DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Emosi Ryan


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore waktu setempat, laporan-laporan dari setiap divisi di rumah sakit ini juga telah selesai di kroscek dan di pelajari serta telah di tanda tangani.


Sebenarnya Mimi hanya mengecek serta membubuhi tanda tangannya saja. Karena laporan tersebut sudah di cek terlebih dahulu oleh Jonathan sebelum dia berangkat ke indonesia seminggu lalu.


Mimi menghubungi sekretarisnya melalui telpon dan Mimi segera memberikan berkas-berkas tersebut.


"Hallo Anna, kembali ke ruangan saya ya." ucap Mimi.


"Baik Miss." jaeab Anna.


Tak lama Anna pun tiba di dalam ruangan Mimi.


"Anna, ini baru sebagian aku cek dan tanda tangani. Emm masih ada beberapa berkas yang belum aku cek dan pelajari." ucap Mimi sembari memberikan beberapa map yang telah selesai dikerjakannya.


"Emm karena waktu kerja sudah habis, berkas ini kamu simpan saja terlebih dahulu, besok baru kau berikan pada setiap divisi." imbuh Mimi.


"Baik Miss, maaf apa Miss belum makan siang?" ucap Anna, dia juga bertanya kepada Mimi, mungkin melihat makan siang Mimi yang masih utuh di atas meja.


"Emm" ucapnya Mimi bingung, sambil melihat kemana arah mata Anna memandang.


"Oh... Emm aku lupa hehhee.." imbuh Mimi setelah dia melihat ke arah nampan masih berisi makanan yang dia pesan siang tadi masih utuh di atas meja.


"Emm, apa Miss mau makan? biar saya pesankan yang baru." tawar Anna.


"Oh.. tidak usah Anna, terimakasih. Lebih baik kau bersiap lah pulang. Ini sudah waktunya pulang" jawab Mimi.


"Tapi Miss.." bantah Anna.


"Tidak apa, aku akan memakan makanan ku itu. Tidak baik membuang makanan." ucap Mimi sembari menuju meja yang ada di dalam ruangan nya.


"Oh gitu, kalau begitu saya duluan Miss.Permisi" ucapnya.


"Emm iya Anna, hati-hati. Salam buat ibumu." jawab Mimi, Anna pun tersenyum dan mengangguk.


Setelah Anna meninggalkan ruangannya, Mimi pun membuka plastik wrap yang membungkus makanannya. Walau telah dingin, Mimi tetap menyantapnya hingga tandas. Karena bagi Mimi membuang makanan adalah hal yang tidak di sukainya dan dalam agama nya pun sangat tidak di anjurkan.


Allah SWT tidak menyukai hambanya yang membuang-buang makanan karena itu adalah mubazir. Kata mubazir sendiri diartikan sebagai menggunakan sesuatu tidak pada tempat yang layak. Mubazir tidak hanya pada makanan saja, tetapi juga harta lainnya.


Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 26 yang artinya:


"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya," (QS Al-Isra:26).


Beruntungnya kantin runah sakit disini menyajikan makanan dengan porsi yang pesan, sehingga porsi tersebut juga pas dengan keadaan lambung kita. Walau seandainya masih kurang kenyang para staff karyawan bisa menambah porsinya lagi.


Di dalam agama juga tak menganjuran makan yang berlebihan seperti yang dijelaskan dalan alqur'an surah Al-A'raf ayat 31.


"Makan dan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan," (QS Al-A'raf: 31).


Sementara itu, memilih untuk menyudahi makan karena sudah kenyang juga memiliki landasan. Sebab makan di atas rasa kenyang juga dilarang oleh syariat karena termasuk perbuatan israf atau berlebih-lebihan.


Maka dari itu dianjurkan agar mengambil makanan sesuai kebutuhan. Jangan terlalu banyak agar tidak mubazir.


"Alhamdulillah" ucap Mimi saat selesai menyantap makan siang yang tertunda.


Selesai makan dan mencuci tangan serta mukanya, Mimi segera bersiap kembali. Mimi mulai melangkah kaki nya keluar dari gedung rumah sakit ini untuk kembali berkerja di rumah sakit lain.


Seperti sebelumnya, Mimi tetap menekuni perkerjaannya di tiga rumah sakit. Tepat hampir tengah malam, Mimi baru tiba di apartemennya.


Sepi itu yang Mimi rasakan saat memasuki apartemennya. Helaan nafas pun sangat terdengar di oendengaran Mimi.


Berjalan dengan gontai menuju kamarnya Mimi tak menyiakan waktu untuk segera membersihkan dirinya.


Setelah membersihkan diri dan masih menggunakan bathrobe, Mimi mengecek ponselnya yang hampir tidak di lihat setelah dia berada dirumah sakit.


Ada beberapa panggilan serta pesan dari emak. Ada juga beberpa panggilan dari bubda Rahmah dan ayah Brata dan ada juga beberapa panggilan dari umma. Yah Mimi lupa memberikan kabar kepada mereka semua jika dirinya telah sampai dengan selamat.


Tak hanya panggilan serta pesan oara tetua yang terlupakan. Panggilan serta pesan dari sang suami pun nyaris terabaikan.


Mimi membuka tiga pesan dari Syahril.


"Dek, jangan lupa sebelum ke kampus sarapan dulu ya."


"Dek,nanti kalau udah pulang kabari ya, kita lanjut lagi ya yank."


"Assalamualaikum dek, maaf kakak harus segera kembali ke dusun ada pasien yang harus segera di tangani, selamat ujian ya yank, i love you ❤️"

__ADS_1


Pesan terakhir di kirim sekitar jam delapan pagi waktu setempat jika di indonesia tentu waktu tersebut telah masuk malam hari.


Setelah membaca beberapa pesan dari mereka, Mimi langsung membalasnya dan memberitahu kepada mereka kalau dia telah sampai dengan selamat.


Setelah memberi kabar, Mimi pun langsung merebahkan dirinya yang lelah dan beristirahat dengan pulas.


Keesokan harinya Mimi selalu bangun seperti biasanya karena lagi libur sholat Mimi mengerjakan perkerjaan rumahnya. Mimi membersihkan setiap sudut apartemen sembari mencuci pakaian kotor.


Sebenarnya Mimi ada yang membantu buat bersih-bersih namun karena Mimi juga tidak ada kegiatan pagi ini maka Mimi mengerjakan semua nya itung-itung olah raga.


Setelah semua beres, Mimi memasak nasi goreng untuk sarapannya. Sehabis masak Mimi langsung menyantapnya terlebih dahulu, setelah selesai sarapan Mimi huga langsung mencuci piring dan gelas bekas makan dan minumnya.


Setelah selsai, barulah Mimi membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kerja.


Hari weakend seperti ini, seperti biasa Mimi akan berangkat ke rumah sakit lain, apa lagi hari ini ada jadwal operasi di dua rumah sakit yang sudah dua tahun ini dia kerja disana.


Tak hanya Mimi yang sedang melakukan tindakan operasi, sang suami pun juga sedang malakukan tindakan tersebut.


Ya saat selesai sholat subuh, bidan yang setia menamani pasien memberikan laporan pada Syahril.


"Assalamualaikum pak dokter." ucap si bidan kala melihat syahril telah selesai menunaikan ibadah subuh.


"Waalaikum salam, bagaimana buk?" ucap Syahril.


"Alhamdulillah kondisi pasien stabil, tekanan darah nya juga telah normal. Apa kita akan segera melakukan tindakan operasinya dok?" jawab si bidan.


"Emm kalau semua telah stabil, kita bawa ke puskesmas saja buk, alhamdulillah alat-alat khusus buat operasi telah tiba dan telah di pasang. Jadi kita bisa mempergunakannya." terang Syahril.


"Oh gitu dok, Alhamdulillah. Emm kalau gitu saya hubungi supir ambulance untuk ke sini dan saya juga akan memberitahu bu Dijah." ucap si bidan.


"Iya buk. Telpon segera supir ambulance nya dan tolong juga beritqhu bu Dijah jika ada saudaranya yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien untuk mempersiapkan diri buat donor." ucap Syahril, yah sebelumnya hal ini telah di berutahukan kepada pihak keluarga agar saat di butuhkan mereka telah bersiap diri.


Keluarga pasien seperti kedua kakak lelaki nya telah sampai di rumah, ambulance pun telah tiba.


Pasien di gendong oleh salah satu kakaknya menuju ambulance. Ambulance pun segera meluncur ke puskesmas.


Beruntung dua hari lalu alat-alat yang dibutuhkan untuk operasi telah tiba di puskesmas ini walau tak s. elengkap rumah sakit. h.


Sesampainya di puskesmas pasien di cek kembali kondisinya oleh petugas anastesi yang masuk , para anggota keluarga yang memiliki golongan darah yang sama juga telah masuk labor untuk di cek kondisi serta di ambil darahnya.


Pasien juga sudahmelak. . kukan prosedur sebelum melakukan t. indakan operasi sepeerti berpuasa, pemasangan kateter dan lain sebagainya.


Karena pasien juga memiliki trauma akan jarum suntik makapasien. melakukan anastesi umum atau anastesi total sehingga pasien akan tertidur selama tindakan berlangsung.


Yah tak semua tindakan caecar melakukan anastesi total, seperti Anastesi yang diberikan adalah anastesi epidural atau spinal yang hanya akan membuat tubuh bagian bawah mati rasa, namun pasien tetap terjaga.


Setelah pasien telah tak sadar, syahril dan beberapa perawatserta. bidan yang membantu mulai tindakan.


Say@tan demi say@tan di perut pasien telah di lakukan. Sekitar dua puluh say@tan yang Syahril lakukan di atas perut serta rahim pasien secara vertikan di bawah pusar.


Setelah say@tan terakhir usai, Syahril pun mengekuarkan bayi tersebut dan di serahkan pada bidan untuk dibersihkan dan dilakukan tahap berikutnya.


Setelah bayi Syahril juga mengeluarkan plasenta dari rahim, dan memberikan injeksi hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim sehingga perdarahan akan berkurang dan akhirnya berhenti sepenuhnya.


Namun baru beberapa detik pemberian injeksi pasien mengalami pendarahan, Syahril dan tim pun berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan penanganan pemberhentian darah dan alhamdulillah penanganan yang dilakukan pun berhasil dalam kurun waktu 30 menit.


Pasien juga langsung di beri penambahan darah sebanyak dua kantung darah.


Setelah semua kembali Syahril melakukan tindakan menutup sayatan pada rahim dan perutdengan. jahitan. Seluruh prosedur operasi caesar ini umumnya akan membutuhkan waktu 40 hingga 50 menit. Namun karena ada kendala sebelumnya waktu nya pun menjadi kurang lebih dua jam.


Dua jam berlalu dan pasien juga sudqh berpindah ke ruang observasi terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.


Tak hanya Syahril atau pun Mimi yang sedang berjuang membantu pasiennya di atas ranjang operasi, Ryan pun juga memiliki jadwal untuk tindakan tersebut di rumah sakit baiturrahmah.


Namun nasib ryan untuk melakukan tindakan tersebut tidak selancar Syahril maupun Mimi yang tidak memiliki kendala.


Ryan yang sudah bersiap di pagi hari untuk berangkat pagi, lagi-lagi harus terhalangi debgan debatan yang tak akan atau belum ada akhirnya.


"Tumben pagi-pagi sudah rapi kak?" tanya Di'ah yqng baru saja masuk ke kamar nya.


"Hmm, ada operasi pagi ini." jawab Ryan sambil masih berjibaku dengan rambutnya.


"Operasi? emang operasi dimana? bukannya kakak tugas di dusun." ucqp Di'ah. Ryan hanya Mamang naeuk nafasnya untuk memgontrol emosi.


"Hmm, iya semalam Rendy serta umma juga minta bantu untuk sementara membantu di rumah sakit." terang Ryan.

__ADS_1


"Kok bisa? emang di rumah sakit itu kekurangan dokter bedah? bukannya kak Rendi juga dokter bedah." Tanya Di'ah.


"Hmm, dua orang dokter bedah kebetulan ada yang ikut seminar di luar pulau dan satu lagi juga sedang ujian." jawab Ryan.


"Oo, emm kak nanti aku ke rumah emak dan abah ya?'' ucap Di'ah minta izin.


"Hmm, kalau gitu bersiap lah biar aku antar sekalian." ucap Ryan.


"Ya nanti saja kak, tunggu kakak pulang." ucap Di'ah.


"Kalau nunggu pulang kemungkinan malam." jawab Ryan.


"Kok malam? bukqnnya kakak hanya membantu aja kan di rumah sakit. Jadi bisalah pulang siang.'' ucap Di'ah.


"Kakak memansg membantu disana tapi kakak juga punya tanggung jawab di rumah sakit itu. Hari ini lumayan banyak pasien yang harus di tindak jadi tidak tau kapan dan berapa lama waktu di pakai." ucap Ryan.


"Tanggung jawab! kenapa harus kakak yang bertanggung jawab. Seharusnya kak Syahril yang memiliki tanggung jawab itu, bukan kakak."


"Kak Syahril saja langsung pergi ke dusun seolah dia meninggalkan tanggubg jawabnya." Di'ah terus mengoceh hingga membuat emosi Ryan tak bisa dikendalikan lagi.


"Maksud kamu apa bicara begitu?" ucap Ryan masih berusaha mengontrol emosi walau urat di antara kedua alisnya mulai keluar permukaan.


"Loh emang benarkan? kenapa harus kakak bukan kqk Syahril saja." ucap Di'ah. Ryan hanya menggeleng.


"Benar, emang benar. Tapi AKU.. Aku juga diberi tanggung jawab tak hanya sebagai keluarga pemilik rumah sakit, tapi AKU di pinta tolong sama Umma, UMMA yang ku anggap lebih dari orang tua,"


"Ya aku tau kalau umma juga merupakan orang tua mu kak, tapi kan rumah sakit itu bulan milik mu, ingat bukan MILIK MU dan itu bukan tanggung jawab mu." ucap Di'ah yang memotong ucapan Ryan sehingga Emosi Ryan pun sampai ke ubun-ubun dqn reflek tangannya terangkat untuk menampar Di'ah tapi segera di tahannya tepat di depan wajah Di'ah.


Di'ah yang melihat tangan Ryan di depan wajahnya dia pun semakin memojokkan Ryan.


"Apa!! Mau nampar! Nih tampar." ucap Di'ah dengan mendekatkan wajahnya ke arah Ryan..


Muka Ryan yang memerah, di kepalkannya erat tangan yang hendak mendarat di pipi sang istri. Karena emosi masih merasuki jiwanya di tambah Di'ah semakin menantang dan menyulutkan api emosinya, maka akhirnya Ryan mengusap wajahnya dengan kasar dan secepar kilat dia membalikkan badannya dan meninjukan tangannya ke arah dinding lemari berulang kali.


Bumm Braaakkk


Bummm Braaakkk


Sehingga suara itu pun terdengar di bawah, abi yang baru keluar kamar bersama ummi terkejut begitu pula Baiq serta Zacky keponakan serta adik Ryan.


"Ammi, suara apa itu?" tanya Baiq saat baru sampai di meja makan.


"Hmm bukan apa-apa. Udah kamu sarapan terus berangkat sekolah." ucap ummi ketika sampai di meja makan.


Didalam kamar Ryan masih melampiaskan emosinya, setelah merasa puas walau buku-buku tangannya memerah bahkan mengeluarkan tetesan darah tak di hiraukannya.


"Sebenarnya mau mu apa?" tanya Ryan sinis


"Kau mau mobil? ok nanti aku belikan jika itu yang kau mau."


"Jujur bukan aku tak mau mengikuti kemauanmu ingin punya mobil atau apa pun itu." ucap Ryan dengan nafas terengah menahan emosi.


"Aku bukan TIDAK mau, coba kau berpikir. Buat apa mobil itu? hah.. Sedangkan kau tak tinggal di kampung ni, apa kau lupa kalau kau itu tinggal ei LA sana. Terus buat apa mobil?"


"Aku tidak membelikan kau mobil karena aku pikir belum ada gunanya."


"Dan aku pikir dari pada duitnya dibelikan mobil lebih baik duit itu untuk biaya, untuk BIAYA hidup serta biaya kuliah kau di LA itu." Ucap ryan dengan menekankan kata biaya.


"Tolong.. Aku mohon tolong kau buang rasa iri dengki mu itu. Tooloong kau buang."


"Ndak ada guna kau iri dengan Mimi, kalau kau mau membandingkan diri dengan Mimi maka bandingkanlah dengan sebaik-baik nya".


"Coba kau cari kekurangan dan kelebihan Mimi, coba kau lihat dia.. coba kau lihat dia bagaimana dia mampu berdiri sendiri di kakinya coba kau lihat dia, jikq kau mau membandingkan diri kau."


"Apa kau menyesal dengan pernikahan ini? Kalau kau menyesal aki minta maaf."


"Aku bukan orang kaya. Asal kau tau.. Aku bisa seperti sekarang ini karena siapa? Hah! itu semua karena Umma, umma orang tua Syahril."


"Dan seharusnya kau sudah tau itu. Aku, aku bukan hanya bertanggung jawab di rumah sakit itu. Tapi aku juga punya tanggung jawab pada pasien yang membutuhkan penanganan." Ucap Ryan serayq melihat jam tangannya.


"Maaf, aku harus segera berangkat


Kalau kau mau pergi tempatt orang tua mu, pakai sajq motor matic Baiq. Aku Pamit." Ucap Ryan serayq beranjak mengambik tas kerja dan keluar dari kamarnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2