
Hujan deras yang sedang mengguyur bumi sumatra membuat laju mobilnya syahril pun sedikit terhambat di tambah dia mengendarai tepat ditengah malam.
Walaupun jiwa raganya sedang di kuasai emosi namun dia juga harus fokus dalam menyetir. Dia juga tak ingin gegabah, dia harus tetap fokus melajukan mobilnya dan tak terasa mereka sudah melintasi jembatan air duri.
Lengan, sepi dan sunyi yang tercipta di dalam mobil ini. Ryan berulang kali menghelakan nafasnya. Rasa capek dan lelah nya sedari pagi belum hilang sekarang harus melakukan perjalanan kembali namun tak tau kemana arah tujuannya.
Ryan hanya diam dan memperhatikan kemana Syahril akan membawa dan melajukan mobil ini. Jika pada malam hari hanya mobil-mobil besar yang sering lewat dengan kompoi ( bersama team mobil ) walau hujan deras menerpa serta celasan petir dari langit mengiringi lajunya mobil.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang karena jarak pandang yang rendah hingga lah mereka sampai ke Simpang perbatasan kota dan kabupaten. Syahril membelokkan mobilnya ke arah kanan.
Dengan membelokkan mobil ke arah kanan maka Ryan pun tahu kemana arah tujuan mereka yang kemungkinan besar kembali ke kota pedang. Ryan hanya menghelakan nafas nya kasar karena berarti mereka akan menempuh perjalan delapan jam bahkan lebih bila dengan keadaan hujan begini yang jarak pandangnya pun minim.
Syahril masih setia dengan diamnya walau dia tau orang yang menemani bahkan selalu menemaninya saat ini ingin mengajaknya bicara. Ryan selalu menoleh ke arah Syahril yang selalu memfokuskan pandangannya ke depan karena jika lengah sedikit maka tak tau apa yang akan terjadi.
"Kalau mau tidur, tidur saja." ucap Syahril kepada Ryan yang memang hari ini mereka kurang beristirahat.
"Biar aku yang bawa Riil." ucap Ryan.
"Ndak usah, aku masih kuat. Kamunkalau mau tidur, tidur saja." ucap Syahril dengan nada dingin sedingin nya malam ini yang mengguyur bumi Pertiwi.
Ryan hanya pasrah bila Syahril sudah berkeinginan maka tak ada yang bisa mencegahnya.
"Riil." panggil Ryan.
"Hemm." jawab Syahril.
"Apa kita akan pulang ke kota pedang?" tanya Ryan yang konyol.
"Menurut MU!! jawab Syahril.
Huuuum huh Ryan hanya menarik nafasnya. Ryan juga ikut sedih dengan keadaan Syahril, tak hanya hubungan Syahril yang akan berakhir namun hubungannya dengan Di'ah sahabat Mimi pasti akan berakhir pula begitulah pemikiran Ryan bila hubungan Syahril dipaksa berpisah.
Mereka kembali diam dan menciptakan suasana sunyi, hanya gemericik hujan yang terdengar dan suara wiper yang bergerak kiri kanan di kaca depan mobil untuk menghalau air hujan yang menghalangi jarak pandang.
Keran rasa lelah dan kantuk nya Ryan pun akhirnya memejamkan mata nya karena perjalanan mereka masih panjang masih 8-9 jam bahkan lebih.
"Emm Riil, aku tidur dulu ya? peningkatan pala aku kalau dipaksakan jaga." ucap Ryan pada Syahril karena dia tak taha. Dengan rasa kantuk yang menyerangnya saat ini.
"Iya." jawab Syahril.
"Kalau capek bangunkan aku, biar gantian." ucap Ryan.
"Hem" Jawab Syahril yang masih menatap jalanan.
Wiper terus bergerak menghapus air hujan yang menempel di kaca, hujan deras malam ini turun merata disetiap daerah. Entah sampai jam berapa ke mereka nanti di kota pedang.
Perlahan namun pasti kini perjalan mereka telah memakan waktu tujuh jam perjalan, namun untuk ke kota pedang masih sangat jauh, masih sekitar 5-6 jam lagi.
Pagi hari mereka masih berada di daerah Bungo, hujan masih setia mengguyur bumi. Ryan pun terbangun karena perutnya merasa lapar.
Ryan bangun dan melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam 7.30. Di lihat nya arah keluar hujan masih setia dengan lebatnya.
Langit seakan enggan menampakkan sinar mentarinya di hari ini seolah langit pun ikut bersedih akan kisah percintaan dua insan anak muda.
Kebanyakan pasangan berpisah karena salah satu pihak bahkan kedua belah pihak keluarga yang tidak merestui, namun kedua pasangan ini akankah berpisah karena sebuah perjanjian sang Kakek dengan sahabat.
"Riil, cari warung atau rumah makan yang sudah buka lah, lapar juga perutku." ucap Ryan.
"Emm." jawab Syahril.
Ryan menghelakan nafasnya melihat sikap Syahril yang kembali dingin. Ini belum pasti mereka berpisah apa lagi nanti jika itu benar adanya. Entah apa yang akan terjadi, apakah Syahril akaan menjadi lelaki yang dingin sedingin Antartika.
Waktu terus berlalu Syahril belum juga memberhentikan mobilnya sehingga membuat Ryan jengah.
"Riil, emosi boleh, marah boleh tapi perlu tenaga Riil emang kamu tidak lapar?" ucap Ryan.
__ADS_1
"Nanti saja kalau ketemu rumah makan." jawab Syahril yang emang sedari matanya selain fokus pada jalanan juga fokus mencari rumahnmakn yang sudah buka.
"Sini biar aku yang gantikan." ucap Ryan tapi tidak di gubris oleh Syahril.
"Riil." Ryan memanggil Syahril dengan sedikit tinggi suaranya.
"Kami duduk saja, jangan ganggu aku." ucap Syahril.
"Kami juga butuh istirahat Riil, jangan keras kepala. Kesehatan jua perlu di jaga." ucap Ryan !mencoba menasehati Syahril namun Syahril tidak ingin mendengarkan nasehat apapun saat ini.
"Riil." panggil Ryan.
"Aku sudah bilang, jangan ganggu aku. NGERTI tidak hah!!" ucap Syahril dengan nada tinggi pula dan membentak Ryan serta menekankan kata ngerti.
"Aku cuma mengingatkan kamu Riil, lihatlah sekarang sudah jam berapa? kita seharian kemarin tidak ada istirahatkan badan bahkan mata. Kami akan robot Riil, kamu butuh istirahat." ucap Ryan yang sedikit tersulut emosi juga.
"Ayolah Riil, sini biar aku gantikan. kamu tidur saja. Jangan membuat Umma khawatir jika kita terjadi sesuatu di jalan." ucap Ryan.
"Hheh," ucap Syahril dengan menyeringai serta gigi yang dirapatkannya.
"Riil" panggil Ryan yang tak menyerah untuk menyuruh Syahril istirahat.
"Jangan ganggu aku Ryaaaan, kalau kau mau istirahat istirahat saja sendiri. Jangan pedulikan aku, mau mati sekalipun apa peduli MU aaaachh tiiiiiittttt." ucap Syahril yang sudah emosi dengan Ryan uang selalu mengusiknya dengan menghentakkan tangannya di setir sehingga klakson mobil pun berbunyi.
"Siapa yang peduli kata kau... Kau boleh tidak peduli dengan dirimu, tapi ingat Riil. Ingat Umma, ingat Babah, ingat emak dan bapak yang baru kau punya izin untuk anaknya, ingat Mimi yang mungkin saat ini menunggumu, ingat itu semua. Apa kau tidak peduli sama mereka hah!!." ucap Ryan yang juga ikut meninggikan suaranya.
"Kau harus segera Riil, kau harus segera menikahi Mimi hanya itu solusi buat kau. Apa kau tidak lihat bagaimana Umma menangis sebelum kau pergi meninggalkannya. Ingat Umma Riil, ingat dia orang yang telah melahirkan kau, ingat dia bagaimana dia memperjuangkan hubungan kau dengan Mimi." ucap Ryan yang sedikit mengecilkan pita suaranya.
"Itu didepan sana ada warung sarapan, kita berhenti disana." ucap Ryan dengan menunjuk ke arah depan yang mana di persimpangan itu ada warung makan basuo.
Syahril pun akhirnya menuruti Ryan mereka pun berhenti di warung itu, yah waeingbini sudah masuk kawasan sumatra barat namun untuk ke kota Padang masih butuh waktu 4jam lebih.
Mereka pun sarapan dengan nasi soto dan minum kopi daun yang disediakan oleh pihak warung makan basuo ini.
Mereka beristirahat hingga kurang lebih satu jam karena hujan tidak juga berhenti. Mereka melanjutkan perjalan mereka kali ini Ryan yang mengemudi.
Sitinjau LauikĀ adalah sebuah lintasan jalan di Sumatera Barat. Lintasan tersebut merupakan salah satu dari 4 jalur ekstrim di Sumatera. Lintasan jalan itu berupa belokan tajam yang dibarengi dengan tanjakan yang cukup tinggi.
Sitinjau Lauik berada di Jalan Lintas Sumatera dengan rute Kota Padang-Arosuka-Solok dan panjang jalurnya kurang lebih sejauh 15 kilometer.
Sitinjau Lauik termasuk kedalam salah satu rute nasional yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan sejumlah Provinsi lainnya di Indonesia. Sehingga jalurnya selalu padat dipenuhi kendaraan setiap harinya.
Jalur Sitinjau Lauik masih diselimuti hutan dengan pepohonan yang rindang sehingga udara disekitarnya menjadi sejuk, pemandangannya pun menyimpan keindahan yang luar biasa. Jadi, bisa sedikit meringankan ketegangan ya.
Karena jalur Sitinjau Lauik berada diantara pepohonan dan bahkan ada aliran sungai di pinggir jalannnya meskipun kecil namun cukup deras apalagi kalau sedang musim hujan, maka terdapat belasan titik yang berpotensi longsor terutama ketika curah hujan tinggi. Jadi untuk kamu yang melewati jalur ini saat musim hujan mesti waspada tingkat tinggi.
Jalur Sitinjau Lauik memiliki tikungan tajam yang kemudian disambut dengan tanjakan tinggi, ini merupakan jalur yang paling menakutkan bagi setiap pengendara yang melintas. Sitinjau Lauik dihiasi jurang dengan kedalaman puluhan meter. Itulah sebabnya mengapa Sitinjau Lauik disebut rute maut dan paling ekstrim di Sumatera Barat karena banyak kecelakaan yang sudah terjadi.
Sitinjau Lauik memiliki dua jalur, apabila ada truk atau kendaraan besar yang akan lewat maka kendaraan lainnya dari arah berlawanan harus menahan diri dan memberikan ruang bagi truk atau kendaraan besar yang akan melintas.
Saat Ryan akan memulai mengadu adrenalin nya dia mulai meningkatkan kewaspadaan diri salah sedikit nyawa taruhannya.
Beruntungnya jalur ini ada petugas yang mengatur jalannya lalu lintas untuk berhati-hati, jika hatinhujan begini maka laju mobil di jalanan ini akan melambat seperti jalan semut.
Ryan selalunmenyipakna beberapa lembar uang yang akan diberikan pada pemuda-pemuda yang berinisiatif menugaskan dirinya mengatur lajjnha mobil di tikungan tajam ini.
untuk menempuh jalanan bertikung ini bisa memakan waktu lebih satu jam bahkan lebih bila dala keadaan hujan dan ramainya kendaraan berlintas.
Akhirnya mereka pun sampai di rjmahbmerak setelah beberapa jam. Saat sampai rumah Mak Imah dan ajo Qadir heran melihat Syahril dan Ryan kembali laginke kota pedang.
"Mak, siapkan makan siang ya Mak." ucap Ryan kepada Mak Imah karena memang waktunya makan siang lebih tepatnya lewat waktu makkan siang karena mereka sampai di rumah telah jam dua lewat.
"Hah iyo yo. Tunggu banta nak yo." ucap Mak Ijah yang langsung pergi meninggalkan Syahri dan Ryan menuju dapur.
Syahril dan Ryan langsung duduk di ruang keluarga, Ryan langsung merebahkan diri nya di atas ambal berbulu. Direntangkan nya kedua tangan serta kaki nya untuk merilekskan tubuh yang terasa lelah.
__ADS_1
Syahril pun langsung merebahkan diri tak jauh dari Ryan, tampak dia menutup matanya dan di katup lagi dengan sat tangan yang bersilang di wajahnya dan menutupi kedua matanya.
"Riil, bagaimana langkah selanjutnya?" tanya Ryan.
"Hemm aku takntau Yan, yang jelas aku segera mengajak Mimi nikah dan segera pergi dari negara ini." jawab Syahril dengan masih menutup matanya dengan lengan tangannya.
"Iya Riil, kalau perlu secepatnya. Japan kau teuin Mimi?" tanya Ryan.
"Besok atau lusa aku ke Semarang." jawab Syahril.
"Emm, bagus juga. Emm gali Riil.. Apa Mimk setuju ya? soalnya kau tau sendiri Mimi apalagi dia dalam bulan ini akan ujian." ucap Ryan yang ada rasa keraguan.
"aemm itu yang aku pikirkan sekarang. Ynag jelaa aku harus segera menikah dengan Mimi, mungkin aku akan menunggu ujian nya selesai dulu, kalau tidak kami akan menikah sebelum dia ujian. Nantinakjnakan kasih tau Abi Arsyad untuk mempersiapkan nya." ucap syahril dengan rencananya.
"Emm bagus juga Riil, lebih baik kalian nikah di Semarang saja sebelum Mimi ujian ini, nah setelah ujian Mimk selesai barulah kalian mengadakan resepsi di desa Mimi. Masalah orang tua Mimk nanti biar aku yang jemput." u AP Ryan yang menyetujui perencanaan Syahril.
"Hemm.." jawab Syahril.
"Riil, Yan, makanan ala siap, ayo makan dulu." ucap amaak Imah.
"Iyo Mak," jawab Ryan dan mereka berdua pun makan siang, rasa lapar yang sudah menyerang sedari tadi membuat hidangan di meja makan habis tak tersisa.
Setelah itu mereka berdua pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan segera menunaikan sholat Dzuhur serta mengqada shilatnsubjh mereka yang terlewati tadi.
Sehabis sholat Dzuhur mereka berdua beristirahat sebentar menjelang ashar, ashar tiba mereka pun melaksanakannya dan setelah itu kembali beristirahat itu berlaalumpada Ryan bukan Syahril.
Syahril tak dapat memejamkan matanya walau ada rasa lelah pada dirinya. Ucapan serta kejadian semalam seakan berputar ulang di ingatannya.
Kesal, marah dan geram it u yang dirasakan Syahril saat ini.
"Hheh, cucu kesayangan, kesayangan apa maksudnya? cucu kesayangan yang dijadikan poin" gumam Syahril ketika mengingat apa yang di bilang sang kakek bahwa dirinya adalah cucu kesayangan nya.
"Berani dia mengusik hidupku kelak semakin akuntqkmjngin untuk bertemu dengan nya lagi." gumam Syahril dengan geram, gigi da n bibir yang dirapatkan dan tangan ynag di gepal erat.
"Ya Allah bangun hamba, lancarkan rencana hamba, bangu hamba bukakan pintu hati Mimi Mimi untuk menerima segala rencana hamba.." gumam Syahril.
Saat dia berperang dengan hati dan pikirannya suara adzan terdengar sangat merdu diapun beranjak untuk sholat Maghrib, begitu pula dengan Ryan diapun bangun saatmmendengar suara adzan.
Sehabis sholat mereka malam bersama amak Imah dan yang lainnya. Amak Imah terus memperhatikan Syahril seperti menopang beban yang sangat berat, namun dia belum berani untuk bertanya.
Sehabis makan malam Syahril dan Ryan kembali mengobrol sebentar sambil menunggu Adan Isya.
"Kau belum juga tidur Riil?" tanya Ryan pada Syahril ketika melihat mata Syahril penuh rasa lelah.
"Ndak bisa." jawabnya.
"Kenapa?'' tanya Ryan
"Entah.'' jawab Syahril.
"Lebih baik paksakan buat istirahat Riil kasian badan kalau dipaksakan." ucap Ryan
"Hemm." jawab Syahril.
"Emm yaudah, sudah adzan Isya, kita sholat setelah itu istirahatlah." ajak Ryan yang sudah beranjak dan menepuk bahu Syahril.
"Iya," jawab Syahril dannikjt beranjak menuju kamarnya.
Syahril pun segera melaksanakan sholat isya, sehabis sholat dan berdoa pada sang pencipta diapun merebahkan diri di atas ranjang nya.
Di tatapnya langit-langit kamarnya dan berulang kali dia menghelakan nafasnya, lelah itu yang dirasakan nya, nganguk itu pasti tapi apa daya yang ada matanya semakin capek jika dipaksakan.
Diapun keluar menuju kamar Ryan, namun saat membuka kamar disamping yang ditempati Ryan, terlihat Ryan sudah tertidur pulas, Syahril pun menghelakan nafasnya dan !menutup kembali pintu kamar dan kembali ke kamarnya.
Direbahkannya kembali tubuhnya dan dipaksakan matanya untuk terpejam tapi lagi-lagi matanya tak mau terpejam. Diapun duduk di ranjangnya dan menutup matanya sejenak dan akhirnya diapun keluar kamar.
__ADS_1
Dilihat rumah sudah sepi karena hari me!anh sudah jam sepuluh malam, kemungkinan besar semua sudah tertidur. Syahril bingung apa yang harus dia lakukan hingga diapun kepikirannuntuk keluar rumah saja mencari angin.
tbc