DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
hanya semacam


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Mimi dan Syahril kembali ke dusun Bungin. Anak bu Rofiah dan bapak Rojali telah selesai di operasi.


bapak Rojali telah terlihat bugar setelah selesai pemasangan ring di jantung nya.


Sebenarnya mereka masih di suruh nginap untuk beberapa waktu namun mereka menolak dengan alasan kepikiran rumah.


Mimi juga menasehati mereka semua itu demi kebaikan mereka pasca operasi, tapi mereka menolak di tambah mereka mendengar Mimi dan Syahril akan kembali pulang ke dusun.


"Pak, bapak sama ibu tinggal dulu disini. Semua untuk kesehatan bapak, biar dokter bisa memantau perkembangan pasca operasi nya." ucap Mimi pada pak Rojali.


"Ibu juga, Naya juga harus di pantau sama dokter. Di dusun kita kan tidak lengkap peralatan nya, apa lagi ini baru dua hari habis operasi." ucap Mimi pada ibu Rofiah


"Kasian Naya buk." ucap Mimi, ibu Rofiah beserta suami dan pak Rojali beserta istri hanya diam.


Mimi menghelakan nafas panjang, melihat mereka yang terlihat masih keukeh untuk pulang.


"Bapak dan ibu tidak usah khawatir masalah biaya rumah sakit. Semua sudah di bayar, bapak dan ibu cukup istirahat saja." ucap Mimi.


"Saya juga tidak bisa berlama-lama disini, begitu pula dengan dokter Syahril dia harus kembali bertugas." imbuh Mimi.


"Saya lakukan ini semua demi kesehatan Naya dan pak Rojali. Kalau mendengar saya pulang kalian ikut pulang juga, terus bagaimana dengan kesehatan bapak dan Naya."


"Sia-sia dong saya mengusahakan bapak dan Naya untuk sehat." ucap Mimi sedikit kesal dengan mereka yang terlalu bergantung pada orang.


Mimi terpaksa mengatakan hal itu agar mereka bisa berpikir lebih dewasa lagi dan bisa menghargai orang lain.


Sebenarnya Mimi juga kasian sama pak Rojali terutama sama istrinya, jaya sang istri yang menemaninya, istri nya juga tidak mudah lagi dan harus menginap di rumah sakit menjaga pak Rojali.


Ingin Mimi mengajak Bu Rojali namun dia tidak mau meninggalkan sang suami. Terkadang Mimi kesal pada anak yang tidak memperhatikan orang tuanya.


Apa lagi orang tua sedang sakit begini, usahkan memberikan biaya pada orangtuanya untuk berobat, menjenguk bahkan membantu menjaganya di rumah sakit pun tidak mau.


Mimi bingung harus bagaimana lagi menghadapi mereka, Mimi lakukan semua ini juga demi kesehatan mereka.


Andai di dusun peralatan lengkap tentu Mimi akan mengajak mereka ikut serta untuk pulang. Mimi keluar dari ruangan mereka dengan perasaan kalut.


Mimi mengerti apa yang mereka resahkan, biaya rumah sakit memang sudah dibayarkan namun biaya mereka selama di kota itu yang menjadi pikiran mereka.


Mimi kembali menemui dokter Syamsul dan meminta pendapat nya dengan masalah pasien ini.


"Assalamualaikum." ucap Mimi ketika hendak masuk ke ruangan dokter Syamsul.


"Waalaikum salam, ayo masuk dokter Mimi." jawab dokter Syamsul.


"Ada apa?" tanya dokter Syamsul ketika melihat Mimi yang gundah.


"Emm dok, pasien yang Mimi dan kak Syahril bawa kemarin masih ingin ikut kamu pulang kedusun." ucap Mimi mengutarakan kegundahan hatinya.


"Emm kamu tau sendiri kan Mi, mereka hidup di perkampungan. Tentu mereka merasa khawatir untuk berlama disini."


"Yah kamu tau sendiri bagaimana perekonomian mereka, mungkin itu yang menjadi kendala mereka untuk tetap tinggal disini."


"Apa lagi selama mereka disini kamu yang bantu mereka." ucap dokter Syamsul.


"Jadi kini harus gimana?" tanya Mimi.


"Begini saja, kamu kan sudah tau diagnosa dan tindak lanjut selanjutnya apa pada mereka. Emm kalau kamu tidak keberatan kamu beli obat-obatan yang mereka butuhkan kedepannya." ucap dokter Syamsul dengan memberikan saran nya.


"Atau kamu bisa bilang ke Syahril dan kamu masukkan obat-obatan yang diperlukan untuk penderita jantung kedalam list obat-obatan untuk puskesmas dusun Bungin." imbuh dokter Syamsul.


Mimi diam dan mempertimbangkan saran dari dokter Syamsul.


"Emm baik lah dok, emm kalau begitu Mimi bicarakan dulu sama kak Syahril. Rencana nya kami sore ini pulang kedusun." ucap Mimi.


"Kalau mereka ikut pulang, kalau bisa jangan sore ini, besok saja kalikan pulang nya." ucap dokter Syamsul.


"Emm iya dok, makasih atas sarannya. Em kalau gitu Mimi permisi duku ya dok. Assalamualaikum." ucap Mimi sembari mengalami seniornya waktu berkerja di rumah sakit jantung kota pedang.


Sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan pak pasiennya, Mimi terus berpikir tentang saran dari dokter Syamsul.


Setelah sampai di ruangan pala Rojali dan Naya, Miki melihat mereka semua sedang tertidur, melihat mereka te tidur lelap, Mimi merasa senang namun Mimi masih belum tenang jika meninggalkan mereka di rumah sakit ini.


Mimi kembali keluar dan Mimi berniat untuk membeli berbagai macam obat yang dia perlukan untuk mereka dari dosis tinggi hingga kerendah nya.


Mimi berjalan mengarungi kota ini menuju apotek untuk membeli obat-obatan. Setelah semua selesai Mimi membawa beberapa kardus obat-obatan itu kembali ke hotelnya.


Mimi tidak menyangka jika dia sampe kalap membeli obat-obatan hingga tiga dus.


Sampai hotel Mimi beristirahat sejenak sambil menunggu Syahril kembali.


Yah dua hari ini Syahril sibuk di kantor kesehatan guna menyelesaikan laporannya.

__ADS_1


Waktu Mimi di Jambi tidak lah banyak, dan sebagian waktunya habis di perjalanan dan di rumah sakit. Mimi pun berniat meminta pertambahn cuti lada Jonathan, Mimi pun menelpon Jonathan


"Assalamualaikum ." ucap mbak Surti dengan suara khas orang bangun tidur.


"Waalaikum salam, mbak Surti Jo mana?" jawab Mimi dan bertanya keberadaan Jonathan.


"Ada, dia masih tidur Mi, kamu ada apa nelpon tengah malam gini." ucap mbak Surti.


"Em mbak tolong sampein ke Jo ya, Mimi dan Di'ah tambah cuti lagi seminggu aja."ucap Mimi.


"Kamu ini Mi Mi." ucap mbak Surti.


"Tolong ya mbak, Mimi lagi banyu pasien disini. Ini aja dah tiga hari Mimi di kota bolak balik ngurus pasien. Tolong mbak ya, bilangin ke Jo." ucap Mimi.


"Iya nanti mbak bilangin, tali nanti kamu tolong belikan mbak buah salak pondo ya di Semarang." Ucap mbaks Surti.


"Iya rebes lah, tolongin ya mbak. Udah dulu ya, mbak harus banyak istirahat. assalamualaikum." ucap Mimi dengan segera berpamitan sebelum mbak Surti meminta yang lain.


"Waalaikum salam." jawab Mbak Surti.


Satu masalah Mimi terselesaikan yah walau sepenuhnya selesai, sekarang Mimi berpikir kembali bagaiman cara membawa mereka pulang secara Miki dan Syahril sendiri sewaktu ke kota memakai mobil yang Mimi catar.


"Ya Tuhan," ucap Mimi kala pikirannya kalut.


"Beri hamba jalan untuk bisa membantu sesama." ucap Mimi lagi.


Saat kalut seperti ini, Mimi menghubungi ayah Brata dan berbagi keluh kesah nya. Mimi pun menceritakan semua tentang pasien yang Mimi bantu.


"Sudah kamu beli saja mobil dari lada rental beberapa hari kamu disana lumayan juga kan uangnya." ucap ayah Brata


"Tapi yah." jawab Mimi.


"Sudah anggap saja kamu beli mobil itu untuk orang tua kamu. Mungkin sudah saat nya kaku membelikan orang tua kamu mobil sekarang." ujar ayah Brata.


"Emm masa iya Mimi belikan mobil sudah bekas Mimi pakek untuk pasien." ucap Mimi.


"Ya nggak apa nak, anggap aja dengan begitu kamu sekalian mengumpulkan pahala." ucap ayah Brata. Mimi pun manggut-manggut.


"Kalau Mimi beli mobil disini, kas pulang ke Jambi siapa yang bawa." ucap Mimi lagi.


"Yah minta antar Syahril, suruh Syahril cuti bentar." ucap ayah brata., Mimi kembali manggut-manggut.


"Iya nak, nih bunda kamu nanya kapan kamu ke Semarang." ucap ayah Brata.


"Bundanya mana?" tanya Mimi.


"Nih" ucap ayah Brata dan memberikan hp nya lada bunda Rahmah.


"Kamu kapan kesemarang nak?" tanya bunda Rahmah.


"Rencana nya sebelum pulang ke LA Bun, sekalian mau beli pesanan Mbak Surti." ucap Mimi.


"O iya lah, Surti juga ada cerita sama bunda semalam katanya dia minta kaku belikan petis dan mau minta kamu belikan jambu sama salak." ucap bunda.


"Hah, tadi dia bilang cuma salak Bun." jawab Mimi.


"Mungkin dia kelupaan, padahal semalam dia bilang mau minta tolong kamu belikan jambu jambu apa nya nanti dia kasih tau kamu katanya." ucap bunda.


"Ck mbak Surti ini yang hamili dia siapa kenapa Mimi jadi ikut ketiban ngidamnya." ucap Mimi


"Nggak boleh gitu, nantinkau kaku hamil nanti dia juga yangbkami repotin" ucap bunda.


"Emm iya juga sih, tapi nggak ah bun. Miki nggak mau ngerepotin orang, cukup ngerepotin Jo aja kalau Mimi hamil.' ucap Mimi.


"Heleh, mana ada ngerepotin orang direncanain. Kamu ini ngada-ngada aja, makanya buruan nikah biar bunda bisa nimang cucu dari kamu" ucap bunda.


"Ya elah Bun, belum lah Bun beberapa bulan lagi. Belum juga Mimi nikah udah minta cucu dari Mimi." ucap Mimi.


'Ya habis kelamaan, buruan nikah aja Napa mumpung kamu masih di Jambi ini, kamu kan sekarang lagi sama Syahril, apa nggak iri kamu dengan Di'ah.'' ucap bunda, Mimi hanya diam.


"Buruan pokoknya, bunda mau cucu kembar dari kamu." ucap bunda.


"Hah, bunda ini emang bisa apa request gitu. Nikah aja belum. Ntar bukan depan Mimi kasih cucu jembar buat bunda hehee.' ucap Mimi ngasal.


"Ngawur aja kalau ngomong, nikah dulu baru buat cucu kembar." ucap bunda,


"Iya iya Bun, ntar Mimi kabulkan request bunda sama emak." ucap Mimi.


Yah emak nya Mimi juga menginginkan cucu kembar dari Mimi dan Syahril.


"Kalau perlu habis pulang dari sini langsung Mimi kasih cucu kembar nya hehee." ucap Mimi lagi dengan canda nya.

__ADS_1


"Kamu ini, jangan ngomong ngawur gitu, nikah dulu." ucap bunda dengan memarahi Mimi.


"Hehehe kasih cucu kan ndak mesti nikah Bun." Jaco Mimi lagi.


"Kamu ini ya semakin ngawur aja, awas aja kalau kalian berdua berbuat macam-macam. Bunda pastiin bunda mutilasi punya Syahril.


"Yah jangan dong Bun, buntung nanti" jawab Mimi.


"Biarin, buntung buntung sekalian." ancam bunda..


"Mana enak Bun," ucap Mimi.


"Eh ini anak ya.. Benar benar nih anak, lihat yah anak mu ini." ucap bunda pada ayah Brata.


"Mi.." seru ayah Brata.


"Hehhee ndak kok yah ngak macam-macam cuma semacam aja hehee." ucap Mimi.


"Semacam-semacam, awaas aja ya kalau semacam itu ampe tekdung duluan, beneran bunda mutilasi tuh punya Syahril." ucap Huda Rahmah dengan terus mengancam Mimi.


Tanpa Mimi sadari, Syahril sudah berada di belakangnya. dan mendengar semua percakapan Mimi dengan orang tua keduanya itu.


"Apa nya yang di mutilasi Bun" sahut Syahril yang mendengar namanya disebut-sebut.


"Nah, ini dia anaknya. Lah kenapa kamu ada dikamar Mimi. Oo ini anak ya, kalau nggak tahan lagi ya buruan nikah. Awas ya kamu Riil kalau macam-macam sama anak bunda, bunda mutilasi punya kamu." ucap bunda.


"Eh, jangan dong Bun.. Kau di mutilasi aset Syahril gimana Syahril mau kasih cucu buat bunda, buat umma dan emak." ucap Syahril dengan seketika menutup benda pusaka nya.


''Makanya jangan macam-macam." ucap bunda.


"lah yang macam-macam siapa Bun, cuma semacam doang kok." jawab Syahril, Miki yang mendengar jawabannya Syahril semakin terbahak-bahak.


"Lah ini anak sama saja. Awas pokoknya kalau sampe lecet sedikit aja Mimi apa lagi ampe tekdung duluan bunda mutilasi beneran pusaka kamu." ucap bunda. dengan geregetan.


"Eh, lah siapa juga mau gituan duluan Bun. Yaudah kalau gitu ayah sama bunda nikahkan kami sekarang.'' ucap Syahril.


"Eh" jawab Mimi seketika berhenti ketawa.


"Emm iya nanti bunda kasih tau emaknya dan keluarga Mimi, masa iya kalian kalah sama Di'ah. Nggak iri apa kalian melihat Di'ah dan Ryan sudah enak-enak." ucap bunda, ayah Brata mendengar isterinya berucap seenak itu hanya menggeleng.


"Ah udah lah, bunda lagi mau urut, dah ya assalamualaikum.


"Waalaikum salam." jawab Syahril,. Syahril melihat Mimi tersenyum licik.


"Emm ayo ngomong ala sama bunda hmm." ucap Syahril sembari mendekati Mimi.


"Nggak ada kok, bunda aja yang request minta cucu kembar." jawab Mimi.


"Yaudah ayok kita buat cucu kembar buat bunda, emak dan Umma." ucap Syahril Dengan mendekati Mimi.


"Eh Kaka mau ngapain, mau kakak di mutilasi itunya sama Bunda." ucap Mimi.


"Emang kamu mau kalau dah buntung." ucap Syahril.


"Eh mana enak buntung hahaha cari yang lain lah." ucap Mimi.


"Sembarangan, enak aja cari yang lain." ucap Syahril dengan mengejar Mimi.


Setelah puas bergelut di atas ranjang, Mimi dan Syahril berbicara serius tentang pasiennya dan Mimi juga mengutarakan saran dari dokter Syamsul dan ayah Brata.


"Yaudah, kalau gitu kita beli mobil saja buat emak." Ucap Syahril.


"Ayok kita ke dealer nya sekarang." ajak Syahril.


"Emm ayok, bentar Mimi ganti baju dulu." jawab Mimi dan segera berganti pakaian karena pakaiannya yang dia kenakan tadi kusut karena Syahril terus menggelitiknya di atas kasur.


Syahril pun sama, dia juga mengganti kemejanya, karena kemejanya tak kalah kusutnya dengan baju Mimi setelah berganti pakaian mereka pun kembali keluar hotel menuju dealer mobil.


Sehabis membeli mobil sore itu, Mimi dan Syahril juga pergi ke mall yang ada di kota ini. Yah pakaian mereka sekarang tinggal pakaian kotor yang ada.


Saat Mimi membeli pakaian, Mimi juga membeli pakaian buat orang tua Naya serta Naya dan buat pak Rojali berserta istrinya.


Sehabis berbelanja hari pun telah sore, Mimi dan Syahril menyempatkan membeli makanan buat orang tua Naya dan Bu Rojali.


Mimi dan Syahril pun mengantar makanan itu ke pada mereka, Mimi juga menyampaikan kalau besok siang mereka boleh ikut pulang.


Terlihat rona bahagia dari wajah mereka kala Mimi mengatakan hal itu. Mimi ikut tersenyum kala melihat mereka bahagia.


Bahagia itu sederhana, dengan melihat orang yang kita bahtu bahagia maka kita pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2