
Dillah tak dapat menemani Mimi di acara ulang tahun temannya, Dillah berserta sahabtnya pergi keluar kota untuk melihat kemajuan usaha disebuah kota kecil.
Tak hanya melihat kemajuan usahanya, mereka berdua juga harus menghadiri meeting dengan lara kolega yang berkerja sama dengan mereka.
Selama meeeting berlangsung perasaan Dillah menjadi tidak tenang. Dillah gelisah sehingga dia kurang fokus dengan apa yang di nyatakan oleh kliennya.
Reno yang melihat Dillah tidak tenang pun menyenggol tangannya.
"Ada apa?" bisik Reno pada Dillah. Dillah tidak merespon dia terus melihat jam di arlojinya.
Satria pun ikut melihat jamnya karena penasaran kenapa Dillah arlojinya.
"Perasaan baru 30 menit meeting di mulai, ada apa dengan Dillah." gumam Satria.
Yah mereka meeting di jam tiga sore, dan meeting baru berjalan 30 menit. Dillah merasa 30 menit waktu yang sudah terlalu lama baginya. Bahkan presentasi dirinya saja belum di utarakan.
"Dil, tenang. Ada apa? bawa istighfar aja." ucap Reno, Dillah pun terus mengucap istighfar dalam hatinya. Namun seolah tidak mempan dia terus gelisah.
Tak hanya Dillah, yang berada di luar negeri pun merasa gelisah. Syahril yang akan ikut melaksanakan operasi, jantungnya seolah berdetak dengan kencang.
Berulang kali Syahril menarik nafas dalam agar dia bisa konsentrasi, beeulau kali pula dia beristighfar namun semua sekolahnyidak ada berpengaruh.
"Ya Allah ya Rabb, ada apa denganku." gumam Syahril. Ryan yang melihat Syahril yangbgelisah pun menghampiri nya.
"Ada apa Riil? tanya Ryan.
"Nggak tau Yan, JANTUNGKU berdebar kencang." ucap Syahril dengan memegang dada sebelah kirinya.
"Riil are you ok?" tanya rekannya.
"I dont know Ndrew, my heart is beating so fast." ucap Syahril dengan jujur.
Rekannya tanpa berbicara lagi langsung membawa Syahril ke ruangan nya dan memeriksanya.
"Try to take a deep breath" ucap Andrew dan syahril pun mengikutinya. ( coba kau tarik nafas dalam-dalam ).
"What do you feel? does this part hurt?" ucap Andrew dengan memegang dada kiri Syahril. ( apa yang kamu rasakan? apa sebelah sini sakit? ) Syahril menggelengkan kepalanya.
"I see nothing dangerous and worrying, maybe you just feel anxious. you better rest okay" ucap Andrew. ( aku lihat tidak ada yang berbahaya dan mengkhawatirkan, mungkin kau hanya merasa cemas saja. lebih baik kau beristirahat saja oke )
"Oke but.." ucap Syahril
"Don't think about it, I'll let Professor Edward deal with the operation later. You better rest. Let me be with ryan accompanying professor edward." ucap Andrew dengan menepuk bahu Syahril.
( Jangan kau pikirkan, urusan operasi nanti biar aku izinkan ke profesor Edward. Lebih baik kau beristirahat saja. Biar aku sama ryan yang menemani profesor Edward.)
"Okay thanks bro." ucap Syahril dan Syahril pun berbaring di ruangannya.
"Ya Allah ada apa ini? apa yang akan terjadi? kunmohon ya Allah lindungilah orang-orang yang baku sayangi. Mimi.." Syahril bergumam dalam hati, tiba-tiba dia mengingat orang yang dicintainya dan menyebut namanya.
"Ya allah lindungi dia, lindungi Mimi ya Allah. Dek apa yang terjadi denganmu dek?" Gumamnya dan membjat dirinya semakin gelisah.
Jam lima sore meeting pun selesai dan telah mencapai kesepakatan bersama. Dengan cepat Dillah berjalan dengan diikuti para sahabatnya.
"Dil, Lo kenapa?" tanya Reno
"Nggak tau Ren, perasaan aku nggak enak. Ayo kita langsung ke hotel dan langsung pulang saja." ucapnya.
Sepamlai diparkiran Dillah langsung masuk ke dalam mobilnya dengan diikuti para sahabat.
Dillah menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan keluar dari parkiran, setelah itu dia langsung menggas pacu mobilnya.
"Hei Dil, jangan ngebut." ucap Satria.
"Udah kalian diam saja." jawab Dillah dengan terus melajukan mobilnya dengan kencang sampai hotel.
Sesampainya di hotel Dillah langsung berlari menuju lift dan langsung menekan lantai dimana kamarnya berada.
"Ya Allah lindungi dia." Gumamnya dalam hati.
Lift yang baru bergerak serasa lamban bagi Dillah, jika bisa di angkat mungkin lift ini akan diangkatnya.
"Lama amat sih ni lift." ucal Dillah.
"Sabar Dil." ucap Reno.
"Sebenarnya ada ala sih Dil, kenapa Lo keg khawatir gitu?" tanya Satria
"Gue nggak tau Sat, yang jelas perasaan aku tidak tenang. Pikiran gue terus ke Mimi." jawabnya
"Yaelah Dil, baru juga Mimi keluar pergi ke undangan temannya ulang tahun, itupun dia pergi sama lara sahabatnya. Jangan khawatir gitu lah." ucap Yogi.
"Ya Tuhan lama amat sih ini lift." ucap Dillah yang tidak sabar dan mengabaikan omongan Yogi. Setelah lift terbuka, Dillah langsung berlari menuju kamar nya.
Dillah langsung membereskan pakaiannya dan dimasukkan kedalam kopernya. Setelah semua dirasa tidak ada yang tertinggal dia lun langsung berjalan menuju kamar yogindan Satria dengan diikuti Reno.
Saat sampai kamar dua sahabatnya, terlihat yogin!masih bersantai ria.
"Kalian sudah siap belum?" ucap Dillah dengan ketus.
"Nyantai dulu Dil, hilangin capek bentar." jawab Yogi.
__ADS_1
"Terserah kalian kaalau mau santai, gue duluan." ucap Dillah.
"Hey Dil, jangan terlalu posesif sama cewek. Lo aja sama dia belum sah jadian udah gitu." ucap Yogi
"Terserah, gue duluan." ucap Dillah namun dicegah sama Satria
"Sabar Dil, Mimi sammaa teman-teman nya insya Allah aman." ucap Satria.
"Kalian mau pulang sama gue atau tidak? kalau tidak gue duluan, gue nggak mau terlambat dan gue nggak mau terjadi apa-apa sama Mimi." ucapnya dengan suara yang akan meledak namun di tahannya dan langsung berlalu meninggalkan sahabatnya.
Satria maupun Yogi pun dengan segera memasukkan pakaiannya kedalam koper dan setelah itu mereka berlari mengejar Dillah dan Reno.
Sesampainya di parkiran mereka langsung meletakkan koper mereka di dalam.
"Dil, biar aku aja yang bawa." ucap Reno yang fau bagaimana Dillah jika sedang panik namun di tolak oleh Dillah.
"Nggak Ren biar gue saja. gue nggak mau kita telat." ucapnya.
"Jangan terlalu khawatir gitu Dil, Mimi nggak bakal kenapa-napa dan nggak bakal dia berpaling" ucap Yogi tapi Dillah tidak menggubrisnya.
Dillah membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dillah berharap Mimi baik-baik saja namun hatinya sangat gusar.
Berkali-kali dia memukul stir karena merasa kesal karena begitu lamban mobilnya melaju padahal kecepatan yang sudah di atas rata-rata.
Tak lama terdengar suara adzan Maghrib dan mereka pun berhenti di masjid terdekat dan menjalankan sholat Maghrib terlebih dahulu.
"Dil, Mimi sama yang lain masih dirumah juga." ucap Satria.
"Iya aku tau, tapi dia masih tetap ingin pergi. Kalah bisa aku akan menemaninya, aku nggak mau terjadi sesuatu padanya.
"Ya tapi nggak harus ngebut keg tadi Dil. Nyamle kagak malah kita kp dibawa rumah sakit." ucap Reno menasehati.
"Udahlah ayo kita sholat." ucap Dillah.
Tiga jam perjalanan yang akan mereka lalui, perkiraan jam sembilan kurang mereka sampai dan tujuan Dillah langsung ke hotel.
Sebelumnya Dillah sudah menelpon Mimi dan memintanya untuk membatalkan pergi ke acara itu, tetapi Mimi terus meyakinkan dirinya kalau dia pergi bersama sahabat-sahabatnya jadi insya Allah aman.
Namun hati Dillah tidak merasa tenang, namun dia tetap memberikan izin lada Mimi asal Mimi Jang berpisah dari lara sahabatnya.
Dillah juga menelpon Muthia dan meminta agar mereka jangan jauh-jauh dari Mimi, para sahabat Mimi mengira dillah terlalu posesif pada Mimi tetapi lara sahabt meng iyakan.
Di hotel Mimi dan Syifa pergi ke toilet, mereka berdua keluar dari balai Room dimana acara diadakan.
Sampai di toilet ternyata mereka antrian, Mimi yang tak tahan dengan rasa di tubuhnya pun disuruh duluan oleh Syifa.
"Kamu duluan aja Mi." ucapnya dan Mimi pun masuk ke dalam toilet itu duluan.
Sedangan Syifa masuk ke toilet di bagian sebelahnya. Tak lama Syifa masuk ke dalam ruangan dimana Mimi berada. dilihatnya Mimi mengahadapi wastafel dengan terus membasuh mukanya.
"Emm tidak tau Fa, kenapa mimi merasa panas ya?" ucap Mimi.
Tak lama masuk dua orang gadis, Syifa langsng keluar lebih dulu dan meninggalkan Mimi. Mimi di ajak paksa sama dua gadis ini namun mereka memakaikan Mimi cardigan panjang untuk mengecoh orang yang selalu mengikuti Mimi.
Yah ternyata mereka mengetahui kalau Mimi selalu di kawal dari jauh saat mereka tiba di toilet ini.
Mereka membawa Mimi dengan menggandeng Mimi dari sisi kiri dan kanan untuk menutupi Mimi, mereka berdua menuju lift dan naik ke lantai atas.
Sesampainya di lantai yang mereka tuju, mereka membawa Mimi kesebuah kamar yang telah mereka sewa. Mimi tidak bisa berontak karena Mimi di pegang kuat dan mulut Mimi juga diperban. Setelah sampai kamar itu mereka bertiga meninggalkan Mimi seorang diri dikamar itu.
Syifa yang melihat Mimi dan Mimi melihat Syifa seolah minta tolong dia hanya diam dan ikut keluar bersama dua orang gadis tadi.
"Maafkan aku Mi" Gumamnya dalam hati.
Syifa dan dua gadis itu pun keluar dari kamar itu, Syifa kembali ke balai Room dan berkumpul sejenak dan teman-temannya.
"Syifa, Mimi mana?" tanya Selfia.
"Hah Mimi?" tanya Syifa.
"Iya tadikan aku lihat dia bersama kamu ke arah luar, kalian kemana tadi?" tanya Selfia.
"Oo emm tadi aku sama dia ke toilet tadi, cuma dia duluan masuk di toilet sebelah dan aku disebelahnya tali saat aku masuk ke toilet sebelah aku tidak menemukan Mimi, akunkira dia sudah balik ke sini." ucap Syifa.
"Asuh gawat ternyata Selfia melihatku membawa Mimi keluar." gumam Syifa dalam hati.
Selfia melihat gelagat aneh syifa dan Syifa terlihat memucat.
"Kamu kenapa Fa?" tanya Selfia
"Kenapa muka kamu pucat gitu? kamu sakit?" tanya Selfia lagi.
"Em iya Fi, tadi aku sakit perut nih mules lagi. Aku duluan ya" ucapnya dengan beralasan sakit perut dan berlalu.
Lima belas menit berlalu, tetapi mereka tidak menemukan Mimi.
"Bagaimana kalau kita cari Mimi di toilet?" ucap Muthia.
"Iya kita ke toilet saja, ayok." ajak Selfia dan mereka pun bp langsung keluar.
Saat mereka sedang berjalan mereka melihat lift terbuka dan keluarlah Dillah bersama sahabatnya.
__ADS_1
"Muthia" teriak Dillah memanggil Muthia, Muthia dan kedua sahabatnya lun berhenti.
"Kak Satria, kak Dillah." ucapnya
"Mau kemana kalian? dimana Mimi?" tanya Dillah pada Muthia dan yang lain serta menanyakan keberadaan Mimi.
"Emm itu kak, kkta lagi mau cari Mimi" ucap Selfia.
"Emm kita mau nyusul Mimi ke toilet." ucap Muthia.
"Kenapa HP Mimi tidak aktif?" tanya Dillah lagi.
"Nah itunyang kita tidak tau kak, makanya kita mau nyusul dia ditoilet. Ah ayo buruan." ucap Irma dan langsung menarik Muthia dan Selfia.
Dillah dan ketiga sahabatnya pun mengikuti ketiga gadis itu dari belakang.
Sampai di toilet, Selfia, Muthia dan Irma membagi tugas untuk masuk ke dalam yang mana terdapat dua ruang toilet.
Mereka tidak menemukan Mimi namun mereka Mimi slingbag Mimi.
"Gimana" tanya Dillah.
"Emm miminya nggak ada kak, kami hanya menemukan tas nya aja." jawab Muthia.
Dua orang yang selalu mengawasi Mimi ikut panik ketika mendengar percakapan sahabat-sahabatnya Mimi. Mereka berdua merasa kecolongan.
"Apaaa!! kemana dia!!" ucap Dillah dengan berteriak.
"Kakak kan sudah bilang jangan biarkan Mimi sendirian." teriak Dillah lagi dan membjat Muthia maupun yang lain merasa bersalah.
"Arrrrrrrrg bugh bugh" Dillah berteriak dan menunjukkan dinding.
Saat Dillah meluapkan kekesalannya, muncul Irsyad yang akan ke toilet.
"Eh kenapa pada ngumpul disini?" tanya Irsyad.
"Syad kamu lihat Mimi?" tanya Reno.
"Eh bentar kak, kebelet" ucap Irsyad dan berlalu ke toilet pria.
"Apa kak?" tanya Irsyad setelah keluar dari toilet pria.
"Kamu disini juga? kamu lihat dimana Mimi?" tanya Reno.
"Emm iya aku dan keluarga di undang mnghadirkan acara sekaligus tunangan anak teman dari Abi." jawabnya.
"Tadi sih aku lihat Mimi sama cewek tali aku nggak tau siapa namanya?" ucap Irsyad.
"Syifa, tadi dia pergi ke toilet bersama Syifa. Kata Syifa dia tidak ketemu lagi sama Mimi dan dia langsung kembali ke balai Room." terang Selfia.
"Kamu lihat Fi?" tanya Muthia.
"Iya saat mereka keluar, tapi aku telat, aku nggak tau mereka kemana. Saat aku lihat Syifa masuk lagi aku tanya katanya dari toilet dan dia juga menyangka kalau Mimk dah balik lagi ke balai room dan dia oun menyusul ke balai room." terang Selfia.
"Sekarang dimana dia? Syifa maksdunya?" tanya Dillah.
"Dia dah pulang kak, dia terlihat pucat katanya dia sakit perut." jawab Selfia.
"Udah udah, emm Muthia dan yang lain kembali ke balai room cari Mimi, aku dan yang lain me ruang CCTV kkta carintau disana." ucap Irsyad dan mereka ohn langsung menuju ruang CCTV dan mengecek tiga puluh menit lalu.
Mereka mengecek saat dari luar balairoom hingga ke toilet. Mereka melihat memang ada dua orang gadis keluar yang mana mereka yakkninitu adalah Mimi dan Syifa dari pakaian yang dikenakan berjalan menuju toilet.
Di toilet mereka melihat kedua gadis ini menunggu namun Mimi masuk terlebih dahulu kedalam ruangan satu nya dan Syifa ke ruangan sebelahnya.
Tak lama mereka melihat Syifa keluar dari ruangan itu danmasuk kedalam ruangan dimana Mimi berada.Namun dari CCTV itu Syifa keluar kembali seorang diri tanpa Mimi.
Tak lama Syifa keluar, masuk lah dua orang cewek, lemamenit kemudian mereka keluar bertiga.
Mereka tetap mengawasi layar monitor sampai bebepa menit mereka tidak melihat keberadaan Mimi.
"Coba ulang dari saat tiga orang keuar tadi." ucap Dillah pada ketiga yang bertugas di ruangan CCTV.
"Kenapa kak?" tanya Irsyad.
"Coba ulang" jawab Dillah. Mereka ohn mencoba mengulang waktu sebelumnya.
"Zoom" ucap Dillah dan mereka pun mengezoom.
"Damn, siit.." Dillah mengingat dengan tangan di genggam.
"Ada apa Dil?" tanya Yogi.
"Coba lihat kemana ketiga orang tersebut pergi'' ucap Dillah dan mereka pun langsung memutar ke jammswlanjutnya dan mengikuti kemana perginya ketiga gadis itu.
"Dil ada apa? tanya Reno yang melihat muka Dillah yang merah padam.
"Kak ada apa dengan tiga gadis itu tanya Irysad.
"Itu dua gadis yang baru masuk setelah Syifa keluar dan ditengah itu adalah Mimi." jawab Dillah dengan mata fokus ke layar monitor.
Terlihat tiga gadis masuknlift dan naik ke lantai dua lantai dari tempat mereka sebelum nya. Mereka terus mengecek CCTV tersebut.
__ADS_1
Di dalam balairoom Muthia dan dua sahabatnya mencari Mimk hingga bertanya-tanya pada teman-temannya yang lain.
tbc