
Hari ini adalah hari Minggu maka terakhir pula mereka liburan dirumah Simbah. Mereka disibukkan dengan aktifitas mereka seperti biasanya.
Abi dan Simbah lanang masih mencari lahan sawah yang akan di jual sama pemiliknya. Para keempat cowok seperti biasa akan membolang kali ini mereka akan membolang ke kali yang sedikit jauh berada dekat kaki gunung.
Sedangkan para ladies tetap dirumah kecuali mbak Aish, Irma dan Muthia yang tidak akan menyiakan waktu liburan mereka. Mereka bertiga memanfaatkan waktu liburan dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu mereka pun ikut membolang.
Selfia dan Mimi sudah di ajak sama mereka namun Mimk dan Selfia menolak nya. Mimk dan Selfia menolak karena ada alasan tersendiri.
Saridi yang melihat Selfia masih enggan untuk ikut hanya pasrah saja, lagi-lagi dia akan bersepeda sendirian.
Hati Saridi yang telah terporak poranda dengan sikap Selfia membuat dirinya kurang bersemangat untuk menopang hari ini.
Sepergian mereka, Mimi, Selfia, Simbah dan Umma memuliakan aksi mereka dengan membersihkan rumah. Simbah juga telah memarut dan merebus ubi kayu yang akan di buatnya cenil dan getuk lindri dengan di bantu Ummi.
Selfia dan Mimi kebagian menyapu dan bersih-bersih rumah. Setelah semua nya beres Mimk dan Fia seperti biasa tak jauh dari ponselnya.
Mimi menelpon emaknya dengan video call, emak juga berbincang-bincang bersama Simbah dan Ummi dengan Mimi yang memegang serta mengarahkan ponselnya ke arah Simbah dan Ummi.
Selfia pun sama dia sedang video call bersama Saiful. Selfia sebenarnya juga tidak tahu dengan hatinya, di hatinya masih ada nama Saridi namun dia juga nyaman dengan Saiful.
Selfia berusaha membuka hatinya buat orang lain, namun jika selalu berdekatan dengan Saridi jantungnya masih berdetak dengan kencang.
Dia menghindar dan mengacuhkan kan Saridi bukan tidak ada maksud. Selfia ingin Saridi yang berusaha mengejar dirinya jika Saridi ada hati untuknya.
Namun sampai kini, sudah hampir empat bulan pasca tragedi kecelakaan itu Selfia malah merasa emang dirinya tidak ada di hati Saridi.
Para bolang yang bukan anak-anak ataupun remaja lagi teelah sampai pada tujuan.
"Wawww indahnya.." ucap Muthia melihat hamparan tanaman padi yang menghijau dibawah kaki gunung.
"Gila jam segini masih ditutupi kabut hamparan padinya." ucap Irma dengan melihat ke arlojinya yang telah!menunjukkan pukul sembilan.
Ya mereka sengaja mpberangkat pagi-pagi untuk melihat pemandangan di daerah ini. Mereka pergi kesini juga akarwna rekomendasi mas-mas dan bapak-bapak yang sama-sama memancing dengan mereka di kali dekat rumah Simbah kemarin.
Dengan pemandangan nan indah, hamparan persawahan yang masih di tutup kabut mereka pun mulai beraksi dengan jepretan camera ponsel masing-masing.
Saridi juga ikut menikmati dan tidaknmeewagkan moemn ini bersama sahabatnya.
"Beuh sayangnya Mimi dan Fia nggak ikut, jadi kurang formasi kita" ucap Muthia.
"Iya, entah kenapa mereka berdua nggak mau diajak." sahut Irma.
"Kalau Mimi aku nggak heran lagi Ir, mimimkan emang kurang suka dengan jalan-jalan. Mimi itu kalau di ajak adin mengadon pasti cepat. Yang aku heran itu Selfia yang mendadak nggak hobi jalan-jalan." jawab Muthia.
"Emang Fia hobi jalan-jalan?" tanya mbak Aish.
"Dia mah ratunya mbak, biasanya kalau kita baru membuat planning dia udah nggak sabaran buat menunggu hari h nya." ucap Irma.
"Terus kenapa sekarang dia seperti itu?" tanya mbak Aish yang masih mengarahkan ponselnya ke arah dirinya sendiri.
"Nah itu dia mbak, kita nggak ngerti. Sekarang dia kurang suka jalan-jalan sendiri semenjak pertama kali kita ngampus." jawab Muthia.
"Oo mungkin waktunitu dia yang sangat terpukul dan berduka atas kecelakaan itu kali, apa lagi kan yang menjadi korban sahabat kalian Mimi." ucap mbak Aish
"Mungkin aja mbak, tapi aku rasa nggak hanya itu mbak" sahut Irma.
"Terus apa?" tanya mbak Aish.
"Emm mungkin karena sikap dia tuh" ucap Irma dengan menunjuk ke arah Saridi yang sedang mengambil foto persawahan itu dengan dagunya, mabk Aish ohn melihat ke arah yang di tunjuk oleh Irma.
"Emang kenapa dengan dia? bukannya Selfia pacarnya Saridi?" tanya mbak Aish.
"Hmmm mereka nggak berpacaran mbak," ucap Irma dengan menarik nafas panjangnya.
"Hmm kog bisa? mbak liatndulu Fia selalu dekat dengan Saridi." ucap Mbak Aish.
"Iya dulu mbak, Fia itu menyukai Saridi bahkan dia rela merendahkan dirinya untuk mengejar dan mendapatkan cinta nya Saridi, namun Saridi hanya menganggap dia sahabat dan adik seperti kami-kami kecuali Mimi." ucap Muthia.
"Kecuali Mimi? jangan bilang kalau dia menyukai Mimi?" ucap !bak aosh dengan menebak.
"Hmm bener mbak, Saridi menyukai Mimi sedari SMP. Dia dan Mimi sudah saling mengenal sedari SMP." sahut Irma.
"Kok bisa!" ucap mbak Aish.
"Ya bisa lah mbak, karena mereka berdua merupakan sahabat pena sedari SMP. Mereka berdua sudah mengikuti bimbel sedari SMP dan nggak taunya sahabat Lena berlanjut sampe SMA dan sampai saat ini."
__ADS_1
"Emm kata Mimi sewaktu SMP Saridi sudah pernah menembak dirinya dan mengajak berpacaran jarak jauh. Mimi yang emang hidupnya nggak banyak bicara dia tidak pernah menjawab iya. Mimi hanya menjawab lebih baik kita berteman saja, karena menurut pendapat Mimi kalau bersahabat mereka bisa sampai kapanpun, kalau mereak berpacaran jika ada masalah sedikit dan putus maka hubungan tidak akan baik-baik." jelas Muthia.
"Oh gitu, apa Saridi masih mengharapkan Mimi?" tanya mbak Aish.
"Sepertinya gitu mbak, apalagi di tambah saat ini Mimi sudah tidak bersama kak Syahril. Huuum huh, mungkin dibagi Saridi hanya ada Mimi tapi dia belum mengerti siapa Mimi" ucap Muthia.
"Mbak gai sendirikan bagaimana Mimi, dia lebih memegang kata hatinya, Mimi kan mau merusak persahabatan nya hanya karena dirinya. Mimi tidak ingin persahabatan ini terpecah belah hanya memperebutkan dirinya." imbuh Muthia.
"Memperebutkan? apa masih ada juga di antara kalian yang menyukai Mimi?" tanya mbak Aish.
"Iya mbak, Dimas juga menyukai Mimi. Dimas menyukai Mimi juga sedari mereka memulai sahabat penaan. Mimi sudah mengetahui itu dan Mimi juga sudah membicarakan kepada mereka berdua kalau Mimi hanya menganggap mereka berdua adalah sahabat tak lebih.
" Ya namanya merek sudahbkudu cinta sama Mimi, mungkin sulit bila mereka hanya menerima Mimi sebagai sahabat. Dulu mereka masih menahan karena masih ada kak Syahril, tapi kini siapa yang tau. " ucap Muthia.
"Hmm gitu ya. Ya wajar saja jika Selfia bersikap seperti itu, mungkin Selfia sudah berada dititik jenuhnya. Ada kalanya kita sebagai wanita ingin diperhatikan sekecil apapun, namun adakalanya kita juga berada dititik terjenuh bila apa yang kita lakukan tidak di balas dan dbahakn diabaikan."
"Jadi ya mundur merupakan salah satu solusinya. Capek kalau hanya kita saja yang mengejar dan berharap namun orang yang kita kejar dan harap mengabaikan kita." ucap mbak Aish.
"Iya juga ya mbak." ucap Muthia dan Irma.
"Hmm, ngomong-ngomong Tia siapa cowoknya?" Dimas?" tanya mbak Aish.
"Aisss mbak ini, kan udah di bilang kalau di hati Dimas itu hanya Mimi. Nggak mau Tia seperti Fia mengejar orang yang tak menyukai kita." ucap Muthia.
"Terus cowok tipe Tia seperti siapa?" tanya mbak Aish, Irma pun menunggu jawaban karena dia juga penasaran kepada myputhia yang awer menjomblo setelah di tinggal nikah cowoknya.
"Huum huh Tia itu nggak muluk-muluk mbak, Tia itu pengen cowok seperti kak Syahril yang peduli dan sayang sama pasangan, tak hanya sama pasangan tetapi dengan keluarga pasangan dia juga sayang."
"Kalau ganteng dan kaya itu bonus yang sangat di harapkan heheee, kayak kak Ryan juga masuk dalam kategori Tia hehehe." jawab Muthia.
"Jadi kamu suka sama Ryan?" tanya mbak Aish.
"Semua cewek melihat dia dan kak Syahril pasti suka lah mbak. Dibalik wajah dingin mereka, mereka merupakan sosok calon Imam idaman." ucap Muthia.
"Hemm kalau gitu nanti mbak kasih tau sama Ryan kalau kamu menyukai nya." ucap !bak Aish.
"Ih jangan mbak, kak Ryan itu kan cinta mati sama Di'ah. Kelihatan dari tatapan dia sama Di'ah." ucap Muthia.
"Hmm dia memang mencintai Di'ah sahabat Mimi, tetapi semenjak Syahril menikahi orang lain semenjak itu juga mereak putus." ucap mbak Aish.
"Hah kok bisa" ucap Muthia sampe melongo.
"Iya juga sih, apalagi kak Ryan adalah sepupu kak Syahril. Kalau Di'ah beratu terus menikah tentunya hari-hari mereka akan bertemu dengan kak Syahril."
"Dan pastinya kak Syahril yang melihat kebahagian mereka berdua pasti ada rasa sakit dan sedih dihatinya." ucap Muthia.
"abetul juga tuh Muth, ditambah Di'ah kan temen Mimi sedari kecil bahkan mereka tetanggaan. Bila Di'ah dan Ryan pulang kerumah orang tua Di'ah dan ada miminouoa dirumah Nyai otomatis mimipun akan ikut bersedih kak melihat mereka berdua." tambah Irma.
"Iya Ir, semoga saja Allah masih memberikan lelaki sebaik kak Syahril pada Mimi." ucap Muthia.
"Amin ya rabbal alamin." jawab mereka bertiga.
"Kalau aku malah berharap Allah !mempersatukan mereka kembali." ucap irma
"Sama mbak juga berharap begitu, apa lagi mbak lihat dan mendengar cerita dari Ryan kalau Syahril hidup bagaikan tanpa tujuan." ucap mbak Aish.
"Oh ya mbak, kak Syahril sama istrinya gimana?" tanya Muthia yang kepo.
"Aya begitu aja, mereka kisah ranjang hehe" jaqba mbak Aish.
"Kisah ranjang?? Kenapa?" tanya Irma dan Muthia.
"Yah karena Syahril di LA dan istrinya pulang ke Kairo karena dia masih kuliah satu angkatan lah sama kalian." jawab mbak Aish.
"Oo" ucap Irma dan Muthia.
"Kasian ya kak Syahril, seharusnya menikah itu enak-enak an di manja dan di urus segala sesuatunya sama istri eh ini malah beda alur." ucap Muthia prihatin
"Iya juga ya Muth, huh sungguh malang nasib kak Syahril berpisah dengan orang yang sangat dicintai dan menikah sama orang yang tidak peduli dengan dirinya." tambah Irma.
"Sudah-sudah nggak usah omongin orang, mending kita ke sana." ucap Irsyad yang mengganggu obrolan ketiga gadis itu.
Tanpa mereka bertiga sadari keemlat cowok tersebut mendengarkan obrolan mereka sekitar Mimi dan Syahril.
Ada rasa sesak di hati Dimas maupun Saridi ketika mendengar kisah Mimi, sesungguhnya mereka tau kalau dinhagi Mimi hanya ada Syahril namun mereka berdua berukaya untuk mengganti nama tersebut dengan nama mereka. Tapi hingga kini mereka berdua seakan tidak memiliki kesempatan untuk mengubah nama di hati Mimi.
__ADS_1
Siang hari mereka baru pulang kerumah Simbah, sesampainya di rumah mereka melihat Mimk dan Selfia sedang menyiapkan makkan siang karena Simbah Lanang serta Abi juga sudah berada dirumah.
Ummi,p dan Simbah Marni duduk bersama dengan para suami mereka.
"Jadi gimana Bi dapat tadi?" tanya Ummi.
"Alhamdulillah dapat Umm, talinkita belum ketemu dengan pemiliknya karena lagi ke kota." jawab Abi.
"Terus gimana dong?" tanya Ummi
"Ya nanti Abi sama bapak mau kesana lagi sehabis dzuhuran lah. Lumayan juga Mi tanah yang mau di jualnya." hpjawab Abi.
"Oo gitu, emang berapa hektar?" tanya Ummi.
"Lumayan Mi ada 6 atau 7 hektar gitu." jawab Abi.
"Waw banyak juga tuh Bi, kok di jual swmua Bi ala nggak sayang tuh." ucap Ummi.
"Yah mereka terpaksa UMM buat bayar hutang judi anaknya dan hutang bank yang dilakukan anaknya. Abi swbea enya kaaiannsama tuh bapak punya anak cowok semua tapi kelakuannya nggak ada yang menyenangkan hati orang tua nya. Untungnya yang bungsu yang nggak banyak neko-neko gali ya yang bungsu juga memerlukan biaya kuliahnya." terang Abi.
"Hmm kasian juga ya Bi, apa lagi nanti kalau uang hasil penjualan itu hanya habis buat bayar hutang anak-anak tertuanya saja. Semkga anak-anak kita dijauhkan dari sifat itu." ucap Ummi.
"Amin ya rabbal alamin" jawab Abi.
"Sebenarnya itu juga salah qadirnya sendiri yang nggak bisa Didik anaknya." ucap Simbah Marni.
"Kok gitu Bu?" tanya Simbah Lanang.
"Ya gitu pak, masa bapak nggak tau gimana perlakuan Qadir selama ini." ucap simabha Marni.
"Emang kenapa Bu?" tanya Abi.
"Iya gitu Qadir saat jaya-jayanya sombong sama warga yah karena dia merasa hanyandua yangblunya sawah banyak. Anak-anak nya berbuat salah selalu di bela nya, anaknya hampir buat anak orang mati pun selalu di bela dan menyalahkan anak warga yang buat ulah, yah akhirnya gini." ucap Simbah.
"Kok sampe segitunya Bu ampe membuat anak warga hampir mati?" tanya Ummi.
"Ya gitu ndok, anaknya Qadir itu berhutang sama anak warga sebelah tapi nggak pernah ada niatan buat bayar. Dan katanya sih mereka berhutang bukan dikit, bukan jugabsejjta dua juga tapi puluhan karena anaknya ngobat. Jadi si anak warga ipdesa sebelah datengi tuh anak Qadir eh anak Qadir malah ngamuk dan membabi buta mukulin anak warga desa sebelah."
"Orangtua si anak desa sebelah ngbaknterima anaknya di buat begitu dan melaporkan anak Qadir eh malah anak Qadir nudjb kalau anak orang desa sebelah itu pengedar padahal apa yang dituduhkan nggak benar. Justru dirinya yang pemake dan pengedar. Dia berhutang ke anak desa sebelah itu buat nutupin uang barang yang dia pakek." terang Simbah.
"Terus gima itu Bu?" tanya Abi yang juga penasaran.
"Pihak korban ya nggak terima dan meminta polisi mengusut nya dari segi tes apa itu anak dari desa sebelah bersih bahkan teman-temannya anak desa sebelah itu juga bersih. Nak Qadir di tes malah positif, dia berhutang karena anak desa sebelah ini adalah teman sekolahnya. Makanya sekarang Qadir menjual tanahnya buat bayar-bayar hutang itu." ucap Simbah.
"Ummi, Abi, Mbah." ayo makan dulu nanti dilanjutkan " ajak Mimi.
"Dajph siap ndok.'' tanya Simbah Lanang.
" Udah mbah." jawab Mimi.
"O yowes ayok kita makam dulu." ajak Simbah lanang pada semua dan mereka pun makan bersama.
Selesai makan mereka para lelaki mulai menyiapkan diri untuk pergi ke mushollah karena adzan Dzuhur sudah berkumandang.
Para tiga ledies yang sudah pergi jalan-jalan mendapat giliran mencuci piring dan membersihkan meja. Mimk dan Selfia kembali bersantai ria.
Setelah semua beres oar ladies muda dan awet mudanya duduk santai di depan tepatnya di bawah pohon kelapa, bahakan mbaknaosh, Muthia dan Irma membawa banyak. Mereka bertiga rebahan di sana. Yah disini Simbah membuat tempat duduk untuk bersantai dengan model amben gitu.
Sepulang sholat Abi dan Mbah Lanang akan kembali mendatangi rumah pemilik sawah tadi yaitu pak Qadir. Sedangkan para cowok juga ikut duduk santai dan rebahan di bagian tempat lainnya.
Mimi yang kebelet masuk kedalam rumah, tak lama Dimas pun ikut maauk, Dimas beralasan dengan yang lain kalau dia sakit perut.
Mimi yang telah selesai buang air kecil kembali mendekat ke arah meja untuk mengambil minum. Saat Mimi mengambil air minum, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
deg
Mimk kaget dengan lekukan tiba-tiba itu, Mimi membalikkan badan nya dan melihat jika itu adalah Dimas.
"Dim, apa yang kamu lakukan?" tanya Mimi
"Mi, plis biarkan aku beginj sebentar saja." jawab nya.
"Dim lepass" ucap Mimi tali Dimas tidak melepaskan pelukannya, di balik pintu Saridi melihat semua itu, Saridi diam mematung melihat Mimk dikeluk oleh Dimas.
Selfia berlari kembali ke arah yang lain diluar, tak lama Muthia yang masuk kedalam. Muthia berjalan perlahan. melihat ada apa karena Muthia melihat Saridi hanya diam di tengah jalan menuju dapur.
__ADS_1
Muthia melihat kemana mata Saridi tuju, Muthia hanya menggeleng setelah dia paham apa yang terjadi dwngan melihat apa yang ada didepan matanya.
tbc