DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
menginap rumah simbah


__ADS_3

Mimi melihat mata Simbah yang lembab karena air mata, setiap tetesan air mata nya mengingatkan Mimi kepada emak dan Nyai saat Mimi berangkat kembali ke kota ini. Mimi memeluk Simbah erat, Mimi !memberikan kekuatan kepada Simbah.


"Mbah yang sabar ya, insya Allah Allah membukakan mata hati mereka, jangan pernah Mbah meminta pada Allah Mbah agar memberikan hidayah pada anak-anak Simbah." ucap Mimi yang juga ikut menangis dalam pelukan Simbah.


"Simbah selalu mendoakannya ndok, setiap sujud Simbah Simbah meminta agar Allah membukakan mata hati mereka agar mau pulang melihat kamknyangbtelah renta ini." ucap Simbah.


"Simbah berharap kelak jika ajal menjemput, Simbah ingin a


lah menjemput kami berdua dengan Khusnul khatimah, Simbah ingin jika meninggal, meninggal bersama Simbah Lanang mu. Jika Simbah meninggal duluan kasian imbah Lanang mu nggak ada yang jaga dan ngerawat kalau lagi kambuh sakitnya."


"Namun Simbah juga ndak bisa hidup sendiri bila Allah menjemputnya Simbah Lanang mu duluan. Dan satu Simbah juga berharap kala Allah menjemput kami berdua, kami ingin anak lelaki kami yang mengadzani kami umtuk ertam dan terkahir kalinya." ucap Simbah penuh dengan harapan terhadap anak-anak nya.


"Simbah nggak boleh ngomong gitu, Simbah akan selalu sehat. Jangan ngomong gitu lagi ya Mbah, disini kan ada Mimi." ucap Mimi dengan menangis dan memeluk Simbah lagi.


"Yaudah kamu istirahat ya," ucap Simbah.


"Tanggung Mbah, bentar lagi ashar." jawab Mimi.


"Yaudah kalau gitu, Simbah mau kebelakang mau masak buat makan malam kita nanti." ucap Simbah.


"Mimi ikut, Mimi bantun ya Mbah." ucap Mimk yang juga beranjak dari duduknya.


"Kamu istirahat aja, kamu lagi sakit." jawab simbah.


"Nggak apa Mbah, udah enakan habis minum obat tadi." jawab Mimi dan ikut simbahnke dapur.


"Emm Mbah tadi Mimi sudah beli lauknya tinggal kita panaskan aja." jawab Mimi.


"Kamu beli lauknya apa toh ndok, la wong kamu udah beli lauk mentahnya kok yo beli lauk mateng juga." omel Simbah.


"Hehe ya biar Simbah nggak repot masak." jawab Mimi.


"Ya kalau nggak boleh masak, terus kenapa kamu beli lauk-pauk mentahnya tadi." ucap Simbah.


"Hehe iya juga ya Mbah, tapi kan yang mentah bisa kita simlan dinkulkas Mbah." ucap Mimi.


"Ohnya Mbah mana ikan, udang ma ayamnya tadi Mbah biar Mimk cuci." tanya Mimi.


"Mbah taruk dalam kulkas ndok." jawab simbah dengan menyalin isi panci yang berisi air kedalam termos dan beberapa ceret serta ember kecil tertutup buat air masak.


Tanpa berucap Mimi lun mengambil nya dalam kulkas mini milik Simbah, Mimi pergi ke arah sumur untuk membersihkan ikan dan yang lain. Setelah semua bersih Mimi meletakkan lauk mentah tersebut pada plastik-plastik karena simbah tidak punya tempat untuk itu dan Mimi taruh kembali ke dalam kulkas.


Mimi dan Simbah pun masak bersama dengan candaan hingga masakan selesai. Simbah juga mempersiapkan bahan untuk kue dan bahan lain untuk jualan mereka esok pagi, tak lama adzan ashar pun berkumandang dari Mushola,


Sehabjs ashar Mimi melihat dan membantu Simbah membuat kue tradisional nya. Simbah juga memberikan resep nya pada Mimi, Semua bahan sudah dipersiapkan dan malam baru akan di olah menjadi jajan pasar.


Mbah Lanang juga sudah memetik sayuran dari kebun untuk sayuran ural Simbah, Simbah Lanang juga menurunkan beberapa kelapa dan degan.


Simbah wedok membuat minuman buat Mimi, dibakarnya segan sebentar setelah itu Simbah masukan kunyit yang sudah dia giling kedalam Dogan taknluoa kuning telur ayam juga di masukkan.


"Ndok, ini di minum degannya, biar cepat sehat." ucap simbah dengan memberikan degan racikannya kepada Mimi


Dimalam hari Mimi membantu Simbah mengukus kue-kuenya, setelah semua yang di buat untuk malam ini selesai Simbah mengajak Mimi beristirahat.


"Ayo ndok istirahat, udah malam." ucap Simbah, Mimi pun menurut karena Mimi juga merasa sangat mengantuk.


"Sini Simbah kusuk biar badannya enakan. Dikelas semua pakaiannya dan pakai jarik ini." ucap Simbah dengan memberikan kain panjang pada Mimi.


Setelah berganti pakaian dengan memakai kami panjang, Simbah mulai mengurut badan Mimi.


"Kamu ini hanya masuk angin ndok, lihat nih badan kamu merah semua." ucap Simbah yang terus mengurut Mimi dengan minyak kelapa yang di pakai bawang merah yang di geprek nya.


"Pijatan Mbah enak." ucap Mimi.


"Iya ini baru awal karena setelah ini Mbah akan khusuk dan cari pas urat-urat nya." jawab simbah dan terus menelusuri tiap jengkal badan bagian belakang Mimi.


Saat dinbelikat Mimi merasa sakit karena Simbah menarik urat belikatnyq.


"Aduh Mbah sa kit Mbah." ucap Mimi.


"Nggak apa, ini bagian ini kaku pasti kami sering merasa pegal disini kan?" tanya simbah.


"Iya Mbah." jawab Mimi.


Setelah seluruh punggung belakang Simbah beralih pada kaki Mimi, Simbah menurutnya dengan pelan namun terasa. Sehabis area belakang Simbah beralih area depan yaitu bagian i

__ADS_1


perut dan dada.


Simbah menaikan perut Mimi yang katanya peranakan turun sehingga membuat mimimmerasa seringbyidak enak di bagian perut. Simbah juga mengurut di bagian atas dada Mimi. Nyaman itu uang Mimk rasakan.


Pegal-pegal selama ini Mimi rasakan lenyap seketika, terakhir Simbah menarik tangan Mimi secara menyilang dan dimiringkan badan mimk sevafa menyilang ( tangan kiri dintarik kekanan dan badan mengahdap ke arah kiri negitu pula sebaliknya ) sehingga bunyi krek krek pada tulang-tulang Mimi setelah itu simbah beralih ke kepala. Simbah juga menarik kepala Mimi hingga berbunyi.


Setalah dilakukan itu, Mimi merasa badannya ringan dan kepalanya pun terasa ringan.


"Udah sekarang kamu segera tidur." ucap Simbah setelah selesai mengurut Mimi.


"Iya Mbah makaaih ya Mbah." jawab Mimi.


"Besok insya Allah badanmu dah enakan." ucap Simbah dengan menepuk pundak Mimi.


"Iya mbak insya allah, makasih ya Mbah." ucap Mimi lagi.


"Yaudah Mbah keluar dulu mau cuvinyangan dan beristirahat." jawab simbah swmabrinkeluar dari kamar.


Setelah Simbah keluar Mimi pun mulai merebahkan badannya setelah memakai pakaiannya lagi. Mimi merasa badannya sangat ringan sehingga Mimi nyenyak dalam tidurnya.


Keesokan paginya Mimi ikut simbah kepasar dengan berjalan kaki. Mimi akan merasakan bagaimana rasanya berjalan kaki sejauh ini.


Simbah berangkat dari rumah pada saat jam empat subuh. Mereka akan mengejar lagi sampai pasar, disaat orang-orang maaih nyaman dan nyenyak di kasur dan bantal. Dua insan oaru bayah ini memulai harinya dengan berjalan kaki menuju tempat dimana mereka meraih pundi-pundi rupiah dipasar.


Sepanjang jalan untuk menghilangkan rasa capek Mimi dan simbah saling bercerita. Saat subuh tiba kami berhenti di salah satu mushola di pinggir jalan unyuk menunaikan nya.


Hal yang membuat Mimi salut kepada mereka yaitu pantang menyerah sampai usia senja nya, dan mereka juga tidak melupakan Rabb nya disaat mereka harus mencari pundi rupiah buat kehidupan mereka.


Telah puluhan tahun mereka jalani kehidupan seperti ini, dulu sewaktu mereka masih ada sawah mereka juga tetap berjalan ke pasar. Mereka menjual hasil sawah ladang mereka sendiri ke pasar, uang yang diperoleh mereka untuk pendidikan anak-anak mereka.


Kini sawah ladang itu telah tiada karena di jual untuk pendidikan sang anak-anak. Tinggallah gubuk serta tanah disekitar rumahnya saja yang tersisa.


Dan kini setelah sawah ladang yang dulu ada beberapa hektar dan dapat membangun perekonomian mereka lebih dari saat ini telah tiada. Anak-anak yang mereka beri pendidikan hingga universitas itu pun seolah tidak ingat akan jerih payah mereka.


Usia yang mendekati senja, seharusnya mereka tak lagi berkerja demi mendapatkan hasil buat makan sehari-hari. Seharusnya mereka tinggal di rumah dan menikmati masa tua mereka dengan bahagia tanpa beban.


Tapi tidak untuk mereka berdua, mereka bukanlah orang yang gampang menengadahkan tangan Mereka menghadap belas kasihan orang. Baginmereka selagi nyawa masih di badan mereka akan terus berusaha untuk kehidupan mereka.


Andai saja anak-anak mereka melihat apa yang orangtuanya lakukan ini, mungkin akan tersentuh dan menyuruh mereka berhenti untuk berjualan.


Tiga hingga empat jam perjalanan dari desa menuju pasar kota.di desa sebenarnya juga ada pasar namun pasar didesanya tidak tiap hari melainkan pindah-pindah tempat dan waktunya juga kadang berbeda-beda, ada yang lagi dan ada yang malam.


Berhari-hari Mimi lalui mengikuti Simbah kepasardengan berjalan kaki pulang pergi karena kalah Mimi pulang mencatar mobil tentunya uang Mimi tidak akan cukup menjelang dia punya penghasilan lagi.


Ladang melihat Mimk yang capek jika pulang, Simbah yang berinisiatif mencatar mobil dan itu membuat Mimi merasa tak enak hati.


"Mbah, janganncatar mobil lagi ya. Kita pulang jalan aja, Mimi senang kok pulangboeegi berjalan kaki." ucap Mimi kala itu.


"Yaudah kalau gitu, Simbah hanya kasihan lihat kamu capek dan keringatan gitu." ucap Simbah.


"Nggak apa kok Mbah, kan sehat kalau kita jalan, anggap aja olahraga." ucap Mimi degan senyuman


"Iya kalau capek ngomong biar kita istirahat." sahut Simbah Lanang.


"Iya Mbah." jawab Mimi. Mereka pun pulang berjalan kaki bersama.


Selama hampir dua Minggu Mimi tinggal bersama Simbah, disini Mimi belajar bagaimana kita harus mensyukuri nikmat tuhan. Mimi juga belajar bagaimana kita harus menghargai waktu berharga kita sebaik mungkin.


Saat Mimi memutuskan untuk kembali ke kosan, Mimi merasa berat untuk meninggalkan kedua orang tua ini, kasih sayang yang mereka berdua beri pada Mimi selama dua Minggu ini sangat lah tulus.


Simbah pun berderai air mata ketika Mimi !mengatakan kalau besok Mimi pulang ke kosan. Mereka ingin menahan Mimi namun mereka tak memiliki hak atas Mimi, apalagi Mimi dinklta ini untuk menuntut ilmu.


Andaikan Mimi mempunyai pekerjaan tetap, ingin Mimi memboyongkan mereka berdua untuk tinggal bersama nya.


"Mbah, jangan nangis lagi." ucap Mimi ketika siang hari pamit pada simbah wedok dan Lanang.


"Simbah pulang pakek mobil aja ya, sudah Mimi caterin. Simbah jaga kesehatan, insya Allah tiap malam Minggu atau libur Mimi nginap tempat Simbah lagi, bolehkan?" ucap Mimi dengan memeluk lengan Simbah.


"Tentu boleh toh ndok, kalau nggak ada kamu pasti nanti rumah simbah sepi lagi. Padahal dua minggu ini simbah seneng banget kamu tinggal bersama simbah." ucap Simbah wedok.


"Kami juga jaga kesehatan, jangan telat makan lagi. Kalau sakit kepala jangan dikit-dikit minum obat nggak bagus." ucap Simbah menasehati.


"Iya Mbah, nanti kqlqunmimk demam lagi Mimi datang sama Simbah aja." jawabbmimi dengan candaan.


"Kamu ini ndok ndok, di bilangin malah bercanda." ucap Simbah dengan menepuk lengan Mimi.

__ADS_1


"Hehee Mimi serius Mbah, makaaih ya Mbah. Selama dua Minggu ini mimimmerasa dekat sama keluarga Mimi sendiri." ucap Mimi.


"Iya sama-sama ndok, adanya kamu dirumah juga membuat Simbah senang, rumah nggak sepi sekarang kamu balik lagi jadi sepi lagi rumah Simbah.


"Yaudah Mbah, itu mobilnya sudah ada. Simbah hati-hati ya." ucap Mimi.


"Iya ndok, yomwes Simbah pulang dulu yah cah ayu." ucap Simbah dengan memeluk Mimi erat.


"Iya Mbah." jawab Mimi dengan menciumi tangan mereka.


Setalah simbah sudah menaiki mobil pickup dan mobil lun telah melaju, Mimi berjalan menuju gerbang masuk pasar. Mimi berdiri di pinggiran trotoar menunggu angkot.


Gak lama angkot pun datang, Mimi pun menaiki angkot jurusan ke kosan Mimi.


Mimi dari simlang menuju kosan berjalan kaki dengan membawa satu kardus dan satu kresek besar belanjaan nya. Tidak ada yang mengenali Mimk karena Mimi memakai kaca mata hitam, jaket yang ada topinya serta Mimi memakai masker.


Mimi berpakaian seperti itu karena ini hari kedua masuk kampus tapi Mimi malah molor waktu liburnya.


Sesampainya di kosan Mimi langsung membuka gembok pagar dan tak lupa Mimk gembok lagi setelah masuk ke pekarangan kosan.


Mimi menarik nafas panjang saat akan masuk kedalam kosannya, takmluoa dia mengucapkan salam saat masuk.


Penat, lelah menghampiri Mimi. Bukan lebat dan lelah berjalan kaki melainkan penat dan lelah hatinya kembali berbaur dengan sisa kenangan manisnya.


flasback off.


"Begitu cerita nya, jadi lunas ya hutang penjelasan nya." ucap Mimi pada semua.


"Hmm kalau Mimi pulang siangbhari kok kota nggak lihat kosan Mimi kebuka." ucap Irma.


"Iya nggak kebuka lah, kan Mimk gembok lagi heee." ucap Mimi.


"Jadi emanh nkat mau ngeprank kita gitu!" ucap Selfia.


"Niatnya sih bisa jadingitu Fi, tali kalau masalah kecelakaan itu Mimk benar-benar nggak tau." ucap Mimi.


"Emang selama dirumah Simbah nggak nonton TV? apa tetangga Simbah nggak kasih tau?" tanya Riko.


"Selama disana nggak ada waktu buat nonton Rik, lah wong TV Simbah rusak hahaa" jawab Mimi.


"Semprol.'' ucap Dimas menanggapi omongan Mimi.


"Lah emang bude yang jualan disamping Simbah nggak tau Mi?" tanya Muthia.


"Nggak ada yang tau keg nya Muth, selain mungkin mereka disana jarang nonton berita tv, waktu mereka dihabiskan untuk berjualan dan yang utama kan tetangga Simbah mana ada yang kenal sama Mimi." jawab Mimi.


"Iya juga ya." ucap Muthia.


"Mi.. kalau denger dari cerita Mimi kayaknya enak juga tinggal di rumah Simbah. Gimana kalau tiap sabtu sore kita kesana." uc AP Selfia.


"Emm boleh Fi tapinya kita kesana pakwk Travel aja lebih murah." jawab Mimi.


"Kok Travel Mi? emang rumah Simbah dimana?" tanya mbak Aish.


"Di pedesaan mbak, naik mobik dari pasar kesana aja dua jam perjalanan." jawab Mimi.


"What!! beneran Mi?" tanya Selfia.


"Iya Fi beneran.'' jawab Mimi


"Jadi waktu Mimi dan Simbah berjalan kaki makannwaktunberoqa jam itu?'' tanya selgia yang penasaran.


"Empat jaman bahkan lebih Fi." jaaabbmimk dengan senyum.


"Gila kuat kamu Mi." ucap Muthia.


"Kuat Muth, intinya bawa enjoy aja. Simbah aja bisa masa kita yang muda dari dia nggak bisa." jawab Mimi.


"Pangeran badan kamu makin langsing Mi" sahut Irsyad.


"Iya Mi, badan kamu makin langsing kirain makam Ati eh gak taunya olahraga 8jam/hari." sahut Selfia.


"Beneran Fi? perasaan Mimi biasa aja. Tapi emangnsohnbukan makan ati aja ampela ma jantung pun Mimi makan." Mimi menimpali candaan mereka.


"Iya minum nya Sosro tea." ucap semua.

__ADS_1


"Hahaaaa" mereka pun tertawa bersama di sore hari.


tbc


__ADS_2