuah cuek uni." kelakar Muthia.


"ohh bulieh bulieh beko awal ambiekkan cuek." jawab. irma dan mereka pun tertawa bersama.


Selalu ada saja yang membuat mereka ketawa dengan berbagai tingkah-tingkah yang mereka perlihatkan.


Irma setelah menaruh 4 piring dia kembali ke dapur untuk mengambil tiga piring lagi.


"Buat siapa lagi Ir?" tanya Mimi.


"Buat Riko dan antek-anteknya." jawab Irma.


"Cieeee ehemmm." Mimi menggoda Irma.


"Kapan jadiannya Ma?" tanya Muthia dengan mengambil kerupuk dalam toples.


"Emm sebenarnya emm." Irma bingung mau jawab apa karena takut ketiga sahabatnya marah.


"Udah bilang aja, nggak usah takut." ucap Mimi dengan menyendokkan nasi goreng buatan ketiga sahabat nya kedalam mulutnya.


"Sebenarnya udah enam bulan ini." jawab Irma.


"Wah parah ni anak diam-diam bae.." seru Selfia tak lama terdengar suara mobil siapa lagi kalau bukan trio SDR.


"Assalamualaikum." jawab mereka bertiga.


"Waalaikum salam." jawab Mimi dan yang lain. Irma segera beranjak membukakan pintu.


"Maaf telat hehee." ucap Riko pada Irma.


"Iya nggak apa. Ayo masuk." ucap Irma dan mereka pun masuk.


"Wah dah pada sarapan nih?" ucap Riko.


"Iya habis lama nungguin kalian, laper." ucap Mimi.


"Ayo buruan Keburu dingin nggak enak." ajak Mimi dengan senyuman gembul karena di dalam mulut berisi nasi goreng dengan temannya sikerupuk..


"Iya makasih, kebetulan dah laper." ucap Riko dengan menerima satu piring dari Irma, Selfia memberikan satu piring buat Saridi, karena satu piring berada dekat Mimi, Mimi pun memberinya ke Dimas.


"Makasih." ucap Dimas dengan menampilkan dua lesung di pipinya.


"Iya sama-sama." jawab Mimi dengan senyum.


Setelah habis makan Mimi segera membereskan piring dan cangkir yang kosong dan membawanya ke dapur. Mimi langsung mencucinya dan setelah semua selesai Mimi kembali bergabung dengan mereka.


"Emm rencana kalian mau kemana?" tanya Dimas.


"Rencana sih Mimi mau kepasar, mau beli bahan-bahan kue sama ketemu simbah, tapi hujan gini." jawab Mimi.


Lama mereka saling duduk dan bercerita, hujan derasnya pun sudah berganti dengan hujan gerimis.


"Emm kayaknya dah mau reda hujannya gimana kalau ke pasarnya sekarang." ajak Dimas.


"Emm boleh-boleh, ayok " ucap Mimi semangat.


"Bentar, Mimi siap-siap, ayo girl siap-siap ikut kepasar nggak?" ucap Mimi yang sudah sampe di pintu kamar.


"Iya ikut,." jawab mereka bertiga dan beranjak masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian dan hijab.


Yah sebelum para cowok masuk Mimi, Muthia dan Irma langsung ngacir ke kamar ngambil jilbabnya.Selfia tidak memakai hijab.


Setelah semua siap mereka pun segera menuju mobil tak lupa membawa payung masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2