DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kekesalan Ryan


__ADS_3

Setelah semuanya pergi, Mimi mulai membersihkan ruangan setiap sisi rumah ini, mengaku hingga mengepel, tak lupa mesin cucinya oun berputar membantu meringankan perkerjaan nya.


Setelah urusan ruangan selesai, kini saat nya Mimi berurusan dengan pakaian yang telah tercuci itu untuk di bilas nya.


Saat Mimi mengambil baskom nya Mimi terpaku melihat onggokan pakaian di dalam ember besar di sudut dekat mesin cuci.


Mimi menghelakan nafas nya ketika melihat onggokan pakaian kotor yang tak lain mikik Di'ah dan Ryan


.


"Huh, kalau cuma di tumpukan begini mana akan bersih."


"Di'ah Di'ah hidup mu kok terlalu membuat segalanya remeh. Tinggal masuk mesin cuci putar bentar beres." gerutu Mimi dengan memasukkannya kedalam mesin cuci.


Mimi membilas pakaiannya setelah itu dikeringkan sebentar baru dia rendam lagi sebentar dengan pewangi sambil menunggu pakaian Di'ah dan Ryan siap Mimi pun duduk nyantai sebentar.


Timer pencucian pakaian Di'ah dan Ryan selesai Mimi pun membuang air kotor dan mengganti air bersih untuk membilasnya.


Pakaian Mimi yang sudah cukup waktu rendam pewanginya segera Mimi keringkan kembali di mesin cucinya.


Pakaian Mimi selesai di jemur sekarang tinggal pakaian Di'ah dan Ryan yang juga siap dijemur.


perkerjaan rumah selesai, Mimi melihat tajak ( sejenis cangkul.kecik untuk.membwrsihkan rumput namun bentuknya seperti arit ), golok dan cangkul yang dia beli kemarin.


"Saatnya eksekusi.'' seru Mimi bersemangat.


Mimi mulai membersihkan halaman rumahnya, sambil membersihkan sambil pula dia mengobrol dengan para tetangga.


"Wah Bu dokter rajin." seru salah satu tetangga.


"Ah ndak juga Bu, mumpun ada waktu saja." jawab Mimi dengan kekehan.


"Bu dokter ndak ke puskesmas Bu?' tanya yang lain.


"Ndak Bu, di puskesmas sudah banyak dokter nya hehehe." jawab Mimi dengan canda.


"Hahaa" mereka pun ikut tertawa.


"Iya sih Bu banyak, cuma kan beda aliran." seru ibu yang lain.


"Hah aliran, aliran apa Bu? aliran sungai atau aliran sesat" ucap Mimi dengan candaannya lagi.


"Itu loh Bu dokter emm apa ya namanya." ucap si ibu yang berucap tadi.


"Itu Bu mungkin maksudnya kan ada dokter spesialis mata, spesialis penyakit dalam, anak gitu Lo Bu dokter." ucap teman si ibu tadi dengan logat Jawanya.


"Oo profesi." jawab Mimi, walau mulutnya becanda dengan tetangga tangannya tetap terus berkerja.


Tak lama muncul empat orang anak remaja yang masing-masing membawa parang yang diletakkan di belakang sepeda.


"Assalamualaikum Bu dokter." ucap mereka


"Waalaikum salam." jaaabbniki dengan pandangan bingung pada anak-anak ini.


"Bu dokter, kami disuruh ayah buat bantu Bu dokter bersihkan kebun." ucap salah satu anak.


"Ok, kalian anaknya pak Amat." ucap Mimi manggut-manggut ketika baru ingat jika semalam pak amat bilang akan menyuruh anaknya buat bantu.


"Emm yaudah, ayok kita kebelakang." ucap Mimi, mereka berempat pun langsung melangkah ke belakang lewat jalan samping rumah.


"Bu ibu saya tinggal dulu ya." seru Mimi


"Iya Bu dokter." jawab mereka, Mimi pun menyusul anak-anak ke belakang.


Sampainya di belakang Mimi melihat anak-anak sudah berkerja, Mimi tersenyum dan mendekati mereka.


"Kalian ini semua anaknya pak Amat?" tanya Mimi.


"Bukan Bu dokter, cuma kami berdua anaknya pak Amat." jawab anak laki-laki yang tinggi dari yang lain..


"Ok, terus yang dua." ucap Mimi.


"Mereka berdua sepupu kami." jawabnya, Mimi manggut-manggut.


"Kalian sudah lada libur sekolah ya?" tanya Mimi.


"Iya Bu dokter," jawab mereka.


"Emm kelas berapa?" tanya Mimi lagi.


"Kelas satu SMP," jawab yang tiga anak.


"Kamu?" tanya Mimi lada anak pak Amat yang besar.


"Saya kelas dua SMP Bu." jawabnya, Mimi Kun manggut-manggut.


"Emm yaudah yok kita bersihkan bersama-sama." ucap Mimi dan mengajak mereka membersihkan kebun nya bersama-sama.


Saat Mimi ikut membersihkan, Mimi lupa dengan perkerjaan nya di depan.


"Kalian bersihkan disini ya, ibu mau lanjut uang didepan tinggal dikit lagi." ucap Mimi.


"Iya Bu dokter" jawab mereka, Mimi tersenyum dan pergi menuju depan kewat pintu samping.

__ADS_1


Saat sampai depan, Mimi tak langsung mengerjakan perkerjaan nya tinggal sedikit lagi itu, melainkan Mimi masuk kedalam rumah.


Mimi menuju dapur dan lemari kayu yang berada di dapur. Disana sudah tersusun bahan buat sehari-hari. Mimi mengambil telur, margarin, tepung serta susu dan coklat batangan.


Mimi mulai mengeksekusi bahan-bahan itu, satu jam kemudian bahan-bahan itu pun sudah menjadi dua loyang kue brownies.


Satu loyang Mimi simpan kedalam wadah tertutup dan satu lagi Mimi iris-iris dan bawa keluar tak lupa es sirup Coco pandanya.


"Riki" seru Mimi pada anak pak amat yang besar.


"Coba ambil kelapa muda nya itu." pinta Mimi, Riki pun melihat ke arah pohon kelapa yang berada di kebun Mimi.


"Ambil tiga" seru Mimi lagi, Riki pun mengangguk dan langsung memetik buah kelapa yang batangnya rendah itu.


"Ini Bu." ucapnya setelah sampai dekat Mimi.


"Coba belah Ki, nanti kita masukkan kedalam sirup ini." ucap Mimi, Riki pun mengangguk dan langsung membuat lubang kecil untuk mengeluarkan airnya dulu setelah itu baru dia membelahnya. Jadilah mereka semua makan kue brownies dan es sirup degan.


Tak terasa matahari semakin terik, pekerjaan anak-anak juga tinggal sedikit lagi. Meraka izin pulang terlebih dulu.


"Bu dokter, kami pulang dulu ya, nanti kesini lagi." Seru mereka.


"Iya, ini buat kalian." ucap Mimi dengan memberikan mereka kue brownies satu mika per orang.


"Makasih Bu dokter." ucap mereka.


"Sama-sama.' jawab Mimi.


Saat semua pulang, Mimi mulai memasak untuk makan siang penghuni rumah ini. Masakan sudah siap tetapi Mimi belum melihat para penghuni rumah nyampe rumah di jam dua belas lewat hampir setengah satu.


Mimi menyajikan masakan nya di atas meja lalu di tutupnya dengan tudung saji. Mimi mengambil pakaiannya yang sudah kering laku di bawa kekamar dan segera dia setrika. setelah selesai Mimi berwudhu karena dia telah melewatkan waktu Dzuhur nya beberapa menit.


Saat Mimi sholat para penghuni baru sampe.


"Mana Mimi Riil?" tanya Ryan ketika mereka masuk kedalam rumah. Syahril hanya mengangkat bahunya


"Masa iya pergi belanja lagi." ucap Ryan.


"Emm," ucap Syahril celingukan mencari keberadaan Mimi. Syahril melihat rumah bersih serta rapi dari sebelum nya dan aroma pewangi pel pun masih tercium.


Syahril tak langsung masuk kamar, dia langsung menuju dapur untuk mencari Mimi. Saat sampai dapur Syahril melihat tek berisi es sirup saat dia menuangkannya ke dalam cangkir ada degan di dalamnya.


"Kapan dan dari mana Mimi dapat dogan." ucapnya dan terus menyeruput es dogan itu. Cuclaca panas membuat tenggorokannya kering.


Ryan yang sudah berganti pakaian menuju dapur dan melihat Syahril menikmati es Dogan diaboun menhadi tergiur.


"Wah, Dogan dari mana Riil?" tanya Ryan.


Di'ah yang baru ke dapur juga tergiur dan meminta pada Ryan, setekah itu dia masuk kamar mandi berniat mencuci pakaian nya tapi dia kehilangan onggokan pakaiannya.


"Kenapa dek?" tanya Ryan melihat Di'ah keluar lagi dari kamar mandi dengan bingung.


"Pakaian kotor kita yank, kok Ndak ada di kamar mandi." ucapnya, Syahril yang mendengar hanya cuek dan berlaku meninggalkan suami istri itu.


Saat Syahril masuk kamar dia terkejut ternyata Mimi tertidur di dalam kamar. Yah sehabis sholat mata Mimi sangat mengantuk, dia rebahkan badannya dan akhirnya tertidur pulas


"Ternyata tertidur." ucap Syahril dengan membuka kemejanya dan dingantung nya Syahril mengenakan c Kana kendek dan kaos singlet nya.


Syahril ikut merebahkan diri nya di samping Mimi, Syahril memeluk Mimi dan diaboun ikut tertidur.


Ryan dan Di'ah masih sibuk dengan pakaian kotornya, saat mereka keluar terlihat pakaian itu melambai terkena angin di jemuran.


"Itu bukan dek cucian mu." ucap Ryan.


"Hah iya, siapa yang nyuci. Apa Mimi." ucapnya dan mengambil pakaian yang sudah kering itu.


"Bisa jadi, kamu tau sendiri Mimi paling nggak bisa liat ada onggokan kotor. Apa lagi cucian mu itu dah tiga hari teronggok di pojokan." jawab Ryan. dan berlaku pergi meninggalkan Di'ah yang mengangkat jemurannya.


Ryan melihat di atas meja sudah tersaji makanan, entah mengapa hati Ryan menjadi membandingkan antara Mimi dan Di'ah.


"Ya Allah kenapa istri ku tidak bisa seperti Mimi." ucap Ryan dalam hati.


"Apa ini sifat asli dia ya Allah." ucapnya lagi.


Yah beberapa hari Di'ah bersama nya disini, belum pernah Ryan mencoba makan masakan Di'ah.


Sewaktu Mimi dan Syahril ke kota, Di'ah hanya masak nasi dan lauknya mereka beli atau Di'ah masak sardin yang Mimi beli waktu dalam perjalanan menuju dusun ini.


Ryan juga membandingkan perihal cekatan Mimi dan Di'ah.


Dari pakaian Mimi sehabis mandi langsung mencucinya, sedangkan Di'ah dia kumpulkan hingga dua hari baru di cucinya, bahkan menyapu rumah selalu Ryan yang menyapu saat belum ada Mimi.


"Kak." ucap Di'ah.


"Hmm, kok ndak dimakan?" tanya Di'ah melihat Ryan Hanaya bengong melihat masakan yang sudah tersaji itu.


"Ndak enak kakak memakannya dek, sepertinya Mimi juga belum makan." ucap Ryan merasa tidak enak memakan makanan itu terlebih dahulu.


"kenapa tidak enak, Mimi masak kan buat kita juga." ucap Di'ah. Ryan menatap Di'ah tidak percaya.


"Menurutmu? apa pantas kita makan masakan orang sedangkan orang yang memasak nya belum menyentuh masakannya." ucap Ryan.


"Terus apa kita harus menahan kelaparan dan memakan sisa dia." jawab Di'ah, Ryan menggeleng.

__ADS_1


"Apa ini sifat asli mu dek." ucap Ryan yang tidak bisa menahan diri.


"Maksud kakak apa?" tanya Di'ah.


"Apa begini cara kamu menghormati orang. Kamu tidak memasaknya dan kamu akan memberikan makanan sisa itu pada orang yang memasak nya." ucap Ryan.


"Kak bukan itu maksud aku, bisa jadikan Mimi sudah makan.'' ucap Di'ah membela diri.


"Syahril saja belum makan dek. Nanti saja kita makan tunggu mereka keluar." ucap Ryan dan berlalu meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamarnya. Di'ah tertunduk melihat sang suami marah padanya.


Tak lama kemudian Di'ah pun masuk kedalam kamarnya, dia melihat Ryan tertidur hanya bisa menghelakan nafasnya, di ambil setrikaan Ryan dan Di'ah pun mulai menyetrika pakaian nya.


"Ala kau menyesal menikah denganku kak." ucapnya dengan melihat ke arah sang suami yang terlihat pulas.


"Aku bukan Mimi, mungkin aku juga tidak bisa seperti Mimi." ucap Di'ah lagi dan tak terasa air matanya menetes.


Ryan tidak benar-benar tertidur, dia mendengar setiap aota yang di ucapkan Di'ah. Ryan tau dan mengerti kalau istrinya tidak bisa menjadi seperti Mimi tali setidaknya hargailah orang lain itukah yabg Ryan inginkan.


Ryan diam dua hari ini bukan tidak memperhatikan. Selama ada Mimi di rumah ini, Ryan tidak pernah melihat Di'ah memegang perkerjaan baru kemaren malam itupun saat ada tukang yang membuat rumah mesin.


Ryan menghelakan nafasnya saat mendengar ucapan demi ucapan dari Di'ah.


Jika di bilang menyesal tentu akan menyesal bila dari sudut ego-nya namun setiap manusia memiliki kemampuan nya tersendiri, Ryan sadar akan hal itu.


Tapi Ryan tidak menyangka jika Di'ah memiliki sifat tidak menghargai orang lain seperti tadi.


Mimi terbangun saat merasa sesak ingin buang air kecil, saat dia membuka matanya terlihat tangan kekar Syahril di perutnya, Mimi mengusapnya dan kemudian menjauhkan tangan itu.


Syahril terusik akan apa yang Mimi lakukan, diapun semakin mengeratkan pelukannya.


"Yank, lepas." ucap Mimi.


"Emm emang mau kemana?" tanya Syahril dengan mata masih terpejam.


"Mimi mau pipis, ayo lepas. Mimi sudah ndak tahan." ucap Mimi lagi.


"Emm" jawab Syahril namun tidak melepaskan pelukannya tali semakin mengeratkan pelukannya.


"Kak lepas, Mimi dah ndak tahan nih nanti keluar disini lagi." ucap Mimi.


"Keluarin aja disini." jawab Syahril, Mimi melebarkan matanya tidak percaya dengan ucapan Syahril.


"Aissss lepas ah." ucap Mimi dengan berbalik badan sehingga mereka berhadapan.


"Lepas kak, Mimi mau pipis." ucap Mimi dengan mengelus pipinya.


"Emm, kasih upah dulu." ucap Syahril.


"Ehh" ucap Mimi. Karena sudah tidak tahan lagi karena kepingin biang air kecil Mimi pun menciumi seluruh wajah Syahril, terakhir Mimi mencium bibir Syahril yang ranum itu.


Kesempatan itu tidak dilewatkan Syahril dia langsung menarik tekuk Mimi dan dia memperdalam ciumannya.


"Emm kaaak, ndak Emmm taa haaan" ucap Mimi terengah karena terbuai ciuman serta menahan sesak di bawah yang kengin segera minta dikeluarkan.


"lHah hah hah setelah pangutan itu terlepas, mmj segera berlari keluar kamar dan langsung masuk kamar mandi.


Lega itulah yang Mimi rasakan ketika apa yang di tahannya sedari tadi telah kelas landas.


Mimi keluar dari kamar mandi dan melihat meja makannya masih bersih, di bukanya tudung saji masakannya juga masih utuh.


"Tumben ndak laku." ucap Mimi melihat ke arah lauk serta sayur yang dia masak belum tersentuh. Mimi punnkembaki masuk kamar dan membangunkan Syahril.


"Kak, bangun ayo makan." ucap Mimi dengan menggoncang tubuh Syahril, saat terus menggoncang tubuh Syahril yang tidak kunjung mau bangun, Syahril menarik tubuh Mimi sehingga Mimi jatuh di atas tubuhnya.


Syahril tersenyum dan memeluk erat lagi tubuh Mimi..


"Ayo bangun kita makan." ucap Mimi, Syahril tidak menjawab tetapi dia langsung menyambar bibirnya Mimi lagi.


"Kak emm ih." ucap Mimi.


"Ayo makan, dah lapar nih." seru Mimi langsung beranjak dari tubuh Syahril dan keluar kamar.


Mimi berinisiatif membangun dua sejoli halal itu.


"Di'ah, kak Ryan." seru Mimi sambil mengetuk pintu.


"Iya Mi," ucap Di'ah dengan membuka pintu.


"Yok makan udah siang, kalian nanti kan masuk lagi." ajak Mimi.


"Emm iya." jawab Di'ah dan kembali menutup pintu dia lun membangunkan Ryan.


Mimi melihat mata Di'ah sembab.


"Di'ah menangis" gumam. Di'ah.


"Ada ala dan kenapa." gumam miminkagi sembari berjalan ke dapur.


Di dapur Syahril juga baru men dudukan pan"at nya. Mimi langsung mengambil nasi di dalam magiccom dan menyajikannya. Mimi seperti biasanya melayani Syahril, tak lama Di'ah dan Ryan pun sudah duduk Mimi memberikan piring lada mereka berdua. Meraka pun makan dengan lahap.


Sehabis makan dan sholat mereka kembali bersiap dan pergi ke puskesmas. Setelah mereka pergi Mimi membereskan serta membersihkan bekas makan mereka.


Tak lama anak-anak tadi pun tiba, Mimi dan anak-anak pun melanjutkan perkerjaan mereka yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2