DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
hari bersejarah Reno dan Arindita


__ADS_3

Setelah acara wisuda, perencanaan Reno untuk menikahi kekasih nya pun telah mendekati waktu.


Keempat sahabat Reno menjadi pendampingnya saat resepsi nanti, begitu pula Mimi, Muthia pun di pinta untuk menjadi Bridesmaids.


Mimi,Muthia, beserta pasangan mereka akan melakukan pengukuran pakaian untuk acara pernikahan Reno.


Disini yang paling heboh bukan mempelai prianya namun kedua dari pendamping mempelai.


Dillah dan Satria sibuk memilihkan model pakaian untuk pasangan mereka.


Mereka memilih model yang tidak bisa membuat mata orang lain melirik ke arah pasangannya.


Mereka semua saat ini berada di butik kepercayaan orang tua Reno untuk melakukan pengukuran.


"Anty, pokoknya buatkan dia model nya membuat orang lain tidak melirik ke dia anty." ucap Dillah


"Iya betul nty, jangan sampe ada satu mata aja yang melirik." sahut Satria.


"Kalian ini mau model apaan seperti itu hah!!" ucap si aunty Rima yang sudah jengah mendengar permintaan kedua anak manusia itu.


"Pokoknya kalian lihat saja disini, semua model pakaian muslimah ada disini." ucap anty Rima dengan memberi album yang berisi model pakaian karya-karyanya dan meninggalkan dua anak manusia yang selalu meminta di luar nalar orang.


Dillah dan Dillah duduk di sofa dan melihat hasil karya anty Rima. Semua sahabat nya hanya menggelengkan kepala melihat perilaku nya.


"Betah kamu Mi sama orang model itu?" tanya Reno dengan mwnunjuk ke arah dillh dan Satria dengan dagunya, Mimi hanya tersenyum.


Tak lama anty Irma pun duduk di sofa bersama Reno dan yang lain dengan menghelakan nafas panjangnya.


"Kenapa Anty?" tanya Yogi.


"Huuum huuhh, gila aja tuh dua anak manusia"


"Baru kali ini anty melihat orang seperti mereka, biasanya banyak pasangan yang ingin melihat pasangan berpenampilan cantik, ini malah minta supaya tidak terlihat oleh pandangan orang lain"


"Emangnya anty ini tukang sulap apa." anty Rima terus ngedumel.


"Hahahaaa" Reno dan Yogi serta Bryan serta Irsyad tertawa ngakak.


"Biasa Anty, takut di embat orang." ucap Yogi.


"Ya tapi nggak segitu nya kali Gi, kalau nggak mau cantik, nggak mau dilihat orang ya nggak usah jadi Bridesmaids. Kurung aja ceweknya." sungut anty Irma.


"Lihat aja tuh, dari tadi bolak balik siang sambil geleng-geleng." ucap anty Irma dengan melihat ke arah Dillah dan Satria.


"Bhuahahaaa" keempat lelaki itu tertawa puas.


"Dah bilang aja Ant pakek daster aja. Ya nggak Mi, Muth?" ucap Bryan dengan melihat ke arah Mimi dan Muthia.


Ya Bryan kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan sang sahabat. Sekarang Bryan menjadi sosok yang berbeda, dia bukan lagi Bryan yang dulu.


Saat dai melihat dan mengetahui kalau Mimi yang sempat menjadi incaran dulu telah menjadi milik sahabtnya sendiri lun hanya bisa tersenyum.


Sampai saat ini Bryan tidak pernah lagi berhubungan dengan perempuan, hari-hari nya saat berkuliah di London hanya di isi dengan kegiatan kuliah dan perusahaan yang mulai dia rintis sendiri.


Bryan masih sering mencari keberadaan darah dagingnya yang sampai saat ini belum diketahui siapa yang mengadopsi nya.


Jika diperkirakan mungkin anaknya kini telah berusia tiga tahun, dia selalu berdoa agar dipertemukannkepada sang buah hati nya bahkan dia sangat ingin merawat putra semata wayangnya itu.


Rasa bersalah yang kini dia tanggung sangat berperan dalam hidupnya. Yang duku dirinya selalu bernafsu ingin memiliki setiap gadis yang di incar nya, kini rasa itu seakan mati rasa.


Di LA Syahril selalu berhubungan dengan Irsyad untuk mengetahui keadaan dan kabar Mimi. Dia bahagia melihat Mimi terlihat bahagia ketika Irsyad mengirim foto Mimi bersama Dillah saat di wisuda Dillah.


"Kamu sangat cantik dek."


"Sayang ya.. Saat kakak wisuda kamuntidak bisa mendampingi kakak."


"Namun dia.." ucal Syahril lirih dengan mengelus wajah Mimi dilayar ponselnya.


"Apa kakak bisa melupakan mu dek? tidak, kakak tidak akan bisa."


"Kakak berjanji, kakak tidak mengganggu mu bila kau bahagia bersama yang lain, namun jika kau tersakiti maka kakak akan menarik mu kembali dalam pelukan kakak."


"Sampai kapan pun kakak tidak akan memberikan hati kakak pada siapapun. Hati kakak hanya untukmu seorang." ucapnya


"Kakak merindukanmu dek." ucapnya.


Di butik Mimi merasa hatinya nyeri dan tiba-tiba teringat akan Syahril.


Mimi menutup matanya dan menghelakan nafas panjangnya. Muthia melihat Mimi menghelakan nafas ikut menghelakan nafas juga.


Dillah dan Satria masih bergelut dengan keinginan hati sehingga membuat anty Rima mendengus kesal.


Hari ini waktu Mimi dan Muthia habis menunggu keputusan dari Dillah dan Satria yang tak kunjung ada.


"Yaudah ya.. Waktu anty dah habis buat kalian berdua, kalian kurung aja cewek kalian kalau nggak kalian pakek in aja mereka berdua daster sekalian." ucap anty yang sudah kesal melihat tingkah Dillah dan Satria.


"Yah kok gitu si anty, bhat keg yang model nggak terlihat begitu !menarik perhatian gitu." ucap Satria.


"Ada, pakai karung aja sekalian. Kalian aneh, banyak orang ingin melihat pasangan terlibat sempurna di mata orang lain. Ini kalian malah tidak ingin.Haduhhh pusing kepala Anty, kok bisa tuh cewek mau sama kalian." ucap anty Rima ya g udah frustasi melihat tingqk Dillah maupun Satria.

__ADS_1


Mimi yang melihat ke arah anty yang masih berdebat dengan Dillah dan Satria menghelakan nafasnya. Mimi tidak mengerti dengan Dillah yang terlalu posesif seperti itu.


mimi mendekati meja anty dan Mimi pun mengambil album yang berisi foto-foto model gaun muslimah. Muthia pun mengikuti Mimi.


Mimi dan Muthia memilih sendiri model ala yang akan mereka kenakan. Setelah bolak balik mencari yang cocok. Mimi dan Muthia pun memilih model gaun muslimah yang tidak begitu memperlihatkan lekuk badan.


"Ini aja anty " jawab Mimi dan menunjukkan model gaun rancangan anty Rima.


"Kamu gimana Muth?" tanya anty Rima.


"Sama dengan Mimi Anty." jawab Muthia.


"Hmm ok, ini juga sangat bagus. Simpel, sederhana namun terlihat elegan." jawab anty Rima.


"Yaudah jadi fix yang ini aja ya?" tanya Tante Rima.


"Iya anty." jawab Mimi dan Muthia.


Dillah dan Satria saling pandang dan akhirnya mereka mendekati Mimi dan Muthia untuk melihat gaun model apa yang mereka berdua pilih.


"Lihat yank" ucap Dillah.


"Lihta dek" ucap Satria yang serempak dengan Dillah.


Mimi memberi album itu namun Mimi tidak menunjukkan model gaun yang bagaimana nya, begitu pula dengan Muthia.


Dillah dan Satria bengong, sambil menerima album tersebut.


"Nggak usah banyak protes, yang makek Kam kita berdua." ucap Mimi dengan menggandeng Muthia serta pergi dari hadapan mereka.


Anty Rima tersenyum mengejek pada Dillah dan Satria, sedangkan Dillah dan Satria tercengang ketika di tinggal kedua gadis itu dan cemberut melihat ke arah anty Rima. Anty Rima terus tersenyum dengan puas.


Yogi, Irsyad dan Reno tertawa puas melihat muka Dillah dan Satria yang sudah tertekuk.


"Yank, kamu pilih model yang gimana?" tanya Dillah.


"Iya dek, jangan pilih yang terlalu berlebihan dek." ucap Satria.


Mimi dan Muthia yang masih berjalan menuju pintu keluar seketika berhenti dan !menoleh ke arah Dillah dan Satria.


"Kalau nggak mau berlebihan kenapa harus ke butik anty Rima kenapa nggakmdi pasar loak aja sekalian." ucap Mimi dengan pedas.


"Iya, belum apa-apa aja udah pelit." sahut Muthia.


"Dek bukan gitu, aku bukannya pelit cuma aku nggak mau nanti semua mata tertuju pada kalian.'' ucap Satria memberikan alasan.


'Hallah, alasan aja " ucap Muthia dan kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, begitupula dengan Mimi yang mengikuti langkah Muthia.


Mereka pun akhirnya masuk kedalam mobil Dillah, begitupula dengan Muthia dan Satria.


"Kita makan aja dulu ya?" ucal Dillah


"Hmm" jawab Mimi.


"Yaelah yank kok di cuekin sih." ucap Dillah.


"Iya." jawab Mimi.


"Mau makan dimana?" tanya Dillah lagi.


"Terserah." jawab Mimi, Dillah dan Satria menghelakan nafas menghadapi kedua gadis ini.


Disepanjang jalan tidak ada obrolan seperti biasa, Mimk berulang kali menguap karena dirinya merasa capek dan mengantuk.


Di tambah Dillah memutar sholawatan di dalam mobilnya, membuat mata Mimi semakin meredup dan tertidur. Muthia pun begitu dia juga tertidur.


Sesampainya di restoran, Dillah maupun Satria tidak tega untuk membangunkan Mimi maupun Muthia.


Lama mereka berada di parkiran untuk menunggu Mimi maupun Muthia terbangun, namun karena Mimi dan Muthia tertidur lelap akibat kelelahan Dillah maupun Satria ikut tertidur.


Entah sampai berapa lama mereka tertidur, saat mereka bangun hari telah gelap alias malam.


"Emmm" ucap Mimi yang baru terbangun. Mimi melihat sekitarnya, dilihatnya dia masih berada di dalam mobil dan di lihat di luar lampu-lampu juga sudah pada hidup.


"Jam berapa sekarang, kok lampu sudah pada hidup." gumam Mimi yang masih mengumpulkan energinya.


Mimi melihat arlojinya dan saat terlihat angka yang tertulis di arlojinya 20:30 Mimi langsung berteriak.


"Astaghfirullah." ucap Mimi dengan berteriak dan semua orang di mobil terbangun.


"Ada apa sih Mi?" gumam Muthia dengan mata yang masih terpejam.


"Muth, ya Allah jadi kita berempat tidur di mobil? Astaghfirullah ya Allah." ucap Mimi.


"Hah apa!!" tanya Muthia


"Jam berapa ini Mi? kok bisa ketiduran sampe malam gini sih." ucap Muthia setelah melihat arlojinya.


"Apaan sih yank, berisik amat." ucap Satria dengan mengeratkan pelukan dinpinggang ramping Muthia.

__ADS_1


"Isss kak lepasin, bangun kenapa?" ucap Muthia.


"Emang ada apa?" tanya Dillah.


"Hari dah malam kang," ucap Mimi.


"Hmm. Apa!!! Ucap Dillah dan Satria seraya langsung melihat arlojinya.


"Astaghfirullah, kok bisa ya." ucap Satria dengan bego nya.


"Ya bisa lah Sat, kkta berdua tadi nungguin dua ratu tidur pulas ya jadinya ikutan pulas juga." sahut Dillah menguap dengan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Emm yaudah turunlah yok. Laper nih perut." ucap Satria.


"Emang maaihnada menunya kak jam segini?" tanya Mimk dengan polosnya.


"Ya masih lah Mi, ayok lah " ajak Satria yang langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Sebelum merek memesan makanan, mereka pergi ke toilet restoran untuk sekedar mencuvinmuka mereka. Epsetelah itu mereka mencari-cari tempat yang bisa melihat pemandangan di malam hari.


Mereka berempat pun memesan makanan dan mereka juga duduk di balkon belakang.


Mereka berempat menyantap makanan dengan lahap bahkan mereka memesan seporsi lagi karena perut yang merasa sangat lapar. Tidak ada yang jaim bila menyangkut perut.


Menyantap menu seafood dengan di hiasi langit yang cerah serta terdengar alunan musik yang mendayu-dayu menjadi suasana malam ini makan malam romantis.


Keesokan harinya Mimi dan muthia kesiangan, karena sehabis sholat subuh mereka kembali tertidur. Beruntungnya hari ini kelas di mulai di siang hari.


Setelah selesai bersiap Dillah dan Satria lun telah tiba di kosan Mimi.


Walaupun mereka sudah tidak berkuliah, mereka selalu menyempatkan diri untuk mengantar atau menjemput sang kekasih.


Sesibuk apapun mereka, jika mereka akan pergi keluar kota sebisa mungkin di pagi hari itu mereka akan menyempatkan mengantarkan kekasih mereka.


"Ckk kalian ini, kayak masih mengantuk berat saja." ucap Selfia.


"Hmm bener Fi, Tia masih ngantuk. Semalam nggak bisa tidur hoam." ucap Muthia.


"Lah ko bisa." tanya Irma.


"Iya emang kalian pulang jam berapa sih, amle jam sepuluh kota nungguin kalian belum juga pulang." ucap Selfia.


"Semalam kita pulang jam sebelas Fi." jawab Muthia.


"Oo, emang lama apa ngukur bajunya?" tanya Selfia.


"Nggak." jawab Mimi.


"Lah terus kalian kemana?" tanya Irma.


"Tuh yang bikin lama." ucap Muthia menunjuk ke arah Dillah dan Satria.


"Lah kok kita dek?" tanya Satria.


"Iya kalau bukan kalian nggak berdebat soal model gaunnya nggak bakal ampe sore." ucap Muthia.


"Iya tapi kan yang bikin lama itu kita ketiduran di mobil dek." ucal Satria.


"What!! kalian tidur di mobil? ckk kalau dah nggak tahan, noh sono sekalian pergi ke KUA." cerocos Selfia.


"Kita ketiduran karena capek plus perut laper, eh kita ketiduran mereka berdua malah ikutan ketiduran. Jadi lah kami bangun jam setengah sembilan." jawab Mimi.


"Ha-ha-ha pasti dahnlada demo tuh cacing dalam perut." ucap Selfia.


"Bukan demo lagi Fi, dan berontak dia." sahut Dillah.


"Hahahaaa" mereka semua ketawa bersama hingga tak terasa mereka pun telah sampai di kampus.


Sehabis mengantar Mimi dan ketiga sahabatnya, Dillah dan Satria pergi ke cafe resto nya yang berada di taman baru.


Satu Minggu kemudian Mimk dan yang lain melakukan fitting baju takut jika ukuran meleset. Lagi-lagi Dillah dan Satria mengomentari gaun Mimk dan Muthia yang telah siap itu.


"Anty, Lok kok model gini sih?" tanya Dillah.


"Iya Anty, kalau gini tambah bening mata orang memandangnya." ucap Satria.


"Hmm itu hanya perasaannya kalian berdua saja " ucal si anty Rima.


"Yank, kok kamu milih model ini sih?" protes Dillah lada Mimi.


"Iya dek, emang nggak ada model lain gitu?" tanya Satria pada Muthia.


"Model lain yang ada memperlihatkan lakukan pinggang semua." ucap Muthia.


"Iya emang ada apa dengan model ini?" sahut Mimi.


"Iya emm ckk udahlah." ucap Dillah pasrah.


Dillah dan Satria terpaksa menerima model gaun pilihan kekasih mereka ya walau baginmereka masihntetap tidak terima kalau sang kekasih di lirik orang lain.

__ADS_1


tbc


kita lanjut besok ya, gak kuat mataku


__ADS_2