DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
tidak enak hati


__ADS_3

Jam setengah enam Mimi pun baru tiba di rumah, saat tiba terlihat orang-orang pada menurunkan barang dari mobil pickup juga.


Syahril, Ryan dan Di'ah tidak fokus pada orang yang berlalu lalang membantu mereka mengangkat barang berupa kulkas mesin cuci, mesin diesel dan sebagai nya karena pikiran mereka tertuju ke Mimi yang belum juga tampak batang hidungnya.


Dengan santainya Mimi masuk kedalam rumah setelah dia menyuruh karyawan bapak pemilik toko tadi untuk membawa barang-barang yang dia beli masuk kedalam rumah.


Ryan, Di'ah dan Syahril hanya melongo melihat orang yang di khawatirkan senyam senyum ketika masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum" ucap Mimi dengan senyum.


"Waalaikum salam" jawab mereka semua, Syahril memasang muka dingin nya, Mimi semakin melebarkan senyumnya.


"Itu barang-barang siapa?" tanya Mimi tapi tidak ada yang ngejawab.


"Bu, semua sudah turun." ucap karyawan toko simpang.


"Oh iya makasih ya." jawab Mimi.


"Kak Ryan ya yang beli?" tanya Mimi lagi.


"Bukan mi, tali kak Syahril." jawab Di'ah.


"Ooo benar yank? emang kuat aliran listriknya?" ucap Mimi ketika melihat ada kulkas dan mesin cuci.


"Syahril sekalian beli diesel mi." kali ini Ryan yang menjawab, Syahril masih menatap Mimi dingin.


"Oo, gitu, terus dieselnya di taruh mana?" tanya Mimi lagi.


"Tuh lagi di coba taruh belakang." sahut Di'ah,.


"Hah, taruh belakang. Apa Ndak kehujanan kalau hujan." ucap Mimi lagi, kali ini Mimi tidak menghiraukan Syahril yang sedang mood marah.


"Emm itu sekalian juga di buat tempat sementara sama pak Tamso." ujar Ryan


"Oo.." ucap Mimi dan berlalu pergi menuju dapur untuk melihat sendiri.


Saat Mimi melangkah, tangannya di cekal sama Syahril. Mimi pun menghentikan langkahnya dan melihat ke arah tangan yang sudah di genggam Syahril, Mimi pun melihat si pelaku cekal itu.


"Adek dari mana!" ucap Syahril dingin.


"Dari belanja di simpang." jawab Mimi.


"Kenapa ndak kasih tau?'' ucapnya lagi.


''Mau kasih tau siapa? pakek apa?" jawab Mimi.


"Kak adek bisa kasih tau Ryan atau Di'ah kalau mau pergi. Jadi orang tidak khawatir." ucap Syahril lagi.


"Bagaimana Mimi mau kasih tau? Mimi bangun tidur rumah sudah kosong, pintu saja di kunci dari luar." ucap Mimi dan melepaskan genggaman tangan Syahril di lengannya dan kembali melangkah ke dapur.


Mimi melihat orang sedang berkerja membuat tempat mesin diesel. Mimi melihat tidak ada minuman atau makanan yang disajikan dekat orang yang berkerja itu.


Dengan inisiatif sendiri Mimi langsung memasak air, setelah mendidih Mimi langsung membuat teh dan menaruhnya kedalam teko yang baru dia beli dan sudah. dia bersihkan terlebih dahulu.


Setalah memasak air dan membuat teh Mimi menggoreng ubi jalar/rambat pakai tepung sebagai teman teh nya.


Diah dan Ryan masih di ruang tengah mengatur tempat untuk tv yang di beli Syahril. Mimi hanya menghelakan nafasnya saja melihat orang yang tidak memperdulikan orang lain.


Satu penggorengan ubi pun telah masak dan Mimi tiriskan, setelah itu Mimi menggorengnya lagi. Setelah dua hingga tiga kali penggorengan baru Mimi sajikan di atas piring untuk orang yang membantu berkerja memasang tempat mesin.


Ryan saat ke dapur melihat Mimi sibuk membuat makanan dan minuman untuk orang yang berkerja merasa tidak enak hati Bahakan ada rasa kagum di hatinya melihat Mimi yang memiliki hati yang baik seperti itu.


"Pak, ayo di cicip dulu ubi gorengnya." seru Mimi pada bapak-bapak yang sedang berkerja itu.


"Ya Bu dokter makasih." jawab mereka berempat. Ya yang membuat tempat mesin ada empat orang.


"Katanya buat sementara kok sampe buat baru pak?" tanya Mimi.


"Iya Bu dokter, tanggung biar sekalian buat baru saja di samping sini." seru mereka dengan memasang kayu broti sebagai tiang, dan papan pun sudah ada di atas tiang yang sudah berdiri tegak itu.


"Ayo pak, istirahat dulu." ucap Mimi.


"Iya Bu dokter." jawab mereka dan mulai mengambil air putih yang juga Mimi sediakan. Meraka mencuci tangan di kran yang ada di belakang dan mereka pun mulai memakan ubi goreng.


"Ayo pak dimakan jangan malu-malu." ucap Syahril.


"Maaf ya pak, kalau minuman dan makanan nya baru keluar." ucap Syahril merasa tidak enak hati karena sedari tadi mereka berkerja baru saat ada Mimi keluar minuman serta gorengan.


"Iya pak ndak apa-apa, ini saja kami berterimakasih." ucap salah satu bapak yang berkerja.


Saat adzan Maghrib mereka menghentikan pekerjaannya.


"Oak dokter, Bu dokter kami pulang duku buat sholat maghrib,nanti sehabis sholat kami kesini lagi buat menyelesaikan nya." ucap pak Tamso.


"Oh iya pak, kau capek lanjut besok saja pak." seru Mimi.


"Ndak apa Bu dokter, biar cepat selesai dan mesinnya biar cepat bisa dipakai." ucap pak Tamso.


"Oh gitu ya pak, kalau begitu terima kasih banyak ya pak." ucap Mimi dengan ramah.


"Sama-sama Bu dokter," jawab mereka. Setelah mereka pergi Mimi dan Syahril bergegas mengambil wudhu dan mereka berdua pun sholat berjamaah di kamar.


Sehabis sholat mereka berdua mengaji sebentar. Saat mengaji Mimi baru teringat kalau lauk mereka malam ini belum di masak.


"Ya Allah." ucap Mimi.


"Kenapa dek?" tanya Syahril.


"Emm Mimi belum masak lauk." jaaabbniki dan bergegas menyudahi mengajinya.


"Shadaqallahul-'adzim' (صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ)" ucap Mimi


Yang artinya adalah "Maha benarlah Allah yang Maha Agung".

__ADS_1


Sehabis menyelesaikan mengajinya Mimi langsung membereskan muk Nany dak langsung beranjak menuju dapur.


Syahril hanya menggeleng melihat Mimi yang begitu antusias untuk memasakan untuk makan malam mereka.


Syahril pun menghentikan mengajinya dan membereskan alat sholat nya serta menyusul Mimi kedapur dengan masih memakai Koko dan sarung.


"Emm kak" panggil Mimi saat melihat Syahril.


"Hemm, blender ini bisa di pakai ndak." ucap Mimi dengan menunjuk blender yang berada di atas kulkas.


"Kulkas nya saja bisa pakek dek apa lagi blender." ucap nya.


"Hah benaran, emang kuat daya nya." ucap Mimi lagi.


"Iya tadi kakak kerumah pak kadusnya dan itu sudah di ganti jadi kuat pakai kulkas, tv, dan semuanya." ucap Syahril.


"Wah benaran, kalau gitu percuma dong Miki beli batu giling." ucap Mimi nanar melihat batu giling yang berada di lantai itu.


"Ya ndak apa lah, suatu saat pasti di pakek." ucap Syahril.


"Mana cabe nya biar kakak yang blenderin." ucap Syahril. Mimi pun memberikan cabe, bawang merah serta tomat yang sudah di cuci bersih pada Syahril.


Syahril membuka dan mengeluarkan blender dari kardusnya. Tak lupa dia cuci terlebih dahulu sebelum di gunakan.


Mimi melanjutkan mengiris cabe serta bawang merah dan bawang putih untuk menumis kangkung yang sudah dia cuci bersih.


"Kok banyak nian dek numis kangkungnya?" tanya Syahril.


"Iya kak, kalau bapak-bapak yang kerja bagi datang di ajak makan sekalian." jawab Mimi sbil menumis irisan cabe dan bawang hingga harum baru dia masukkan kangkungnya.


"Kalau dah ada kulkas ndak bingung lagi Mimi nyimpan sayuran ini." ucap Mimi dengan menunjukkan terong, kacang panjang, timun dan pare. Sambil menunggu sayur kangkung masak dengan cekatan Mimi menyimpan sayurannya di kedalam kulkas.


"Di'ah sama Ryan mana, ko ndak kelihatan?" tanya Syahril.


"Lagi bercocok tanam kali." jawab Mimi asal, dengan mencicipi sayur kangkungnya.


"Emang puas bercocok tanam perut kosong." ucap Syahril membantu Mimi menumis cabe yang sudah di blendernya.


"Emm entah." jawab Mimi dengan memindahkan sayur kangkung kedalam wadah.


Miki segera mencuci wajan bekas menumis kangkung dan blender biar tidak begitu banyak menumpuk cucian piringnya nanti.


Setelah semua selesai Mimi dan Syahril menyajikan nya di atas meja.


"Emang sambal pagi tadi habis dek?" tanya Syahril dan Mimi hanya tersenyum, Syahril hanya mengangguk paham.


Saat Mimi menyajikan hasil masakan mereka, Ryan masuk kedapur namun hanya sebatas pembatas nya saja.


"Oh ya Riil kau mau lauk apa?' tanya Ryan.


"Lauk?" tanya Syahril.


"Iya, Di'ah ndak masak, pasti Mimi juga kan. Bahan juga pasti ndak ada juga." ucap Syahril


"Bilang ndak ada bahan, itu banyak sayuran, cabe juga ada." ucap Syahril dengan menunjuk ke arah bayam dan kangkung yang sudah Mimi tiriskan dari air rendaman nya.


"Niat tu ndak ado." ucap Syahril lagi, kata-kata Syahril terakhir membuat Ryan tak enak hati dan malu.


"Hmm maaf, mungkin dia ndak nampak." ucap Ryan lagi.


"Kak" ucap Mimi lada Syahril yang hendak berucap lagi, Syahril pun menarik nafasnya dalam.


"Udah kak, ajak Di'ah nya kita makan serempak." ucap Mimi, Ryan pun mengangguk dan berlalu kembali masuk kedalam kamarnya.


"Ayo yank, aku dah siap." ucap Di'ah.


"Ndak jadi, Mimi sudah masak." ucap Ryan.


"Hah, masak apa? kan ndak ada apa-apa di dapur.'' ucap Di'ah.


"Ndak ada apanya dek, apa adek sudah periksa?" ucap Ryan Di'ah menggeleng.


"Lain kali periksa dek, malu lah kakak saat kakak menawarkan mereka mau beli lauk apa ternyata mereka sudah siap masak."


"Dan semua bahan ada di dapur." imbuh Ryan lagi.


"akan cuma ada sayuran saja kak yang dibawa kak Syahril lagi tadi." jawab Di'ah.


"Cuma sayur yang adek lihat? ala adek ikut atau sekedar memeriksa yang lain?" ucap Ryan dan lagi-lagi Di'ah menggeleng.


"Yaudah ayo kita keluar jangan sampe mereka menunggu kita lama." ajak Ryan, mereka berdua pun keluar kamar dan menuju ke meja makan yang berada di dapur.


"Emm Mi, maaf Ndak bantu masak." ucap Di'ah tak enak hati, Mimi hanya tersenyum sambil mengambilkan Syahril nasi.


"Iya, udah ayo makan." Ucap Mimi dengan memberikan mereka berdua piring.


Mimi melayani Syahril layaknya Mimi melayani suaminya. Syahril menyantap dengan lahap.


"Emm ini ikan dari mana Mi? kamu beli dimana?" tanya Ryan.


"Ok itu ikan dikasih warga tadi pagi kak, sekalian dengan sayur mayur dan cabe." jawab Mimi.


"Dikasih percuma?" tanya Ryan lagi dan Mimi mengangguk.


"Iya pagi tadi kami membantu mereka memanen sayuran sebentar, niatnya mau beli tapi mereka ngasih percuma." jawab Mimi.


"Jadi mereka ternak ikan juga?" tanya Ryan, Mimi menggeleng saat Mimi akan menjawab Syahril langsung mencela.


"Udah makan, nanti ketulangan." ucap Syahril ketus. Mimi dan Ryan pun hanya diam dan kembali menyantap makan malamnya.


Saat mereka baru selesai makan, orang-orang sore tadi pun datang kembali buat melanjutkan pekerjaannya.


"Wah pak, kalau capek kan bisa dilanjut besok." ucap Mimi basa basi.

__ADS_1


"Ndak ala Bu dokter." jawab mereka.


Mimi pun kembali masuk, Mimi menyiapkan makanan buat para perkerja di bantu Di'ah.


"Pak makan dulu ya." ucap Miki dengan menyajikan makanan di atas tikar yang sudah digelarnya.


"Wah dak usah Bu dokter kami sudah makan di rumah tadi." sahut kak Tamso.


"Ndak apa pak, itukan dirumah bapak disini belum, ayo dimakan." Ucap Mimi dengan memberikan piring pada mereka.


"Ndak boleh nolak rezeki pak, kata orang tua kami dak baik nolak makanan nanti kepunanan.l, dak banyak dikit" ucap Mimi lagi.


"Ah Yo lah Bu dokter kalu la disiapkan macam ko memang dak boleh nolak." seru bapak yang lain.


(Ah iyalah Bu dokter, kalau sudah disiapkan begini memang tidak boleh nolak )


"Nah macam tu pak. Payo dimakan, maaf cuman ikolah lauk nyo." ucap Mimi menggunakan bahasa daerahnya.


(Nah begitu pak. Ayo dimakan, maaf cuma inilah lauk nya)


"Ai Yo dak apo lah Bu dokter, macam Iko pun lemak dimakan. Namonyo rezeki apapun dimakan kenyang tula." sahut bapak yang lain.


(Iya tidak apa Bu dokter, Begini pun enak dimakan. Namanya rezeki apapun dimakan pasti kenyang)


"Iyo pak," jawab Mimi,


"Pak dokter samo ibu dak makan? jadi cuman kami bae yang makan ko." ucap bapak Tamso.


(Bapak dan ibu dokter tidak makan? jadi cuma kamu saja yang makan ni )


"Kami la makan tadi pak, paas nian bapak nyampe kamu baru be selesai. Makan yang banyak pak, habiskan be dak Ado juga yang makannya lagi." ucap Mimi. Bapak-bapak itupun makan dengan lahap sesekali merak berkelakar dengan Mimi dan Syahril


(Kami sudah tadi pak, pas waktu bapak sampai kami baru saja selesai. Makan yang banyak pak, habiskan saja tidak ada yang makannya lagi nanti)


"Alhamdulillah" ucap merak setelah selesai makan, sebelum berkerja mereka berbincang-bincang dulu.


Di'ah dan Mimi membereskan piring kotor dan meletakkan nya disudut tempat cuci piring


"O yo pak, belakang situ ado sungai yo pak?" tanya Mimi setelah ikut duduk bersama disamping Syahril dengan menunjuk kearah belakang rumahnya.


"Iyo buk, ado." jawab pak Tamso.


"Banyak lah ikannyo pak?' tanya Mimi lagi


"Iyo adolah Bu," jawab yang lain


(Iya ada Bu)


''Wah enak nian mancing dak pak," ucap Mimi.


"Iyo nianlah tu Bu, Apo lagi najor. Pasang malam pagi di tengok. Lumayan lah ikan ruwannyo." ucap pak amat.


(Iya Bu, apa lagi tajur ( cara pancing yang hanya diletakkan dan biasa di pasang pada malam hari atau siang hari namun di biarkan saja hingga beberapa jam ). Pasang malam pagi dilihat. Lumayan besar ikan gabusnya ( ikan ruwan \= ikan gabus ).


"Wah selain ikan ruwan ikan apo lagi pak?" tanya Mimi semangat.


(Selain ikan gabus ikan ala lagi yang ada pak)


"Ado keli, lembat, betok, sepat banyaklah Bu." jawab bapak yang lain.


( Keli, lembat sejenis ikan lele yang hidup di sungai cuma yang membedakan ukuran dan bentuknya )


"Wah, kalu ikan keli, lembat elok pasang luka dak pak." ucap Mimi lagi.


(Wah, kau keli, lembat bagusnya pasang luka ya pak) ( Luka\=alat penangkap ikan terbuat dari bambu ).


"Iyo Bu." ucap bapak amat.


"Emm tapi dimano beli luka nyo, disiko dimano Ado jual nyo pak?" ucap Mimi.


(Emm tapi dimana beli luka nya, disini dimana ada jualnya pak?).


"Amat tu jual tu bu di toko nyo." ucap oak Tamso.


"Wah Iyo nian pak? Toko pak amat di Mano?" tanya Mimi pada pak amat.


"Dek, buat apa?" tanya Syahril.


"Buat cari ikan lah hehee." jawab Mimi.


"Jangan macam-macam dek, kalau mau ikan beli aja." cegah Syahril.


"Iss kakak, kalau beli itu beda, kalau cari dan menghasilkan sendiri jati beda lagi rasanya." jawab Mimi.


"Dimana pak tokonya." tanya Mimi lagi.


"Rumah Sayo di ujung simpang sano bu." jawab pak amat.


"Yah jauh juga, kau beli malam ini." ucap Mimi.


"Ibu mau? kalu mau biak Sayo ambek kan." jawab pak amat, Mimi pun dengan cepat mengangguk.


( Ibu mau? kalau mau biar saya ambilkan )


Syahril, Ryan dan Di'ah melongo melihat Mimi yang begitu antusias dengan alat penangkap ikan itu.


"Pak kalau ado pancing sekalian Yo, sekalian la senarnyo." ucap Mimi, oak amat pun mengangguk dan dia pun segera berlalu pulang kerumahnya.


(Pak kalai ada pancing sekalian ya, sekalian dengan senarnya )


Syahril terus mencegah Mimi namn Mimi tidak menggubrisnya dan tetap pada pendirian nya semula kalau dia akan memulai berpetualang dengan alat penangkap ikannya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2