
Dua hari sudah Mimi tanpa kekasih di hari-hari nya, tanpa sahabat yang selalu menemaninya. Saat ini Mimi hanya seorang diri di dalam kosan.
Sepi, sunyi itu yang dirasakan Mimi. Apa lagi sebagian ank kuliahan sudah pulang kampung. Kosan bu Retno pun sebagian sudah kosong oleh penghuni karena yang ngekos disini rata-rata anak perantauan.
"Bismillah pasti bisa." ucap Mimi menyemangati dirinya.
Mimi buka cpstory wanya dan dia pun membuat status disana bahwa dia sudah mulai opern order kue-kuenya, tak lama berselang para pelanggan nya yang di cancel sebelumnya langsung menghubungi nya dan memesan beberapa macam kue dengan jumlah yang lumayan.
Para sahabat yang udah pulang kampung maupun sahabtnya di Jambi pun ikut WA. Mereka WA bukan untuk memesan kue namun bertanya ada apa gerangan dengan Mimi.
Secara merek tau akan perencana pernikahan nya dengan Syahril.
Chat candor alias calon dokter
Muthia
"Pink"
Selfia.
"Ping"
Saridi
Pong ping
Riko
"Apo dio" Riko Paka logat daerah Palembang nya ( bahasa Palembang dan Jambi hampir mirip ya guys cuma ada lihat-lihat daerah tertentu saja yang mirip)
Dimas sedang menulis...
Irma
"Mimiiiii"
Mimi hanya membacanya saja, karena Mimi tidak ingin mereka merasa khawatir kepada Mimi.
Chat BFF alias bset Friends forever
Novi
"Miiii"
Sila
"Apo dio jok"
Ema
"Woiii caten jangan banyak orderan dulu''
Manda
"Mimiii kapan baleek?"
Di'ah sedang menulis.. ( mau nulis tapi tak jadi-jadi)
Ema
"Di'ah dari tadi sedang nulis teruusss"
Dewi
"Mimi sabar yo."
Ema
"Eh tunggu-tunggu, sabar kenapa Wi? emang ada hal yang belum kami ketahui yo?"
Di'ah
"Heleh masa Ema ndak tau?"
Ema
"Sumpah Di'ah ado apo?" ucap Ema yang beneran belum tau.
Manda
"Iyo emang ada apa sih?"
Di'ah
"Mustahil Datuk Rahman ndak dapat Ma?" tanya Di'ah pada Ema.
Ema
"Maksudnya apa Di'ah? suer aku ndak tau nian." ucap Ema yang kepo.
Di'ah
"Emm sudahlah, buat Mimi yang sabbar ya say.. Aku selalu padamuš„"
Mimi begitu terharu melihat chat-chat dari teman-temannya terutama Di'ah yang selalu setia dengannya. Tak lama Di'ah mengubungi Mimi.
__ADS_1
"Halo assalamualaikum Mi," ucap Di'ah.
"Waalaikum salam Di'ah" jawab Mimi.
"Mi, yang sabar ya? mimi sudah tau ya?" tanya Di'ah.
"Hemm, Di'ah." jawab Mimi dan menyerukan nama Di'ah.
"Emm iya Mi, maaf kalau Mimi meminta itu. Aku ndak bisa." ucap Di'ah.
"Tapi Di'ah." ucapan Mimk langsung dicela Di'ah.
"Mi, huuuum huh. Mimi saja bisa kan memutuskan demi kebaikan semua orang. Aku pun harus bisa Mi. ndak !mungkin aku bahagia sedangkan Mimi terpuruk. Aku ndak bisa Mi." UC Di'ah yang seakan tau apa yang akan Mimi katakan padanya.
"Dengar Mi.. Mungkin yang lain pun akan sama. Tapi sekarang mereka berbeda. Merak sudah menikah, tolong jangan paksa aku Mi." ucap Di'ah lagi meminta pengertian Di'ah.
"Di'ah, tolong jangan begitu. Kak Ryan ndak salah Di'ah, pasti kalian akan merasa tersakiti satu sama lain. Mimi minta maaf akan hal ini." ucap Mimi.
"Di'ah, tolong.. Huum huh, janganlah kalian berpisah. apalagi Mimi tau kak Ryan akan melamar Di'ah. Umi Parida sebelumnya pernah cerita sama Mimi, Di'ah.. Jangan kecewakan umi Parida." ucap Mimi kepada Di'ah.
"Maaf Mi, aku ndak bisa." jawab Diah dengan suara serak yang Mimi yakini Di'ah menahan Isak tangis diseberang telpon.
"Di'ah, Mimi mohon. Di'ah berhak bahagia, jangan pikirkan Mimi, Mimi mohon Di'ah." ucap Mimi me!ohon kepada Di'ah.
"Maafkan aku Mi, aku tidak bisa." jawab Di'ah denagn suara serak.
"Apa alasan Di'ah menolak kak Ryan, dia bebas Di'ah. Dia tidak masuk list dari kakeknya, dia bebas menentukan pilihannya. Di'ah, jangan korbankan perasaan Di'ah hanya untuk Mimi. Insya Allah Mimi baik-baik saja." ucap Mimi dengan menitikkan air mata saat mengatakan baik-baik saja.
"Jangan berbohong Mi, aku tau. Mikimsedangntodak baik-baik saja saat ini. Huum huh dan maaf aku ndak baa." jawab Diah dengan helaan nafas.
"Apa alasan Di'ah melakukan hal itu? apa Di'ah tidak mencintai dan menyayangi kak Ryan lagi?" tanya Mimi pada Di'ah.
"Sekarang akumyangntanya sama Mimi, apa Mimi tidak sayang dan cinta sama kak Syahril, hah!" Di'ah berbalik menanyai hal yang serupa pada Mimi.
"Huuum huh, Di'ah. Masalah Mimi berbeda Di'ah, kak syahril dijodohkan dan tanggal sudah ditentukan bahkan undangan sudah tersebar. Kalau kak Ryan beda Di'ah, janganlah Di'ah menyerah." jawab Mimi.
"Maaf Mi, tidak bisa. Sudah yo, aku mau bantu emak dulu. Assalamualaikum." ucap Di'ah dan mengakhiri telponnya
"Waalaikum salam, huum huh." jawab Mimi dengan menghela kan nafas.
"Ya Allah ampuni hamba, karena keputusan hamba ini membuat pasangan lain juga ikut dampaknya." gumam Mimi dalam hati.
Sehabis telponan dengan Di'ah, Ema pun calling dirinya.
"Hallo assalamualaikum Mimi, ya Allah Mi itu beneran?" tanya Ema yang langsung bertanya.
"Waalaikum salam Ema, menurut Ema?" jawab Mimi dan bertanya pada Ema.
"Tapi Mi, emang kak Syahril dan orangtuanya ndak bisa batalkan?" tanya Ema yang sudah mengetahui.
"Emm akunbaru lihat undangan untuk Datuk aku." jawab Ema lirih.
"Tapi Mi, kalian kan bisa kawin lari Mi. Kalian kan saling mencintai." ucap Ema.
"Ndak segampang itu Ema," jawab Mimi.
"Lah jadi rencana kalian kemarin itu gimana?" tanya Ema.
"Batal Ema hehe." jawab Mimi dengan diiringi ketawa.
"Mi.." panggilnya.
"Batal Ema sayang, itu sebelum Mimi mengetahui hal sebenarnya." jawab Mimi.
"Tapi kenapa harus dibatalkan, lebih baik kalian lanjutkan menikah Mi mungkin dengan begitu pernikahan yang ada bisa di batalkan." ucap ema, Mimk diseberangnyelpon hanya geleng-geleng kepala.
"Tidak semudah itu Ema," jawab Mimi.
"Semua bisa dipermudah Mimi sayang, apa lagi kalian saling mencintai. Kedua orang tua kalian juga merestui, apa lagi coba!" ucap Emma.
"Ma, ndak segampang itu. Sekarang Mimi tanya sama Ema, Ema terima maksud Mimi Datuk Ema terima undangan dari kapan?" tanya Mimi.
"Emm kata Datuk aku seminggu lalu." jawab Ema.
"Seminggu yang lalu kan? apa undangan yang tersebar bisa dintarik balik? ndak kan Ma? Apa orang-orang yang menerima undangan itu bisa mengerti bila pernikahan itu batal? tidak kan Ma? Walaupun bisa di batalkan belum tentu semua akan baik-baik saja. Tentu itu akan berdampak pada kehormatan mereka Ma." ucap Mimi dengan menjelaskan kepada Ema.
"Kalau Mimi dan kak Syahril tidak jadi menikah hal yang wajar Ma, karena kami belum mencetak undangan bahkan bila kami menikah tentu akan menjadi pertanyaan semua orang. Ya walau orang fau kami berpacaran telah lama tapintidak menampik prasangka mereka nanti tehadap Mimi dan keluarga Mimi." terang Mimi.
"Mimi rela melepaskan cinta Mimi demi kebaikan semua orang Ma, asal kehormatan, reputasi mereka terjaga " ucap Mimi lagi dengan meneteskan air mata.
"Mi..." panggil Ema yang terdengar serak suaranya.
"Tapi Mi.. Disini kalian pasti tersakiti satu sama lain Mi.." ucap Ema dengan Isak tangis.
"Insya Allah Mimi tidak apa-apa Ma, bantu doa Mimi ya.. Doakan Mimi kuat menghadapi dan menjalani semua ini." ucap Mimi dengan menahan Isak tangis.
"Mii..hiks." ucap Emma.
"Sudah, Emma jangan menangis. Bangu do'a nya saja ya." ucap Mimi dengan menghapus air matanya.
Berat tentu berat saat kita mengatakan baik-baik saja, mengatakan kita kuat namun kenyataannya sakit itu yang dirasakan.
"Mi, Mimi datang ndak besok ke acaranya?" tanya Emma.
"Emmm insya Allah." jawab Mimi.
__ADS_1
"Kalau datang kita serempak ya." ucap Emma mengajak Mimk datang bersama dengannya.
"Insya Allah ya Ma. MA udah dulu ya, Mimi mau ngdaon kue soalnya ada pesanan untuk hari ini. Doakan Mimi lancar rezekinya ya." ucap Mimi.
"Iya Mi, jaga kesehatan. Assalamualaikum." jawab Emma dan mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan menghelakan nafasnya.
Sehabis bertelponan dengan Emma, Mimi langsung melangkah ke dapur dan Mimi langsung melihat bahan-bahan kue nya. Mimi memulai mengambil bahan-bahan kuee yang di butuhkan serta Mimi timbang sesuai takaran dan jumlah pemesanan.
Sesaat Mimi mengabaikan ponselnya dan membuat kue pesanannya pelanggan nya, secara hari ini ada yang oean seratus buah kue sebanyak tiga macam kue.
Mimi memasak kue nya hinggabteoat waktu, setelah semua terpacking yang memesan pun menjemputnya ke kosan Mimi.
Hari-hari Mimi lakukan berkutat dengan bahan-bahan kue nya sehingga dia melupakan kesedihannya sejenak.
Namun beberapa hari ini waktunya jugandimganggunolehndillah yang selalu datang ke kosannya. seperti dua hari lalu dia datang beralasan untuk melihat keadaan Mimi.
tok tok suara pintu diketok, Mimi yang sedang membuat adonan bahkan sambil mengkven serta mengukus kue nya oun terpaksa berhenti untuk melihat siapa yang datang.
"Huh siapa sih, kalau pelanggan yang order mustahil mereka aja bilang jemput jam 4 sore." gerutu Mimk sambil mencuci tangannya.
tok tok suara ketukan terdengar lagi.
"Sebentar" teriak Mimi sembari berjalan menuju pintu taknluoa dia juga memakai hijab sorongnya.
Mimi pun membuka pintu kosannya dan !menghelakan nafasnya saat tau siapa yang datang.
"Assalamualaikum" ucapnya dengan senyum manis.
"Waalaikum salam eh kak emm maaf ada apa ya?" jawab Mimk dan bertanya pada orang tersebut yang tak lain adalah Dillah.
"Mau ngajak Mimi makan siang." ucapnya.
"Oh maaf kak, Mimi lagi sibuk membuat kue." jawab Mimk dengan menolak ajakan Dillah.
"Sebentar aja Mi, emangnya nggak ada waktunya sebentar." ucaonya.
"Maaf kak, Mimi harus segera menyelesaikan pesanan orang karena jam empat ini akan di jemput." ucap Mimi.
"Kenapa sih Mi, kamu seolah menghindar." ucapnya, Mimi menghelakan nafas panjang menghadapi seniornya ini.
"Maaf kak, Mimi nggak bisa. Maaf Mimi mau lihat oven dulu." ucap Mimi dan berlalu masuk tanpa mengizinkan Dillah masuk kedalam.
Sesampainya di dapur, Mimi langsung mengangkat kuenya yang sudah di langgang dan kukus sedari tadi. Setelah itu Mimi memasukkan lagi adonan yang sudah siap untuk di panggang dalam kukus ke dalam oven serta kukusan.
Sejenak Mimi melupakan orang yang masih menunggu di balik pintunya. Saat Mimi selesai membuat adonan kue berikutnya, dia baru teringat sosok orang yang mungkin masih berada di depan pintunya.
Didepan pintu kosan Mimi, Dillah masih setia duduk disana karena merasa capek berdiri dia pun duduk di kursi yang emang disediakan oleh Syahril waktu itu.
Mimk menghelakan nafasnya dan beranjak dari duduknya berlalu masuk menuju pintu. Mimi geleng-geleng kepala melihat Dillah yang masih berada di sana.
"Kakak masih disini?" tanya Mimi yang berdiri di daun pintu kosannya.
"Iya masih nungguin kamu." jawabnya seaya berdiri dan melihat Mimi, Mimi hanya menghelakan nafas nya dalam.
"Sekali lagi maaf kak, Mimk tidak bisa. Mimi masih banyak pesanan menjelang Mimi pulang kampung Jumat besok." jawab Mimi yang sekali lagi menolak ajakan Dillah.
"Emang nggak bisa ditunda dulu?" tanya nya yang masih ingin memaksakan kehendaknya.
"Maaf tidak bisa, Mimi harus segera menyelesaikan pesanan orang, lebih baik kakak pulang saja. Oh ya satu lagi, jangan kesini lagi kak, nggak enak sama tetangga. Maaf Mimi harus segera menyelesaikan adonan Mimi. Terimakasih atasbledatnagn kakak, assalamualaikum." ucap Mimi dan berpamitan kepada Dillah untuk memasak kue nya lagi dan Mimi pun menutup pintunya.
"Tapi.. waalaikum salam." jawab Dillah setelah Mimi menutup pintu.
Mimi kembali menuju dapur dan memulai melanjutkan memasak kue-kue nya. Mimi berhenti ketika suara adzan terdengar dan miminoun segera untuk sholat dzuhur.
Sehabis sholat, Mimi kemali berkutat dengan oven dan kukusannya hingga adonan selesai semua. Beberapa jam berkutat dengan adonan dan saat nya kini kue-kuenya berpindah tempat ke box. Tepat jam yang dijanjikan, pelanggannya pun datang untuk menjemput.
"Alhamdulillah atas segala rezekimu Rabb." ucap Mimi bersyukur atas rezeki hari ini.
Di apartemen Dillah, sahabat-sahabatnya Dillah menertawai Dillah karena perbuatan konyol yang Dillah lakukan tiga hari ini.
"Napa Dil? ditolak lagi?" sindir Reno.
"Lo juga sih ngebet banget," sahut Yogi dengan melempar bantal kursi ke arah Dillah yang terlihat kusut.
"Mimi itu gak gampang Lo jinakin Dil, alon-alon asal kelakon ( pelan-pelan asal selamat ) bro. Ojo mbok desak seng ono yo wonge maburrr ( jangan dindesak, yang ada orang nya kabur )" ucap Yogi lagi.
Dillah hanya menghelakan nafasnya dan mengacak rambutnya.
"Sabar, Apo meneh ( apa lagi ) Mimi baru putus cinta. Ndek e yo butuh proses toh ( dianya juga butuh proses )." ucap Yogi dengan menepuk pundak Dillah yang terlihat kusut.
"Kalau rezeki Lo ya bakal Lo dapetin bro." ucap Satria.
"Betul itu, jangan terlalu ngebet banget seperti itu. Yang ada ntar Mimi ilfill sama Lo. Apa lagi dia bilang lagi buat pesanan orang tentunya dia lagi sibuk, emang kalau orang masak dan dikejar waktu bisa ditunda? nggak kan?" ucap Reno.
"Terus aku kudu piye?" ucap Dillah.
"Yo Ojo mokso Dil ( ya jangan maksa ), yo benne Mimi saiki ( ya biarkan Mimi saat ini ) menyibukkan diri dengan orderan pelanggannya." ucap Yogi.
"Wess yo kita makan dulu, wes gak order tadi." ucapnyugi dengan mengeluarkan makanan yang di delivery nya, mereka pun makkan bersama.
Keesokan pagi nya Mimi pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan kue nya karena semua bahannya telah habis dan Mimi berangkat dari kepasar pagi sekali karena dia mengejar membuat kue untuk pesanan pelanggannya yang akan dijemput jam lima sore.
Mimi terus menyibukkan dirinya hingga Jumat sore dia pulang ke jambi.
__ADS_1
tbc