DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
210


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Mimi tidak langsung pulang ke kosannya melainkan pergi kerumah Ummi Fatmah, karena kaya mbak Aish Ummi meminta Mimi untuk kerumahnya.


Mimi pergi kerumah Ummi fat!a bersama dengan Irsyad, ini pertama kali mimi bertemu dengan Irsyad kembali setelah kejadian tempo hari.


Semenjak kejadian itu, Irsyad sudah mulai banyak tugas-tugas dari kampus. Namun dia selalu memantau Mimi dari kejauhan.


Ya mereka memang satu universitas namun beda kampus, apa lagi kampus kedokteran tempatnya berbeda lokasi dengan kampus management bisnis.


Mereka ketemu bila sebelum jam mata pelajaran atau kegemukan!u di Kangin Bu Ruminah atau pada saat ini.


"Mi, Mimi baik-baik aja kan?" tanya Irsyad.


"Baik kok Syad, kenapa?" Mimi menjawab dan berbalik nanay kepada Irsyad.


"Nggak kenapa-napa sih, tapi kok lama nggak lihat Mimk tambah kerempeng aja." ucap Irsyad.


"Kamu ngejek Syad." jawab Mimi dengan cemberut.


"Nggak, aku cuma bicara faktanya aja." ucap Irsyad.


Mimk melihat ke arah tubuhnya, ya Mimi memang sudah terlihat kurus belum sangat ya... baju-baju nya juga banyak yang longgar walau sebelumnya Mimi memang memakai baju yang longgar tetapi akhir-akhir ini semua bajunya kedodoran semua termasuk pants nya.


Mimi diam membenarkan apa yang dikatakan Irsyad ada benarnya, tak hanya Irsyad yang mengatakan hal itu, teman-temannya pun sering mengucapkan hal yang sama.


"Hmmmmmmm fiuhhh" Mimk menghelakan nafasnya dan terdengar oleh Irsyad.


"Kenapa?" tanya Irsyad melihat ke arah Mimi dan mendengar helaan nafas Mimi.


"Nggak kenapa-napa Syad, mungkin karena kecapekan aja." jawab Mimi.


Tak hanya faktor kecapekan, akhir-akhir ini waktu tidur Mimi juga kurang sehingga membuat ***** makannya pun ikut berkurang.


"Kalau ada masalah cerita Mi, jangan dipendam sendiri. Nanti tambah habis badan Mimi." ucap Irsyad.


Mimi ingin bercerita namun apa yang harus Mimi ceritakan. Apa masalah mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya dan mengganggu waktu tidur serta pikirannya itu perlu diceritakan juga. Lagi-lagi Mimi menghelakan nafasnya.


"Kenapa? sepertinya kamu lagi me!endam beban. Ceritalah." ucap Irsyad.


"Apa yang mau Mimi ceritakan Syad " jawab Mimi.


"Apa pun itu yang menganggu pikiran Mimi." ucap Irsyad.


Mimi diam dan menghadap kearah luar jendela mobil.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, tapi aku harap jangan terlalu dipikirkan jika itu membuat beban di hatimu." ucap Irsyad dan terus fokus mengendarai mobilnya.


"Hmm.." jawab Mimi, sesekali mimimme!pejamkan matanya.


Ingin sekali dia bercerita tentang mimpi yang selalu mengusik tidurnya disaat mulut mulai terbuka untuk bercerita disaat itu pula otak dan hatinya seperti menghentikannya.


Dengan !enempuh empat puluh menit mereka pun sampai di rumah Irsyad.


Ummi Fatmah yang kebetulan lagi di luar melihat mobil anaknya sudah terparkir di depan rumahnya pun tersenyum.


"Assalamualaikum Ummi." ucap Mimi dan seraya mencium tangan wanita paruh baya tersebut.


"Waalaikum salam," jawab Ummi dengan memeluk Mimi.


"Ayo masuk, kenapa kamu jarang kerumah ummi hmm." Ummi mengajak Mimi masuk dan langsung diteror dengan pertanyaan.


"Mentang-mentang udah sibuk dengan perkuean lupa sama Ummi." ucap Ummi lagi dan Mimk hanya tersenyum.


Mimk dan ummi serta Irsyad sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Maaf Ummi, akhir-akhir ini banyak tugas dan banyak juga orderan." ucap Mimi dan meminta maaf.


"Semoga laris manis ya nak." ucap Ummi.


"Makasih Ummi, oh ya bentar." ucap Mimi dan baru teringat gat kalau tadi pagi dia ada mengisahkan kue buat Irsyad dan mbak Aish tapi Mimi lupa mengantarkan kepada mereka berdua.


Mimi membuka ranselnya dan mengambil tiga bungkus kue yang ada di dalam tasnya.


"Ini Ummi, maaf Hanaya ada ini. Tadi lagi Mimi sengaja mengisahkan buat Irsyad dan mbak Aish tapi Mimi lupa mengantarkan nya." jawab Mimi dan memberikan tiga bungkus mika kue ke Ummi.


"Wah, ada kue musonya.. Ummi suka kue Muso, dah puluhan tahun Mimi ndakmlernah lagi menahannya." jawab Ummi semabri langsung membuka mika kue tersebut.


"Eits tunggu Ummi." ucap Irsyad yang langsung memberhentikan aksi si Ummi dan mendekat ke arah Ummi.


"Ini jatah Irsyad.." ucap Irsyad lagi dengan mengambil sebungkus mika kue..


"Dasar ini anak pelit amat." ucap Ummi dan langsung menggit kue musonya.


"Wah enak Mi,intar Mimi bikin kue Muso. Hmm ada pedamarannha juga." ucap Ummi.


"Eh rame amat kelihatannya." kata Abi yang baru bergabung.


"Assalamualaikum Abi." ucap Ummi dan berdiri menyalami Abi Arsyad.


"Waalaikum salam nak, giman kabarmu? kenapa nggak pernah main kesini lagi." ucap Abi.


"Ummi makan kuenya sendiri aja." ucap Abi yang melihat sang istri memakan kue dengan kue di atas pangkuannya.


"Heheee maaf Abi, habis kuenya enak." jawab Ummi.


"Nih buat Abi." ucap Ummi dengan menyerahkan satu bungkus mika kue ke Abi.


"Wah makasih Ummi." jawab Abi dan langsung memakan kue berwarna coklat dan hijau alias kue Muso.


"Hmm enak kue ini, kenyal, lembut, gurih dan manis. Kue apa ini Mi?" ucap Abi dan bertanya kepada Mimi.


"Itu namanya kue Muso Bi, kue khas Jambi seberang." Ummi menjawab.


"Enak, Coba Ummi bhat sekali-kali Mi.. bosan kue modern mulu." ucap Abi.


"Emang apa kue modern Bi?" tanya Mimi.


"Yaitu Mi, Ummi MU selalu bhat brownis dan bolu terus," ucap Abi yang dibenarkan oleh Ummi dengan anggukan.


"Hmm, Ummi kurang pandai Bi buat kue tradisional. Ya kecuali agar-agar ma gorengan." jawab Ummi.


"Buat kue lapis aja Ummi gagal." ucap Ummi malu-malu.


"Gagal gimana Ummi." tanya Mimi.


"Ya gitu Mi, kadang kekerasan, eh kadang kelembekan." ucap Ummi.


Tak lama terdengar ucapan salam dari luar dan ternyata itu adalah mbak Aish.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap mbak Aish.


"Waalaikum salam." jawab kami serentak.


"Wah lagi makan kue, pasti buatan Mimi. tapi kok..." ucap !bak Aish dengan celingak-celinguk celingukan mencari keberadaan kue.


"Maaf mbak, Mimk bawa dikit." ucap Mimi yang tau kalau si mbak Aish mencari kue.


"Bagian Mbak dimakan Ummi !a Abi tuh " seru Irsyad dan mbak Aish melihat ke arah Ummi dan Abi.


Ummi dan Abi tersenyum lebar sambil menunjukkan kue yang ada ditangannya, mbak Aish cemberut seraya !mendekat ke arah Ummi dan !mengambil kue yang tinggal sebiji itu dan kemudian mbak Aish dengan langkah cepat menuju ke arah Abi dan mengambil kue yang sisa dua itu.


"Ini buat Aish, jangan protes." ucap mbak Aish, Ummi dan Abi hanya menghelakan nafas. Mbak Aish langsung memakan tiga buah kue itu.


"Maaf ya mbak." ucap Mimi tak enak.


"Nggak apa Mi, tapi besok buatkan mbak Aish kue yang hijau coklat itu ya.." ucap mbak Aish.


"Hah, kamu dah makan kue itu bak?" tanya Ummi.


"Sering Ummi, Mimi kan menjual kue di kantin." ucap mbak Aish.


"Oh ya Mi, itu kue namanya apa?" tanya mbak Aish lagi.


"Kue Muso mbak." jawab Mimi.


"Emmm besok sisain buat mbak dua puluh ya..." ucap mbak Aish.


"Banyak amat mbak." ucap Irsyad


"Biarin, habis enak.. Tiap mau beli kue itu eh selalu kebagian tiga mulu dinkangin." ucap mbak Aish.


"Iya mbak nanti Mimi buatkan.


"Emm atau gini aja, kalau Ummi ada bahan nya kita buat sekarang gimana?" ucap Mimi dengan memberikan usul.


"Wah ide bagus tuh, jadi Abi bisa makan puas." sahut Abi semangat.


"Bahannya apa aja Mi?" tanya Ummi.


"Bahannya mudah kok Ummi, tepung ketan, gula, coklat bubuk, tepung terigu, santan, minyak, dan kasta pandan." jawab Mimi.


"Emmm bentar Ummi cek bahan nya dulu, kalau nggak nanti biar Irsyad yang beli." ucap Ummi dan berlalu untuk memeriksa stok bahan.


"Lah kok Icad Mi.." ucap Irsyad protes yang nggak terima di suruh belanja bahan, namun Ummi tak menghiraukan.


Mimi dan yang lain terus berbincang dari masalah hubungan Mimi dengan kak Syahril hingga ke pelajaran. Tak berapa lama Ummi datang dan kembali bergabung dengan wajah yang lesu.


"Kenapa Mi?" tanya Abi kepada Ummi, kami semua juga ikut melihat ke arah Ummi.


"Hmmmm huh, bahannya cuma ada gula, tepung terigu ma coklat bubuk aja." jawab Ummi dan melihat ke arah Irsyad dan tersenyum sambil memainkan mata nya.


"Beuh..." seru Irsyad yang mengerti bahasa isyarat sang Ummi.


"Mbak Aish kan ada Ummm kenapa mesti Icad sih!!" ucap Irsyad namun tetap beranjak dengan wajah ditekuk dan seraya mengambil kunci mobilnya dan hendak berlalu keluar.


"Nah gitu dong anak ummmyangbcakep, yang tampan, yang gagah." ucap Ummi menuju anaknya.


"Dah tau anaknya tampan dan segalanya masa iya disuruh belu bahan kue." jawab Irsyad dan semuanya ketawa.


"Tuh apa gunanya anak cewek kalau yang disuruh belanja dapur selalu Irsyad." Irsyad terus menggerutu.


"Hmmm, mana uangnya." ucap Irsyad dengan menengadahkan tangannya ke arah ummi.


"Tuh.." ucap Ummi dengan memonyongkan bibirnya ke arah Abi, irsyad pun menghelakan nafasnya dan melihat ke arah Abi seraya berjalan gontai kembali ke arah Abi nya.


"Uangnya Bi." ucap Irsyad dengan menengadahkan tangannya meminta uang.


"Lah kok ke Abi." jawab Abi.


"Noh nyonya ndoro yang nyuruh." ucap Irsyad dengan menunjuk ke arah umminya dengan dagu.


"Helleh.." ucap Abi dan mengambil beberapa lembar uang merah.


"Nah gitu dong, kan semangat jadinya." ucap Irsyad yang langsung merebut uang di tangan Abi nya dan mengecup lembaran uang merah tersebut.


"Ehhh kebanyakan itu." Seru Ummi ketika melihat Irsyad yang secara sengaja memamerkan enam lembar uang merah ke arah umminya.


"Bahannya nggak nyam cepek Cad.." seru umminya .


"Upahnya Ummi sayang hahhaaa." ucap Irsyad dan langsung mengamit Mimi.


"Lah Mimk mau kamu bawa." ucap Ummi lagi.


"Iya, Irsyad kan nggak tau yang mana bahannya, jadi ya sekalian bawa tukang kuenya." ucap Irsyad.


"Hmmm," ucap Ummi.


"BI, Mi, mbak, Mimi pergi dulu, assalamualaikum." ucap Mimi dan pamit kepada keluarga nya.


"Waalaikum salam." jawab mereka semua.


Irsyad dan mimimtelahnpergi menuju Alfa untuk membeli bahan-bahan kue Muso nya, sedangkan di rumah Abi habis dicerca sama Ummi.


"Abi ini gimana sih, kok ngasih banyak amat uangnyanke Icad." ucap Ummi.


"Seharusnya tanya dulu berapa totalnya, jangan asal kasih uang aja." ummi terus mengomel.


"Lain kali tanya dulu, ini bahan nggak nyampe seratu ribu juga. Apaan ulah ampe lima ratus ribu gitu." Ummi terus nyerocos.


"Ini lagi Abi, dari tadi Ummi ngomong diem aja." ucap Ummi.


Abi dan mbak Aish saling memandang dan melongo melihat sang Ummi yang terus nyerocos, ngedumel, menggerutu.


"Abiii.." panggil Ummi kepada Abi karena dia sedang ngomong nggak dihiraukan oleh sang suami.


"Apa Ummi sayang." ucap Abi.


"Kenapa diem bae sih, dari tadi Ummi ngomong didenger nggak sih," ucap Ummi yang masih panjang.


"Ah Abi kebiasaan kalau orang ngomong di cuekin." ucap Ummi lagi.


"Jawab napa sih bi." ucap Ummi gemes.


"Huh.. gimana Abi mau jawab ummi, dari tadi Ummi nyerocos mulu." sindir mbak Aish.


"Pantes Irsyad selalu menggerutu lah emaknya gini.." ucap !bak Aish seraya berdiri hendak lari karena dia taunpasti si emaknya bakal ngamuk.

__ADS_1


"Aissssssh " ucap Ummi dengan melempar bantal kursi ke arah mbak Aish.


"Hahhaaaa. Sabar Bi." ucap mbak Aish yang sudah lari dan berada di anak tangga.


"Haisss ni anak." ucap Abi. Abi melihat ke arah Ummi yang masih memasang wajah yang di tekuk.


"Hmmmm huh " Abi menghelakan nafasnya.


"Ummi." panggil Abi tapi Ummi sok jual mahal.


"Tadi itu Abi belum kelar, baru ngeluarin duitnya eh dah di embat aja ma anak bujang Ummi." ucap Abi seraya merangkul sang istri dan endidikan Ummi di sofa.


"Anak bujang Abi." ucap Ummi.


"Iya anak bujang Abi dan Ummi." ucap Abi.


"Udah ah nggak usah cemberut gitu. mending ngamar aja yok Mi mumpung lagi sepi." bisik Abi.


"Hussss kebiasaan." ucap Ummi.


"Ayok lah." ucqpmummimlagimseraya menggandeng tangan Abi.


Mereka berdua pun berjalan saling merangkul menuju kamar untuk ngammar di sore hari.


Di swalayan Mimi dan Irsyad mencari bahan-bahan yang di butuhkan, Irsyad mendorong troli mengikuti kemana Mimi melangkah.


Yah akhirnya Irsyad tidak jadi mengajak Mimi ke Alfa melainkan mereka langsung pergi ke swalayan yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Alfa.


"Aiss Syad, beli cuma beberapa bahan aja pakek troli." ucap Mimi sambil menggelengkan kepala melihat Irsyad me!bawa troli.


"Yee biar di lihat orang kalau kita belanja banyak Mi, ya walau ntar isi nya cuma dua biji hahaa." ucap Irsyad.


Mimi langsung menuju di rak bagian pergelangan, Mimi ambil lima bungkus tepung ketan, dua kotak coklat bubuk, lima bungkus tepung terigu protein psedang dan lima bungkus tepung terigu protein tinggi, Mimi juga mengambil 5 bungkus gula pasir, 5 bungkus margarin, satunpak fermipan sesuai permintaan Ummi.


Ya Ummi mengirim pesan ke Irsyad tentang apa aja yang harus di beli, dan Irsyad menunjukkan ke Mimi.


"Emm lihat Mi, ternyata banyak juga kan belanjaannya." ucap Irsyad.


"Iya, karena yang dibeli diluar prediksi bahan kue Muso hehee." Jawab Mimi.


"Iya itu karena Ummi nggak mau rugi." ucap Irsyad lagi.


"Syad telpon Ummi, tanyain cetakan nya ada nggak mumpung masih disini." ucap Mimi dan Irsyad mengangguk serta langsung !menelpon umminya.


Berulang kali Irsyad menelpon na!un tak juga diangkat.


"Gimana Syad?" tanya Mimi karena semua pesanan Ummi sudah lengkap di troli.


"Nggak di angkat." jawab Irsyad.


"Aiss kemana sih nih nini nini." ucap Irsyad kesal karena telponnya tak di angkat.


"Pasti kebiasaan ini." ucapnya lagi.


"Kebiasaan apa Syad?" tanya Mimi.


"Huh ya kebiasaan kalau aki akinada di rumah, selalu ngamar." jawab Irsyad dan Mimi hanya diam tak mengerti maksudnya.


"Mungkin Abi capek." ucap Mimi.


"Beuh iya capek gempur." ucap Irsyad yang kesal.


"Gempur??? e!ang Abi kerja apa?'' tanya Mimi.


"Aisss anak di bawah umur mana ngerti." ucap Irsyad yang terus mencoba menghubungi umminya.


"Kalau Ummi nggak bisa, coba telpon mbak Aish atau telpon rumah." ucap Mimi dengan memberi usul.


"Hmmm betul juga, kenapa nggak kepikiran ya.." ucap Irsyad langsung !mencari no mbak Aish dan menelponnya namun no telpon mbak aish sibuk, lalu dia menelpon no bibi di rumah dan di angkat.


Setelah bertanya tentang cetakan yang di maksud Mimi dan bibi pun bilang kalau dirumah tidak ada cetakan itu.


"Giman Syad?" tanya Mimi.


"Hmm kata bibi, nggak ada Mi cetakan itu di rumah." jawab Irysad


"Yaudah kalau gitu kita kesana mencari cetakan itu." ucap Mimi dan di angguki irsyad.


Mereka berdua berjalan menuju bagian pecah belah dan plastik, setelah menemukan cetakan kue lumpang, Mimi mengambil lima bungkus yang satu bungkusnya berisi 12bh cetakan.


Setelah semua lengkap Mimi dan Irsyad langsung ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.


Yang awalnya uang pemberian Abi enam ratus ribu sekarang tinggal kurang lebih tiga ratus ribuan.


"Beuh dasar Ummi nggak mau rugi." ucap irsydah ketika kasir memberi tahu total belanjaannya..


"Udah nggak usah menggerutu mulu." ucap Mimi dan Irsyad hanya menghelakan nafas nya.


Setelah semua beres mereka pun pulang. Sampai di rumah keadaan rumah kelihatan sepi.


"Kok sepi ya Syad.." tanya Mimi.


"Hmm. pasti pada kelelahan." jawab Irsyad.


"Yaudah kalau gitu Mimi langsung ke dapur aja membuat kuenya. Ucap Mimi seraya langsung berjalan menuju dapur diikuti Irsyad.


Jadilah yang awal membuat kue bersama Ummi dan mbak Aish namun kenyataannyabyang membuat kue adalah Mimi dan Irsyad walau penuh kesabaran karena Irysad selalu membuat onar di dapur.


Kue siap masak, semua orang di rumah pada bangun dan sudah segar karena habis mandi.


"Wah Mi, dah masak ya kuenya." ucap Abi dengan rona wajah yang berbinar dan langsung mengambil kue nya.


"Iya Bi," jawab Mimi dengan senyum.


"Enak ya, tinggal makan." sindir Irsyad.


"Hussss." ucap Mimi dengan mencubit pinggang Irsyad.


"Hehee, sorry boy." jawab Abi dengan menaikkan alisnya.


"Beuhhh.." ucap Irsyad dan berlalu pergi.


"Wah padahal Ummi mau minta ajarin tadi." ucap Ummi dengan menikmati kue musonya.


"Iya, maaf ya Mi,. tadi mbak ketiduran." ucap mbak Aish.


"Iya mbak, nggak apa." jawab Mimi.

__ADS_1


Mereka pun menikmati kue Muso bersama teh manis di sore hari.


__ADS_2