
Hari semakin siang dan waktu nya para pegawai untuk pulang istirahat. Mimi belum melihat sosok sang kekasih, Mimi menghelakan nafas nya berulang kali.
Mimi langsung mencari keberadaan Ryan dan Di'ah, tak lama terukir senyum di bibir manis Mimi ketika melihat kedua sahabatnya itu berjalan menuju depan rumah sakit.
"Kaak'' teriak Mimi, Ryan dan Di'ah melihat ke arah Mimi, mereka melambaikan tangan seraya mendekati Mimi.
"Kamu belum pulang?" tanya Ryan, Mimi menggeleng.
Yah hari ini para dokter spesialis yang bertugas di puskesmas ini sedikit sibuk dan melewatkan jam istirahat mereka karena pasien hari ini cukup banyak.
"Kak, kota pulang naik mobil aja." ucap Mimi.
"Nih" imbuh Mimi dengan memberikan kunci mobilnya.
"Kalian pergi tadi pakek mobil?" tanya Di'ah.
"Iya Di'ah karena kak Syahril terlambat." ucap Mimi.
Mereka bertiga pun naik mobil, Di'ah dan Ryan duduk di depan dan Mimi duduk di kursi belakang.
Sesampainya di rumah mereka pun beristirahat sejenak dan menjalankan ibadah Dzuhur terlebih dahulu sebelum makan siang.
Mimi sehabis Dzuhur langsung menuju dapur karena dia tadi pagi belum sempat menyiangi sayuran.
Mimi mengambil dua ikat bayam, karena Mimi berpikir hanya bayam sayur yang praktis untuk disantap siang ini.
Sehabis menyiangi bayam langsung Mimi cuci bersih dan langsung Mimi masak bening. Sayur bayam telah selesai di masak tapi Mimi tidak melihat dua insan berstatus suami istri itu keluar dari kamar.
Mimi menghelakan nafas nya, tanpa menunggu mereka berdua Mimi langsung menyantap makan siangnya seorang diri.
"Kenapa Di'ah jadi pemalas setelah bersuami." gumam Mimi dengan mengangkat kedua bahunya sendiri.
Sehabis makan Mimi langsung mencuci piring nya sendiri dan setelah itu Mimi mengangkat pakaiannya dan Syahril yang sudah kering di jemuran dan membawa nya ke dalam kamar.
"Coba lampu hidup kan bisa nyetrika." gumam Mimi ketika melihat onggokan pakaian yang baru di angkatnya itu.
Pucuk cinta ulam pun tiba, apa yang Mimi harapkan pun terkabulkan. Mimi denagn semangat langsung menyolokan kabel setrikaan dan mulailah dia menyetrika pakaiannya dan Syahril dengan telinga di pasang earset.
Ryan dan Di'ah yang sepulang kerja langsung kebablasan tertidur baru bangun saat alarm hp nya berbunyi.
"Ya Tuhan kak, kita ketiduran.'' ucap Di'ah.
"Aduh aku masak dulu ya, hoaam." ucap Di'ah buru-buru keluar kamar walau matanya masih mengantuk.
Saat Di'ah keluar, dia tidak melihat Mimi bahkan dia memanggil Mimi pun tidak ada sahutan. hingga dia sampai di dapur.
Sampai dapur Di'ah melihat begitu banyak macam sayuran yang dibawa Syahril dan Mimi pagi tadi.
Tak hanya sayuran ternyata disana juga ada ubi jalar, ubi kayu dan pisang yang masih mentah.
"Emm masak apa ya? mana tadi lupa ngajak kak Ryan mampir dulu di warung makan." ucap Di'ah.
Beberapa hari Di'ah berada di sini, dia tidak pernah memasak. Dia hanya memasak nasi dan lauknya dia beli.
Saat Di'ah melihat di atas meja dan dia pun melihat ada apa di bawah tudung saji itu karena sebelumnya dia tidak pernah memakai tudung saji.
"Emm ternyata Mimi sudah masak, kapan Mimi masaknya dan ini ikan dari mana?" ucap Di'ah seorang diri. Setalah itu dia mengambil nasi karena Ryan telah berada di dapur.
"Masa apa dek?" tanya Ryan.
"Emm nggak masak," jawab Di'ah.
"Hmm terus ini?" ucap Ryan dengan menunjuk menu di atas meja.
"Itu Mimi yang masak kak." jawab Di'ah.
"Oo" jawab Ryan, mereka berdua pun makan dengan lahap hingga Ryan nambah nasi lagi.
Semua pakaian telah Mimi setrika dan sudah di susun di dalam lemari. Setelah semua nya beres Mimi merenggangkan otot nya dengan merentangkan kedua tangannya serta mematahkan pinggangnya kiri dan kanan sehingga berbunyi krek.
"Huh lega nya, saat nya tidur." ucap Mimi dan dia lun merebahkan dirinya di atas ranjang Syahril dan tertidur pulas.
Ryan dan Di'ah sehabis makan mereka kembali bersiap untuk berangkat ke puskesmas.
"Mimi mana dek?" tanya Ryan pada Di'ah.
"Ndak tau kak sedari tadi aku panggil dia ndak ada nyahut.'' jawab Di'ah.
"apa dia sudah berangkat ke puskesmas?" ucapnya dan Di'ah hanya mengangkat bahunya.
"Tali mobilnya masih ada tuh kak." ucap Di'ah ketika mereka keluar melihat mobil Mimi terparkir indah di teras.
"Coba kamu lihat dikamar nya." ucap Ryan.
"Udah aku ketok ndak ada sahutan dan pintu juga terkunci." jawab Di'ah dan Ryan hanya mengangguk.
"Emm yaudah yok kita berangkat, jangan lupa kunci rumahnya.." ucap Ryan dan mengajak Di'ah untuk kembali ke puskesmas.
"Kita jalan kaki kak?" tanya Di'ah.
"Lah iya, biasanya kan juga gitu." ucap Ryan.
__ADS_1
"Ok emm" jawab Di'ah.
"Itu mobil Mimi ya ndak enak lah kita pakai buat kepentingan kita. Biasanya kita juga jalan kaki." ucap Ryan yang tau kalau Di'ah ingin protes.
"Iya, ayok." ucap Di'ah dan mereka berdua pun berjalan berdua menuju puskesmas dan tak lama mereka bertemu dokter lain yang juga berjalan kaki menuju Puskesmas.
"Loh Yan, Mimi mana?" tanya dokter Maya.
"Ndak tau kak, mungkin sudah duluan." ucap Ryan.
"Kok ndak tau, kalian kan serumah." sahut bidan Santi.
"Iya kak, soalnya tadi di rumah tidak melihat ada dia, Di'ah dah ketok pintu kamarnya juga tidak ada sahutan." terang Ryan.
"Oh gitu." jawab dokter Maya dan bidan Santi. Meraka pun beramai-ramai berjalan menuju puskesmas yang berada di jalan luar dari jalan menuju rumah mereka.
Syahril dan perawat nya selain memeriksa ibu hamil di dusun sebelah ternyata disana juga ada ibu hamil yang akan melahirkan, mereka berdua pun membantu ibu itu untuk melahirkan walau sempat ada kendala karena sang ibu mengalami pendarahan dan pingsan.
Namun akhirnya ibu dan anak itu bisa terselamatkan walau sang jbu harus menerima transfusi darah.
Beruntungnya Syahril membawa peralatan lengkapnya, itu semua juga karena Mimi yang selalu memperingati nya untuk membeli peralatan lengkap dan bisa di bawa kemanapun.
Syahril merasa bangga pada calon istrinya itu karena usul darinya lah akhirnya dia bisa membantu warga yang melahirkan tanpa harus membawa pasien itu ke puskesmas induk.
Peralatan yang selalu Syahril bawa selain peralatan untuk membantu melahirkan dia juga membawa peralatan untuk transfusi darah dan peralatan gunting dan sebagainya.
Setelah membantu warga yang melahirkan, Syahril dan perawat pun pulang. Karena daerah dusun ini lebih dekat menuju jalan ke kecamatan maka dari itu Syahril pergi ke pasar di kecamatan ini untuk membeli kebutuhan dapur Mimi.
"Sus, kita kekecamatan sebentar ya." ucap Syahril.
"baik dok." ucap si perawat.
Sesampainya di sebuah toko elektronik di kecamatan ini Syahril membeli blender untuk mempermudah Mimi menggiling cabe dan Syahril juga membeli kompor gas yang dua tungku karena yang ada di rumah kompor satu tungku untuk kompor gas nya dan ada kompor minyak satu yang merupakan bagian dari Kadus.
Saat melihat Mimi memasak lagi tadi Syahril merasa kasian karena ruang gerak Mimi menjadi lamban.
Syahril juga membeli mixer serta oven karena Syahril tau kalau Mimi suka membuat kue dan tentunya dia juga rindu akan brownies buatan Sang calon istri.
"Pak, memang kuat aliran listriknya?" tanya sang perawat ketika melihat Syahril membeli peralatan itu semua memakai daya listrik.
"Emm iya juga ya, emm yaudah kita cari diesel dulu." ucap Syahril kembali mengelus pasar dan dia pun membeli dieselnya karena dia membeli diesel maka Syahril pun sekalian membeli kulkasnya.
"Ah sekalian saja kulkas nya." ucap Syahril dan dia pun memilih kulkas yang menurutnya pas buat keluarga.
Beruntungnya pihak toko mau mengantar barang-barang mereka akhirnya semua yang diperlukan Mimi pun dibeli.
Dari sembako hingga bahan-bahan kue serta loyangnya pun di beli oleh Syahril.
"Iya, saya pernah di ajak belanja sama calon istri saya dulu. Jadi saya tau bahan-bahan kue sekarang." jawab Syahril.
Setalah semua terbeli mereka Kun langsung pulang.
Mimi yang baru terbangun dari tidurnya, melihat jam telah menunjukkan jam setengah tiga sore. Mimi keluar kamar nya sepi.
"Emm belum pada pulang." jawab Mimi dan beranjak menuju dapur.
Alangkah terkejut nya Mimi ketika sampe dapur, melihat onggokan piring kotor bekas makan Ryan dan Di'ah.
"Ya Allah, sesibuk itukah sampe piring bekas makan sendiri saja tidak sempat di cuci." gerutu Mimi dengan mengambil piring kotor itu dan membawa nya kebelakang.
Mimi melihat sambal ikannya pun tinggal sepotong dan Mimi kembali melihat nasi dalam kukusan juga dah habis. Mimi hanya bisa menghelakan nafasnya.
Mimi melihat jam di ponselnya baru jam tiga sore, akhirnya Mimi dengan cepat membersihkan semua dan Mimi kembali menanak nasi nya dan kemudian mengukus nya.
Mimi mengambil ikan yang dia kurung dalam ember dan kembali dia menyiangi ikannya sembari menunggu nasi dalam kukusan masak.
Mimi yang sudah terbiasa mandiri, jadi semua perkerjaan semua ini bagi Mimi merasa ringan.
Mimi melumuri ikannya dengan garam dan Adam jeruk nipis yang dia pinta sama warga di ladang tadi. Mimi diami ikan tersebut sembari dia kembali membersihkan sayurannya.
Sayur kangkung dan bayam yang masih ada akar nya Mimi taruh kedalam baskom dan Mimi kasih air. Sedangkan sawi dan kacang panjang, terong serta timun Mimi bingung mau menyimpan nya dimana.
"Aisss andai ada lampu dan kulkas." gumam Mimi sembari menyingkirkan sayuran itu dan di letakkan nya di atas karung dan di taruhnya di bawah meja kompor.
Nasi sudah matang, Mimi pun menggoreng ikan sambil menyiangi kangkung untuk sayur makan malam nya.
Saat memetik cabe Mimi baru ingat jika di rumah ini tidak ada golongan cabe.
"Huh." ucap Mimi, akhirnya sayur yang sudah di siangi dia singkirkan terlebih dahulu begitu pula dengan ikan yang sudah dia goreng dimasukkan kedalam lemari kayu yang berada di dapur itu.
Mimi mencuci tangan serta mukanya, setelah itu dia mengambil jilbabnya dan dia pun keluar namun pintu terkunci.
"Aisss pakek dikunci segala.' gerutu Mimi dan kembali memutar arah menuju dapur dan Mimi pun keluar lewat pintu belakang.
Saat Mimi sudah sampai depan terlihat ibu-ibu di depan rumah sedang menyapu halaman.
"Eh Bu dokter mau kemano?" tanya tetangga depan rumah.
"Mau ketoko simpang Bu." ucap Mim
"Bu, boleh pinjam sepeda nya?" ucap Mimi ketika melihat ada sepeda di depan rumah tetangganya .
__ADS_1
"Oh boleh buk dokter" ucap nya dan mengambil sepedanya.
"Ini Bu," ucap tetangganya itu dengan memberikan sepedanya.
"Saya pinjam dulu ya buk." ucap Mimi dan si ibu mengangguk.
Terlihat dia anak balita sedang bermain duduk di tas tanah, Mimi pun segera pergi menggunakan sepeda ibu itu menuju ruko yang dilihatnya pagi tadi.
Mimi terus mengayuh sepeda itu dengan santai sesekali dia juga menyapa warga.
Sesampainya di ruko itu, toko elektronik Yanga kan Mimi tuju telah tutup. Mimi beralih pada toko pecah belah disampingnya.
"Bu, cepat nian toko sebelah tutup." ucap Mimi pada ibu-ibu yang sedang menunggu tokonya.
"Iyo, dio lagi pergi ke kota beli barang." ucapnya.
"Bu, ada batu giling." tanya Mimi.
"Ado." jawab si ibu itu, tak lama keluar perempuan yang perkiraan Mimi adalah anak si ibu itu.
"Eh Bu dokter, mau beli apa bu?" ucapnya.
"Mau beli batu giling, ada?" ucap Mimi.
"Batu giling, ada Bu. Mau besar atau kecil." ucapnya dengan menunjukkan jenis batu giling dari olahan hingga batu asli, dari ukuran kecil hingga besar.
Mimi memilih yang besar sekalian biar tidak mengulang menggiling cabe nya. Miki juga membeli baskom besar serta ember bertutup besar, Mimi juga membeli beberapa buah piring serta mangkok tak lupa gelasnya.
Mimi asik memilih barang-barang hingga dia lupa kalau dia pergi berbelanja memakai sepeda bukan mobil.
Mimi membeli banyak barang seolah dia akan tinggal lama di kampung ini, Ibu ini juga tak hanya menjual barang pecah belah.
Ternyata toko disembako di sebelahnya juga punya si ibu. Mimi membeli beras karena beras di rumah telah habis, taknluoa Mimi membeli jajanan buat anak tetangganya tadi.
Mimi juga membeli tepung dan telur, Mimi berencana akan membuat bakwan jagung pemberian warga tadi pagi.
Saat semua telah selsai di bayar Mimi baru kebingungan ketika melihat barang belanjaannya itu.
"Aduh." ucap Mimi.
"Ada apa Bu dokter?" tanya si pemilik toko.
"Eh Nlndak apa-apa pak, cuma jadi bingung bawak nya." ucap Mimi menggarukkan kepalanya.
Mau menghubungi Ryan di dusun ini belum masuk jaringan.
"Oo, buat saya antar Bu. Ibu rumahnya dimana?" tanya bapak pemilik toko.
"Ibu ini istrinya dokter Syahril Yah." ucap si ibu yang Mimi yakini adalah istri si bapak ini.
"Oo, istrinya dokter Syahril. Baik lah Bu buar saya antar." ucap si bapak dengan langsung mengangkat barang-barang Mimi ke atas mobil pickup nya.
"Makasih ya pak," ucap Mimi.
"Loh sepedanya jangan pak." seru Mimi ketika sepedanya juga akan di angkut naik ke atas mobil.
"Ndak apa buk sekalian ibuk naik mobil." ucap si bapak.
"Hah emm Ndak usahlah pak, saya jadi ngerepotin." ucap Mimi.
"Ndak lah buk kan sekalian kerumah ibuk." jawab si bapak, akhirnya Mimi pun mengangguk dan pulang naik mobil pickup. bersama si bapak.
Di rumah Ryan dan Di'ah telah pulang, lagi-lagi mereka tidak menemukan Mimi dirumah.
"Mimi kemana sih yank." ucap Ryan.
"Ndak tau kak." jawab Di'ah yang juga khawatir.
"Kemana lagi tuh anak, di puskesmas tidak ada, di rumah juga." ucap Ryan.
Tak lama Syahril pun sampe rumah dan bingung melihat Ryan dan Di'ah membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Yan?" tanya Syahril yang baru masuk rumah dengan menenteng kotak blender dan mixer.
"Ali belanja itu emang kuat lampu?" tanya Ryan dan Syahril tidak memperdulikannya dan terus menuju dapur untuk meletakkan barang yang dia beli.
"Mimi mana, kok Ndak keliahatan?" tanya Syahril kepada Ryan dan Di'ah.
Ryan dan Di'ah saling pandang sebelum mereka menjawab.
"Dari tadi kami ya mencari Mimi kak." jawab Di'ah.
"Hah, emang dia kemana?" ucap Syahril.
"Justru itu kita mencari karena ndak tau dia kemana?" ucap Ryan.
"Ya Tuhan, kamu kemana sih dek." ucap Syahril langsung melihat pintu belakang dan terkunci dari luar. Syahril keluar lewat lintu depan dan menuju belakang lewat Samling untuk mencari Mimi.
Begitu pula Ryan dan Di'ah mencari keberadaan Mimi namun mereka tidak menemukan nya. Syahril melupakan orang toko yang membawa barang-barang nya. saat dia menuju ke depan baru dia tersadar dan mulai dia mengatur meletakkan mesin yang dia beli barusan.
tbc.
__ADS_1