
Sesampainya di rumah sakit, Mimi langsung membawa pasiennya ke ruang UGD rumah sakit ini.
"Sus tolong." ucap Mimi lada seorang suster yang duduk di dalam ruangan UGD. Dengan cekatan sang suster dengan rekannya pun membantu Mimi.
"Oh ya sus, disini ada dokter jantungnya?" tanya Mimi pada suster yang membantu mengganti infuse pasien.
"Ada Bu." jawab si suster, tak lama masuk Dokter jaga UGD ini.
"Pasien apa sus?" tanya si dokter.
"Pasien jantung dari dusun Bungin dok." jawab si dokter.
"Oo, umum atau apa?" tanya nya lagi."
"Belum tau dok, tadi ada seorang dokter juga yang mengantar mereka dan lagi mengurus administrasi." jawab si suster.
"Em maaf dok, apa boleh saya bertemu dengan dokter jantungnya? kalau perlu pasien harus segera ditangani." ucap Mimi pada dokter UGD itu.
"Dokter lagi praktek Bu, jadi ya tunggu aja.' jawabnya ketus
"Iya maka dari itu apa bisa pasien darurat ini di dahulukan bertemu dengan dokter nya." ucap Mimi.
"Ya harus daftar dulu." ucapnya.
"Pasien sudah daftar, ala bisa sekarang kami bertemu dengan dokter nya." ucap Mimi
"Hei emang siapa kamu memerintah begitu.' ucapnya.
"Dan Anada sendiri dokter apa yang hanya melihat cuek pasien anda tanpa anda periksa." jawab Mimi.
"Hei saya dokter ya, jadi bukan urusan kamu" ucap nya.
"Oh jadi begini model dokter di rumah sakit ini, tak punya attitude." ucap Mimi.
"Tau apa kamu soal attitude dasar orang kampung." ucap nya.
"Lebih baik kami orang kampung punya rasa hormat daripada anda yang sok kota tapi kampungan" ucap Mimi.
"Saya bilang sekali lagi saya mau langsung bertemu sama dokter jantung, karena kalau sampe kenapa-kenapa sama pasien ini saya tuntun anda." ucap Mimi.
"Hah tuntut, orang seperti kamu mau nuntut saya,penampilan aja udik gitu" ucapnya. Yah Mimi mang menggunakan pakaian tunik serta celana span dan Mimi pun belum ada mandi karena dia baru sampe langsung membantu pasien.
Saat Mimi akan menjawab, Syahril masuk kedalam ruangan UGD, dokter cewek UGD tadi yang melihat Syahril langsung melongo dan mulai cari perhatian, Mimi memasang muka malas nya dan Syahril tetap dengan dinginnya.
"Bagaimana?" tanya Mimi.
"Iya sudah, kita langsung menemui dokter nya.' ucap Syahril.
"Sus bisa tolong antar pasien keruang praktek dokter jantung?" ucap Syahril.
''Baik dok." jawab suster.
"Hai aku dokter Yani." ucapnya dokter UGD yang selalu ketus bicara sama Mimi. Syahril hanya melihatnya dan tak menerima uluran tangannya.
"Yaudah ayok kita kesana." ucap Mimi dengan mengajak Syahril.
''Hei kamu emang nya siapa main ajak dokter seenak kamu." ucap dokter yang bernama Yani itu.
"Saya calon istrinya." ucap Mimi.
"Hah calon istri dokter seganteng ini. Penampilan kamu saja biasa-biasa aja." ucap si dokter Yani.
"Emang kenapa kalau saya berpenampilan biasa-biasa saja. Penampilan bukan untuk melihat identitas orang bukan?" ucap Mimi.
"Hai dokter Syah ril," ucap dokter Yani dengan membaca tagname Syahril di almamaternya.
"Dia calon istri ku." ucap Syahril dengan menggandeng tangan Mimi dan pergi dari udh itu.
Setelah sampai di ruangan khusus praktek pasien Mimi di dahului masuk terutama anak yang mengalami jantung bocor.
Saat Mimi masuk bersama pasiennya, dokter jantung di dalam terkejut melihat Mimi.
pasien anak-anak tadi langsubg di baringkan di atas ranjang.
"Dokter Syam." ucap Mimi.
"Dokter Mimi, kok ada disini?" ucap dokter Syamsul dan bertanya pada Mimi.
"Iya dok, lagi nyusuli tunangan sekalian bantu pasien."
"Oh ya dok, tolong anak ini. Menurut Mimi anak ini mengalami kebocoran pada jantung nya." ucap Mimi dan dokter Syamsul pun mengangguk.
"Kita harus lakukan rongent dahulu." ucap dokter Syamsul, setelah itu baru kita tindak lanjuti.
"Em baik lah." jawab Mimi.
"Oh ya ada satu lagi dok di luar pasien Mimi." ucap Mimi.
"Iya stelah ini suruh masuk," ucap dokter Syamsul dan memerintahkan pada suster nya untuk membawa anak tersebut langsung keruangan rongent dan langsing dimasukkan kedalam ruangan rawat. Bagitu pula dengan bapak yang satunya.
Beruntung Mimi mengenal dokter nya jadi Mimi tidak begitu banyak berdebat masalah perawatan pasiennya.
Setelah rongent dilakukan dan para pasien masuk ke ruang rawat nya, Mimi dan Syahril pamit pada pihak keluarga pasien dan malam hari nya Mimi dan Syahril akan datang lagi.
__ADS_1
Syahril sebelumnya keluar untuk membalikan makanan serta minuman untuk pasiennya menjelang malam. Keluarga pasien sangat berterimakasih karena mereka merasa tertolong.
Mimi dan Syahril mencari hotel yang tak jauh dengan rumah sakit. Untuk sejenak mereka beristirahat.
Syahril yang sudah menyewa kamar sendiri masuk kedalam kamar Mimi dan beristirahat di dalam kamar Mimi.
"Dek, kakak ndak bawa pakaian, keluar duku yuk beli." ucapnya.
"Emm Mimi capek kak. Bentar lagi juga adzan Maghrib." jawab Mimi.
"Tuh di koper ada pakaian satu set buat kakak. Tapi ndak ada dalaman." jawab Mimi. Yah Mimi ada membeli pakaian tiga setel buat Syahril.
"Yah dek, mana enak ndak ganti." ucap Syahril.
"Pakek punya Mimi aja." jawab Mimi asal dengan mata terpejam karena merasa lelah.
"Ckk mana muat dek." jawab Syahril.
"Yaudah kakak turun dulu ya." ucap Syahril.
"Emm, Mimi ikut. Perut Mimi lapar." ucap Mimi.
"Tari aja di ajak ndak mau." ucap Syahril, Mimi hanya tersenyum dan mereka pun kembali keluar hotel menuju pasar yang juga tidak jauh dari lokasi mereka.
Setelah berbelanja pakaian dalam buat Syahril, Mimi dan Syahril pun hendak membeli makanan namun jam tidak mendukung karena Maghrib akan segera tiba.
"Emm dek, nanti saja lah makannya ya, mau maghrib." ucap Syahril.
"Yah.'' ucap Mimi.
"Beli pengganjal aja." jawab Mimi dengan membeli es cappucino dan roti bakar. Setelah itu mereka pun kembali ke hotel.
Syahril gak langsung masuk ke kamarnya, melainkan masuk kekamar Mimi. Syahril langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Mimi menyiapkan pakaian Syahril, setelah Syahril keluar dengan menggunakan handuk di pinggangnya, gantian Mimi yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sehari semalam tidak di guyur air.
Setelah menjalankan ibadah sholat maghrib, mereka pun akan pergi kerumah sakit untuk melihat pasiennya.
Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit, sebelumnya mereka membeli makan malam buat keluarga pasien dan membeli beberapa jenis buah juga.
Sesampainya di ruangan pasiennya, Mimi tersenyum melihat mereka saling bahu membahu. Mimi sengaja meminta kamar yang sama untuk kedua pasiennya, agar orang tua sia anak kecil ini bisa membantu istri bapak yang sudah tua itu.
Setelah terpasang infuse dan minum obat, terlihat cerah wajah dari si anak dan si bapak. Kiki memberikan buah pada anak itu dan si bapak.
"Makasih ya dok." ucap ibu dari anak kecil ini.
"Sama-sama Bu," ucap Mimi.
"Kalu ndak ado dokter entah macam mano kami." sahut istri si bapak.
(Kalau tidak ada dokter entah bagaimana nasib kami)
"Ini tadi Miki ada beli bantal sama selimut, nah ini jaket buat ibu." ucap Mimi memberikan bantal cinta serta selimut dan karpet buat mereka jaga dan khusus buat ibu tua itu Mimi membelikan jaket.
"Makasih nak, apa kalian suami istri?" tanya si ibu tua.
"Insya Allah bu, kami akan menuju sana." jawab Syahril.
"Mak do'a kan, kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah kelak, hidup rukun dan bahagia selamanya." ucap si ibu tua.
"Kalian orang baik," imbuhnya.
"Nak, apa besok bapak nih juga di operasi?" ucap si ibu.
"Iya Bu, kita lihat dulu hasil rongent nya besok." jawab Mimi.
"Dari mano kami dapat biayo nyo nak." ucap si ibu khawatir.
"Masalah biaya ibu jangan khawatir semua sudah kami atur." ucap Mimi dengan mengelus tangan keriput si ibu.
"Makasih ya." ucapnya.
"Sama-sama Bu, berterimakasih lah sama Allah, semua juga karena kehendaknya." ucap Mimi, si ibu pun menangis liku dengan memeluk Mimi.
Karena telah malam Mimi dan Syahril pun pamit dan berjanji akan datang lagi esok pagi.
Sesampainya di hotel, lagi-lagi Syahril tidak masuk ke kamarnya.
"Ckk kak, kalau tau tetap di kamar Mimi buat apa pesan kamar juga habisin duit Bae." ucap Mimi.
"Hehee ndak apa lah dek." ucapnya.
"Hmm adek tau lah kalau malam ini keberuntungan buat Ryan."Ucap Syahril dengan memeluk Mimi.
"Keberuntungan, maksudnya?" ucap Mimi.
"Ya keberuntungan buat dia, karena kakak tidak ada di rumah." ucap Syahril, Mimi diam klb Lum mengerti arah pembicaraan Syahril.
"Dia beruntung dek, karena malam ini pasti mereka lagi memadu kasih." ucap Syahril dengan menaruh dagunya di pundak Mimi.
"Memadu kasih" gumam Mimi dengan menautkan kedua alisnya dan memiringkan mulutnya kekiri dan kekanan.
"Ckk ndak usah dipikirin, ntar kepingin lagi kita kan belum halal dek." ucap Syahril, mendengar kata halal Mimi baru connect arah pembicaraan Syahril.
"Aisss jadi yang kakak omongin itu memadu kasih itu.'' ucap Mimi.
__ADS_1
"Lah emang apa lagi." jawab Syahril dengan terkekeh.
"Merak juga dah halal dek, apa lagi Ryan baru beberapa kali celup sudah itu Di'ah palang merah dan di tinggal pergi dinas." ucap Syahril,
"Hahaha kasian nya." ucap Mimi di sela tertawa nya.
"£Huw tidak boleh diketawain." ucap Syahril dengan terus memeluk Mimi.
"Kakak kangen" bisiknya dengan menciumi leher serta telinga Mimi.
"Emm isss kak ahh." ucap Mimi merasa geli dengan kelakuan Syahril.
"Jangan mengeluarkan suara itu dek, kita belum sah." ucapnya yang terasa merdu di telinga Mimi.
"Emm tapi ahh jangan cium-cium geli." ucap Mimi dengan mengegerak kepalanya.
Di rumah dinas Ryan dan Di'ah sehabis melakukan sholat isya, mereka berdua duduk saling bercerita sambil berpelukan.
"Kakak sangat senang adek datang, kenapa tidak kasih tau!" ucap Ryan.
"Ini semua ide Mimi kak, awalnya aku juga nggak punya niatan akan mengambil libur musim dingin ini." ucap Di'ah dengan memegang kedua tangan Ryan yang berada di pahanya.
"Mimi memang pengertian, tau aja kalau kakak juga pas lagi kepingin." ucap Ryan dengan mengendus leher Di'ah.
"Dek, ganti baju dinasnya dong, bawakan" bisiknya dan Di'ah menganggukkan kepala
"Yaudah sana ganti." ucap Ryan, Di'ah pun beranjak menuju lemari untuk mengambil baju dinas yang dimaksud Ryan, Di'ah mengganti baju itu pun di hadapan Ryan.
Ryan yang melihat kemolekan tubuh sang istri menjadi tidak sabar, Ryan beranjak dan mendekati Di'ah.
"Emm" ucap Di'ah yang tak bisa berucap apa-apa lagi ketika Ryan mulai bereaksi dengan memeluknya dari belakang
"Mereka sangat pengertian dan memberikan waktu buat kita malam ini.'' bisik Ryan dengan tangan telah mulai bergerilya menuju tombol on off di tubuh Di'ah.
"Kak emm" ucap Di'ah yang mulai merasakan gelenyar aneh di tubuhnya, seperti sengatan listrik uang sedang menjalar disetiap aliran darahnya.
Ryan menciumi rambut, telinga hingga leher Di'ah serta kedua pundak Di'ah.
Tangan yang terus bergerilya di depan dan bibir terus bergerilya di belakang.
Di'ah hanya mengeluarkan suara-suara halus, hasrat yang selama ini terpendam mulai mereka kerahkan semampu mereka malam ini.
Ryan mengangkat tubuh Di'ah, tangan Di'ah mengalungkan di leher Ryan dan Ryan membawanya ke atas ranjangnya, perlahan Ryan menautkan bibirnya kembali hingga bibir itu tak lagi beroperasi di luar melainkan kembali beralih ke alat indera lainnya.
Decapan demi decapan mereka berdua ciptakan, hingga tak tau sampai memakan waktu berapa lama untuk mereka menuntaskan hasrat mereka.
Tombak Ryan pun entah berapa kali menuju puncak nya dan mengeluarkan semburan racun yang membuat Di'ah mabuk kepayang.
"Terimakasih istriku" ucap Ryan dengan mengecup bibir Di'ah dan menciumi keningnya setelah perjuangan mereka menuju medan tempur usai untuk sesaat.
"Sama-sama suami ku." jawab Di'ah dengan memeluk erat tubuh sang suami.
Diah maupun Ryan sangat bahagia malam ini, karena mempunyai teman, sahabat, sepupu yang pengertian akan dirinya. Sehingga malam ini dia dan sang isteri dapat memadu kasih menjadi pasangan pengantin baru.
Ryan maupun Di'ah merasa bahagia karena mereka sama-sama Bisa memberikan terbaik buat pasangan mereka masing-masing.
Sehabis tempur mereka tak langsung tidur, melainkan mereka masih mengobrol sejenak.
"Dek" panggil Ryan pada Di'ah yang berada dalam dekapan nya.
"Hemm" jawab Di'ah dengan mendongak kan wajahnya ke arah Ryan.
"Boleh kakak bertanya?" ucap Ryan dengan melihat wajah Di'ah dan mengecup kembali bibir Di'ah.
"Mau tanya apa?" tanya Di'ah.
"Emm maaf sebelumnya, kakak penasaran saja." ucap Ryan ada rasa enggan untuk melanjutkan pertanyaan nya.
"Penasaran karena apa?" tanya Di'ah.
"Emm, itu emm kamu kan sebelumnya sudah menikah. Kenapa kamu masih virgin dek, maaf." ucap Ryan merasa tidak enak mempertanyakan kevirginan pada Di'ah.
"Emm maaf, kalau kamu tidak mau cerita juga ndak apa, maafkan kakak." ucap Ryan merasa tidak enak ketika sang istri hanya diam.
"Emm kakak suami ku tentunya kakak berhak bertanya hal itu pada ku." jawab Di'ah.
"Maaf sekali lagi, saya mang kalian berapa lama menikah?" ucap Ryan entah mengapa mulutnya selalu ingin mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya, Di'ah tersenyum melihat ke arah sang suami.
"Pernikahan ku duku hanya terhitung dua minggu." ucap Di'ah denagn mengenang masa lalunya.
"Saat waktu pernikahan dan dimalam pertama kami, tamu bulanan ku datang." ucap Di'ah malu-malu dengan memasukkan wajahnya kedalam dada bidang Ryan. Ryan merasa lucu dengan memikirkan malam pertama terus tamu bulanan datang tentu sangat menyesak kan.
"Terus setelah itu?" tanya Ryan semakin penasaran.
"Setelah bersih, dia selalu bertugas ke luar daerah beberapa hari dan setelah dia pulang dia meminta aku untuk mempersiapkan diri."
"Aku pun mempersiapkan diriku untuk menyambut nya malam itu."
"Tapi saat aku mengambil minuman untuknya dan dia juga akan mengambil wudhu untuk menjalankan sholat isya." ucap Di'ah terhenti sejenak dengan menarik nafas dan tak terasa air matanya menetes.
Ryan yang berada ada air jatuh di dadanya pun mengangkat wajah Di'ah dan Ryan mengahapus air mata itu.
"Sudahlah, jangan dilanjutkan jika kau tak mampu melanjutkan nya." ucap Ryan dengan mengecup kedua mata Di'ah yang telah dibasahi air mata.
__ADS_1
Di'ah kembali menangis dalam dekapan Ryan, Ryan mengusap bahu sang istri hingga Di'ah tertidur dalam dekapannya.
tbc