
Hari ratu dan raja sehari tahap pertama telah usai, Kak Rani dan kak Rudi sudah sah menjadi pasangan suami istri di mata agama dan hukum. Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajah mereka. Namun Minggu depannya pihak dari kak Rudi juga akan mengadakan resepsi di rumahnya yang biasa disebut unduh mantu.
Siapa yang tak tau pabila sepasang kekasih telah sah di mata agama dan hukum maka peran selanjutnya adalah pengesahan jati dirinya mereka dalam sebuah penyatuan cinta kasih sayang.
Minggu malam alias malam senin cuaca seolah juga sedang ikut mendukung sepasang kekasih yang telah tersebut. Hujan deras mengguyur bumi, Cuaca dingin menyelimuti setiap insan di muka bumi.
Kreett suara pintu terbuka, masuk lah kak Rudi kedalam kamar, dilihatnya sang istri yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
Kak Rani yang melihat ke arah pintu tersenyum ketika melihat sang suami lah yang masuk kedalam kamarnya.
"Sudah mandi yank?" tanya kak Rudi ketika telah sampai dekat sang istri.
"Sudah yank." jawab kak Rani dengan senyum.
"Gih sana buruan mandi nanti tambah dingin lagi." ucap kak Rani.
"Yaudah aku mandi dulu." jawab kak Rudi.
"Iya nanti kusiapkan pakaaiian di atas kasur ya? Aku mau keluar mau buatkan teh hangat dulu." Ucap Kak Rani sembari beranjak dari duduknya dan tersenyum kepada kak Rudi dan kak Rudi pun hanya mengangguk kan kepala dan balik senyum.
Lima belas menit kak Rudi pun selesai akan rutinitas mandinya,dengan berpikiran handuk di pinggangnya ia pun keluar dari kamar mandi dan bertepatan kak Rani masuk ke dalam kamar dengan membawa teko berisi air putih dan secangkir teh hangat buat kak Rudi.
Kak Rani begitu terpesona dengan tubuh yang dimiliki oleh suaminya tersebut sampai-sampai matanya tak ingin untuk berpaling.
"Hemmm." Kak Rudi berdehem membuyarkan lamunan kak Rani dan kak Rani pun segera memalingkan tatapannya ke arah lain. seraya menaruh air yang dibawanya ke atas balas di samping ranjangnya.
Ini bukanlah kali pertama kak Rani melihat tubuh sang suami yang atletis namun entah mengapa kali ini membuat ada rasa yang beda di dadanya. Dah dig dug begitulah detak jantung kak Rani saat ini, dia baru ngerasa deg degan sehingga detak jantungnya tak beraturan.
"Emm yank ini tehnya." ucap kak Rani sedikit gugup dan tetap memberikan senyumannya yang manis kepada sang suami.
"Makasih yank." ucap kak Rudi Se!bari duduk di samping kak Rani.
Kak Rani mulai merasa gelisah malam ini di tambah hujan deras yang sedang membasahi bumi. Kak Rudi melihat kak Rani gelisah diapun tersenyum kecil.
"Ehem, kenapa yank?" tanya klak Rudi membuka obrolan malamnya.
"Emm ndak apa yank." jawab kak Rani kikuk.
"Kayaknya alam sedang mendukung kita ya yank." ucap kak Rudi Sembari memeluk pinggang kak Rani.
"Emm maksudnya yank?" kak Rani balik nanya tidak mengerti di tambah detak jantung yang tak bisa di ajjaak kompromi.
"Emm ya Cuaca sedang mendukung kita yank, mendukung pengantin baru." ucap kak Rudi lagi dan itu membuat kak Rani semakin gugup.
"Hmm apakah maksud Rudi dia akan meminta haknya ya? Aduh gimana ini, aku kan sedang paalang merah. Kasiannya suamiku." kak Rani ngebatin sambil mengatur nafasnya
"Emm yank kok ngelamun?" tanya kak Rudi ketika kak Rani asik dengan perang batinnya.
"Eh ndak ko yank, emm iya cuaca sedang mendukung hehehehe emm ta.." ucap kak Rani langsung di potong dengan sebuah serangan senjata yang lembut secara mendadak.
Serangan yang berawal pelan namun seiring waktu sedang tersebut semakin mengganas, kaak Rani yang awalnya belum siap menerima serangan tersebut akhirnya ikut hanyut dalam serangan malam itu.
Kak Rudi semakin mengeluarkan amunisi-amunisi untuk !menyerang tiap jengkal medan yang di laluinya kini dan kak Rani hanya menerima dan mengikuti arah kemana serangan itu akan mendarat dengan sebuah kenikmatan yang tiada tara.
Kak Rudi yang tak puas dengan Medan atas diapun membuka penghalang sebuah Medan yang berada di tengah-tengah yang maanna di tengah itu ada sebuah Medan yang sangat enak untuk di jatuhkan rudal lembutnya.
Setelah membuka satu persatu penghalang tersebut nongollah dua gunung yang kenyal bak jelly yang menggugah seleranya, Medan yang empuk dan kenyal langsung di santapnya, satu gunung telah masuk ke dalam rongga dan yang satu lagi telah berada dalam genggamannya.
Kak Rani yang mendapatkan serangan tersebut semakin menggelinjang tubuhnya hingga keluar lah suara nya yang tertahan.. "Achhh, Uhmm" hingga berulang-ulang.
Kak Rudi sedang bertempur dengan Medan gunung kenyal tersebut hingga silih berganti sedangkan kak Rani mengikuti aliran arah yang membuat tubuhnya seperti kesetrum.
Semakin buas kak Rudi menapaki Medan dua gunung maka semakin bergetar pula tubuh kak Rani dan membuat kasur pun ikut bergoyang.
Setelah puas dengan penjelajahan di dua gunung kak Rudi kembali ketitian yang tak kalah kenyal yang berada di wajah kak Rani.
Dihisapnya dan dil*matnya titian kenyal nan ranum tersebut dan di masukkankanya jembatan yang dimilikinya ke dalam rongga titian tersebut dan jembatan itu pun beradu dengan jembatan milik kak Rani hingga membuat nafas dua insan tersebut terhalang, setelah melepaskan pangutan dua jembatan mereka langsung menghirup udara sedalam-dalamnya.
Mereka saling adu pandang dengan nafas yang ngos-ngosan, namun Rudi belum tau jika serangan berikutnya dia akan bergejolak seorang diri.
Setelah nafas kembali beraturan, Rudi melanjutkan serangannya kembali sedari awal setelah beberapa lama serangan itu akan turun ke Medan inti, kak Rudi telah siap menuju ke Medan inti namun kak Rani segera memberhentikan serangan tersebut namun kak Rudi tak menggubrisnya dia masih terus melakukan serangan menuju Medan inti.
Kak Rani melihat kak Rudi tak kunjung berhenti akan serangannya dengan sekuat tenaga kak Rani duduk dari tiarap telentangnya.
"Stop yank.. huh huh huh." ucap kak Rani dengan nafas tersengal-sengal akibat mengikuti langkah serangan demi serangan kak Rudi,tampak terlihat raut ketidak sukaan kak Rudi dengan nafas yang juga tersengal-sengal.
"Kenapa yank?" tanya nya dengan raut wajah kesal.
"Emm maaf yank, aku ehmm aku." kak Rani terbata-bata ingin menjelaskannya.
"Ada apa?" tanya kak Rudi kembali.
"Maaf aku sedang PMI." ucap kak Rani dengan menundukkan kepalanya.
"PMI? maksudnya?" tanya kak Rudi tak mengerti.
"Maksudnya aku sedang palang merah yank, maaf." jawab kak Rani tak enak hati.
"Hah!!! sejak kapan?" tanya kak Rudi kembali.
"Sejak hari Jum'at kemarin." jawab kak Rani.
"Biasa berapa lama yank?" tanya nya lesu.
"Biasa 7 sampai 8 hari." jelas kak Rani.
"Huh.. Padahal rudalnya telah siap masuk ke Medan inti." jawabnya dengan menghitung jarinya.
"Maaf, terus gimana?" tanya kak Rani.
__ADS_1
"Hemm ya terpaksa rudal dijinakkan dengan mbak citra." jawab kak Rudi langsung beranjak menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
Didalam kamar mandi kak Rudi langsung menjinakkan rudal nuklir nya dengan mbak citra.
"Malang benar nasibmu." ucapnya sambil melihat ke arah rudal dan menjinakkan rudal nuklir tersebut.
Setelah rudal nuklir bisa dijinakkan kak Rudi kembali mandi dan setalah itu segera dia keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya sang istri masih setia duduk dengan bersender kepala di atas bantal yang di susun di belakang tubuhnya.
"Maaf ya yank." ucap kak Rani.
"Ngak apa yank namanya juga PMI bulanan kamu." jawab kak Rudi.
Mereka pun mengisi malam yang dingin tersebut dengan obrolan malam tentang visi misi mereka kedepannya.
Dirumah Syahril dan para cowok tampan sedang berghibah tentang Rudi, mereka sekali-kali ketawa akan nasib yang dirundungkan Rudi dimalam pengantinnya.
"Gue yakin malam ini Rudi akan menhan rudalnya." ucap kak Rendi.
"Maksud Lo Rend!" tanya kak Arfan dengan mengunyah kwaci.
"Ya Rudi akan menahan sesak rudal yang akan siap meluncur." jawab Rendi dengan meneguk minuman kalengnya.
"Iya kasian mana cuaca lagi mendukung tapi situasi yang tak kondusif." sahut Kak Ryan.
"Maksud kalian apaan sih?" tanya kak Arfan yang belum menemukan maksud dari sahabatnya.
"Halah Fan gitu aja lola pemikiran Lo?" ucap kak Rendi.
"Swear, beneran gue gak maksud ucapan kalian." jawab nya.
"Si Rani itu lagi PMI." ucap kak Ryan tapi kak Arfan belum juga mengerti.
"Ndak maksud juga?" tanya kak Syahril.
"Ho'oh." jawab kak Arfan.
"Rani lagi datang tamu bulanannya." ucap kak Syahril.
"Hah, tau darimana kalian?" tanya kak Arfan tak tau.
"Kalau gue tau dari ayang beb akulah." jawab kak Rendi dengan terus mengunyah kwaci yang telah di kelasnya terlebih dahulu.
"Sama." jawab kak Ryan dan kak Rendi.
Seketika hening dan tak lama kemudian tawa riang menghiasi dalam kamar anak bujang ini.
"Hahahahahaa" mereka tertawa terbahak-bahak.
"Emm malang bener tuh si rudal nuklir Rudi." ucap kak Arfan.
"Bener tuh, jangan-jangan udah tau Rudi nya." ucap kak Rendi.
"Gue rasa Rudi belum tau, nggak kebayang gue muka Rudi gimna ya kalau rudal dah di ujung tanduk." ucap kak Ryan sambil ngebayangin muka kak Rudi.
"Yang pasti kecewa berat lah Yan, atas bawah ngngap." sahut kak Syahril.
"Hahahahahaa." mereka ketawa dengan riang.
"Kita kerjain Rudi yok." ajak kak Arfan.
"Ayoo." jawab mereka kompak.
Mereka pun siap berseluncur di grup chat para cowok, belum juga mereka mulai ternyata ada notif masuk di group chat mereka dari hp mereka masing-masing.
"Selamat bro Rudi Cuaca mendukung." ucap bang Erwan.
"T O P lah Rudi." ucap bang Ridho.
"Dingin-dingin belah duren Rud." ucap bang Idho.
Mereka berempat membacanya ketawa-ketawa sendiri membaca chat di grup chat mereka.
"Ternyata udah keduluan mereka." ucap kak Ryan.
"Iya." jawab kak Rendi.
Kembali ke group chat aplikasi hijau.
"Woy yang ngintip keluar." ucap bang Erwan setelah melihat ada tulisan di layar ponselnya.
"Iya jangan ngintip aja Andri, Ryan, Syahril, Arfan dan Rendi." ucap bang Ridho.
"Kita bukan ngintip bro." jawab kak Rendi.
"Kalau ndak ngintip apa namanya bro!" ucap bang Erwan.
"Kita mau chat dah keduluan kalian." ucap kak Ryan.
"Mana nih Rudi?" tanya bang Idho.
"Woy Idho, Rudi lagi belah duren tuh." ucap bang Ridho.
"Hahaa iya Rudi belah duren lupa sama kita." ucap bang Erwan.
"Kalian salah semua." ucap kak Andri.
"Betul tuh kata Andri kalian salah semua." ucap kak Rendi.
__ADS_1
"Maksudnya gimana tuh?" tanya bang Ridho.
"Iya maksudnya kalian apa?" tanya bang Erwan.
"Jangan belah duren gagal ya?" ucap bang Idho.
"Ndak kebayang gagal belah duren." ucap bang Erwan.
"Ndak usah dibayangi Wan." ucap kak Arfan.
"Beneran tuh Rudi gagal belah duren?" tanya bang Erwan.
"Yap seratus buat anda." ucap kak Rendi.
"Woyy Rudi muncul Lo." ucap kak Andri.
Disebuah kamar mata Rudi tak bisa terpejam dan akhirnya dia aktifkan HP nya karena sebelumnya dia sengaja non aktifkan ponselnya karena dia telah bersiap diri agar tak ada gangguan dari makhluk-makhluk kepo.
Setelah aktif ponselnya langsung dengan denting notif masuk dan dibukanya lah aplikasi hijau tersebut dan di bukanyalah group chat cogan mandiri dan betapa banyak nya chat telah terlewati nya.
Dibaca nya satu persatu chat dari sahabat-sahabatnya tersebut sehingga dia pun mengumpat sendiri.
"CK sialan ni para makhluk pada ghibahin gue ternyata." umpat Rudi di malam yang dingin dan sang istri telah terlelap.
Kembali ke group chat.
"Woy Rud, ngintip Lo?" ucap kak Ryan.
"Gimannaa Rud rasanya?" ucap kak Rendi mengejek.
"Rudi habis kata-kata itu pemirsa." ucap bang Erwan.
"Ayo Rud, apa keluh kesah Anda malam yang dingin ini." ucap kak Syahril.
"Woy Rud, ngomong Lo?" ucap kak Arfan.
"Ckk kalian ini ghibahin gue di belakang ternyata keg emak-emak rempong kalian pada." jawab kak Rudi.
"Gimana Rud manis nggak durennya?" ucap bang Ridho.
"Mau tau rasanya pasti nyesek ya Rud hahahaha." ucap kaak Rendi
"Dasar Rendi bocor alus." ucap Rudi.
"Sabar ya bro." ucap kak Syahril.
"Iya bro sabar aja masih ada hari esok " jawab bang Idho.
"Gak apa tu da maalam ini bro besok di rapel." ucap bang Erwan
"Hahahahahaa." kak Ryan hanya menulis ketawa riangnya.
"Senang amat Lo Yan." ucap bang Erwan.
"Rudi harus nahan beberapa hari lagi itu bro." ucap kak Rendi.
"Hahahahahaa." kak Ryan lagi-lagi nulis ketawa.
"Hah!!!! Ka si an." ucap bang Erwan.
"Sabar bro." ucap bang Ridho
"Ckk puas bener kalian ngebully diriku ini." ucap kak Rudi memelas.
"Hahahahahaa" mereka semua menulis ketawa.
"Nyesek lah tuh rudal bro!" ucap bang erwan.
"Banget hahahaha." ucap kak Rendi mengejek.
"Ckk kalian ini gue doaimy kalian bakal ngalaminya juga kelak." jawab kak Rudi.
"Ape bener mbak citra jadi penjinak rudal Lo Rud." ucap kak Ryan.
"Ah terserah kalian yang pasti gue tidur ada yang di peluk dari pada kalian peluk guling, dah ya gue mau tidur by by bayangin aja guling Lo pada ha." ucap kak Rudi mengakhiri chat nya sambil mengejek.
"Kampreto Lo Rud." umpat Ryan.
"Si alan Lo Rud." ucap yang lain.
Setelah selesai menghibah melalui group chat dan malam semakin larut di sertai Cuaca yang dingin mereka pun mengistirahatkan tubuh mereka, mereka tertidur dengan lelap hingga pagi hari menjelang.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Assalamualaikum Alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up kembali.
Jangan lupa terus beri dukungannya dan tinggalkan jejak kalian berupa.
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
...🌻🌼🌸TERIMAKASIH🌸🌼🌻...
__ADS_1