
Pakcik yang masih mendengar isakan tangis dari dalam kamar Mimi pun mencoba membujuk kembali karena dia tak ingin Mimi sakit.
"Mi, ayo kita makkaan dulu." ucap Pakcik mengajak Mimi dengan mengetuk pintu kamar Mimi.
"Mi, ayo makan dulu. Nantinkita bicarakan lagi." bicik pun ikut membujuk.
Mimi yang emang merasa lapar perut nya akhirnya Mimi membuka pintu kamarnya. Sungguh sangat memprihatinkan kan keadaan Mimi saat ini. Rambut yang acak-acak serta mata yang sembab karena telah berhari-hari Mimi tak henti menangis selain tertidur.
"Sudah ayo makan dulu." ajak bicik dan Pakcik dan Mimi pun mengikuti mereka menuju dapur.
Bicik mengambilkan nasi serta lauk buat Mimi.
"Mi makan." ucap Pakcik yang melihat Mimi tak kunjung menyuapkan nasi kedalam mulutnya Mimi hanya diam dan ******* nasinya dengan tangannya tapi tak kunjung di masukkan kedalam mulutnya.
"Mi.." panggil Pakcik dan Mimi hanya menoleh.
"Di makan nasinya jangan dinpenyet-penyet gitu." ucap Pakcik dan Mimi hanya mengangguk.
Perut Mimi yang terasa lapar namun selera makannya hilang, pikiran Mimi kosong seakan tak ada lagi harapan di dirinya. Mimi bagaikan raga tak bernyawa, yah Mimi seakan putus asa berhari-hari bahkan daah seminggu ini dia mencoba memberi pengertian kepada keluarga serta orang tuanya namun semua yang dilakukan tak di gubris bahkan tak ada jua jawaban yang diinginkan Mimi.
Mimi terus melumatkan nasi dengan tangannya tapi tak kunjung masuk ke rongga mulutnya dan itu membuat Pakcik dan bicik saling bersitatap tak kalah Nyai oun ijut memperhatikan keadaan cucunya.
"Mi, ndak baik makanan di buat main-main macam itu." tegur Nyai tapi Mimi tak menghiraukan karena pikiran nya tak tau berada disana sampai pada saat semua orang selesai makan Mimi tak kunjung jua memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
"Mi.." panggil bicik dengan memegang bahu Mimi dan itu membuat Mimi tersadar akan lamunannya.
"Hem." jawab Mimi.
"Dimakan, isi perut tuh dari kemaren perut Mimi dak di isi nasi." ucap bicik.
"Hem, Mimi dan lapar." jawab Mimi dan langsung mengangkat piringnya menuju tempat cucian piring dan Mimi juga langsung mencucinya, setelah mencuci piring Mimi masuk kedalam kamarnya kembali setelah meneguk air minum.
Semua orang di rumah menjadi khawatir dengan ke adaan Mimi, Mimi anajk yang penurut entah kenapa kali ini Mimi tidak mendengarkan omongan orang lain lagi, itulah pemikiran orang yang ada di rumah ini.
"Hmmm huhh, sebaiknya bilang ke emaknya kasihnlah izin pada Mimi, bisa stress laki-laki anak tu." ucap Pakcik.
"Sebenarnya Mak bapaknya kasih izin, cuma kami adik-adiknya belum kasih izin bang, terutama Mak dia khawatir kalau Mimi jauh-jauh kayak itu." jawab bicik.
"Apa yang di khawatir kan lagi, Mimi selama ini ndak pernah bikin ulah, ndak pernah bikin kita cemas, cobalah kasih sedikit kepercayaan sama dia." ucap Pakcik.
"Hem kita liat nanti saja bang." jawab bicik.
Beberapa Minggu ini pula Mimi tak menggubris telpon mau pun pesan dari Syahril dan teman-temannya. Dia enggan untuk bertemu apa lagi untuk mengobrol dengan mereka.
Dua hari ke!udian Di'ah datang kerumah bahwa pendaftaran Akper maupun Akbid serta bidangnkesehatan lain telah di mulai.
"Assalamualaikum." ucap Di'ah
"Waalaikum salam." jawab Mimi sehabis mencuci pakaiannya dannhabis mandi serta akan menjemur pakaiannya.
"Mi, kawani aku yok?" ajak Di'ah.
"Kemana?" jawab Mimi dengan terus menjemur pakaian.
"Hari ini sudah dibuka Mi pendaftarannya, jadi kawanin aku yok? atau Mimi juga mau coba daftar." ucap Di'ah.
Mimi diam dan sedih ketika Di'ah mengucapkan coba daftar juga.
"Gini amat hidupku Rabb, yang nyata di depan mata tak ada satupun yang setuju, apakah aku harus mencoba mendaftar di Akper atau Akbid." gumam Mimi dalam hati.
"Gimana Mi?" tanya Di'ah dan Mimi belum merespon dan Mimi fokusnke pakaian yang akan dijemurnya.
"Mimi ndak mau ngawani ya?" ucap Di'ah dibuat mellow.
"Iya, bentar Mimi siap-siap dulu." jawab Mimi setelah selesai menjemur pakkaaian nya
"Oh ya Di'ah, apa aja persyaratan nya?" tanya Mimi dan Di'ah pun memberitahukan persyaratan mendaftar di bidang kesehatan ini.
Setelah Di'ah memberitahukan semua persyaratan ndengan cekatan Mimi menyiapkan semuanya, karena semua sudah lengkap dan persyaratan juga hampir sama dengan berkas yang seharusnya mi!i serahkan ke pihak kampus dinse!arang maupun Yogya.
Setelah semuanberkas persyaratan siap, Mimi masukkan ke dalam map sesuai dengan yang tercantum di persyaratan.
__ADS_1
"Ayo Di'ah." ajak Mimi yang sudah siap berangkat dan mengagetkan Di'ah yang sedang berkirim pesan.
"Emm Di'ah chat sama siapa?" tanya Mimi.
"Eh Mi, sudah siap ya. Yaudah ayok kita berangkat sekarang." ucap Di'ah dan dia langsung mengalir tangan Mimi agar segera berangkat dalam melupakan pertanyaan nya.
Mimi dengan tergesa pun langsung pamit dengan Nyai nya yang kebetulan duduk di jembatan samping rumah.
"Nyai, Mimi orgi duku ngawani Di'ah, assalamualaikum." ucap Mimi berpamitan dan langsung mencium tangan Nyai nya.
"Iya hati-hati waalaikum salam." jawab Nyai.
Mimi dan Di'ah pun berlalu pergi menggunakan ketek dan setelah itu Mimi dan Di'ah naik angkot menuju kota baru.
Sesampainya disana begitu banyak calon mahasiswa mendaftar. Mimi dan Di'ah langsung menuju ke bagian pendaftaran dan menyerahkan berkas-berkas nya, pihak panitia langsung menyuruh Mimi dan Di'ah masuk langsung di bagian pengukur tinggi badan karena untuk Akper dan Akbid ada kriteria tersendiri dalam tinggi badan. Dan ternyata ini adalah hari terakhir pendaftaran.
Setelah selesai dengan pendaftaran dan pengukuran tinggi badan pihak Dinkes mengatakan bahwa pengumuman kelulusan berkas seminggu lagi maka kami diharapkan datang seminggu lagi dan jika diketahui berkas lulus maka peserta akan langsung mengambil no ujian.
Banyak yang langsung tidak lolos di bagi calon mahasiswa Akper maupun Akbid karena tinggi badan yang kurang dari kriteria. Disini Mimi juga bertemu dengan teman-teman nya yang lain dan ternyata dia tak lulus di bagian Akper maupun Akbid dan akhirnya dia mengambil di bagian konseling.
"Mi, kita mau kemana dulu nih?" tanya Di'ah. "Mau main dulu atau langsung pulang?" imbuhnya setelah kami keluar dari gedung Akper.
"Kita main dulu kenyamanan remaja yuk 'ah." ucap Mimi.
"Yaudah, ayok." jawab Di'ah dan mereka berdua pun pergi !menuju taman remaja dengan berjalan kaki karena jaraknya dengan gedung Akper tak sebegitu jauh.
Mimi berjalan bersama Di'ah namun hati dan pikiran nya entah kemana hingga Mimi hanya diam dan hanya mengeluarkan suaranya bila Di'ah bertanya.
Di'ah sibuk dengan ponselnya, ternyata dia beekirimnpesan dengan kak Ryan dan dia juga memeritahukan kalau mereka hendaknmain ke taman remaja sebentar.
Di'ah sengaja mengajak Mimi ikut dengan dirinya mendaftar, padahal Di'ah sudah tau kalau hari ini sebenarnya adalah hari terakhir mendaftar. Karena Di'ah telat mendapat info dari kakanya yang telah lebih dulu lulus.
Jika Mimi maupun Di'ah mau bisa saja mereka minta tolong di antar kak Ryan ataupun kak Syahril, namun Di'ah urungkan karena pasti nantinya Mimi menolak ikut.
Mereka berdua duduk santai di bangku-bangku yang ada di taman ini.
"Mi.." panggil Di'ah.
"Apa Mimi ndak mau berbagi sama aku? mungkin dengan Mimi berbagi bisa membuat sedikit ringan beban Mimi." ucap Di'ah dengan berhati-hati.
"Apa yang harus Mimi bagi Di'ah." jawab Mimi lirih.
"Mi, Mimi yakin ndak kalau nanti pasti keluarga Mimi mengizinkannya." ucap Di'ah.
"Entahlah Di'ah," jawab Mimi dengan menarik nafasnya berat dan menghembusnya pelan.
"Aku yakin Mi, Mimi pasti bisa meraih cita-cita Mimi. Aku juga yakin apa yang Mimi impikan pasti terkabul mungkin waktunya masih belum menentukan semua." Di'ah terus mengajak Mimi berbicara dan memberikan nasihatnya.
"Mi, mana Mimi yang aku kenal. Mimi yang selalu antusias terhadap segala sesuatunya, Mimi yang selalu semangat menjalankan hari-hari nya. Jangan siksa Mimi kayak ini." ucap Di'ah dengan suara serak menahan tangis.
"Mimi sudah tidak punya harapan Di'ah, harapan Mimi sudah pupus. semua orang tak pernah bisa mendukung apa yang Mimi inginkan. Mereka selalu menuntut Mimi untuk selalu mengerti mereka." jawab Mimi dengan derai air mata yang lolos dengan seketika tanpa diberi aba-aba.
"Di'ah libatkan tadi di gedung Akper. Banyak anak yang berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri dan banyak pula dari mereka tak lolos di awal yang hendak masuk Akper atau pun Akbid karena tinggi badan mereka kurang satu senti bahkan setengah senti. Tapi pastindo antara mereka ada yang orang tua nya mendukung dengan apapun caranya agar anaknya lolos. Nah ini Mimi sudah di depan mata 'ah, dua kampus yang telah ada di depan mata dan tinggal Mimi pilih yang mana. Tapi apa... Dukungan bahkan kepercayaan tidak ada buat Mimi." ucap Mimi panjang lebar !mengeluarkan kepenatan hatinya.
"Emang Mimi selalu dituntut untuk selalu mengerti mereka, udah nasib Mimi seperti ini kali ya." imbuh Mimi dengan deraian air mata.
Disaat Mimi mengeluarkan uneg-uneg nya ternyata Di'ah merekam semuanya dan Di'ah juga ikut menangis mendengar permasalahan yang sedang Mimi hadapi.
"Jadi tinggal berapa la!a masa tempo pelaporan nya Mi?" tanya Di'ah.
"Kalau di Yogya tinggal kurang lebih dua Minggu lagi dan di Semarang kurang lebih sebulan lagi." jawab Mimi dengan menghela nafasnya berat.
"Aku yakin kok Mimi pastindiizinkan nanti, tinggal waktu yang menentukan." ucap Di'ah.
"Makasih Di'ah berusaha menghibur Mimi." jawab Mimi dengan senyum kecut.
Tanpa sepengetahuan Mimi kak Syahril dan kak Ryan ada di belakang mereka. Kak Syahril dan kak Ryan mendengarkan semua apa yang Mimi bicarakan. Ada rasa sesak di hagindua pria tersebut.
"Dek." panggil kak Syahril yang berada di belakang Mimi dan Mimi menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Mimi hanya diam saat melihat ada kak Syahril dan kak Ryan di taman ini. Mimi kembali menatap ke depan dan tak menghiraukan dua pria yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Syahril mendekat ke arah Mimi dan kak Syahril duduk di samping Mimi dan dia langsung memegang sebelah tangan Mimi dan merangkul Mimi dari samping.
"Menangis lah kalau dengan menangis membuat adek lega." ucap kak Syahril dengan mengecup kening Mimi.
"Maafkan kakak, juga tidak berhasil membantu adek untuk bisa kuliah di pedang, tali kakak daftarkan adek lagi di jalur mandiri." ucapnya.
"Jangan lakukan itu kak, Mimi tidak mau. Apa lagi jalur mandiri kalau seandainya Mimi lulus di jalur itu maka tambah besar biaya nya." jawab Mimi.
"Makasih atas segala pertolongan kakak, tapi Mimi tidak mau merepotkan kakak lagi. Biarlah mungkin ini sudah takdir dan nasib Mimi." ucap Mimi lagi dengan isakan tangis dan derainair air mata.
"Adek tidak merepotkan kakak, kalau adeknlulus di jalur ini kaakak sudah berniat dari awal kalau kakak yang akan biayain adek hingga lulus dan tercapai cita-cita adek." ucap kak Syahril.
"Makasih sebelumnya kak." ucap Mimi dengan memeluk erat Syahril dan Syahril mengelus pundak Mimi memberi ketenangan.
"Kita cari makan yok." ucap kak Syahril.
"Iya ayo kita cari makan, kakak sudah lapar nih Mi." sahut kak Ryan dengan candaan nya.
"Atau mau makan bakso, mie ayam ceker, atau ayam penyet yang ada disini." Ucap Kak Syahril dengan !e!berikan pilihan.
"Terserah kakak saja." jawab Mimi.
"Tapi janji dimakan ya?" ucap kak Syahril.
"Hem." jawab Mimi.
"Emm gimana kaallau ke cafe dan resto kita saja Riil jadinkita makan di dalam ruangan kita jadi sedikit private dan tenang." usul kak Ryan.
"Gimana dek?" tanya kak Syahril kepada Mimi.
"Terserah kakak." jawab Mimi.
"Yaudah kalau gitu kita ke cafe aja." ucap kak Syahril dan dia pun langsung mengamit tangan Mimi dan menggandeng tangan Mimi menuju ke parkiran.
Mereka pun berlalu menuju cafe dan resto milik kak Syahril. Disepanjang jalan Mimi kembali diam dan gak menghiraukan apa yang mereka bertiga bicarakan.
Mereka bertiga berupaya menghibur Mimi dengan segala candaan tapi Mimi tak sedikitpun menanggapinya hingga mereka sampe ke tujuan.
Kak Syahril masih terus menggandeng Mimi hingga msuk kedalam ruangan khusus bagi mereka jika kumpul. Sesampainya di dalam ruangan Mimi masih dalam diamnya dan duduk di sofa yang manaa arahnya menghadap ke arah luar. Angin sepoi-sepoi pun bertiupan karena pintu dan jendela di ruangan tersebut di buka.
Mimi berdiri dan keluar menuju balkon ruangan tersebut dan Mimi menikmati hembusan angin tersebut, Mimi memejamkan matanya sambil!bil menikmati hembusan angin.
Syahril dan yang lain takmingin mengganggu apa yangbvedang Mimi lakukan. Mereka membiarkan Mimi sendiri untuk merilekskan pikirannya.
"Kakak akan berusaha bantu adek semampu kakak dek." gu!Am Syahril nanar melihat ke arah Mimi.
Selama beberapa Minggu ini Syahril selalu menghubungi Mimi bahkan datang kerumah Nyai namun setiap kali Syahril datang hanya mendengarkan isak tangis, tiap kali Syahril membujuk agar Mimi keluar tak pernah Mimi turuti hingga Mimi tertidur karena lelah nya menangis.
Kak Syahril sudah berbicara sama Pakcik dan bicik agar mengizinkan Mimi karena ini adalah impian Mimi dan cita-cita nya untuk bisa mendapatkan sebagai mahasiswa undangan dan beasiswa.
Tak hanya itu kak Syahril juga menceritakan kalau dia mendaftar kan Mimi di kampusnya dan terkahir melalui jalur mandiri. Pakcik dan bicik tidak menyetujui jika melalui jalur mandiri, karena bicik taunpasti takmhanya Mimi yang menolak bahkan kedua orang tua Mimi pun akan menolak karena jika melalui jalur tersebut maka biaya nya lebih besar.
Dan kak Syahril pun memberitahukan kalau masalah biaya dia yang akan menanggung semuanya, namun Pakcik dan bicik masih keberatan dan mereka berdua akan berbicara kepada keluarga yang lain.
**tbc**
Assalamualaikum selamat malam alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up mallam ini, semoga ceritanya berkenan bagi para riders semua.
Jangan lupa terus beri dukungannya selalu berupa
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
...TERIMAKASIH...
__ADS_1