
Hari terus berlalu, hubungan Mimi dan Dillah pun semakin dekat. namun hubungannya dengan kedua sahabat belum menampakkan kemajuan.
Disaat duduk bersama di kantin Bu Ruminah, Dillah melihat Mimi seakan tidak akur pada dua sahabatnya. Bahkan bukan hari itu saja Dillah memperhatikan nya, hari-hari sebelumnya pun dia juga telah memerhatikan Mimi yang selalu diam bahkan menjaga jarak.
Dillah diam tapi dia akan mencari tau setelahnya. Dimas, Saridi dan Riko melihat Mimi yang masih enggan menegur mereka hanya menghelakan nafas mereka
Bukan mereka tak ada meminta maaf, mereka bertiga seringkali meminta maaf pada Mimi terutama Saridi dan Dimas. Tetapi
Mimi masih belum juga menerima maaf mereka.
Tanpa Mimi katakan, sebenarnya Mimi sudah memaafkan mereka berdua telah lama. Hanya Mimi ingin melihat mereka berdua untuk mengerti akan dirinya.
Mimi masih cuek pada mereka namun Mimi tidak begitu menghindari mereka lagi.
Dimas sadar akan kesalahannya, dirinya dan Saridi juga terus mendapatkan wejangan dari para sahabat. Akhirnya mereka pun berusaha untuk menerimanya walau berat.
Saridi telah lama sudah mengubur perasaannya, walau rasa itu masih ada. Sedangkan Dimas dia sangat sulit untuk melupakan perasaannya, tetapi dia akan belajar sedikit demi sedikit walau itu sulit.
Saat Mimi dan Dillah jalan berdua seperti malam Minggu ini. Dillah memberanikan diri bertanya soal persahabatan mereka. Sebelumnya Dillah sudah bertanya pada Muthia dan saat ini dia ingin mendengar langsung dari mulut Mimi.
"Dek" panggilnya dan Mimi pun menoleh.
"Aku boleh tanya nggak?" ucapnya, Mimi hanya diam tapi dia merespon dengan mata serta bahu yang diangkatnya.
"Aku lihat kok kamu sama dua sahabatn mu itu seperti kurang akur sekarang." ucapnya.
"Ada apa? apa ada masalah diantara kalian?" tanyanya.
"Maaf bukan maksudnya aku ikut campur, tapi sebaiknya jika ada masalah di selesaikan baik-baik." ucap Dillah dengan melihat ke arah Mimi yang hanya diam.
"Dek." panggilnya lagi.
"Kok diam sih?" tanyanya.Mimi menghelakan nafasnya.
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Huh, Mimi hanya kesal saja sama mereka berdua." jawab Mimi dengan helaan nafas.
"Kesal kenapa? kalau mau cerita, aku dengerin sampai tuntas kekesalanmu" ucap Dillah.
"Emm..Mimi kenal mereka berdua saat masih bimbel. Kenal sama Saridi sejak satu SMP di sahpen bimbel Widya gama hingga Widya persada, kalau sama Dimas kenal dia di sahpen bimbel Widya persada ini."
"Dulu waktu SMP kelas dua Saridi pernah menyatakan perasaannya dan meminta Mimi jadi pacarnya walau kami dipisahkan jarak, kata dia kalau kita gak bisa bertemu dan tidak berjodoh setidaknya ada cerita buat anak cucu."
"Kalau Dimas menyatakan perasaannya waktu Mimi kelas dua SMA, Mimi juga sudah katakan sama dia kalau Mimi sudah punya pacar."
"Tapi ternyata mereka masih memendam perasaan mereka hingga kini. Mimi sudah katakan pada mereka berdua kalau Mimi hanya menganggap dia sahabat dan saudara tak lebih dari itu."
"Mimi juga tau mereka berdua ada yang menyukai dalam diam, Selfia menyukai Saridi sejak awal masuk kampus, begitupula Dimas.. Dia disukai Muthia sejak awal, cuma Muthia tidak berani karena waktu itu dia juga sudah punya pacar di kampung halamannya."
"Mimi tau Selfia maupun Muthia masih ada rasa pada mereka berdua, cuma karena hati mereka terlalu fokus ke Mimi hingga tidak dapat melihat cinta lain."
"Mereka seolah menutup mata hati mereka buat yang lain. Mimi tidak ingin persahabatan kami rusak hanya karena Mimi." Mimi menjelaskan semua kepada Dillah dengan gamblang, Dillah pun hanya diam mendengarkan walau hatinya merasa cemburi karena ada saingan, tapi setelah mendengar kalau Mimi hanya menganggap sahabat atau saudara ada kelegaan dihatinya.
"Hmm sekarangkan kamu ada aku, jadi aku rasa mereka nggak akan ada lagi menyimpan perasaan nya untuk mu," ucap Dillah dengan PD nya.
"Hehee hati nggak ada yang tau kak,Mimi yakin mereka masih berharap sama Mimi makanya Mimi cuekin biar mereka tau bagaimana rasanya tidak dihargai oleh orang lain." jawab Mimi.
"Kamu ini, tapi kasian dek ngeliatnya. Dari tatapan mereka kelihatannya sedih gitu. Udah lah maafin aja mereka, toh kamu sudah ada aku." ucapnya dengan mengedipkan mata sebelah.
"GR, emang Mimi mau sama kakak hahaa" ucap Mimi dan beranjak berdiri berjalan menuju pinggiran pantai.
"Ck mau sampai kapan dek, kau gantung diriku." teriak Dillah dan akhirnya dia pun ikut beranjak dan mengejar Mimi.
Mereka berdua berjalan menelusuri pinggiran pantai, Dillah terus saja menggoda Mimi dan Dillah juga diam-diam mengambil foto Mimi melalui ponselnya.
Semenjak Dillah dekat dengan Mimi, Dillah jarang berkumpul dengan sahabatnya bila weakend.
Bahkan Dillah selalu mengantar kemana Mimi pergi bahkan dia rela mengantar Mimi saat Mimi mendapat pesanan kue.
Hubungan mereka terjalin dengan baik, jika dikampus mereka selalu berdua dan jika ada yang melihat mereka terkadang membuat iri para mahasiswa maupun mahasiswi.
Tak semua orang menyukai kedekatan mereka berdua, segala siasat mereka lakukan namun selalu gagal karena Mimi selalu di jaga oleh Revano, Dillah dan para sahabat.
Beberapa bulan menjalani hubungan tanpa status, Dillah dan Mimi sangat enjoy. Yang mengetahui hubungan mereka tanpa status hanya sahabat-sahabatnya Dillah.
Ummi dan Abi Mimi juga sudah mengetahui jika Mimi dekat dengan laki-laki yangbtakmlain seniornya sendiri. Mereka tidak melarang karena memang bukan wewenang mereka.
Tapi mereka selalu memberi nasehat pada Mimi karena mereka juga tidak ingin melihat Mimi tersakiti.
Mimi juga sudah mengenalkan Dillah pada keluarganya disini ( duo Ummi dan Abi ) bahkan Dillah dengan terang-terangan meminta izin pada mereka kalau dia serius ingin menjalin hubungan dengan Mimi.
Melihat kesungguhan Dillah mereka pun mengizinkan nya asal Mimi bahagia mereka tidak melarang Mimi bergaul atau menjalin hubungan dengan siapa pun.
Bagi mereka Mimi adalah anak mereka walau bukan dari saudara sedarah, tapi mereka sudah menganggap Mimi sebagai keluarga mereka sejak pertama kali mereka bertemu.
Mimi juga telah menceritakan hubungannya dengan keluarga dari Syahril tersebut pada Dillah. Awalnya Dillah merasa ada cemburu dan takut, namun setelah dia melihat sendiri bagaimana interaksi Mimi dan mereka, Dillah pun sadar kalau mereka bagaikan keluarga.
Hampir satu tahun sudah Mimi terbiasa tanpa Syahril begitu pula dengan Syahril.
Syahril terus mencoba mencari bukti-bukti sebanyaknya tentang istri yang tak diinginkannya itu. Walau sedikit susah untuk menyelidiki nya karena sang kekasih Zahra juga bukan orang biasa, namun Syahril sudah mendapatkan beberapa bukti.
Dua bulan ke depan Dillah akan melaksanakan wisuda S2 nya. Dillah meminta kado spesial pada Mimi.
"Dek, dua bulan lagi aku wisuda. Kamu mau nggak dampingi aku?" tanya Dillah.
__ADS_1
"Emm emang orangtua kakak nggak hadir?" tanya Mimi, Dillah hanya menghela kan nafasnya.
"Emm mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri." ucap Dillah dengan menengadahkan wajahnya di atas sandaran kursi taman.
"Kadang aku merasa, aku ini bukan anak kandungnya. Sedari kecil mungkin sedari brojol kedunia hanya si mbok yang menemani ku."
"Bahkan si mboklah yang lebih mengerti dan paham keseharianku." ucap Dillah, Mimi merasa iba mendengarnya.
"Mungkin mereka banyak kerjaan kak, jadi kurang waktunya buat kumpul bersama." ucap Mimi.
"Hmm entahlah.. Mereka lebih memilih pekerjaan mereka dari pada aku darah daging mereka." ucap Dillah.
"Mereka kerja kan buat kakak juga, buat pendidikan kakak." ucap Mimi.
"Hmm kalau orang lain menilai mungkin begitu dek. Jujur saja mungkin selama aku kuliah disini bahkan dari SMA aku menuntut ilmu tanpa uang mereka."
"SD, SMP, SMA mereka tidak pernah tau bagaimana diriku belajar , bagaimana aku mendapat juara kelas, bahkan mereka mungkin tidak mengetahuinya."
"Kata si mbok mereka sibuk bekerja dan mengembangkan bisnis mereka yang telah hancur sewaktu aku berusia dua tahun."
"Kadang aku iri dek, melihat teman-teman sekolahku saat ambil raport di temanin kedua orang tua mereka, sedangkan aku selalu si mbok yang mengambilnya. Jangankan ambil raport, wisuda ku dua tahun lalu aja mereka seolah nggak tau padahal sudah aku beritahu jauh-jauh hari."
"Aku iri melihat Reno, Satria, Yogi dan Bryan. Walau orangtuanya sibuk setidaknya mereka akan menyempatkan diri hadir di hari istimewa mereka." ucap Dillah.
"Emm kamu mau kan temani aku besok?" tanya nya, Mimk tersenyum dan mengangguk.
"Makasih ya sayang." ucapnya bahagia.
"Sayang sayang." jawab Mimi dengan cemberut.
"Ck kamu ni dek, sampai kapan dek kamu gantung diriku ini."
"Kamu mau uji aku gimana lagi, masa iya udah hampir setahun kita dekat kamu belum juga bisa nerima aku"
"Jujur ni ya dek, aku itu takut tau" ucap nya.
"Takut? badan segede ini, umur udah emm tua juga masih aja takut hehhee" ucap Mimi.
"Eh apa kamu bilang.. Tua!! ckk usia kita cuma terpaut lima tahun aja dek." ucapnya.
"Lima tahun lebih kali kak, tua la itu haahhaa" ucap Mimi.
"Kamu ini ya.. Awas kamu ya." ucap Dillah dengan menggelitik Mimi.
"Aduh aduh ampun kak, aduh hahaa masa dah tua nggak mau ngaku, ampun kak geli kak." ucap Mimi yang kegelian namun masih meledek Dillah.
"Ampun nggak, janji nggak bilang aku tua lagi." ucapnya yang masih menggelitik Mimi.
"Iya iya ampun.. janji nggak janji hahaa" ucap Mimi.
Dillah menelisik wajah Mimi sedari dekat. Wajah yang cantik ayu dan manis. Hidung yang tak terlalu mancung maupun pesek, memiliki bibir yang menggoda imannya.
Dillah mengangkat tangannya sebelah dan mengelus wajah Mimi. Mimi yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa deg degan.
Jantungnya merasa berdetak kencang, Mimi pun melihat wajah Dillah secara dekat, wajah yang berjambang halus, hidung mancung, manik mata yang hitam dengan sorotan mata yang tajam, bibir tipis sensual. Mimi terpesona melihatnya, begitu pula dengan Dillah yang juga terpesona melihat Mimi.
Perlahan Dillah memajukan wajahnya ke arah Mimi dan Mimi memejamkan matanya, hanya deruan nafasnya yang naik turun dengan detak jantung yang tak beraturan.
Mimi terasa jika hidungnya tersentuh oleh hidung Dillah dan saat Dillah akan menyatukan bibir nya ke bibir Mimi ada orang yang menggagalkan aksinya.
"Woiiii" ketiga sahabat Dillah mengagetkan sehingga Mimi maupun Dillah kaget, Mimi segera membuka matanya dan memundrukan dirinya. Sedangkan Dillah merasa kesal pada ketiga sahabat yang telah mengganggu dirinya.
"Ckk kalian berdua ini ya. Tau nggak ini tempat umum." ucap Reno.
"Dan Lo Dil, niat amat ampe nyari tampat yang sedikit sepi gini." ucap Satria menimpali dan ikut duduk di kursi memepet Dillah.
"Hahaaa kelihatan kesal wajah Lo Dil." ucap Yogi.
"Ckk awas aja kalian." ucap Dillah penuh kesal.
"Hahaaa atuut" ledek Yogi..
"Ada apa? kenapa kalian tiba-tiba nyusul?" tanya Dillah pada ketiga sahabatnya.
"Nggak ada apa-apa cuma mau ngajak kalian berdua makan dah siang soalnya." ucap Satria.
"Iya emang pacaran nggak makan kenyang gitu?? ckk Lo Dil pelit amat usahkan ada makanan minuman pun nggak Lo beli." ucap Yogi.
Dillah pun menyetujui dan mereka pun beranjak dan pergi ke warung bakso yang mana pertama kali Dillah mengajak Mimi, sesuai dengan request Mimi mereka pun makan bakso disana.
Saat sampai di warung bakso, mereka langsung memesan ke bapak penjual baksonya.
"Oh ya Dil, Mi kalian dah jadian?" tanya Reno, Mimi melihat ke arah Dillah dan kembali ke arah Reno dan menggeleng.
"Bhuahahaaa" Satria dan Yogi tertawa melihat Mimi menggeleng.
"Kasiannya yang di gantung " ejek Satria pada Dillah, Dillah hanya mendegus kesal.
"Ckk mau sampai kapan Mi, kamu gantung Dillah" ucap Reno.
"Emm maaf kak. Nama kakak sebenarnya siapa sih?" Mimi mengabaikan pertanyaan Reno, Mimi malah bertanya pada Dillah, para sahabat Dillah saling pandang dan tertawa puas.
"Bhuahahaaa."
"Ya ampun Dil, emang selama ini Lo kasih nama apa ke Mimi sampe-sampe Mimi nggak tau nama Lo." ucap Reno, Mimi hanya diam melihat mereka tertawa.
__ADS_1
"Emang kamu nggak tau Mi?" tanya Satria.
"Lah dia ngenalin diri ke kamu pakek nama apa?" tanya Yogi dengan menggelengkan kepala.
"Emm ya bingung aja, liat kalian manggil nya Dil Dil." jawab Mimi.
"Lah emang namanya Dillah Mi Mi.. Emang dia ngasih nama ke kamu apa?" Ucap Satria.
"Said Abdillah terus kata nya panggilannya Said." jawab Mimi.
"Nah Lo Mi kamu dibohongi tuh sama dia." Ucap Satria mempermainkan Mimi dan Dillah.
"Wah Mi, gila Lo Dil kasih nama beda sama Mimi." sambung Yogi yang juga ikit ngerjain Dillah.
"Pantesan Lo selalu di gantung ampe saat ini." imbuh Reno, Dillah hanya mendengus dan menghelakan nafas panjang mendengar kepolosan Mimi.
"Emang sebenarnya namanya siapa kak?" tanya Mimi lagi.
"Lah selama ini kamu nggak tau?" tanya Reno dan Mimi menggeleng.
"Mimi tau nya kak Said." jawab Mimi.
"Namanya emang Said Abdillah Mi, kami dari SMP dulu manggilnya Dillah, hanya dua orang saja yang manggil dia said dan ketiga nya kamu." ucap Reno.
"Yang manggil dia Said itu si mbok dan papinya saja, kalau maminya ya Dillah." terang Reno lagi.
"Kok beda-beda?" tanya Mimi.
"Tanya aja ma orangnya langsung." jawab Reno dan Mimi pun melihat ke arah Dillah, Dillah yang dilihat pun hanya mengenalkan nafasnya.
"Kakak juga nggak tau kenapa beda." jawabnya.
"Tapi papi kalau depan mami juga manggilnya Dillah." imbuhnya.
"Oo" ucap Mimi. Semua melihat ke arah Mimi.
"O doang Mi?" tanya Yogi.
"Iya terus apa lagi, kan dah di jelasin" jawab Mimi, mereka mendengarnya malas.
"Yaudah ayo di makan baksonya sudah hangat nih." ajak Satria, mereka pun mulai meracik bakso masing-masing.
Dillah selalu memperhatikan cara Mimi meracik baksonya. Reno dan yang lain pun juga.
"Gila nggak pedas tuh Mi?" celetuk Satria melihat Mimi memasukkan 4sd sambal.
"Nggak." jawab Mimi
"Mau coba!" ucap Mimi, Satria langsung menggeleng.
"Emang orang Sumatera suka pedas-pedas ya?" tanya Yogi.
"Nggak juga kak, tapi kebanyakan iya hehe." jawab Mimi.
Mimi melihat ke arah Dillah yang memperhatikan baksonya.
"Kenapa kak? mau nyoba?" tanya Mimi.
"Apa nggak kepedesan kamu dek?" tanya dek.
"Nih coba dulu baru komentar." ucap Mimi dengan menyendokkan bakso kecil beserta kuahnya ke arah Dillah.
Dillah tak akan melewatkan kesempatan ini, diapun membuka mulutnya dan menerima suapan Mimi tuk pertama kalinya.
"Gimana?" tanya Mimi.
Reno, Yogi dan Satria melongo melihat Mimi menyuapkan bakso pedas ke Dillah dan hal itu langsung di jepret bahkan direkam sama Reno. Reno ingin melihat reaksi Dillah yang ketangkap video dengan mangap-mangap kepedasan
Namun yang terjadi tidak sesuai ekspektasi Reno, dia melongo melihat Dillah dengan santainya mengunyah bakso tersebut.
"Enak, rasanya jadi beda." komentar Dillah dan itu membuat Satria Reno serta Yogi menelan salivanya dengan susah payah.
"Beneran Dil?" tanya Satria dan Dillah mengangguk.
"Mau dong Mi nyicip aaak" ucap Satria dan langsung dapat toyoran dari Dillah.
"Enak aja ak ak ak, makan sendiri sono " ucap Dillah dengan menatap Satria tajam.
"Ckk belum apa-apa aja Lo dah pelit Dil." ucap Satria.
"Makam sendiri " ucap Dillah, Mimi hanya tersenyum dan akhirnya mereka pun makan bakso bersama, namun Dillah selalu meminta disuapin Mimi karena katanya bakso dimangkoknya nggak ada rasa.
"Dek suapin lagi dong? bakso ku nggak ada rasa." ucapnya.
"Ah masa sih kak, sini biar Mimi racikan." ucap Mimi dan mencicipi bakso Dillah untuk mengetahui apa yang kurang, setelah menambahkan beberapa sendok kecap, saos sambal serta cabe dan cuka Mimi meberikan pada Dillah.
Tetapi Dillah tetap meminta Mimi menyuapinya karena katanya masih ada yang kurang.
"Kurang dek." ucapnya. "Suapin punya adek aja." imbuhnya.
"Halah modus Lo Dil modus modus." ucap Satria.
"Jangan percaya Mi, itu modus." ucap Yogi, Dillah cuek saja dan akhirnya Mimi pun menyuapinya,setelah habis bakso Mimi maka gantian baso di mangkuknya disuapin ke Mimi.
tbc
__ADS_1