DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
180


__ADS_3

Mimi pulang di antar oleh Irsyad, terlihat wajah letih di wajah mereka. Irsyad menumlangnistirahat di kosan Mimi dan Mimi pun mengizinkan karena Mimk sudah menganggap Irsyad adalah saudaranya juga.


Syahril selalu mewanti-wanti Irsyad agar selalu mengikuti Mimi kemana pun kalau berada dikampus. Syahril melakukan itu bukan tak beralasan, Syahril melakukan itu karena dia tak ingin senior Mimi yang Mimi ceritakan itu selalu mendekatinya.


Yah Syahril merasa kalau senior Mimi itu ada maksud terselebung dengan mengantar Mimi kepasar. Irsyad pun dengan senang hati menerima tawaran itu karena Syahril juga menjanjikan akan mengirim uang jajan kepada Irsyad adik sepupu nya itu.


Irsyad merupakan CCTV bagi Syahril saat ini, apa yang dilakukan Mimi hari ini juga sudah di laporkan oleh Irsyad dan Syahril pastinya juga akan menanyakan kegiatan Mimi hari ini kepada Mimi nya pula.


Hingga sore Irsyad tertidur di kosan Mimi, ya setelah makan siang bersama Irsyad merasa mengantuk dan akhirnya dia tertidur di kasur santai depan TV.


Mimi sedang video callan sama Syahril, Mimi juga menceritakan apa yang di laluinya hari ini di ospek pertamanya. Syahril ketawa terbahak-bahak ketika Mimi menceritakan kalau Irysad ke!ana pun Mimi pergi dia ikut sampe-sampe teman Irsyad yang cowok mau kenalan sama Mimi nggak boleh sentuhan tangan.


Ya Irsyad mengenalkan Mimi lada temannya namun saat Mimidan teman-temannya Irsyad yang cowok akan berjabat tangan dengan segera Irysad yang menggantikan nya.


Mimk juga menceritakan kalau dia di bagi menjadi beberapa kelompok untuk kegiatan besok dan lagi-lagi Irsyad berada di kelompok Mimi dan itu tak luput dari campur tangan mbak Ririn mau pun mbak Aish yang selalu menjaga keamanan Mimi.


Mimk terus bercerita sedangkan Syahril kadang tertawa hingga terbahak-bahak kalau dia merasa mendengar cerita Mimi lucu baginya.


Mimi sangat senang dan bahagia di kelilingi orang-orang yang menyayanginya secara tulus, keluarga mbak Aish dan keluarga kak Syahril yang lain yang berada di kota ini juga sangat menyayangi Mimi bagai keponakan merek sendiri.


Di salah satu ruangan rumah sakit kota Semarang tiba-tiba kedatang dua orang paruh baya yang masih kelihatan gagah dan cantik siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Bryan.


Kedua orang tua Bryan akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia dan segala pekerjaan yang ada akhirnya mereka tunda bagi yang sangat emergensi mereka serahkan pada orang kepercayaan mereka.


Dengan tergesa-gesa kedua orang tua Bryan menuju ruangan Bryan, sesampainya di ruangan terlihat tiga orang pemuda yang sedang tidur siang.


Kedua orang tua Bryan masuk ke dalam ruangan dengan perlahan-lahan, di lihatnya wajah pucat sang anak. Tak terasa menetes air mata sang mami.


"Ya Allah, maafkan mami nak." ucapnya pelan sambil mengelus rambut anaknya yang mulai menipis.


"Pi.." panggil sang istri dengan deraian air mata sambil memeluk sang suami dengan erat.


"Sabar Mi, kita akan lakukan yang terbaik buat Bryan." ucap sang papi dengan mengelus pundak sang istri dengan lembut agar istrinya tenang.


Perlahan Bryan membuka matanya bkarena dia merasa ada kedua orang tuanya di dalam!m ruangan ini, walau kadang dia bermonolog sendiri dalam hatinya.


"Sepeti ada mami dan papi." Gumamnya dalam hati dengan mata masih terpejam.


"Nggak mungkin ada amami dan papi, mereka terlalu sibuk dengan dunianya." Gumamnya lagi namun hatinya meminta agar Bryan membuka matanya, maka dari itu dengan perlahan Bryan !membuka matanya.


Setelah matanya terbuka, di lihatnya tubuh dua orang paruh baya yang sedang berpelukan saling !menguatkan satu sama lain. Bryan yang tau kalau itu adalah kedua orang tuanya juga ikut meneteskan air matanya.


"Ma mi.. Pa pi.." Gumamnya melihat kedua orangtuanya yang melihat rapuh melihat keadaan dirinya.


Sang mami yang mendengar ada yang manggil dirinya pun menoleh kebelekang, di lihatnya anak keduanya yang terlihat lemah itu dengan deraian air mata.


Dengan terhuyung-huyung mami Bryan mendekat ke arah Bryan dengan bibir yang bergetar menahan Isak tangis, namun matanya tak bisa berbohong karena air mata itu terus mengalir bak anak sungai yang mengalir menuju induk sungai.


"Bra Yen.. Maafkan mami nak." Ucapnya dengan memeluk erat anak nya. "Maafkan mami sayang." ucapnya lagi.


sang papi mendekati kedua orang yang sangat di cintai nya dan sang papi merengkuh tubuh sang istri agar tidak terlalu la!a menindih tubuh anaknya.


"Mi, sudah. Kasian tubuh Bryan jadi sakit nanti." ucap sang papi yang juga ikut berderai air mata.


"Pi... tolong segera carikan pi.." ucap mami memohon agar sang papi segera bertindak.


"Iya Mi, insha Allah kita segera mendapatkan nya." jawab sang papi.


Sang papi tidak tunggal diam setelah !mendengar kabar bahwa sang anak tengah mengidap kanker hati tahap empat dan saat ini sang anak sangat membutuhkan tranplantasi hati.


Tak hanya di Indonesia di Eropa dan negara lain pun sang papi meminta pertolongan kepada semua rekan bisnisnya untuk !e!bantu mencari orang yang ingin memberikan hati nya buat sang anak tercinta.


"Mi Pi.." Panggil Bryan, mami dan papi nya pun mendekat ke arah Bryan.


"Ya nak." jawab sang mami.


"Maafkan Bryan ya Mi, Pi. Maafkan Bryan belum bisa menjadi anak yang bisa !membanggakan Mami dan papi." Bryan !e!inta maaf kepada kedua orangtuanya, yang dirasakan Bryan saat ini adalah dia merasa jika waktunya tak lama lagi dia takut tak sempat meminta maaf kepada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Nggak nak, mami sama papi yang minta maaf. Maafkan mami yang kurang memperhatikan kalian. Maafkan mami yang begitu ambisi dengan pekerjaan, maafkan mami nak." ucap sang mami dengan deraian air mata dan langsung memeluk Bryan ke!Bali dan trisak di dada sang anak.


Saat mereka sedang meluapkan keharuan mereka, ponsel sang papi berbunyi dan itu telpon dari rumahnya.


"Iya mbok ada apa?" tanya si papi.


"Maaf tuan den Arya tuan, den Arya." ucap si mbok di rumahnya.


"Arya, kenapa dengan Arya mbok." jawab si papi dengan nada keras sehingga membangunkan kedua pe!uda yang masih tertidur dan membuat anak istrinya juga kaget.


"Jawab mbok ada apa dengan Arya?" ucap sang papi namun si mbok yang ada di rumah semakin menagis.


"Mbok jawab." ucap sang papi dengan nada lebih tinggi.


"Anu tuan huhuhu den Arya kecelakaan tuan." ucap si mbok yang menangis.


"Apaaaaa!!!" jawab sang papi dengan tubuh yang lemas dan lunglai, belum satu masalah annaaknya selesai sekarang anak yang satu lagi kecelakaan.


"Pi, ada apa pi? ada apa dengan Arya?" tanya Mimi yang ikut khawatir di tambah dengan melihat sang suami yang lunglai.


"Hallo mbok, mbok ada apa dengan Arya mbok." tanya sang mami lewat telpon.


"Nyonya Dena Arya kecelakaan Nya, sekarang kami lagi perjalanan ke rumah sakit xx." jawab si mbok.


"Baik mbok, kami tunggu disini. Kebetulan kami juga ada disini mbok." ucap mami berusaha tenang dengan tubuh lunglai dan sang mami pingsan.


"Mami.." panggil Bryan yang hendak beranjak dari ranjangnya namun dintahan sama Satria. Sedangkan Yogi langsung menangkap tubuh lunglai mami agar tidak terbentur lantai.


"Mami.." Panggil papi dengan langsung mengangkat tubuh sang istri dan di taruhnya ke sofa.


Yogi langsung memencet bel daruratnyang ada di dalam ruangan agar perawat masuk.


"Maaf ada yang bisa kami bantu?" tanya sang perawat jaga.


"Sus tolong periksa istri saya." ucap sang papi dan tak lama dokter pun masuk.


"Ada apa?" tanya dokter khawatir, dokter mengira pasiennya mengalami kejang lagi.


"Gimana dok?" tanya Pali Yogi dan Satria berbarengan.


"Ibu tidak apa-apa pak, cuma ibu seperti nya sedang syoksan tekanan darah ibu juga rendah. Ini saya tuliskan resep vitamin, setelah ibu sadar tolong segera di beri asupan makan." ucap dokter dengan menulis resep vitamin dan diserahkan kepada sang papi.


Dokter juga !e!eeiksa Bryan karena !emang waktunya visit, dan hasil pengecekan keadaan Bryan semakin menurun.


"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya dokter pada Bryan.


"Ti tidak ada dok." jawab Bryan berbohong.


"Kamu jangan menahan rasa sakit mu begitu," ucap dokter dan dia menyuruh suster untuk !menyuntikkan obat lewat selang infus.


Setelah diberi minyak angin sama Yogi, mami Bryan tersadar dan langsung memanggil Arya.


"Aryaaa." teriak mami ketika sadar dari pingsan.


"Mami." ucapnsang papi.


"Pi, Arya mana pi." tanya mami dengan Isak tangis, seketika sang papi tersadar kalau sesaat lalu mereka melupakan sang anak yang mana kini juga sedang menuju rumah sakit yang sama.


Keluarga Bryan tinggal di kota Semarang, namun Bryan memilih tinggal di apartemen.


Bryan kembali tertidur karena pengaruh obat yang di suntikkan lewat selang infus. Dokter sudah keluar setelah memeriksa Bryan dan berbicara sejenak kepada sang papi.


Mami beranjak dari rebahannya dan dia ingin segera keluar kamar untuk melihat apakah ambulans yang membawa anaknya itu telah tiba atau belum.


"Mi.." panggil apapi yang melihat sang istri terhuyung-huyung berjalan akan keluar kamar.


"Pi, ayo kita liat Arya pi." ajak sang Mami, mereka pun keluar dari ruangan Bryan menuju lantai dasar namun sebelumnya mereka menitipkan anaknya kembali kepada Satria dan Yogi.

__ADS_1


Terdengar suara sirine ambulans berhenti tepat di rumah IGD, para perawat yang ada segera membantu menurunkan pasien kecelakaan dengan diikuti perempuan paruh baya yang menemani anak sang majikan sedari tadi.


Di alam bawah sadar Bryan, Bryan berada di lapangan luas nan hijau tanpa ada ujungnya. Terlihat pelangi di atas langit melengkapi keindahan taman yang sedang di pijaknya.


Bryan menikmati keindahan taman ini, yang sangat indah dan menawan tanpa ada polisi yang mencemari nya. Bryan merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar sedalam-dalamnya.


"Ya tuhaaan sungguh indah ciptaanmu." ucapnya sambil terus !menghirup udara segar tersebut dengan mata yang terpejam dan kedua tangan yang direntangkan


Bryan mendengar ada suara yang memanggilnya dengan perlahan Bryan membuka mata dan melihat ke arah suara yang memanggilnya.


Terlihat sesosok pemuda yang tampan mengenakan pakaian putih bersih berkilauan, senyum yang terukir menyejukkan setiap orang memandangnya.


Bryan belum bisa melihat wajah yang memanggilnya namun dia mengenali senyuman itu, senyuman yang selalu dia lihat jika berada di rumahnya.


"Bang Arya." Gumamnya ketika wajah sang abang semakin jelas di pandangnya dengan senyum yang selalu terukir itu.


Bryan mendekat ke arah Arya dan langsung memeluk nya.


"Abang sudah sembuh?" tanya Bryan.


"Iyan rindu sama abang, maafkan iyan ya bang yang jarang pulang." ucap Bryan sembari !menangis diperlukan sang abang.


Dirumah Bryan selalu dipanggil Iyan sama Arya, Arya pengidap disabilitas sangat menyayangi adik-adiknya. Walau dengan keterbatasan yang dimilikinya Arya selalu memberi support pada adik-adiknya.


Arya mengalami kecelakaan disaat usianya masih tiga tahun, Arya yang hiperaktif pernah di culik sewaktu kecil oleh orang terdekat keluarganya yang manaruh sakit hati kepada kedua orang tuanya.


Arya sedari baby di vonis gagal jantung, maka dari itunarya kecil selalu di manja dan di larang beraktivitas berlebihan. Karena Arya kecil hiperaktif dan mudah dekat dengan orang maka sw!ia orang menyukainya.


Karena Arya kecil gampang dekat orang, maka dengan mudahnya pula orang yang sakit itu membawanya tanpa sepengetahuan orang lain kecuali suster yang menjaganya.


Sang suster di bekap oleh penculik hingga pingsan, Tiga hari Arya di bawa oleh orang dekat dari sang papi. Disaat ditemukan dimana keberadaan Arya, para polisi segera menelusuri daerah dimaanna arya dibawa.


Saat itu Arya di bawa keluar oleh sang Tante ke taman dekat rumah yang dia tinggali, tiba-tiba Arya melihat sesosok sang papi di daerah itu dengan lincahnya Arya kecil memanggil sang papi dan berlari namun naas dari seberang sana ada pengendara motor yang sedang melakukan motornya dengan kencang maka terjadilah kecelakaan itu dan membuat sebagian syaraf motorik yang ada pada diri Arya tak berfungsi.


Sang mami yang sedang berkerja di usia kandungan 7bulan mendengar kabar sang anak di culik, sang mami mengalami pendarahan sehingga sang mami dinlarikan ke rumah sakit dan terpaksa sang mami melakukan tindakan secar untuk menyelamatkan bayi dan ibunya.


"Bang, Abang sudah bisa jalan, kenapa anbang tidak beritahu Iyan bang." tanya Bryan yang bahagia !melihat sang abang yang biasanya takmlepas dari kursi roda sekarang sudah berjalan.


"Dek, berjuanglah demi!i Mami dan papi. Jangan buat mereka bersedih lagi, hentikan semuanya dek." ucap sang abang !e!berikan nasehatnya.


"Bang, Iyan sudah ndak kuat menahan sakit ini bang. Sakit bang." ucap Bryan dengan memegang ulu hatinya.


"Percayalah dek, kamu pasti bisa melewati nya.Janjikan sama abang kalau kamu akan berubah, jaga Cintya jadilah Abang yang baik buat dia. Jaga mamai dan papi ya dek." ucap Arya dan kemudian perlahan-lahan. menghilang dari pandangan Bryan.


"Abang.. Abang.. Abang, Abang kemana.. Bang.." Bryan terus memanggil-manggil dengan berlari ke segala arah namun tak ditemukannya.


"Abaaaaang." panggil Bryan dengan terduduk.


"Bry, Bry Lo kenapa?" tanya Satria yang melihat Bryan tersadar dan langsung duduk.


"Sat, mami dan papi kemana?" tanya Bryan.


"Mami dan Pali mu lagi em lagi.." Satria tak bisa melanjutkan karena pastinya Bryan sedih jika mendengar sang abang kecelakaan dan sedang di lakukan tindakan operasi.


"Ma!ai dan papimu lagi ke kantin Bry." sahut Yogi yang baru masuk ke ruangan Bryan.


"Sat, Gi, gimana keadaan banb Arya?" tanya Bryan. Satria dan Yogi bersitatap harus bilang apa ke Bryan.


"Bry Lo tenang ya, Lo cukup do'ain bang Arya saja ya." ucap Satria perlahan.


"Kenapa dengan bang Arya Sat?" tanya Bryan lagi.


"Em Bry bang Arya lagi di operasi sekarang." Yoginyang menjawab.


"Sat, Gi, tolong bawa gue kesana, gue mohon." Bryan !e!khon kepada kedua sahabatnya agar mau mengajaknya ke ruang operasi.


Kedua sahabatnya pun menyetujuinya dan akhirnya kedua sahabat membawa Bryan ke ruang operasi dengan izin dari perawat.

__ADS_1


Sekian dulu ya bab ini, Next kita lanjut lagi. Yang punya ide yok bisa utarakan untuk menambahkan kreasi cerita di DOKTER JANTUNGKU makasih.


"""" tbc""""


__ADS_2