DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Mimi dilamar


__ADS_3

Setahun berlalu Mimi menjalankan hari-hari nya dengan kesendirian. Banyak lelaki dari senior hingga junior nya mencoba mendekati Mimi, bahkan mereka terang-terangan menyatakan cinta kepada Mimi di depan para mahasiswa.


Tapi entah mengapa hati Mimi seolah tidak tertarik dengan lelaki yang ada di kampusnya itu. Walau mereka Mimi tolak secara langsung dengan lembut gak ada satupun dari mereka marah atau pun dendam.


Mereka bahkan !menjadi sahabt Mimi, terkadang yang junior sering meminta bantuan pada Mimi, Mimi pun tidak pelit untuk memberikan ilmu yang dia ketahui kepada junior nya.


Walau Mimi terlihat cuek dan jutek namun jika orang tersebut sudah dekat menjadi nyaman. Mimi banyak pengagum dari para junior dan senior nya.


Bahkan rektor nya dengan terang-terangan menjodohkan anaknya kepada Mimi. Profesor braya Wijaya memiliki tiga orang anak laki-laki, namun tinggal yang bungsu yang belum menikah.


Yang bungsu pun baru lulus S3 nya di Harvard university, si bungsu profesor brata menjadi CEO di rumah sakit jantung di kota ini.


Dr. Abizar Alzam Arfa Wijaya.Sp.JP k FACC, anak bungsu dari profesor Brata Wijaya. Abizar terkenal dengan ketekunan dan kedisiplinan nya, jadi semenjak dia memegang rumah sakit itu semua dokter dan perawat disana menjadi disiplin.


Mimi di ajukan sama profesor untuk koas di rumah sakit itu, disini Mimi banyak belajar secara langsung tentang penyakit jantung dan penanganan nya.


Sehabis mata kuliah nya selesai, Mimi akan langsung pergi ke rumah sakit jantung itu. Setalah kelasnya selesai, Mimi tetap berkerja di rumah sakit itu.


Dr, Abizar selalu membimbing Mimi bahkan Mimi juga belajar banyak dari dia tentang penyakit jantung.


Melihat kedekatan Mimi dengan Dr. Abizar, profesor Brata menjodohkan Mimi dengan anak bungsunya itu.


Mimi berusaha membuka hatinya, apa lagi Mimi melihat Dr. Abizar orangnya tegas, dan di balik ketegasan nya dia orang nya penuh akan kasih sayang dan penyabar.


Di waktu libur, Dr. Abizar selalu mengajak Mimi jalan-jalan dan dia juga bercerita banyak hal saat dia berkuliah di Harvard. Bahkan dia juga menawarkan Mimi kelak melanjutkan kuliah disana.


Dia juga mengajari Mimi banyak hal agar Mimi bisa mengambil beasiswa di universitas itu.


Hampir tiga tahun Mimi dekat dengan Dr Abizar dan baru setahun ini Mimi menerima Dr. Abizar sebagai kekasihnya.


Saat ini Mimi pun telah menyelesaikan pendidikannya dengan cepat. Tiga tahun Mimi bisa menyelesaikan pendidikan nya dengan nilai yang memuaskan.


Kali ini Mimi wisuda pasca sarjananya dan kali ini juga Mimi mendapat gelar sesuai dengan cita-cita nya. Mengetahui Mimi lulus dengan nilai terbaik. Dr.Abizar mengajak Mimi dinner romantis


"Mas, makasih ya." ucap Mimi pada Dr. Abizar.


"Sama-sama, itu semua juga jerih payah kamu sendiri " jawabnya dengan mengelus kepala Mimi.


"Emm dek, apa kamu tidak mengambil beasiswa itu?" tanya Abizar.


"Emm jauh mas, memang sih biaya sudah ditanggung tapi kan hari-hari Mimi juga butuh uang mas." jawab Mimi.


Yah dengan mendapatkan nilai yang terbaik, Mimi kembali mendapatkan beasiswa tetapi beasiswa kali ini tidak berada di kampus ini maupun di kampus dalam negeri, melainkan di dua kampus di luar negeri.


"Tapi sayang Lo dek kalau tidak di ambil?" ucap Abizar.


"Iya sih mas, tapi Mimi mau kerja aja dulu. Mimi mau nyenangin hati orang tua Mimi aja dulu." jawab Mimi.


"Hmm, tapi sayang lo dek. Kalau kamu mau nanti biar mas rekomendasikan kamu sama teman mas disana." ujarnya yang merasa tidak rela Mimi melewatkan beasiswa itu.


Mimi terdiam, Mimi juga ragu harus memilih apa. Memang sangat disayangkan jika beasiswa ini dilewatkan. Tapi Mimi juga bimbang untuk pergi jauh lagi dari orang tua nya.


"Mimi pikirkan dulu ya mas." ucap Mimi.


"Hmm terus, kita gimana dek?" ucapnya.


"Maunya mas gimana? Mimi ngikut aja.


"Mas mau kita segera menikah dan hidup bersama."


"Nanti waktu orang tua adek datang kesini mas akan langsung melamar adek." ungkapnya.Mimi tersenyum dan merasa bahagia dengan niat baik dari Abizar.


"Emm mas, boleh nggak kalau kita menikah nanti uang gaji Mimi tetap Mimi masih ke orangtua Mimi." tanya Mimi.


"Tentu boleh dek karena itu uang kamu maka hak kamu mau beri kesiapa pun, malah lebih bagus jika itu kamu beri kepada orang tua kamu."


"Kelak kalau kita berumahtangga, Uang aku uang kamu juga nantinya." ujar Abizar.


Mimi senang mendengarnya, Mimi merasa beruntung selalu dekat dengan orang yang baik dan memiliki pengertian.


Malam ini Abizar memberikan hadiah spesial buat Mimi berupa cincin permata berlian. Abizar melingkarkan cincin itu di jari manis Mimi.


"Mas" ucap Mimi.


"Ini sebagai hadiah atas kelulusan dan kesuksesan kamu dek." ucapnya dengan mengecup tangan Mimi.


"Makasih" ucap Mimi.


Hari wisuda pun tiba, orang tua Mimi pun sudah berada di kota ini.


Seperti janjinya, malam hari nya Abizar mengajak Mimi dan kedua orang tua Mimi makkaan malam bersama, tak hanya kedua orang tua Mimi, profesor Brata beserta keluarga besar nya pun ada.


Abi Arsyad, Abi Risyad dan umi Fatmah serta Ummi Fatmah juga ada. Sahabat-sahabatnya Mimk besrta keluarga nya juga ikut hadir.


Semua sudah dipersiapkan oleh keluarga Abizar, Mimi juga sudah menyampaikan niat baik abkzar kepada kedua orang tua Mimi.


Mak dan bapak setuju saja apa lagi ini bukan pertama kali merek bertemu. Setahun lalu pun mereka bertemu, yah waktu Mimi liburan Abizar ikut Mimi pulang ke Jambi.


Malam ini gak hanya malam makan malam bersama melainkan malam ini Abizar melamar Mimi di depan kedua orang tua Mimi.


"Mak, bapak. Saya Abizar Alzam Arfa meminta restu untuk menjadikan Mimi sebagai pasangan hidup saya." ucapnya kepada emak dan bapak dengan duduk bersimpuh di hadapan orang tua Mimi.


"Mak dan bapak merestui jika kalian memang saling menyukai satu sama lain." jawab Emak. Abizar tersenyum mendapat restu itu.


Setelah menyatakan segala keinginannya maka semua pun makan malam bersama dengan di iringi musik yang romantis.


Satria dan Muthia yang hadir, memvideokan momen itu dan Satria mengirimkannya ke Dillah. Dillah menerima kiriman video itu hanya tersenyum getir.


Setelah restu telah didapat, kedua belah keluarga pun merundingkan perihal acara tunangan atau ingin segera langsung ke acara pernikahan.


Abizar sendiri ingin langsung ke acara pernikahan, dia tidak ingin menunda nya dengan memakai acara tunangan. Namun pihak keluarga Abizar ingin diadakan acara pertunangan terlebih dahulu dan setelah itu baru beberapa bukan kemudian diadakan acara pernikahan.


Semua telah disepakati dan akhirnya Abizar mengikuti saran para tetua. Walau hatinya tidak menginginkan hal itu.

__ADS_1


Hari-Hari Mimi setelah wisuda dan mendapat gelar sebagai spesialis jantung, Mimi tetap berkerja di rumah sakit yang di pimpin oleh Abizar.


Kehidupan Mimi semakin bahagia, tetapi lagi-lagi ujian menghampiri nya lagi. Saat Mimi sudah mulai nyaman dan bahagia dengan Abizar bahkan hari pertunangannya sebentar lagi. Tiba-tiba datang seorang gadis mengaku kekasih nya kerumah sakit.


Saat Mimi sedangkan makan siang bersama dinkqngin rumah sakit, perempuan itu mencari Abizar dan setelah tau keberadaan Abizar dia mendekati Abizar dan Mimi ya g berada di kantin.


"Hai sayang" ucapnya tiba-tiba dengan langsung memeluk serta menciumi pipi Abizar. Abizar terdiam begitu pula dengan Mimi.


"Kamu kok, nggak pernah ngabarin aku lagi tiga tahun ini " ucapnya dengan bergelayut manja.


"Mas, aku duluan." ucap Mimi yang merasa panas melihat tingkah perempuan itu.


"Dek tunggu." ucap Abizar dan langsung melepaskan tangan perempuan itu namun perempuan semakin mempererat nya.


''Dia siapa sih yank?" tanya si perempuan.


"Dia tunangan ku." jawab Abizar.


"Ah canda kamu kelewatan deh yank." ucap si perempuan


"Lepaskan tanganmu" ucap Abizar yang mulai geram.


"Nggak, aku kangen sama kamu.," ucapnya dengan manja.


"Lepasin, aku bilang." ucap Abizar dengan tatapan tajam.


"Eng nggak." jawabnya.


"Lepasin Clara." ucap Abizar dengan intonasi tinggi dan menghentakkan tangan si perempuan yang bernama Clara itu.


"Kamu kenapa si Zar kasar amat sekarang." ucapnya.


"Apa karena perempuan itu kamu berbuat gini sama aku, iya?" ucap si Clara.


"Sekali lagi aku bilang ke kamu, Dia TU NA NGAN ku camkan itu." ucap Abizar.


Semua mata melihat ke arah Abizar dan Clara, selama ini mereka mengenal Abizar tidak pernah mendengar Abizar mengeluarkan suara dengan intonasi tinggi.


Sekali pun Abizar terkenal dengan kedisiplinan dan ketegasan, Abizar selalu berkata lembut namun mengena.


"Hahhaaaa, kamu jangan canda deh Zar." ucap Clara dengan gaya sinis.


"Selama ini kamu anggap aku apa sih? kebaikan yang kamu berikan itu apa sih Zar?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepasmu Zar, nggak akan." ucap Clara penuh ambisi.


"Perlu kamu ingat Clara, dari dulu sampai sekarang aku hanya menganggap kamu teman tidak lebih. Aku baik sama kamu sama dengan halnya dengan yang lain."


"Aku pinta kamu ke luar sekarang juga dari rumah sakit ini."


"Dan satu lagi, jangan pernah kamu menginjakkan kaki di sini lagi." Ucap Abizar yang sudah tersulut emosi.


"Nggak Zar, nggak.. Aku mencintai kamu Zar, sampai kapan pun tak akan boleh yang dekat atau pun memiliki kamu selain aku." ucap Clara yang sudah berambisi


"Hehh, kau hanya berambisi Clara. Maaf,aku hanya mencintai Mimi. Sekarang juga aku pinta kau keluar." ucap Abizar dengan menunjuk jalan keluar dengan sorot mata tajam.


"Siap dokter Abizar." ucap ketiga satpam itu.


"Bawa perempuan ini keluar dari rumah sakit ini" ucap Abizar.


"Dan satu lagi, kalian ingati wajah dia dan jangan pernah kalian izinkan dia masuk ke dalam.'' ucal Abizar.


"Siap dokter, laksanakan." ucap ketiga satpam itu. Abizar setelah memberikan perintahnya langsung beranjak menanggalkan kantin dan sebelumnya dia meninggalkan selembar uang merah di atas meja nya.


"Mari mbak, silahkan keluar." ucap satpam masih dengan sopan nya.


"Nggak, aku nggak akan keluar." ucap Clara.


"Pak Jono seret dia." teriak Abizar pada satpam yang bernama pak Jono itu tanpa melihat kebelakang.


"Abizar" teriak Clara.


"Abizar... sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan MU menghindari ku Abizar."


"Sampai kapanpun tidak ada yang boleh memiliki MU selain aku, camkan itu." Clara terus berteriak.


"Aku akan memperhitungkan semua ini Abizar, kau akan tau akibatnya." ucapnya lagi.


"Mari mbak." ucap pak Jono dengan memegang lengan Clara.


"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri." ucapnya.


"Kalua bisa sendiri silahkan pergi dari sini, jangan buat onar di sini" Ucap pak Jono.


Bisik-bisik dari perawat, dokter dan pengunjung pun mulai terdengar di telinga Clara.


"Cih jadi perempuan kok murahan banget." bisik pengunjung.


"Iya nggak ada malunya."


"Urat malunya dah putus kali'' mereka saling berhujat.


"Mana mau dokter Abizar dengan perempuan model gituan." ucap perawat.


"Iya nggak level." seru lerwat lain.


"Pakaian aja kurang bahan gitu, nggak malu umbar aurat." seru lerwat yang lain.


"Cantikan juga dokter Mimi." ucap dokter yang secara tidak sengaja lewat dan mendengar perdebatan Clara dengan Abizar.


"Yah jauhlah dok, dia mah bukan levelnya dokter Abizar." jawab si asisten dokter itu.


"Haha apa jadinya dokter Abizar dapat mak lampir kayak gitu." ucap perawat cowok.

__ADS_1


"Aku aja ogah milih dia, apa lagi dokter Abizar." sahut temanya.


"Makanya mbak perbaiki dulu tuh penampilan.Kalau nggak sekalian aja telanj**" ucap pengunjung bapak-bapak.


Clara mendengar dirinya di hujat seperti itu menjadi geram, dia menghampiri salah satu perawat yang mengatai dirinya.


"Apa Lo bilang hah" ucap Clara yang akan mencekik perawat itu namun di tahan oleh tongkat satpam pak Jono dan lengannya langsung ditarik oleh kedua teman pak Jono.


"Silahkan Anda keluar, jangan membuat onar disini." ucap pak Jono dengan menarik paksa Clara.


Clara keluar degan terus mengumpat.


"Sial, gara-gara tu cewek gatel aku dipermalukan seperti ini."


"Awas saja tidak akan kubiarkan hidupnya tenang"


"Tidak ada yang boleh memiliki Abizar, Abizar milikku yah Abizar hanya milik Clara"


"Kenapa sih kamu tidak memandang aku Abizar"


"Apa kata dia.. tunangan, tidak tidak tidak Abizar tidak boleh tunangan sama siapapun."


"Aku akan buat perhitungan nanti, kalian tidak boleh bersatu."


Sehabis dari kantin Abizar mencari Mimi hingga ke dalam ruangannya.


"Sayang," ucap Abizar dengan membuka pintu ruangan Mimi tetapi kosong.


"Sayang, kamu di mana?" Abizar terus mencari Mimi hingga mencari sampai kedalam kamar mandi namun Mimi tidak ada.


Abizar mencoba menghubungi Mimi dengan menelponnya tetapi suara dering HP ada di dalam ruangan itu. Tak lama ada perawat masuk kedalam ruangan itu, sang perawat tidak tau kalau di dalam ada Abizar.


Perawat masuk untuk menaruh berkas-berkas pasien Mimi hari ini di atas meja Mimi.


"Eh Dr. Abizar." ucap si perawat kaget kala Abizar keluar dari kamar mandi.


"Oh ya sis kamu tau dimana dokter Mimi?" tanya Abizar.


"Dr.Mimi lagi di dalam ruang operasi dok, Dr. Mimi lagi ada jadwal operasi hari ini." jawab si perawat.


"Oo, emm makasih ya." ucap Abizar.


"Sama-sama dok, kalau gitu saya permisi dok." ucap si perawat dengan menunduk hormat.


"Hmm" jawab Abizar, si perawat pun keluar dengan tersenyum.


Semua pegawai di rumah sakit ini sudah mengetahui siapa Mimi dan Abizar. Dokter-dokter serta perawat disini pun kagum akan pasangan itu.


Tampan, cantik dan sama-sama pintar. Sehingga menjadi panutan bagi mereka. Bahkan keluarga Abizar sangat menyayangi Mimi. Sama halnya dengan keluarga Syahril.


"Kenapa aku lupa kalau dia ada jadwal beberapa operasi hari ini" gumam Abizar dengan menggelengkan kepalanya. Gara-gara Clara dia melupakan jadwal Mimi.


"Clara.. Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh sedikit pun Mimi " Gumamnya dengan duduk di kursi kerja Mimi. Abizar melihat tumpukan kertas di atas meja Mimi.


Kertas rekam medis setiap pasien yang di tangani Mimi hari ini. Abizar tersenyum, begitu banyak rekam medis Mimi hari ini. Semenjak Mimi bergabung di rumah sakitnya, pendapatan pemasukan rumah sakit juga bertambah.


Mimi sedang mengoperasi pasien pemasangan ring di jantung. Dua setengah jam berlalu operasi pun selesai. Saat Mimi keluar dan menuju ke ruangannya ada seorang kerabat kelihatan kebingungan.


"Ada apa sis?" tanya Mimi.


"Emm Dr.Mimi, ada pasien baru masuk yang sepertinya kena serangan jantung." Ucap si perawat kalut.


"Lah terus kenapa kamu sampai di atas, kenapa tidak memberitahukan lewat telpon atau melalaui yang lain " ucap Mimi.


"Gini dok, semua dokter sedang sibuk. Rencana saya mau panggil Dr.Abizar tetapi dia tidak ada di ruangannya, di hubungi juga tidak bisa, begitu pula dengan dokter Rianto, dokter Siswandi nomor mereka tidak ada yang aktif, makanya saya berinisiatif ke atas untuk mencari keberadaannya." ucap si perawat.


"Yaudah ayo kita kebawah." ucap Mimi dengan langkah panjangnya, Mimi melupakan waktu istirahat nya dan langsung menuju lantai UGD.


Terlihat pasien yang baru masuk sedang ditangani dokter jaga.


"Bagaimana?" tanya Mimi yang sudah berada di dalam ruangan itu.


"Emm ini dok, ini pasien rujukan dan disini ada keterangan tentang pasien ini." ucap dokter jaga. Mimi pun membacanya di sana tetrulis aterosklerosis.


"Keluarga pasiennya ada?" tanya Mimi.


"Ada dok," jawab si perawat.


"Emm," Mimi pun keluar dan menemui keluarga pasien dan menjelaskan yang di derita pasien.


"Jadi bagaimana dok?" tanya keluarga pasien.


"Untuk sementara kita rawat dulu bu, untuk melihat perkembangannya karena dari apa yang sudah saya periksa dari rumah sakit sebelumnya pasien belum begitu parah." terang Mimi.


"Emm baik dok, lakukan yang terbaik buat anak saya." ucap si ibu.


"Baik bu, emm untuk tindakan lebih lanjut dan pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap, silahkan ibu mengurus administrasi nya terlebih dahulu." Ucap Mimi.


"Baik dok, makasih." jawab si ibu dan langsung pergi ke ruang administrasi.


"Dok, sebenarnya cucu saya itu kenapa?" tanya seorang ibu yang sudah sepuh bisa dikatakan mungkin ibu ini adalah nenek dari si pasien.


"Gini Nek, cucu nenek terkena serangan jantung ringan." ucap Mimi.


"Tapi kok bisa toh dok, dia kan masih muda." ucap si nenek heran.


"Siapa saja bisa kena serangan jantung Nek, itu disebabkan karena faktor gaya hidup." ucap Mimi.


"Oo gitu ya dok.'' ucap si nenek. Mimi hanya tersenyum dan Mimi pun permisi.


"Nek, kalau gitu saya permisi dulu ya, mau ngecek keadaan cucunya." ucap Mimi pamit.


"Iya dok makasih " jawab si nenek.

__ADS_1


"Sama-sama Nek." jawab Mimi dan Mimi kembali maauk ke dalam ruangan UGD untuk memeriksa pasien tersebut.


tbc


__ADS_2