DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
170


__ADS_3

Mimi melihat ke arah dimana dua insan paruh baya berjalan berdua. Mimi merasa bahagia dan sekaligus sedih melihat mereka.


Mimi bahagia karena mereka berdua selalu menjaga hati mereka untuk pasangannya dan mereka juga sesosok orang tua yang penuh tanggung jawab pada anaknya.


Menurut yang Mimi dengar dari cerita Si Mbah wedok, sewaktu mereka muda mereka adalah orang yang berada, mereka memiliki anak 6 orang, 3 orang dan 3orang perempuan.


Si Mbah wedok dan Lanang selalu memberikan perhatiannya kepada semua anak-anaknya. Bahkan mereka selalu menuruti apa semua kehendak anak-anak nya selagi itundi batas kewajaran.


Si Mbah juga bercerita, dulu mereka selalu berkerja dengan giat. Si Mbah Lanang dulu punya kios sembako dan dijaga oleh si mbah wedok, sedangkan Mbah Lanang berkerja di sawah.


Mereka memberikan pendidikan yang tinggi kepada anak-anak nya, sehingga waktu itu tiba dimana anak-anaknya me!inta modal yang katanya buat usaha.


Si Mbah pun memberikan tabungan yang tersisah, hingga sawah yang menjadi penghasilan buat mereka selama ini akhirnya terjual juga.


Si Mbah juga menceritakan kalau anak-anaknya memutuskan untuk merantau ke daerah lain dikarenakan pekerjaan. Dua puluh tahun berlalu semenjak satu persatu anaknya merantau, Mbah Lanang dan Mbah wedok jarang kunjungi oleh anak-anak.


Dikarenakan mereka juga telah berkeluarga dan jarak yang jauh-jauh. Yang dulu si Mbah memiliki kios terpaksa di jual buat pengobatan pemulihan Mbah Lanang ketika Mbah Lanang di vonis terkena gagal ginjal.


Semua anak-anaknya membantu biaya hingga Mbah Lanang mendapatkan donor, namun setelah itu mereka seolah menghindari orang tuanya.


Jadi sewaktu masa pemulihan Mbah Lanang, tabungan Mbah wedok dari pemberian anak-anaknya semakin berkurang hingga habis maka mereka memutuskan menjual kios mereka.


Dua puluh tahun sudah mereka tak mendengar kabar dari anak-anak mereka, no telpon mereka semua sudah tak aktif lagi semenjak mbak wedok mengatakan kalau Mbah Lanang harus kontrol kembali tapi Mbah nggak ada simpanan lagi.


Namun anak mereka beralasan kalau mereka tidak ada uang. Ada juga beralasan mereka baru bangun dan sebagainya.


Begitulah kehidupan kedua orang tua sanggup memberikan serta membiayai mereka hingga sukses namun sat anak pun tak sanggup membiayai orang tuanya.


Tanpa sengaja air mata Mimi jatuh ke pipi melihat mereka berdua.


Kebahagiaan mereka adalah ingin melihat anak-anak nya dan berkumpul kembali setidaknya setahun sekali. Namun semua hanya sebuah angan-angan yang menjadi sebuah kesedihan buat mereka.


"Emm Mi, apa kota masih mau di pasar?" ucap Dillah yang ternyata masih setia berdiri disamping Mimi.


Mimi menoleh ke sumber suara dan menakutkan kedua alisnya.


"Loh kok kakak masih disini?" tanya Mimi.


Dillah menatap Mimi tajam dan berkecak pinggang. "Apaan maksud nya?" ucapnya.


"Ya kok kakak masih disini,bukannya pulang ataunke kampus." ucap Mimi.


"Hmm menurut kamu?" tanya nya.


"Emm nggak ada." jawab Mimi acuh dengan menaikkan kedua bahunya.


Mimi melihat barang belanjaannya dan bingung harus membawanya gimana. Mimi mencoba mengambil belanjaan nya satu persatu dan ditentengnya penuh di kedua tangannya.


Dillah cuek hanya melihat saja apa yang dilakukan Mimi tanpa menawarkan bantuan nya.


Mimi membawa belanjaannya keluar dari area pasar menuju gerbang untuk menunggu taksi, baru beberapa langkah Mimi akan meninggalkan area pasar, tangannya sudah merasa kaku karena yang di bawanya begitu berat dan sangat merepotkan.


Mimi berhenti dan meletakkan semua barangnya.


"Huh, ternyata berat juga." gumam Mimi dan celingukan mencari seseorang yang bisa membantu membawakan belanjaan keluar tapi tak ada yang bisa di minta bantuannya.


"Ah kenapa nggak ada orang sih, mana HP ketinggalan lagi." gumam Mimi.


Yah Mimi akan menelpon mbak Aish atau mbak Ririn untuk meminta bantuan tapi apa daya ponselnya ketinggalan di rumah.


Dillah masih diam terpaku di belakang Mimi, dia tersenyum melihat keadaan Mimi yang merana saat ini.


"Huh dasar cewek egois," ucap Dillah dan akhirnya dia mendekat ke arah Mimi.


"Perlu bantuan mbak." ucapnya dengan canda, Mimi melihat kesamping dan ternyata adalah seniornya, Dillah melihat Mimi yang acuh saja hanya menyatakan kedua alisnya.


"Mau pulang nggak?" ucapnya dengan melihat ke arah lengannya dengan menunjuk-nunjuk jam tangan yang melingkar di tangannya.


Mimi yang melihat Dillah menunjukkan jam seketika Mimi pun melihat ke arah tangannya.


"Ya Allah sudah jam setengah dua belas." gumam Mimi.


"Gimana? mau pulang sekarang atau masih menunggu!." ucap Dillah.


"Kalau kakak mau pulangnya pulang aja, kenapa juga masih disini." jawab Mimi ketus.


"Oh gitu, yaudah aku pulang dulu ya." ucapnya dan terus berlalu menuju parkiran dan meninggalkan Mimi di tengah teriknya ultra violet.


Mimi masih acuh dan tidak !mempedulikan seniornya tersebut, ya bagi Mimi dia bukan siapa-siapa dan emang bukan siapa-siapa. Kenal pun baru kemarin saat di masjid kampus.


Mimi kembali mencoba membawa belanjaannya kembali, di gentengnya dan Mimi berjalan keluar menuju gerbang pasar.

__ADS_1


"Bismillah." Mimi mengucapkan basmalah dan dia pun langsung kembali berjalan di teriknya panas matahari.


Dillah masih melihat ke arah Mimi yang susah payah membawa belanjaannya.


"Dasar keras kepala, pakek gengsian." gumam Dillah yang telah membawa mobilnya melaju dengan pelan mengikuti Mimi dari belakang.


Karena takmtega Dillah pun !e!percepat laju mobilnya dan berhenti tepat didepan Mimi. Mimi melihat mobil yang dengan seenaknya berhenti di depannya menjadi kesal. Saat Dillah turun dan menghampiri Mimi, Mimi memasang wajah kesalnya.


Bagaimana Mimi tidak kesal, barang bawaan berat di tambah dengan panasnya matahari, tiba-tiba mobil berhenti tepat di depannya.


"Kak, mau kakak apa sih?." ucap Mimi memandang Dillah dengan raut wajah yang marah dan kesal.


Dillah masih acuh dan gak menghiraukan ocehan Mimi, Dillah langsung mengambil satu persatu belanjaan Mimi dan di masukkan nya kedalam bagasi mobil sport nya.


"Ayo naik." ucapnya setelah dia menaruhnsemua barang belanjaan dan membukakan pintu mobilnya. Mimi masih memasang muka masamnya dan belum beranjak dari tempat dia berdiri.


"Ayo.." ucap Dillah lagi, lagi-lagi Mimi tak menggubris nya, karena Mimi tak kunjung naik terdengar suara klakson-klakson mobil dari belakang mobil Dillah.


"Ckk, ayo, liat tuh banyak mobil yang mau lewat." ucap Dillah dan menarik tangan Mimi dan memasukkan Mimi ke dalam mobil.


Didalam mobil Mimi hanya diam tak menghiraukan Dillah di sampingnya.


"Hmm." Dillah berdehem namun Mimi tetap pada posisinya.


"Kos nya dimana?" tanya Dillah saat hampir dekat dengan halte dimana Mimi menunggu angkot pagi tadi.


"Em turu disimpang aja." jawab Mimi. Dillah menautkan dahinya.


"Simpang mana?" tanya Dillah.


"Simpang sebelah masjid." jawab Mimi.


"Lah emang kosannya Diman?" tanya Dillah lagi.


"Turunkan saja disana." ucap Mimi ketus, kesal karena Dillah banyak bicara.


"Kosannya dimana?" tanya Dillah lagi.


"Huhh, kosannya di dalam tapi turuni aja di Simpang itu." jawab Mimi kesal.


Tak lama sampailah mereka di Simpang yang Mimi maksud namun Dillah tidak memberhentikan mobilnya disimpang melainkan terus melaju masuk.


"Kak, kok terus jalan sih." ucap Mimi sewot.


"Isss maksa banget jadi orang." ucap Mimi dengan sewot.


"Udah jangan banyak menggerutu, kosannya di mana?" ucap Dillah dan bertanya.


"Terus aja ampe batas pagar kampus belok kanan." ucap Mimi.


"Hemm, gayanya turun di Simpang." ucap Dillah mengejek.


"Gimana jadinya tuh kaki ma tangan kalau jalan dari simpang bawaan belanjaan seabrek gitu." Dillah nterus mengejek Mimi.


"Nah nih dah belok yang mana kosannya." tanya Dillah.


"Stop." ucap Mimi dan Dillah pun mengerem mobilnya secara mendadak.


"Awww.." ucap Mimi karena Dillah mengerem mendadak kening Mimi ke jedot dashboard mobil, begitu pula dengan Dillah yang juga kejedot setir.


"Isss kakak nih bisa nggak sih bawa mobil," ucap Mimi dengan !arah dan kesal.


"Lah situ yang bilang stop mendadak, kok nyalahin aku sih." jawab Dillah nggak kalah kesal.


"Ah udahlah,." ucap Mimi dan terus membuka pintu mobil dan keluar.


Melihat Dillah tak juganturun dan belum juga membukakan bagasi mobilnya, Mimi mengetuk jendela mobil.


"Tok tok tok" Mimi mengetuk kaca pintu mobil dan Dillah pun membuka kacanya.


"Ada apa?" tanya Dillah dengan dingin.


"Ck, buka bagasinya. Mimi mau ambil belanjaan Mimi." jawab Mimi dengan kesal. Dillah pun membuka bagasinya dengan !menekan tombol yang berada di atur mobilnya dan otomatis bagasi pun terbuka.


Setelah membuka bagasi mobilnya, Dillah turun dan berjalan menuju belakang mobil untuk menurunkan barang-barang Mimi.


Tak ada pembicaraan selama menurunkan barang belanjaan Mimi, setelan di turunkan Dillah langsung menutup pintu bagasi dan dia kembali berjalan menuju ke samping.


Dillah langsung masuk kedalam mobilnya dan dia juga langsung menghidupkan mesin mobil. Dillah langsung memutarlan mobilnya dan langsung berlalu tanpa mengucapkan Selatan kata kepada Mimi.


Mimi hanya diam, melihat Dillah langsung pergi tanpa berucap. Mimi membuka pintu pagar dan Mimi langsung masuk membawa belanjaannya.

__ADS_1


Sesampainya dalam kos Mimi langsung menaruh semua belanjaan ke dapur. Mimi langsung membersihkan ikan, cumi dan ayam, setelah di bersihkan Mimi masukkan kedalam wadah yang barusan di beli nya dan Mimi masukkan kedalam freezer.


Ada rasa kesal pada diri Dillah, Dia gak hanya kesal akan sikap Mimi pada nya namun dia juga kesalmpada dirinya sendiri yang entah mengapa dia melakukan semua ini kepada Mimi.


"Achhh.. Kenapa aku bisa begini sih, siapa dia, kenapa aku mengikutinya." ucap Dillah dengan menghentakkan kedua tangannya ke atas stir. Dillah langsung pergi ke !masjid kampusnya karena telah terdengar adzan pertanda sholat Jumat segera dilaksanakan.


Sesampainya Dillah, di masjid ketemu dengan para sahabat dan para sahabatnya ini menunjukkan wajah dingin dan tahapan tajam, terutama tatapan Bryan yang menyiratkan ketidak sukaan.


Dillah langsung ambil wudhu dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam masjid dan langsung berdiri di shaft belakang karena suasana masjid sudah ramai.


Setelah habis jumatan mereka kembali bertemu namun kali ini Bryan seolah menghindar dari Dillah. Dillah dan yang lain heran melihat sikap Bryan.


"Lo kemana aja sih Dil?" tanya Reno.


"Iya , di hubungi nggak diangkat-angkat lagi." ucap Satria.


"Emm, Bryan kenapa?" tanya Dillah mengalihkan pembicaraan tentang ke!ana dirinya hari ini.


"Nggak tau juga kita, sedari tadi tuh bocah sewot mulu." ucap Yogi.


"Lah kalian nggak nanya dia kenapa?" tanya Dillah.


"Percuma nanya, jawabannya nggak memuaskan." jawab Reno.


"Owh," ucap Dillah.


"Heleh Lo Dil mo ngalihkan pembicaraan aja Lo, Lo kemana aja tadi." ucap Satria.


"Nggak gue nggak kemana-mana kok." jawabnya.


"Dah lah yok kita ke kantin laper aku." ucap Dillah lagi.


"Dil, tu pipi ma jidat Lo kenapa?" ucap Reno sambil menelisik wajah Dillah.


"Emm nggak kenapa-kenapa." jawab Dillah acuh.


"Jujur aja Dil kenapa tuh muka lo bonyok gitu? dari mana Lo tadi." imbuh Yogi mengintimidasi.


"Huh,, jidat gue kejedot stir." jawab Dillah berkata jujur karena emang nyatanya begitu.


"Terus tuh pipi?" ucap Satria.


"Em kalau pipi emm . Ah udah lah ayo buruan jalan ke kantin


laper aku." ucap Dillah dan langsung pergi meninggalkan sahabatnya.


Di kosan Mimi telah selesai membereskan belanjaannya, semua sudah Mimi susun di dalam kulkasnya kecuali sinhkong, sebagian ikan kakap, pucuk ubi dan cabe serta bahan lainnya yang sudah dibersihkan.


Mimi berencana akan mnggulai ikan kakapnya dan di campur dengan pucuk ubi. Mimi meracik bumbu gulainya, serta meracik buat sambal tahu.


Mimi memblender cabe buat sambal tahu sambil menggoreng tahunya. Setelah blender cabe Mimi sisihkan dan Mimi kembali memblender bumbu gulainya.


Tahu telah selesai di goreng dan Mimi langsung menumis cabe yang sudah di blender nya sampai matang dan setelah itu Mimi masukkan tahu yang telah di goreng sebelumnya dan di aduk rata sama sambal.


Setelah sambal tahu masak dan sudah Mimi taruh ke dalam mangkok Mimi kembali menumis bumbu gulai hingga harum setelah itu Mimi masukkan ikannya dan di aduk bersama bumbunya. Mimi masukkan air secukupnya dan Mimi masukkan santan instan kedalam kwali, setelah mendidih Mimi masukkan pucuk ubi yang udah di rebus sebelumnya.


Setelah selesai memasak, Mimi langsung membersihkan peralatan masaknya dan setelah itu Mimi membersihkan dirinya.


Karena udah Dzuhur dan bapak-bapak yang sholat Jumat sudah pada pulang Mimi pun segera menunaikan sholat dzuhurnya.


Di kantin kampus personil Dillah berkurang, ya Bryan tidak ikut makan bersama mereka. Disaat mereka masuk kedalam kantin berpapasan pula dengan Bryan yang keluar dari kantin.


"Bry." panggil Dillah dengan memegang lengan Bryan.


"Lo mau kemana?" tanya Dillah tapi bukan jawaban yang Dillah dapatkan melainkan Bryan melepaskan pegangan Dillah dan berlalu pergi.


"Ren, Bryan kenapa?" tanya Dillah kepada Reno.


"Nggak tau aku Dil, pagi tadi sesampainya dia di kampus langsung bermuka kesal gitu." jelas Reno.


"Halah mungkin dia lagi putus cinta kali, atau di tolak ma cewek." ucap Satria.


"Aku rasa bukan itu Sat, Lo tau sendiri Bryan mana ada dia kesal sama cewek apa lagi di putus atau ditolak." sahut Yogi.


"Atau dia lagi suka seseorang dan dia kecewa kalau yang disukainya udah ada yang punya." ucap Reno.


"Ah entahlah. Dah lah yok kita masuk kelas nih dah waktunya ." ajak Dillah dan mereka pun pergi menuju kelas.


Ayooo kira-kira Bryan kenapa ya???


Next di bab berikutnya

__ADS_1


-----tbc------


__ADS_2