DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
207


__ADS_3

Hari- hari terus berlalu berganti Minggu dan bulan. Tinggal beberapa Minggu lagi Mimi akan menghadapi ujiannya. Sedangkan Syahril dia telah wisuda kedokterannya, Mimi tidak dapat menghadiri wisuda sang pujaan hati karena Mimi ada beberapa tugas praktikum waktu itu.


Syahril berjanji akan ke kota Semarang dan dia akan menemani Mimi dan me!bantu Mimi selama ujiannya nanti.


Namun entah mengapa beberapa hari belakangan ini Mimi merasa gundah, Mimi merasa ada hal yang akan dihadapinya ke depan.


Mimi pun semakin sering bermimpi yang buruk. Di kampus Mimi selalu terlihat banyak diam sehingga semua sahabatnya heran melihat sikap Mimi akhir-akhir ini.


"Mi.." panggil Muthia.


Mereka semua sedang berada di kantin, mereka memesan seperti biasanya. Namun kali ini Mimi enggan menyantap mie ayam bakso kesukaannya itu.


Mimk terus mengaduk-aduk isi dalam mangkok yang berada di meja. Para sahabat terlihat khawatir kepada Mimi.


"Mi, are you oke?" tanya Irma yang sok keberatan.


"Heleh, kau ini Ir.." ucap Dimas.


"What's wrong bro!! ada yang salah kah?" ucap Irma lagi.


"Gaya kamu Ir, pakek speaking English. Awak utang Minang jan nak english-englisan." sahut Riko.


"Halah sirik aja kalian." ucap Irma, namun lagi-lagi Mimi tidak merespon perdebatan mereka.


Semua melihat kenarah Mimi, tangan yang terus mengaduk-aduk, tatapan mata kosong dan mungkin pikirannya pun entah kemana.


Fia mengikut tangan Muthia yang duduk disebelah Mimi dengan mendongakkan mukanya sebentar memberi tanda akan sebuah pertanyaan "ada apa?" namun dalam bahasa isyarat.


Muthia yang mengerti akan maksud Fia hanya mengangkut bahunya tak tahu.


Muthia perlahan memegang lengan Mimi dan seketika Mimi berhenti dari acara mengaduk-aduk dan melihat sekilas ke arah Muthia.


"Ada apa Mi?" tanya Muthia.


"Iya Mi, kalau ada masalah cerita sama kita?" sahut Irma.


"Apa ada yang jahilin Mimi?" tanya Dimas dan Mimi hanya !menggeleng.


"Kalau tidak ada, kenapa Mimi akhir-akhir ini banyak diam dan tidak fokus pada makanan." tanya Riko.


"Entah lah." jawab Mimi.


"Mi.." panggil Fia dan Mimk hanya tersenyum melihat ke arah Fia.


"Mimi nggak apa-apa kok." ucap Mimi.


"Emmm dah waktunya jam kelas nih, kita masuk kelas yok?" Mimi beranjak dan mengajak para sahabatnya untuk masuk ke kelas.


Lagi-lagi Mimi tidak menyantap makanannya, biasanya Mimi paling anti yang namanya mubazir tali kali ini Mimk melakukan hal yang di antikannya.


"Fi, kira-kira Mimi kenapa ya?" tanya Muthia yang berjalan di belakang Mimi dengan berbisik.


"Nggak tau." jawab Fia.


Mimi terus melangkah menuju kelasnya dengan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.


Penuh tanda tanya di benak para sahabat, tetapi mereka juga tidak ingin memaksa Mimi untuk bercerita.


Tak lama mereka masuk, dosen pun masuk kedalam kelas dan sang dosen pun langsung me!berikan materinya kepada mahasiswa.


Walau pikiran Mimi sedang tak menentu namun dia tetap berusaha untuk selalu fokus dengan apa yang dosen sampaikan. Walau sekali-kali Mimi manarik nafas panjang dan menutup matanya untuk mengusir sesuatu yang telah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


Tiap hari Mimi disaat dalam kelas Mimi berhasil menghalau pikiran buruk yang selalu menghinggapi nya.


Pikiran buruk itu seolah sirna ketika sang pujaan hati menghubunginya dan saat itu pula Mimi merasakannkedamaian dan ketentraman walau hanya sesaat.


Kelas Mimi berakhir dan Mimi langsung menuju kantin untuk melihat apakah dagangan nya habis atau belum. Para sahabat masih setia mengikuti kemana Mimi melangkah.


Saat menuju kantin Mimi berpapasan dengan Dillah dan ganknya. Mimi yang emang dasar orangnya cuek, Mimi tak menghiraukannya dan terus melangkah menuju kantin. Yang biasanya Mimi membalas senyum bila bertemu Reno yang selalu memberikan senyum nya, namun kali ini Mimi cuek sehingga Reno pun heran akan perubahan sikap Mimi.


"Apa aku buat kesalahan" batin Reno yang terus menatap Mimi dan itu tak luput dari pandangan Dillah sehingga Dillah merasa curiga terhadap Reno.


Di kantin Mimi langsung menemui Bu Ruminah, Mimi melihat Bu Ruminah sedang sibuk melayani mahasiswanya. Mimi tak ingin mengganggu maka Mimi berinisiatif memeriksa dagangannya sendiri dan ternyata wadah isi kue-kue buatannya sudah habis di jam saat ini. Mimi sangat senang bila kue-kue nya selalu habis.


Bh Ruminah melihat Mimi yang sedang mengumpulkan wadah kuenya pun mendekati Mimi.


"Alhamdulillah Mi, kue-kue nya dah pada habis." ucap Bu Ruminah yang sudah berada di samping Mimi.


"Iya Bu, alhamdulillah. Makasih ya Bu.." ucap Mimi dengan tersenyum.


"Iya sama-sama, oh ya bentar ya.." ucap Bu Ruminah dan berlalu masuk kedalam. Tak lama Bu Ruminah keluar dan memberikan beberapa lembar kertas berwana merah dan biru.


"Ini hasilnya." ucap bu Ruminah dan Mimi pun menerimanya.


"Apa bagian ibu sudah ibu ambil?" tanya Mimi dengan tangan yang menghitung lembaran itu.


"Sudah" jawab bu Ruminah.


"Makasih banyak ya bu " ucap Mimi ketika menghitung uang nya pas.

__ADS_1


"Sama-sama." jawab bu Ruminah.


"Kalau begitu Mimi pamit pulang dulu Bu, assalamualaikum" ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab bh Ruminah dan Mimi pun kembali berlalu dan melangkah keluar kantin namun langkah Mimi terhenti ketika Bu Ruminah memanggilnya.


"Mi, Mimi.. Tunggu bentar." panggil Bu Ruminah, Mimi berhenti melangkah dan membalikkan badannya melihat ke arah Bu Ruminah, melihat bunrumknah mendekati Mimi, Mimi pun berjalan menuju Bu Ruminah.


"Ada apa Bu?" tanya Mimi.


"Sini bentar." ucap Bu Ruminah dengan menarik tangan Mimi dan mengajak Mimi duduk di salah satu bangku di kantin itu.


Setelah bu rumjnah dan mimi duduk, Mimi masih diam menunggu Bu Ruminah berbicara.


"Emm begini Mi, tadi ada ibu-ibu datang kesini dan dia mencoba kue-kuenya Mimi." ucap Bu Ruminah dan Mimi masih diam menunggu lanjutannya.


"Nah setelah ibu itu mencicipinya, si ibu itu mau pesan kue buat besok serba seratus biji tiap kue nya." ucap Bu Ruminah dengan mata yang berbinar.


"Apa Mimi sanggup?" ucapnya lagi dan dari sorotan mata nya mengharapkan Mimi menyanggupinya.


Ya Bu Ruminah sangat berharap Mimi menyanggupinya, karena jika Mimi menyanggupinya maka diapun akan mendapatkan tambahan lebih dan itu. Isa dia gunakan untuk biaya pengobatan anaknya.


Setiap Mimi menitipkan kuenya ke Bu Ruminah, Mimi selalu memberikan seribu rupiah per buahnya untuk Bu Ruminah. Mimi menjual kue-kuenya dengan harga yang beragam dari Rp.3500 hingga Rp.5000, Mimi menitipkan kuenya sebanyak 6 jenis kue kepada Bu Ruminah.


"Insya Allah Bu." jawab Mimi.


"Yah kok Insya Allah Mi, berarti belum pasti dong. fiiuuh" ucap Bu Ruminah dengan nada kecewa.


"Tadi ibu sudah bilang menyanggupinya dan...." ucap Bu Ruminah terhenti teringat kalau sang ibu sudah !e!berikan Jang DP nya.


"Oh iya ibu lupa, bentar " ucap Bu Ruminah yang langsung beranjak dan berlalu masuk kedalam. Tak lama Bu Ruminah kembali duduk di samping Mimi.


"Ini," ucap Bu Ruminah dengan menyerahkan amplop berwarna coklat itu, Mimi melihat ke arah Bu Ruminah.


"Tadi si ibu itu memberikan uang DP nya," ucap Bu Ruminah.


"Kata si ibu, dia sangat berharap kalau Mimi bisa menyiapkannya besok. Ibu itu menyukai kue-kuenya Mimi." ucap Bu Ruminah dengan penuh harap.


Mimk melihat mata Bu Ruminah yang penuh harap pun menjadi tidak tega, Mimi tidak tega karena Bu Ruminah pastinya sangat berharap kalau Mimi menyetujui nya.


Hmmmmmmm fiuuuuuh Mimi menarik nafas dalam dan akhirnya !mengangguk.


"Iya Bu, Mimi akan berusaha membuatnya. Jam berapa ibu itu menjemputnya?" tanya Mimi.


"Beneran Mimi sanggup?" ucap Bu Ruminah dengan berbinar.


"Iya Bu.." jawab Mimi dengan tersenyum.


"Ya Allah, sebegitu bahagianya Bu Ruminah bila hamba menerima tawaran ini.. Semoga kau berikan hamba kesehatan ya Allah, agar hamba juga bisa memberikan rezeki kepada orang yang juga membutuhkannya." ucap Mimi dalam hatinya.


"Oh ya Mi, ini uang DP nya kamu hitung aja." ucap Bu Ruminah dan Mimi pun mengangguk dan menerima amplop itu.


"Ibu menghitung semua nya sesuai dengan harga yang Mimi beri di kantin ini." ucap Bu Ruminah.


"Bu, emm ini mah bukan DP bun tapi si ibu membayar setengahnya." ucap Mimi kepada Bu Ruminah setelah menghitung uang di dalam amplop coklat tersebut.


"Ah masa Mi, tadi ibunifu bilang ini sebagai DP nya dulu dan ibu juga nggak membukanya karena ibu takut." ucap Bu Ruminah, Mimi hanya menaikkan kedua alisnya.


"Iya ibu takut, karena uang itu bukan hak ibu." jawab bu Ruminah dan Mimi hanya tersenyum.


"Kenapa begitu? inikan juga yang ibu." jawab Mimi.


"Ya bukanlah Mi, ini masih uang kamu nah kalau semua yang sudah berada ditangan Mimi dan Mimi memberikan bagian buat ibu baru yang badian di tangan ibu itu uang ibu.'' ucap Bu Ruminah dan Mimi hanya ketawa.


"Ibu ini ada-ada aja, sama aja bu. Kan orangnya pesan sama Ibu." ucap Mimi.


"Iya dia pesan sama Ibu, tali yang buatkan Mimi." jawab bu Ruminah dan lagi-lagi Mimi ketawa.


Para sahabat yang duduk tak jauh dari Mimi dan melihat Mimi kembali ketawa ada rasa bahagia di hati mereka. Ya sudah hampir dua Minggu mereka tidak melihat Mimi ketawa lepas lagi.


"Senang deh kalau melihat Mimi ketawa lepas kayak itu lagi." ucap Fia.


"Iya Fi, tapi dia ketawa lepasnya hanya sama bu Rumi aja." ucap Irma.


"Iya juga ya." ucap Saridi dan di angguki yang lainnya.


"Apa kita ada buat salah ya sama Mimi, atau kita ada menyinggung dia" ucap Dimas.


"Mungkin, tapi apa??" sahut Riko.


tak hanya teman-teman Mimi yang melihat ketawa lepas Mimi dan merindukan sosok Mimi. Dillah dan yang lain pun melihat hal itu sehingga mereka juga berargumen sendiri sama halnya dengan sahabat Mimi.


"Ren, apa Lo ada jahilin Mimi?" tanya Yogi tiba-tiba.


"Maksud Lo apa Gi?" tanya Satria.


"Ya mana tau kan Reno jahilin Mimi sampe dah berminggu-minggu ini nggak pernah lihat Mimk tersenyum!" ucap Yogi.


"Bukannya Lo Gi yang sering jahilin Mimi." ucap Reno.

__ADS_1


"Iya sih, tapi kan dia nggak pernah nanggepin dan masih enjoy aja, tapi beda dengan minggu-minggu ini." ucap Yogi.


"Kenapa Lo kangen sama Mimi?" tanya Reno menelisik dan itu !membuat Dillah merasa tersinggung dan tidak suka jika ada yang merindukan Mimi.


"Jujur ni ya, gue emang kangen ma Dia, gue kangen aja melihat senyumnya." ucap Yogi sa!BIL !elirik ke arah Dillah.


"Sama." ucap Satria menimpali dan seketika wajah Dillah berubah sedatar-datarnya.


"Lo kenapa Dil?" tanya Reno dengan pertanyaan bodohnya.


"Hmm nggak apa-apa!." jawabnya ketus dan dingin.


"Lo nggak kangen Dil?" tanya Satria.


"Nggak." jawab Dillah di mulut namun di hatinya dia juga merindukan senyuman manis Mimi.


"Hallah lain di bibir lain di hati." sindir Reno dan !embjatnkedua sahabatnya senyum mengejek.


"Aiss sudahlah, gue mau ke kelas." jawab Dillah dan beranjak berdiri dan langsung melangkah keluar dari kantin.


"Hallah bilang aja Dil kalau nggak ada yang dilihat lagi." seru Yogi dan Dillah hanya acuh dan terus melangkah. Iya dilkahnpergi dari kantin karena Mimi juga sudah tidak berada di kantin lagi.


Sepulang dari kampus, Mimi tak langsung pulang ke kosan melainkan Mimi pergi ke toko bahan kue yang dekat dengan pasar tradisional.


Mimi pergi kasar bersama sahabatnya, lebih tepatnya Mimi minta antar Dimas kepasar karena Dimas ada kendaraan.


Sesampainya di toko bahan kue, Mimi langsung membeli semua bahan yang dia butuhkan. Mimi sangat beruntung karena uang DP yang diberikan kepada Bu Ruminah merupakan pembayaran setengah dari harganya. Mimk juga meminta izin kepada Bu Ruminah meminta semua uang tersebut untuk membeli bahan-bahan.


Setelah semua bahan dan keperluan buat kuenya terbeli tanpa ada yang terlewati, Mimi mengajak sahabatnya ke alun-alun sekedar menikmati jajan sore disana


Walau Mimi mengajak para sahabatnya jalan tapi dirinya !masih banyak akn diamnya.


"Mi, makasih ya udah traktir kita." ucap Dimas.


"Iya Mi, biasanya kita selalu minta traktiran Abang kita satu ini." ucap Silfia dengan menepuk bahu Saridi.


"Ckk kau ini Fia, kau kan emang suka gratisan." ucap Saridi dengan melepaskan tangan Fia yang bertengger indah di bahunya.


"Heheee Abang ku ini tau aja." ucap Silfia


"Ya Taulah, kan sudah membaca di keningmu itu." ucap Saridi dan membuat semuanya tertawa ngakak dan Silfia hanya mengkrucutkan bibirnya.


Semua masih tertawa melihat Fia yang cemberut akan ucapan kebenaran dari Saridi, Mimi hanya tersenyum melihat mereka semua.


"Ah kau ini bang, kenapa lah ucapan mu itu selalu tepat sasaran." ucap Silfia dengan maaih cemberut dan lagi-lagi semua tertawa.


Setelah merasa puas di alun-alun, Mimi !mengajak mereka untuk pulang, Mimi pulang naik mobil Dimas dan yang lain naik mobil Riko.


Didalam mobil Mimi hanya diam, dan entah mengapa juga si Irma atau yang lain tak ingin pulang bersama dirinya. Dimas memperhatikan Mimk yang diam seribu bahasa !e!bhat dirinya selalu menghelakan nafasnya.


"Mi..'' panggil Dimas yang tak tahan dengan keadaan yang sunyi.


"Hmmm." jawab Mimi lagi-lagi Dimas menghelakan nafasnya.


"Apa ada yang Mimi ceritakan?" tanya Dimas


"Maksud ku, apa Mimi mau berbagi?" tanya Dimas dengan melirik ke arah Mimi.


"Kalau Mimi ada masalah, Mimi boleh cerita sama aku atau sama yang lain.'' ucap Dimas.


"Mimi nggak sendirian, kita selalu ada kok buat Mimi." ucap Dimas lagi tali Mimi masih dengan diam.


"Mi.." panggil Dimas.


"Mimi nggak ada masalah kok Dim.' jawab Mimi.


"Kalau nggak ada masalah, kenapa Mimi berubah?" tanah Dimas.


"Berubah bagaimana? Mimi biasa aja kok.'' jawab Mimi.


"Mi, kita sebagai sahabat Mimi merasa Mimi berubah. Sikap Mimk berubah dalam minggu-minggu ini, Mimi banyak diamnya seakan Mimi sedang menanggung beban berat." ucap Dimas dan Mimk hanya menghelakan nafasnya saja.


"Yaudah kalau Mimk tidak mau cerita kepada kita, tapi aku harap Mimi tidak berubah. Jadilah Mimi yang kami kenal selama ini." ucap dimas.


Tak lama mimk dan Dimas telah sampai di kosan Mimi, Dimas membantu Mimi mengeluarkan bahan-bahan kuenya dan membangun Mimi mengangkat sertamenyusunnya. Setelah semua telah tersusun, Dimas pamit untuk pulang.


"Mi, aku pulang ha." ucap nya.


"Hmm malasihnya Dim." jawab Mimi dengan senyum.


"Sama-sama, kalau Mimi perlu teman telpon aku ya." ucap Dimas dan Mimi mengangguk.


"Yaudah, aku pulang. Assalamualaikum." ucap Dimas.


"Waalaikum salam." jawab Mimi.


Dimas berjalan keluar menuju mobilnya dan sebelum melajukan mobilnya, Dimas melihat ke arah Mimi yang masih berdiri dinpintu kosannya dan melambaikan tangannya.


"Aku harap kau baik-baik aja Mi." gumam Dimas dengan me!balas lambaian Mimi dan tersenyum.

__ADS_1


Setelah mobil Dimas tak tampak lagi, Mimi segera masuk kedalam kosannya, Mimi langsung mengambil handuknya dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Assalamualaikum, alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up makasih selalu setia di lapak authore ya😘


__ADS_2