
Di pagi hari semua orang dalam kosan khusunya keempat telah berkutat di dapur untuk memasak buat sarapan dan menyiapkan serta meracik bumbu-bumbu untuk menu mereka siang nanti dan disimpan di dalam kulkas agar sepulang dari pasar !ereka tinggal memasak saja.
Mimi kebagian mencuci pakaian namun sesekali Mimi juga membantu teman-temannya.
Ketiga lelaki bertugas membersihkan ruangan, mereka berbagi tugas ada uang menyapu, mengepel serta !enyapu halaman.
Setelah semua masakan siap, kecuali buat menu makan siang mereka, semua peralatan kotor juga sudah di bersihkan, pakaian sudah terjemur.
Saat nya mereka berempat bergantian untuk membersihkan diri sebelum datang lagi ketiga lelaki sahabat mereka. Tanpa sepengetahuan mereka ternyata ketiga lelaki itu sudah tiba dan membantu Syahril membersihkan perladangan kos Mimi.
Semua cewek telah selesai mandi dan mereka pun sudah bersiap. Mereka menyiapkan sarapan mereka di ruangan biasa mereka pakai untuk makan, yaitu ruangan di depan TV.
Mimi keluar untuk memanggil Syahril dan sepupunya, saat membuka pintu ternyata di luar sana sudah ramai oleh para lelaki yang sedang bergotong-royong membersihkan perladangan kampus Mimi.
"Lah kapan kalian datang?" tanya Mimi kepada ketiga, sahabatnya itu.
"Pagi tadi Mi, entar kita numpang mandi ha Mi." ucap Riko.
"Iya, lebih baik udahan deh. Sana bersih-bersih." ucap Mimi.
"Tanggung dikit lagi." seru Syahril yang sedang membersihkan got bersama Dimas.
"Yaudah, setelah itu segera bersih-bersih." ucap Mimi dan berlalu kembali masuk.
"Lah Mi, mana mereka?" tanya Muthia saat melihat Mimi seorang diri.
"Lagi tanggung katanya." jawab Mimi sembari duduk.
Tak lama rombongan para lelaki macho itu pun masuk.
"Assalamualaikum." ucap mereka semua.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan ketiga sahabatnya.
"Eh loh yank sudah ada disini? emm itu kok pakai baju nyantai seperti itu?" tanya Irma.
"Iya, tadi kita emag sengaja pagi-pagi kesini, kata kak Syahril dia minta bantu buat bersih-bersih kosan." jawab Riko.
"Oh gitu?" ucap Irma.
"Emm yank pinjam handuk dong, mau mandi lagi." ucap Riko.
"Oh ya bentar." jawab Irma dengan segera berjalan kedalam kamar.
Mimk sudah berada di dalam kamar, Mimi mengambilkan handuk bersih di dalam lemarinya dua buah handuk untuk mereka. Mimi memang sengaja selalu menyediakan handuk lebih buat jaga-jaga bila keluarganya atau temannya nginap ada handuk buat mereka.
"Nih buat kalian." ucap Mimi kepada mereka bertiga dan menyerahkan handuk tersebut ke tangan Dimas.
"Emm tapi gantian ya?" ucap Mimi.
"Oke makasih." jawab Dimas dan berlalu langsung menuju dapur dan langsung berjalan ke kamar mandi ternyata mereka sedang antrian.
Menjelang menunggu para lelaki selesai mandi, Mimi dan yang lain duduk !menonton TV. Sedangkan Mimk asik bermain game di ponselnya.
"Lagi main apa sih Mi, fokus amat." tanya Irma sambil mengintip
"Lagi main sidoku I.." jawab Mimi yang masih fokus dengan angka-angka yang tertera di game tersebut.
"Seru amat kelihatannya " ucap Muthia yang juga ikut nimbrung.
"Hehee." Mimk hanya terkekeh.
"Daripada bengong nungguin mereka." ucap Mimi lagi.
"Ahnaku juga mau," sahut Selfia yang langsung lari mengambil HP nya di dalam kamar dan dia pun langsung mendownload game tersebut begitu pula dengan irma dan Muthia.
Jadilah mereka berempat bermain game tersebut dan mereka bertanding, jika beruntung mereka dipertemukan dalam tantangannya.
Sangking asik dan fokusnya mereka bermain tidak sadar jika para lelaki sudah duduk menghadap mereka.
Para lelaki hanya diam dan fokus juga melihat ke arah empat gadis itu dengan geleng-geleng kepala.
"Ehemm" Saridi berdehem dan keempat gadis melihat ke arah mereka sekilas dan kembali menyelesaikan tayangannya.
"Yah dicuekin." celetuk Irsyad.
Syahril langsung mengambil HP Mimi begitu pula dengan Riko mengambil HP Irma, Ryan mengambil HP Muthia karena Ryan duduk dihadapkan Muthia. sedangkan irsyad mengambil hp Selfia.
"Eh eh yaaaa hah.." Selfia cemberut ketika hpnya tiba-tiba di ambil. begitu pula dengan Mimi yang lain.
"Yah kak, tanggung. Jadi kalah lah Mimi." ucap Mimk dengan cemberut.
Dimas melihat nya gemes ingin rasanya dia mencubit bibir Mimi, Dimas terus menatap Mimi dengan mata yang sayu. Saridi yang duduk disampingnya menyikut lengan Dimas dan dimas pun tersadar dari lamunan nya.
"Jaga pandangan." bisik Saridi.
"Hemm.'' jawab Dimas.
Saridi bukan tak tau jika Dimas menyukai Mimi sama halnya dirinya, Saridi berupaya melupakan perasannya tetapi beda dengan Dimas yang sulit untuk mencobanya.
"Kalian itu, kalau sudah pegang HP ndak ingat orang disekitar." ucap Ryan, Syahril hanya menatap Mimi dengan sorotan tajam Mimi yang melihat itu hanya mengkrucutkan bibirnya.
"Ehemm ngomong-ngomong sarapannya udah boleh dimakan nggak ya?" ucap Dimas mengalihkan suasana lebih tepatnya suasana hatinya.
__ADS_1
"Eh iya, hehee maaf." ucap Muthia.
"Yaudah ayo di makan," ajak Selfia dengan menyerahkan piring ke Dimas dan Saridi.
"Emm nasi apa nih namanya?" tanya Saridi yang mencium aroma bawang di nasi.
"Nasi goreng ya?" tanya Riko.
"Bukan yank, ini namanya nasi tumis. Buatan Mimi." jawab Irma.
"Nasi tumis? sama dong dengan nasi goreng?" ucap Dimas.
"Beda lah bro." jawab Ryan.
"Kok beda?" tanya Dimas lagi dengan mengambil nasi dan ditaruh kedalam piringnya.
"Beda Dim, kalau nasi goreng itu nasi yang di goreng dengan bumbu-bumbu yang sudah di tumka terlebih dahulu, nah kalau nasi tumis itu bawang merah yang digoreng atau di tumis terlebih dahulu baru.." ucapan Mimk terpotong oleh Riko yang menyelanya.
"Bukannya sama aja Mi, sa-sama di tumis terlebih dahulu baru nasi di masukkan? cuma nasi goreng ada tambahannya seperti cabe dan lain-lain sedangkan nasi ini kayaknya cuma pakai bawang saja." sela Riko.
"Emm makanya dengerin dulu." ucap Ryan yang duduk di samping Riko dengan mengikuti lengan Riko.
"Emang beda banb?" tanya Riko.
"Ckk, makanya jangan menyela omogan orang." seru Irsyad.
"Hehee sorry Mi.." ucap Riko venbir dengan menunjukkan dua jarinya.
"Monggo silahkan dilanjutkan penjelasan nya ratu?" canda Riko dengan membungkukkan badan serta sebelah tangan di majukan.
"Heleeeh, udah lebih baik makan daripada makin dingin." ucap Mimi dan mereka pun sarapan bersama dengan nasi tumis ala Mimi dengan ayam goreng, sambal tumis danmtempe mendoan tak lupa kerupuk dan keripik.
Sehabis sarapan dan bersih-bersih mereka semua pergi kasar sesuai Dengan rencana mereka. Mimi sagu mobil dengan Syahril dan kedua sepupunya sedangkan ketiga sahabatnya bersama Dimas dan yang lain.
Mereka pergi kepasar sudah sedikit siang karena terhambat oleh para lelaki yang sibuk membersihkan perladangan di tambah lagi menunggu mereka mandi secara bergantian.
Sesampainya mereka langsung menuju lapak Simbah, beruntungnya simbah berjualan hari ini.
"Assalamualaikum Mbah." ucap Mimi.
"Waalai kum salam." ucap Simbah terbatas ketika melihat yang datang adalah cucunya cucu bukan sedarah.
"Ya Allah ndok.. Simbah kangen." ucapnya seraya berdiri dan memeluk Mimi.
"Mimi juga kangen Mbah, Mbah apa kabar?" tanya Mimi yang masih dalam pelukan simbah.
"Alhamdulillah Simbah baik, gimana dengan kamu ndok?" jawabnya dengan melerai pelukan namun kedua tangannya berada di kedua pundak Mimi, kedua tangan menepuk pundak Mimi seraya tersenyum.
"Eh Mimi, siangan datang Mi?" tanya bude sebelah.
"Alhamdulillah baik, kalian sudah sarapan?' jawab bude, dan kembali bertanya.
"Sudah bude." jawab Mimi.
"Loh ini kan mas Syahril toh?" tanya bude.
"Iya bude." jawab kak Syahril. "Bude apa kabar?" tanya kak Syahril.
"Alhamdulillah baik." jawab bude.
Mimi dan yang lain pun membantu Simbah jualan, sebelum sebagian mereka akan berpencar menjelajahi pasar.
Kak Ryan, Saridi dan Dimas jalan-jalan disekitar pasar. Riko dan Irma juga menjelajahi pasar berdua.
Mimi, Syahril, Muthia dan Selfia masih membantu Simbah, Mimi sudah melainkan getuk dan cenil simbah untuk di bawanya pulang, Mimi kangen dengan jajanan buatan Simbah.
Tanpa disadari rezeki kembali menghampiri mereka. Ya ibu-ibu yang pernah memesan kue kepada Mimk dan Simbah ada di lapak Simbah dan lagi-lagi dia memesan kembali ke Mimi dan Simbah untuk acara empat bulanan menantu nya hari Rabu.
Mimi dan Simbah pun menyetujuinya, Mimk ingin sekali mengajak simbah mengerjakan semua pesanan itu di kosan Mimi namun Mimk bingung Simbah akan tidur dimana dan pastinya Simbah pun tak mau.
Setelah tawae menawar serta transaksinya si ibu pun pulang, padahal si ibu sudah punya nomor Mimi namun kata si ibu ponselnya hilang di jambret saat pulang dari pasar. Jadi dia tidak punya nomor Mimi.
Saat si ibu pergi, Mimi berencana akan berbelanja kebutuhan dapurnya
"Muth, Fi kita belanja dapur yuk?" ajak Mimi kepada kedua sahabatnya itu.
"Ayok lah." ucap mereka berdua.
"Kak, Kaka di sini aja ya temani simbah." ucap Mimi dan Syahril pun mengangguk setuju, kebetulan dia juga merasa capek di tambah dirinya yang belum begitu pulih.
"Mbah, Mimi belanja dulu ya." pamit Mimi kepada Simbah.
"Iya ndok hati-hati." jawab Simbah.
"Iya Mbah" ucap Mimi dengan mengangguk.
"Dek" panggil Syahril.
"Iya Kak." jawab Mimi.
"Nih." ucapnya dengan memberikan lembaran rupiah berwana merah kepada Mimi.
"Ndak usah kak, Mimi ada kok kan tadi hanisnyerima hohor dari kue hehee." ucap Mimk menolak pemberian Syahril.
__ADS_1
"Yang itu di simpan, ini buat belanja." ucapnya dan Mimi pun menerimanya karena percuma di tolak pasti tetap akan berada ditangan Mimi.
Jangan si tanya Muthia dan Selfia, ada rasa iri dihatinya melihat ketulusan Syahril dengan Mimi bak suami yang mengayomi istri. Mata mereka bernjnnae dengan Le!ukuran masing-masing.
"Yaudah kalau gitu kami belanja dulu." ucap Mimi dan Syahril mengambil gguk seaya kembali duduk bersama Simbah.
Mimk dan kedua sahabatnya langsung menyambangi ke lapak yang jual lauk pauk. Sesuai keinginan Syahril SE!ala! dia ingin makam saos asam manis kepiting, Mimi pun membeli aneka macam seafood. Mimi membeli kepiting, udang, cumi serta kerang, setelah itu Mimi membeli ikan gurami, serta ayam.
Sehabis dari lapak ikan Mimk kembali mengitari pasar untuk !mencari sayuran, cabe dan bawang.
Syahril dan simbah saling bercerita satu sama lain selama mereka tidak bertemu.
"Gimana kabarmu Le." tanya Simbah kada kak Syahril.
"Alhamdulillah baik Mbah." jawab Syahril dengan sambil menyantap cenil buatan Simbah.
"Sepertinya kami habis sakit ya? sakit ala?" tanya Simbah SE!baru melihat ke Syahril. Syahril hanya tersenyum.
"Emm nggak kok Mbah, Aril baik-baik aja." ucapnya yang berbohong.
"Mungkin kamu bisa membohongi Mimi Le, tali nggak sama Simbah." ucap Simbah yang masih !menelisik wajah Syahril.
"Kelihatan dari wajahmu, kamu sedang tidak sehat, muka mu matamu sedikit pucat." ucap Simbah.
"Dan badanmu juga kelihatan lebih kurus dari sebelumnya kita bertemu gaya rambumu juga berubah." ucap Simbah lagi.
"Ah Mbah bisa aja." jawab Syahril mengelak.
"Kalian berdua itu sama, kalau di tanya dan dibilang mengelak." ucap Simbah dengan sembari melayani orang yang membeli dagangannya.
"Yang sabar ya Le." ucap Simbah tiba-tiba setelah selsai melayani pembeli, Syahril bingung dengan ucapan Simbah yang tiba-tiba itu.
"Hubungan kalian penuh rintangan, penuh kerikil dan duri dan berasal dari satu hanya bisa menyakiti semuanya." ucap Simbah dengan senyum si bibirnya.
"Sekuat apapun kita !mempertahankan nya sekarang namun bila jika Allah mengatakan tidak maka tidak akan terjadi." ucap Simbah lagi.
"Bersabarlah," ucap Simbah lagi...
"Emm maksudnya Mbah?" tanya Syahril.
"Emm" Simbah hanya tersenyum.
"Kamu, Mimi pasti bisa melewati nya, tali bukan saat ini." ucap Simbah dengan memegang pundak Syahril.
Syahril bingung dengan harapan Simbah,apakah Simbah sedang membaca pikirannya itulah yang dipikirkan Syahril saat ini.
"Cinta kalian begitu kuat, semakin kuat semakin besar cobaannya walaupun nanti kalian melewati rintangan tetap terpisahkan, kalian suatu saat akan dipersatukan kembali." ucap Simbah.
"Pernikahan mu sudah dekatkan?" tanya Simbah, Syahril pun tersipu malu, Syahril sangka Simbah tau. katanya untuk menikahi Mimi dengan segera di Minggu depan.
"Iya Mbah, Aril mau menikahi Mimi, insya Allah Minggu depan Mbah, do'a In Aril ya Mbah." ucap Syahril, Simbah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi sayang Le itu pernikahanmu bukan sama Mimi yang terjadi." ucapannya Simbah membuat Syahril tercengang.
"Maksud Simbah?" tanya Syahril.
"Kamu itu sudah dijodohkan sama kakekmu Le dan itu pun tidak bisa dielakkan." ucap Simbah.
"Ma mana em darimana Simbah tau?" tanya Syahril.
"Simbah juga ndak tau darimana, cuma simbah lihat yang menikahi denganmu bukan Mimi." jawab Simbah.
"Disini kalau pun kamu paksakan menikah dengan Mimi bukan kalian berdua yang tersakiti tapi semua orang yang mendukung kalian pun juga." ucap Simbah.
"Yah ibaratnya maju dan mundur kalian tetap tersakiti" imbuh simbah dengan menghelakan nafas beratnya merasa sesak melihat dan memikirkan Mimi yang sudah dianggapnya cucu itu bakal tersakiti.
"Pesan Simbah, apapun jawaban Mimi kepadamu nanti janganlah kamu membencinya, dia akan memberimu jawaban bukan hanya untuk mu, bukan untuk kebaikan kalian berdua saja namun buat semua orang yangbkau dia sayangi." ucap Simbah yang terasa sesak di dadanya.
"Dia sangat mencintaimu dan keluargamu, sebesar apapun cintanya padamu maka dia akan memilih cintanya terhadap keluargamu dan keluarganya." ucap Simbah.
"Dan satu pesan Simbah lagi, setelah kau menikah pilihan kakekmu segera pula kau cari tau kebenaranya, percayalah. Mimi yang kau kenal saat ini, sampai kapanpun dia akan seperti yang kaunkenal." ucap Simbah dengan menepuk pundak Syahril.
Syahril hanya diam, dia mencerna semua apa yang diucapkan oleh simbah. Jujur dia tidak percaya dengan ramalan atau semacamnya namun dia juga tidak bisa mengelak untuk tidak dipikirkan.
Tak lama Mimi dan kedua sahabatnya sampe di lapak Simbah dengan tentengan-tentengan di kedua tangan mereka.
"Sudah siap dek?" tanya Syahril.
"Emm belum kak, nanti kita belanja bahan-bahan kue dulu ya di toko luar sana." ucap Mimi dan menunjuk ke arah luar.
"Oh ya simbah dahnhabis kan dagangannya, yok kita sekalian belanja bahan-bahan buat kue Simbah juga." ucap Mimi dan mengajak Simbah.
"Iya, Simbah dah selesai juga ini, tinggal diberesin aja." ucap Simbah dengan senyum di bibir yang sudah keripit itu.
"Yaudah yok." ajak Mimi setelah semua barang simbah beres.
"Oh ya kak, kita taruh dulu belanjaannya ke mobil, baru kita ketoko bahan kue." ucap Mimi.
"Iya." jawab Syahril dengan senyum dan mengusap kepala Mimi walau pikirannya sedang memikirkan ucapan-ucapan Simbah.
Mereka berjalan bersama, Syahril menuju parkiran diikuti Mimi serta ketiga sahabatnya, Simbah lebih dulu berjalan ke arah toko bahan kue nya. Setelah menaruh semua dagangan kedalam mobil mereka pun menyusul Simbah ke toko bahan kue.
Seperti sebelumnya setelah membeli bahan-bahan kue dan Mimi menyambangi bapak-bapak yang mencatatkan mobilnya, Mimk mencatar mobil itu buat Simbah, agar Simbah tidak capek berjalan karena Simbah membawa banyak barang.
__ADS_1
Sepulang dari pasar mereka pun kembali berkutat dengan peralatan masak, setelah semua yang dibutuhkan sudah bersih mereka pun memasak bersama.
Kepiting saos asam , soup kerang, goreng tempe tahu dan sambal cobek nya. Mereka kembali menyantap makan siang bersama-sama.