
Tunggal hitungan hari Mimi berkerja di tiga rumah sakit ini, walau surat pengunduran dirinya sudah di terima oleh pemimpin rumah sakit namun mer ka semua bekum melepaskan Mimi begitu saja.
Acara resepsi Selfia di tunda di Minggu awal tahun depan, Mimi juga sudah memesan tiket jauh-jauh hari.
Waktu yang sangat sedikit itulah yang Mimi rasakan, ada rasa tak rela untuk meninggalkan pekerjaan nya ini.
Keempat sahabatnya telah pulang ke daerah masing-masing, walau Selfia sempat marah-marah sama Mimi karena Mimi tak kunjung jua menceritakan perihal kakinya.
flasback on.
Selfia yang sudah tidak tahan dengan Mimi yang masih menutupi perihal kakinya, memilki ide untuk mengajak Mimi pulang kerumahnya dengan alasan dia kepingin makan masakan Mimi.
"Mi..'' panggil Selfia, Mimi pun menoleh ke arah nya.
"Emm kamu nggak masukkan hari ini?" tanya Selfia.
''Nggak Fi, kenapa?'' tanya Mimi.
''Fia pengen makan masakan Mimi.'' ucapnya.
''Iya Tia juga, Tia pengen makan kue muso.'' Sahut Muthia yang emang sudah dari kemarin kepingin kue Mudo buatan Mimi.
''Ayo Mi, kita pulang kerumahnya kamu aja kita bikin kue Mudo sama-sama lagi.'' ucap Irma.
''Emmm" Mimi bingung harus bagaimana.
"Emm yaudah ayok." ucap Mimi dengan perlahan dia mengeluarkan kakinya dari selimutnya dan mengulurkannya ke bawah.
Irma, Selfia dan Muthia melihat itu ada rasa kegetiran sendiri.
"Mi, kaki kamu kenapa?" tanya Muthia.
"Oh ini, emm nggak kenapa-kenapa kok, ayok.'' ucap Mimi dan segera turun dari ranjangnya.
Mimi menahan rasa sakit di kakinya saat memijak lantai.
''Dok, bentar." ucap Maryam sang asisten mencegah Mimi untuk melanjutkan jalan.
Sang asisten dengan sigap mengambil kursi roda dan mendekat ke arah Mimi.
"Ayo dok." ucapnya mempersilahkan Mimi untuk duduk.
''Makasih ya Mar.'' ucap Mimi.
"Sama-sama dok." jawabnya. Saat Maryam akan mendorong Mimi, Selfia mencegah nya.
"Bentar, biar aku aja." ucap Selfia.
"Nggak apa-apa kok dok, biar saya saja.'' ucap Maryam.
"Nggak apa-apa, emm aku bisa minta tolong nggak." ucap Selfia.
"Tolong apa dok?" tanya Maryam.
"Emm tolong belanja." jawab Selfia merasa tidak enak hati.
"Oh boleh dok, kebetulan saya juga mau ke pasar." ucap Maryam.
"Emm ini, tolong belikan daging lengkap sama bumbu untuk rendangnya, ikan, udang, kepiting kalau ada dan jajanan khas sini ya." ucap Selfia dengan memberi beberala lembaran uang merah.
"Oh baik dok,'' jawab Maryam dan menerima uang itu.
"Oh ya mar, cabe di rumah masih nggak?" tanya Mimi.
''Em tunggal dikit dok, ini rencana saya kepasar mau beli keperluan dapur juga." jawab Maryam.
"Tolong ambilkan tas Mimi ya mar." pinta Mimi, Maryam pun langsung mengambil dan menyerahkannya pada Mimi, Mimi mengambil dompet di dalam tasnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Maryam.
''Nggak usah dok, ini cukup kok." tolak Maryam.
"Tapi itukan uang kamu mar, udah ambil aja." seru Mimi.
"Nggak usah mi, uang dari Fia tadi cukup kok. Oh ya mar kamu belanjain aja semua uang itu ya untuk kebutuhan kalian." ucap Selfia.
"Baik dok, kalau gitu saya permisi duluan ya dok, saya titip dokter mimi.'' jawab Maryam.
"Dok, ini kunci rumah." ucap Maryam dengan memberikan kunci rumah pada Mimi.
Saat Maryam pergi, Selfia mulai bertanya-tanya kepada Mimi.
"Mi, Selfia boleh tanya dan lebih ke minta sih sama Mimi." ucap Selfia.
''Mau tanya apa sih Fi?'' jawab Mimi.
"Untuk kedepannya, Fia harap Mimi tidak lagi berhubungan dengan kak Said." ucapnya, Mimi diam.
"Sudah cukup Mimi memberinya kesempatan, dia mohon sama Mimi jangan lembek sama dia."
"Sumpah mi, dia emosi semalam." ucap dia keceplosan.
deg Mimi berdetak merasa kalau sahabatnya sudah mengetahui kejadian dirinya.
''Emosi kenapa Fi?" tanya Mimi berusaha tenang dan berupaya bersikap biasanya aja.
"Yakin, Mimi tidak mengetahui nya?" ucap Selfia.
"Ya mana Mimi tau Fi, kan belum Fiaa jelaskan." jawab Mimi.
"Kita tau Mi, pasti kaki kamu pun gara-gara semalam kan?" ucap Selfia.
"Kenapa sih mi, kamu selalu aja menutupinya, kita sahabat Lo mi."
"Sumpah. Selfia berharap saaangat, dengan kelakuan mereka semalam mereka akan hancur sehancur-hancurnya." ucap Selfia geram.
__ADS_1
"Mereka itu takabur, baru diberi rezeki segitu sama Allah sudah merendahkan orang lain, apa lagi si Riska isss pengen Fia *****-lumatbtuh anak."
"Bilang kamu yang nggak bener padahal dianya yang nggak benar''
''Kalau dia nggak pakek pengaman mungkin bajibun tuh dia punya anak."
"Dasar Riska kuntilanak." sungut nya. Muthia dan Irma yang melihat Selfia mengatai Riska kuntilanak senyam senyum.
"Nggak boleh gitu fi." ucap Mimi.
"Nah ini nih, kalau di bilangin selaku aja belain orang yang sudah salah." ucap Selfia kesal.
"Bukan gitu Fi, Mimi yakin Dia pasti sudah mengatainya kan, jadi ya sudah cukup itu saja jangan di ulang-ulang, doa kan saja semoga dia sadar dan insyaf." jawab Mimi.
"Nggak bakal insyaf tuh bocah, apa lagi kalau lihat perusahaan bapaknya dah gulung tikar, mungkin tambah jadi dia celap sana celup sini biar dapat cuman." ucap Selfia.
"Nggak boleh gitu ah, dia kan dokter fi pasti dia adalah penghasilan halal." jawab Mimi.
"Hmm, kayak nggak tau dia aja. Gaya hidup selangit kalau gaji dokter segitu mah mana cukup buat dia, duit dari bapaknya aja dia merasa kurang apa lagi sekarang bapaknya dah dipastikan gulung tikar.." ucap Selfia.
"Udah ah nggak boleh gitu, hidup itu ibarat roda yang selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Nggak selamanya berada di atas maupun di bawah. Suatu saat dia pasti bisa bangkit lagi." ucap Mimi.
"Dah yok, katanya mau kerumah Mimi. Kita jalan sekarang aja.''ucap Mimi.
"Hmm selalu saja begini. Pokoknya ingat Lo mi jangan lembek lagi. Awas aja kalau sampe Fia dengar kamu balikan lagu sama pecundang itu." Ucap Selfia.
"Udah lah di, ayok dorong Mimi." ucap Mimi yang ingin menghentikan ocehan Selfia karena Mimi tidak enak hati dengan Satria yang merupakan sahabat Dilllah. Meraka pun beranjak keluar dari ruangan Mimi dan mereka pergi dari rumah sakit menuju rumah kontrakan Mimi.
Sepanjang jalan Selfia terus meminta sama Mimi agar tidak kembali sama Dillah suatu saat nanti apapun alasan yang akan dia beri.
''Iya Fia, insya Allah Mimi tidak akan kembali dengannya, sudah cukup kemarin Mimi salah pilih." jawab Mimi agar Selfia tidak membahas masalah itu terus.
Setelah sampai kontrakan, Mimi langsung membuka pintunya dan mengajak mereka semua masuk.
Selfia dengan penuh kasih sayang nya mendorong Mimi pelan-pelan.
"Kalian kalau mau minum ambil sendiri ya, Mimi mau masuk dulu." ucap Mimi.
"Siip lah mi." jawab Selfia.
Selfia dan Irma langsung menuju dapur Mimi, Selfia heran melihat kulkas yang ada di dapur menjadi mini.
"Ir, perasaan kulkas nya duku besar ya, kok sekarang menciut jadi kecil. Apa di jual Mimi, tapi ah nggak mungkin." ucap Selfia bertanya sama Irma namun di jawab sendiri.
"Bisa jadi Fi di jual Mimi sebelum kesini." jawab Irma dengan memanasi air.
"Ah nggak kok Ir, Fia ingat masih besar kan dia yang bantuin packing waktu itu."
"Mimi itu pernah bilang sama Dia, dia nggak akan menjual nya karena bagi Mimi barang-barang pemberian kak Syahril sangat berarti bagi dia." ucap Selfia.
"Ya kita mana tau Fi, mungkin rusak." jawab Irma.
"Hmm, tapi lihat oven pun dah nggak ada." ucap Selfia, lemari piringnya juga lihat modelnya beda, mesin cucinya juga." ucap Selfia dengan terus memperhatikan keadaan dapur Mimi.
"Kamu ini, udah ah tuh bawa minumannya." ucap Irma.
"Waw tunggu Ir, di dalam kulkas ada brownies." ucap Selfia dengan mengambil brownies itu dan langsung di potongnya dan diletakkan kedalam piring.
Mimi yang masuk kedalam melihat ke arah mejanya, terlihat bunga pemberian Dilllah kemarin, Mimi mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah yang berada di dalam kamarnya.
Mimi memejamkan matanya sejenak untuk meredakan emosi nya. Jika mengingat perlakuan mereka, dada Mimi terasa sesak apa lagi Dilllah yang tak ada sedikit pun berniat untuk sekedar minta maaf atau mengejarnya makam itu.
Di kandangnya kaki yang ter perban itu, Mimi mengenakan nafasnya panjang.
"Semoga saja usaha mu tidak ikut hancur kang." ucap Mimi, semarah nya dia Mimi juga tidak ingin melihat Dilllah hancur.
Apa lagi Mimi tau usaha uang dia bangun itu adalah semangat Dillah untuk dirinya walau kandas sebelum Mimi merasakan nya.
Mimi keluar dan melihat para sahabat sedang menikmati brownis, Mimi yakin brownies yang mereka makan adalah brownies di dalam kulkasnya.
"Mi, kita makan brownis nya yoa." ucap Selfia dengan mulut yang masih mengunyah.
"Habisin aja jangan sampe ada tersisah." jawab Mimi.
"Yah mi, nyindir ya halus banget hahaa," ucap Selfia.
"Nggak kok di, Mimi serius habisin aja." jawab Mimi.
"Tumben padahal ini kesukaan kamu dan tadi pas aku potong juga belum tersentuh kayaknya di dua kotak." ucap Irma.
"Huum huh, itu brownies dari dia jadi habiskan aja." jawab Mimi. Selfia yang mendengar itu langsung berhenti.
"Maksud kamu ini dari.." tanya Selfia dan Mimi mengangguk.
"Udah Fi, makan aja dah banyak juga di perut kamu." ucap Muthia.
"Iya makanan nggak salah jadi halal." seru Riko.
"Yaudah biar aku ambil lagi yang susahnya sama satu kotak lagi." Ucap Selfia semangat untuk mengambil brownis lagi
"Fi, jangan semua lah tinggalin Maryam." seru Muthia.
''Iya.." teriak Selfia.
"Assalamualaikum" ucap Maryam yang baru pulang.
"Waalaikum salam," jawab Mimi dan semua.
"Dah pulang mar?" tanya Mimi.
"Sudah dok, saya kebelakang dulu." jawabnya dengan langsung membawa belanjaan kebelakang.
"Eh mar, dah pulang?" tanya Selfia ketika Maryam sampe di belakang.
__ADS_1
"Sudah buk, oh ya ini semua lauknya mau dimasak apa?' tanya Maryam.
"Daging ditendang sama dendeng mar, kepiting di saos yang lain kamu simpan aja. Bentar ya aku antar ini kedepan, nah ini yang setengah buat kamu habiskan jangan sampe ada sisah nanti dokter kamu itu marah.' ucap Selfia dengan memberikan setengah loyang brownies pada Maryam.
Selfia membawa sekotak brownies ke depan tak lupa pisau pun dibawanya.
"Nih makan, habiskan. Kamu mau Mi?"ucap Selfia dan bertanya pada Mimi.
"Ndak, habiskan aja." jawab Mimi.
"Oke lah mi, biar Fia habiskan, biar Fia gigit kuat-kuat anggap aja ini tangannya dia." ucap Selfia.
Mimi hanya senyum dan pergi kebelakang untuk membantu Maryam. Mimi, Maryam Selfia dan Irma pun masak bersama tak lupa mereka pun membuat kue Muso.
Sehabis makan mereka pun kembali ke hotel karena mereka semua malam ini pada take off.
"Mi, ingat pesan Fia ya.'' ucap Selfia mengingat kan.
"Iya Fi, kalian juga hati-hati." ucap Mimi.
"Dan satu lagi jangan lupa pesta Fia datang ya kalau perlu ajak kak Syahril.''ucap Selfia, Mimi tersenyum dan menggeleng.
"Kita pulang dulu ya mi, assalamualaikum.' ucap mereka.
"Waalaikum salam.'' jawab Mimi, sepergian mereka rumah kembali sepi.
Mimi kembali masuk kamar dan mengambil tong sampah nya dan menaruh sampah-sampah itu di luar.
"Mar, baju sama sepatu yang semalam di buang aja ya.'' pinta Mimi pada Maryam.
"Hah, baju yang mana?"
"Yang Mimi pakek semalam buang aja." ucap Mimi.
"Eh sayang lah dok, baju mahal di buanga-buang." jawab Maryam yang sedang mencuci pakaian.
"Buang aja," ucap Mimi.
"Daripada di buang buat saya aja ya dok." ucap Maryam dan meminta nya.
"Ya ambil aja kalau mau, tapi jangan pakek di depan atau ada saya." ucap Mimi.
"Iya dok, makasih." jawab Maryam.
flasback off.
Kaki Mimi yang masih melepuh walau sudah tidak bengkak seperti kemarin, Mimi memaksakan diri untuk pergi kerja tetapi Mimi hanya pakai flatshoes.
"Dok kalau masih sakit izin aja dulu." ucap Maryam yang ikut meringis bila melihat Mimi memaksakan kakinya berjalan.
"Nggak apa-apa ayo jalan.'' ucap Mimi
Saat baru sampai lobi rumah sakit terlihat dari kejauhan kehebohan sang bos besar.
"Mar itu ngapain sih bos besar pagi-pagi dah heboh aja. Emang hari apa ini tumbenan sidak." gerutu Mimi.
Bekum Maryam menjawab, sang bis besae sudah melihat Mimi dan langsung meminta Mimi mendekat.
"Mi, kamu kenapa masuk? kaki kamu kan masih sakit." ucap dokter Rayhan.
"Nggak apa dok, dah sehat kok." jawab Mimi.
"Sehat apa nya muka nahan sakit gitu." ucap dokter Rayhan.
"Hey mimot, kaku bantu Reyhan segera tolongin istri saya dia akan melahirkan hari ini." ucap sang bis besar,.
"Eh kenapa saya, nggak ada hubungan nya dengan saya." jawab Mimi.
"Bantah saja bisa nya kamu, sana segera pergi." ucap sang bis besar.
"Vin, nggak perlu Mimi, cukup aku, dokter kandungan dan dokter anak saja." sahut dokter Rayhan.
"Mimi juga lagi sakit kakinya." imbuhnya.
''Kenapa kaki kamu?" tanya sang bos.
"Vin." ucap dokter Rayhan.
"Ah pokoknya kamu harus ikut di dalam sana, jangan sampe dia pegang-pegang istri saya, kalau kamu tidak bisa jalan biar Rudi yang gendong kamu." ucapnya.
Rudi yang namanya disebut langsung menatap sang bos besar tidak terima.
"Kenapa lihat-lihat, sudah sana pergi." ucapnya dengan langsung pergi duluan dari mereka.
"Udah mi, ayok." ajak dokter Rayhan dengan membantu Mimi berjalan.
Ternyata kehebohan yang terjadi karena istri sang bis besar akan melahirkan dan akan dilakukan operasi secar.
Di ruang operasi Miki hanya membantu mengecek detak jantung istri Sultan itu, si bos tidak di izinkan masuk sama dokter Rayhan karena jika dia masuk yang ada akan menggangu tim medis yang sedang berkerja.
Istri sang bis di bius total karena fisik nya juga lemah, saat anak pertama lahir terdengar suara tangis bayi nyaring di ruangan ini.
Putra pertama sang bos yang merupakan ahli waris keluarga itu. Sang bos sangat bahagia.
Saat kelahiran putra kedua, putra itu langsung di bawa pergi oleh seseorang.
"Dok." ucap Mimi.
"Nantinya jelaskan." jawab dokter Rayhan. Setelah anak kedua itu diamankan dan semua tugas dokter selesai, barulah dokter Rayhan meminta bos besar itu masuk.
Terlihat kebahagian dari wajah sang bos besar melihat putra pertamanya telah lahir kedunia ini namun Mimi sedih karena anak itu dipisahkan dari kembarannya.
Setelah semua beres dan istri bos juga sudah di bawa merubah rawat inap VVIP, Mimi yang sudah mengucapkan selamat pada bos nya mengikuti langkah dokter Rayhan untuk meminta kejelasannya.
__ADS_1
tbc