DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
peningkat imun


__ADS_3

Keesokan pagi seperti biasanya Mimi dan Syahril selalu melakukan rutinitas mereka kepada sang penciptanya.


Syahril dan Mimi tidur sekamar karena Syahril tak tahan mendengar kamar diseberang selalu di goncang badai, jadilah pas di j hari dia meminta Mimi untuk membuka pintu kamar.


Syahril lelaki dewasa tentu memiliki rasa yang bisa saja meruntuhkan imannya, namun saat dia mulai di rasuki keinginan di luar kendalinya Mimi selalu mengucapkan istighfar di telinganya dan membisikkan jika macam-macam di mutilasi sama bunda.


Sehabis sholat subuh, Mimi teringat akan luka yang dia pasang semalam.


"Kak, ayo kita lihat lukanya." ucap Mimi pada Syahril, Syahril melihat ke arah Mimi dengan menautkan kedua alisnya sedangkan Mimi memasang senyum termanis nya.


"Ayo kak, Mimi takut kalau sendirian ke sungai." ucap Mimi dengan menarik lengan Syahril.


Ya semalam setelah oak amat datang membawa luka bambu itu, Mimi dengan semangat meminta bantuan pak amat untuk memasangnya di tepian sungai.


Flasback on.


"Dok, nah model ko luka nyo." ucap pak amat membawa dua jenis alat penangkap ikan itu. Satu jenis seperti bentuk alat musik kendang yang lonjong besar satu sisi dan kecil disisi lain, yang satu sama dengan alat musik kendang tifa yang memilki bentuk yang sam dengan kendang namun dia ada bentuk ramping di tengahnya.


(Dok, ini jenis luka nya)


"Emm dokter nak yang mano?" tanya pak amat


(Emm dokter mau yang mana?)


"Duo-duo nyo be lah pak, pancing nyo ado kan." ucap Mimi.


"Pancing ado dok, ko a Ado pancing buat najor nyo jugo, ko jugo ado pancing udang. Kalu la dokter nak mancing udang nyo jugo." ucap pak amat dengan mengeluarkan pancing serta senar dan gagang nya.


( Pancing ada dok, ini ada pancing buat tajur nya, ada pancing udang juga. Kalau lah dokter mau mancing udang nya juga )


"Emm wah elok nyela tu pak, payo pak Kito pasang malam kola, biak besok sayo tengok nyo." jawab Mimi dengan sumringah.


(Emm bagus nian itu pak, ayo kita pasang malam ini juga, biar besok saya lihatnya )


"Dek" panggil Syahril yang akan mencegah Mimi.


"Bentar kak." jawab Mimi.


"Ayo pak." ajak Mimi lada pak amat, pak amat melihat ke arah Syahril, Mimi yang melihat pak amat melihat ke arah Syahril mengerti jika si bapak meminta persetujuan Syahril.


"Yank.." ucap Mimi dengan manja.


''Hemm, ya udah pak turuti aja maunya dari pada merajok" jawab Syahril, Mimi langsung kembali semangat dan mengajak oak amat untuk memasang luka.


Sebelum mereka turun pak amat juga memasang pancing buat tajurannya,


"Umpannya apo pak" tanya Mimi.


"Kalu ado kelapo elok juga Bu dokter, kalu dak nasi di campur minyak kelo jugo biso." ucap nya.


(Kalau ada kelapa bagus juga Bu dokter, kalau tidak ada nasi campur minyak jelantah juga bisa )


"Emm gitu," ucap Mimi yang langsung beranjak masuk menuju dapur mengambil nasi hangat dan minyak bekas goreng ikannya.


"Nah pak terus nasi nya diapakan?" tanya Mimi.


Pak amat langsung mengambil nasi dan minyak yang Mimi bawa dan dia mencampurkan bahan itu menjadi satu lalu dia buat bulatan dan padatkannya.


Mimi dan yang lain hanya melihatnya, terutama Mimi melihat sambil belajar.


"Nah sudah Bu." ucap pak amat setelah nasi yang di gempal kan di masukkan kedalam temlat kecil di dalam luka itu.


"Oke pak, ayok kita kesungai." seru Mimi.


"Ayo kak." ajak Mimi pada Syahril.


"Ayok kak Ryan, Di'ah ikut ndak." ucap Mimi lada Ryan dan Di'ah.


"Ndak lah mi, gelap aku juga mau nggosok baju aku." jawab Di'ah.


"Ok yaudah, ayo kak." ucap Mimi dan kembali mengajak Syahril. Syahril mau tak mau pun menuruti Mimi. Selain menuruti Mimi yang pasti Syahril tidak mau Mimi berduaan dengan lelaki lain ala lagi di malam yang gelap.


Mereka bertiga menyusuri jalan kecil di belakang rumah Syahril menuju sungai.


"Wah semak pak, susah jalannya. Besok lah dibersihkan." ucap Mimi ketika jalannya penuh dengan rumput menjalar.


"Iyo Bu, anak Sayo ado kalu ibu nak buat bantu ibu bersihkan kebun ko." ucap pak Amat.


(Iya Bu, anak saya ada kalau ibu butuh bantuan buat bersihkan kebun ini )


"Boleh lah pak, besok suruh kesini ya. Anak bapak tidak sekolah?'' ucap Mimi dan bertanya.


"Sekolah Bu, cuman la perre Dio." jawab pak amat.


(Sekolah Bu, cuma dia sudah libur )


"Oo, anak bapak sekolah apa? SD, SMP atau SMA." ucap Mimi sambil terus ber jalan.


"Inyo sekolah SMP Bu, inyo sekolah di kecamatan, cuma sano yang ado." jawab pak Amat.


(Dia sekolah SMP Bu, dia sekolah di kecamatan karena cuma disana yang ada )


"Cubolah pemerintah tengok kami disiko Bu e, setidaknya ado sekolahan buat anak-anak jadi dak jauh anak kami sekolah" Pak amat berkeluh kesah.


( Coba pemerintah lihat kami disini, setidaknya ada sekolah buat anak-anak jadi tidak mau anak kami bersekolah )

__ADS_1


"Iko Idak, cuma esede ajo yang ado, kalu nak sekolah tinggi dikit pegi ke kampung orang. Kalu dak cukup batas esede ajo." ucap pak Amat.


(Ini tidak, cuma SD saja yang ada, kalau mau sekolah tinggi sedikit harus pergi ke kampung orang. Kalau tidak cukup batas SD saja )


"Walau kami orang dusun, nak jugo punyo anak sekolah tinggi macam dokter-dokter ni. Cuman yo itu jauh nian, sekolah dari siko kasian nengok anak bolak-balik besepeda bejam-jam, tinggal sano besak Pulo duitnyo '' ucap oak amat yang memiliki cita-cita besar pada anak-anak nya.


(Walau kami orang kampung/dusun, mau juga punya anak bersekolah tinggi seelrti dokter-dokter ini, cuma ya itu jauh sekali, bersekolah dari sini kasihan lihat anak bolak balik bersepeda berjam-jam, tinggal disana beser biaya nya )


"Sabar bae lah pak, lambat laun maju lah nanti dusun kito ni" jawab Syahril.


"Iyo lak dokter, semoga." jawab pak amat.


"Nah Kito la sampe." ucap oak Amat ketika sudah sampai di tepian sungai.


"Kito pasang sikok di siko yo Bu, sikok nyo Sayo pasang sebelah sano." ucap pak Amat yang langsung turun memasang luka di pinggiran sungai. Setelah itu dia berjalan menuju seberangnya dengan berjalan di titian dan kembali memasang lukanya.


(Kita pasang satu disini, satunya saya paang disebelah sana)


"Nah besok pas ibu atau bapak nak ngambek nya tarik Bae tali ko" ucap pak amat yang sudah kembali dekat Mimi dan Syahril dengan mengangkat kembali luka yang dia pasang dan menunjukkan cara mengangkatnya.


(Nah besok kalau bapak atau ibu mau mengambilnya cukup tarik saja tali ini)


"Ok gitu ya pak." jawab Mimi


"Iyo Bu, nah pancing tajor nyo Sayo letak an di siko samo siko Yo." ucap pak Amat dengan menancapkan ganggang pancing dan di ikat pada ranting kayu yang ada di pinggiran sungai.


(Iya Bu, nah kan pancing tajur nya saya letakan di sini dan disini ).


"La selesai Bu, besok lagi boleh la ibu tengok" ucap pak amat.


(Dah selesai Bu,besok pagi boleh ibu lihat )


"Wah makasih kaki, yah maaf celana bapak jadi basah." ucap Mimi.


"Ndak apo Bu." jawab nya dan mereka pun kembali ke rumah.


flasback off


Mimi dengan semangat menarik tangan Syahril dengan penerangan senter di tangannya.


"Kak besok pasang lampu ya di sini." ucap Mimi.


"Kenapa harus subuh-subuh gini dek lihatnya, kan bisa agak siangan dikit." ucap Syahril dengan mengeplak lengannya yang digigit nyamuk.


"Kalau siangan dikit nanti kakak terlambat, jadi kalau subuh kalau dapat kan bisa langsung Mimi bersihkan." jawab Mimi


Sesampainya di tepi sungai Mimi langsung mengangkat luka seperti yang di ajarkan pak amat semalam. Saat Mimi akan meniti keseberang nya Syahril mencegahnya jadi Syahril yang mengambil luka di sebrang sana.


"Wah kak, banyak ikannya." seru Mimi ketika mendengar seruan suara ikan dari dalam luka itu. Syahril Kun sumringah melihat luka yang dia ambil juga terasa berat.


"Wah kak ikan Toman, emm jadi ingat nyai." ucap Mimi seketika ingat sama nyainya yang suka dengan ikan Toman.


"Udah ayo pulang" ajak Syahril dengan membawa luka yang di tangan Mimi, Mimi membawa tiga pancing berisi ikan Toman itu.


"Ckk berat juga kak tiga ikan ini" ucap Mimi. Syahril tak menjawab dia celingak-celinguk mencari sesuatu sehingga dia melihat ada karung di kebun sebelahnya dan di ambilnya lah karung itu.


"Sini pancingnya." ucap Syahril dan Mimi menyerahkan pancing itu pada Syahril, Syahril melepaskan ikan dari kail pancing dan di masukkan ya ke dalam karung.


"Nah adik bisa ndak bawa nya." ucap syahrik ketika ketiga ikan besar itu sudah berada did akan karung.


"Bisa, makasih sayang cup" ucap Mimi dan mengecup pipi Syahril.


"Kok di situ dek, kurang kalau cuma disitu.'' ucap Syahril dengan memoncong kan bibir nya.


"Kalau itu nanti.'' jawab Mimi dan berjalan menuju rumah dengan membawa karung tertatih-tatih.


Sampai di atas rumah, (teras dapur) Syahril meletakkan dua luka nya dan berselonjor sejenak, Miki pergi masuk mengambil satu ember bertutup yang dia beli dan di bawa nya keluar.


Syahril terbengong melihat Mimi membawa ember itu.


"Adek sudah mempersiapkan nya." ucap Syahril heran melihat Mimi membawa ember bertutup itu seolah Mimi telah mempersiapkan segala sesuatunya.


"Emm.. Iya, awalnya sih buat nampung ikan kalau-kalau dapat rezeki kayak semalam" jawab Mimi.


"Sini kak keluarin dulu ikannya kedalam baskom, nanti baru kita pilih mana yang akan di kurung." ucap Mimi. Syahril lun mengeluarkan ikan-ikan yang terkurung itu.


"Wah kak, ada ikan lele nya. Waisss ada stok buat beberapa hati ni kak." ucap Mimi bahagia melihat isi lukanya penuh-penuh bahkan ada ikan yang mati karena sesak di dalam.


Ikan yang kemas dan mati Mimi singkirkan dan langsung Mimi bersihkan buat lauk mereka pagi dan siang nanti.


"Ikan lele nya di goreng pakek sambal terasi enak nih dek." ucap Syahril.


"Iya siang atau malam aja ya." seru Mimi dengan terus menyiangi ikan-ikannya.


''Kak, jadi aliran lampu dari Kadus kakak putus?" tanya Mimi.


"Ndak dek, ndak enak kakak. Jadi ya biarkan saja bahkan kakak kemarin minta tambah daya, maksudnya kakak ya kalau pagi hingga siang atau siang hingga sore kita hidup mesin sendiri, malamnya baru pakek listrik kak Kadus jadi pengiritan sedikit lah." Ucap Syahril menerangkan.


"O gitu." jawab Mimi, Mimi dan Syahril pun saling mengobrol hingga ikan yang Mimi siangi sudah beres semua.


"Kak, ikan sudah di masukkan kedalam ember."


"Sudah dek,cuma sebagian kakak taruh di baskom saja, sempit" ucap Syahril.


"Iya juga, ikannya banyak gitu. Nah ikan Toman nya kita taruh mana." ucap Mimi.

__ADS_1


"Emm" ucap Mimi lagi namun segera melesat masuk kedalam mengambil ember bertutup satu lagi.


"emang kamu beli berapa banyak sih dek?" tanya Syahril.


"Cuma dua, rencana satu buat nampung air bersih buat masak. Tali berhubung ikan Toman tidak ada tempat nya ya di pakai buat ikan tomannya saja dulu." jawab Mimi dengan mengisi air kedalam ember nya.


"Dah kak, masukkan ikannya." ucap Mimi, Syahril Kun memasukkan tiga ikan besar tersebut kedalam ember setelah semua di tutup Mimi dan Syahril masuk kedalam rumah


"Kakak langsung mandi aja gih." ucap Mimi.


"Oke sayang. Tolong ambilkan handuk ya." ucap Syahril, Mimi mengangguk dan langsung melesat kedalam kamar mengambil handuk Syahril taknluoa Mimi juga menyiapkan pakaian Syahril di atas kasur.


Saat Mimi keluar kamar, dua sejoli pengantin baru juga baru keluar kamar, Mimi hanya tersenyum melihat mereka berdua dan kembali melangkah menuju dapur.


Setelah memberikan handuk lada Syahril, Mimi menggoreng ikan nya, Mimi juga memasak nasi di magiccom. Mimi berencana masak sambal ikan dan sayur bening bayam buat sarapan pagi ini. Dengan cekatan Mimi telah memasak sayurnya dan tinggal menumis sambal.


Bagi Mimi makan tanpa sambal terasa hambar,maka dari itu sambal selalu ada di atas meja.


"Mi, aku bantu apa?" tanya Di'ah.


"Ckk mandi aja dulu sana. Semua tinggal cemplung beres." ucap Mimi.


Yah semalam sambil mengobrol dengan tukang Mimi membersihkan bayam dan kangkung sehingga kapan akan di masak tinggal di cuci saja.


kamar mandi hanya satu, Ryan yang tidak sabar menunggu Syahril dia mandi di luar yah di luar, setelah Syahril selesai mandi, giliran Di'ah yang masuk kedalam.


Untungnya Mimi tadi langsung membawakan Syahril pakaian ganti, baju kaos serta celana pendek.


"Dah masak dek." tanya Syahril.


"Emm dikit lagi kak, ini tunggu sambalnya tanak dulu." ucap Mimi, dengan memberikan secangkir kopi susu kepada Syahril.


"Kakak bersiap aja dulu." ucap Mimi.


"Nanti saja kah, tinggal pakai baju dinas saja." jawabnya sambil menyesap kopi susunya.


Mimi mengambil nasi dan meletakkan kedalam piring agar capat dingin dan meletakkan nya di depan Syahril. Tak lama Mimi juga menyajikan sayur serta sambal ikannya.


Syahril tanpa menunggu Ryan dan Di'ah langsung makan dengan lahap karena perutnya sudah terasa lapar.


"Lah mandi dimana kamu Yan?" tanya Syahril melihat Ryan masuk dari luar.


"Mandi di luar lah, nunggu dirimu lama." ucap Ryan dengan langsung duduk di Samling Syahril. Mimi memberikan secangkir kopi susu lada Ryan.


"Makasih dek." jawab Ryan.


"Sama-sama kak." jawab Mimi.


"Makanya kalau bangun itu subuh, ini bangun subuh lanjut terus." ucap Syahril.


"Ckk namanya barang enak Riil, besok kau pun macam itu." jawab Ryan, Syahril tak menjawab dia langsung melahap nasinya.


"Dak sholat kah kalian." ucap Syahril.


"Sholat lah.Kakian itu subuh-subuh tidak ada kelihatan. Ayok ngapain juga kalian dalam kamar." ucap Ryan.


"Kita buka kau Yan, kita subuh-subuh tuh cari bahan buat sarapan." ucap Syahril dengan menunjukkan sambal ikan pada Ryan.


"Kalian sudah lihat luka nya?" tanya Ryan.


"Emmm" jawab Syahril.


Di'ah yang sudah siap mandi dan handuk bergelung di kepala nya langsung melesat ke kamar. Tak lama Ryan pun mengikutinya.


"Awas jangan di ulangi lagi nanti kesiangan." seru Syahril. Mimi hanya tersenyum dan menggeleng.


Syahril telah selesai dengan sarapannya, Mimi membereskan piring kotornya dan sekalian mencuci nya bersaman mencuci peralatan masaknya tadi. Setelah itu dia menyusul Syahril kedalam kamar , Mimi mengambil handuknya karena sekarang giliran dia yang mandi.


Namun saat handuk telah di ambil dan Mimi akan keluar Syahril menarik tubuh Mimi.


"Kak, Mimi bekum mandi." ucap Mimi ketika Syahril memeluknya dari belakang.


"Nanti saja." jawabnya.


"Mimi bau kak, bau amis nanti lengket di banju kakak." ucap Mimi.


"Hmm, tinggal ganti." jawabnya dengan membalikkan tubuh Mimi. Syahril melihat wajah Mimi intens lalu secara perlahan dia mendekat ke sasaran nya.


Mimi tau apa yang akan Syahril lakukan m nikah ke arah lain namun lagi-lagi dicegah oleh Syahril, Syahril menangkup wajah Mimi dan dia mulai menyesap benda yang di sukai nya itu.


Yah benda yang sekarang merupakan peningkat daya imunnya di pagi, siang bahkan malam hari, yang selalu membuatnya ingin selalu mengecek manisnya apa lagi kalau bukan bibir Mimi.


"Kak emm.." Mimi gak bisa menolak jika Syahril telah menyapu habis bibirnya.


Setelah Syahril puas dan kadar oksigen menipis barulah tautan itu terlepas.


"Bibir adek bikin candu." ucapnya dengan mengelus bibir Mimi dengan jempol nya.


Cup Syahril mengecupnya sekali dua kali bahkan berkali-kali lagi.


"Dah sana mandi, bau ikan." ucap Syahril.


"Ckk dah kuas baru bilang bau ikan." cibir Mimi dan langsung keluar menuju kamar mandi.


Ryan dan Di'ah telah duduk di meja makan menyantap sarapannya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2