
Setelah sholat ashar Mimi kembali tertidur dan terbangun menjelang Maghrib, entah mengapa Mimi merasa badannya lemas dan bawaan mengantuk, entah karena efek dari obat yang diminumnya sewatu siang tadi atau karena hati dan pikirannya yang masih kalut.
"Hmmm huuuuhh," Mimi menghirup udara dan mengeluarkan nya kembali untuk menetralkan rasa di hatinya.
"Ya sudahlah." Gumamnya dan langsung mengambil handuk dan berlalu pergi untuk !e!bersihkan diri dan sekalian berwudhu.
Setelah rutinitas mandi selesai adzan maghrib pun berkumandang, Mimi langsung melaksanakan nya, sehabis sholat Mimi tak langsung beranjak melainkan dirinya mengambil Alquran yang berada di atas meja ranjangnya.
Mimi mengaji dan membaca ayat demi ayat dalam surah Al-Baqarah dan setelah satu juz Mimi mengakhiri nya namun. Mimi melanjutkan !e!baca surah Yasin dan setelah nya Mimi kembali berdoa memasrahkan dirinya kepada sang khalik.
"Ya Rabb, aku pasrah akaan semua ini, mungkin ini sudah jalan hidupku, sudah takdir ku untuk tidak menjadi orang sukses." ucap nya dalam hati, dilihatnya amplop yang berisi undangan dari bimbel dan Mimi hanya manrik nafas berat.
"Ya Rabb, adalah setitik harapan buat ku?" ucapnya dengan meremas amplop tersebut dan tak terasa menetes jua air matanya serta terasa sesak di dada.
"Ampuni hamba yang terlalu banyak berharap dan meminta, ampuni hamba yang tak bisa menaikkan derajat kedua orang tua serta keluarga hamba." ucapnya dan dari luar emak dan yang lain sedang duduk berkumpul dan sudah berapa kali emak !e!panggil Mimi namun Mimi seakan telinganya tertutup dan tak !mendengar panggilan tersebut.
"Ay, coba panggilkan ayuk mimi, entah apa yang di hatinya dikamar dari tadi." ucap emak dengan menyuruh Ay untuk memanggil Mimi.
Ay yang emang kebetulan lewat dan bertepatan didepan pintu kamar Mimi, dia pun langsung mengetuk dan langsung masuk.
"Yuk, di panggil mamak dari tadi." ucap Ay dan Mimi pun menyudahi do'a-do'a nya lebih tepatnya menyudahi pengaduannya terhadap sang ilahi.
"Iya bentar." jawab Mimi dan langsung membuka mukena serta melipatnya.
Mimi keluar kamar dan di lihat nya semua sudah berkumpul. Mimi ikut duduk dengan mereka dan menunggu hal apa yang akan mereka bicarakan.
Pakdo yang melihat Mimi sudah bergabung dengan mereka dan hanya diam akhirnya diapun bertanya mewakili yang lain.
"Mi.." panggil pakdo dan mimi melihat ke arah pakdo tanpa menjawab.
"Apa Mimi yakin akan melanjutkan, emm maksud pakdo apa Mimi yakin ambil beasiswa itu dan jauh dari keluarga?" tany pakdo.
"Iya Mi, apa Mimi yakin jauh dari kami?" timpal Pakcik.
"Iya." jawab Mimi singkat.
"Kalau Mimi yakin, kami semua sudah berembuk. Kami setuju jika itu pilihan Mimi dan itu yang terbaik bagi Mimi." sahut BI Ida.
"Iya Mi, masalah uang bulanan Pakcik insya Allah akan bantu untuk jajan mi!i disana." ucap Pakcik.
"Pakdo bantu untuk duit kos." sahut pakdo.
"Om bantu duit jajan juga." ucap Om Yan.
"Pakngah bantu duit jajan juga." sahut pakngah.
Mimi mendengar semua penuturan dari mereka merasa terharu namun bagi Mimi semua itu tidak ada artinya lagi, ya karena waktu terakhir hari Senin ini dan esok adalah hari Minggu.
Mimi menggelapkan nafasnya dan hanya tersenyum getir.
"Gimana Mi?" tanya bicik.
"Tadi bapak kau sudah nanya di loket bus, besok ada pemberangkatan ke Semarang Jam sepuluh dan jam dua, tadi bapak kau mau pesan tiketnya cuma dompet bapak kau ketinggalan." jawab emak.
"Tadi bapak sudah bilang sama tugas loket kalau jadi bapak hubungi dan dia kasih no telpon nya tadi." sahut bapak.
"Besok biar bapak kau yang antar, emak dan bisa ikut, karena pasti banyak ongkosnya." ucap emak.
Mimi hanya diam dan tersenyum getir. Semua masih !menunggu jawaban Mimi.
"Makasih semua nya sudah kasih izin Mimi, tapi semua sudah ndak penting lagi." ucap Mimi dengan suara getir.
"Kenapa pula gitu?" tanya bicik.
"Ya percuma cik, berangkat besok sampe sana nya paling lambat selasa pagi, sedangkan hari Senin adalah terakhir melapor. Mimi ucapkan terimakasih sekali lagi. Mungkin ini takdir Mimi untuk tidak terlalu berharap dan bercita-cita tinggi. Maafkan Mimi tidak bisa mengangkat derajat kalian terutama emak dan bapak. Sekali lagi Mimi minta maaf. Besok Mimi ikut balik." jawab Mimi dengan suara getir menhan tangis dan beranjak !masuk kedalam kamarnya.
Ada rasa penyesalan di hati keluarganya kenapa !mereka sampai batas waktunya.
"Jadi kayak mana?" tanya BI Ida.
"Kasian Mimi, pupus sudah harapannya." ucap Pakcik.
"Seharusnya kemaren kita kasih tau dan hari ini dia berangkat." ucap Om Yan
"Ya kayak mana kita mau ngasih tau dia kemaren bang, kita datang aja dia cuek." jawab pakdo.
Tak lama terdengar suara salam dari luar.
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari balik pintu.
__ADS_1
"Waalaikum salam." jawab mereka yangndi dalam.
"Eh Riil, ada di Jambi." tanya Pakcik.
"Iya cik, siang kami nyampe." jawab kak Syahril dan dia langsung menyalami serta mencium tangan semua keluarga Mimi.
"Apa kabar Mak, PAL, pakdo, Om, pakngah, Nyai." ucap nya.
"Alhamdulillah kami semua baik." jawab emak mewakili semua.
"Duduk Riil," ucap pakdo.
"Iya Do, makasih." jawab nya sambil celingukan mencari sesosok gadis pujaan yang tak tampak di matanya.
"Mimi di kamar." ucap pakdo yang tau maksud dari pandangan Syahril.
"Eh, iya " jawab Syahril malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Di dalam kamar Mimi menangisi nasib dirinya dengan membenamkan kepalanya di bawah bantal. Mimi terisak mengasihani dirinya sendiri.
"Ya Rabb semalang inikah nasibku," ucapnya lirih di tengah isakan tangis nya, karena merasa sesak akhirnya Mimi membuka bantal yang menutupi mukanya dan dia duduk sembari melihat ke arah amplop.
Diambilnya amplop itu diremasnya dengan kuat sambil menutup matanya menahan rasa sakit di hatinya. Mimi hendak merobek amplop tersebut namun tak jadi karena tiba-tiba Ay masuk kedalam kamarnya dan memanggil dirinya.
"Yuk di panggil mamak, cepat keluar." ucap Ay dan langsung berlalu.
"Iya." jawab Mimi dan beranjak untuk keluar. Sebelum keluar di usapnya muka yang penuh dengan air mata dengan selimut.
Sesampainya dibluar Mimi belum mengetahui kalau Syahril ada disana.
"Ada apa Mak? kalau masalah tadi Mimi sudah ikhlas mungkin memang bukan nasib Mimi." ucap Mimi.
Syahril masih diam, Syahril sudah mengetahui cerita nya karena saat doa sampai tadi pakdo menceritakan perihal yang terjadi sebelum dia sampai.
Saat Mimi akan beranjak kembali untuk masuk kamar, Syahril menahan tangan Mimi. Mimi kaget melihat tangan nya di pegang dan saat dia melihat kearah tangan siapa yang pegang Mimi lebih kaget lagi karena tangannya tersebut adalah tangan seseorang yang sangat dirindukannya.
Mimi terdiam melihat ke arah kak Syahril sedangkan kak Syahril tersenyum.
"Kenapa?" tanya kak Syahril, Mimi masih diam kaku.
"Kenapa dek?" tanya nya lagi.
"Kenapa adek jadi begini?" tanyanya lagi.
"Kenapa adek putus asa?" kak Syahril bertanya lagi karena dia tau Mimi pasti belum mengerti akan maksud dari pertanyaan nya.
"Mimi bukan putus asa, tapi Mimi mengungkapkan realitanya sja kak." jawab Mimi sendu.
"Terus?" ucap kak Syahril.
"Mungkin ini adalah takdir Mimi kak, takdir untuk tidak bisa !mengejar cita-cita Mimi, takdir untuk tidak bisa mengangkat derajat keluarga." jelas mi!i dengan mata yang berkaca-kaca.
"Adek bisa mengejar itu semua, siap bilang Adel tidak bisa." ucap kak Syahril.
"Maksud kakak apa? bagaiman Mimi mewujudkan segalanya. Walaupun semua sudah mengizinkan itu semua sudah tidak berarti lagi kak." jawab Mimi.
"Siap bilang tidak berarti, adek hanya cepat berputus asa. pasti ada jalannya." ucap kak Syahril.
"Jalan, jalan apa? iya mi!i bisa pergi besok di jam sepuluh atau di jam dua nya, tapi percuma kak... percuma. Percuma," jawab Mimi dengan menahan isak.
"Tidak ada yang percuma dek, mana Mimi yang kakak kenal. Mimi yang pantang menyerah." ucap kak Syahril yang terus !e!berikan motivasi, yang terus menyemangati Mimi untuk bangkit.
"Percuma kak, berangkat besok nyampe nya paling lambat selasa pagi, sedangkan terkahir melapor adalah hari Senin." jelas Mimi.
"Adek bisa mengejar waktu dek, emang nya transportasi hanya bus hmm.. Adek bisa pergi besok pagi." ucap kak Syahril.
Mimi diam dan mencoba mencerna apa yang maksud dari perkataan kak Syahril.
"Besok kita pergi jam delapan, kakak akan mengantar adek besok." jelas kak Syahril, Mimi masih diam.
"Kenapa? nggak percaya? besok kaallak akan antar adek, kota naik pesawat jam delapan " jelasnya saat melihat Mimi tak menghiraukan ucapannya.
"Beneran kak?" jawab Mimi dengan suara getir menhan Isak tangisnya dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, tanya saja sama Mak, bapak, pakdo dan yang lain." ucap kak Syahril dan Mimi pun melihat ke arah emak, bapak dan yang lain. Mereka pun mengangguk.
Mimi yang melihat keluarga nya mengangguk semakin deras air mata nya turun, Mimi langsung !endekt ke arah emak nya dan memeluk erat emak.
"Mak, Mimi janji. Mimi akan membanggakan Mak dan bapak, Mimi akaan buktikan sama orang yang menghina Mak dan bapak kalau anak petani ini bisa menjadi seorang dokter." ucap mi!i dalam dekapan emaknya dengan terisak.
__ADS_1
"Iya nak, makasih atas niat nya. Mak sama bapak cuma bisa berdoa dan berusaha disini, rajin-rajin lah belajar, jaga kesehatan disana nanti." jawab e!ak dengan berderai air mata.
Mimi melepaskan pelukannya dan mencium tangan emaknya berkali-kali, setelah itu Mimi juga mengalami semua dan menciumi tangan mereka berkali-kali dan mengucapkan terimakasih.
Terakhir Mimi mendekat ke kak Syahril dan memandangnya dengan deraian air mata, Mimi langsung memeluk erat kak Syahril dihadapan semuaa keluarganya sambil menangis haru seraya berucap terima kasih.
"Makasih kak, makasih atas pertolongan kakak, Mimi janji Mimi akan belajar dengan giat dan meraihnya. Terimakasih banyak." ucap mi!o dalam dekapan kak Syahril.
"Iya dek, pesan kakak jaga diri baik-baik nanti disana dan terutama jaga hati adek ya?." ucap nya dengan mengelus pundak Mimi.
"Insya Allah kak." ucap Mimi yang masih dalam dekapannya dan kak Syahril juga membalas pelukan Mimi.
"Ehemm ehem" pakdo berdehem dan itu membuat dua insan yang berpelukan melihat ke arah pakdo dan mereka berdua belum sadar akan kelakuan mereka yang masih berpelukan.
"Sudah pelukannya, ingat bukan muhrim." sindir Bi Ida dan seketika Mimi pun melerai pelukannya dan tersenyum kikuk.
"Eh emm." ucap Mimi dan kak Syahril.
"Em tapi dek besok kakak hanya mengantar adek saja, kakak tidak bisa menemani adek buat melapor ke kampus." ucap kak Syahril mengalihkan ketegangan.
"Em." jawab Mimi.
"Maaf ya dek, malamnya kakak langsung terbang lagi ke pedang karena Senin kakak ada mapel pagi." jelasnya.
"Iya kak, kakak hanya !mengantar Mimi saja Mimi senang dna terimakasih banyak." jawab Mimi dengan senyuman.
"Jadi semua sudah bereskan, nah Mi malam ini Mimi beres-beres lah baju dan berkas-berkas nya ala sudah dibereskan juga." ucap bicik.
"Iya Mi, jangan sampe semua berkas kelupaan." timpal emak !mengingatkan.
"Sudah Mak, berkas sudah mi!o siapkan dan sudah Mimi lengkapi dari bulan lalu, pakaian juga sudah Mimi !masukkan ke dalam tas." jawab Mimi dan semua orang tercengang.
"Hah, secepat itu. sejak kapan adek mempersiapkan semua." tanya kak Syahril.
"Hmm semenjak Mimi mendapatkan amplop itu Mimi sudah mempersiapkan nya kak bahkan sudah Mimi masukkan ke dalam stopmap nah kalau pakaian tadi sore Mimi bereskan karena Mimi sudah pasrah dan rencana besok sore sekalian ikut mamak pulang " japelas Mimi dengan senyuman.
Disaat Mimi dan yang lain membicarakan persiapan Mimi kak Ryan dan Di'ah masuk dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum." ucap mereka berdua.
"Waalaikum salam." jawab kami pula.
"Eh kak Ryan, Di'ah." ucap Mimi.
"Iya Mi " jawab mereka berdua.
"Nah, kalau semua sudah beres kita keluar yok." ucap kak Syahril.
"Mak, pak, pakdo, Pakcik, Aril izin ngajak Mimi jalan keluar." ucap kak Syahril meminta izin.
"Oh yaudah, hati-hati." ucap pakdo.
Mak dan bapak pun memberikan izin, akhirnya mereka pun pergi untuk bermalam minggu.
"Oh ya dek, peralatan buat kekampus udah di beli?" tanya kak Syahril saat di perjalanan.
"Emm buku dan pena sudah ada beberapa Mimi beli tadi pagi sama Di'ah." jawab Mimi.
Tak lama mereka pun sampai di mall dan mereka pun guru dari mobil. Mereka berempat langsung masuk mall.
"Oh ya Riil kita nonton apa?" tanya kak Ryan ketika kami telah sampai lantai tiga mall ini.
"Terserah Yan, kalau bisa yang action ya?" jawab kak Syahril.
"Emm kak, temani mimi kesana yuk?" bisik Mimi ke Syahril dan menunjuk ke arah tempat pakaian wanita dan bertuliskan diskon 50%.
"Yaudah ayok." jawab kak Syahril menyetujui keinginan Mimi.
"O ya Yan, kalian duluan saja ya kita mau ke sana dulu." ucap kak Syahril.
"Oke." jawab kak Ryan dan Syahril
langsung menggandeng tangan Mimi menuju stand pakaian wanita.
"Ayo kak," ucap mi!k semangat dengan melihat tulisan 50% tersebut.
"Iya, pelan-pelan." jawab kak Syahril dan Mimi pun memelankan langkahnya dan mereka pun berjalan dengan bergandeng ntangan menuju barang diskonan.
-----tbc------
__ADS_1