
Hari terus berganti, hubungan Mimi dan Dillah pun semakin harmonis. Tak jarang Dillah melewatkan waktu nya untuk sekedar sarapan atau makan Jang dan malam di kosan Mimi.
Akhir-akhir ini pun Dillah selalu makan di kosan Mimi, bahkan Mimk seolah menjadi seorang istri baginya.
Dillah selalu memberikan uang bulanan buat Mimi, tak hanya uang bulanan melainkan dia juga memberikan uang belanja buat Mimi.
Mimi selalu menolak pemberian Dillah, namun penolakan Mimi disalahartikan oleh Dillah.
"Kenapa kamu tidak mau menerimanya dek?" ucap Dillah kala dia memberikan uang bulanan oljs uang belanja buat Mimi.
"Kang, ini semua tidak perlu kang. Kalau buat makan, Mimi sudah ada pendapatan dari kue, kalau balunan tiap bulan Mimk sudah dapat kiriman dari orang tua." jawab Mimi.
"Dek, kalau itu lain dek. ini khusus dari aku buat kamu." ucapnya.
"Nggak perlu kang, Mimi nggak mau merepotkan orang." jawab Mimi.
"Apa kamu mnganggapku orang lain dek? sama mantanmu kamu menerimanya. Kenapa sama aku tidak dek. Apa emang aku tidak ada di hati kamu." ucap nya.
Mimi terdiam saat Dillah mengatakan hal itu, Mimi tidak tau harus bagaiamana lagi menjelaskannya.
"Kenapa diam?" tanya Dillah dengan raut wajah kecewa, Mimi tegap diam karena masih bingung untuk memberikan penjelasan lada Dillah.
"Yaudah kalau emang aku tidak ada artinya di hati kamu, maaf." ucapnya seraya beranjak berdiri dan hendak pergi dari kosan Mimi.
Selfia, Irma, Muthia serta Satria ikut terdiam karena melihat Mimi hanya diam saat Dillah beranjak berdiri.
"Mi." panggil Muthia. Mimi hanya melihat ke arah Muthia dengan helaan nafas.
"Jika akang tidak ada arti di hati Mimi, tidak mungkin Mimi menerima akang hingga hampir satu tahun kita jalani hubungan ini." ucap Mimi dan Dillah pun berhenti melangkahkan kakinya tepat dekat dengan pintu.
"Kenapa Mimi tidak mau terima, karena Mimi tidak ingin merepotkan atau menanam Budi terlalu dalam."
"Mimi tidak mau nantinya akan ada kesalahpahaman bila Allah tidak membuka jodoh pada kita."
"Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan."
"Jujur sedari SMA Mimi juga telah diberi bulanan sama kak Syahril bahkan hingga akhir dari hubungan kami."
"Akang mau tau bagaimana rasa hati ini bila tidak dipersatukan?"
"Semua kenangan dia ada di kosan ini, dan asal akang tau semua uang bulanan yang dia berikan tidak sedikit pun Mimi pergunakan semua masih utuh."
"Mimi tidak mau dicap cewek matre, selagi Mimi mampu mengerjakan sesuatu yang bisa menghasilkan uang maka akan Mimi kerjakan."
"Mimi tidak mau menerima dari ajang bukan berarti akang tidak memiliki arti di hati Mimi."
"Mimi cuma tidak ingin dimanjakan dengan materi kang, sebisa mungkin Mimi akan menjaga hal itu jangan sampe nanti dikemudian hari ada hal yang gak diinginkan terjadi."
"Terimakasih, kalau akang ingin memberi Mimi uang. Kalau bisa jangan beri Mimi uang bulanan."
"Jika akang ingin memberi uang belanja seperti yang akaang katakaan, lebih baik akang langsung beli kebutuhan pokoknya aja atau kita pergi bersama-sama ke pasar."
"Maaf, Mimi tidak mau menerima uang dari siapapun yang belum sah menjadi mahram Mimi. Mimi takut termakan Budi nantinya. Maaf." ucap Mimi.
Dillah mendengar semua ucapan Mimi, dia pun berbalik dan mendekati Mimi.
Siapapun pasti senang bila di penuhi kebutuhan, di penuhi materi tiap bulannya. Tapi di balik semua itu pasti kita juga harus memberikan hal yang setimpal.
Cukup lah Mimk merasakan bagaimana kebaikan Syahril dan keluarganya terhadap dirinya dan keluarganya. Mimi bahkan berjanji akan membayarnya dengan menjaga diri, menjaga hati dan mata nya hanya untuk Syahril namun akhirnya tak bisa dia bayar.
Mimi tidak ingin lagi mencintai seseorang terlalu dalam, sangat sakit saat kita sedang meraih merajut asa namun patah di tengah jalan.
"Maafkan Aku dek, tapi jujur aku ingin memberikan semua ini hanya sebagai rasa terimakasih ku padamu dek."
"Aku sangat berterima kasih pada Allah yang memberikan mu disiiku."
"Bahkan aku selalu berdoa agar kita berdua dipersatukan hingga Jannah nya."
"Aku tidak bermaksud apa-apa," ucap Dillah.
"Jika akang mau memberi uang belanja, mending akang langsung belakangan saja bahan apa yang akang kepingin dimasakin. Insya Allah nanti Mimi masakin." ucap Mimi.
Mimk merasa enggan dengan pemberian Dillah, apa lagi hingga saat ini Mimi belum pernah bertemu dengan kedua orang tua nya. Mimi tidak ingin jika Dillah selalu memberikannya uang tiap bulannya nanti setelah diketahui orangtuanya maka orangtuanya Dillah akan berpikiran negatif padanya.
Semenjak saat itu, tiap hari Minggu Mimi dan Dillah selalu pergi kepasar untuk berbelanja dan bertemu sama simbah. Terkadang Mimi jika tidak ada kesibukan setiap satu Minggu Mimi menginap di rumah Simbah.
Mimi telah mengajukan permohonan untuk ikut serta ujian akhir dan ternyata permohonan nya pun di ACC sama rektor karena dilihat dari segi nilai Mimi bisa mengikuti ujian akhirnya.
Yah Mimi ingin mempercepat masa kuliahnya lebih cepat setengah tahun.
Menjelang hari ujian akhir tiba, Mimi menyibukkan diri untuk belajar karena ada dua semester yang harus Mimi taklukan.
Dillah dengan sabarnya juga ikut membantu Mimi belajar, semua sahabat Mimi juga ikut !mengajukan permohonan dan mereka juga di ACC.
Saat ujian tiba, Mimi tidak membuat atau menerima orderan kue untuk sementara waktu karena dia ingin memfokuskan diri ke ujiannya.
Untuk memperdalam ilmunya Mimi meminjam buku dari kak Revano dan disini Revano juga membantu Mimi untuk belajar sedangkan Revano saat ini sedang meneruskan pendidikannya mengambil spesialis syaraf.
Saat ujian Mimi fokus pada soal-soal yang ada. Selama kurang lebih ujian berlangsung Mimi dan para sahabatnya merasa deg-degan menunggu hasil ujiannya, akankah mereka berhasil atau tetap menunggu setahun lagi untuk ujian akhir nya.
Di LA Syahril sudah mengetahui jika Mimi ikut percepatan ujian akhir. Sia sangat senang bahkan dia sangat yakin jika Mimi akan berhasil.
Apa lagi Syahril tau jika Mimi adalah anak yang giat bahkan gigih untuk mencapai segala keinginan.
"Riil, malam ini ada undangan nih. Kkta datang nggak?" tanya Ryan lada Syahril.
Yah Syahril dan Ryan di undang untuk menghadiri ulang tahun teman satu profesinya.
"Emm terserah lah Yan." jawab Syahril enggan.
__ADS_1
"Kamu mikirin Mimi?" tanya Ryan yang duduk di kursi sebelah Syahril.
"Hmm, dia saat ini sedang mengikuti ujian percepatan." ucap Syahril dengan kepala bersandar di bantalan soga dan menghadap ke atas.
"Doakan saja semoga dia lulus Riil, yah semoga saja segala cita-cita nya tercapai." ucap Ryan.
"Emm Amin, aku selalu mendoakan dia di setiap sujud ku. Bahkan aku selalu menyebut namanya disetiap sujudmu." ucap Syahril.
"Riil, hamlir dua tahun sudah. Apa kamu tidak bisa untuk melupakannya, biarkanlah dia bahagia." ucap Ryan.
"Sulit Yan, aku bahagia bola dia bahagia. Aku janji pada diriku sendiri tak akan mengganggu kebahagiaannya."
"Namun, aku juga tidak bisa melupakannya. Bagiku hatiku semua adalah dia."
"Walau kelak Allah tidak memberikan juga jodoh pada kami di dunia setidaknya kelak dipertemukan di jannahnya." ucap Syahril.
"Tapi Riil, apa kau tidak kasian sama Umma dan Babah. Mereka pasti ingin kau bahagia juga." jawab Ryan.
"Aku sudah bahagia Yan. Aku bahagia jika melihat dia bahagia walau aku tidak bisa memiliki nya." ucap Syahril.
Ryan terdiam, dia tau seberapa besar perasaan Syahril pada Mimi. Mungkin jika kebahagiaan ini bisa di tukar dengan nyawanya Syahril lun akan menyanggupinya.
Tak tau apa lagi yang harus Ryan ucapkan untuk menasehati Syahril. Menurut pandangan Ryan, Syahril telah mati rasa pada wanita.
Bahkan bila ada cewek yang terang-terangan menggoda nya, Syahril merasa jijik dan benci.
Malam harinya Syahril pergi ke acara ulang tahun rekannya bersama dengan lara swpuou dan sahabatnya.
Dia memakai pakaian kasual, saat dia bersama sepupunya masuk kedalam aula dimana acara tersebut akan di laksanakan. Semua mata memandang kearah arahnya, Syahril tet dengan ta lang cueknya.
"Hy bro, happy brithday. Good luck for the future." ucap Syahril me!berikan selamat pada sahabatnya.
"Thanks bro, Thank you for your prayers and presence." jawab si Lucky.
Syahril dan yang lain pun menyantap hidangan yang disediakan oleh keluarga lucky. Walau beda keyakinan, lucky tetap menyediakan makanan yang halal untuk teman-teman muslimnya.
Di acara ini tentunya banyak teman-teman sekampus bahkan teman satu tim di rumah sakit yang hadir. Disini semua bebas dalam berpakaian.
Syahril paling enggan bertemu seseorang yang selalu mengejarnya. Dia adalah Lusy, tak hanya di kampus di rumah sakit Lusy lun selalu !mengejar Syahril.
"Riil, lihat noh ulat bulu mendekat." ucap Andri, Syahril yang sedang minum soda melihat kearah mana mata Andri melihat.
Terlihat Lusy dengan pakaian yang hanya menutup sebagian tubuhnya saja alias memakai gaun kurang bahan.
"Hy boy." sapa Lucy pada Syahril dan yang lain.
Malam ini Siska dan Arfan tidak ikut karena Siska telah melahirkan anak laki-laki.
"Waw. you are good looking boy." ucap Selly dengan menelisik Syahril dengan menyentuh dada Syahril dan mengitari tubuh Syahril.
Syahril merasa risih diperlakukan Lusy seperti itu pun merasa geram. Dia memegang lengan Lusy dengan erat dan menatap dengan sorotan mata tajamnya, terlihat Syahril sangat marah terlihat dari rahangnya yang mengeras dan gigi yang dirapatkan nya.
Semua mata melihat ke arah mereka, setelah menghentakkan tangan Lusy dengan kasar, Syahril lun pergi meninggalkan acara tersebut namun sebelumnya dia berpamitan terlebih pada Lucky.
Saat syahril berpamitan dengannya, Lucky melihat Lusy dengan tatapan tajam.
"You, you're so outrageous lusy." ucap Lucky
(Kau, kau sangat keterlaluan Lusy )
"Yes, but I won't just give up" jawab Lusy yang merasa tertantang pada Syahril.
Sesampainya di apartemen Syahril langsung masuk kamar mandi dan dia langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan maaih berpakaian lengkap.
Entah mengapa, bila dia di goda apa lagi sampai tubuhnya dipegang oleh cewek lain. Syahril merasa jijik, bahkan tadi dia sudah berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terpancing emosi namun itu tidak bisa dikendalikan nya.
Di kampus pun, bila ada cewek senior maupun juniornya bersalaman dengannya. Syahril akan cepat-cepat mengelapnya dengan tisu basah. Dia merasa jika bersentuhan dengan cewek kulitnya merasa lengket bahkan kadang merasa gatal.
Di Semarang, Dillah mengalami musibah. Salah satu cafe cabangnya terkena ledakan yang disengaja.
Hari ini dia akaan pergi ke kantor polisi untuk memberi keterangan di kantor polisi. Dillah mengajak Mimi untuk menemaninya.
"Dek, ntra temeni aku ya?" ucap nya setelah habis sarapan.
"Emang mau kemana kang?" tanya Mimi sembari membereskan piring bekas sarapannya.
"Kita ke kantor polisi dek, hari ini aku mau memberikan keterangan pada polisi perihal cafe yang kena ledakan itu." terangnya dengan mengikuti Mimi ke dapur.
"Oo, jam berapa?" jawab Mimi.
"Yah kalau bisa pagi ini dek." ucapnya.
"Emm yaudah, kalau gitu Mimi siap-siap dulu." jawab Mimi
"Oke, jangan dandan berlebihan ya." ucap nya dengan wanti-wanti.
"Emang Mimi pernah berdandan apa." jawab Mimi dengan mengkrucutkan bibirnya.
"Yaudah sana dandan." ucap Dillah dan Mimi pun segera masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Tak berapa lama Mimi pun telah siap dan mereka pun segera pergi ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Dillah langsung menuju ke ruangan tertentu untuk memberikan keterangan. Saat menuju ruangan itu Mimi yang berada di belakang Dillah berhenti ketika ada yang memanggil namanya.
"Mimii." panggil seseorang, Mimk berhenti dan !menoleh dimana arah suara tersebut.
Terlihat seorang pria berpakaian seragam lengkap dengan senyum! yang mengembang berjalan mendekati Mimi.
"Mimi Akifah kan?" tanya nya, Mimi hanya diam dan menelisik orang tersebut.
__ADS_1
"Lupa ya?" tanya nya Mimi maaih diam.
"Apa kabar dek?" tanya nya.
"Emm baik." jawab Mimi dengan ragu.
"Kenapa? kok bingung gitu?" tanyanya ketika melihat Mimi masih banyak diam dan kebingungan.
"Kamu ada urusan apa dek kesini?" tanyanya lagi.
"Oo emm itu lagi ada urusan saja." jawab Mimi.
"Kamu benaran nggak kenal aku?" ucaonya dan Mimi hanya menggeleng, polisi itu hanya tersenyum.
"Kamu masih sama seperti dulu." ucapnya.
Dillah yang merasa Mimi tidak ada dibelakangnya pun menoleh. Saat Dillah mencari keberadaan Mimi, Dillah terkejut menemukan Mimk ya h sedang berbicara dengan seorang
polisi apa lagi kelihatan jika sang polisi sangat mengenal Mimi.
"Siapa tuh polisi ya?" gumamnya.
Dillah diam di tempat dan memperhatikan Mimi dari jarak yang tak begitu jauh.
"Berarti yang aku lihat waktumitu benaran kamu dek, kamu kuliah disini ya?" tanya nya dan Mimi mengangguk.
"Kamu kenapa hehe? masa iya sah nggakmkesal sama Abang dek." ucapnya.
"Emm, Abang.." ucap Mimi.
"Iya ini abang dek, yang dulu pernah ngojekin kami sekolah hehee." ucapnya, Mimi memeganga tidak percaya.
"Ini Abang Radit?" tanya Mimi, Radit lun mengangguk dan tersenyum.
"Wah, impian Abang menjadi kenyataan. Dahnoangakp iptu." ucap Mimi.
"Iya alhamdulillah berkat doa kamu juga." jawabnya.
"Kamu sama kesini dek, sendirian?'' tanya si Radit.
"Emm Mimi sama tunangan Mimi." jawab Mimi.
Mimi terpaksa berucap begitu karena Mimi tidak mau memberi orang!ain harapan.
"Tunangan?? Syahril?" ucap Radit sedikit ragu.
Radit telah mengetahui kalau Mimi bertunangan dengan Syahril bahkan dia juga sudah mengetahui jika Syahril telah menikah karena perjodohan.
Radit mengetahui semua itu dari ibunya sewaktu dia pulang 6bln lalu. Ibu Radit adalah temannya Umma nya Syahril, bahkan ibunya Radit juga tau siapa Mimi bahkan ibunya Radit juga mengetahui jika anaknya Radit juga menyukai Mimi.
Bahkan ibu Radit ada bercanda samaa Umma. Bahwa dia juga mau menjadikan Mimi menantunya. Ibunradit lun menceritakan pada Radit waktu itu.
"Syah, kalau Mimi tidak jadi menantumu. Apa kaunrela kalau dia jadi dengan yang lain?" ucap ibu Radit.
"Jujur bae lah Tim, aku ndak rela kalau Mimk jadi dengan orang lain." ucap Umma.
"Kau ini Syah, ndak baik macam itu. Kasian lah Mimi." jawab ibu Radit.
"Aku berharap dio jadi lagi sama anak aku Syahril Tim. Entahlah pokoknya aku dak rela." jawab Umma.
"Ais kau ini Syah, kalau aku jadikan dia menantuku macam mana?'" ucap ibu Radit.
"Hmm tergantung lah, ala Mimi mau sama anak kau Tim?" ucap Umma.
"Hahaa aku yakinlah Mimi mau Syah, anak aku Radit kan sudah jadi polisi kini tu." ucapnya dengan bangga.
"Hmm kita lihat saja " jawab Umma.
"Emm bukan bang, emm nah itu dia." ucap Mimi dengan celingukkan mencari sosok Dillah dan beruntungnya Mimi langsung melihat Dillah yang sedang melihat ke arahnya.
"Kang" panggil Mimi pada Dillah dan Dillah lun mendekatinya.
"Nah bang, kenalin ini kang Said, kang ini abang Radit teman Mimi waktu di Jambi." ucap Mimi memperkenalkan diri mereka satu sama lain.
"Jadi?" tanya Radit.
"Iya bang, dia tunangan Mimi." ucap Mimi, Dillah merasa berbunga-bunga hatinya mendengar Mimi !mengatakan dirinya adalah tunangannya.
"Oo selamat ya dek, semoga segera sampai ke pelaminan.'' ucap Radit.
"Amin" jawab Mimk dan Dillah.
"Oh ya dek, Abang pergi dulu ya.. Ada mau ketemu rekan Abang dulu." ucapnya dengan senyum manisnya.
"Oh iya bang, hati-hati." jawab Mimi.
Setelah kepergian Radit, Dillah menatap Mimi.
"makasih ya dek." ucapnya.
"Makasih buat apa?" tanya Mimi.
"Makasih kamu mengakui ku sebagai tunanganmu dihadapan kaki-kaki lain." ucapnya.
"Iya sama-sama, e!angnsudah selesai kang?" jawab Mimi dan kembali bertanya.
"Belum, habis aku lihat kamu sudah nggak ada si belakang aku tadi jadi ya aku cariin, nggak taunya lagi asik ngobrol." jawabnya dengan kesal.
"Yaudah, ayo kita kesana." ucap Mimk dan mengajak Dillah kembali menuju ruangan yang akan mereka tuju.
__ADS_1
tbc