
Mimi tercengang melihat wajah seseorang yang telah dilupakan sekam 4.5 tahun ini.
Orang yang tak Mimi harapkan lagi kehadirannya, orang yang tak lagi ingin Mimi Menag atau Mimi lihat lagi.
Namun takdir mempertemukannya kembali kepada orang yang telah membuatnya kecewa.
Selama 4.5 tahun kenangan yang sangat Mimi benci ketika orang tersebut berjanji namun dia ingkari setiap perkataannya.
Dia berjanji tak hanya kepada Mimi, melainkan dia juga berjanji kepada orang tua Mimi. Walau belum bersitatap secara langsung, namun mereka telah berbicara lewat video call.
Dia berjanji dia pula yang mengingkari, dia pergi tanpa kabar, dia memutuskan tanpa kepastian dan sekarang dia datang kembali dihadapan Mimi.
Dengan seketika kenangan yang hampir punah kini kembali diingatan seolah kaset kenangan itu berputar di kepala Mimi. Yah kenangan dimana dia membuat luka dengan rasa kekecewaannya.
"Mimii tunggu dek.'' dia berlari mengejar Mimi, Mimi terus berlari hingga di lobi supermarket.
"Tolong dengarkan dulu." ucapnya dengan memegang lengan Mimi.
"Lepas kan." ucap Mimi berusaha melepaskan pegangannya.
"Tolong dek, dengarkan penjelasan ku. Aku senang bisa ketemu lagi, aku mohon dengarkan dulu.'' ucapnya memohon.
"Mau menjelaskan apa lagi hah!!! semua sudah jelas, lepaskan.'' ucap Mimi dengan terus berontak.
Orang-orang berlalu lalang melihat keributan antara Mimi dengan orang itu.
"Maaf bapak ibu, dia istri saya. Ada kesalahpahaman sedikit.'' ucap lelaki itu merasa tidak enak karena dirinya menjadi tontonan.
"Ayo ikut." ucap nya dan menarik Mimi menjauh dari keramaian.
Mimi yang lengannya di pegang erat pun terpaksa mengikutinya. Sesampainya di area parkir yang terletak di bawah mall itu, lelaki itu memeluk Mimi erat karena Mimi kembali berontak.
"Lepaskan." ucap Mimi dengan berteriak.
"Nggak, aku ngggak akan melepaskan mu sebelum kau dengarkan penjelasan nya dulu." ucapnya dengan terus memeluk Mimi.
"Aku sangat merindukanmu dek, sangat merindukanmu." ujarnya dengan terus memeluk Mimi dari belakang.
''Mimi mohon lepaskan Mimi kang, semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi." ucap Mimi kepada lelaki itu yan tak lain adalah Dillah.
"Nggak dek, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Setelah itu terserah kamu mau memaafkan akang atau tidak."
"Tapi akang mohon dengarkan dulu." ucapnya, setelah merasa Mimi tenang, Dillah mendudukan Mimi di bangku stainless yang ada di parkiran itu.
"Maafkan akang, akang tidak bermaksud mengingkari janji, waktu itu akang sudah siap buat ke restoran yang akang pesan khususkan buat kita."
"Tapi.. ( Dillah melihat Mimi yang diam ) tapi, sebelum ke restoran akang menjemput orang tua akang dulu di bandara." ucapnya dengan menghelakan nafasnya.
"Akang juga tidak tau bagaimana seterusnya, yang akang tau setelah akang bangun akang sudah berada di Thailand." Ucapnya,
"Hheh" Mimi hanya tersenyum sinis.
"Sudahlah kang, tidak perlu dijelaskan lagi. Maaf Mimi harus pulang." ucap Mimi yang beranjak berdiri dan berlari menuju parkiran dimana motornya berada.
"Dek, tunggu." namun Dillah kalah cepat.
Sepanjang Mimi berlari, air matanya tak henti-hentinya jatuh. Hingga disaat dia jalan membawa motornya menuju ke kontrakannya pun Mimi menangisi.
Entah mengapa air mata itu terus luruh, rasa kecewanya selama ini kembali terbuka.
"Kenapa harus sekarang kau datang dan menjelaskan nya kang." Ucap Mimi.
Tanpa Mimi ketahui Dillah mengikuti Mimi dari belakang hingga saat Mimi memasukan motornya lun Dillah melihatnya.
"Ternyata selama ini kau ada disini dek. Maafkan akang." ucapnya.
Suara adzan Maghrib pun berkumandang, Dillah mencari masjid atau mushola disekitar kosan nya Mimi untuk menjalankan sholat Maghrib.
Mimi di rumahnya pun mendengar suara adzan langsung segera berwudhu dan langsung menjalankan perintah illahi.
Setelah sholat Mimi tak langsung beranjak, Mimi menyempatkan untuk mengaji sejenak.
Saat selesai mengaji Mimi melihat foto di atas mejanya, foto dirinya bersama Abizar.
"Mas, apa dia yang kau maksud?''
"Apa Mimi harus menerimanya dan melupakan rasa kekecewaan Mimi."
Yah Miki terkenang saat dua bukan sebelum mereka bertunangan.
Flashback on
Sehabis berkerja Abizar akan mengajak Mimi ke pantai untuk melihat sunset. Dia berjalan menuju ruangan Mimi dengan senyum yang tak pernah pudar di bibirnya.
Tok tok tok Abizar mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum dia masuk.
"Ya masuk" jawab Mimi tanpa melihat siapa orang di balik pintu karena dia sedang merekap rekam medis pasien yang dia tangani hari ini.
Abizar setelah mendapatkan perintah masuk, diapun masuk dan berjalan menuju meja Mimi sambil menggelengkan kepalanya.
"Selalu saja tidak bisa membuang waktu" gumamnya.
Lama Abizar berdiri di depan meja Mimi, Mimi masih asik dengan rekam medis dan laptop nya.
"Masih sibuk buk'' ucap Abizar, Mimi yang tidak asing akan suara itupun melihat ke arah suara.
Mimi tersenyum melihat lelaki yang akan segera menjadi suaminya.
"Maas" ucapnya dengan senyum.
"Hmm sibuk amat sampai calon suami nggak di gubris." ucap Abizar sembari mendekati Mimi dan berdiri di samping Mimi.
Seperti biasa Mimi akan menyalami dan mencium tangannya, Abizar pun akan mengecup kening Mimi.
''Belum selesai?" tanya Abizar.
__ADS_1
"Belum, sedikit lagi." jawab Mimi.
"Oo, perlu mas bantu?'' tanya Abizar, Mimi menggeleng.
"Sedikit lagi kok, nih tinggal dua rekam medis lagi. Mas duduk ya? Mimi nyelesein dua ini dulu." Ucap Mimi, Abizar pun mengangguk dan duduk di atas ranjang yang berada di dalam ruangan Mimi.
Abizar merebahkan dirinya sembari menunggu Mimi selesai, Matanya selalu melihat ke arah Mimi.
"Mas," Panggil Mimi.
"Dah selesai?" tanyanya, Miki mengangguk.
"Ya udah yuk." ucap Abizar yang langsung merangkul Mimi dan mengajak Mimi keluar.
"Emang mau kemana mas?" tanya Mimi.
"Kita resto pantai yuk, sekalian kiat sunset ." ucap Abizar, Mimi menganggukkan kepala dan tersenyum.
Selama perjalanan, Mimi dan Abizar saling bercerita, dari masalah pasien hingga Mimi menceritakan masa-masa kuliahnya dulu.
Abizar sangat senang kepada Mimi karena bagi Abizar Mimi sesosok perempuan yang mandiri, tak banyak bicara dan gak banyak menuntut.
Sesampainya di resto dekat pantai, Mimi dan Abizar berjalan langsung memasuki kawasan pantainya.
Sewaktu berjalan menuju pantai Mimi dan Abizar berpapasan dan mbak Asih.
"Eh mbak Mimi, mas Abi." panggilnya.
"Mbak asih.'' jawab Mimi dengan senyum.
"Monggo mbak, mau minum apa nih? mumpung saya masih di sini." ucapnya dan mengarahkan kami ke meja yang tersedia.
"Seperti biasa mbak'' jawab Abizar.
"O oke kalau gitu? makannya nggak sekalian?" tanya Mbak asih lagi.
"Emm camilan aja dulu mbak, gorengan kalau ada." Jawab mas Abizar.
"Oke kalau gitu, saya ambilkan dulu. Tunggu bentar ya mas ,mbak." jawab Mbak asih.
Miki dan mas Abizar mengangguk, selepas kepergian Mbak asih, Abizar mengajak Mimi berjalan di tepian pantai.
"Dek, kita jalan ke sana yuk.'' ajak Abizar.
"Ayok mas." Jawab Mimi, mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan tak pernah lepas dari genggaman, senyuman dan canda juga tak terlepas dari bibir mereka.
Layak nya anak-anak ABG mereka berdua menikmati berjalan di atas kasur tanpa alas kaki. Mereka berdua bermain air, saling melempar air dan tertawa bersama.
Mbak asih yang sudah kembali ke tempat Mimi, dia ikut bahagia dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah Mimi.
"Mas Abi, mbak Mimi. Ini minumannya."Teriak mbak Asih.
"Yaa mbak, taruh aja di sana.'' Mimi membalas teriakan.
"Yaudah dek, ayok kita kesana." ajak mas Abizar, Mimi pun mengangguk. Mereka berdua kembali ke meja mereka dengan tangan saling bertautan.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." ucap mbak Asih.
Mimi dan Abizar menikmati es Dogan dan menyantap gorengan sembil menunggu waktu sunset tiba.
Abizar dan Mimi duduk berdua di kursi panjang itu, Abizar tak pernah lepas genggamannya dari tangan Mimi.
Abizar meletakan kepala Mimi di pundaknya, Mimi pun mengikutinya dan Mimi juga merasa sangat nyaman.
"Dek" panggil Abizar.
"Hemm." Jawab Mimi.
"Mas boleh tanya?" tanya Abizar, Mimi mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Abizar.
"Kalau seandainya Allah tidak menyatukan kita dalam ikatan sucinya. Apa yang adek rasakan dan apa yang akan adek lakukan." tanyanya. Miki terdiam.
"Dek" panggil Abizar kala melihat mimi hanya terdiam.
"Kenapa mas bertanya seperti itu? apa mas ada rencana mau meninggalkan Mimi?" jawab Mimi dengan memasang wajah datar nya.
"Bukan begitu, kalau maunya mas sampai ajak menjemput mas, mas ingin selalu bersama kamu dek."
"Mas tidak ingin kehilanganmu walau hanya sedetik."
"Cuma kita tidak tau ajal kita dek." Ucap Abizar.
deg jantung Mimi berdetak dengan kencang saat Abizar berbicara tentang ajal..
"Mas ngomkng apaan sih." ucap Mimi dengan mengerat pelukannya. Entah mengapa perasaan Mimi menjadi tidak menentu.
"Entahlah dek, mas hanya ingin bicara ini aja. Dan mas ingin tau tanggapan kamu." ujarnya dengan mengelus tangan Mimi.
"Kalau mau dengar tanggapan Mimi, jelas Mimi sedih mas, jelas Mimi tidak akan bisa menerimanya."
"Walau mas bukan yang pertama, Mimi ingin mas orang yang terakhir berlabuh di hati Mimi"
"Kalau Allah tak menyatukan kita dalam ikatan, Mimi harap Allah yang mengambil nyawa Mimi terlebih dahulu." ucap Mimi dan mulut mimi langsung di bekap dengan telunjuk Abizar.
"Shuut, nggak boleh ngomong gitu." ucap Abizar.
"Mas aja ngomong gitu, kenapa Mimi nggak boleh." jawab Mimi dengan cemberut.
"Jujur jika Allah memisahkan salah satu dari kita, Mimi ingin Allah yang menjemput Mimi. Agar Mimi tidak merasakan lagi kesedihan di tinggal orang yang Mimi sayangi." ucap Mimi.
"Mimi selaku berdoa dan berharap, Allah mempersatukan kita hingga Allah pula yang mengambil nyawa kita berdua."
"Berjanjilah mas, jangan pernah tinggali Mimi, Mimi tidak tau nantinya jika mas juga meninggalkan Mimi."
"Mungkin, Mimi akan menutup hati ini untuk selamanya."
__ADS_1
"Mimi tidak mau disakiti lagi karena rasa cinta." ucap Mimi dengan deraian air mata.
"Mas tidak bisa berjanji dek, karena jodoh, maut
ada di tangan Allah."
"Mas akan selalu berusaha melindungi kamu, walau nyawa mas taruhannya."
"Berjanjilah dek, jika allah menjemput mas terlebih dulu. Jangan kau tutup pintu hatimu.''
"Entah mengapa mas merasakan, nanti ada orang dari masa lalu mu akan mengejar cintamu lagi."
"Dan mas sangat yakin, cinta nya sama kamu tidak akan pernah hilang. Bahkan dia selalu menjaganya." Ucap Abizar. Mimi hanya diam.
"Jika dia datang padamu, terimalah dia. Dan ingatlah orang itu yang selalu ada di hatimu paling dalam."
"Jangan pernah salah memilih ya dek, gunakan hatimu. Mas percaya hati mu selalu tepat.'' ucap Abizar.
Mimi diam namun lama-lama dia terisak, Mimi semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa mas ngomong begitu, apa mas tidak sayang sama Mimi.' ucap Mimi.
"Sampai akhir hayat mas, cuma kamu dek. Cuma kamu perempuan satu-satunya, selain bunda." ucapnya dengan mengecup kening Mimi.
Saat Mimi terbuai akan kenangan terindah bersama Abizar, lamunan Mimi di usik oleh ketika pintu yang berulang kali
flasback off
Tok tok tok, tok tok tok, tok tok tok ointubyerus di ketuk
"Ih siapa sih, masa iya anak-anak.''
"Padahal kan sudah di bilang malam ini mau istirahat." ucap Mimi sembari menuju pintu rumahnya. Mimi menghelakkan nafasnya sebelim.membuka pintu. Perlahan Mimi membuka pintu.
"Ada ap..." ucap Mimi, Mimi kira Andre namun Mimi tercengang yang dihadapannya orang yang dia hindari.
Orang dengan berpakaian santai dengan membawa bucket bunga mawar putih serta bungkusan lain di tangan kirinya.
"Assalamualaikum dek.'' ucapnya namun Mimi tidak menjawab dengan segera Mimi menutup pintunya.
"Dek tunggu." ucapnya dengan menahan pintu agar tidak tertutup.
"Pergilah kang, jangan ganggu Mimi." usir Mimi di balik pintu.
"Nggak dek, dengarkan dulu penjelasan akang.'' ucapnya.
"Nggak perlu lagi kang, pergilah. Mimi mohon pergiii." ucap Mimi dengan terisak.
"Nggak dek, akang nggak akan pergi. Tolong beri akang waktunya dek, akan akang jelaskan semuanya."
"Tolong sayang, dengarkan akang. Akang masih mencintaimu dek, sampai kapanpun akang akan tetap mencintaimu sayang."
"Jangan katakan itu, pergiii..hiks hiks." ucap Mimi mengusir Dillah, Mimi juga tidak tau dengan perasannya kaki ini.
Dillah yang mendengar Mimi terisak, akhirnya dia melemah dan Mimi yang merasa pintunya tidak berat lagi dengan segera menutupnya.
Mimi menyangka Dillah telah pergi karena tidak ada suaranya lagi. Mimi terduduk di balik pintu begitu pula Dillah terduduk di balik pintu luar.
"Maafkan Mimi kang, maafkan Mimi. Mimi sangat kecewa sama akang, Miki tidak bisa melupakan itu semua."
"Kenapa harus sekarang akang kasih penjelasan hiks hiks, Tiga bulan Mimi tunggu kabar dari akang, tapi mana akang sama sekali tidak memberi kabar."
"Maafkan Mimi." ucap Mimi dengan terisak di balik pintu.
"Mimi juga masih ada rasa sama akang. Tapi Mimi tidak tau apakah itu cinta atau bukan." ucap Mimi lirih
Dibalik pintu, Dillah mendengar segala ucapan Mimi, Dillah pun meneteskan air matanya saat mendengarkan segala curahan kekecewaan Mimi.
"Maafkan akang dek, ini semua juga bukan kemauan akang. Sampai kapanpun akang tetap mencintaimu."
"Maafkan akang telah mengecewakan mu. Akang sayang kamu." Ucap Dillah dalam hatinya, dia tak kuasa melihat orang yang dicintai nya menangis karena dirinya.
Perlahan Dillah berdiri dan beranjak pergi kontrakan Mimi dengan beban di hatinya.
"Akang akan berjuang kembali untuk mengambil cintamu lagi, akang akan berjuang untuk membuatmu mencintai akang lagi.''
"Akang janji." ucapnya dalam hati.
Mimi yang merasa perutnya lapar, beranjak menuju dapur, dilihatnya kalau tidak ada makanan bahkan Mimi melupakan belanjaannya tadi.
"Huh, bahan-bahan kan emang dah habis, aisss kenapa juga pakek acara di tinggal belanjaannya."
"Semua ini gara-gara manusia ingkar janji itu. mana laper lagi." ucap Mimi.
"Ke warung makwo saja kah." ucap Mimi dan kembali menuju kamar untuk mengambil jilbab nya dan melepas mukenah yang masih terpakai di dirinya.
Saat membuka pintu, Mimi celingukan dahulu takut kalau Dillah tiba-tiba kembali lagi, disaat aman Mimi membuka lebar ointunya dan mimj punn keluar.
Saat akan mengantuk pintu, hidung Mimi mencium aroma yang membuatnya semakin menekan air ludahnya.
Aroma bumbu berkuah yang sangat menggoda ya, dan membuat perutnya semakin berontak.
Mimi melihat di bangku samping pintunya ada bucket bunga serta bungkusan yang tergelatak di sampingnya.
Perlahan Mimi mengambil bucket bunga itu, bunga yang masih segar dan wanginya semerbak.
"Makasih kang, kau masih mengingatnya." ucap Mimi, wanginya bunga tak sewangi aroma yang membuat perutnya meronta.
Mimi mengambil bungkusan di samping bunga itu dan mencium aromanya.
''Kau juga tak pernah melupakan kesukaan ku. Pas perut lapar." ucap Mimi dan kembali membuka pintu dan Mimi tak jadi pergi ke warung makwo.
Dari kejauhan Dillah melihat Mimi mengambil bunga dan baksonya, tersenyum senang.
''Selamat makan sayang.'' ucapnya, setelah itu dia pun pergi...
__ADS_1
tbc