
Setelah acara Muthia selesai, Mimi dan kedua sahabat nya pulang ke kampung halaman masing-masing kecuali selgia yang ikut pulang ke Jambi bersama Mimi.
Irma pulang ke Payakumbuh bersama Riko, saeidi dan Dimas mereka berdua lukangbke Semarang.
Sesampainya di kota Jambi, Mimi menginap semalam di rumah Nyai sebelum dia pulang ke desanya.
Saat seperti ini, kenangan lampau selalu hadir di benak Mimi. Jika berada di Jambi Mimi ketemu dengan para sahabatnya yang disini.
Emma dan Manda yang tau Mimi pulang sore harinya langsung ke rumah Nyai nya Mimi, begitu pula dengan Di'ah.
Jadilah malam ini mereka kembali tidur bersama walau personilnya sudah tidak lengkap.
"Kalau begini terkenang waktu kita masih lengkap ya Mi" ucap Manda.
"Hmm" jawab Mimi.
"Emang dulu kalian sering ya tidur bareng?" tanya Selfia.
"Iya Fi, sewaktu SMA kita jika malam Minggu sekali tidur bersama, karena kita mau jalan keluar hehee" ucap Emma.
"Kadang kalau libur tiba kita ikut Mimi pulang ke desa nya." sahut Manda.
"Ngapain aja kalian disana?" tanya Selfia yang ingin mendengar cerita lama Mimi.
"Emm ya kita pergi ke tempat wisata disana." jawab Emma.
"Wah beneran Mi? terus kenapa Fia nggak pernah dia ajak Mi." ucap Selfia.
"Mau ngajak Fia pergi nya pakkai apa Fi." jawab Mimi.
"Lah emang temlatnya jauh ya? terus kalian pergi pakai apa kalau jauh?" ucap Selfia dan bertanya secara beruntun.
"Emm, dulu kita emm perginya ya sama rombongan Fi." jawab Emma yang merasa gak enak menceritakan masa lalu penuh dengan kenangan indah itu.
"Oo, yaudah beosk Manda , Emma sama Di'ah ikut ya ke desa Mimi. Terus ajak deh sekalian rombongan kalian itu. Fia jadi kepingin jalan ke temlatbwisata di desa Mimi." ucap Selfia menggebu-gebu.
"Emm, bisa aja kita ikut Fi. Cumaaa.." jawab Emma.
"Cuma apa Em?" tanya Selfia.
"Huum huh, kita saat ini tidak bisa lagi berombongan Fi." sahut Di'ah.
"Kok bisa, seharusnya jangan sampai lah pisah-pisah. Atau gini aja kalian hubungi aja mereka dan bikangbkkta reuni gitu." Selfia yang tidak mengerti itu memberikan usul dengan gamblang nya.
"Kok diam." tanya Selfia yang minat ketiga sahabtnya diam.
"Rombongan kita itu ya rombongannya emm rombongan kak Syahril cs Fi." jawab Emma.
"Oo, maaf. Fia tidak tau." ucap Selfia lirih dengan meminta maaf.
"Gak apa-apa Fi." jawab Emma.
"Emm kalian disini aja sudah berpisah dan tean kakian yang lain sudah punya status baru. Berarti kita juga ya Mi?" ucap Selfia.
"Maksdunya Fi?" tanya Di'ah.
"Ya sekarangkan Tia sudah nikah,jadi ya kami di kosan kurang satu personil." jawab Selfia lesu.
"Emm kenapa juga Tia mau nikah cepat, ah nggak asik." ucap
Selfia lagi.
"Namanya jodoh Fi, nggak bisa kita tentukan kapannya." ucap Manda.
"Manda katanya juga mo nikah, kapan nih?" tanya Selfia.
"Emm habis wisuda Nanti rencana Fi " jawab Manda.
"Yah kalau Manda nikah, pas Fia ikut Mimi ke Jambi lagi beekurang lagi dong personil kita tidur bareng." ucap Selfia.
"Iya ya hahaa." jawab Emma.
"Di'ah gimana? apa sudah dapat pengganti atau mau nyambung sama kak Ryan?" tanya Selfia tiba-tiba, Di'ah hanya diam.
"Hmm gimana Di'ah? mimi aja sudah dapat kangmas Lo." ucap Selfia.
"Oh ya." jawab e!!a, Manda dan Di'ah.
"Kenapa tidak di ajak ke Jambi Mi?" tanya Emma
"Dia sibuk Ma." jawab Mimi.
"Emm cowok yang kemarin itu ya Mi?" tanya Manda dan Mimi menggeleng.
"Lah kalau bukan itu siapa?" tanya Emma lagi.
"Kalau yang itu dia sudah menikah Ma, Nda. Ini senior dikampus Mimi." jawab Mimi.
"Eh coba kita main tarot yuk." ajak Emma yang memang menyukai kartu tarot.
"Ayoo" jawab mereka semua, Emma pun nmengeluarkan kartu tarot milik nya.
Emma pun memulai nya dari Mimi dengan pasangan barunya. Mimi memilih dua kartu yang pertama keluar bergambar ten of wands.
"Hmm dia orangnya pekerja keras ya Mi, dia juga orangnya posesif, emm dia juga sepertinya lebih mementingkan pekerjaannya dan itu bisa membuat Mimi sakit hati." ucap Emma, Mimi hanya tersenyum.
Mereka pun mengisi malam hari itu dengan canda dengan tarot.
__ADS_1
Keesokan harinya Mimi dan Selfia pulang ke desa Mimi, Emma, Manda dan Di'ah tidak bisa ikut karena mempunyai kesibukan masing-masing.
Hampir dua Minggu Mimi dan Selfia berada di desa, Mimi juga melihat Dewi yang sudah melahirkan anaknya. Semenjak kak Andri melanjutkan studinya di LA, Dewi lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya karena jia ikut bersama Andri, orang tua Dewi khawatir jika Dewi kelabakan menjaga anaknya seorang diri.
Dua Minggu lebih Mimi dan Selfia liburan di desa, saat nya Mimi pulang kesemarang. Tak lupa kedua orangtuanya serta Ay juga ikut serta.
Selama Mimi liburan di desa, komunikasi antara Mimi dan Dillah tidak lancar karena dia sangat sibuk dengan proyek yang akan dia kerjakan bersama kliennya di Singapore.
Dua hari lagi dimana hari H Mimi akan wisuda, orang tua Mimi juga sudah empat hari di Semarang. Selama itu pula Dillah belum menampakkan dirinya.
Karena jari wisuda nya telah dekat dan Dillah juga belum ada kabar kapan pulang nya, Mimi lun memberanikan diri menanyakan dirinya dengan menghubungi Dillah lebih dulu.
"Hallao assalamualaikum" jawab Dillah diseberang telpon.
"Waalaikum salam, kakang baru bangun?" jawab Mimi dan bertanya.
"Hmm iya dek, ada apa dek?" tanya Dillah. Dengan Dillah bertanya seperti itu, Mimi merasa tidak enak hati.
"Emm maaf kalau Mimi ganggu waktu istirahat nya " jawab Mimi lirih.
"Emm nggak kok dek, ada apa yank?" ucap Dillah.
"Emm kalau kakang masih ngantuk, kakaknya istirahat saja. Nanti aja kapan kakang sudah fit baru kita ngobrol." ucap Mimi.
"Emm kok kamu ngomong seperti itu? seperti nggak senang aja dek." ucap Dillah npdengan nada yang tidak mengenakkan.
"Emm Mimi hanya tidak enak hati ganggu istirahat kakang." jawab Mimi.
"Emm kakang juga udah bangun kok. Ada apa?" ucap
Dillah dengan kembali bertanya.
"Emm , Mimi hanya mau tanya kapan kakang pulang aja kok." jawab Mimi.
"Oo emm mungkin dua hari lagi dek. Tapi kakang akan usahakan besok malam pulang." ucap Dillah.
"Oo yaudah." jawab mimj dengan menghelakan nafasnya.
"Kok gitu jawabnya?" tanya Dillah.
"Terus Mimi mau jawab apa? toh kakang lagi sibuk juga, miminkan nggak punya hak atas segalanya di diri akang." jawab Mimi apa adanya.
"Kamu punya hak atas diri kakang kok Yank, maaf ya.. Kakang akhir-akhir ini sibuk karena ternyata proyeknya segera di bangun oleh klien." ucap Dillah.
"Ini kakang juga lagi memperluas usaha kakang di resto dan cafe disini dengan menu Nusantara" Dillah mulai menceritakan aktivitas nya.
"Ohnya emak sama bapak mana?" tanya Dillah.
"Emak sama bapak lagi di ajak jalan sama ummi Fatmah.," ucap Mimi.
"Yah padahal kakang mau ngomong sama mereka mumpung masih ada waktu pagi ini." jawabnya.
"Maunya gitu yank, apa lagi kakang kangen banget sama kamu." jawabnya.
"Kakang jangan terlalu memforsir kerjaan kang, ingat kesehatan." ucap Mimi menasehati.
"Iya Bu dokter, em yank udah dulu Ya kakang mau mandi dulu." ucapnya.
"Em ok assalamualaikum." jawab Mimi dan mengakhiri nya dengan salam.
"Waalaikum salam." ucal Dillah.
Entah mengapa Mimi merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi antara dirinya dan Dillah nanti.
"Ya Allah semoga kau lindungi dia, berikanlah dia kesehatan." Mimi berdoa di dalam hatinya untuk Dillah.
Kedua orang tua Mimi di ajak jalan-jalan sama Ummi Fatmah dan kedua orang tua Mimi juga di ajak ke ICS oleh Ummi Fatmah.
Mereka bpwalau gak menjadi keluarga namun tanpa ikatan itu mereka pun telah menjadi keluarga.
Terkadang Mimi ingin bertemu dengan orang tua Dillah, Mimi ingin mengenal orang tua Dillah lebih dalam, Mimi juga ingin akrab kepada kedua orang tua Dillah sebagaimana dia yang akrab pada keluarga Syahril.
Tapi hingga saat ini, Dillah tidak pernah menyinggung atau pun mengajak Mimi untuk ketemu orang tuanya.
"Mi" panggil Selfia.
"Hmm ya Fi." jaqba Mimi.
"Gimana? apa kangmas mu hadir di wisuda Nanti?" tanya Selfia.
"Ndak tau Fi." jawab Mimi.
"Lah kok ndak tau Mi? terus nelpon tadi ngapain aja." ucap Selfia ya gemes.
"Emm dia masih sibuk Fi, katanya diusahakan pulang besok." jawab Mimi.
"Huum huh, kok aku merasa dia lebih mementingkan perkerjaan nya ya Mi sekarang." sahut Irma. Mimi hanya diam, ala yang dikatakan kedua sahabtnya asa benarnya.
"Ya namanya kerjaan Fi, Ir. Kita tidak tau kapan waktu selesainya." jawab Mimi asal.
"Iya memang tidak tau karena kita yang tidak mau tahu. Jangan sampe aja kita di atur sama perkerjaan kita sendiri sampai-sampai nanti lupa dengan orang terdekat kita" ucap Selfia.
"Huh, kalau dia mementingkan perkerjaan nya. Fia yakin hubungan kalian nggak bisa bertahan." ucap Selfia lagi.
"Betul itu, Irma juga sependapat dengan Fia. Impian kalian berdua membiduk rumahtangga pun tidak akan terjadi, walau terjadi selanjutnya tidak akan berjalan lama." ucap Irma.
"Hemm entahlah, doakan saja semua nya berjalan lancar." jawab Mimi walau dihatinya pun membenarkan ucapan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Emm sepi ya, nggak ada Muth Muth." ucap Irma !mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya." sahut Selfia.
"Namanya juga dah berkeluarga ya menginginkan suaminya lah." ucap Mimi.
"Fia kok jadi was-was ya sama kak Satria." ucap Selfia.
"Kenapa?" tanya Mimi.
"Fia takut aja kak Satria menyibukkan diri dengan perkerjaan dan mengabaikan Tia." ucap Selfia.
"Kita doakan saja rumah tangga mereka adem ayem." jawab Mimi
"Amin" ucap Irma dan Selfia.
"Gali Fi walau punkak Satria sibuk, Tia ya nggak kesepian kan ada mamahnya kak Satria di rumah nemani." ucap Irma.
"Iya beruntungnya Tia dapat Mertua baik seperti itu." " jawab Selfia.
"Oh ya Mi, kangmas pernah ngajak Mimi ketemu ma ortunya nggak?" tanya Selfia dan Mimi hanya menggeleng.
"Ck, dia itu serius atau cuma main-main aja sih" ucap Selfia sewot.
"Jangan suudzon Fi, mungkin kangmas nya Mimi mau buat kejutan untuk Mimi." ucap Irma mengejek atau menyindir.
"Aisss." ucap Selfia.
"Udah-udah ujung-ujungnya nanti kota ngghibah." ucap Mimi dengan merabahkan dirinya di kasur.
"Mi" panggil Selfia.
"Hmm"
"Seandainya kak Syahril ngajak Mimi balikan gimana?" tanya Selfia.
"Udah lah Fi, dia hanya masa lain Mimi. Dan satu lagi, dia sudah beristri jadi.. tidak mungkin." ucap Mimi.
"Kan seandainya Mi." ucap Selfia sewot.
"Jangan berandai-andai Fi ujungnya nyesek." ucap Mimi.
"Eh kapan nih kita ke butiknya?" seru Irma.
"Emm besok aja lah Ir." ucap Mimi.
"Emm yaudah kalau gitu, aku kasih tau rikk beeaok aja.'' jawab Irma.
Mimi yang hatinya merasa tak tenang, akhirnya memejamkan matanya hingga dia tertidur.
Keesokan harinya Mimi, Irma dan Selfia pergi ke butik untuk mengambil kebaya yang akan dia kenakan wisuda Nanti.
Di hari wisuda Mimi juga belum melihat Dillah untuk datang di hari spesialnya.
"Mi," panggil Selfia kala Mimi selalu celingukan mencari keberadaan Dillah
"Mi" panggil Selfia dengan menyenggol lengan Mimi.
"Hah em, ada apa Fi?" tanya Mimi.
"Kamu kenapa?" tanya Selfia, Irma dan Muthia juga !enoleh kearah Mimi.
"Nggak nggak papa kok." jawab Mimi dengan bibir sedikit bergetar.
Muthia menghelakan nafasnya, Muthia juga sudah bertanya pada sang suami idaman Dillah saat ini. Namun Satria hanya mengatakan kalau Dillah lagi mengurus proyek di Singapore dan pihak klien nya meminta Dillah untuk turun ikut serta.
"Apa kangmas nggak jadi datang Mi?" tanya Irma, Mimi hanya diam.
Jujur dari hati paling dalamnya, Mimi kecewa dengan Dillah dia sudah berjanji akan hadir dan menemani Mimk saat wisuda.
Bahkan Dillah juga sudah mengatakan pada Mimi jika dia ingin bertemu dengan orang tua Mimi bahkan dia juga berkata akan meminta restu pada orang tua Mimi.
Entah mengapa Mimi sangat berharap Dillah datang, waktu terus berjalan dan acara wiusda nya oun telah dimulai.
Mimi menelan pahit janji yang diberikan Dillah pada nya. Bahkan Mimi tidak lagi menaruh harapan nya pada Dillah.
"Ya Allah jika dia merupakan jodohku dekatkannlah dia pada ku dan keluargaku, jika bukan maka tunjukkanlah." Mimi memohon kepada rabbnya.
Sepanjang rentetean acara wisuda, pikiran Mimi berkelana tentang Dillah. Ketiga sahabtnya hanya menghelakan nafas panjang, mereka tau jika Mimi sedang kecewa saat ini.
Hingga acara selesai dan Mimi lun sudah mendapatkan gelar sarjananya, Dillah takmjuga kunjung tiba.
Mimi berswa foto dengan keluarganya, ada Ummi Fatmah, Ummi Fatimah beserta keluarga lainnya. Mereka pergi ke restoran yang sudah di boking oleh abi Arsyad untuk merayakan keberhasilan Mimi, Selfia, Irma dan Irsyad tak lupa juga Saridi, Dimas dan Riko.
Mereka semua berkumpul disebuah restoran ternama di kota ini, Abi Aesyad dan Abi Risyad yang mudah bergaul sehingga mereka juga cepat akrab kepada orang tua sahabat-sahabatnya Mimi.
"Nah nak, selamat ya atas keberhasilan kamu dan kalian semua." ucap Abi Arsyad lada Mimi dan yang lain.
"Selamat nak kamu mendapatkan beasiswa lagi di kampus." ucal Abi.
"Makasih Bi," jawab Mimi dengan berkaca-kaca bahagia.
"Kamu mau ambil jurusan apa Mi?" tanya !bak Aish.
"Mimi ingin ambil ahli jantung mbak." jawab Mimi.
"Wah bagus itu, jarang ada yang mau ambil ahli jantung." sahut Ummi Fatimah.
__ADS_1
"Iya betul itu, kebanyakan itu psoesialis anak, kandungan." sahut Ummi Fatmah.
Di balik rasa kekecewaan, Mimi merasa bahagia karena keluarga nya dan sahabatnya selaku memberi suport pada nya.