
Mimi dan bersama para istri tim dokter saling bertegur sapa dengan warga di gerbang di pintu masuk tenda.
Tak hanya Mimi, Syahril pun sedang bertegur sapa dengan para tim dokter dan para warga.
Para pemuda dan dua anak kecil sedang bernegosiasi taruhannya. Iya mereka sedang bertaruh untuk mendapatkan Mimi.
"Emm bang, tapi kami dak ado nak di taruhkan." ucap Soni.
(bang, tapi kami tidak ada yang mau di taruhkan).
Tampak Deri berpikir dengan memegang dagu seraya melihat kearah dua anak kecil itu
"Emm, macam ni. Kalu kamu baduo menang, Abang bagi kamu baduo sejuta Sorang. Tapiiii kalu Abang menang, kamu baduo kerjo di ladang Abang selamo sebulan. Macam Mano?" ucap Deri, Soni dan Raka saling pandang untuk menimang.
( Emm, begini. Kalau kalian berdua menang, Abang akan kasih kalian berdua satu juta per orang. Tapii kalau Abang yang menang, kalian berdua kerja di ladang Abang selama satu bulan, bagaimana?)
"Emm, bang. Kalu sebulan mano biso bang, kami bulan depan la masuk sekolah.'' ucap Soni.
( Emm, bang. Kalau satu bulan mana bisa bang, kami bulan depan sudah masuk sekolah).
Tampak Deri berpikir lagi dan menimang omongan anak kecil ini.
"Emm macam tu, tanggal berapo kamu beduo sekolah?" tanya Deri.
"Awal taun depan kami la balek ke kosan bang." jawab Raka. Deri menghitung waktu menjelang awal bulan depan dan dia manggut-manggut setelah ide nya datang di sebongkah otak nya.
"Emm berarti kurang lebih 3minggu lagi dak " ucap Deri, Soni dan Raka mengangguk.
Ya Soni dan Raka libur panjang tahun ini karena sekalian libur natal dan tahun baru.
"Emm oke, kalu macam tu, selamo tu kamu baduo kerjo di ladang Abang dari lagi sampe sore selamo tu. Macam mano, setuju.. hmm." ucap Deri.
(Emm oke, kalau begitu selama itu pula kalian berdua kerja di ladang Abang dari lagi sampe sore. Bagaimana, setuju?" ucap Deri.
"Oke, siapa takut." jawab Raka dan Soni serentak. Mereka yakin jika mereka berdua lah pemenang nya, tapi apa yang mereka lakukan merupakan sifat yang tak terpuji.
"Kalu macam tu kito mulai kini tu. Kamu baduo harus siap-siap mulai besok pagi harus kerjo di ladang Abang." ucap Deri
(Kalau begitu kita mulai sekarang, kalian berdua haru siap-siap, mulai besok pagi harus kerja di ladang abang)
"Oke" jawab Soni dan Raka. Raka melihat tak jauh dari mereka, Syahrill berdiri berdua dengan Ryan karena para rekan serta warga yang berdatangan telah masuk kedalam tenda untuk menikmati hidangan.
Raka tersenyum dan dia mulai menjalankan aksinya menerima tantangan para o muda kampung ini.
"Pak dokter" panggil Raka dengan berteriak dan melangkah menuju Syahril dan Ryan, Syahril dan Ryan awalnya tidak menanggapi namun Raka memanggil kembali
"Pak dokter Syahril," panggil Soni
"Pak dokter Ryan" panggil Raka, syahril dan Ryan pun menoleh ke arah mereka dan tersenyum.
"Kalian" ucap Ryan.
"Iya pak dokter, pak dokter mau es?' ucap Raka.
"Tidak terimakasih." jawab Syahril
Saat Raka dan Soni berbicara dengan Ryan dan Syahril. Deri mulai mendekati Mimi yang juga hendak berjalan masuk kedalam.
"Hai" sapa Deri yang telah berada di Samling Mimi. Mimi hanya tersenyum.
"Masya Allah senyummu manis sekali dek." ucap Deri memuji senyuman Mimi,menaikkan alisnya sebelah
"Makasih" jawab Mimi.
"Emm sepertinya kamu bukan orang sini, boleh kenalan ndak?" Deri memulai aksinya, namun aksinya tersebut di lihat oleh Ryan dan Ryan menyikut lengan Syahril. Syahril menoleh ke arah Ryan yang menyikut lengan nya dan Ryan memberitahu Syahril ke arah dimana yang dia lihat dengan mata serta dagunya.
Tak hanya Deri, pemuda yang lain juga mencoba aji mumpung mereka pada Di'ah.
Syahril pun melihat ke arah yang di tunjuk Ryan, Syahril hanya diam dan ingin melihat bagaimana upaya pemuda itu mendekatkan Mimi.
Soni dan Raka pun melihat ke arah Deri dengan tersenyum dan otak mereka mengumpati Deri.
"Kamu siapa namanya?" tanya Deri dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mimi Akifah." jawab Mimi.
"Waw namnya yang cantik secantik orangnya." gombal Deri,
"Kenalkan namaku Deri." ucap Deri dengan mengulurkan tangannya, Mimi hanya melihat dengan tersenyum dan kemudian Mimi menyatukan kedua tangganya di dada dan mengangguk sedikit, Deri pun menarik kembali uluran tangannya.
"Terima kasih" jawab Mimi seraya hendak berjalan masuk kedalam.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Deri dan Mimi pun menghentikan langkahnya.
"Di jambi.'' jawab Mimi dan hendak melangkah kembali, Deri masih mengikuti Mimi.
"O di Jambi, boleh minta alamat lengkapnya?" ucap Deri lagi-lagi Mimi berhenti dan melihat ke arah Deri
"Buat apa?" tanya Mimi.
"Buat meminangmu." jawab Deri, Mimi hanya menggelengkan kepala dan dia kembali melangkahkan kakinya, namun di cegah sama Deri dengan memegang tangan Mimi. Mimi terkejut kala deri memegang tangannya
__ADS_1
Aksi Deri itu pun tak luput dari pandangan Syahril dan Ryan serta dua anak kecil Soni dan Raka.
Syahril melipat kedua tangannya dan diletakkan ke atas perutnya dengan mata terus memperhatikan ke arah Mimi.
Mimi masih melihat tangan Deri yang memegang tangannya. Mimi juga memandang Deri dengan tatapan tajam.
"Maksudnya apa ini?" ucap Mimi.
"Aku ingin mengajakmu masuk bersama." ucap Deri dengan senyum.
"Bagaimana, maukah kau jadi istriku?" ucap Deri lagi
"Oo, tapi maaf. Saya sudah punya suami." ucap Mimi dan melihat ke arah Syahril dengan tersenyum, Deri pun melihat ke arah dimana Mimi melihat.
"Dia suamiku." ucap Mimi dengan mengaku Syahril suaminya.
Para pemuda terdiam mendengar pengakuan dari Mimi.
Mimi menganut tangannya ke arah Syahril untuk mendekat ke arah nya, Syahril pun perlahan berjalan mendekat ke arah Mimi.
Ryan yang juga melihat sang istri tak luput dari serangan pemuda ia pun langsung berjalan mendekati Di'ah.
Dengan posesifnya Ryan memeluk pinggang Di'ah.
Tak hanya Ryan, Syahril pun melakukan hal yang sama.
"Ada apa yank?" tanya Syahril dengan tangan merangkul pinggang Mimi.
"Ndak ala yank, ini ada yang mau kenalan." ucap Mimi, Syahril melihat ke arah Deri.
"Emm" jawab Syahril dingin memandang Deri dan Erik di sampingnya.
"Lo bukannya dokter Syahril belum menikah ya?" tanya Deri.
"Siapa bilang!" ucap Syahril dengan menunjukkan cincin yang melingkar di jari Mimi dan jarinya.
Deri terdiam ketika melihat jari manis Mimi terpasang cincin yang berbentuk serupa dengan Syahril.
Tak hanya Deri yang memperhatikan cincin itu, Erik pun juga. Punah sudah perasaan Erik ketika melihat cincin itu.
Deri pergi tanpa sepatah kata, tali tidak dengan Erik dia berpamitan dan meminta maaf mengatasnamakan nama Deri.
Syahril menggandeng Mimi menuju masuk kedalam, Mimi menyangka Syahril mengajaknya untuk menyantap hidangan prasmanan namun ternyata Syahril langsung mengajak Mimi naik ke pelaminan untuk beralaskan mengucapkan selamat serta pamit.
"Kak, makan dulu Napa?" ucap Mimi. Syahril hanya diam tak menanggapi dan terus mengajak Mimi keluar. Mimi hanya bisa pasrah dan menghelakan nafasnya.
"Padahal tadi nahan makan supaya bisa makan rendang." gumam Mimi.
Mereka berempat telah masuk kedalam mobil, mereka yang awalnya berniat ke bukit menjadi pergi ke kecamatan.
Syahril mengajak Mimi dan yang lain makan di rumah makan Padang.
Sehabis makan, mereka berbelanja untuk kebutuhan rumah mumpung mereka berada di kecamatan. Setelah itu mereka langsung pulang.
Saat malam hari, seperti biasa Mimi akan mengajari anak-anak belajar, ternyata Riki membawa dua kantong plastik berisi lauk-pauk yang sudah terbungkus plastik dari rumah Kadus.
"Bu dokter, ini dari pak Kadus. Tadi emak ngantar ibu Ndak ada di rumah." ucap Riki.
"Oh iya tadi lagi keluar, makasih ya Ki." jawab Mimi dan menerima bungkusan itu dan segera Mimi letakkan ke dalam kulkas.
Sehabis mengajari anak-anak, Mimi pergi kedapur dan hendak memanasi lauk pauk yang di bawa Riki.
Begitu banyak rendang, serta sambal yang diberi. Mimi memanasi lauk pauk tersebut sehingga aroma khas rendang semerbak memenuhi area dapur.
Mencium aromanya itu perut Mimi menjadi lapar kembali dan Mimi pun kembali makan di malam menjelang tengah malam itu.
Syahril melihat Mimi mengambil piring dan nasi dia pun ikut mengambil piring.
"Kak" ucap Mimi.
"Lapar." ucap Syahril, Mimi mengangguk dan mengambil piring di tangan Syahril dan mengambilkan nya nasi. Mereka berdua pun makan di tengah malam.
Keesokan hari, seperti biasa mereka akan melakukan aktifitas seperti biasanya.
Kali ini sarapan mereka dengan lauk rendang dari hajatan kemaren. Sehabis sarapan mereka langsung berangkat kerja kecuali Mimi.
Seharian Mimi di rumah, durian dari orang tua Sofyan begitu banyak bahkan mereka mengantar lagi sore kemarin satu karung yang telah di letakkan ayah Sofyan di belakang rumah.
Mimi mengupas durian-durian tersebut, Mimi juga memisahkan daging durian dari bijinya. Mimi berencana akan membuat gula durian (selai). Sambil memisahkan durian dari biji, Mimi pun memakan durian itu hingga tak tau berapa banyak dia menyantap durian itu.
Durian yang memiliki daging yang tebal serta bini yang tidak besar. Daging yang lunak, lembut bak kapas serta pulen dan manis yang pas membuat Mimi tidak bosan untuk memakannya.
Saat Mimi asik menyantapnya, anak-anak pun tiba.
"Assalamualaikum Bu dokter." ucap mereka berempat.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dengan senyum.
"Sini naik, kita makan durian." ucap Mimi mengajak mereka makan durian bersama.
"Kalian bawa sepeda ndak?" tanya Mimi.
__ADS_1
"Bawa Bu, ibu mau beli apa?'' tanya Soni.
"Emm tolong belikan ibu kacang hijau, kita buat bubur kacang hijau pakek durian." ucap Mimi, Soni pun mengangguk.
Soni langsung pergi setelah menerima uang dari Mimi.
Daging buah yang sudah terpisah dari biji langsung Mimi olah, Mimi memasaknya dengan api kecil hingga durian tersebut menjadi kuning kecoklatan.
Soni juga telah sampai rumah, Mimi segera merebus kacang hijau. Riki dan Sofyan mereka berdua mengambil kelapa tua di belakang rumah dan mereka mengupasnya serta langsung pergi untuk memarutnya ke rumah Riki.
Karena tidak ada kegiatan dan sambil menunggu kacang hijau lembut, Mimi hendak menyiangi ikan gabus dan mengambil dagingnya. Rencana Mimi akan membuat pempek dari daging ikan tersebut.
Alih-alih Mimi yang akan menyinari ikan namun Sofyan mengambil alih untuk menyianginya.
Hari ini Mimi hanya masak sayur untuk mereka, Mimi tidak masak lauk pauk karena rendang serta sambal dari rumah Kadus begitu banyak.
Ikan telah bersih dan di pisahkan dari kulit dan tulang, setelah itu Mimi langsung haluskan dengan pirik an ( penggiling/penggilas manual yang terbuat dari tembaga berbentuk bulat dan ada lubang-lubang kecil di tengahnya ).
Daging ikan telah di haluskan setelah itu Mimi masukkan garam, penyedap rasa, telur dan sagu/tapioka serta irisan bawang merah untuk menambahkan cita rasa, Mimi aduk rata hingga bisa di bentuk bulatan.
Mimi didihkan air setelah itu Mimi bentuk daging ikan tadi berbentuk bulatan seperti bakso dan segera di masukkan kedalam air yang telah mendidih, Mimi buat secara berulang dan hingga bulatan didalam air didih mengapung yang menandakan bahwa pempek telah matang.
Sambil menunggu pempek yang lain matang, Mimi memblender cabe rawit merah bawang putih serta ebi untuk cuko pempek.
Gula merah yang telah Mimi cairkan Mimi saring untuk membuang kotoran yang sering ada pada gula merah setelah itu Mimi didihkan kembali bersama cabe yang telah di haluskan, setelah mendidih Mimi masukkan garam serta cuka makan/air asam Jawanya.
Pempek yang direbus semua telah matang, Mimi kembali memasaknya dengan cara menggoreng, setelah masak Mimi pun menyajikannya dan makan bersama anak-anak di pondok dekat sungai. Tak lupa es kelapa muda yang selalu menemani di kala dahaga di siang hari.
"Ayo anak-anak makan pempeknya selagi hangat." ucap Mimi dan mereka pun mengambil piring kecil yang disediakan Mimi dan mereka mengambil cuko pempek nya.
Mereka berlima makan pempek di siang hari di tepian sungai kecil belakang rumah sambil bercerita serta canda tawa.
Soni dan Raka akhirnya menceritakan perihal taruhannya, mereka berdua meminta maaf kepada Mimi karena telah menjadikan Mimi sebagai barang taruhan.
"Bu dokter maafkan Raka." ucap Raka penuh penyesalan.
"Iya Bu, Soni juga minta maaf." ucap Soni dengan tertunduk.
Sofyan dan Riki marah kepada kedua adik mereka, mereka tidak habis pikir dengan pemikiran kedua adiknya.
"Kenapa kalian bisa berpikiran macam itu!" ucap Riki menahan kesal.
"Kalian ini!" ucap Sofyan yang juga menhan kesal.
"Kami lakukan itu karno Dio orang terus mandangi Bu dokter." ucap Soni dengan tertunduk.
( kami lakukan itu karena mereka terus melihat dokter Mimi )
"Iyo, Dio orang dak cayo kalu Bu dokter la ado laki." sahut Raka.
(iya mereka tidak percaya kalau Bu dokter sudah ada suami)
Saat Riki akan memarahi Raka, Mimi langsung mencegahnya.
"Sudah-sudah, Riki sudah." ucap Mimi.
"Terus kamu beduo taroan pakek apo?" tanya Sofyan.
(Terus kalian berdua taruhan pakai apa?)
"Emm kato Abang tu, kalu kami menang Dio bagi kami duit sejuta sorang." ucap Raka jujur.
(Emm kata Abang itu, kalau kami menang dia kasih kami uang satu juta per orang )
"Terus kapu kamu baduo kalah?" ucap Riki.
(Terus kalau kalian kalah?)
"Kami baduo di suroe kerjo di ladang dio menjelang masuk sekolah." kali ini Soni yang menjawabnya dengan kepala tertunduk. Mimi hanya menggeleng kepala.
(Kami berdua di suruh kerja diladang dia menjelang masuk sekolah)
"Lain kali jangan ulangi ya?" ucap Mimi dan mereka pun mengangguk.
"Sekali lagi maafi kami Bu dokter." ucap Soni dan Raka, Mimi mengangguk dan tersenyum.
"Iya" jawab Mimi, mereka berdua mengambil tangan Mimi dan mencium punggung tangan Mimi.
"Terus apo Abang tu kasih duit ke kamu baduo?" tanya Sofyan yang ada rasa penasaran.
(Terus apa Abang itu kasih kalain berdua uangnya)
"Ado" ucap Raka dan Soni, Mimi melongo tidak percaya abegitu pula Sofyan dan Raka.
"Jadi kalian terima?" tanya Mimi dengan senyuman.
"Iyalah Bu, kan Abang tu kalah." jawab Raka, Mimi hanya menggeleng dan tersenyum.
Siang itu mereka pun bercerita bagaimana Deri mengaku kekalahannya dan memberikan Soni dan Raka uang masing-masing satu juta.
__ADS_1