
Irsyad berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, saat dia melewati kamar yang biasa ditempatinya bertiga dengan abangnya itu, Syahril membuka pintu kamar.
"Bang bagaimana Mimi?" tanya Irsyad.
"Dia sudah kelihatan tenang." jawab Syahril.
"Emm syukurlah, Abang mau sekalian dibuatin minum?" ucap Irsyad menawari Syahril minum.
"Hmm tumben kamu buat sendiri?" tanya Syahril.
"Huuummm huuh, lara gadis lagi pasang taring." ucapnya.
"Hehehe" Syahril hanya ketawa.
"Mau nggak nih? mau minum apa?" ucap Irsyad dan menawarkan lagi.
"Teh hangat aja dek." jawab Syahril.
"Ok, Abang tunggu aja di depan dan siap-siap mental hadapi tiga singa betina " ucapnya dan berlalu pergi, sedangkan Syahril hanya mengangkat kedua bahunya.
Sesampainya di dapur Irsyad melihat kue-kue tertata rapi di nampan hidangan, dengan air liur yang hampir menetes dan mata berbinar Irsyad mengambil satu kue Muso lalu dimasukkan langsung kedalam mulut nya.
Dengan lincah Irsyad membhat teh untuk merek bertiga, lebih tepatnya lebih takut bila si singa betina didepan juga akan mengomel bila tak dibuatkan juga.
Dibuatnya teh di dalam teko kecil setelah itu dia mengambil piring dan dimasukkan beberapa buahnkue Muso serta bolu ketan hitam serta brownies cup.
Dibawanya nampan ke depan, sambil bersiul ria entah apa yang!membuatnya bahagia yang pasti bahagia dapat camilan malam.
Di ruang tamu ketiga sahabat Mimi masih beemuka jutek melihat ketiga pemuda itu, apa lagi melihat Irsyad yang membawa nampan berisi kue-kue buatan mereka tadi.
"Sorry girl, kita nyicip ya.." ucap Irsyad dengan mengambil kue Muso dan langsung di gigit nya serta memainkan matanya sebelah kearah ketiga gadis itu.
"Huuh" ketiga gadis itu hanya mendegus.
"Emm kalian nggak belajar." tanya kak Syahril.
"Tadinya belajar, cuka berhenti saat kalian datang." ucap Muthia ketus.
"Emm maaf kalau gitu." ucap kak Syahril.
"Emm Muth, sejak kapan Mimi tidur gelisah dan mimpi buruk seperti itu." tanya kak Syahril yang ingin tau.
"Semenjak kakak beberapa hafinputus kontak dengannya." jawab Muthia.
"Iya, apa maksud kakak seperti sama Mimi?" tanya Irma
"Tega kakak sammaa Mimi, kalau sudah bosan jangan main tinggal begitu." ucap Selfia.
"Maaf, kakak tidak bermaksud begitu." ucap syahril dengan senyum lirih nya.
"Hukum huh, asal kakak tau. Mimi menderita kak, semenjak hilang kontak dengan kakak, walau dia terlihat baik-baik saja di luar tapi kita tau kak, kalau Mimi itu sedih. Apa kakakmlohat badannya kini? gara-gara mikirin kakak, selera makannya terganggu. Tiap hari selalu melihat ponselnya menungguinya kakak nelpon, dan lebih parah akhir-akhir ini." ucap Muthia tanpa dipinta air mata Muthia menetes bila mengingat bagaimana keseharian Mimi.
"Kakak, kemana aja? kenapa kakak tidak kasih kabar pada Mimi? dan sekarang tiba-tiba kakak datang tanpa kabar pula. Dia selalu menunggu janji kakak yang akan datang sebelum ujian. Tapi... Sekarang kakak datang di akhir kami ujian." ucap Irma.
"Maafkan kakak, kakak tidak bermaksud begitu, emm kakak lagi sibuk saja." ucap Syahril berbohong dengan alasan sibuk.
"Hmm baru kali ini Muthia dengar kakak sibuk sampe tidak menghubungi Mimi, bukan sehari dua hari lagi tapi Minggu bahkan mau sebulan. Setiap dia nelpon kakak, kakak rijeck lalu kakak WA dia bilang sibuk. Jujur kami tidak percaya." ucap Muthia.
"Iya kakak tau, kakak salah. Cuma.. Kakak ..." ucap Syahril yang di potong oleh Ryan.
"Riil.. Lebih baik kamu istirahat, kamu juga butuh istirahat." ucapmeyangnut mengingatkan Syahril.
"Iya bentar aku ambil kasur dan bantal dari kamar, biarkan Mimi tidur di kamar itu." ucap Syahril dan beranjak berdiri.
"Riil biar aku aja." ucap Rya, Syahril pun mengangguk namun seketika dia melarang Ryan untuk masuk.
"Emm eh Yan, ndak usah biar aku saja yang masuk, kamu tunggu dinluae kamar." ucap Syahril, dia dan Ryan pun berjalan menuju kamar.
Syahril masuk kamar untuk mengambil kasur lipat lainnya serta bantal untuk mereka bertiga tidur di depan TV.
Setelah kasur dan bantal di keluarganya dan di angkut oleh Ryan, Syahril sekali lagi melihat Mimk dari dekat.
"Maafkan kakak dek, maafkan kakak. Kakak akan membayar nya segala kesalahan kakak sama kamu. Cup" ucapnya dengan diakhiri kecupan di kening Mimi lama dan tak terasa air matanya pun ikut terjatuh.
Sakit itu yang dirasakan Syahril saat ini ketika melihat orang yang dicintainya menderita batin.
Mimi merasa ada yang mengecupnya, dan hidung Mimi mencium aroma yang tak asing, aroma yang dirindukannya, dan Mimi merasa ada air yang jatuh di kelopak matanya, perlahan Mimi !membuka matanya.
Syahril masih mengecup kening Mimi dengan deraian air mata, Mimi yang melihat orang yang dirindukannya sedang mengecup dirinya berasa mimpi, Mimi kembali menutup mata dan membukanya kembali. Mimi takut itu hanya sebuah mimpi yang membuat dirinya penuh harap.
Saat Mimi meyakini kalau itu adalah nyata, Mimi pun meneteskan air mata sembari memeluk badan Syahril, Syahril yang merasa dirinya dipeluk pun kaget, namun akhirnya dia juga memeluk Mimi.
"Ka kak, hiks ini bukan mimpi kan." ucap Mimk yang masih menenggelamkan wajahnya di dada Syahril.
"Ini bukan mimpi kan kak," ucap Mimi lagi sembari mempererat tubuh Syahril.
"Bukan dek, ini kakak. Kakak sudah disini, maafkan kakak." jawabnya dengan deraian air mata.
Mereka berdua saling berpelukan meluapkan kerinduan mereka.
Syahril melepaskan pelukannya di tangkupnya wajah Mimi, di ciumnya setiap inci wajah Mimi seraya berucap "Maaf" berulang kali.
"Hiks hiks hiks, kakak kemana saja.. Mimi menunggu kakak, Mimk rindu kakak." jawab Mimi dengan Isak tangis, Ryan yang mendengar dari arah luar hanya menarik nafas berat.
Ryan berjalan ke arah depan TV dengan membawa beberapa bantal.
"Abang kwnaoau?" tanya Irsyad.
"Mimi sudah bangun." jawab Ryan dengan menunduk begitu pula dengan Irsyad pun ikut menunduk.
ketiga sahabat Mimi merasa heran dengan mereka berdua ,seperti ada yang mereka sembunyikan.
"Kak Ryan, sebenarnya ada apa? kenapa kalian terlihat sedih?" tanya Selfia.
"Nggak apa-apa Fi." jawab kak Ryan.
"Mustahil tidak apa-apa, kenaoanmuka kalian sedari datang juga terlihat sedih." ucap Muthia yang sempat melihat rona wajah mereka sewaktu datang sedikit kusut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok Muth." jawab kak Ryan lagi.
Di dalam kamar Mimi dan Syahril masih saling meluapkan kerinduannya.
"Kakak sudah makan?" tanya Mimi.
"Oh ya kakak kapan tibanya?" tanya Mimi lagi.
"Emm sudah sagu jam lalu." jawab kak Syahril.
"Oh maaf tadi Mimi kecapekan terus Mimi tidur di kamar kakak, maaf jadinya kakak tidak langsung beristirahat." ucap Mimi.
"Oh ya kakak sudah makan? Mimi siapin ya?" ucap Mimi dan hendak keluar kamar.
"Eits, masa mau keluar begitu dek, di luar ada Irsyad dan Ryan." ucap Syahril dengan menarik tangan Mimi.
Mimi lupa kalau dia memakai pakaian tidur daster yang minim tali itu..
"Eh iya.'' ucap Mimi kemudian Mimi mengambil baju syahril yang dipasangnya di guling dan memakainya.
Syahril yang melihat baju dipasangkan ke guling menautkan kedua alisnya.
"Emm ini cara Mimi untuk menyalurkan rasa rindu Mimi." ucap Mimi yang tau arti tatapan Syahril.
"Ini baju, terakhir kakak pakai kan?" tanya Syahril.
"Hemm iya, sengaja tidak Mimi cuci. Kakak juga mau datang ndak bilang-bilang jadi ketauan deh." jawab Mimi, Syahril hanya mengangguk paham dan mengacak rambut Mimi.
"Emm ini hijabnya." ucap kak Syahril dengan memberikan hijab kepada Mimi.
Begitulah Mimi dengan Syahril bila bertemu, jika berdua kadang dia jarang memakai jilbab, namun bila ada Ryan Mimi segera mengenakan hijabnya walau sebelumnya Ryan juga pernah melihat dirinya tanpa hijab.
"Ayok kak, keluar nggak enak dengan yang lain." ucap Mimi dan mengajak Syahril keluar.
"Emm Mimi buatkan minum ya?" tangan Mimi.
"Ndak usah dek, sudah di buat." tolaju Syahril
"Oh gitu, yaudah kita gabung sama mereka." ajak Mimi.
Mimi melihat ketiga sahabatnya berwajah tak bersahabat melihat Ryan dan Irsyad, Mimi tau mungkin mereka merasa kecewa kepada Irsyad yang mungkin tau keadaan Syahril.
"Eh Mimi, apa kabar dek?" tanya Ryan ketika meliaht Mimi sudah berdiri disana sama Syahril.
"Seperti yang Kaka lihat." ucap Mimi.
Mimi menatap Irsyad tajam, Irsyad yang melihat Mimi begitu hanya acuh.
"Emm kakak sudah makan?" tanya Mimi.
"Sudah Mi, sewakguny sampe di bandara tadi." jawab kak Ryan.
"Kak Ryan." panggil Mimi.
"Hmm" jawab Ryan dengan deheman karena dia tau pasti Mimk akan bertanya lebih setelah nya.
Ryan tidak langsung menjawab melainkan melihat ke arah Syahril dan Irsyad. Irsyad tak !menggubris bahkan dia seolah tak dengar dan tak melihat ke arah Ryan. Ryan hanya mendegus.
"Sibuk Mi." jawab nya.
"Sibuk??" ini mengulanginya.
"Hmm" jawab Ryan.
"Sejak kapan kalian sibuk menonaktifkan HP." ucap Mimi lirih.
"Sejak kapan kalian sibuk mengabaikan Mimi." ucap Mimi lagi.
"Emm kita bukan tak aktifin hp Mi, cuma kita lupa laporkan kartu kita agar bisa roaming, beberapa Minggu ini kita ke LA." ucap ryan dengan alasannya.
"Hmm, apa kalian tidak berbohong sama Mimi?" tanya Mimi dengan melihat ke arah Ryan, Irsyad dan Syahril bergantian.
Mereka bertiga serentak menggeleng. Mimi tak segampang nya menerima.
"Mimi kenal kalian bukan sehari dua hari" tatap Mimi sendu pada kekasih nya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Mimi lagi dengan menelisik wajah Syahril yang terlihat sedikit pucat.
Mimi mengelus pipi Syahril dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.
"Kak, kakak sakit?" tanya Mimi dengan mata yang masih melihat kearah Syahril.
"Emm ndak dek, kakak tidak sakit." jawabnya. Mimi tersenyum getir dengan air mata yang tak ingin berhenti. Syahril menghapuskan air mata Mimi.
"Jangan menangis, kakak baik aja. Buktinya kakak sudah datang, kakak sudah ada disini." jawabnya lagi, Mimi menggeleng tidak percaya.
"Kakak jangan bohong, kakak sakit apa?" ucap Mimi dan terus bertanya.
"Kakak tidak apa-apa sayang, kakak sehat kok." jawabnya.
"Kakak tau, Mimi senang kakak ada disini. Berarti mimpi Mimi semalam benar adanya kalau kakak ada disini, tapi.." ucap Mimi dengan Isak tangis.
"Adik mimpi apa? jangan nangis lagi." tanya Syahril.
Ryan dan Irsyad hanya diam, mereka tak berani berucap, hati mereka pun ikut sakit melihat percintaan Mimi dan Syahril.
"Mimi mimpi berada di dalam ruangan berwarna tosca, Mimi mimpinya berkali-kali dalam seminggu ini, dan baru semalam Mimi bisa melihat siapa orang dibalik tirai itu, hiks hiks.. Orang yang terbaring dengan kepala di perban, selang-selang berada ditubuhnya hiks hiks.." Mimi pun menceritakan tentang mimpinya tersebut.
Deg dada Ryan, Irsyad dan Syahril serasa ingin berhenti memdengar cerita Mimpi yang di alami Mimi. Mereka berdua hanya bisa menunduk dengan menghelakan nafas nya.
"Itu hanya sebuah mimpi dek, bunga tidur." ucap Syahril.
"Iya Mi, itu hanya bunga tidur." Sahut kak Ryan.
"Itu mungkin karena Mimi terlalu rindu sama Abang, dan ingin abang datang jadinya mimpinya aneh, tapi nyata kan kalau abang kesini." ujar Irsyad
"Apa iya ini nyata? Muth, Fi, Ir, ini nyatakan? Mimi tidak sedang bermimpi lagi kan?" ucap Mimi dan bertanya kepada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Iya Mi, ini nyata." jawab Muthia.
"Nyata Mi, Mimi dengan nyata berpelukan di depan kami yang jomblo." sahut Selfia dengan gurauan.
plak Irma mengeplak tangan Selfia.
"Iss Irma.. Kok tangan Fia dintampar sih." sungut Selfia.
"Jawab nyata aja nggak usah pakek bawa-bawa Jomblo" ucap Irma.
"Hmm tapi nyatanya begitu, kecuali Irma tapi kalau saat ini kita semua jomblo." sahut Selfia dan semua pun ketawa.
Mimi melihat seksama diri Syahril, ada yang berbeda dari penampilan di diri kak Syahril. Ryan selalu melihat pergerakan Mimi yang selalu teliti dan detail itu.
"Kak.." panggi Mimi.
"Hem iya dek.." jawab kak Syahril.
"Kakak potong rambut?" tanya Mimi dengan melihat gaya rambut cepak Syahril.
Deg Ryan, Irsyad dan Syahril kembali berdetak di dadanya. Mereka merasa takut bila Mimi terlalu banyak bertanya.
"Emm iya dek, kan biasanya kakak juga gini kan?" jawabnya.
"Iya sih, tapi kakak tidak pernah potong rambut hingga sependek ini" ucap Mimi dengan melihat rambut dikepala Syahril.
"Badan kakak juga kurusan." imbuh Mimi yang melihatnceeuk leher Syahril yang terlihat tulangnya menimbul.
Miminyerua menelisik sambil mengitari Syahril, Syahril selalu mengikuti pergerakan Mimi sehingga Mimi kesal.
"Ihhh kakak diam." ucap Mimi dengan memegang kepala Syahril agar diam tak mengikuti setiap pergerakan Mimi.
Ryan berbisik pada Irsyad "mampus kota dek." ucap Ryan
"Iya bang" jawab Irsyad.
"Ehem.." Muthia berdehem melihat kedua makhluk yang berbisik itu dengan tatapan penuh curiga
Irsyad hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Kenapa kamu Syad, kutuan??" tanya Selfia yang melihat Irsyad menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya Fi, mau??" ucap Irsyad dengan mengibaskan tangan yang berada di rambutnya ke Selfia.
"Ihhhh Irsyaaaad, jorok ah. Tuh makanya kalau mandi sampoan." sungut Selfia.
"Ayolah Fi, bantuin ternak nya." ucap Irsyad yang terus mengibaskan rambutnya pada Selfia.
"Ogah, sana sana hus hus." ucapnselfia mengusir cantik Irsyad.
"Yeee kamjnkira aku Syahrini, nggak mempan. Ayolah Fi.. Kita berbagi ternak." ucap Irsyad yang terus menjahili Selfia dengan menarik tangannya di rambut Selfia
"Irsyaaaad, ih.. Fia nggak mau Syad... Masa iya Selfia yang cantik ginku kutuan.. aaaahh" ucap Selfia dengan !enyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Hahhaaaa" semua tertawa melihat penderitaan Selfia.
"Ikhlas Fi, ntar kalau banyak kita jual." ucap Irsyad.
"Hiks hiks Irsyad jahat." ucap Selfia dengan suara parau hendak menangisi.
"Nah lo Syad, bikin nangis anak orang aja hahahaha." seru kak Ryan dengan tawa namun dalam hatinya bersyukur.
"Makasih Syad, Fi tingkahnkalian mengalihkan perhatian Mimi." Gumamnya dalam hati dan tersenyum.
"Eleh eleh anak cantik bohay jangan nangis dong, entar ternaknya tidak bisa berkembang." ucap Irsyad yang masih menjahili Selfia.
"Iiihnn, Irsyad nyebelin." sungut Selfia denban mengambil buku serta laptopnya dan beranjak berdiri masuk kedalam kamar.
"Hahhahaaa" Irsyad ketawa puas.
"Kami nih dek dek." ucap syahril dengan menggelengkan kepalanya.
"Habisnya.. Enak aja bilang Icad kutuan..hahaaa " jawab Irsyad.
Muthia dan Irma hanya tersenyum menggeleng dan akhirnya mereka berdua pun pamit untuk tiduran duluan.
"Mi, kak Syahril, kak Ryan, Irsyad kita duluan ya.." ucap Muthia.
"Hemm." jawab Syahril.
"Iya sana tidur yang nyenyak besok ujian kan." sahut Irsyad.
"Emang kamu nggak ujian dek?" tanya Ryan.
"Ujian lah bang." jawabnya.
"Yaudah sana tidur, subuh belajar." ucap kak Syahril.
"Hemm ok." jawab Irsyad.
"Adek juga tidur gih." ucap Syahril dan Mimi pun mengangguk.
"Kak, temani Mimi ya?" ucap Mimi.
"Heleh dah besar minta temani. Ingat belum muhrim." ucap Irsyad.
"Mimincuma minta ye!annen Syad, bukan minte yang lain." jawab Mimk dengan cemberut.
"E!yang yang lain apa Mi?" tanya Irsyad.
"Ah udah lah, ngomong sama Irsyad nggak ada akhirnya." ucap Mimi dan langsung pergi masuk kedalam kamar.
Saat Mimk akan merebahkan dirinya, Syahril pun masuk. Mimi tersenyum karena malam inimtidur nya ditemaninoleh Syahril.
"Sudah ayo tidur." ucap Syahril dan Mimi pun mengangguk, Syahril menemani sampai Mimi tertidur setelah itu dia mengecup kening Mimi dan dia keluar kamar kembali menuju ruangan tamu, mereka bertiga pun tidur di depan TV.
tbc
__ADS_1