
Syahril dan Ryan yang telah menyelesaikan studi S3 nya, dia dan Ryan memutuskan untuk pulang ke Jambi.
Hanya Syahril dan Ryan yang menuntaskan pendidikan hingga S3, yang lain hanya sampai mendapatkan gelas spesialis saja.
Alasan mereka tidak melanjutkan lagi ingin kumpul bersama anak dan istri dulu.
Sedangkan Ryan serta Syahril tetap melanjutkan karena memang mereka berdua belum ada yang menunggu mereka pulang.
Tiga bulan sudah Syahril dan Ryan berada di Jambi, mereka mulai terjun di rumah sakit Babah. Cafe dan resto tetap berjalan hingga kini.
Cafe dan resto saat ini di pegang oleh adik-adik sepupu Syahril dari Ryan dan Andri serta Rudi.
Bulan puasa tinggal menghitung hari, Syahril tiba-tiba ingin pergi ke desa Mimi. Syahril telah membuat jadwal liburnya, dia ingin makan sahur dan berbuka bersama emak dan bapak serta adik-adik Mimi.
"Sudah lama tidak kedesa, apa kabarnya bapak ya? ya Allah kenapa aku merindukan orang tuaku yang satu ini." ucapnsyahril saat sedang melihat-lihat jadwal operasi sesar pasiennya.
Ya Syahril sampai saat ini tetap menganggap orang tua Mimi sebagai orangtua nya juga.
Syahril selalu merindukan mereka, merindukan suasana saat mereka bersama, merindukan saat Syahril membantu bapak memanen buah sawit, merindukan makam bersama di lahan sawit. Canda tawa yang murni tanpa ada kepalsuan di dalamnya.
"Maafkan Syahril Mak, pak, hingga saat ini emak dan bapak tetap orang tua Syahril."
"Pasti Ay sekarang sudah masuk SMA ya dek, pasti kamu nggak kalah cantiknya dengan Ayuk Mimi." ucap syahril dengan melihat foto-foto kebersamaan mereka dulu.
Pertengahan puasa syahril baru dapat waktu yang lengang, dia pun segera membjat rencana liburnya untuk datang ke desa.
"Yan" panggil Syahril kala rpmelihat Ryan yang sedang berjalan di koridor rumah sakit dengan asistennya.
Ryan yang mendengar namanya dipanggil berhenti dan melihat ke arah Syahril.
"Oh ya sus, kamu dukuan saja dan tolong buat laporannya ya." ucap Ryan pada asistennya.
"Baik dok." jawab asistennya Ryan dan suster pun segera pamitb!menuju ruangan Ryan.
"Ada apa Riil?" tanya Ryan ketika Syahril telah sampai dihadapan nya.
"Sabtu ini ke desa yuk!" ajak Syahril yang Ryan anggap mendadak.
"Tumben, mendadak lagi. Ada apa?" tanya Ryan.
"Aku rindu sama emak dan bapak." jawab Syahril.
"Tapi Riil." ucap Ryan.
"Aku yakin mereka tidak akan menolak kita kalau kita datang. Aku tiba-tiba rindu suasana kita dulu." jawab Syahril.
"Hmm sebenarnya aku juga rindu, rindu makan bersama di lahan sawit dan rindu masakan Emak." jawab Ryan sambil membayangkan makan masakan emak.
"Kalau makan bae cepat." ucap Syahril.
"Ohnha Riil.. Pasti Ay sudah besar dan cantik kayak Mimi." ucap Ryan.
"Kalau cantik kayak Mimi Emang kenapa?" tanya Syahril.
"Ya bisa lah nanti aku dekatin hahaa" ucap Ryan bercanda.
"Woy ingat umur, kasian Ay dapat bujang lapok macam kau." ucap Syahril.
"Jangan bawa-bawa umjr Riil, kau ngatain aku bujang lapok lahbkau bujang apa? bujang lumutan hahaa." ucap Ryan balik mengejeknya.
"Sial kau.." ucap Syahril dengan menepuk pundak Ryan.
"Hahaa sama-sama bujang lapok ndak boleh saling teluk nanti rapuh" sahut Rani yang jalan bersama Rudi.
"Hei Ran Rud." ucap Ryan.
"Emang kalian berencana mau kemana?" tanya Rudi.
"Mau ke tebing " jawab Ryan.
"Wah enak tuh, dah lama ya kkta ndak ngumpul dan makan dilahan sawit." ucap Rani.
"Iya, makanya waktu ini kita mau kesana" ucap Syahril.
"Wah kalian curang " ucap Rudi.
"Curang kenapa?" tanya Rani, Rudi hanya menggaruk kepalanya.
"Ya curang yank, mereka berdua bisa makan masakan emak. Kita pergi juga yok yank." ucap Rudi, Rani diam mempertimbangkan karena status mereka saat ini bukanlah singgle melainkan sudah menjadi orang tua.
"Tapi bagaimana anak-anak." ucap Rani.
"Udah kalau sah punya buntut jangan ikut-ikutan kayak kami." ucap Ryan. Rani memandang Ryan dengan sorotan tajam.
"Aku kan juga kepingin Yan." ucap Rani. mereka berempat masuk kedalam ruangan Syahril dan melanjutkan obrolan mereka.
"Yah terus anak-anak kalian mau dikemanain," ucap Ryan.
"Titip sama u!Mi dan Abi aja gimana yank?" ucap Rudi yang memberikan usulnya kepada sang Istri.
"Yank yank, macam ndak tau kelakuan anak-anak mu. Kita kerja aja mereka merengek mau ikut, apa lagi Zidan kalaungidur kan maunya sama kamu." ucap Rani.
__ADS_1
Yah Rudi dan Rani sudah memiliki dua orang anak. Anak pertama mereka cewek berusia 6tahun dan yang kedua berusia 3 tahun. Anak kedua mereka sangat lengket sama Rudi, tiap tidur harus bersama Rudi.
Jika Rani tidak mengalami beberapa kali hilang janin serta keguguran mungkin anak mereka sudah banyak.
"Andri kalau tau kita kesana pasti dia juga mau." ucap Rudi.
"Ya tapikan Rudi sekarang ada di Bandung. Mungkin seminggu sebelum lebaran dia baru pulang." ucap Ryan.
"Andri kayaknya kerasan di Bandung?" ucap Syahril.
"Yah kerasan lah Riil dia buka klinik sendiri disana, suasana sejuk pula" ucap Rudi.
"Emm ya juga, gara-gara udara sejuk Dewi gemlor dibuatnya hahahaa." ucap Ryan.
"Gaya Lo Yan, tau gempor. jangan bilang kelamaan di LA akhirnya lo bukak segel." ucap Rani.
"Sorry mayori ya Ran, sampe saat ini gue bpmah masih tersegel." ucap Ryan membanggakan dirinya.
"Masih tersegel aja bangga, ingat umur. Mau sampe kalan kalian stay tune aja " ucap Rudi.
"Ada masa nya Rud, nih sih rencana gue tadi mau ngejar Ay eh kayaknya ada yang nggak rela." ucap Ryan smabi melirik ke Syahril.
"Ya gila aja Lo, tue ****** deketin adek gue. Ogah gue punya ipar kayak Lo." ucap Syahril yang langsung ngegas
"Maksud Lo Ay, ayu adiknya Mimi?" tanya Rudi.
"Pasti dah besar tuh anak dan pasti cantiknya sama dengan Mimi." ucap Rudi.
"Iya, apa kabarnya Ay ya.. Kalau di perhitungan gue dia pasti dah SMA sekarang." ucap Rani.
"Iya pastilah." ucap Syahril.
"Wah masa iya Yan Lo mau ngejar adeknya Mimi." ucap Rudi.
"Serius gue Rud, nggak dapat ayuknya adeknya jadilah." ucap Ryan dengan terus melirik Syahril yang sduah memasang wajah datarnya.
"Gue nggak rela ya Yan, enak aja" ucap Syahril dengan datar.
"Lah apa salah nya Riil, cinta itu nggak mandang usia. Atau jangan-jangan Lo juga punya niatan buat deketin Ay." ucap Rudi.
"Huum huh kalian ini, ya nggak mungkinlah. Gue selalu nganggap Ay sebagai adek gue kapanpun. Malah gue mau .." ucap Syahril.
"Kejar aja Riil, aku yakin Mimi juga belum ada yang punya." ucap Rani.
"Tapi kita nggak tau dia berada dimana sekarang. Hampir empat tahun sudah kita kehilangan jejak nya." ucap Syahril.
"Kalau jodoh kalian pasti dipertemukan dan dipersatukan kembali." ucap Rani.
"Aku selalu melakukan hal itu Ran, tapi entah lah." ucap Syahril.
"Riil apa kmau masih mimpiin laki-laki yang memberikan sebuah tangan sama kamu itu?" tanya Ryan.
"Masih Yan." jawab Syahril.
"Tangan?" tanya Rani dan Rudi serentak.
"Iya" bukan Syahril yang menjawab melainkan Ryan.
"Tangan siapa? apa kamu kenal laki-laki itu?" tanya Rani. Syahril hanya menggeleng.
"Kok bisa? terus laki-laki itu ada bilang sesuatu atau apa gitu?" tanya Rani yang penasaran.
"Dia hanya bilang ku kembalikan yang seharusnya menjadi milik kamu, di hatinya selain diriku ada kamu di sana. Dilubuk hatinya yang paling dalam masih tersimpan nama kamu." ucap Syahril yang selalu mengingat ucapan lelaki yang dianggapnya misterius
"Apakah yang dimaksud lelaki itu Mimi." ucap Rani.
"Mm entahlah." jawab Syahril. Mereka berempat masih membicarakan lelaki dalam mimpi Syahril.
"Eh kita berbuka di saung kito yuk." ajak Rani.
"Kita dah pesan temlat kok Ran." jawab Ryan.
"Wah the best lah kau Yan." ucap Rani.
"Yang lain udah di kasih tau Yan?" tanya Rudi.
"Sudah Rud." jawab Ryan.
"Yaudah yok, kita berangkat sekarang takut macet nanti." ajak Syahril.
"Yaudah Ayok." jawab Rani dengan semangat.
"Ayolah, tapi bentar aku keruangan ku dulu." ucal Ryan.
"Kita juga kali Yan." ucap Rani dan Rudi sembari beranjak berdiri.
Mereka pun telah sampai di temlat makan langganan mereka, mereka juga telah menganggap menu berbuka puasa.
Di kota pedang Mimi juga sudah mengajukan cuti lebaran nya, tak terasa hampir dua tahun juga hubungannya dengan Dillah.
Tapi hingga kini Dillah belum juga memperkenalkan Mimi dengan orang tuanya. Begitu pula Dillah juga entah !mengapa setiap Mimi mengajak ke Jambi juga belum mau dengan alasan dia banyak proyek yang harus dia kejar menjelang menikahi Mimi.
__ADS_1
"Dek, kamu jadi besok pulang?" tanya Dillah saat mereka berbuka bersama.
"Iya kang, ayo kang ikut Mimi pulang ke Jambi. Mamak sama bapak juga sudah nanyain akang." ucap Mimi.
"Akang sebenarnya sangat ingin dek, cuma menjelang lebaran ini akang banyak perkerjaan. Maaf ya dek." ucap Dillah dengan memegang kedua tangan Mimi.
"Kang, kenapa sih akang seolah menghindar jika Mimi ajak ke Jambi." kata-kata yang telah lama ingin tanyakan akhirnya terlontar Juga.
"Bukan menghindar sayang, kamu kan tau sendiri." ucap Dillah.
Yah beberapa hari lalu Mimi di ajak berbuka bersama dengan rekan-rekan bisnis nya Dillah. Dari yang Mimi tangkap obrolan mereka waktu itu mereka ingin segera menyelesaikan proyek hotel-hotel itu sebelum akhir tahun ini.
"Akang ingin semua cepat selesai dek. Dengan begitu akang cepat pula menikah dengan kamu."
"Akang ingin stelahnkita menikah tinggal menikmatinya saja dan tinggal memantaunya tanla harus turun ke lapangan lagi seperti saat ini."
"Semua demi kamu, demi keluarga kecil kita nanti. Qkangbjuga ingin dek ikut ke Jambi tapi kan kamu tau akang dan rekan yang lain sedang mengajar target sebelum akhir tahun ini." ucap Dillah terus memberikan penjelasan ke Mimi.
"Akang janji, setelah selesai kita ke Jambi, akang akan langsung melamar dan menikahi kamu. Sabar ya sayang " ucap Dillah. Mimi hanya diam dan menghelakan nafasnya.
"Jangan ucaokna janji kang, kalau akhirnya menjadi dosa kalau janji-janji itu tidak ditepati." ucap Mimi.
"Nggak yank, kali ini akang benaran." ucap Dillah.
"Akang butuh dukungan kamu yank. Sabar ya." ucap Dillah dengan sungguh-sungguh. Mimi oun mengangguk walau hatinya terus meragu dengan hubungannya kali ini.
"Yaudah yok, kita pulang dah malam. Oh ya besok akang nggak bisa ngantar kamjpu yank, nanti akang suruh supir kantor ngantar kamu ke bandara ya." ucapnya sambil berjalan dengan merangkul Mimi.
"Hemm" Mimi hanya menjawab singkat.
Dillah hanya menghelakan nafasnya, ingin rasanya dia mengabaikan pekerjaan nya dan ikut Mimi, tapi pekerjaan ini tidak bisa dia tinggalkan atau dia abaikan karena ini merupakan masa depan dirinya dan Mimi kelak.
Terkesan egois memang namun apalah daya semua sudah berjalan sesuai prosedur yang mereka buat.
Keesokan pagi Mimi masih bekerja seperti biasanya, sebelum dia cuti esok hari, hari ini dia melakukan tindakan operasi untuk terakhir kalinya menjelang cuti lebarannya.
Dari lagi hingga sore hari Mimi disibukkan dengan keramahan operasi. Mimi sangat bersyukur atas Rahmat Allah berkat kerja kerasnya ini dia bisa menaikkan derajat orang tuanya serta bisa membantu orang tuanya.
Yah tahun ini Mimi lebaran di Jambi karena orang tua Mimi juga sudah pindah di Jambi. Ayu adik Mimi juga telah !masuk kenjenjang SMA.
Swlama tinggal di Jambi, penghasilan orang tua Mimi selain dari Mimi, bapak Mimi berkerja serabutan sebelumnya. Tali saat ini alhamdulillah bapak mendapatkan perkerjaan sebagai buruh bangunan. Perkerjaan saat dia masih bujangan.
Mimi sudah berupaya meminta agar bapaknya jangan berkerja lagi biarlah dia yang menanggung semuanya. Namun bapak tidak ingin hanya berpangku tangan, balak juga orangnya tidak bisa diam.
Sebenarnya Mimi ingin membelikan sawit kembali buat bapak tetapi bapak menolak apalagi kesehatan mereka juga tidak seperti dulu lagi.
Emak Mimi lun sempat mpberjuakan di kantin sebuah universitas, alhamdulillah penghasilannya dapat membantu kebutuhan rumah dan sekolah Ay.
Tapi namanya orang yang lagi garis-garis nya ada saja ujiannya, hingga entah mengapa pihak yang memiliki kantin itu yang tak lain masih keluarga bapak memutuskan kerja sama nya dengan emak.
Dan emakpun tidak berjualan lagi di kantin kampus itu, sakit hati tentu emak Mimi rasakan. Padahal emakntidak pernah berbuat curang atau pun merugikannya.
Keluarga bapak adalah yang cowok namun istrinya uang juga ikut jualan di kantin itu namun di serahkan ke adiknya. padahal mereka menjual semua menu sedangkan yang mengontrak di situ tidak diizinkannya berjualan yang Samma dengan dirinya.
Karena melihat jualan emak Mimi laris manis dan dagangannya tidak, entah omongan apa yang disampaikan adik istri dari saudara bapak ini ke istrinya.
Sehingga saudara bapak ini tidak ingin ribut di dalam rumah tangganya, meminta agar emak berhenti berjualan dinkantinnya.
Cobaan demi cobaan keluarga Mimi jalani, Mimi yangbmengathui hal itu lun meminta emak untuk di rumah saja tidak usah lagi berjualan, tali emak merasa bosan bila selalu di rumah.
Emak yang mendengar Mimi akan pulang malam ini, dia memasak makanan kesukaan Mimi. Yah walau emak ada rasa kecewa karena lagi-lagi Dillah tidak jadi kejambi.
Jam delapan malam Mimi sampai di rumah nya, Mimk disambut haru oleh emaknya karena Mimi hanya lulangbsetahun sekali yaitu waktu lebaran saja.
"Assalamualaikum." ucap Mimi ketika melihat kedua orang tuanya sudah berada di pintu.
"Waalaikuk salam" ucap mereka berdua terutama emak yang langsung mendekati Mimi dan memeluk Mimi.
"Kenapa malam nian." ucap emak.
"Mimi pagi sampe sore ada operasi Mak, berangkat habis Maghrib." jawab Mimi.
"Yaudah ayik masuk, kita makan." ajak emak dan Mimi pun mengangguk.
"Yuk" ucap Ay sambil menyalami Mimi.
"Kayakmana sekolahnya " tanya Mimi.
"Alhamdulillah baik yuk." jawab Ay.
"Jadi tiap hari ngojek atau antar jemlut bapak?" tanya Mimi.
"Diantar jemlut bapak, emak dak boleh ngojek." jawab Ay.
"Iya lebih baik di antar jemlut sama bapak kau Mi, emak takut kalau ngojek mana jauh juga jarak dari sini kesebrang." jawab emak.
Yah Ay bersekolah di SMANJU SMA tempat Mim sekolah dulu. Mimk ingin menyekolahkan Mimi ke SMA lain namun setiap di sayangi jika belum buka sudah habis masa pendaftaran dan beruntungnya maaih ada satu bangku di SMANJU sehingga Ay bisa bersekolah disana.
Emak yang sengaja belum makan karena menunggu Mimi akhirnya mereka berdua makan bersama.
Authore jadinkangen makan bersama almh. npbantu alfatihah buat emak authore ya.
__ADS_1
tbc